Tahun Gerejawi: Bulan Kitab Suci
Tema: Sikap: Melakukan/Bersaksi
Bacaan: Kisah Para Rasul 8 : 4 – 25
Ayat Hafalan: “Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.” (Mazmur 71 : 17)
Lagu: Mari Menjadi Penjala Orang (KJ 431/Kidung Ceria no. 204)
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Filipus adalah salah satu dari 12 murid Yesus. Ia berasal dari Betsaida, kota di mana Andreas dan Petrus juga berasal (Yohanes 1 : 43). Filipus adalah murid yang sangat responsif terhadap panggilan Tuhan. Di awal sebagai murid Yesus, ia telah bersaksi tentang Yesus pada Natanael. Ia membawa Natanael datang kepada Yesus sampai akhirnya percaya. Setelah kenaikan Yesus ke sorga, Filipus adalah salah satu yang menanti-nantikan Roh Kudus turun seperti janji Yesus.
Setelah menerima kuasa Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta, Filipus terus setia memberitakan Injil. Saat tiba di Samaria, ia banyak berkotbah dan melakukan mukjizat. Ia juga menyembuhkan banyak orang yang kerasukan roh jahat. Hal itu membuat seorang penyihir bernama Simon menjadi takjub. Simon telah lama dikuasai ilmu sihir. Ia melakukan banyak tipu muslihat demi mendapatkan uang. Orang-orang menjadi percaya kepada Simon karena menganggap ia penuh dengan kuasa Allah. Setelah melihat bahwa Roh yang berkuasa atas Filipus lebih besar daripada roh sihir yang dimilikinya. Simon sendiri pada akhirnya menjadi percaya dan menerima baptisan.
Namun rupanya, butuh waktu bagi Simon yang baru saja dibaptis untuk bisa hidup dalam pemahaman rohani yang benar. Ia masih saja meletakkan harta duniawi setara dengan hal-hal rohani yang menjadi otoritas Tuhan. Itu terbukti dari keinginannya untuk menukar karunia berupa kuasa Roh Kudus dengan kekayaannya yang berasal dari perbuatan curang. Hal itu tentu saja membuat Petrus sangat marah (ayat 20 -23).
Refleksi Untuk Pamong:
Setelah membaca dan mengingat firman Tuhan, hidup di dalamnya adalah sebuah konsekuensi yang melekat. Apa yang kita lakukan setiap hari haruslah mencerminkan firman Tuhan yang sudah kita baca dan gumulkan sebelumnya. Itulah bentuk kesaksian sejati yang harus dilakukan oleh anak-anak Tuhan.
Filipus adalah contoh nyata tentang anak Tuhan yang setia bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Tapi bukan berarti kita harus menjadi seperti dia. Tidak semua orang diberi karunia untuk melakukan hal-hal yang besar, tapi setiap orang memiliki panggilan hidup dan talenta masing-masing. Jadi, kita bisa memakai talenta dan kelebihan sekecil apa pun itu, untuk bersaksi bagi Tuhan Yesus di dunia ini. Menjadi pamong adalah salah satu ladang kesaksian yang kita miliki. Maka, pergunakan sebaik-baiknya untuk menyatakan kasih dan kebesaran-Nya pada anak-anak kita.
TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA
Tujuan: Anak dapat menceritakan kembali kisah Simon yang menjadi percaya setelah mendengar Filipus memberitakan Injil di Samaria.
Alat Peraga:
Video animasi tentang peristiwa di dalam Kisah Para Rasul 8 : 4 – 25.
Dapat diakses di https://www.youtube.com/watch?v=AOjwqvdwwjI&list=PLse4SuSTuCq3jOQjgehtqzk1_UHa8gt99&index=118
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus.
Hari ini, saya akan bercerita tentang Simon, si penyihir. Apa ada yang sudah pernah dengar ceritanya? Simon ini adalah seorang pesulap, yang sering melakukan tipu muslihat untuk mendapatkan uang. Ia bisa melakukan ‘mukjizat-mukjizat’ itu karena dibantu oleh roh jahat. Ih, serem ya. Selain itu, kakak juga akan bercerita tentang Filipus. Siapa, sih, Filipus itu? Iya, Filipus itu adalah murid Yesus. Ada berapa, sih jumlah murid Yesus? Iya betul, ada 12 orang. Filipus ini pekerjaannya adalah berkeliling dunia untuk bersaksi. Apa, sih bersaksi itu? Lalu apa hubungan Simon, si Penyihir dengan Filipus? Penasaran, kan? Kalau begitu, kita lihat bersama-sama video berikut ini yuk. Ayo disimak baik-baik!
Inti Penyampaian – (pamong memutar video)
Penerapan
(Para pamong berdialog, salah satu pamong duduk membaur dengan anak-anak).
Pamong 2: Oh … jadi begitu ceritanya. Ternyata Filipus itu murid Yesus yang suka bersaksi.
Pamong 1: Iya, Kak, betul sekali. Bahkan, karena kesaksiannya itu, Simon, si Penyihir akhirnya menjadi percaya pada Yesus, loh.
Pamong 2: Kalau begitu, berarti aku ini enggak bisa bersaksi ya, Kak?
Pamong 1: Loh … kenapa?
Pamong 2: ‘Kan aku enggak bisa menyembuhkan orang sakit, enggak bisa melakukan mukjizat kayak Filipus.
Pamong 1: Oh, enggak begitu. Bersaksi itu bukan harus melakukan seperti yang dilakukan Filipus. Bersaksi itu adalah melakukan hal-hal yang baik seperti yang diajarkan oleh Yesus. Misalnya, mengembalikan mainan setelah selesai bermain,. Siapa yang kalau di rumah selalu begitu? Pintar. Itu namanya bersaksi. Terus, berbagi kue dengan teman. Siapa yang suka berbagi dengan teman? Wah, pintar semua.
Pamong 2: Jadi, itu semua juga termasuk bersaksi ya, Kak?
Pamong 1: Iya. Tidak harus melakukan hal yang susah atau besar, tapi bisa dengan hal-hal yang kecil dan mudah dilakukan. Ingat ya, semua orang bisa bersaksi dan semua anak-anak Tuhan harus bersaksi. Harus apa? Bersaksi.
Pamong 2: Jadi begitu ya. Nah, itu anak-anak yang harus diingat. Kita harus bersaksi. Caranya gimana tadi? (pamong menuntun anak-anak untuk mengulangi kembali contoh bersaksi di dalam keluarga).
Aktivitas
Persiapan : Pamong memperbanyak gambar tokoh Filipus dan Simon, si Penyihir, lalu mengguntingnya satu per satu.
Alat dan Bahan:
- Gambar tokoh Filipus dan Simon, si Penyihir, sejumlah anak.
- Stik es krim sejumlah anak.
- Lem, gunting, crayon/pensil warna.
- Kantong sulap
Langkah-langkah:
- Masukkan gambar tokoh Filipus dan Simon yang sudah digunting ke dalam kantong sulap.
- Minta anak-anak untuk maju dan mengambil gambar itu satu per satu dari dalam kantong.
- Setelah mengambil, pamong menanyakan, siapakah tokoh yang diambilnya itu dan tentang pekerjaannya.
TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA
Tujuan:
- Anak dapat menceritakan kembali kisah Simon yang menjadi percaya setelah mendengar Filipus memberitakan Injil di Samaria.
- Anak dapat menyebutkan contoh-contoh memberitakan Injil kepada keluarga dan teman.
Alat Peraga
Video animasi tentang peristiwa di dalam Kisah Para Rasul 8 : 4 – 25.
Dapat diakses di https://www.youtube.com/watch?v=AOjwqvdwwjI&list=PLse4SuSTuCq3jOQjgehtqzk1_UHa8gt99&index=118
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus.
Hari ini, saya akan bercerita tentang Simon, si penyihir. Apa ada yang sudah pernah dengar ceritanya? Simon ini adalah seorang magician atau pesulap, yang sering melakukan tipu muslihat untuk mendapatkan uang. Ia bisa melakukan ‘mukjizat-mukjizat’ itu karena dibantu oleh roh jahat. Ih, serem ya. Selain itu, kakak juga akan bercerita tentang Filipus. Siapa, sih, Filipus itu? Iya, Filipus itu adalah murid Yesus. Ada berapa, sih jumlah murid Yesus? Iya betul, ada 12 orang. Filipus ini pekerjaannya adalah berkeliling dunia untuk bersaksi. Apa, sih bersaksi itu? Lalu apa hubungan Simon, si Penyihir dengan Filipus? Penasaran, kan? Kalau begitu, kita lihat bersama-sama video berikut ini yuk. Ayo disimak baik-baik!
Inti Penyampaian – (pamong memutar video)
Penerapan
(Para pamong berdialog, salah satu pamong duduk membaur dengan anak-anak).
Pamong 2 : Oh … jadi begitu ceritanya. Ternyata Filipus itu murid Yesus yang suka bersaksi.
Pamong 1 : Iya, Kak, betul sekali. Bahkan, karena kesaksiannya itu, Simon, si Penyihir akhirnya menjadi percaya pada Yesus, loh.
Pamong 2 : Kalau begitu, berarti aku ini enggak bisa bersaksi ya, Kak?
Pamong 1 : Loh … kenapa?
Pamong 2 : ‘Kan aku enggak bisa menyembuhkan orang sakit, enggak bisa melakukan mukjizat kayak Filipus.
Pamong 1 : Oh, enggak begitu. Bersaksi itu bukan harus melakukan seperti yang dilakukan Filipus. Bersaksi itu adalah melakukan hal-hal yang baik seperti yang diajarkan oleh Yesus. Misalnya, membantu ibu membeli gula di toko di dekat rumah, melipat selimut, berbicara sopan pada orang lain, tidak suka membentak orang tua, berbagi kue dengan teman, mendoakan teman yang sakit dan masih banyak lagi.
Pamong 2 : Jadi, itu semua juga termasuk bersaksi ya, Kak?
Pamong 1 : Iya. Tidak harus melakukan hal yang susah atau besar, tapi bisa dengan hal-hal yang kecil dan mudah dilakukan. Ingat ya, semua orang bisa bersaksi dan semua anak-anak Tuhan harus bersaksi. Harus apa? Bersaksi.
Pamong 2 : Jadi begitu ya. Nah, itu anak-anak yang harus diingat. Kita harus bersaksi. Caranya gimana tadi? (pamong menuntun anak-anak untuk mengulangi kembali contoh bersaksi di dalam keluarga).
Aktivitas: Permainan Mendengar dan Melakukan
Persiapan:
- Pamong menyiapkan kata-kata yang diambil dari Alkitab. Misalnya, menanam, mencangkul, menyanyi, menari, menjahit, dll. Kata-kata itu nantinya akan diperagakan oleh anak-anak.
- Bagi anak-anak menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok minimal beranggotakan tiga orang dan terdiri dari anak usia kecil dan besar.
- Minta setiap kelompok untuk menetukan satu orang bertugas menebak kata.
Cara Bermain:
- Giliran kelompok pertama. Pamong membisikkan sebuah kata pada anak yang bertugas memperagakan kata.
- Anak tersebut memperagakan hanya dengan gerakan, tidak memakai suara.
- Anggota kelompok yang lain bertugas menebak gerakan itu. Kesempatan untuk menebak hanya sekali saja.
- Lanjutkan dengan kelompok yang lain.
- Pemenangnya adalah kelompok yang paling banyak menebak kata dengan benar.
Pelajaran:
Anak-anak Tuhan mempunyai tugas untuk membaca dan mendengarkan firman Tuhan melalui Alkitab, lalu melakukannya dengan benar agar orang lain yang melihat juga dapat ikut berbuat benar. Itulah arti kesaksian.
TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA
Tujuan:
- Anak dapat menceritakan kembali kisah Simon yang menjadi percaya setelah mendengar Filipus memberitakan Injil di Samaria.
- Anak dapat menyebutkan contoh-contoh memberitakan Injil kepada keluarga dan teman.
Alat Peraga
Video animasi tentang peristiwa di dalam Kisah Para Rasul 8 : 4 – 25.
Dapat diakses di https://www.youtube.com/watch?v=AOjwqvdwwjI&list=PLse4SuSTuCq3jOQjgehtqzk1_UHa8gt99&index=118
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus.
Hari ini, saya akan bercerita tentang Simon, si penyihir. Apa ada yang sudah pernah dengar ceritanya? Simon ini adalah seorang magician atau pesulap, yang sering melakukan tipu muslihat untuk mendapatkan uang. Ia bisa melakukan ‘mukjizat-mukjizat’ itu karena dibantu oleh roh jahat. Ih, serem ya. Selain itu, kakak juga akan bercerita tentang Filipus. Siapa, sih, Filipus itu? Iya, Filipus itu adalah murid Yesus. Ada berapa, sih jumlah murid Yesus? Iya betul, ada 12 orang. Filipus ini pekerjaannya adalah berkeliling dunia untuk bersaksi. Apa, sih bersaksi itu? Lalu apa hubungan Simon, si Penyihir dengan Filipus? Penasaran, kan? Anak-anak bisa membaca ceritanya di Kisah Para Rasul 8 : 4 – 25, atau bisa juga dengan melihat video berikut. Yuk, kita lihat bersama-sama videonya dan disimak baik-baik!
Inti Penyampaian: (pamong memutar video)
Penerapan
(Para pamong berdialog, salah satu pamong duduk membaur dengan anak-anak).
Pamong 2 : Oh … jadi begitu ceritanya. Ternyata Filipus itu murid Yesus yang suka bersaksi.
Pamong 1 : Iya, Kak, betul sekali. Bahkan, karena kesaksiannya itu, Simon, si Penyihir akhirnya menjadi percaya pada Yesus, loh.
Pamong 2 : Kalau begitu, berarti aku ini enggak bisa bersaksi ya, Kak?
Pamong 1 : Loh … kenapa?
Pamong 2 : ‘Kan aku enggak bisa menyembuhkan orang sakit, enggak bisa melakukan mukjizat kayak Filipus.
Pamong 1 : Oh, enggak begitu. Bersaksi itu bukan harus melakukan seperti yang dilakukan Filipus. Bersaksi itu adalah melakukan hal-hal yang baik seperti yang diajarkan oleh Yesus. Misalnya, membantu ibu membeli gula di toko di dekat rumah, melipat selimut, berbicara sopan pada orang lain, tidak suka membentak orang tua, berbagi kue dengan teman, mendoakan teman yang sakit dan masih banyak lagi.
Pamong 2 : Jadi, itu semua juga termasuk bersaksi ya, Kak?
Pamong 1 : Iya. Tidak harus melakukan hal yang susah atau besar, tapi bisa dengan hal-hal yang kecil dan mudah dilakukan. Ingat ya, semua orang bisa bersaksi dan semua anak-anak Tuhan harus bersaksi. Harus apa? Bersaksi.
Pamong 2 : Jadi begitu ya. Nah, itu anak-anak yang harus diingat. Kita harus bersaksi. Caranya gimana tadi? (pamong menuntun anak-anak untuk mengulangi kembali contoh bersaksi di dalam keluarga).
Aktivitas: Permainan Membaca dan Melakukan
Persiapan:
- Pamong menuliskan beberapa ayat pada kertas kecil lalu menggulungnya. Kata dari beberapa ayat Alkitab itu nantinya akan diperagakan oleh anak-anak.
Misalnya:- Keluaran 32 : 19, kata ke-15 – katanya adalah “menari”, jadi yang harus diperagakan adalah kegiatan menari
- Yesaya 5 : 18, kata ke-4 – katanya adalah “menanam”, jadi yang harus diperagakan adalah kegiatan menanam.
- Yesaya 28 : 24, kata ke-5 – katanya adalah “mencangkul”, jadi yang harus diperagakan adalah kegiatan mencangkul.
- Keluaran 32 : 18, kata ke-14 – katanya adalah “menyanyi”, jadi yang harus diperagakan adalah kegiatan menyanyi.
- Pengkotbah 3 : 7, kata ke-8 – katanya adalah “menjahit”, jadi yang harus diperagakan adalah kegiatan menjahit.
- Dan seterusnya.
- Bagi anak-anak menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok minimal beranggotakan tiga orang dan terdiri dari anak usia kecil dan besar.
- Minta setiap kelompok untuk membagi tugas, satu atau beberapa orang sebagai pencari kata dalam ayat Alkitab, satu orang bertugas memperagakan, satu orang bertugas menebak kata itu.
Cara Bermain:
- Minta salah satu anak dari kelompok pertama untuk mengambil gulungan kertas berisi ayat Alkitab.
- Petugas pencari kata melakukan tugasnya. Jika sudah menemukan katanya ia membisikkannya pada anak yang akan memperagakan.
- Memperagakan hanya dengan gerakan, tidak memakai suara.
- Anak terakhir bertugas menebak gerakan itu. Kesempatan untuk menebak hanya sekali saja.
- Lanjutkan dengan kelompok yang lain.
- Pemenangnya adalah kelompok yang paling banyak menebak kata dengan benar.
Pelajaran: Anak-anak Tuhan mempunyai tugas untuk membaca dan mendengarkan firman Tuhan melalui Alkitab, lalu melakukannya dengan benar agar orang lain yang melihat juga dapat ikut berbuat benar. Itulah arti kesaksian.