Bacaan : Kolose 1 : 15 – 23 | Pujian : KJ. 400
Nats: “dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya,…” (ayat 20)
Seorang ibu yang punya dua orang anak merasa gusar dan cemas dalam hidupnya sehari-hari. Selalu ada alasan untuk cemas, baik tatkala hujan maupun panas. Jika cuaca hujan, ia khawatir dagangan anaknya yang pertama, yang berjualan kipas tidak laku. Namun jika cuaca cerah, ia pun juga cemas dengan anak keduanya yang berjualan payung. Baik hujan maupun panas, hidupnya tetap cemas.
Ada 1001 alasan manusia untuk berupaya mencari kedamaian, tetapi juga ada 1001 alasan pula yang dapat membuat manusia mengalami kekecewaan. Misalnya saja: ketika manusia menganggap bahwa dengan mencari pangkat atau jabatan manusia bisa beroleh kedamaian. Hal sebaliknya manusia bisa kecewa luar biasa ketika yang dikejar itu tidak dapat diraihnya. Umumnya manusia berpikir dapat merasakan kedamaian, ketika ia menerima. Padahal kedamaian tidak berarti harus menerima tetapi berkorban.
Yesus Kristus tidak menyesal menjadi kurban dengan cara disalibkan. Justru untuk tujuan itulah Ia datang ke dunia, supaya manusia beroleh pendamaian melalui pengorbanan darah Kristus. Di sanalah kebahagiaan Tuhan Yesus. Agar manusia memiliki semangat menjadi pembawa-pembawa damai, bukan dengan jalan kekerasan dan demostratif, tetapi jalan damai ditempuh dengan jalur kasih. (ayat 21).
Jalur Kasih inilah yang pada akhirnya membawa dampak kehidupan yang luar biasa. Orang yang hidupnya jauh dari Allah dan memusuhi Allah dalam hati dan pikiran serta ekspresi kejahatan, sekarang diperdamaiakan oleh kematian Kristus, agar hidup manusia dapat beroleh “Banyu Bening” (seperti renungan hari Rabu kemarin), memancar dari hatinya secara terus menerus. (ayat 22). Pengajaran ini membuat hidup kita semakin berpengharapan di dalam Tuhan, karena Kasih Tuhan kepada kita tak tergantikan, tak tergoncang dan tak tergoyahkan oleh apapun (ayat 23). Mari bersama Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Kita beroleh “Banyu Bening” kehidupan. (pong).
“Ada tiga musuh kedamaian hati: penyesalan akan kesalahan kemarin, kecemasan akan masalah hari esok, dan tidak adanya rasa syukur untuk berkat hari ini.” (William Ward)