Judul: Taat Seperti Ishak
Tahun liturgi: Pekan Anak
Tema: Ketaatan
Bacaan: Kejadian 22: 1 – 14
Ayat Hafalan: Hai anak-anak taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan (Kolose 3: 20)
Lagu Tema: Jadilah Anak Taat
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Dalam bacaan ini, kita melihat bahwa fokusnya lebih banyak kepada iman Abraham. Karena ujian iman ini memang ditujukan kepada Abraham. Tetapi jika kita melihat lebih dalam lagi, faktor kepatuhan. Ishak juga menjadi pendukung kelancaran proses ketika Abraham mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran bagi Allah.
Tidak ada keterangan yang pasti tentang usia Ishak pada waktu itu. Tetapi jika dilihat dari kemampuannya memanggul kayu yang cukup berat di medan yang menanjak, pasti Ishak bukan lagi seorang anak kecil. Bahkan Ishak juga menanyakan di manakah anak domba untuk korban bakaran. Artinya Ishak juga sudah cukup besar untuk menyadari ada sesuatu yang aneh atau janggal. Ada yang memperkirakan Ishak sudah remaja pada waktu itu,, bahkan ada yang menyebutkan Ishak berusia sekitar 20 – 30 tahunan.
Sejak awal kisah ini, Ishak sudah digambarkan sebagai anak yang sangat patuh pada orang tuanya. Ketika diajak pergi ke gunung Moria dan kemudian diminta memanggul kayu, Ishak melakukannya tanpa protes. Padahal mereka mempunyai bujang atau pelayan yang semestinya itu adalah tugas mereka untuk melakukan pekerjaan berat. Pada waktu dia diikat dan dibaringkan di atas mezbah untuk korban bakaranpun, diceritakan Ishak hanya menurut saja.
Kepatuhan Ishak tentu bukan karena dia tidak bisa melawan. Pasti sangat mudah baginya untuk memberontak atau melawan ayahnya yang sudah tua, dan juga bukan karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Tetapi karena Ishak menyaksikan iman ayahnya sendiri untuk melakukan apapun yang diperintahkan Allah. Hal tersebut juga membangun iman Ishak untuk melakukan hal yang sama. Bahkan ketika segala sesuatunya nampak “tidak benar” di matanya
Kepatuhan Ishak kepada ayahnya dilakukan karena ia melihat iman ayahnya kepada Allah.
Refleksi Untuk Pamong
Kalau kita diberi pertanyaan: Apakah saudara mau mengutamakan Tuhan?
Pasti kita akan menjawab: Ya! Tetapi dalam kenyataannya, kita kadang-kadang masih mengutamakan ego atau “logika” kita. Jika kita melihat kisah Ishak, secara logika Ishak pasti akan memberontak atau melawan ayahnya. Apalagi dalam perjalanan ayahnya mengatakan, akan ada domba untuk dipersembahkan. Tetapi kenyataannya justru dia yang diikat dan akan dibunuh atau dipersembahkan. Bukankah itu sebuah kebohongan? Pada waktu itu Allah belum menunjukkan ada domba di tempat tersebut. Namun karena imannya Ishak memilih untuk patuh.
- Bagaimana dengan kita? Apakah kita tetap akan patuh pada perintah Allah, meskipun tidak sejalan dengan ego dan “logika” kita?
- Apakah kita akan menjadi seperti Abraham yang imannya kepada Allah bisa dilihat oleh anak-anak, sehingga anak-anak akan menjadi patuh karena yakin kita juga patuh pada Allah.
TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA
Tujuan:
- Anak dapat menyebutkan dengan benar nama Ishak sebagai anak yang patuh.
- Dengan ceria, anak mampu melakukan gerakan sederhana, menirukan sikap Ishak yang mendengar perintah orang tua.
Alat Peraga
Boneka Ishak dan Abraham atau gambar-gambar kisah Abraham mempersembahkan Ishak (disesuaikan dengan kondisi jemaat setempat dan kreativitas pamong)
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak,
Yuk kita nyanyikan lagu TAAT (pamong mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu TAAT dengan gerakan, atau jika ada anak-anak yang sudah bersekolah dan mengenal huruf, bisa juga dengan memakai huruf T-A-A-T)
TAAT itu apa ya….
Taat itu adalah ketika kita tetap melakukan sesuatu yang diperintahkan kepada kita, meskipun sebenarnya kita tidak suka. Contohnya, kalau kita disuruh minum obat waktu kita sakit. Biasanya kita tidak suka ya, karena obat rasane tidak enak. Tapi obat itu tetap harus diminum supaya kita sembuh. menjadi sehat lagi.Nah kalau anak-anak mau minum obat itu tanpa rewel, karena tahu, obat itu bisa menyembhkan, itu yang disebut TAAT.
Di dalam Alkitab ada juga cerita tentang seorang anak yang TAAT. Ceritanya ada di dalam Kitab Kejadian 22: 1 – 14 (pamong sebaiknya membuka Alkitab, supaya anak-anak tahu dan percaya bahwa cerita itu benar-benar ada di dalam Alkitab)’
Inti Penyampaian
Anak itu bernama Ishak. Ayah Ishak bernama bapak Abraham. Pada suatu pagi, bapak Abraham membangunkan Ishak,” Ayo Ishak bangun, kita akan pergi ke gunung untuk berdoa kepada Tuhan.” Karena Ishak anak yang Taat, maka Ishak langsung bangun. Bersiap-siap dan langsung berangkat dengan bapak Abraham. Mereka pergi ke gunung yang bernama gunung Moria.
Gunung Moria itu jauh sekali dari rumah bapak Abraham. Waktu naik ke gunung, mereka berjalan kaki. Ishak disuruh bapak Abraham naik ke gunung itu sambil membawa atau memanggul kayu bakar. Pasti berat ya. Karena Ishak anak yang taat, Ishak tidak mengeluh, Ishak juga tidak menolak. Ishak tidak bilang,” ah, tidak mau pak, berat.” Ishak anak yang taat. Ishak melakukannya dengan senang hati.
Pada jaman dahulu, kalau mereka berdoa kepada Tuhan, mereka juga membawa domba untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau sekarang, kita beribadah ke gereja, persembahannya adalah uang yang kita masukkan ke dalam kantong persembahan ya. Tapi kalau dulu, persembahannya pakai domba. Pada waktu itu Ishak bingung dan bertanya kepada bapak Abraham,”biasanya kalau kita berdoa, kita mempersembahkan domba. Tapi mengapa sekarang kita tidak membawa domba?” Bapa Abraham menjawab,”iya, nanti Tuhan yang akan menyediakannya.” Tapi sebenarnya bapa Abraham tahu, bahwa Tuhan ingin Bapa Abraham mempersembahkan Ishak.
Setelah sampai di gunung, bapa Abraham mengikat Ishak dan akan mempersembahkannya kepada Tuhan, tetapi Tuhan berkata kepada Abraham,”Stop. Jangan persembahkan Ishak. Aku sudah tahu kamu Adalah orang yang taat kepada-Ku.” Dan di tempat itu Tuhan menyediakan domba untuk dijadikan persembahan.
Penerapan
Yang dilakukan Ishak itu bukan sesuatu yang menyenangkan ya. Ia harus bangun pagi-pagi, harus pergi jauh, sampai 3 hari, dan dilanjutkan dengan naik gunung sambil membawa kayu yang berat. Ishak harus diikat untuk dipersembahkan. Tapi Ishak adalah anak yang taat. Seperti Bapa Abraham juga taat pada Tuhan.
Kadang-kadang perintah Tuhan, perintah ayah, ibu,dan guru itu tidak menyenangkan ya. Tidak kita sukai. Tapi kita harus menjadi anak yang taat pada perintah Tuhan dan perintah ayah, ibu, serta guru. Karena perintah Tuhan dan perintah ayah, ibu dan guru itu adalah sesuatu yang baik.
Misalnya kalau hari Minggu, kita harus bangun pagi dan pergi beribadah ke gereja seperti sekarang ini. Anak yang taat, langsung bangun, mandi, sarapan dan berangkat ke gereja sama papa atau mama. Tidak rewel lagi. Itu Namanya anak yang taat.
Kalau mama menyuruh kita untuk makan sayur. Mungkin ada yang tidak suka makan sayur. Maunya makan mi instan terus atau cuma makan ayam goreng terus. Padahal mama memasak sayur dan menyuruh kita makan sayur supaya tubuh kita sehat. Kita bisa tumbuh dengan baik. Semakin besar, semakin tinggi. Kalau kita mau makan sayur dan makanan sehat, itu Namanya anak yang taat.
Aktivitas
Pamong membimbing anak-anak membuat pop up tokoh Ishak. Setelah pop up itu selesai dibuat, pamong mengajak anak-anak untuk mengulang kalimat: “Ishak anak yang taat. Aku mau taat seperti Ishak.” (sambil menunjukkan kartu pop upnya)
Kemudian ajak anak-anak untuk melakukan “role play” sederhana sebagai Ishak. Bisa dimulai dengan dibangunkan pagi-pagi (minta anak-anak untuk berpura-pura tidur dan segera bangun ketika dibangunkan). Kemudian lanjutkan dengan mengajak anak-anak berjalan. Lalu minta anak-anak untuk membawa sesuatu, memperagakan Ishak yang memanggul kayu bakar, dst.
TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA
Tujuan:
Anak mampu menyebutkan dengan tepat 2 (dua) contoh tindakan patuh kepada orang tua di rumah.
Alat Peraga
Boneka Ishak dan Abraham atau gambar -gambar kisah Abraham mempersembahkan Ishak (disesuaikan dengan kondisi jemaat setempat dan kreativitas pamong)
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak,
Yuk kita nyanyikan lagu TAAT (pamong mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu TAAT dengan gerakan, atau dengan menggunakan huruf T-A-A-T, atau bisa juga yang lain sesuai dengan kraetivitas pamong)
Kita sudah menyanyikan laguTAAT. Kita ingin jadi anak yang taat. Taat itu artinya apa ya…. (beri kesempatan pada anak-anak untuk menjawab, dan pamong memberi respon terhadap jawaban anak-anak tersebut)
Ya…., taat itu adalah ketika kita tetap melakukan sesuatu yang diperintahkan kepada kita, meskipun sebenarnya kita tidak suka. Padahal yang harus kita lakukan itu adalah sesuatu yang baik dan benar. Ada yang bisa memberi contoh? (bimbing anak-anak memberi contoh). Contohnya, kalau kita disuruh minum obat waktu kita sakit. Biasanya kita tidak suka ya, karena obat rasanya tidak enak atau pahit. Tapi obat itu tetap harus diminum supaya kita sembuh.
Nah kalau anak-anak mau minum obat itu tanpa rewel, karena tahu, obat itu bisa menyembuhkan, itu yang disebut TAAT. (pamong bisa memberikan contoh-contoh lain yang sesuai dengan situasi anak-anak di jemaat setempat)
Di dalam Alkitab ada juga cerita tentang seorang anak yang TAAT. Ceritanya ada di dalam Kitab Kejadian 22: 1 – 14 (pamong bisa mengajak anak-anak untuk membaca Alkitab dengan cara yang kreatif).
Inti Penyampaian
Setelah kita membaca Alkitab, kita tahu kalau anak yang taat itu bernama Ishak. Ayah Ishak bernama bapak Abraham. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, bapak Abraham membangunkan Ishak,” Ayo Ishak bangun, kita akan pergi ke gunung untuk berdoa kepada Tuhan.” Pada jaman dahulu, orang beribadah tidak di gereja seperti kita saat ini. Mereka bisa pergi ke gunung, membangun mezbah, atau tempat untuk menyerahkan persembahan dari batu yang disusun. Karena Ishak anak yang Taat, maka Ishak langsung bangun. Ia tidak membantah. Ishak segera bangun.
Setelah semua perlengkapan dan perbekalannya siap, merekapun berangkat. Mereka pergi ke gunung yang bernama gunung Moria. Gunung Moria itu jauh sekali dari rumah bapak Abraham. Perjalanan tersebut memerlukan waktu 3 hari. Mereka naik keledai. Dan pada waktu naik ke gunung, mereka berjalan kaki. Ishak disuruh bapak Abraham naik ke gunung itu sambil memanggul kayu bakar. Pasti berat ya, mendaki gunung sambil memanggul kayu bakar. Karena Ishak anak yang taat, Ishak tidak membantah, tidak mengeluh dan Ishak juga tidak menolak. Ishak tidak bilang,” ah, tidak mau pak, berat.” Ishak anak yang taat. Ishak melakukannya dengan senang hati.
Pada jaman dahulu, kalau mereka berdoa kepada Tuhan, mereka juga membawa domba untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau sekarang, kita beribadah ke gereja, persembahannya adalah uang yang kita masukkan ke dalam kantong persembahan ya. Tapi kalau dulu, persembahannya adalah domba. Pada waktu itu Ishak bingung dan bertanya kepada bapak Abraham,”Disini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu? Bapa Abraham menjawab,”Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Tapi sebenarnya bapa Abraham tahu, bahwa Tuhan ingin Bapa Abraham mempersembahkan Ishak.
Setelah sampai di gunung, bapa Abraham mengikat Ishak dan akan mempersembahkan kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berkata kepada Abraham,” Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa Engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang persembahkan Ishak. Aku sudah tahu kamu Adalah orang yang taat kepada-Ku.”
Lalu bapa Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mempersembahkannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
Penerapan
Yang dilakukan Ishak itu bukan sesuatu yang menyenangkan ya. Ia harus bangun pagi-pagi, harus pergi jauh, sampai 3 hari. Itupun hanya naik keledai ya. Bukan mobil yang nyaman dan dilanjutkan dengan naik gunung sambil membawa kayu yang berat. Ishak harus diikat untuk dipersembahkan. Ishak tidak melawan, meskipun Ishak tahu bahwa seharusnya bukan dia yang dipersembahkan, tapi domba. Tapi Ishak adalah anak yang taat. Seperti Bapa Abraham juga taat pada Tuhan.
Kadang-kadang perintah Tuhan, perintah ayah, ibu,dan guru itu tidak menyenangkan ya. Tidak kita sukai. Tapi kita harus menjadi anak yang taat pada perintah Tuhan dan perintah ayah, ibu, serta guru. Karena perintah Tuhan dan perintah ayah, ibu dan guru itu adalah sesuatu yang baik.
Misalnya kalau mama menyuruh kita untuk makan sayur. Mungkin ada yang tidak suka makan sayur disini. Maunya makan mi instan terus atau cuma makan ayam goreng terus. Padahal mama memasak sayur dan menyuruh kita makan sayur supaya tubuh kita sehat. Kita bisa tumbuh dengan baik. Semakin besar, semakin tinggi. Kalau kita mau makan sayur dan makanan sehat tanpa dipaksa, itu namanya anak yang taat.
Kalau hari Minggu, kita harus bangun pagi dan pergi beribadah ke gereja seperti sekarang ini. Anak yang taat, langsung bangun, mandi, sarapan dan berangkat ke gereja bersama dengan ayah, ibu dan anggota keluarga yang lain. Tidak perlu rewel lagi. Tidak malas-malasan. Tidak mengeluh. Itu namanya anak yang taat. (pamong bisa membuat membuat contoh-contoh lain yang sesuai dengan situasi dan kondisi anak-anak di jemaat setempat)
Aktivitas
Pamong menempelkan karton besar dengan gambar rumah dan orang-orang (anggota keluarga).
Dengan bimbingan pamong, masing-masing anak menuliskan di kertas sticky note/ kertas bergambar atau yang lain (sesuai kreativitas pamong), 2 (dua) contoh sikap taat kepada orang tua di rumah. Kemudian anak-anak membacakan atau menyebutkan contoh ketaatan kepada orang tua, kemudian menempelkan kertas tersebut di karton bergambar rumah dan anggota keluarga.
Secara singkat, pamong memberikan komentar pada jawaban atau tulisan anak-anak tersebut.
TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA
Tujuan:
- Setelah mendiskusikan teks Kejadian 22:1 – 14, anak dapat melengkapi daftar perilaku ketaatan yang meneladani Ishak dalam kehidupan sehari-hari (minimal 3 hal)
- Melalui kartu komitmen, anak mampu menata rencana tindakan nyata untuk mendengarkan nasihat orang tua selama 1 (satu) minggu ke depan.
Alat Peraga
Boneka Ishak dan Abraham atau gambar -gambar kisah Abraham mempersembahkan Ishak (disesuaikan dengan kondisi jemaat setempat dan kreativitas pamong)
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak,
Yuk kita nyanyikan lagu TAAT (pamong mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu TAAT dengan gerakan atau dengan menggunakan huruf T-A-A-T atau bisa juga yang lain sesuai dengan kraetivitas pamong). Pamong bisa juga mengajak menyanyikan lagu lain yang bertemakan ketaatan.
Kita sudah menyanyikan laguTAAT. Kita ingin jadi anak yang taat. Taat itu artinya apa ya…. (beri kesempatan pada anak-anak untuk menjawab, dan pamong memberi respon terhadap jawaban anak-anak tersebut) Ya…. taat itu adalah ketika kita tetap melakukan sesuatu yang diperintahkan kepada kita, meskipun sebenarnya kita tidak suka. Padahal yang harus kita lakukan itu adalah sesuatu yang baik dan benar. Ada yang bisa memberi contoh? (bimbing anak-anak memberi contoh). Contohnya: kalau kita disuruh minum obat waktu kita sakit. Biasanya kita tidak suka ya, karena obat rasanya tidak enak atau pahit. Tapi obat itu tetap harus diminum supaya kita sembuh.
Nah kalau anak-anak mau minum obat itu tanpa paksaan, melakukannya dengan kesadaran bahwa ini memang harus dilakukan, karena tahu, obat itu bisa menyembuhkan, itu yang disebut TAAT. (pamong bisa memberikan contoh-contoh lain yang sesuai dengan situasi anak-anak di jemaat setempat)
Di dalam Alkitab ada juga cerita tentang seorang anak yang TAAT. Ceritanya ada di dalam Kitab Kejadian 22: 1 – 14 (pamong bisa mengajak anak-anak untuk membaca Alkitab dengan cara yang kreatif).
Inti Penyampaian
Setelah kita membaca Alkitab, kita tahu kalau anak yang taat itu bernama Ishak. Ayah Ishak bernama bapak Abraham. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, bapak Abraham membangunkan Ishak,” Ayo Ishak bangun, kita akan pergi ke gunung untuk berdoa kepada Tuhan.” Pada jaman dahulu, orang beribadah tidak di gereja seperti kita saat ini. Mereka bisa pergi ke gunung, membangun mezbah, atau tempat untuk menyerahkan persembahan dari batu yang disusun. Karena Ishak anak yang taat, maka Ishak langsung bangun. Ia tidak membantah.
Setelah semua perlengkapan dan perbekalannya siap, merekapun berangkat. Mereka pergi ke gunung yang bernama gunung Moria. Gunung Moria itu jauh sekali dari rumah bapak Abraham. Perjalanan tersebut memerlukan waktu 3 hari. Mereka naik keledai. Dan pada waktu naik ke gunung, mereka berjalan kaki. Ishak disuruh bapak Abraham naik ke gunung itu sambil memanggul kayu bakar. Pasti berat ya, mendaki gunung sambil memanggul kayu bakar. Karena Ishak anak yang taat, Ishak tidak membantah, tidak mengeluh dan Ishak juga tidak menolak. Ishak tidak bilang,” ah, tidak mau pak, berat.” Ishak anak yang taat. Ishak melakukannya dengan senang hati.
Pada jaman dahulu, kalau mereka berdoa kepada Tuhan, mereka juga membawa domba untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau sekarang, kita beribadah ke gereja, persembahannya adalah uang yang kita masukkan ke dalam kantong persembahan ya. Tapi kalau dulu, persembahannya adalah domba. Pada waktu itu Ishak bingung dan bertanya kepada bapak Abraham,”Disini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?’ Bapa Abraham menjawab,”Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Tapi sebenarnya bapa Abraham tahu, bahwa Tuhan ingin Bapa Abraham mempersembahkan Ishak.
Setelah sampai di gunung, bapa Abraham mengikat Ishak dan akan mempersembahkan kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berkata kepada Abraham,” Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa Engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang persembahkan Ishak. Aku sudah tahu kamu Adalah orang yang taat kepada-Ku.”
Lalu bapa Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mempersembahkannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
Penerapan
Yang dilakukan Ishak itu bukan sesuatu yang mudah ya. Ia harus bangun pagi-pagi, harus pergi jauh, sampai 3 hari, itupun hanya naik keledai ya. Bukan mobil yang nyaman, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki naik gunung sambil membawa kayu bakar yang berat. Kemudian juga Ishak harus diikat untuk dipersembahkan. Ishak tidak melawan, meskipun Ishak tahu bahwa seharusnya bukan dia yang dipersembahkan, tapi domba. namun Ishak adalah anak yang taat. Seperti Bapa Abraham juga taat pada Tuhan.
Kadang-kadang perintah Tuhan, perintah ayah, ibu,dan guru itu tidak menyenangkan ya. Tidak kita sukai. Tapi kita harus menjadi anak yang taat pada perintah Tuhan dan perintah ayah, ibu, serta guru. Karena perintah Tuhan dan perintah ayah, ibu dan guru itu adalah sesuatu yang baik.
Misalnya kalau ibu menyuruh kita untuk tidak terlalu lama main HP. Mungkin ada yang tidak suka makan sayur disini. Maunya makan mi instan terus atau cuma makan ayam goreng terus. Padahal mama memasak sayur dan menyuruh kita makan sayur supaya tubuh kita sehat. Kita bisa tumbuh dengan baik. Semakin besar, semakin tinggi. Kalau kita mau makan sayur dan makanan sehat tanpa dipaksa, itu namanya anak yang taat.
Kalau hari Minggu, kita harus bangun pagi dan pergi beribadah ke gereja seperti sekarang ini. Anak yang taat, langsung bangun, mandi, sarapan dan berangkat ke gereja bersama dengan ayah, ibu dan anggota keluarga yang lain. Tidak perlu rewel lagi. Tidak malas-malasan. Tidak mengeluh. Itu namanya anak yang taat. (pamong bisa membuat membuat contoh-contoh lain yang sesuai dengan situasi dan kondisi anak-anak di jemaat setempat)
Aktivitas
Setelah berdiskusi dengan teman-teman, masing-masing anak menuliskan di kertas sticky note/ kertas bergambar atau yang lain (sesuai kreativitas pamong), 3 (tiga) contoh sikap taat kepada orang tua di rumah.
Kemudian tempelkan di kertas yang lebih tebal (dijadikan sebuah kartu). Dan tambahkan komitmen untuk menjadi anak yang taat.