Hidup dalam Pengharapan Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2026

15 December 2025

Tahun Baru | Masa Natal
Stola Putih

Bacaan 1: Pengkhotbah 3 : 1 – 13
Mazmur: Mazmur 8
Bacaan 2: Wahyu 21 : 1 – 6a
Bacaan 3: Matius 25 : 31 – 46

Tema Liturgis: Memilih Kehidupan di Tengah Budaya Kematian
Tema Khotbah: Hidup dalam Pengharapan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Pengkhotbah 3 : 1 – 13
Tema pokok kitab Pengkhotbah adalah pengertian akan makna hidup. Dimana penulis Pengkhotbah mengajak setiap orang untuk memeriksa hidup mereka, melihat dimanakah didapatkan kepuasan hati? Disinilah Penulis Pengkhotbah mendapatkan jawaban bahwa hanya Allah saja yang harus dipercaya. Tuhan Allah adalah Sang Sumber Kehidupan. Tentang siapa yang menulis kitab Pengkhotbah? Tidak disebutkan secara pasti siapa penulis kitab Pengkhotbah ini walaupun disebutkan dalam Pengkhotbah 1:12 bahwa dia adalah raja atas Israel di Yerusalem, yang seolah-olah menunjuk pada Salomo.

Pengkhotbah merasa bahwa pencapaiannya selama ini merupakan sebuah kesia-siaan. Kesia-siaan tidak selalu dipandang sebagai hal yang negatif. Kata kesia-siaan yang digunakan Pengkhotbah di sini berasal dari kata Ibrani hevel yang berarti nafas atau uap. Maknanya segala sesuatu yang diterima di dunia ini sifatnya hanya sementara/ tidak kekal. Segala sesuatu di muka bumi ada waktunya, ada awal dan ada akhir. Ada kondisi yang bertolak belakang, yang pada masanya akan dialami oleh setiap orang. Sehingga Pengkhotbah mengingatkan para pembacanya supaya bijaksana mempergunakan waktu yang ada. Apapun peristiwa yang ia alami, kiranya sungguh diresapi dan diberi makna, bukan sekedar peristiwa yang cepat berlalu saja.

Ungkapan yang berpasangan, “Ada waktu untuk …, ada waktu untuk …” menjelaskan bahwa hidup adalah campuran antara kesukacitaan dan kesedihan. Manusia tidak mampu mengendalikan berbagai peristiwa hidup yang terjadi atas dirinya. Di sisi lain Pengkhotbah menguatkan umat bahwa Allah akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Di sini kita melihat ada pengharapan akan waktu Tuhan bagi mereka yang percaya. Sekalipun berbagai peristiwa suka duka dialami oleh manusia namun kasih setia Tuhan Allah senantiasa menyertai umat-Nya. Allah akan menyatakan kebaikan-Nya dan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

Wahyu 21 : 1 – 6a
Kitab Wahyu adalah surat yang ditulis oleh Yohanes saat dia diasingkan di pulau Patmos, saat dia ditahan oleh pemerintah Roma karena pekabaran Injil yang ia lakukan. Surat ini dialamatkan kepada tujuh jemaat Kristen di Asia yang kala itu berada dalam tekanan pemerintah kekaisaran Romawi, dimana mereka diwajibkan untuk menyembah Kaisar Roma.

Secara khusus pada bagian perikop bacaan Wahyu 21:1-6a, Yohanes mendapatkan penglihatan dari Tuhan dimana ia melihat langit yang baru, bumi yang baru, dan Yerusalem yang baru, setelah penglihatan iblis yang dikalahkan. Langit baru, bumi baru, dan Yerusalem baru melambangkan pembaruan yang menyeluruh. Dalam penglihatan langit baru dan bumi baru, menunjukkan bahwa bumi yang lama, yang penuh dengan kejahatan, sakit penyakit, dan kecemaran akan berlalu. Pembaruan ini pun juga terletak pada pembaruan situasi yang baru, suasana baru yang jauh berbeda dengan situasi yang lama. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi maut, tidak ada lagi perkabungan, dan tidak ada lagi dukacita. Ada masa dimana penderitaan akan berlalu dan umat percaya datang menyembah Dia.

Alfa dan Omega adalah huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani. Ungkapan ini menunjukkan kesempurnaan dan totalitas, dimana Tuhan Allah sajalah yang memulai segala sesuatu dan menyelesaikan segala sesuatu.

Matius 25 : 31 – 46
Perikop kita menggambarkan Anak Manusia yang akan datang dalam kemuliaan-Nya. Peristiwa ini merujuk pada hari akhir atau masa penghakiman, dimana semua orang dari berbagai suku bangsa akan dikumpulkan dan dipisahkan (Ay. 32). Domba melambangkan umat Tuhan yang taat setia, sedangkan kambing melambangkan umat yang jahat. Domba dan Kambing ditempatkan di tempat yang terpisah, sebab domba bisa tidur di luar karena mereka bisa saling menghangatkan, sedangkan kambing di suatu tempat yang gelap, hangat, sebab mereka tidak saling menghangatkan satu dengan yang lain. Domba-domba ditempatkan di sisi kanan yang melambangkan tempat terhormat, sedangkan kambing-kambing ditempatkan di sisi kiri, gambaran orang-orang yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Apakah yang menjadikan Tuhan berkenan kepada “domba-domba”? Di ayat 35-36 disebutkan Tuhan berkenan karena mereka peduli dan mau memperhatikan orang-orang lemah, yang terpinggirkan, serta menolong mereka yang membutuhkan pertolongan. Sebab ada saatnya Tuhan hadir dalam rupa yang papa, yang hina dan terluka. Sebaliknya mereka yang tidak berkenan adalah mereka yang mengabaikan orang yang lemah, terpinggirkan, dan kekurangan. Mereka yang tidak peduli dengan sesama di sekitarnya.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan kita berbicara tentang hidup dalam pengharapan. Pada bacaan pertama, sekalipun hidup tidak abadi, hidup di dunia dipandang sebagai kesia-siaan, tetapi tetap ada pengharapan bahwa hidup di dalam Tuhan akan indah pada waktunya. Bacaan kedua, berisi pengharapan akan masa depan, akan kehidupan bersama Tuhan Allah di Yerusalem Baru. Setiap umat percaya diajak untuk mempercayai janji Tuhan bahwa mereka akan disatukan sebagai umat Tuhan di Yerusalem Baru. Bacaan ketiga, berisi pengharapan akan hidup kekal di dalam Tuhan Yesus. Setiap umat yang percaya, taat setia, peduli, dan mengasihi sesamanya yang lemah, kekurangan, terpinggirkan akan beroleh hidup kekal bersama Tuhan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
(Mengawali khotbah, pelayan bertanya kepada jemaat, ”Apakah resolusi saudara di tahun baru ini? Apakah yang ingin saudara capai di tahun baru ini?” Berilah kesempatan beberapa warga jemaat menyampaikan pendapatnya)

Kata yang paling sering kita dengar dan ucapkan dalam mengawali tahun baru adalah kata “resolusi.” Resolusi merupakan suatu tekad atau keputusan untuk melakukan sesuatu atau mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks umum, resolusi sering kali dikaitkan sebagai upaya untuk terus memperbaiki diri, mengubah kebiasaan buruk, mencapai target atau tujuan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Pada umumnya seseorang akan membuat daftar resolusi, tujuan, dan harapan yang ingin dia raih dalam tahun yang baru. Ia berupaya untuk berkomitmen memperbaiki kualitas hidup, meraih impian agar sukses, meningkatkan kesejahteraan hidup, dll. Resolusi tidak hanya terbatas pada tujuan pribadi yang ingin diraih, tetapi juga bisa diterapkan di berbagai bidang, seperti pendidikan, karier, kesehatan, dan lingkungan. Sebagai contoh: seorang siswa memiliki resolusi untuk lebih rajin belajar di sekolah agar dia dapat melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi yang dia harapkan. Seorang pekerja memiliki resolusi bekerja keras dengan penuh tanggung jawab agar dia dapat naik jabatan atau naik gaji. Seorang atlet memiliki resolusi untuk menjaga kesehatannya dengan menjaga pola makan yang sehat, olah raga dan latihan teratur, serta istirahat yang cukup.

Seseorang yang membuat resolusi dalam hidupnya memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Resolusi menjadi pendorong perubahan pada dirinya, dimana dia mulai merancang dan merencanakan impian dan cita-citanya, lalu melakukannya dalam tindakan konkrit guna mencapai tujuannya. Ia akan lebih termotivasi untuk melakukan perubahan yang positif dalam hidupnya.

Isi
Bagian firman Tuhan pada saat ini bertemakan hidup dalam pengharapan. Baik bacaan 1, 2, dan 3 menguraikan tentang hidup umat percaya yang senantiasa berpengharapan kepada Tuhan. Pada bacaan 1, Pengkhotbah menyebutkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini ada waktunya. Dimana setiap orang akan mengalami masa-masa yang baik dan masa-masa yang pahit dalam hidupnya. Ada lahir ada mati, ada tawa ada tangis, ada kasih ada benci. Pengkhotbah mengingatkan agar umat Tuhan bersikap bijaksana dalam mempergunakan waktu yang ada. Apapun peristiwa yang ia alami, hendaknya selalu diresapi dan diberi makna, bukan sekedar peristiwa yang cepat berlalu begitu saja. Manusia tidak mampu mengendalikan berbagai peristiwa hidup yang terjadi pada dirinya. Disinilah Pengkhotbah menguatkan umat Tuhan bahwa Tuhan Allah akan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Ada pengharapan akan waktu Tuhan bagi mereka yang percaya. Sekalipun berbagai peristiwa suka duka terjadi namun kasih setia Tuhan Allah senantiasa menyertai umat-Nya. Allah akan menyatakan kebaikan-Nya dan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Inilah pengharapan yang pertama, di dalam Tuhan tidak ada yang sia-sia, semua akan indah pada waktu-Nya.

Pada bacaan kedua Wahyu 21:1-6a, pengharapan itu dinyatakan pada umat Tuhan. Tuhan menjanjikan langit dan bumi yang baru, Yerusalem Baru. Yohanes mendapatkan penglihatan dari Tuhan, ia melihat langit yang baru, bumi yang baru, dan Yerusalem yang baru, yang melambangkan pembaruan secara menyeluruh. Dalam penglihatannya bumi yang lama yang penuh dengan kejahatan, sakit penyakit, dan kecemaran akan berlalu. Akan ada langit dan bumi yang baru dimana tidak ada air mata, tidak ada maut, tidak ada perkabungan, tidak ada dukacita. Penderitaan akan berlalu. Tuhan Allah akan bersama dengan umat percaya, yang menyembah-Nya. Dialah Alfa dan Omega, Dialah yang pertama dan terakhir. Ungkapan ini menunjukkan kesempurnaan dan totalitas, dimana Tuhan Allah memulai segala sesuatu dan menyelesaikan segala sesuatu. Inilah pengharapan yang kedua, ada janji Tuhan bagi umat percaya bahwa mereka akan hidup bersama Tuhan di Yerusalem Baru.

Sedangkan pada bacaan ketiga, Matius 25:31-46, Tuhan Yesus memberikan gambaran akan penghakiman terakhir. Ia menyebutkan saat Anak Manusia datang ke dunia dalam kemuliaan-Nya (Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua), Ia datang sebagai hakim yang akan mengadili umat-Nya. Ia akan memisahkan umat percaya dari antara umat yang jahat, seperti seorang gembala memisahkan domba dari kawanan kambing. Tuhan Yesus menjanjikan akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan (lambang tempat yang terhormat) dan kambing di sebelah kiri. Domba menggambarkan umat yang percaya kepada Tuhan, taat melakukan kehendak Tuhan, peduli dan mau memperhatikan sesamanya yang lapar, haus, kekurangan, lemah, sakit, terpenjara, dan terpinggirkan. Semua itu mereka lakukan dengan kesungguhan hati. Maka bagi mereka yang percaya, taat, setia, dan melakukan kasih pada sesamanya, ada pengharapan mendapatkan tempat di sebelah kanan dan menerima Kerajaan Allah, yaitu keselamatan dan damai sejahtera di surga bersama Tuhan Yesus.

Penutup
Apakah yang dapat kita relevansikan dari bagian firman Tuhan di atas untuk kehidupan kita masa kini? Firman Tuhan saat ini mengajak kita untuk selalu berpegang teguh pada Tuhan dan berpengharapan hanya pada-Nya. Memasuki tahun baru tentu ada berbagai macam perasaan yang kita rasakan. Ada yang optimis, penuh semangat, memiliki resolusi yang baik dan positif namun juga ada yang pesimis, ragu-ragu, dan tidak memiliki pengharapan di tahun yang baru ini. Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita, keluarga kita, gereja kita, pekerjaan kita di tahun ini, namun kita tidak boleh kehilangan harapan. Waktu yang ada di depan memang penuh misteri, tetapi mari kita percaya bahwa ada penyertaan dan pertolongan Tuhan di dalam hidup kita.

Hidup dalam pengharapan, inilah yang harus kita pegang. Sekalipun ada masa sulit, masa pahit, masa kelam, kita tidak boleh ragu atau menyerah, kita tidak boleh putus asa, sebaliknya mari kita selalu memandang Tuhan di setiap perencanaan, karya, dan pekerjaan yang kita lakukan. Dengan selalu hidup dalam pengharapan, kita meyakini bahwa kita mampu menjalani kehidupan di tahun ini dengan baik. Mari kita terus memegang janji Tuhan, ada keselamatan bagi kita yang percaya dan setia sampai akhir. Sebab hidup dalam pengharapan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia. Amin. [AR].

 

Pujian: KJ. 344  Ingat Akan Nama Yesus

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
(Miwiti khotbah, pelados saged atur pitakenan dhateng warga pasamuwan, “Punapa ingkang dados pangajeng-ajeng panjenengan ing warsa enggal punika? Punapa ingkang badhe panjenengan gayuh ing warsa enggal punika?” Palados paring wekdal kagem warga pasamuwan mangsuli pitakenan punika)

Tembung ingkang asring kita mireng lan ucapaken nalika ngancik warsa enggal inggih punika tembung “resolusi.” Resolusi punika tekad utawi keputusan kangge nindakaken samukawis prekawis kanthi tujuan tartamtu. Umumipun, tembung resolusi punika wonten gandengipun kaliyan pangupaya ndandosi dhiri, ngowahi pakulinan awon dados sae, sarta kagungan tujuan ingkang langkung sae tinimbang taun saderengipun. Tiyang biasanipun damel daftar pangajeng-ajengipun ing warsa enggal punika. Piyambakipun badhe tetekad kangge ndandosi gesangipun langkung sae, ngupaya pakaryan langkung sukses, sarta ningkataken kasantosaning gesangipun, lsp. Resolusi punika mboten namung winates ing tujuan pribadi kemawon, nanging ugi saged dipun trepaken ing maneka warni bidang, kados ing pendidikan, karier, kesehatan, lan lingkungan. Contonipun: lare sekolah nggadhah resolusi sinau kanthi temen lan ulet ing sekolahipun, supados piyambakipun saged nglajengaken kuliah ing Perguruan Tinggi impenipun. Tiyang ingkang nyambut damel nggadhah resolusi badhe nyambut damel kanthi temen-temen lan tanggel jawab supados piyambakipun saged minggah pangkat lan bayaranipun tambah. Atlet olah raga nggadhah resolusi dados atlet ingkang berprestasi, mila piyambakipun tansah njagi kesehatan, ngatur pola anggenipun nedha, olah raga sacara teratur lan ngaso ingkang cekap.

Tiyang ingkang nggadhah resolusi salebeting gesangipun, piyambakipun punika nggadhah tujuan gesang ingkang jelas. Resolusi punika dados pangupaya tumrap ewah-ewahan gesangipun, ing pundi piyambakipun milai ngrancang punapa impenipun lajeng nindakaken srana tumindak nyata kangge gayuh tujuan gesangipun saged kasembadan. Piyambakipun langkung semangat kangge nindakaken tumindak ingkang sae salebeting gesangipun.

Isi
Perangan pangandikanipun Gusti wekdal punika kaparingan jejer gesang salebeting pangajeng-ajeng. Sae waosan 1, 2, 3 nyariosaken gesangipun para umat pitados ingkang kebak pangajeng-ajeng dhumateng Gusti. Ing waosan 1, juru serat Kitab Kohelet nyebataken bilih sadaya ingkang wonten ing alam donya punika wonten wekdalipun. Ing pundi saben tiyang badhe ngalami mangsa-mangsa ingkang sae lan mangsa-mangsa ingkang ewet salebeting gesangipun. Wonten lair wonten pati, wonten gumuyu wonten tangis, wonten tresna wonten benci. Juru serat Kohelet ngengetaken para umat supados wicaksana anggenipun ngginakaken wekdal. Punapa kemawon kahanan ingkang dipun alami kedah dipun tampi lan dipun paringi teges, supados mboten namung dados prastawa ingkang lewat kemawon. Manungsa punika mboten kuwaos ngendaleni maneka warni prekawis ingkang kalampahan ing gesangipun. Ing ngriki Juru Serat Kohelet ngiyataken para umat bilih namung Gusti Allah ingkang damel sadayanipun endah ing wancin-Ipun. Wonten pengajeng-ajeng tumrap wekdalipun Gusti kangge para pitados. Sanadyan maneka warni prastawa kalampahan ing gesang, nanging sih kasetyanipun Gusti Allah tansah nganthi umat-Ipun. Wonten wekdal kagem Gusti Allah nyatakaken kasaenan-Ipun lan sadaya punika ketingal endah ing wancinipun. Punika ingkang dados pangajeng-ajeng kaping pisan, wonten ing Gusti Allah mboten wonten ingkang muspra, sadaya badhe katingal endah ing titi wancin-Ipun.

Wonten waosan kaping kalih, Wahyu 21:1-6a, pengajeng-ajeng punika kanyatakaken dhateng para umatipun Gusti. Gusti Allah prajanji bab langit lan bumi ingkang enggal, Yerusalem enggal. Yokanan nampi paningal saking Gusti bilih piyambakipun ningali langit ingkang enggal, bumi ingkang enggal, lan Yerusalem ingkang enggal. Paningal punika nglambangaken pembaruan sacara utuh. Bumi ingkang lami, ingkang kebak tumindak jahat, sakit penyakit, lan dursila badhe sirna. Badhe kagantos langit lan bumi ingkang enggal, ing pundi mboten wonten malih eluh, mboten wonten pati, mboten wonten kasisahan malih. Sadaya kasangsaran badhe sirna. Gusti Allah badhe nunggil para umat pitados ingkang nyembah Panjenenganipun. Gusti Allah punika Sang Alfa lan Omega, Panjenenganipun ingkang miwiti lan mungkasi. Ukara punika nedahaken kasampurnan lan kautuhan, ing pundi Gusti Allah punika ingkang miwiti sadaya prekawis ing donya lan ngrampungaken sadayanipun. Punika pangajeng-ajeng kaping kalih, wonten prajanjinipun Gusti kagem para umat pitados, inggih punika para tiyang pitados sami katunggilaken wonten ing Yerusalem enggal kaliyan Gusti.

Selajengipun ing waosan kaping tiga, Mateus 25:31-46, Gusti Yesus paring gambaran bab pangadilan pungkasan. Panjenenganipun nyebataken bilih Putraning Manungsa rawuh ing donya (rawuhipun Gusti Yesus kaping kalih), Panjenenganipun rawuh minangka hakim ingkang adil, ingkang badhe ngadili umat-Ipun. Panjenenganipun badhe misahaken umat pitados saking umat ingkang jahat, kados juru pangon ingkang misah menda saking wedhus jawa. Gusti Yesus paring janji badhe mapanaken menda-mendanipun ing sisih tengen (lambang papan ingkang mulya) lan wedus jawa ing sisih kiwa. Menda punika gambaraken umat ingkang pitados dhumateng Gusti, manut dhumateng karsanipun Gusti, peduli, lan nresnani sesaminipun ingkang kaluwen, ngelak, kekirangan, sakit, kakunjara, lan kasisih. Sadaya tumindak punika, dipun tindakaken kanthi manah ingkang temen. Mila kanggenipun tiyang ingkang pitados, setya, lan nresnani sesaminipun, wonten pangajeng-ajeng nampi papan ing sisih tengen lan nampi Kratoning Allah, inggih punika kawilujengan lan tentrem rahayu ing swarga sareng kaliyan Gusti Yesus.

Panutup
Punapa ingkang saged kita trepaken saking sabdanipun Gusti punika kangge gesang kita samangke? Sabdanipun Gusti samangke ngajak kita tansah rumaket dhumateng Gusti lan kebak pangajeng-ajeng dhumateng Panjenenganipun. Mlebet ing warsa enggal tamtu kita ngraosaken maneka warni pangraos. Wonten ingkang optimis, kebak semangat, nggadhah resolusi ingkang sae lan positif, nanging ugi wonten tiyang ingkang pesimis, mangu-mangu, lan mboten nggadhah pangajeng-ajeng ing warsa enggal punika. Kita pancen mboten mangertos punapa ingkang badhe kelampahan ing warsa enggal punika. Kita ugi mboten mangertos punapa ingkang badhe kalampahan salebeting gesang kita, brayat kita, pasamuwan kita, pandamelan kita, nanging sampun ngantos kita kecalan pangajeng-ajeng. Sanadyan mangsa ing ngajeng kebak misteri, mangga kita tansah pitados dhumateng Gusti bilih Gusti tansah nganthi lan mitulungi kita.

Gesang salebeting pangajeng-ajeng, punika ingkang dados cepengan kita. Sanadyan kita ngalami mangsa ingkang ewet, pait, peteng, mangga kita mboten mangu-mangu lan nyerah. Kita mboten kecalan pangajeng-ajeng, nanging kita tansah mandheng Gusti Allah. Salebeting rancangan, pakaryan, lan pandamelan kita, mangga kita lampahi sinarengan Gusti. Srana gesang salebeting pangajeng-ajeng, kita pitados bilih kita saged nglampahi gesang punika. Mangga kita ngandelaken prajanjinipun Gusti, wonten kawilujengan kangge kita ingkang pitados lan setya dumugi wekasan. Awit gesang salebeting pangajeng-ajeng punika mboten badhe muspra. Amin. [AR].

 

Pamuji: KPJ. 74  Gusti Mugi Nunggila

Renungan Harian

Renungan Harian Anak