Bersuara Melalui Tulisan Jurnalisme Perdamaian KAUM GKJW

Peserta Pelatihan

Komisi Antar Umat Majelis Agung (KAUM MA) GKJW pada tanggal 2-3 Juni 2018 mengadakan Pelatihan Penulisan dan Jurnalistik di Kompleks Bale Wiyata Malang. Kegiatan ini berangkat dari kenyataan saat kini dimana makin banyak berita yang menyebarkan kebencian daripada semangat perdamaian.

Sebanyak 35 orang utusan KAUM dari majelis daerah se-GKJW ambil bagian dalam kegiatan ini. Bertindak sebagai fasilitator dalam pelatihan ini ialah Abdul Malik, kolumnis seni budaya Koran Malang Post dan Rivaldi Anjar Saputra dari Eklesia Prodaksen, GKI Kebonagung, Malang.

Verba Volant, Scripta Manent.

Kalimat yang berarti “Yang terucap akan hilang bersama angin, yang tertulis akan abadi” menjadi penyemangat bagi para peserta pelatihan. Abdul Malik, yang juga menulis di beberapa media nasional menyampaikan kalimat ini berulang-ulang untuk menyadarkan peserta tentang pentingnya menulis.

Dan pada kesempatan berikutnya, Abdul Malik juga mengajak peserta untuk bisa mengungkapkan hal-hal orisinal dalam hal penulisan. Bahkan dia mengungkapkan pentingnya mengumpulkan berita dan informasi sekecil apapun sebagai mozaik-mozaik yang akan saling melengkapi.

Pada kegiatan ini, peserta juga diminta untuk praktek menuliskan pengalamannya sebagai anggota KAUM dalam kerangka besar membangun perdamaian melalui tulisan. Masing-masing peserta kemudian memaparkan hasil tulisannya tersebut untuk kemudian mendapatkan tanggapan dan arahan dari fasilitator.

Tulisan-tulisan yang dihasilkan dalam pertemuan ini diantaranya: “Bahasa Cinta Kunci Tiap Hati” yang berisi refleksi peristiwa peledakan bom di Surabaya tanggal 13 Mei 2018 yang lalu. Dalam tulisan ini Pdt Suwignyo mengungkapkan pemahaman teologis umat awam dalam menyikapi peristiwa tersebut.

Sementara, Tri Susilohadi dari MD Malang IV menceritakan kiprah GKJW Jemaat Sukoanyar di Desa Wirotaman, Ampelgading, Malang. Desa Wirotaman dinyatakan sebagai “Desa Keberagaman” karena kerukunan antar umat beragama sangat terasa disana. Di Wirotaman, agama Islam, Kristen, dan Hindu hidup berdampingan.

Baca Juga:  Belajar dari Pondok Pesantren Al Ghozali

Secara umum, para peserta mendapatkan banyak pengetahuan baru melalui pelatihan ini. Pdt Suciptoadi, salah satu peserta dari GKJW Jemaat Jajag (MD Besuki Timur) merasakan bahwa menyampaikan pesan melalui media tulisan ternyata lebih sulit dibanding menasehati lewat kata-kata. Pdt. Suciptoadi sendiri membuat tulisan dengan judul “Oikumene dan Pluralitas Agama di Kabupaten Banyuwangi”.

Pdt. Widi Kurnianto, Ketua KAUM MA GKJW mengatakan bahwa pelatihan ini adalah langkah kecil yang diharapkan bisa membawa dampak yang luas. GKJW yang sudah lama bergerak dalam bidang hubungan antar umat beragama diharapkan bisa menyuarakan kembali semangat hubungan antar agama yang damai di bumi Jawa Timur.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, kumpulan tulisan para peserta ini akan diterbitkan dalam bentuk buletin KAUM MA “Patunggilan” pada bulan Agustus 2018. Buletin ini akan dikirimkan ke seluruh jemaat di GKJW dan pihak-pihak yang juga menyuarakan tentang pentingnya membangun narasi perdamaian. Penerbitan buletin ini sendiri termasuk dalam Program Pembangunan Jangka Menengah (PPJM) GKJW yang diwujudkan dalam Program Kegiatan Tahunan KAUM MA GKJW.

Bagikan Entri Ini:

  • 9
    Shares

Entri Serupa:

Belajar dari Pondok Pesantren Al Ghozali Komisi Antar Umat (KAUM) GKJW berkunjung ke Pondok Pesantren Al Ghozali, Wates Kediri. Kunjungan itu dilakukan disela-sela rapat kerjanya pada tan...
Warga Gereja Merespon Revolusi Media Sosial Pandua... Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) baru-baru ini menerbitkan buku panduan bermedia sosial “Warga Gereja Merespon Revolusi Media Sosial”. Buk...