Kaulah Harapan Khotbah Tutup Tahun 31 Desember 2025

15 December 2025

Tutup Tahun
Stola Putih

Bacaan 1: 1 Raja-raja 3 : 5 – 15
Mazmur: Mazmur 20
Bacaan 2: Yohanes 8 : 12 – 19
Bacaan 3: 

Tema Liturgis: Memilih Kehidupan di Tengah Budaya Kematian
Tema Khotbah: Kaulah Harapan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

1 Raja-raja 3 : 5 – 15
Perikop ini berisi tentang kisah Salomo, yang memiliki kelebihan di antara raja-raja yang pernah memerintah Israel kala itu. Keberhasilannya memimpin suatu bangsa atas hikmat Allah yang menyertai dirinya, walau ia masih tergolong muda dan belum memiliki pengalaman menggantikan posisi Daud, ayahnya. Sebagaimana yang kita tahu, Salomo adalah anak Daud dari Betsyeba mantan istri Uria orang Het. Salomo pun juga menjadi menantu dari raja Mesir, yaitu Firaun. Jika melihat hal yang demikian, betapa banyak orang yang menginginkan kedudukannya. Salomo juga pribadi yang dikenal sebagai seorang raja yang penuh kebijaksanaan dan pemimpin yang dapat diandalkan. Terbukti dirinya dapat menjalin relasi yang baik dengan bangsa-bangsa lain, selain itu kebijaksanaannya ketika ia memecahkan masalah dua ibu yang mengklaim sebagai ibu kandung bayi (1 Raj. 3:16-28).

Dibalik segala kebijaksanaan dalam mempergunakan haknya sebagai pemimpin, ada hal yang selalu dipegang oleh seorang Salomo. Ia selalu mensyukuri betapa kasih Allahlah yang mengiringi perjalanan hidupnya. Ia memang masih mempersembahkan korban di bukit-bukit pengorbanan, karena belum didirikan rumah untuk nama Tuhan sampai saat itu. Sebab disitulah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu dan Tuhan menampakkan diri kepada Salomo. Tuhan berkata “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Salomo mengatakan “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.” (Ay. 6). Betapa Salomo menunjukkan bahwa kasih Allahlah yang mengiringi dirinya hingga sampai keberadaannya saat itu, hanya karena cinta Allahlah ia diperkenankan hingga sampai saat itu menerima kedudukan dan mengangkat dirinya sebagai raja untuk menggantikan Daud ayahnya.

Jika dicermati, Salomo meminta agar penuh hikmat untuk menyelami maksud Tuhan bagi umat Israel.  Tawaran Tuhan tidak dijadikan olehnya untuk memenuhi keinginannya  pribadi dalam memerintah. Jika diperhatikan, bukankah bisa saja Salomo meminta hal yang lebih besar dari sekedar apa yang ia dapatkan saat itu? Bukankah menjadi pemimpin bangsa yang besar juga membutuhkan banyak hal duniawi untuk menunjang semua itu? Akan tetapi Salomo tidaklah meminta demikian, ia cukup meminta hikmat kebijaksanaan Tuhan yang menyertainya, sehingga ia dapat menimbang perkara dalam menghakimi umat Israel berdasarkan pada sesuatu yang seturut dengan kehendak Tuhan.

Yohanes 8 : 12 – 19
Perikop ini menyatakan tentang identitas diri Yesus bahwa Ia adalah “terang dunia”, Ia menyatakan “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Ay. 12). Ketika ada kata terang, maka asumsi kita adalah Yesus ingin mendobrak lawan dari kata terang, yaitu gelap. Yesus menyadari bahwa dunia ini ada dalam kegelapan akibat dari segala hal-hal yang penuh dengan kejahatan. Jika kita melihat dalam perikop sebelumnya yang mengisahkan tentang perempuan yang berzinah. Disana terjadi sebuah perdebatan yang cukup menarik. Dimana Yesus diminta untuk menghakimi perempuan yang kedapatan berbuat zinah oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Hal yang menakjubkan adalah bagaimana tindakan Yesus di dalam menghadapi kejadian tersebut, Yesus menyampaikan, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Ay. 7). Kalimat tersebut merupakan tamparan hebat bagi mereka, karena siapakah yang berani untuk mengaku bahwa dirinya tidak berdosa? Tentunya tidak ada satupun yang berani untuk melakukannya. Dari apa yang disampaikan oleh Yesus ini, Ia mengatakan dengan tegas tentang hal dosa. Dan memberikan sebuah penegasan pula bahwa manusia ada dalam kegelapan karena dosa. Maka perikop ini sangat relate dengan pengakuan identitas terang dari diri Yesus yang adalah terang. Tidak ada yang dapat melabelkan diri sebagai terang, selain Ia yang adalah terang itu sendiri.

Identitas Yesus juga hendak menyatakan dengan tegas bahwa kesaksian tentang diri-Nya adalah benar. Tujuan dari kehadiran-Nya adalah menerangi dunia yang ada dalam kegelapan ini. Ia ingin membebaskan dunia dari kuasa kegelapan dan segala kejahatan yang terjadi. Keotentikan diri Yesus, tentu tidak dengan mudah diterima oleh banyak orang kala itu, termasuk juga orang-orang Farisi. Mereka enggan mengakui Yesus karena mereka juga tidak ingin kehilangan kedudukan mereka sebagai pemimpin agama. Apa yang mereka dengar tidak mudah juga untuk dipahami secara eksplisit maupun implisit. Namun, Yesus  memiliki tujuan besar dalam identitas-Nya yang adalah terang. Pertama, Ia ingin membebaskan dunia dari kuasa kegelapan. Kedua, Ia merupakan tujuan dari setiap pengharapan dunia dan Ia adalah penggenapan dari segala nubuatan.

Dunia membutuhkan Yesus, Ia yang mengampuni dan memberikan kelegaan bagi setiap manusia. Ia satu-satunya jalan terang dan kehidupan, bagi siapapun yang mendengar dan datang kepada-Nya. Dalam perjalanan yang ditempuh oleh manusia, manusia diberi hak kebebasan untuk memilih, maka di setiap pilihan tersebut Yesus menginginkan manusia melibatkan Dia dalam setiap keputusannya. Yesus menginginkan kita tidak hanya mengandalkan hal-hal dunia sebagaimana kepandaian yang dimiliki oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, namun tidak dapat menyelami apa yang dimaksud oleh Yesus. Karena Yesus tidak mudah untuk diselami oleh akal pikir manusia, maka bersandarlah sepenuhnya kepada Dia Sang Terang.

Benang Merah Dua Bacaan:
Hidup adalah sebuah perjalanan yang akan sampai pada tujuan dan perhentian yang diinginkan. Pada umumnya, ketika sampai pada perhentian berarti telah selesai melakukan perjalanan yang ditempuh. Entah itu benar-benar telah sampai pada perhentian yang menjadi tujuan ataukah perhentian hanya untuk singgah sebentar. Maka dari itu, manusia yang melakukan peziarahan hidup agar sampai pada perhentian yang dituju. Maka perlu sejenak bagi kita untuk mengecek apakah sarana yang kita pakai dalam keadaan baik, dalam hal ini iman kita kepada Kristus. Selain itu pula, perlu adanya pengecekkan tujuan hidup kita, apakah benar-benar sudah pada tujuan hidup yang dikehendaki Tuhan? Atau hanya sekedar mengejar hawa nafsu duniawi sesaat?

Peziarahan hidup ini menjadi cerminan bagi kita untuk kembali merefleksikan diri dipenghujung tahun 2025. Jalan yang ditempuh terkadang lurus dan berkelok. Tak terasa kita telah sampai pada akhir tahun 2025, di saat itulah kita tersadar bahwa semua yang telah kita lalui hanya karena kasih karunia Allah, hikmat dan kebijaksaan Tuhan yang mengiringi langkah kita, walau tak segala hal yang kita hadapi menyenangkan, tetapi tangan Tuhan mampu menolong kita. Ia tidak hanya memberikan hikmat tetapi juga hadir sebagai terang yang menjadi tujuan akhir dari segala kehidupan ini. Sehingga kita  dimampukan untuk meninggalkan masa lalu yang kelam, menjadi sebuah pembelajaran yang berharga bagi hidup kita dan bersiap diri untuk menapaki hari baru di waktu setelah ini.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan 

Kaulah Harapan

Bukan dengan kekuatanku
‘ku dapat jalani hidupku
Tanpa Tuhan yang di sampingku
‘ku tak mampu sendiri
Engkaulah kuatku, yang menopangku
Kupandang wajahmu dan berseru
Pertolonganku datang dari-Mu
Peganglah tanganku jangan lepaskan
Kaulah harapan, dalam hidupku

Lagu di atas merupakan salah satu lagu yang mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah kekuatan, penghiburan, pertolongan, dan harapan dalam hidup kita. Tahukah saudara keberhasilan seringkali kita lupakan walau hanya sederhana dari sekian banyak tuntutan hidup yang kita lalui, dan sering tidak kita sadari hari ini bahwa kita telah berhasil sampai pada hari ke-365 untuk kesekian kalinya dalam hidup kita. Seringkali kita tidak menyadari keberhasilan hingga mencapai hari di akhir tahun adalah sebuah kemenangan yang diberikan Tuhan dalam hidup kita. Kita berhasil menghapus kesedihan dan merubah menjadi tawa walaupun mungkin hanya sesaat. Kita berhasil menolong orang lain walaupun kita masih banyak berharap ada yang menolong kita karena beban kita yang belum tuntas. Kita berhasil bekerja demi keberlangsungan hidup, walau sering kena omelan, sakit, dan tidak sesuai harapan. Apapun yang sudah kita lakukan, kenyataannya kita telah berhasil sampai di penghujung tahun 2025.

Isi
Akhir tahun adalah momentum bagi kita untuk melihat kembali apa yang telah Tuhan perbuat dalam hidup kita hingga kita dapat memperoleh segala kemenangan hari ini. Bagi sebagian orang, mungkin ada menghabiskan hari di akhir tahun ini bersama orang yang disayangi, berlibur bersama keluarga, atau ada juga yang sedang berduka karena kehilangan, atau mereka memilih untuk menyendiri, dll. Akhir tahun adalah momen yang dinanti oleh banyak orang, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai momen yang tidak ingin dilewati karena kepedihan yang dialami saat ini. Bagaimanapun kita melewati hari ini, percayalah bahwa hari ini adalah hari kemenangan yang tidak sia-sia. Tuhan tidak pernah memberi waktu kepada manusia hanya untuk kesia-siaan. Hal sederhana apapun adalah sebuah waktu yang berarti bagi setiap manusia untuk belajar, mengenang, ataupun mempertahankan sesuatu.

Segala yang telah terjadi adalah sebuah keniscayaan Tuhan atas hikmat dan kebijaksanaan-Nya. Sebagaimana yang telah diterima oleh Salomo, yang masih muda dan belum punya banyak pengalaman dalam memimpin, tapi telah diberi kepercayaan memimpin bangsa yang besar. Siapa yang menyangka bahwa hal itu diterima Salomo, mungkin baginya hal tersebut adalah sebuah nasib yang tak terhindarkan, karena dirinya anak Raja Daud, yang mau tidak mau harus menggantikan ayahnya. Tetapi bagi Tuhan Allah, Salomo bukan hanya sekedar menggantikan kedudukan ayahnya, tapi Ia ingin menyatakan kasih-Nya kepada Salomo atas apa yang telah diperkenankan-Nya. Jikalau bukan karena kasih Allah, siapakah Salomo yang diberikan kebijaksanaan untuk dapat mengambil kebijakan ketika berhadapan dengan berbagai pergumulan.

Dibalik segala kebijaksanaan dalam mempergunakan haknya sebagai pemimpin, ada hal yang selalu dipegang oleh Salomo. Ia selalu mensyukuri betapa kasih Allah mengiringi perjalanan hidupnya. Ketika ia mempersembahkan korban di bukit pengorbanan, Tuhan menampakkan diri dan berkata, “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu”. Salomo mengatakan, “Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar, dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.” (Ay. 5-6). Betapa Salomo menunjukkan bahwa kasih Allahlah yang mengiringi dirinya hingga sampai keberadaannya saat itu. Hanya karena cinta Allahlah, Salomo diperkenankan hingga sampai saat itu menerima kedudukan sebagai raja  menggantikan ayahnya. Ia tidak meminta lebih dari apa yang telah didapatkan kala itu, Salomo hanya menginginkan supaya ia dapat menimbang perkara dalam menghakimi umat Allah didasarkan pada sesuatu yang seturut dengan kehendak Tuhan. Demikian pula hendaknya dengan hidup kita. Kita berharap agar di masa yang akan datang, kita dimampukan membedakan mana yang baik dan jahat seperti yang diterima oleh Salomo.

Melalui Injil Yohanes yang kita baca saat ini, kita juga diingatkan bahwa terang hidup kita adalah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah terang. Ia hadir memberikan keselamatan tidak hanya untuk kelompok tertentu, akan tetapi bagi semua umat manusia. Jikalau kita ingin diselamatkan, mari kita datang kepada-Nya. Ia memberi kasih, pertolongan, dan merengkuh setiap umat. Ia memiliki tujuan dibalik identitas-Nya sebagai terang. Ia ingin membebaskan dunia dari kuasa kegelapan. Ia merupakan tujuan dari setiap pengharapan dunia serta penggenapan dari segala nubuatan. Tuhan Yesus menginginkan kita tinggal di dalam terang-Nya. Kehadiran-Nya yang memberikan terang agar kita menerima kedamaian dan ketentraman.

Penutup
Jika kita mengaku bahwa kita adalah pengikut Yesus yang setia, berarti kita tinggal di dalam terang-Nya. Jalan yang kita tempuh di tahun 2025 sebagai cerminan bagaimana kita telah hidup, terkadang kita menjadi pribadi yang baik, ada kalanya juga kita menjadi pribadi yang buruk. Saat ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menutup lembaran 2025 dengan pengharapan yang telah disiapkan Tuhan untuk kita sambut dengan sukacita. Percayalah bahwa Ia tidak hanya memberikan hikmat tetapi Ia juga hadir sebagai terang yang menjadi tujuan akhir dari segala kehidupan ini. Sehingga kita dimampukan untuk meninggalkan masa lalu yang kelam, menjadi sebuah pembelajaran yang berharga bagi hidup kita. Mari kita bersiap diri untuk menapaki hari baru di waktu setelah ini bersama dengan Tuhan dalam rengkuhan kasih-Nya. Amin. [SWS].

 

Pujian: KJ. 445  Harap Akan Tuhan

Rancangan Khotbah : Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka

Kaulah Harapan

 Bukan dengan kekuatanku
‘ku dapat jalani hidupku
Tanpa Tuhan yang disampingku
‘ku tak mampu sendiri
Engkaulah kuatku, yang menopangku
Kupandang wajahmu dan berseru
Pertolonganku datang dariMu
Peganglah tanganku jangan lepaskan
Kaulah harapan, dalam hidupku

Pujian kalawau salah satunggaling pujian ingkang ngengetaken kita bilih Gusti punika kakiyatan, panglipuran, pitulungan, saha pangajeng-ajeng wonten ing pigesangan kita. Punapa panjenengan pirsa bilih asring kita punika supe tumrap kasiling gesang kita, senadyan namung prasaja kemawon saking sedayanipun. Asring kita namung ningali tuntutan gesang ingkang kita lampahi. Tanpa sadar, kita sampun angsal kasil ngantos 365 dinten ing ing gesang kita. Asring kita mboten sadar bilih kasil ngantos ing dinten pungkasan warsa punika satunggiling kamenangan peparingipun Gusti dhateng gesang kita. Kita saged ngicali kasedhihan lan ngewahi dados gumujeng senadyan namung sekedap. Kita saged mitulungi tiyang sanes, sanadyan kita taksih mbetahaken pitulungan tiyang sanes awit momotan kita ingkang dereng tuntas. Kita saged tandang damel kangge gesang kita, sanadyan asring nampi omelan, panandhang kasangsaran ingkang mboten sami kaliyan pangajeng-ajeng lsp. Punapa kemawon ingkang sampun kita lampahi, kasunyatanipun kita sampun dumugi ing pungkasan taun 2025.

Isi
Pungkasaning warsa punika minangka wekdal kangge kita noleh ing wingking, ningali malih kados pundi anggenipun Gusti Allah sampun paring kakiyatan lan panuntun kangge gesang kita ngantos dinten punika. Kanggenipun sawatawis tiyang, wonten ingkang mungkasi taun punika kanthi sesarengan kaliyan sanak sedherek lan brayat ingkang dipun tresnani, piknik sareng kaliyan brayatipun. Nanging ugi wonten ingkang nandhang sisah awit wonten sanak sedherekipun ingkang tilar donya, lan wonten ugi ingkang milih piyambakan.  Wekdal pungkasaning warsa punika, wonten ingkang mastani wekdal ingkang dipun rantos kathah tiyang, ananging wonten ugi ingkang nganggep bilih pungkasaning warsa punika wekdal ingkang dipun lirwakaken awit wonten kasedhihan ingkang kedadosan. Kados pundi anggen kita ngliwati warsa punika, pitados kemawon bilih warsa punika warsa ingkang mboten nglaha. Gusti mboten nate maringi wekdal kangge manungsa namung nglaha kemawon. Prekawis ingkang prasaja nggadhahi teges kangge saben tiyang supados sinau, ngenget-enget utawi kangge nahan satunggiling prekawis.

Sedaya ingkang sampun kelampahan punika satunggiling cara kagem Gusti nedahaken hikmat lan kawicaksanan-Ipun dhateng kita. Kadosdene ingkang sampun dipun tampi dening Prabu Suleman, ingkang taksih enem lan dereng gadhah pengalaman mimpin, nanging sampun kapitados mimpin bangsa Israel ingkang ageng. Sinten ingkang nduga bilih kawicaksanan punika dipun tampi Prabu Suleman, awit piyambakipun sampun katakdiraken dados raja, awit piyambakipun putranipun Prabu Dawud, ingkang nggantosaken palenggahanipun  Ramaipun. Ananging kagem Gusti Allah mboten awit saking nggantosaken palenggahanipun kang Rama, Gusti karsa mujudaken tresnanipun dhateng Prabu Suleman awit karsa-Nipun. Bilih mboten karana tresnanipun Gusti Allah, sinten Prabu Suleman punika dipun berkahi kawicaksanan supados saged mundhut kawicaksanan wekdal ngadhepi prekawis ingkang maneka werni.

Sedaya kawicaksanan ingkang katampi punika, dipun wujudaken wonten ing kapamimpinanipun, wonten prekawis ingkang tansah dipun cepeng kaliyan Prabu Suleman. Piyambakipun tansah ngucap sokur karana agunging sih tresnanipun Gusti Allah ingkang ngiring gesangipun. Nalika Prabu Suleman ngaturi pisungsung kurban wonten bukit pangurbanan, Sang Yehuwah ngatingalaken Sariranipun dhateng Prabu Suleman lan ngandika, “Nyuwuna apa kang bakal Sunparingake marang sira.” Sang Prabu Suleman lajeng munjuk: “Paduka ingkang sampun ngatingalaken sih-kadarman ingkang ageng dhumateng abdi Paduka Rama Dawud, rama kawula, amargi sugengipun wonten ing ngarsa Paduka kalayan setya, leres, lan jujur dhumateng Paduka; sarta Paduka sampun nglestantunaken sih-kadarman ingkang ageng punika dhumateng rama, Paduka paringi anak ingkang linggih ing dhamparipun kados ingkang kalampahan ing dinten punika.” (Ay. 5-6). Prabu Suleman nedahaken bilih sih katresnanipun Gusti Allah tansah ngiring gesangipun ngantos ing wekdal punika, awit katresnanipun Gusti Allah punika, piyambakipun dipun parengaken ngantos wekdal semanten nampi palenggahan lan kawisuda dados raja nggantos ramanipun. Prabu Suleman mboten nyuwun ingkang nglangkungi saking punapa ingkang sampun katampi, Prabu Suleman namung nyenyuwun supados piyambakipun saged nimbang prekawis dhateng umatipun Gusti kanthi dhasar ingkang saestu kaliyan karsanipun Gusti. Mekaten ugi kaliyan gesang kita, kita ngajeng-ajeng ing wekdal ngajeng, kita dipun sagedaken mbentenaken pundi ingkang sae lan pundi ingkang awon, kadosdene ingkang dipun tampi dening Prabu Suleman.

Wonten Injil Yokanan ingkang kita waos samangke, kita dipun engetaken bilih pepadhang ing gesang kita, inggih punika Gusti Yesus. Panjenenganipun rawuh maringi kawilujengan mboten namung kangge satunggal golongan, nanging kangge sedayanipun. Bilih kita kapingin dipun wilujengaken, sumangga kita sowan dhumateng Gusti Yesus. Panjenenganipun maringi katresnan, pitulungan, lan ngrengkuh kita para umat-Ipun. Gusti Yesus nggadhahi tujuan minangka pepadhang. Panjenenganipun kepingin nguwalaken donya saking kuwasaning roh pepeteng. Panjenenganipun minangka tujuan sedaya pangajeng-ajenging donya kaliyan sana panggenepaning saking sedaya nubuatan para nabi. Gusti Yesus ngajengaken kita dedalem wonten pepadhang-Ipun. Rawuhipun maringi padhang supados kita manungsa nampeni tentrem rahayu saking Gusti.

Panutup
Menawi kita punika pandherekipun Gusti Yesus ingkang setya, tegesipun kita mapan wonten pepadhangipun Gusti. Margi ingkang kita lampahi ing taun 2025 punika saged dados kaca pangilon kados pundi anggen kita saged gesang. Kadangkala kita dados tiyang ingkang sae, wonten wekdalipun kita dados tiyang awon. Wekdal punika minangka satunggiling wekdal pangajeng-ajeng ingkang dipun cawisaken Gusti kangge kita nampeni kanthi sukarena. Sumangga kita pitados bilih Gusti mboten namung maringi kawicaksanan, ananging ugi rawuh minangka pepadhang tumraping gesang kita. Panjenenganipun ingkang dados tujuan pungkasan saking sedaya pigesangan kita punika. Ing wekasanipun, kita ugi kasagedaken kangge nilar peteng,  punapa ingkang sampun kelampahan ing taun punika dados pasinaon kangge gesang kita. Mangga kita sami nyawisaken dhiri kangge mlampah ing dinten ingkang enggal sasampunipun punika, gesang sinarengan kaliyan Gusti Yesus ingkang dados Sumbering Pepadhang kangge gesang kita. Gusti Yesus mberkahi kita. Amin. [SWS].

 

Pamuji: KPJ. 390  Gunakna Wektumu Paringe Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak