Belajar dari Pondok Pesantren Al Ghozali

Komisi Antar Umat (KAUM) GKJW berkunjung ke Pondok Pesantren Al Ghozali, Wates Kediri. Kunjungan itu dilakukan disela-sela rapat kerjanya pada tanggal 10 dan 11 Maret 2018 di GKJW Jemaat Segaran.

Melalui kunjungan ini, para peserta rapat kerja dapat melihat bagaimana jemaat Segaran hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. GKJW Jemaat Segaran memang memiliki hubungan yang erat dengan Pondok Pesantren Al Ghozali. Lokasi keduanya pun hanya terpisah jarak sekitar 2 kilometer.

Salah satu keistimewaan pondok pesantren Al Ghozali ialah pelayanan kepada mereka yang mengalami gangguan mental dan ketergantungan narkoba.  Orang yang terganggu mentalnya atau kecanduan narkoba harus tinggal di pondok dan diberi rukyah (metode penyembuhan dengan cara membacakan doa pada orang yang sakit) oleh Kyai Jalaludin (Gus Jalal). Pelayanan ini sendiri merupakan lanjutan dari karya orang tua dari Kyai Jalaludin yaitu Abah Badrus Sholeh sejak tahun 1970an.

Gus Jalal menerangkan bahwa orang yang terganggu mentalnya atau orang yang mengalami ketergantungan narkoba adalah orang yang membutuhkan pertolongan. Kita wajib menolongnya sebagai sesama manusia, tanpa memandang agama apapun. Ia juga mengingatkan perlunya  kewaspadaan ekstra terhadap narkoba yang saat ini semakin sulit dideteksi.

Pondok pesantren Al Ghozali saat ini bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk merehabilitasi pengguna narkoba. Rehabilitasi itu membutuhkan waktu paling cepat sekitar 9 hari. Jika penderita sudah mulai tampak sembuh maka mereka diberi aktivitas harian seperti berkebun atau mengurus lahan tebu milik pondok pesantren.

Pada kesempatan ini, Gus Jalal juga mendorong GKJW agar memiliki lembaga pelayanan sosial seperti yang sudah dilakukannya. Gus Jalal bahkan mengusulkan lokasinya ada di Mojowarno, Jombang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan Gus Jalal tentang persekutuan orang Kristen di GKJW cukup dalam. Rupannya beliau pernah bersekolah di sekolah milik GKJW Segaran. Mojowarno sendiri selain memiliki sejarah yang besar dalam perkembangan GKJW.

Baca Juga:  Kultur Sebagai Perekat Hubungan Antar Umat Beragama

Melalui perkunjungan ini, KAUM GKJW belajar bahwa hubungan antar umat seharusnya tidak berhenti pada sekedar “dialog” saja. Hubungan antar umat harus ditingkatkan menuju tindakan-tindakan bersifat “karya” seperti yang sudah dilakukan Pondok Pesantren Al Ghozali.

Tentang Komisi Antar Umat (KAUM)GKJW

KAUM GKJW dibentuk sejak sejak akhir tahun 1990-an. Komisi ini bermula dari PAU (Pokja Antar Umat) yang bertugas membangun jejaring antar umat sekaligus meminimalisir potensi konflik antar agama. Keberadaannya sendiri merupakan penerapan dari tema JPIC (Justice, Peace, Integrity of Creation, Keadilan, Kedamaian dan Keutuhan Ciptaan).

Dalam rapat kerja lalu hadir sekitar 30 orang dan berasal dari daerah Kediri, Madiun, Jombang, Surabaya, Malang, Bondowoso hingga Banyuwangi. Keragaman wilayah dan pengalaman anggota KAUM di daerah masing-masing menjadikan pertemuan ini dinamis. Selain berdiskusi tentang situasi hubungan antar agama dan rencana tindak lanjutnya, peserta pertemuan ini juga menyiapkan beberapa tulisan tentang pengalamannya dalam membangun relasi dengan agama yang lain. Diharapkan tulisan-tulisan tersebut bisa menjadi embrio terbitnya buletin tentang hubungan antar umat beragama.

Bagikan Entri Ini:

Entri Serupa:

Training of Trainers on Christian Moslem Dialogue GKJW bekerjasama dengan UEM Asia pada tanggal 01-28 November 2010 mengadakan program TRAINING OF TRAINERS on CHRISTIAN MOSLEM DIALOGUE (TOT CMD). ...
Wanita Lintas Agama Sebagai Agen Perdamaian Kaum wanita diyakini dapat berperan aktif sebagai agen perdamaian. Perannya dalam keluarga berpotensi mencegah kekerasan sejak dini. Kesadaran ...
Studi Kristen – Islam Tentang Budaya dan Aga...   Institut Pendidikan Theologia Bale Wiyata Greja Kristen Jawi Wetan  bekerja sama dengan United Evangelical Mission (Persekutuan Misi Pro...
Bersahabat Dalam Keberagaman Jambore Anak-Anak Ant... Belajar dan bermain bersama tentang keberagaman Indonesia “Kami anak Indonesia. Kami tumbuh ditengah keberagaman bangsa ini.” "Kami memang berbed...