Minggu Natal 2
Stola Putih
Bacaan 1: Yeremia 31 : 7 – 14
Mazmur: Mazmur 147 : 12 – 20
Bacaan 2: Efesus 1 : 3 – 14
Bacaan 3: Yohanes 1 : 10 – 18
Tema Liturgis: Memilih Kehidupan di Tengah Budaya Kematian
Tema Khotbah: Hidup dalam Anugerah Tuhan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yeremia 31 : 7 – 14
Konteks penulisan Yeremia 31 merupakan bagian pesan pastoral tentang pengharapan bagi bangsa Israel, oleh karena mereka berada dalam kondisi keputus-asaan yang mendalam. Mereka telah kehilangan pusat peribadatan, kehilangan tanah perjanjian, dan kehilangan identitas sebagai bangsa merdeka. Mereka menganggap bahwa Allah telah meninggalkan mereka selamanya. Dengan demikian Yeremia perlu menyampaikan pesan teologis perjanjian baru yang memberikan pengharapan kepada umat Israel yang putus asa.
Pesan harapan itu diwartakan, bagi umat yang setia kepada Allah akan menerima pemulihan yang utuh, seperti dalam ayat 12 terdapat kata טּוּב (Tuv) yang dapat berarti kebaikan, materi yang berlimpah, kemakmuran, dan keindahan. Dalam konteks ini, tuv adalah anugerah Allah yang mengembalikan sukacita hidup yang utuh. Umat bersukacita karena semua berkat dan pemberian baik yang datang dari TUHAN, bukan dari dewa-dewa kesuburan (Baal) yang mereka sembah sebelumnya. Hal ini menekankan bahwa pengharapan dan pemulihan itu ada karena kebaikan TUHAN bukan karena usaha manusia.
Efesus 1 : 3 – 14
Efesus 1:3-14 merupakan sebuah eulogia (puji-pujian) yang mengalir sebagai satu kalimat tunggal yang panjang, yang bertujuan untuk mendefinisikan identitas rohani jemaat (Yahudi dan non-Yahudi) dan menegaskan kepastian keselamatan mereka melalui rencana kekal Allah. Bacaan kita menekankan pemilihan tak bersyarat (unconditional election). Allah memilih umat untuk diselamatkan berdasarkan kehendak-Nya sendiri dan kasih karunia-Nya, bukan berdasarkan perbuatan atau iman yang diamalkan. Hal ini menegaskan bahwa karya penyelamatan Tuhan tidak memandang latar belakang (Yahudi/Yunani) melainkan karena kemurahan kasih karunia-Nya yang tidak bisa dibatasi oleh manusia. Siapa yang dipilih itu semua kembali kepada Tuhan.
Penekanan inilah yang kemudian disampaikan Paulus kepada jemaat di Efesus agar mereka melihat diri mereka, bahwa Tuhan telah mengaruniakan keselamatan melalui iman percaya mereka kepada Yesus Kristus Sang Penebus. Paulus memberikan penekanan bahwa siapapun yang beriman kepada Yesus Kristus akan menjadi anggota keluarga Allah.
Yohanes 1 : 10 – 18
Bacaan kita ini merupakan penutup prolog Injil Yohanes yang menyajikan sintesis Kristologi, yang menegaskan identitas Yesus Kristus sebagai Firman (Logos) yang menjadi manusia. Pada ayat 10-13 menekankan perihal Firman yang menciptakan dunia (Kosmos) datang ke dalamnya, namun tidak dikenal (Ay. 10). Penolakan ini dikontraskan dengan penetapan status anak-anak Allah yang baru. Yohanes secara eksplisit menolak dasar-dasar kemanusiaan untuk status ini (bukan dari darah, daging, atau keinginan laki-laki), ini menegaskan bahwa status tersebut adalah kuasa (exousia) yang diberikan (dedōken) kepada mereka yang percaya kepada nama-Nya. Ini adalah penegasan mendasar tentang kelahiran rohani (ek Theou egennēthēsan) yang murni inisiatif dan anugerah Ilahi.
Sedangkan dalam ayat 17, Yohanes menyimpulkan dengan menempatkan Kristus di atas Hukum Taurat (Musa), sebagai satu-satunya wahyu yang sempurna tentang Allah. Kasih karunia (Charis) dan kebenaran (Alētheia) datang melalui Yesus Kristus, bukan semata-mata hukum yang diberikan melalui Musa. Sedangkan ayat 18, “Tidak seorangpun pernah melihat Allah,” namun, Anak Tunggal yang berada di pangkuan Bapa, Dia-lah yang menyatakan-Nya (exēgēsatō). Kata kerja exēgēsatō (asal kata eksegesis) menyiratkan bahwa Kristus bukan sekadar juru bicara, melainkan penjelas (Exegete) ilahi yang sempurna, yang menjadikan Allah yang tak terlihat menjadi dapat dipahami. Oleh karena itu, bacaan Injil kita menyajikan kerangka pemikiran bahwa anugerah keselamatan diberikan Allah dalam diri Yesus Kristus, dengan penjelas ilahi yang unik menurut Yohanes.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan kita saat ini mengingatkan kita akan hidup baru dan pengharapan yang diberikan Tuhan Allah kepada umat-Nya yang setia dalam iman kepada-Nya. Dengan penekanan bahwa setiap kita yang percaya kepada-Nya mendapatkan anugerah, karena sejatinya kita dipilih-Nya untuk menjadi anggota keluarga Allah. Kehadiran Yesus membawa kita semakin mengenal Dia dan hidup memiliki pengharapan yang sejati.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Saat ini kita hidup di zaman yang serba terhubung. Meskipun dengan jarak yang sangat jauh melewati benua, kita bisa dengan mudah terhubung. Namun anehnya, banyak dari kita merasa terputus, terputus dari hubungan sosial (keluarga, kerabat, dan kolega), terputus dari tujuan, terputus dari harapan, bahkan terputus dari diri sendiri. Dunia modern dengan segala kemajuannya, sering kali menciptakan apa yang disebut “budaya kematian”. Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan dalam budaya kematian.
Pertama, kematian harapan. Berbagai kemajuan yang ada terkadang membuat kita merasa bahwa perkembangan zaman menjadikan kita pupus harapan, seperti semakin sedikitnya ketersediaan air, sampah teknologi dimana-mana, kerahasiaan identitas yang diragukan lagi, belum lagi dengan berbagai masalah yang timbul karena permasalahan pribadi, permasalahan keluarga, sakit, dan banyak hal lain, yang dapat menyebabkan kita putus asa. Kedua, kematian identitas. Ketergantungan apresiasi yang diukur dengan banyaknya “like” di media sosial, nilai diri yang hanya diukur dengan kekayaan yang dimiliki atau jabatan. Apabila semua bergantung pada “like”, kekayaan, dan kinerja (pekerjaan), maka setiap kegagalan terasa seperti kematian identitas. Ketiga, kematian spiritual. Di tengah segala pilihan informasi, kita sering kali bingung mencari kebenaran. Kita kehilangan kontak dengan Sang Sumber Kehidupan Sejati. Hidup kita terasa kosong dan tanpa makna. Budaya kematian inilah yang dapat membuat kita menyerah, namun ketiga bacaan kita saat ini mengajak kita untuk memilih “hidup dalam anugerah Tuhan.”
Isi
Pengharapan yang diberitakan Yeremia kepada umat Israel merupakan jawaban yang melegakan bagi setiap umat yang setia kepada Allah. Dalam keputus-asaan umat Israel, Tuhan Allah memberikan kelegaan. Seperti dalam Yeremia 31:12, kata טּוּב (Tuv) yang berarti anugerah Allah yang mengembalikan sukacita, hidup yang utuh. Umat bersukacita karena semua berkat dan pemberian yang baik datang langsung dari TUHAN, bukan dari dewa-dewa kesuburan (Baal) yang mereka sembah selama ini. Hal ini menekankan bahwa pengharapan dan pemulihan terjadi karena anugerah kebaikan Tuhan semata, bukan karena usaha manusia. Hanya oleh kebaikan TUHAN sendiri, umat Israel mendapatkan pemulihan.
Hal ini menegaskan bahwa manusia hidup bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena anugerah Tuhan yang menyertai. Sejatinya manusia memang terbatas dalam segala hal, namun karena kasih-Nya, manusia bisa menjadi sampai saat ini dalam kemampuan akal dan kehidupan yang semakin berkembang. Namun perlu diwaspadai, oleh karena semakin pesatnya kemajuan zaman, manusia sering kali lupa akan identitas dirinya, lupa akan sisi spiritualnya, dan terjerembab dalam keputus-asaan. Maka sapaan Rasul Paulus menyemangati kita untuk sejenak berbalik, mengingat kembali anugerah yang telah Tuhan berikan kepada kita, mengingat kembali identitas kita sebagai keluarga kerajaan Allah. Sehingga dalam menghadapi pesatnya dunia, kita selalu ingat akan siapa yang menggerakkan laju dunia (kosmos), yaitu Sang Firman (Logos) yang menjadi Manusia dalam diri Yesus Kristus.
Pada kenyataannya kita sering kali menolak Firman Sang terang dan hidup, kita sering kali larut dalam kelamnya dunia, dan pada akhirnya kita “mati”. Injil Yohanes mengajak kita menyadari bahwa sejatinya kita hidup dalam anugerah Tuhan, yang melalui Firman-Nya (Logos) menjadi Manusia. Kehidupan yang dianugerahkan kepada kita sejatinya menjadi sarana bagi kita untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam hidup bukan karena kemampuan kita sendiri, melainkan karena Tuhan yang memprakarsai semuanya. Dengan demikian kita akan menjalani hidup yang selalu baru oleh Firman-Nya. Yohanes 1:18 mengatakan, “Tidak seorang pun pernah melihat Allah, namun, Anak Tunggal yang berada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (exēgēsatō), pernyataan ini menyiratkan bahwa Kristus bukan sekadar juru bicara, melainkan penjelas (Exegete) ilahi yang sempurna, yang menjadikan Allah yang tak terlihat menjadi dapat dipahami oleh manusia.
Penutup
Suasana Natal masih bergema dalam kehidupan kita saat ini, lagu-lagu Natal masih sering kita dengarkan yang membuat kita bernostalgia dengan peristiwa Natal yang membawa semangat untuk melanjutkan kehidupan yang penuh pengharapan dalam Natal. Namun godaan dunia yang sulit untuk kita elakkan adalah “budaya kematian”: Kematian harapan, kematian identitas, dan kematian spiritual.
Saat kematian harapan datang maka kita perlu mengingat kembali anugerah Allah dalam hidup kita, sehingga bisa melanjutkan kehidupan sampai saat ini. Kita mengingat Yeremia, dalam kesesakan Tuhan tidak pernah meninggalkannya, Tuhan senantiasa ada dengan cara-Nya. Saat kematian identitas datang yang membuat kita jauh dari tujuan hidup kita sebagai umat-Nya, kita diingatkan kembali nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Efesus, identitas kita adalah anggota keluarga Kerajaan Allah, maka mari kita hidup sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah. Sedangkan saat kematian spiritual datang, mari kita tidak meninggalkan Sang Logos yang menguasai dan menata kosmos, sehingga hidup kita senantiasa dekat dengan Dia Sang empunya segala sesuatu dan Sang Pengatur segala sesuatu. Mari kita melanjutkan Natal dengan “Hidup dalam Anugerah Tuhan.” Amin. [GFC].
Pujian: KJ. 107 Terbitlah dalam Kegelapan
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Ing wekdal sapunika, kita gesang ing zaman ingkang saya modern, ing pundi sanadyan jarakipun tebih, kita saged nyambung kaliyan tiyang sanes ing ingkang tebih lan benten panggenan punika. Ananging kathah sanget ing antawis kita ingkang ngraosaken pedhot, pedhot saking gegandhengan sosial (kulawarga, sanak-sedulur, lan kanca), pedhot saking ancasing gesang, pedhot saking pangajeng-ajeng, ugi pedhot saking jati dhiri piyambak. Donya modern lan kamajengan ingkang pesat, asring nyiptakaken punapa ingkang dipun wastani “Budaya Pati”. Wonten tigang prekawis ingkang kedah kita gatosaken ing budaya pati punika.
Sepisan, pati pangajeng-ajeng, sanadyan kamajengan tansah majeng lan mboten saged dipun bendung, nanging kita asring sumelang bilih kemajengan punika ndadosaken sumber toya asat, sampah teknologi numpuk wonten ing pundi-pundi lan dados sumber prekawis. Mekaten ugi prekawis keamanan data ingkang tansaya mboten wonten privasinipun. Tambah malih maneka warna prekawis pribadi, kulawarga, sesakit ingkang dipun tandang lan sanes-sanesipun, ingkang ndadosaken kita nglokro. Kaping kalih Pati Jati dhiri (Kematian Identitas), ketergantungan apresiasi ingkang dipun-ukur saking kathahipun “like” ing media sosial sarta ajining dhiri namung dipun-ukur saking drajad lan kasugihan. Menawi sadaya gumantung dhateng like, bandha lan kasugihan, pramila menawi nampeni kagagalan lan kacingkrangan rumaos kados pati jati dhiri. Kaping tiga Pati Spiritual, ing satengahing kemajengan informasi, kita asring nebih saking sumbering katresnan, nebih saking sumber informasi ingkang sejati, inggih punika Gusti Allah. Pedhot saking Sumber Gesang Sejati, ndadosaken gesang kita kosong lan tanpa makna. Budaya Pati punika ingkang saged dadosaken kita nyerah. Nanging, tigang waosan kita ing dinten punika ngajak kita sami milih “gesang ing sih rahmatipun Gusti.”
Isi
Pangajeng-ajeng ingkang dipun wartosaken dening nabi Yeremia dhateng umat Israel punika minangka wangsulan ingkang nuwuhaken raos lego dhateng saben umat ingkang setya. Ing salebetipun raos nglokro, Gusti paring pangluaran lan kakiyatan kados ing Yeremia 31:12 .טּוּב (Tuv) inggih punika sih rahmating Allah ingkang nuwuhaken kabingahan gesang ingkang utuh. Kabingahan ingkang dipun tampi umat punika wujud berkah lan peparing saking Gusti Allah piyambak, mboten saking dewa-dewa kesuburan (Baal) ingkang kala rumiyin dipun sembah para umat. Punika nandhesaken bilih pangajeng-ajeng lan pamulihan punika pinangkanipun saking Gusti, sanes saking upayanipun manungsa piyambak.
Punika negesaken bilih manungsa gesang mboten namung amargi kakiyatanipun piyambak, nanging wonten sih rahmating Gusti ingkang nyarengi. Sejatosipun manungsa punika winates ing sadaya prekawis, nanging awit saking katresnanipun Gusti, manungsa saged ngalami kamajengan gesangipun. Sanyatanipun saking kamajengan punika manungsa asring kesupen tumrap jati dhiri lan spiritualitasipun, lajeng nglokro mboten nggadah pangajeng-ajeng malih. Pramila, Rasul Paulus ngengetaken pasamuwan Efesus supados enget tumrap sih rahmating Gusti ingkang sampun dipun tampi. Pasamuwan Efesus kedah enget dhateng jati dhirinipun minangka anggota kaluwarga Kratoning Allah. Kanthi mekaten, nalika kita ngadhepi kemajengan donya, kita tansah enget sinten ingkang nitahaken lajunipun jagad (kosmos), inggih punika Sang Sabda (Logos) ingkang manjalma dados Manungsa. Ananging kasunyatanipun kita asring nampik Sang Sabda ingkang dados pepadang lan gesang kita lan kita asring keli ing petenging donya, temahan kita dawah ing “dosa-mati.”
Injil Yokanan ngajak kita sami sadhar bilih sejatosipun kita gesang ing sih rahmatipun Gusti lantaran Sang Sabda ingkang manjalma dados Manungsa. Gesang ingkang dipun paringaken dhateng kita punika ngengetaken kita supados ningali sadaya ingkang kalampahan ing gesang kita punika mboten amargi kakiyatan kita piyambak, ananging amargi Gusti Allah ingkang mrakarsani sadayanipun. Kanthi mekaten, kita nglampahi gesang enggal awit saking katresnanipun Gusti. Yokanan 1:18 nyebataken, “Ora ana wong siji-sijia kang wus tau weruh Gusti Allah. Sang Putra ontang-anting kang ana ing pangkone Sang Rama, iku kang nerangake kawontenane.” Punika nedahaken bilih Sang Kristus mboten namung juru wicara, nanging Panjenenganipun punika Sang Sabda ingkang sampurna, ingkang njalari Gusti Allah ingkang mboten katon saged dipun mangertosi dening manungsa.
Panutup
Taksih ing swasana Natal ingkang gumregeng ing gesang kita samangke. Kidung-kidung Natal taksih asring kita pirengaken, ingkang ndadosaken kita bernostalgia kaliyan prastawa Natal ingkang mbekta semangat kangge nglajengaken gesang ingkang kebak pangajeng-ajeng. Ingkang perlu kita gatosaken, kita punika mboten saged tebih saking godaning donya ingkang awrat, inggih punika “budaya pati”: Pati Pangajeng-ajeng, Pati Jati dhiri, lan Pati Spiritual.
Nglawan Pati Pangajeng-ajen, kita kedah enget Sih Rahmatipun Gusti Allah ing gesang kita, ingkang nuntun kita ngantos dinten punika. Kita dipun-engetaken kados pundi Yeremia ing salebetipun karibedan, Gusti Allah mboten nate nilar piyambakipun. Gusti Allah tansah nyarengi kita ing pakaryan kita. Lajeng nglawan pati jati dhiri, nalika kita tebih saking ancas gesang minangka umat ingkang dipun piji, kita dipun engetaken kados dene Rasul Paulus ngengetaken pasamuwan Efesus, bilih jati dhiri kita punika anggota kaluwarga Kratoning Allah. Pramila, mangga gesang kita selaras kaliyan kaluwarga Kratoning Allah. Ingkang pungkasan nalika kita nglawan pati spiritual, kita mboten nilar Sang Sabda ingkang nguwasani lan nata gesang lan donya punika. Kanthi mekaten, gesang kita saged celak kaliyan Gusti ingkang Maha Kawasa, Gusti ingkang mranata sadayanipun. Mangga kita lajengaken semangat Natal punika kanthi “gesang ing sih rahmatipun Gusti.” Amin. [GFC].
Pamuji: KPJ. 245 Sang Pepadhang Sejati