Tahun Gerejawi: Advent 1
Tema: Perumpamaan Yesus
Judul: Sikap doa yang layak
Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
Ayat Hafalan: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7b)
Lagu: Mampirlah, Dengar Doaku (KJ No. 26)
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Bacaan Alkitab pada Injil Lukas 18:9-14 mengisahkan tentang perumpamaan orang Farisi dengan pemungut cukai yang memperlihatkan perbedaan sikap berdoa yang di Bait Allah. Sebelum kita membahas sikap berdoa yang dilakukan oleh orang Farisi dan pemungut cukai, maka ada baiknya kita mengenal mereka terlebih dahulu.
Orang Farisi dan pemungut cukai merupakan dua orang dari kelompok yang sangat berbeda, bisa diandaikan seperti bumi dan langit. Berikut ini adalah perbedaannya:
- Orang Farisi: merupakan tokoh agama yang mengetahui kebenaran, orang yang sangat dihormati oleh masyarakat Yahudi, dianggap sebagai orang yang sangat saleh dan taat menjalankan kewajiban agama/hukum Taurat secara sangat ketat.
- Pemungut cukai: merupakan orang yang dibenci oleh masyarakat Yahudi karena dianggap sebagai kaki tangan pemerintahan bangsa Romawi yang berkhianat sebab menarik pajak dan memeras bangsanya sendiri. Mereka dikategorikan sebagai orang yang berdosa sebab cara yang digunakan para pemungut cukai untuk menarik cukai/pajak kejam dan tidak adil sehingga mereka kerap dianggap tidak layak untuk beribadah di Bait Allah.
Nah kini mari kita memperhatikan ayat 9-12, Tuhan Yesus mengulas tentang kecenderungan orang yang gemar menganggap dirinya sendiri benar dan memandang rendah orang lain dengan menggunakan perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai yang sedang berdoa di Bait Allah.
Tuhan Yesus menggambarkan orang Farisi sebagai sosok yang menilai dirinya begitu rohani ketimbang pemungut cukai yang penuh dosa. Ketika orang Farisi berdoa, ia menyatakan kepada Allah, jikalau ia tidak sama derajatnya dengan pemungut cukai dan dengan bangga berujar bahwa ia telah menunaikankan kewajibannya untuk beribadah serta memberi persepuluhan. Ia juga mengatakan kepada Allah bahwa ia merupakan orang yang saleh, jadi ia menganggap dirinya jauh lebih baik dan berbeda kualitas atau tidak sama dengan kebanyakan orang berdosa lainnya.
Doa orang Farisi bukan menunjukkan kesungguhan hati, melainkan mempertontonkan kesombongan diri. Orang Farisi menganggap dirinya lebih baik dari orang lain dan dirinyalah yang paling benar dan paling saleh. Hati orang fasik dipenuhi kesombongan dan kemunafikan. Ia merasa bersih dari dosa dan tanpa cela sehingga menyebabkan dirinya tidak menghargai orang lain.
Orang Farisi merasa bahwa dirinya sudah selalu melakukan hal yang benar, namun tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan kesombongan dalam doanya. Ia merasa dengan usaha dan perbuatannya sendiri maka ia menjadi istimewa. Tidak lagi perlu merasa rendah di hadapan Allah. Ia merasa menjadi seseorang yang layak untuk mendapatkan karunia Allah karena usahanya sendiri yang telah melakukan pekerjaan-pekerjaan baiknya, bukan karena belas kasihan Allah. Dengan kesombongan ini juga orang Farisi menghina pemungut cukai yang dianggap sebagai orang yang lebih rendah darinya.
Dalam ayat 13-14 Tuhan Yesus menceritakan perbedaan sikap yang dilakukan oleh si pemungut cukai. Ia menyadari jikalau dirinya adalah orang berdosa. Bahkan si pemungut cukai tidak berani mengangkat kepala atau menengadah ke langit, melainkan memukuli diri sembari meratap dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Si pemungut cukai meminta agar Allah mengasihaninya karena ia merasa dirinya sangat tidak layak. Pengakuan jujur disertai sikap rendah hati ini ia lakukan dengan cara mengungkapkan pertobatannya, dan berpaling dari dosa menuju kepada Allah. Ia merasa tidak berdaya dan menyatakan kebergantungannya kepada Allah. Dengan begitu ia terbuka atas kasih karunia Allah kepadanya. Dan karena itulah Allah mengindahkannya.
Refleksi untuk pamong
Para Pamong yang dikasihi Tuhan,
Dari perumpamaan Yesus ini kita dapat mengetahui bahwa sikap orang Farisi dengan kesombongan rohani yang dilakukannya membuat dirinya tidak dibenarkan. Sedangkan pemungut cukai yang telah mengakui kesalahan dan dosanya serta memilih untuk hanya bergantung atas belas kasihan dan karunia Allah saja justru mendapat pembenaran oleh Tuhan Yesus Kristus. Perumpamaan ini ditutup dengan ungkapan yang terbalik dari Yesus yakni, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Melalui perumpamaan ini kita diajak untuk tidak bersikap sombong rohani atas perbuatan baik yang telah kita lakukan. Melainkan mau mengakui kesalahan dan dosa serta berbalik kepada Allah, bergantung pasrah kepadaNya, karena kita hidup hanya dari belas kasihan dan karunia Allah saja.
Kerendahan hati kita adalah faktor penting yang mewarnai relasi kita ketika datang menghadap ke hadirat Tuhan. Berikut ini adalah pertanyaan reflektif yang layak direnungkan oleh para pamong yaitu:
- “Bagaimanakah sikap kita ketika datang menghadap hadirat Tuhan dan melayani-Nya melalui ibadah anak?
- Apakah dengan kerendahan hati ataukah dengan kesombongan dan semata-mata mengandalkan diri/kehebatan kita? Bagaimanakah sikap doa yang layak dihadapan Tuhan?”
Para pamong terkasih, mari mengingat bahwa mereka yang benar adalah mereka yang tidak membenarkan dirinya sendiri, melainkan menyadari keterbatasan dan keberdosaan diri, sehingga selalu bergantung pada kemurahan Tuhan Allah. Amin.
TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA
Tujuan:
Anak dapat membedakan sikap yang layak dan tidak layak ketika berdoa.
Alat Peraga
- Alkitab.
- Tas kain/kaleng yang diisi dengan koin/uang.
Pendahuluan
Sebagai pendahuluan, pamong silakan bermain peran (role play) sebagai orang Farisi dan pemungut cukai ketika berdoa di Bait Allah, sesuai dengan Bacaan Alkitab Lukas 18:9-14. Pamong bisa memerankan sendiri tokoh orang Farisi dan pemungut cukai, atau membimbing dan menunjuk salah satu anak balita untuk memerankannya. Silakan menggunakan alat peraga berupa Alkitab sebagai simbol yang menandai peran sebagai orang Farisi dan tas kain/kaleng yang diisi koin/uang untuk peran pemungut cukai. Perhatikanlah bahwa:
- Sikap orang Farisi saat berdoa di Bait Allah: hatinya penuh kesombongan dan kemunafikan, padahal ia seorang tokoh agama yang tahu kebenaran Firman Tuhan dan taat menjalankan hukum Taurat. Ia merasa bersih dari dosa dan tanpa cela.
- Sikap pemungut cukai saat berdoa di Bait Allah: ia berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri, meratap, dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Inti Penyampaian
Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus,
Di awal tadi kita sudah melihat gambaran mengenai orang Farisi dan pemungut cukai melalui permaian peran ya. Apakah kalian masih ingat apa yang dilakukan oleh orang Farisi dan pemungut cukai dalam bermain peran tadi? Mereka sedang apa ya tadi?! Ya, mereka sedang berdoa! Apakah sikap berdoa orang Farisi dan pemungut cukai sama? Oh tidak sama, sikap mereka berbeda ya? Apakah bedanya? (Beri waktu anak-anak untuk menjawab)
Yach…betul. Sikap berdoa orang Farisi penuh dengan kesombongan. Ia merasa benar. Jadi orang Farisi itu berpikir bahwa ia sempurna dan tidak membutuhkan pertolongan Allah. Namun, berbeda dengan sikap berdoa yang ditunjukkan oleh si pemungut cukai. Ia merasa penuh dengan dosa dan kesalahan. Pemungut cukai sadar bahwa ia tidak sempurna dan bukan orang benar. Oleh karenanya pemungut cukai sangat membutuhkan pertolongan Allah. Pemungut cukai dengan penuh penyesalan memohon kepada Tuhan Allah untuk mengampuninya. Nah, Tuhan Yesus mengatakan bahwa berdoa yang benar hendaknya memiliki sikap yang rendah hati seperti pemungut cukai itu.
Penerapan
Anak-anak yang dikasihi dan mengasihi Tuhan,
Dari kisah perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai tadi, kita jadi tahu bagaimana sikap berdoa yang layak atau yang seharusnya kita lakukan di hadapan Tuhan. Jadi kita diajak untuk meneladani sikap doa yang dilakukan oleh orang Farisi atau pemungut cukai ya? (Beri waktu anak-anak untuk menjawab) Sikap doa yang sombong atau yang rendah hati ya? (Beri waktu anak-anak untuk menjawab)
Kiranya, Tuhan Yesus memampukan kita untuk memiliki sikap berdoa yang layak yaitu dengan penuh kejujuran, tidak sombong serta rendah hati. Haleluya. Amin.
Aktivitas
Pamong mengajak anak jenjang balita untuk bersama-sama mengulangi doa yang pamong ucapkan seperti berikut ini:
“Tuhan Yesus yang baik, kasihanilah kami dan jadikanlah kami anak-anak Tuhan yang memiliki kerendahan hati dimanapun kami berada. Amin”.
TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA
Tujuan:Anak dapat membedakan sikap yang layak dan tidak layak ketika berdoa.
Alat Peraga
- Alkitab.
- Tas kain/kaleng yang diisi dengan koin/uang.
Pendahuluan
Sebagai pendahuluan, pamong silakan bermain peran (role play) sebagai orang Farisi dan pemungut cukai ketika berdoa di Bait Allah, sesuai dengan Bacaan Alkitab Lukas 18:9-14. Pamong bisa memerankan sendiri tokoh orang Farisi dan pemungut cukai, atau membimbing dan menunjuk salah satu anak untuk memerankannya. Silakan menggunakan alat peraga berupa Alkitab sebagai simbol yang menandai peran sebagai orang Farisi dan tas kain/kaleng yang diisi koin/uang untuk peran pemungut cukai. Perhatikanlah bahwa:
- Sikap orang Farisi saat berdoa di Bait Allah: hatinya penuh kesombongan dan kemunafikan, padahal ia seorang tokoh agama yang tahu kebenaran Firman Tuhan dan taat menjalankan hukum Taurat. Ia merasa bersih dari dosa dan tanpa cela.
- Sikap pemungut cukai saat berdoa di Bait Allah: ia berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri, meratap, dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Inti Penyampaian
Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus,
Di awal tadi kita sudah melihat gambaran mengenai orang Farisi dan pemungut cukai melalui permainan peran ya. Apakah kalian masih ingat apa yang dilakukan oleh orang Farisi dan pemungut cukai nggak? Mereka sedang apa ya tadi?! Ya, mereka sedang berdoa! Apakah sikap berdoa orang Farisi dan pemungut cukai sama? Oh tidak sama, sikap mereka berbeda ya? Apakah bedanya?.
Sikap berdoa orang Farisi penuh dengan kesombongan! Ia merasa benar. Jadi orang Farisi itu berpikir bahwa ia sempurna dan tidak membutuhkan pertolongan Allah. Namun, berbeda dengan sikap berdoa yang ditunjukan oleh si pemungut cukai. Ia merasa penuh dengan dosa dan kesalahan. Pemungut cukai sadar bahwa ia tidak sempurna dan bukan orang benar. Oleh karenanya pemungut cukai sangat membutuhkan pertolongan Allah. Pemungut cukai dengan penuh penyesalan memohon kepada Tuhan Allah untuk mengampuninya. Nah, Tuhan Yesus mengatakan bahwa yang berdoa hendaknya memiliki sikap yang rendah hati seperti pemungut cukai itu.
Penerapan
Anak-anak yang dikasihi dan mengasihi Tuhan …
Dari kisah perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai tadi, kita jadi tahu bagaimana sikap berdoa yang layak atau yang seharusnya kita lakukan di hadapan Tuhan. Jadi kita diajak oeh Tuhan Yesus akan meneladani sikap doa yang dilakukan oleh orang Farisi atau pemungut cukai ya? Sikap doa yang sombong atau yang rendah hati ya?
Kiranya, Tuhan Yesus memampukan kita untuk memiliki sikap berdoa yang layak yaitu dengan penuh kejujuran, tidak sombong serta rendah hati. Haleluya. Amin.
Aktivitas
Pamong mengajak anak- anak untuk bersama-sama mengulangi doa yang pamong ucapkan seperti berikut ini:
“Tuhan Yesus yang baik, kasihanilah anak-anak jenjang pratama ini dan jadikanlah kami anak-anak Tuhan yang memiliki kerendahan hati dimanapun kami berada. Amin”.
TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA
Tujuan:
- Anak dapat membedakan sikap yang layak dan tidak layak ketika berdoa.
- Anak mampu berdoa secara layak di hadapan Tuhan.
Pendahuluan
Anak-anak yang dikasihi dan mengasihi TuhanYesus Kristus,
Bacaan Alkitab kita pada hari ini terambil dari kitab Perjanjian Baru yaitu Injil Lukas 18:9-14. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), memberi judul perikop tersebut sebagai “Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai.” Perikop ini mengisahkan tentang perumpamaan orang Farisi dengan pemungut cukai terkait sikap doa yang mereka lakukan di Bait Allah.
Sebelum kita membahas sikap berdoa yang dilakukan oleh orang Farisi dan pemungut cukai, maka ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu mengenai kedua sosok tersebut.
Orang Farisi dan pemungut cukai sangatlah berbeda, ibarat bumi dan langit. Apakah perbedaannya?
- Orang Farisi: merupakan seorang tokoh agama yang tahu kebenaran, orang yang sangat dihormati oleh masyarakat Yahudi, orang yang sangat saleh dan taat menjalankan kewajiban agama atau aturan Taurat dengan sangat ketat.
- Pemungut cukai: merupakan orang yang dibenci oleh masyarakat Yahudi karena dianggap sebagai kaki tangan pemerintahan bangsa Romawi yang berkhianat sebab menarik pajak dan memeras bangsanya sendiri. Mereka dikategorikan sebagai orang yang berdosa sebab cara yang digunakan para pemungut cukai untuk menarik cukai/pajak kejam, dan tidak adil. Sehingga mereka kerap dianggap tidak layak untuk beribadah di Bait Allah.
Inti Penyampaian
Anak- anak yang terkasih,
Marilah kita membaca ulang ayatnya yang ke 9-12 secara bergantian (ayat ganjil dibacakan oleh anak perempuan dan genap anak laki-laki).
Dalam ayat 9-12, Tuhan Yesus memberikan suatu perumpamaan tentang dua orang yang berada di Bait Allah untuk berdoa. Kedua orang tersebut adalah orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi berdoa dengan motivasi batin ingin membanggakan diri di hadapan Allah, menganggap dirinya benar dan menganggap orang lain salah, serta memandang rendah semua orang.
Sekalipun orang Farisi secara lahiriah tampak taat melakukan hukum Taurat, sesungguhnya mereka hidup dalam kepura-puraan dan kemunafikan. Ibadah dan pelayanan yang orang Farisi lakukan hanyalah untuk mencari popularitas dan pujian dari manusia. Ketika orang Farisi berdoa, ia menyatakan kalau ia tidak sama dengan pemungut cukai dan dengan bangganya ia berujar bahwa ia telah menunaikankan kewajibannya untuk beribadah serta memberi persepuluhan. Ia juga mengatakan kepada Allah bahwa ia merupakan orang yang saleh, dan tidak seperti kebanyakan orang berdosa lainnya.
Dengan melakukan semua itu, orang Farisi menunjukkan kesombongan diri. Orang Farisi menganggap dirinya lebih baik dari orang lain dan dirinyalah yang paling benar dan paling saleh. Hati orang fasik dipenuhi kesombongan dan kemunafikan. Ia juga merasa bersih dari dosa dan tanpa cela yang menyebabkan dirinya menjadi tidak menghargai orang lain.
Dalam ayat 13-14 Tuhan Yesus menceritakan perbedaan sikap yang dilakukan oleh si pemungut cukai. Pemungut cukai menyadari jikalau dirinya adalah orang berdosa. Bahkan si pemungut cukai tidak berani mengangkat kepala atau menengadah ke langit, melainkan memukuli diri sembari meratap dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Si pemungut cukai meminta agar Allah mengasihaninya karena ia merasa dirinya sangat tidak layak. Pengakuan jujur disertai sikap rendah hati ini ia lakukan dengan cara mengungkapkan pertobatannya, dan berpaling dari dosa menuju kepada Allah. Ia merasa tidak berdaya dan menyatakan kebergantungannya kepada Allah. Dengan begitu ia terbuka atas kasih karunia Allah kepadanya. Dan karena itulah Tuhan Allah mengindahkannya.
Penerapan
Anak-anak yang dikasihi Tuhan,
Dari perumpamaan yang Tuhan Yesus sampaikan dalam Injil Lukas 18:9-14, kita dapat mengetahui bahwa ada sikap yang layak dan tidak layak ketika berdoa di hadapan Tuhan. Bagaimanakah sikap berdoa yang layak? Gambaran sikap yang layak dalam berdoa tampak melalui perilaku pemungut cukai. Dan sebaliknya sikap berdoa yang tidak layak digambarkan oleh orang Farisi. Kini, kalian mau mengikuti teladan sikap doa yang mana?
Mari meneladani sikap doa pemungut cukai yang sadar akan dosa, kelemahan, dan cacat cela sebab “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Melalui perumpamaan Tuhan Yesus kita diajak untuk tidak bersikap sombong rohani atas perbuatan baik yang telah kita lakukan. Melainkan mau mengakui kesalahan dan dosa serta berbalik kepada Allah, bergantung pasrah kepadaNya, karena kita hidup hanya dari belas kasihan dan karunia Allah saja. Kiranya Roh Kudus mampukan kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan bukan tinggi hati alias sombong. Tuhan Yesus memberkati kita.
Aktivitas
Pamong mengajak anak-anak untuk sharing/berbagi kisah terkait kisah berikut ini:
Banyak anak-anak Tuhan membanggakan diri tentang ibadah dan pelayanan yang dilakukan, lalu menganggap rendah orang lain. Bukankah hal ini mengindikasikan bahwa kita sombong? Seharusnya ketaatan dan kesetiaan kita dalam ibadah khususnya sikap dalam berdoa dan pelayanan menjadikan kita menjadi lebih rendah hati.
Contoh nyata: mengejek teman yang tidak bisa memimpin doa atau mengadukan teman ke pamong kalau saat berdoa tadi si A tidak menutup mata, dan lain sebagainya.