Minggu Biasa XX – Bulan Budaya
Stola Hijau
Bacaan 1 : Yesaya 1 : 10 – 18
Bacaan 2 : 2 Tesalonika 1 : 1 – 4 , 11 – 12
Bacaan 3 : Lukas 19 : 1 – 10
Tema Liturgis : Tinggalkan Kebiasaan Buruk dan Gantikan dengan yang Baik
Tema Khotbah : Perubahan Sikap Hidup yang Mengarah kepada Kebaikan
KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 1 : 10 – 18
Kitab Yesaya dimulai dengan suasana yang panas, juga suasana pemberontakan. Yehuda sebagai umat Allah memberontak terhadap Yahweh, Allah yang mengasihi mereka. Mereka lebih mempercayai pertolongan Asyur daripada Yahweh. Pemberontakan politis ini sebenarnya berakar dalam pemberontakan yang sifatnya spiritual.
Penduduk Yerusalem yang murtad dan para pemimpin mereka yang korup (dibawah Ahas yang jahat) disapa di sini sebagai warga Sodom dan Gomora karena mereka secara berdosa dan jahat telah berpaling dari Allah dan suara hati mereka. Nubuat ini agaknya diucapkan nabi Yesaya pada awal karyanya, sebelum tahun 735. Sama seperti Amos 5:21-27 Yesaya mengecam ibadat lahiriah yang tidak berjiwa. Kecaman serupa sekali lagi diucapkan dalam Yesaya 29:13-14. Nubuat ini oleh Yesus dikutip untuk mencela orang Farisi dalam Matius 15:8-9.
2 Tesalonika 1 : 1 – 4, 11 – 12
Surat ini dibuka seperti I Tesalonika. Satu-satunya tambahan adalah dicantumkannya Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus sebagai pemberi kasih karunia dan damai sejahtera (ayat 1-2).
Kesungguhan rasa syukur Paulus belum memudar sejak menuliskan suratnya pertama. Dia dengan hangat memuji orang-orang percaya di Tesalonika itu atas iman, kasih dan ketabahan mereka di tengah penganiayaan yang kejam (ayat 3-4).
Paulus menjelaskan kepada jemaat Tesalonika maksud-maksud tertinggi Allah dalam penganiayaan mereka. Dia juga menjelaskan hasil gemilang yang akan mereka peroleh darinya. Kemudian sang rasul menegaskan kembali bahwa ia senantiasa berdoa agar pengabdian mereka sesuai dengan rencana Allah (ayat 11-12).
Lukas 19:1-10
Yesus masih terus-menerus berusaha untuk menyelamatkan yang hilang (ayat 10). Zakheus, seorang pemungut cukai, mencari nafkah dengan mengumpulkan pajak lebih banyak daripada yang seharusnya ia peroleh dari rakyat. Oleh karena hal ini, para pemungut cukai dipandang rendah oleh masyarakat.
Rupanya Zakheus sudah mendengar banyak hal istimewa yang telah dilakukan oleh Yesus. Rupanya dia sangat kesengsem (terpesona) terhadap Yesus dan merasa betapa bahagianya jika dia bisa melihat apalagi jika bisa berjumpa dengan Dia. Sehingga, dia melakukan usaha untuk memenuhi hasratnya yang besar itu, dengan memanjat pohon ara. Yesus pun tentu bisa melihat kerinduan yang besar di dalam hati Zakheus untuk berjumpa denganNya. Sehingga, Yesus dengan gembira singgah di rumah Zakheus. Perjumpaannya dengan Yesus membuat Zakheus mengubah sikap mentalnya. Yang semula hanya berpikir untuk mendapat banyak uang, kini hendak berbagi dengan orang miskin dan semua orang yang pernah diperasnya.
Benang Merah Tiga Bacaan
Bacaan pertama menggambarkan perilaku buruk bangsa Yehuda. Bacaan kedua menggambarkan sikap dan perilaku yang terpuji. Bacaan ketiga menggambarkan perubahan sikap dan perilaku buruk menjadi baik.
RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan… bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Dikisahkan dalam cerita pewayangan Jawa seorang tokoh bernama Dewi Arimbi di kerajaan Pringgadani. Kerajaan ini adalah kerajaan para raksasa (buta atau raseksa), termasuk Arimbi juga seorang raseksi (raksasa perempuan). Kraton Pringgadani dipenuhi rasa kebencian, khususnya kepada para Pandawa karena raja Tremboko dari Pringgadani terbunuh di tangan ayah para Pandawa, yaitu Pandu. Namun, Arimbi tidak mau dikuasai oleh kebencian, lantas meninggalkan kraton untuk bertapa di sebuah gua. Dia menjadi seorang yang jujur dan penuh kasih sayang. Sekeluar dari gua, Arimbi berjumpa dengan Bima –anak kedua Pandu- dan jatuh cinta kepadanya. Namun Bima menolak cintanya, sebab Arimbi berwujud seorang raseksi (buruk rupa). Kemudian dia berjumpa dengan Dewi Kunthi –ibu kandung Bima. Dari percakapannya, Dewi Kunthi mengenali bahwa Arimbi adalah seorang yang cantik jiwa dan perilakunya. Seketika itu, Arimbi berubah menjadi seorang yang berwajah cantik jelita, dan Bima pun mau menerima cinta Arimbi. (Akan sangat menarik kalau bisa menunjukkan bentuk/ gambar di LCD wayang kulit Arimbi raseksi dan Arimbi cantik)
Isi
Kerajaan Yehuda juga sedang dalam keadaan yang buruk. Begitulah dikatakan oleh Yesaya. Bangsa Yehuda melakukan 2 hal yang bertentangan dalam waktu yang bersamaan. Di satu sisi mereka beribadah kepada Tuhan, tetapi di sisi lain mereka melakukan kejahatan. Di satu sisi mereka menyerahkan persembahan kepada Tuhan, tetapi di sisi lain tangan mereka melakukan kekerasan bahkan penumpahan darah di antara mereka sendiri. Perbuatan mereka membuat Tuhan marah dan sekaligus sedih melihatnya. Tuhan memalingkan mukaNya ketika mereka membawa persembahan, Dia tidak suka memandangnya. Tuhan menutup telingaNya ketika mereka memanjatkan doa-doa, Dia tidak mau mendengarkannya. Persembahan dan perbuatan mereka menjijikkan bagi Tuhan.
Tuhan menghendaki mereka menghentikan perbuatan jahat mereka. Tuhan menghendaki mereka belajar berbuat baik. Kehendak Tuhan itulah yang dipenuhi oleh orang-orang percaya di Tesalonika. Perbuatan orang-orang percaya Tesalonika ini sangat terpuji. Mereka hidup dalam iman yang teguh bertumbuh, melakukan kasih yang nyata dan tabah mengalami penganiayaan. Paulus sebagai Rasul utusan Tuhan sangat berbahagia dan bersyukur melihat sikap hidup mereka. Pasti sikap hidup mereka itu juga membahagiakan Tuhan sendiri. Dengan sikap hidup mereka yang terpuji, mereka dilayakkan hidup bersama Tuhan, bahkan dilayakkan melakukan pelayanan karya Allah.
Kebahagiaan Tuhan Yesus juga bisa dibayangkan ketika melihat perubahan sikap hidup Zakheus. Zakheus berubah dari sikap dan perilaku mencari kesenangan pribadi menjadi berupaya memberikan kesenangan bagi orang lain, lebih-lebih yang miskin dan merasa dia rugikan. Bertahun-tahun dia biasa melakukan pekerjaan yang haram, yaitu menarik lebih untuk dirinya sendiri dari pajak yang seharusnya dibayarkan orang. Dia tinggalkan kebiasaannya yang buruk itu. Sikap baru yang terpuji dia ambil, yaitu memberikan banyak uang untuk orang-orang miskin dan orang-orang yang merasa dia rugikan.
Perubahan sikap Zakheus itu berawal dari mendengar tentang Tuhan Yesus, tentu dengan segala kasih, karya, kuasa dan ajaranNya yang mulia. Kemudian dia mempunyai niat dan bahkan kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan Yesus secara langsung. Titik perubahan sikap Zakheus itu terjadi ketika dia berjumpa langsung dengan Tuhan Yesus di rumahnya. Nampak dari sikapnya yang berubah itu, Zakheus mengalami kebahagiaan yang sangat besar dari dan dalam perjumpaannya dengan Tuhan Yesus itu. Ketika perubahan sikap Zakheus itu diwujudnyatakan, tentu banyak orang mengalami kebahagiaan. Orang-orang miskin yang mendapatkan pemberiannya, orang-orang yang pernah diperas mendapatkan pengembaliannya, dan bahkan mungkin orang-orang yang tidak mendapat apa-apa dari dia juga turut bahagia menyaksikan perubahan sikap dan kebaikannya.
Penutup
Kita masing-masing tentu mempunyai sikap yang biasa kita ambil dalam kehidupan kita. Di antara kebiasaan itu tentu ada yang baik dan ada yang buruk. Selain masing-masing pribadi, sebagai keluarga dan gereja bahkan sebagai bangsa kita juga mempunyai kebiasaan dan bahkan menjadi budaya. Ada budaya yang baik, tetapi juga ada yang budaya yang buruk.
Untuk kebahagiaan kita sendiri, kebahagiaan orang lain dan bahkan kebahagiaan Tuhan, marilah kita ubah kebiasaan buruk kita dan menggantinya dengan kebiasaan yang baik. Yang biasanya tidak peduli kepada orang lain, marilah kita suka menyapa dan tersenyum kepada semua orang, termasuk yang tidak kita kenal. Yang biasanya berdoa sendiri-sendiri atau jarang berdoa, marilah kita biasakan berdoa bersama keluarga setidaknya seminggu sekali. Yang biasanya terlambat datang ibadah, marilah kita datang di ibadah sebelum mulai. Yang biasanya melanggar peraturan lalu lintas, marilah berdisiplin patuh.
Kita tentu sering beribadah dan berdoa. Tetapi apakah dalam ibadah dan doa kita itu kita selalu dapat berjumpa dengan Tuhan? Jika kita beribadah dan berdoa hanya karena butuh, maka kita sulit berjumpa dengan Tuhan. Karena, kita fokus hanya pada kebutuhan dan kepuasan diri kita. Marilah beribadah dan berdoa hanya karena kita ingin dan rindu berjumpa dengan Tuhan. Selamat berjumpa dengan Tuhan. Selamat berbahagia. Amin. [st]
Pujian : KJ 239 : 1, 2 / 433 : 1 – / 400 : 3.
—
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Kacariyosaken ing lakon wayang Jawi satunggaling putri saking Praja Pringgadani, nenggih Dewi Arimbi. Praja Pringgadani menika kratonipun para raseksa (buta), kalebet Arimbi piyambak nggih awujud raseksi. Swasana Kraton Pringgadani saweg benter, kebak raos sengit, mliginipun dhateng para Pandawa karana Prabu Tremboko ratu Pringgadani pejah ing astanipun Pandu, ramanipun para Pandawa. Nanging Arimbi boten purun kabithung ing raos sengit, pramila lajeng nilaraken kraton tumunten nindakaken tapa brata ing salebeting guwa. Dewi Arimbi dados tiyang ingkang jujur lan kebak sih katresnan lan kawelasan. Sareng medal saking lebeting guwa, Arimbi pinanggih kaliyan Raden Bimasena, putranipun Prabu Pandu. Arimbi kepencut tresna dhateng Bima. Nanging Bima nampik tresnanipun Arimbi, karana Arimbi awujud raseksi. Lajeng Arimbi pinanggih Dewi Kunthi, ibunipun Bima. Saking anggenipun wawan pangandika, Dewi Kunthi nyipati bilih Arimbi menika sejatosaipun putri ingkang ayu ing budi, ing watak lan tumindakipun. Sanalika Arimbi ewah dados putri ingkang ayu, temah Bima purun nampi sih katresnanipun Arimbi. (langkung prayogi menawi saged nedahaken wujud/ gambar ing LCD wayang kulit Arimbi raseksi lan Arimbi ayu)
Isi
Kraton Yahuda ugi saweg wonten ing kawontenan ingkang benter, boten sae. Mekaten kacariyosaken dening nabi Yesaya. Bangsa Yahuda nindakaken kalih prekawis ingkang cengkah/lelawanan ing pigesangan ingkang tunggal. Ing sasisih, tiyang Yahuda ngabekti dhumateng Gusti, nanging ing sisih sanes sami nindakaken piawon (kejahatan). Ing sasisih sami nyaosaken pisungsung dhumateng Gusti, nanging ing sisih sanes tanganipun sami cengkiling, nindakaken kekerasan, ngantos pejah-pinejahan satunggal lan satunggalipun. Tumindakipun ndamel Gusti Allah duka nanging ugi sedhih amirsani. Gusti Allah mlengos menawi tiyang-tiyang menika sami mbekta pisungsung, Panjenenganipun boten kersa mirsani. Gusti Allah nutup talinganipun menawi tiyang-tiyang menika sami ndedonga, Panjenenganiun boten kersa midhangetaken. Pisungsung lan tumindakipun tiyang-tiyang menika damel Gusti Allah rumaos jijik.
Gusti ngersakaken tiyang-tiyang menika sami kendel nindakaken piawon. Gusti ngersakaken tiyang-tiyang menika sami blajar nindakaken kasaenan. Karsanipun Gusti ingkang mekaten menika ingkang dipun tetepi dening tiyang-tiyang pitados ing Tesalonika. Tumindakipun saestu pinuji. Tiyang-tiyang pitados ing Tesalonika menika sami gesang ing iman kapitadosan ingkang kukuh tuwuh, sami nindakaken katresnan ingkang sanyata sarta tatag tanggon ngalami panganiaya. Paulus minangka Rasul utusanipun Gusti rumaos bingah sanget lan saos sokur nguningani pigesanganipun tiyang-tiyang pitados ing Tesalonika. Tamtu pigesanganipun tiyang Tesalonika menika ugi nuwuhaken kabingahanipun Gusti pribadi. Kanthi laku utama menika, tiyang-tiyang menika sembada gesang tetunggilan kaliyan Gusti, malah sembada lelados ing pakaryanipun Allah.
Mekaten ugi kabingahanipun Gusti Yesus saged kinira-kira sareng mirsani ewah-ewahaning patrap gesangipun Zakheus. Zakheus ewah saking watak lan tumindak ingkang namung pados senenge dewe dados ngudi kesenenganing liyan, langkung-langkung ingkang miskin lan kapitunan dening Zakheus. Mataun-taun Zakheus nindakaken pakaryan ingkang kharam, nggih menika narik pajek langkung kathah saking samesthinipun kangge diri pribadinipun. Piyambakipun nilaraken pakulinan awon menika. Piyambakipun ngrasuk patrap enggal ingkang pinuji, nggih menika badhe nyukakaken kathah bandha dhateng tiyang-tiyang miskin lan dhateng tiyang ingkang rumaos nate dipun peres.
Ewah-ewahaning patrap gesangipun Zakheus menika kawiwitan saking anggenipun mireng kabar bab Gusti Yesus klayan sadaya wujud katresnan, pakaryan, pangwaos lan piwulangipun ingkang luhur. Lajeng piyambakipun nggadhahi niyat lan pepenginan pinanggih langsung kaliyan Gusti Yesus. Sareng pepanggihan langsung kaliyan Gusti Yesus ing griyanipun, sanalika Zakheus ngalami ewah-ewahan ing gesangipun ngantos sapatrapipun pisan. Saking ewah-ewahaning gesangipun menika, Zakheus ngalami kabingahan ageng saking lan ing salebeting pepanggihanipun kaliyan Gusti Yesus. Lamun ewah-ewahaning patrap gesangipun menika kawujudaken, tamtu tiyang kathah ugi ngalami kabingahan. Tiyang-tiyang miskin ingkang nampi peparingipun, tiyang-tiyang ingkang nate dipun peres nampi wangsulanipun, lan tiyang-tiyang ingkang boten nampi menapa-menapa saking piyambakipun mesthinipun ugi ndherek bingah nyekseni ewah-ewahaning patrap lan kasaenanipun Zakheus.
Panutup
Kita piyambak-piyambak tamtu nggadhahi patrap (watak lan tumindak) ingkang dados pakulinan. Wonten patrap ingkang sae nanging ugi wonten ingkang boten sae. Kajawi pribadi, kulawarga, greja lan bangsa kita ugi nggadhahi patrap ingkang sampun dados pakulinan, temah dados kabudayan. Wonten kabudayan ingkang sae nanging ugi wonten kabudayan ingkang boten sae.
Murih kabingahaning dhiri, saha kabingahaning tiyang sanes tuwin kabingahanipun Gusti, sumangga kita ewahi pakulinan lan kabudayan awon kagantos pakulinan lan kabudayan ingkang sae. Ingkang kulinanipun boten perduli dhateng tiyang sanes, sumangga kita remen nyapa lan mesem dhateng sadaya tiyang, kalebet dhateng ingkang boten tepang. Ingkang kulinanipun ndedonga piyambak ing padintenan utawi awis-awis ndedonga, sumangga ndedonga sesarengan sabrayat saboten-botenipun seminggu sepisan. Ingkang kulinanipun telat rawuh ing pangibadah, sumangga rawuh saderengipun pangibadah kawiwitan. Ingkang kulina nerak peraturan lalu lintas, sumangga disiplin.
Kita tamtu asring mangibadah lan ndedonga. Nanging ing salebeting pangibadah lan pandonga kita menika menapa saestu kita pepanggihan kaliyan Gusti? Menawi anggen kita mangibadah lan ndedonga menika namung karana butuh, kita mesthi ewed pinanggih kaliyan Gusti. Karana, kita namung fokus (menggalih) dhateng kabetahan lan kemareman kita pribadi. Sumangga mangibadah lan ndedonga karana kita pancen kepengin lan kangen pepanggihan kaliyan Gusti. Sugeng pepanggihan kaliyan Gusti! Sugeng bebingah. Amin. [st]
Pamuji : KPJ 188 : 1, 2, 3.