Umat Beriman, Umat yang Berdoa Tanpa Jemu Khotbah Minggu 20 Oktober 2019

Minggu Biasa XVIII
Stola Hijau

 

Bacaan 1 : Kejadian 32 : 22 – 31    (Ay. 26)
Bacaan 2
: 2 Timotius 3 : 14 – 4 : 5 (Ay. 17)
Bacaan 3
: Lukas 18 : 1 – 8  (Ay. 7, sebagai Introitus)

Tema Liturgis  : Merawat Hubungan Antar Umat Beriman untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bersama
Tema Khotbah
: Umat Beriman, Umat yang Berdoa Tanpa Jemu

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 32 : 22 – 31
Yakub bergumul dengan Malaikat. Ia mohon perkenan-Nya, perkenan Tuhan. Yakub, si anak yang curang, telah memperdaya kakaknya dan menyabotase berkat kesulungan-Esau dari ayah mereka, Ishak [bandingkan Kejadian 27:36 ‘Kata Esau: Bukankah tepat namanya Yakub karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.’]. Selang beberapa tahun, ketika menjelang bertemu lagi dengan Esau, Yakub kemudian berjuang keras menghadapi keresahan batinnya sendiri. Yakub merasa resah akibat dari kelicikannya, kecurangannya, dan tindakan sabotase hak kesulungan pada masa lampu. Dan persoalan belum pernah diurai sampai dengan semalam, ketika Yakub tidak punya pilihan lain, kecuali harus menghadapi ketakutannya, keraguannya selama ini. Saatnya, hari itu, Yakub harus menghadapi dirinya sendiri, masa lalunya, kelemahannya, rasa bersalahnya. Terbuktilah, bahwa pengembaraannya dan suksesnya serta rasa aman-palsunya, kini harus dihadapinya seorang diri. Yakub ketakutan hendak bertemu Esau, kakaknya. Dan, ketakutan yang berasal dari aib masa lalunya itu tidak bisa dihadapi berbekal seluruh sukses masa kininya.

Namun, bersyukurlah Yakub, akhirnya. Pergumulan pribadinya telah dihadapinya dengan kebulatan tekatnya. Terberkatilah Yakub. Kemantapan hatinya terberkati. Sepanjang malam Yakub bergulat dengan Malaikat. Yakub, kuat. Tak terkalahkan oleh lawan. Namun, apakah Yakub telah selesai pada status-kuatnya? Ternyata tidak. Walaupun kuat, namun, Yakub masih memohon berkat Tuhan. Kekuatan pribadinya masih dirasa belum sebanding dengan ketakutan batinnya, saat hendak menghadapi Esau yang telah disakiti hatinya pada masa lalu. Yakub memohon, kiranya Malaikat Tuhan memberkatinya dengan berkat khusus, kekuatan khusus, kemantapan batin yang benar-benar khusus. Dia merindukan kehadiran-Nya, untuk mengisi kekosongan batinnya dengan kekuatan ilahi. Bahkan kalaupun sendi pangkal paha Yakub telah dibuat cacat oleh Malaikat [Kejadian 32:25,31], kondisi cacat fisiknya menjadikannya pribadi baru: menjadikannya ‘Israel’. Itulah berkat istimewa baginya. Berkat itu dihayatinya sebagai pengukuhan jaminan keselamatannya, pemantapan batinnya untuk menjumpai Esau, kakaknya.

Permohonan Yakub terkabul. Pertama, berupa berkat kesadaran, bahwa Yakub tak terkalahkan. Yakub sangatlah kuat. Tak diragukan kekuatan Yakub. Dia menang dalam pergulatan sepanjang malam, lawan malaikat Tuhan. Kedua, kekuatan versi manusia lama, bersimbol nama: Yakub, ditanggalkan. Diganti-Nya nama baru: yakni Israel. Hidup lama diganti hidup baru. Manusia lama ditiadakan. Kini diciptakan manusia baru. Kekuatan pribadi versi lama telah diganti dengan kelemahan tubuh versi baru. Meskipun mendapat tanda kelemahan tubuh, namun kelemahan padanya itu pun tidak melemahkan batinnya. Di dalam kelemahannya, justru menjadi semakin kuat di dalam Tuhan dan bersama Tuhan (bandingkan ungkapan keyakinan Rasul Paulus, II Korintus 12:10, ‘Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.’)

Berdoa suntuk, semalaman, telah mengantar Yakub ke jati diri terbaru: menjadi Israel. Pergulatan Yakub semalam suntuk telah menjadi tahapan pertobatan, menjadi awal dari tahapan yang baru yakni hidup di dalam dan bersama Tuhan.

Konsekuensi dari permohonan yang bersungguh-sungguh telah mengubah kehidupan Yakub. Pribadi yang baru telah terlahir. Membaik. Kehidupan lama telah tertinggal di belakang. Pribadi baru, hidup baru, identitas baru sedang dihadirkan oleh Malaikat Tuhan. Demikianlah, pergumulan dan permohonan seorang pilihan Tuhan dikabulkan-Nya.

2 Timotius 3 : 14 – 4 : 5

Secara ringkas, disebutkan data diri Timotius, di dalam Ensiklopedia Alkitab Praktis edisi ke-2, tulisan W.N. McElrath dan Billy Mathias. Timotius, kecuali sebagai nama sebuah Surat kiriman Rasul Paulus, adalah nama seorang ‘Sahabat muda dan utusan Injil pembantu Paulus (Kis 16:1).’ Lebih lanjut disebut, bahwa Timotius ‘tinggal di Listra dan memiliki darah campuran Yahudi dan Yunani. Mulai pada perjalanan pengabaran Injil kedua, Timotius menyertai Paulus untuk beberapa tahun, melakukan tugas-tugas penting baginya, dan menggembalakan … [umat Tuhan] pada waktu Paulus tidak ada’ di tempat. Sedemikian terpercaya Timotius bagi Rasul Paulus, sehingga Timotius disebut sebagai ‘anakku yang sah di dalam iman’ (I Timotius 1:2).

Dengan semangat Rasul Paulus, sebagai pemberita Injil (I Timotius 2:7) yang berpikiran terbuka, maka Timotius dinasihatkan agar berdoa syafaat ‘untuk semua orang, untuk raja-raja, dan untuk semua pembesar’ (I Timotius 2:1-2). Sebagaimana Paulus berjuang untuk menjangkau semua orang, baik orang-orang Yahudi, orang Yunani, maupun segala bangsa lainnya, hendaklah demikian pula sikap Timotius. Khususnya dalam hal berdoa, Timotius didorong agar berdoa ‘syafaat’ (istilah ‘syafaat’ berarti: permohonan kepada Allah demi kepentingan orang lain, Ensiklopesia Alkitab Praktis, hlm. 136).

Paulus, seorang rasul bagi bangsa-bangsa (bandingkan Galatia 1:15-16) telah melahirkan anak-rohani, yakni Timotius yang berwawasan luas, yang berdoa bagi bangsa-bangsa, berdoa syafaat. Perhatian Timotius sejak masa awal pelayanannya telah disadarkan oleh Rasul Paulus: jadilah perantara bagi banyak orang. Berdoalah bagi penguasa dan semua orang. Demikianlah Timotius bukan hanya didorong agar mengikuti ajaran Rasul Paulus, melainkan lebih dari itu: Timotius diapresiasi oleh Paulus, bahwa Timotius ‘…telah mengikuti ajaran’ Paulus. Timotius telah sampai pada tahap ‘mengikuti cara hidup …, pendirian …, iman …, kesabaran …, dan ketekunan …’ Paulus (II Timotius 3:10). Bahkan disebut secara khusus, bahwa Timotius ‘… telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara …’ ( II Timotius 3:11).

Duka dan sukanya tidak membuatnya mundur untuk berdoa syafaat bagi semua orang, bagi bangsa-bangsa yang belum mengenal Tuhan. Dengan kata lain, berdoa bagi Timotius berarti berdoa syafaat. Isi doa syafaatnya adalah agar kiranya semua orang diselamatkan oleh Tuhan.

Lukas 18 : 1 – 8

Inti kisah, sederhana. Yakni kisah tentang seorang janda yang memohon terus-menerus kepada hakim, agar perkara si-janda diluruskan, agar sang hakim memberlakukan keadilan. Itu saja intinya. Tidak lebih dari sebuah permohonan. Juga bukanlah memprotes atau pun menggugat kewenangan sang hakim. Hanya memohon pemberlakuan keadilan atas perkara si-janda. Benar-benar hanyalah memohon. Tapi, permohonan itu begitu kokoh, begitu gigih, pantang mundur. Itulah sikap pemohon. Itulah sikap beriman. Mungkin sekali belum terkabulkan. Dimintanya terus. Mungkin waktunya belum tiba. Dimintanya terus. Mungkin terkesan sedang diuji ketabahannya. Dimintanya terus. Keyakinan sang pemohon begitu kuat. Terfokus. Karenanya sangatlah besar kuasanya. Tidak ada kemungkinan terbaik lainnya. Satu-satunya penolong hanyalah sang Hakim. Kewajiban sang pemohon adalah memohon. Kewajiban sang hakim adalah meluluskan permohonan sang pemohon.

Walaupun tidak disebut-sebut secara eksplisit, di dalam kisah tersebut, namun ketentuan secara hukum sudah jelas. Yaitu bahwa ‘keadilan dan kebenaran serta kelepasan’ (Yeremia 22:3) harus diberlakukan (bandingkan juga Yesaya 1:16b-17: ‘Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda’). Juga di dalam Mazmur, walaupun bukan kumpulan hukum, namun memberi penegasan, betapa sangat penting dan sentral ‘keadilan’ itu bagi umat Tuhan. Di dalam Mazmur, Tuhan bahkan disebut sebagai ‘Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia, tetapi pemberontak-pemberontak tinggal di tanah yang gundul.’ (Mazmur 68:6-7).

Karena Tuhan Allah adalah Bapa dan Pelindung, tidak pernah berubah, maka tetaplah memohon. Tetaplah berdoa. Tetaplah beriman. Kokohlah.

 

Benang Merah Tiga Bacaan“Dari Israel ke Timotius”

Berdoa suntuk telah menjadi tahapan pertobatan [dari ‘Yakub’ menjadi ‘Israel’]. Dari berfokus pada diri sendiri beralih pada kebersamaan dengan Tuhan.

Memohon, bersemangat pantang mundur, semangat yang khas seorang beriman [pada kisah seorang janda-pendoa], mengalir (berubah, berkembang secara bertahap sampai pada tahap yang lebih sempurna) bermuara pada sikap terbuka. Berdoa memohonkan kebaikan, keselamatan, kesejahteraan bagi orang lain yang berbeda agama, berbeda latar belakang dan berbeda tujuan hidupnya, atau berbeda bahasa, berbeda derajat-pangkat, berbeda kemampuan, dan lainnya. Keberbedaan tidak membuat orang meremehkan atau bahkan bertindak sewenang-wenang terhadap sesama. Dalam hal berdoa, siapapun didoakan agar terberkati. Itulah berdoa syafaat: bersikap rela menjadi perantara penyampai berkat kebaikan bagi umat Tuhan [dalam konteks surat Timotius]

Tetaplah memohon. Tetaplah berdoa. Tetaplah beriman. Kokohlah. Sebab, Tuhan Allah adalah Bapa dan Pelindung. Tidak pernah berubah kuasa-Nya dan kasih-Nya.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Bahasa berbeda-beda. Cara berdoa berbeda-beda. Beragam. Masing-masing, khas. Demikianlah keragaman di Indonesia: adalah enam agama resmi. Enam ragam juga bahasa dipergunakan orang Indonesia untuk berdoa, di Indonesia. Kendati berbeda-beda, namun salah satu hal telah menyeragamkannya. Ialah bahwa orang-orang yang berbeda-beda agama, di Indonesia, terus-menerus berdoa, bahkan berdoa bersama-sama, apapun yang terjadi. Kalau pun pernah dibatasi dengan peraturan, bahwa orang beragama sebaiknya hanya berdoa di dalam lingkungannya dan kelompoknya sendiri, yang sama agamanya; namun, sejarah di Indonesia membuktikan, bahwa umat berbeda-beda agama, berbeda-beda bahasa dan cara berdoa, dapat bergandengan tangan, berdoa bersama-sama, bergantian, berbahasa sesuai dengan agama masing-masing. Tidak saling mengganggu dan tidak merasa saling terganggu karena kehadiran orang lain sementara diri sendiri sedang berdoa.

Demikianlah kebersamaan antar umat berbeda-beda agama, di Indonesia, sejak tahun 2000-an, telah terlembagakan menjadi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Konferensi Nasional FKUB di Makasar, 1-3 Maret 2019, dihadiri juga oleh Presiden Joko Widodo. Diharapkan, pada pertemuan nasional ke-6 pada tahun 2020, FKUB akan mendapat pemantapan statusnya berupa Keputusan Presiden. [https://news.detik.com/berita/d-4472869/fkub-minta-peningkatan-status-hukum-ke-jokowi-agar-dapat-dana-apbn]

Itu berarti apa? Bagi bangsa Indonesia, kerukunan adalah penting. Bahasa dan cara doa boleh berbeda-beda. Namun, kerukunan tetaplah sangat penting. Bhinneka Tunggal Ika.

Bahkan secara kelembagaan, di GKJW, telah dibentuk Komisi Hubungan antar Umat (KAUM), baik di Jemaat, Daerah, maupun Majelis Agung. Salah satu agenda penting KAUM adalah berdoa. Berdoa sendiri. Berdoa bersama keluaga masing-masing. Juga, berdoa bersama dengan saudara-saudari berbeda agamanya. Bukanlah diada-adakan, berdoa bersama. Hanyalah pada saat-saat bersejarah, saat yang penting, ketika sedang rapat bersama, syukuran bersama, bertamu bersama, di keluarga atau di komunitas khusus, pada saat itulah orang-orang berbeda-beda agama, yang telah akrab dan rukun, melakukan doa bersama. Bahasa doa berbeda-beda. Bergantian. Berdoa syafaat.

Pada suatu kurun waktu, keluarga besar GKJW bertema-kerja berdasarkan Mazmur 145:9a, Tuhan itu baik kepada semua orang. Kurun waktu itu selama 6 (enam) tahun. Disebut kurun waktu PKP III (singkatan: Program Kegiatan Pembangunan ke-3). Setiap orang, warga GKJW, mempraktekkan kebaikan Tuhan. Tertuju dan bersama dengan semua orang. Tentu, terutama, prioritasnya, tertuju dan bersama dengan sesama yang bersepakat untuk melakukan praktek kebaikan. Adapun praktek kebaikan di Indonesia, salah satu, adalah berdoa. Berdoa secara pribadi, berdoa bersama, dan berdoa bersama saudara-saudari berbeda-beda agama juga.

Isi

Berdoa suntuk telah menjadi salah satu tahapan pertobatan [dari ‘Yakub’ menjadi ‘Israel’]. Dari berfokus pada diri sendiri bertumbuh-berkembang menjadi kebersamaan dengan Tuhan dan praktek kebaikan bagi dan bersama orang-orang lain yang berbeda-beda pengalaman dan pengharapannya.

Memohon terus-menerus, bersemangat pantang mundur, semangat yang khas orang beriman [kisah seorang janda-pendoa], bermuara pada sikap terbuka pada saat berdoa, yaitu: berdoa (memohonkan kebaikan, keselamatan) bagi siapapun. Berdoa yang demikian itu lazim disebut berdoa syafaat. Dengan demikian, ‘tahapan’ berdoa bermula dari doa untuk diri pendoa sendiri berkembang menjadi doa syafaat. Dari permohonan atau doa yang egois menjadi doa yang altruis. Itulah berdoa syafaat – bersikap rela menjadi perantara penyampai berkat kebaikan bagi umat Tuhan [demikianlah dalam konteks surat Timotius, bacaan ke-2 hari ini]

Tetaplah memohon. Tetaplah berdoa. Tetaplah beriman. Kokohlah. Sebab, Tuhan Allah adalah Bapa dan Pelindung. Tidak pernah berubah kuasa-Nya dan kasih-Nya. Dia menurunkan hujan bagi siapapun. Dia menyediakan oksigen bagi siapapun. Dialah Bapa bagi semua anak-anak-Nya. Jika karena suatu hal seseorang berlelah-lelah mengembara menjauh dari kemuliaan, keluhuran, dan kekudusan Sang Bapa, yakinlah Bapa menunggu anak-anak-Nya kembali kepada-Nya. Berbagai berkat dan kebaikan dilimpahkan oleh Bapa kepada anak-anak-Nya, tanpa kecuali. Jika ada bagian yang terlewat atau tercecer, sudilah saudara-saudarinya berbagi kebaikan dengannya, sampai dengan setiap orang saudara tunggal-Bapa itu bersukacita dan cukup tegar untuk bersama-sama datang kepada Sang Bapa Yang Mahakasih Itu.

Para pendoa bersungguh-sungguh. Juga warga GKJW. Bersama-sama, sehati, sepakat berdoa. Bahkan ungkapan doa berbeda-beda bahasa. Berdoa bersama saudara-saudari berbeda keyakinan, berbeda agama juga telah dialami, dikembangkan. Tentu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Penutup

Berdoa berbahasa tertentu. Misalnya, bahasa Indonesia. Berdoa berharap kepada Tuhan. Kiranya Tuhan menguatkan diri atau pribadi masing-masing. Pribadi yang telah cukup kuat akan mendorong diri sendiri bertemu dan hidup rukun bersama pribadi lain. Diri sendiri merasa aman bersama pribadi lain yang berbeda. Kebersamaan dengan pribadi-pribadi yang berbeda-beda bahasa berdoanya adalah berkat. Di Indonesia, berkat kebersamaan telah dialami. Kebersamaan bersifat lintas agama juga merupakan berkat. Berdoa syafaat secara bersama bagi kebaikan bersama. Secara langsung atau tidak langsung, setiap pendoa mengalami proses perubahan batin, penguatan, dan pertobatan. Menjadilah pribadi pendoa yang baik. (Wig.)

 

Pujian  :  KJ. 460   Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku…


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Wonten warni-warni basa. Bahasa Ibu. Bahasa Suku, ugi wonten. Bahasa Nasional, ugi wonten. Benten-benten. Makaten ugi, wonten warni-warni basa kagem dedonga. Wonten ingkang ngagem bahasa Indonesia. Malah, kepara wonten ugi ingkang dedonga ngagem Bahasa internasional: Arab, Latin, Sanskrit.

Ewadene, umat beragama ing Indonesia saged lan purun dedonga gentosan-giliran, ing papan ingkang sami, kanthi tembung dan ukara benten-benten, nalika sesarengan nyengkuyung penyuwunan ingkang sami, antawisipun: nyuwun katentreman tumrap negari lan bangsa Indonesia. Sanadyan patrap dedonga sarengan makaten punika nate dipun awisi, nanging rakyat Indonesia langkung nengenaken kerukunan katimbang cecongkrahan. Tiyang dewasa mesthi sampun saged milah-milah kanthi sae. Rukun kaliyan tanggi-tepalih, punika lampah ingkang sae. Dedonga sareng ugi sae. Boten wonten ingkang rumaos kasepelekaken. Kosok wangsulipun sami ajen-ingajenan. Gilir-gumanti. Sinten ingkang miwiti dedonga, boten rumaos langkung sae. Utawi sinten ingkang mungkasi giliran dedonga, punika boten rumaos asor.

Pramila makaten, nalika tahun 2000-an, kadhapuk kanthi resmi ‘FKUB’ (Forum Kerukunan Umat Beragama). Konferensi Nasional FKUB, ing Makasar, 1-3 Maret 2019, dipun jenengi dening Pak Presiden Joko Widodo. Salajengipun, karancang, mugi-mugi kasembadan, FKUB saged-a kaantepaken status-ipun mawi Keputusan Presiden. [kacundhukna: [https://news.detik.com/berita/d-4472869/fkub-minta-peningkatan-status-hukum-ke-jokowi-agar-dapat-dana-apbn].

Punika ngemu suraos punapa tumrap kita? Boten sanes, bilih bangsa Indonesia nengenaken Bhinneka Tunggal Ika. Warni-warni lan tansah rukun. Dipun budidaya kanthi ngetog karosan. Pinurih Bhinneka Tunggal Ika tetep lestantun.

Ing GKJW, inggih makaten ugi. Komisi Hubungan antar Umat (KAUM) kadhapuk, sae ing Pasamuwan, Majelis Daerah, miwah Majelis Agung. KAUM kadhapuk murih nglestantunaken sesambetan antarumat ing Jawa Timur. Manut pandumaning laladan ingkang kapitayakaken minangka gegebenganipun majelis: ing Pasamuwan, ing Majelis Daerah, dalah ing Majelis Agung GKJW.

Satunggaling kegiatanipun KAUM GKJW ingkang wigati inggih punika mangun pasaduluran lintas agama. Ugi, kalamangsa dedonga sesarenan, gilir-gumantos. Bahasa Pengantar berdoa benten-benten. Malahan, kalamangsa forum berdoa sesarengan dipun biwarakaken lewat medsos. Nalika momentum berdoa bersama. Punika sanes dedonga ingkang dipun rekayasa. Sanes satunggaling forum apus-apus. Pandonganipun ugi sanes doa politis kangge kampanye. Nanging isinipun dedonga murih Bhinneka Tunggal Ika lestantun, tentrem.

Menggah GKJW, niatipun sampun cetha. GKJW rumaos katimbalan dening Gusti, kanthi mirunggan, ing bumi Jawa Timur. Sarananipun mawi bahasa program berkesinambungan. GKJW mujudaken programipun sarana kawiwitan saking tema program. Sacara mligi lan sacara teknis, ing internal GKJW, program punika kasebat ‘PKP’ (Program Kegiatan Pembangunan). Mawi tema program ugi. Inggih punika tema Tuhan itu Baik kepada Semua Orang. Dasaripun Jabur 145:9a. Nalika era PKP ke-3 punika sadaya warga GKJW ngener lampahipun, mandeng dhateng tujuan ingkang dipun rancang punika. Boten tolah-toleh. Boten mundur. Boten kemba ing manah. Ingkang katuju namun satunggal, inggih punika mujudaken tema Tuhan itu Baik kepada Semua Orang. Sambung-sinambung ngantos 6 warsa, ajeg. Fokus, terkonsentrasi. Lelampahanipun GKJW ingkang makaten punika sa-emper kaliyan cariyos bab dedonga ingkang kaserat ing Injil Lukas 18:1-8, maliginipun babagan pambudidaya ingkang tanpa kemba. Inggih punika bahasa internal, bahasa program, bahasa versi GKJW.

Isi

Dedonga kanthi saestu, tan kendhat, punika minangka satunggaling laku-pamratobat [wiwit ‘Yakub’ ngantos ‘Israel’]. Enering gesang dipun ewah: saking nengenaken dhiri pribadi (rosane dhewe, kendele dhewe, carane dhewe, sugih pengalamane dhewe) nunten mratobat. Raos percaya diri kajangkepaken dados kumandel dhumateng Gustikacundhukna suraosing Galati 2:20). Artosipun, nadyan sampun rosa, nanging Yakub taksih kedah ngadhepi tantangan ing batosipun piyambak: inggih punika raos bersalah ingkang ndadosaken Yakub ngraos pupus ing manah. Pramila, dedonga kanthi saestu. Yakub dedonga kanthi saestu.

Nyenyuwun tanpa putus asa. Tetep nyenyuwun, semangat pantang mundur. Punika titikanipun wong pracaya (kadosdene tiyang estri ingkang pijer sowan, nyuwun kaadilan, ing Lukas 18:1-8). Nyenyuwun boten nate kemba, ngantos anjog dhateng raos-pangraosipun ingkang enggal, ingkang tinarbuka, bilih dedonga syafaat (nyuwunaken berkah, kasaenan, kawilujengan) ngasanes, punika satunggling tahapan dedonga ingkang saya mindhak jembar tebanipun: pandonga syafaat. Saking pandonga ingkang asipat egois nunten tuwuh dados pendonga ingkang awatak altruis.

Dimadhep nyenyuwun. Dimantep dedonga. Dibakuh pracaya. Awit, Gusti Allah Sang Rama tansah ngayomi. Boten nate owah-gingsir panguwaosipun Gusti. Ugi boten nate owah-gingsir katresnanipun Gusti. Panjenenganipun minangka Ramanipun para putra. Panjenenganipun tansah amberkahi para putra kagunganipun. Sadaya pinaringan jawah, pinaringan oksigen, pinaringan berkah warni-wani. Menawi karana satunggaling sabab, wonten tiyang ingkang nglambrang, nebih saking Panjenenganipun Allah Sang Rama, malah kosok wangsulipun: Gusti Allah Sang Rama kanthi cecengklungen nganti-anti wangsulipun umat ingkang katriwal wau. Panjenenganipun tansah ngrantos para kagunganipun nyelak malih, gesang ing kamulyan, kaluhuran, kasucen, gesang-a kadosdene Sang Rama ingkang maha suci lan maha luhur.

Sadaya putra dipun pandumi panduman ingkang murwat lan kabetahanipun. Pinta-pinta. Waradin. Wondene taksih wonten saperangan putranipun Sang Rama, alias sadherek kita, wonten ingkang taksih kacingkrangan, nunten sadherek sanes-sanesipun mesthi anyengkuyung sadherek wau. Temahan, kacingkrangan wau tetep dados sarana tumanduking solidaritas saking para sadherek, tunggil-Rama.

Inggih makaten ugi ing babagan dedonga. Dedonga sesarengan, gilir-gumantos, punika ugi pinangka wujuding solidaritas (setia-kawan, setia-mitra, setia-saudara). Menawi satunggal pribadi, utawi satunggal basa, saged rosa, langkung malih rosanipun nalika basa manca-warna kaulukaken dhateng Gusti. Kepara basa manca-warna makaten punika (Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Latin, Bahasa Sanskrit) nunten dados wiwitaning zaman oikumene ingkang sejati. Kadosdene nalika para wong mursid sami katedhakan Roh Suci nalika dinten tumedhakipun Roh Suci ingkang wiwitan ing Yerusalem [kapirsanana Lelampahanipun Para Rasul bab 2].

Para tiyang pitados sami dedonga kanthi saestu. Datan kendhat. Makaten ugi, mliginipun warga GKJW, dedonga datan kendhat, tunggil semangat lan para sadherek ingkang ngrasuk agami ingkang benten-benten. Malah kepara saged dedonga sesarengan kaliyan sadaya umat beragama, murih mindhak mantep ing bab sengkuyung-sinengkuyung dedonga sesarengan. Benten-bentening agama ugi sampun kaalaman dening warga GKJW salebeting pasrawungan ing masyarakat. Malah kepara warga GKJW ndherek nyantosakaken semangat berdoa bersama manut kawontenan ing daerahipun lan pasamuwanipun.

Panutup

Sadaya tiyang ingkang ngasuk agama utawi keyakinan mesthi kagungan bahasa batin. Kanthi basa punika, saben pribadi dalah saben kelompok, komunitas, saged kanthi saestu-estu nyenyuwun, dedonga dhumateng Gusti Allah, ingkang Mahakawasa dalah Mahatresna.

Sarana bahasa-nipun piyambak-piyambak, kita saged merangkai kebersamaan kaliyan sadherek sanes-sanesipun. Pengalaman GKJW, nalika GKJW berfokus menjabarkan lan mujudaken tema Tuhan itu Baik kepada Semua Orang, nedahaken dhateng kita: bilih GKJW saestunipun kagem dening Gusti Allah, ing Jawa Timur. GKJW kaatag dening Sang Roh Ingkang Mahaluhur, Gusti Allah, murih kanthi saestu memberlakukan bahasa-doa, kanthi fokus, boten kemba, pantang menyerah, saperlu menggalang pasadherekan-sejati. Inggih punika sadherek ingkang tunggil-tuju, tunggil pangabdi, tunggil Rama ingkang Mahatresna. Ugi, tunggil bangsa, tunggil basa: inggih punika bahasa keharmonisan, kerukunan, Bhinneka Tunggal Ika (Tan Hana Dharma Mangrua). Gusti amberkahi.  (Wig)

 

Pamuji  : KPK. 319  Endahe Saduluran

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •