Menjadi Pelaku Kebenaran dan Siap menjadi Bagian Masa Depan Khotbah Minggu 27 Oktober 2019

14 October 2019

Minggu Biasa XIX – Pekan Pemuda
Stola Hijau

 

Bacaan 1 :  Yeremia 14 : 7 – 10, 19 – 22
Bacaan 2
:  2 Timotius 4 : 6 – 8 , 16 – 18
Bacaan 3
:  Lukas 18 : 9 – 14

Tema Liturgis :   Merawat Hubungan Antar Umat Beriman untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bersama
Tema Khotbah
:  Menjadi Pelaku Kebenaran dan Siap menjadi Bagian Masa Depan

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 14 : 7 – 10, 19 – 22

Ratapan musim kering dalam doa Yeremia mewakili umat Yehuda, dan jawab Allah terhadap doa tersebut tertuang dalam bacaan ini. Bencana kekeringan yang terjadi sekitar tahun 587 sM merupakan bencana bencana yang sangat dahsyat. Masyarakat, tanah pertanian, pegunungan, hewan, orang besar, rakyat jelata, semua menanggung akibat kekeringan tersebut. Walaupun Yehuda telah mengetahui ancaman musim kering yang dahsyat ini mereka tidak bertobat dan tetap bertegar hati. Dari situlah Yeremia bertindak mewakili bangsanya mengakui dosa, memohon ampun, bersyafaat. Akan tetapi pertobatan harus datang dari orang yang bersangkutan. Karena itu Allah melarang Yeremia mendoakan bangsanya (ayat 11-12).

2 Timotius 4 : 6 – 8, 16 – 18

Persembahan hidup merupakan kewajiban seorang hamba adalah puncak keterangan Paulus kepada Timotius. Seorang hamba memiliki kewajiban besar yaitu mengupayakan kebaikan bagi para pengikut Kristus dengan mempersembahkan seluruh hidup dan kehidupannya. Paulus sadar bahwa pekerjaan ini tidak mudah bagi Timotius. Sehingga, berangkat dari kesadarannya itu ia memberikan petujuk sekaligus penguatan supaya Timotius dapat melaksanakan tugas panggilannya dengan berani. Petunjuk Paulus tersebut terkait pada kesetiaan hamba yang dapat menghadirkan pendampingan dari Tuhan, pertolongan dan penguatan serta perlindungan sehingga hambanya akan selalu diselamatkan dalam setiap pekerjaan yang diberikanNya (ayat 17-18)

Lukas 18 : 9 – 14

Dua perbedaan kontras disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaanNya, yang digambarkan sebagian karakter yang ada dalam diri manusia. Yang pertama adalah “orang Farisi” yang menganggap dirinya benar. Orang seperti itu berfikir bahwa diri mereka benar oleh karena usaha mereka sendiri; mereka tidak sadar akan perangainya yang berdosa, ketidaklayakan diri mereka dan bahwa mereka terus-menerus membutuhkan pertolongan, rahmat, dan kasih karunia Allah. Karena tindakan-tindakan kealiman dan kebaikan lahiriah yang luar biasa, mereka menyangka bahwa mereka tidak memerlukan kasih karunia Allah.

Sebaliknya yang kedua “pemungut cukai” itu betul-betul menyadari dosa dan kesalahannya, dan dengan sikap pertobatan yang sejati ia berpaling dari dosa kepada Allah untuk memperoleh pengampunan dan rahmat.

Benang Merah Tiga Bacaan

Menyadari bahwa keberadaan manusia di dunia tidak lepas dari rencana Tuhan yang menciptakan, memampukan manusia untuk dapat menghadapi tantangan hidupnya dan menerima panggilanya dengan penuh ucapan syukur demi kebaikan diri dan persekutuan di masa kini yang merupakan juga bagian harapan akan masa depan. Untuk sampai pada titik itu diperlukan pertobatan, komitmen setia kepada Allah, mau bersandar dan bergantung kepada-Nya, serta menyadari bahwa manusia senantiasa memerlukan Tuhan sebagai sumber penolong bagi hidupnya.

 

RANCANGAN KHOTBAH  :  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

“Kita tidak seharusnya resah terhadap masa lalu, begitu pula kita juga tidak boleh cemas akan masa depan. Orang bijak hanya akan memikirkan dan memperjuangkan masa kini. Masa lalu adalah kenangan, masa kini adalah perjuangan, masa depan adalah harapan”. Kata mutiara ini apabila dihayati dapat menjadi penguat semangat atau memotivasi kita supaya dapat mengupayakan hidup lebih baik dari masa lalu, dan dapat menjadi harapan sejahtera di masa depan.

Seseorang yang terjebak pada masa lalu tidak akan dapat bertumbuh dan berkembang. Pun demikian juga jika hati dan pikiran kita terjebak pada situasi masa depan yang belum diketahuai, maka kita juga tidak akan dapat tumbuh dan berkembang. Kita akan mudah terjebak dalam ratapan masa lalu dan akan terbuai dalam hayalan masa depan. Akhirnya kita tidak dapat berbuat apa – apa, hanya diam menyesali masa lalu atau hanya diam menanti bergantinya waktu.

Isi

“Menjadi Pelaku Kebenaran dan Siap menjadi Bagian Masa Depan” adalah tema yang indah untuk dihayati, direnungkan dan dilakukan. Tema ini menuntun kita untuk dapat berupaya melakukan tindakan di masa kini yang  menjadi penentu keberadaan dan keadaan kita di masa depan. Setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, tetapi pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula.

Suku Yehuda mengetahui dan menyadari akibat perbuatan dosa yang mereka lakukan yang akan menyebabkan mereka hidup dalam keadaan yang memprihatinkan di masa depan. Mestinya dengan kesadaran tersebut,  mereka melakukan pertobatan dan segera merubah pola serta perilaku hidup mereka, supaya oleh kasihNya, keprihatinan hidup itu ditiadakan bagi mereka. Tetapi mereka terjebak pada pola hidup yang lama tidak mau bertobat dan tetap bersukacita serta bertahan dalam perilaku hidup yang tidak berkenan dihadapan Allah. Dalam keprihatinan yang dialami oleh Suku Yehuda, Yeremia  berdoa sebagai wujud penyesalan atas perbuatan Yehuda, namun hal itu tidak berarti bagi Allah. Allah menghendaki adanya pertobatan secara personal suku Yehuda sendiri.

Ketegaran hati Yehuda ini serupa dengan “perumpaman orang Farisi” yang merasa dirinya saleh, merasa dirinya benar di hadapan Allah oleh karena telah berbuat baik secara lahiriah. Merasa tidak butuh dikasihani Allah.

Berbeda dengan Paulus yang memberikan kesaksian kepada Timotius melalui suratnya. Bagi Paulus masa lalu adalah masa yang harus ditinggalkan. Saat ini yang harus dilakukan adalah menjalani hidup pada masa kini dengan benar. Hidup dalam pertobatan yang disertai tindakan nyata dalam perjuangan yang menentukan  keberadaan dan keadaannya di masa yang akan datang. Paulus bukan hanya berjuang  bagi kepentingan dirinya sendiri, namun untuk kepentingan semua orang percaya. Meskipun upaya yang ia lakukan saat itu dirasa begitu berat oleh karena berbagai keterbatasannya sebagai manusia, tetapi dia tetap setia pada panggilannya, dan terus menggantungkan harapannya kepada Tuhan. Dia terus berjuang menasehati jemaat maupun Timotius agar mereka percaya dan memelihara iman kepercayaan mereka  kepada Yesus secara benar.

Tidak dapat dipungkiri selain Timotius, kita adalah sebagian orang yang merupakan hasil dari pertobatan Paulus. Dalam pertobatannya itu selain dia menjadi pelaku kebenaran, saat ini dia menjadi bagian kita. Oleh karenanya teladan Paulus sudah semestinya tertanam dalam diri kita dan memotivasi kita untuk dapat menjadi pelaku kebenaran dan menjadikan diri kita sebagai bagian dari masa depan.

Penutup

Bapak ibu dan saudara – saudara yang dikasihi Tuhan. Masa depan bagi kita orang percaya bukanlah misteri, tetapi adalah masa dimana keberadaan dan keadaannya dapat kita baca dan kita ketahui dari perbuatan serta tindakan hidup kita pada masa kini. Mari kita seperti “pemungut cukai” yang sadar akan ketidaklayakannya dihadapan Allah, dimana dalam ketidaklayakan itu kita sangat membutuhkan rahmat, berkat serta pertolongan Tuhan. Mari kita seperti Paulus yang mewujudnyatakan pertobatannya dalam tindakan – tindakan nyata yang berkenan dihadapan Allah. Kiranya melalui perbuatan kita semakin banyak orang mengenal dan mengakui Yesus sebagai Juru selamat dan mereka pun turut diselamatkan. Mari kita menjadi pelaku kebenaran dan menjadi bagian dari masa depan. Amin (GaSa)

 

Pujian  :  KJ.  376 : 1, 2  Ikut Dikau Saja Tuhan

RANCANGAN KHOTBAH  :  Basa Jawi

Pambuka

Wonten pitembungan ingkang suraosipun mekaten, ” Anggenipun manungsa nglampahi gesang  punika kedahipun boten sisah rumaos kuwatos kaliyan perkawis ingkang sampun kedadosan (masa lalu), mekaten ugi boten sisah rumaos ajrih kaliyan perkawis ing ngajeng kita (masa depan). Tiyang ingkang wicaksana namung mikiraken lan ngupaya mangsa sapunika. Mangsa  ingkang rumiyin dados kenangan, mangsa sakpunika kedah dipun upaya, mangsal ing ngajeng punika pangajeng-ajeng kita”. Tembung mutiara punika bilih kita raos-raosaken saged dados kakiyatan lan sumbering semangat ingkang seged motivasi kita ngupaya gesang ingkang langkung  sae tinimbang mangsa ingkang sampun kalampahan. Sarana mekaten kita tansah nggadahi pangajeng-ajeng ingkang wigati ing mangsa ngajeng.

Kawontenaning tiyang ingkang kajebak ing mangsa rumiyin (masa lalu) mboten saged tuwuh lan ngrembaka. Mekaten ugi bilih manah lan pamikiran kita namung kejebak ing mangsah ngajeng (masa depan), ingkang dereng kita mangertosi, dadosaken kita namung gesang ing mimpi lan pangangen-angen kemawon. Pungkasanipun kita boten saged tumindak punapa-punapa, namung saged mendhel lan nelangsani wekdal ingkang sampun utawi mendel ngrantos wekdal ingkang badhe kelampahan.

Isi

“Dados pelaku kasaenan lan siap dados bagian mangsa ngajeng (masa depan)” punika dados tema ingkang endah dipun raosaken, dipun gilut-gilut dan dipun tindakaken.  Tema punika nuntun kita supados ngupaya lan nindakaken gesang ing wekdal samangge kanthi temen, karana wekdal sapunika dados landesan kangge kawontenan kita ing mangsa ngajeng. Wit ingkang sae tamtu badhe nuwuhaken woh ingkang sae, nanging wit ingkang boten sae tamtu badhe ngedalaken woh ingkang awon.

Suku Yehuda mengertos lan sadar akibat dosa gesangipun ing mangsa punika nandhang kasangsaran ugi nandhang kaprihatosan ing mangsa ngajeng. Sak mestinipun sarana kesadaranipun punika, piyambakipun mratobat saking tumindak dosanipun sarta purun ngrubah tumindak gesangipun ingkang awon, supados Gusti Allah awit saking sih rahmatipun paring pangluwaran. Nyatanipun bangsa Yehuda boten purun mratobat ing ngarsaning Gusti. Bangsa Yehuda tetep tumindak awon lan dosa ing ngarsaning Allah.

Wonten kondisi ingkang nandang kasangsaran, nabi Yeremia ngaturaken panelangsan lan pamratobating bangsa Yehuda dateng Gusti, ananging boten wonten artosipun kagem Gusti. Wangkoting manahipun bangsa Yehuda dipun umpamiaken kaliyan pasemon tiyang Farisi ingkang rumaos  suci lan leres piyambak ing ngarsaning Gusti Allah awit sampun tumindak sae sacara lairipun, saengga rumaos boten betahaken sih rahmatipun Gusti Allah.  Sanyatanipun tumindak ingkang mekaten kalawau boten leres.

Benten kaliyan Paulus ingkang nedhahaken kesaksianipun lumantar layangipun dateng Timotius. Kanggenipun Paulus, mangsa ingkang sampun kelampahan (masa lalu) kedah dipun tinggalaken. Gesang ing mangsa sapunika kedah dipun lampahi awit wujud pamratobat kita, ingkang kedhah kita lampahi kanthi tumindak nyata sarana perjuangan ngadepi mangsa ing ngajeng. Punapa ingkang kita tindakaken sa punika nentuaken kawontenan kita ing mangsa ngajeng. Punapa ingkang dipun upaya dening Paulus, boten namung kangge piyambakipun kemawon, nanging ugi kangge sedaya tiyang pitados. Sanajan tumindak gesang ingkang dipun lampahi wekdal punika dipun raosaken awrat. Paulus ngrumaosi kakiyatanipun sacara kamanungsan kawates, karana punika Paulus tansah setya tuhu dateng timbalanipun sarta tansah gumantung dateng Gusti Allah. Anggenipun terus makarya martosaken Injiling Gusti kalandesan kanthi pasrah ing ngarsaning Gusti. Tujuanipun supados para tiyang pracaya saged setya lan ngrimati iman kapitadosanipun dateng Gusti Yesus sacara leres lumantar kesaksian ingkang kaserat ing layang-layangipun.

Boten saged dipun sekaki bilih sanesipun Timotius, kita punika kawastanan tiyang ingkang nampi sih rahmating Gusti awit saking pawartos lan pamratobating Paulus. Nalika Paulus mratobat piyambakipun dados pelaku kabecikan, mekaten ugi kita. Karana punika sarana tuladha saking Paulus, sampun samestinipun kita saged dados pelaku kabecikan ingkang nggadahi semangat ingkang saged dados motivasi kangge kita ing mangsa ngajeng.

Panutup

Bapak, ibu lan para sederek ingkang dipuntresnani Gusti,

Mangsa ngajeng kangge kita tiyang pitados sanes misteri, ananging wekdal ing pundi kawontenan lan kahanan ingkang saged kita mangertosi saking tumindak gesang kita ing wekdal samangke. Mangga kita kados “Juru mupu bea” ingkang sadar kakiranganipun ing ngarsaning Gusti Allah, ing pundi awit saking kakirangan punika, kita mbetahaken sih rahmat, berkah, sarta pitulunganing Gusti Allah. Sumangga kita kados Paulus ingkang nyataaken pamratobat kita ing tumindak gesang ingkang nyata kados nindakaken karsanipun Gusti Allah salebeting gesang kita. Saengga lumantar tumindak gesang kita punika, langkung kathah tiyang ingkang sami wilujeng. Sumangga kita sami dados pelaku kabecikan lan dados bagian saking mangsa ngajeng. Amin. (AR).

 

Pamuji  : KPK. 163 : 1, 2  Pitobat

Renungan Harian

Renungan Harian Anak