Tahun Gerejawi: Bulan Kitab Suci
Tema: Sikap : Mengingat
Bacaan: Yohanes 4 : 46 – 54
Ayat Hafalan: “Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.” (Yudas 1 : 17)
Lagu: Lagu Perjanjian Baru (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dst).
Pejelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Setelah mengubah air menjadi anggur pada perjamuan kawin di Kana, Yesus menjadi sosok yang semakin banyak dibicarakan dan dicari oleh orang di seluruh Galilea. Salah satunya adalah seorang pegawai istana di Kapernaum yang sedang sedih karena anaknya sakit. Tidak dijelaskan tentang sakit yang diderita anaknya, tapi dikatakan bahwa sakitnya parah bahkan hampir meninggal. Keadaan mendesak inilah yang mendorong si pegawai istana untuk menempuh perjalanan dari Kapernaum ke Kana yang berjarak sekitar 25 km untuk meminta kesembuhan dari Yesus. Dengan keadaan Yesus yang sedang ‘terkenal’ waktu itu, pasti tidaklah mudah untuk bisa bertemu dan berbincang dengan-Nya. Ia mungkin harus menerobos kerumunan banyak orang atau berebut untuk berbicara dengan Yesus.
Setelah berhasil berbicara dengan Yesus, ia meminta beberapa kali agar Yesus mengunjungi anaknya. Tapi Yesus tidak memenuhi keinginannya. Yesus ‘hanya’ berkata, “Pergilah, anakmu hidup!”. Lalu pulanglah ia dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun Yesus tidak datang ke rumahnya sesuai yang ia minta, tapi kata-kata itu selalu dia ingat. Kata-kata Yesus itu memunculkan iman dan pengharapan baru bahwa anaknya pasti akan sembuh. Dan benarlah, anak itu sembuh. Maka, apa yang dia alami itu telah menyempurnakan iman yang sebelumnya telah ia miliki. Ia dan keluarganya kemudian menjadi percaya kepada Yesus.
Refleksi Untuk Pamong :
Percaya tanpa melihat adalah hal yang tidak sepenuhnya bisa diterima oleh logika manusia. Seperti halnya pegawai istana yang hanya mendengar tentang ke-Ilahian Yesus dari orang banyak, tapi percaya bahwa Yesus bisa menyembuhkan anaknya. Namun, bukankah itulah inti dari iman. firman Tuhan dalam Alkitab menceritakan banyak hal tentang siapa Allah, tentang eksistensi-Nya di dunia melalui karya-karya yang agung. Iman menolong anak-anak Allah untuk mampu memahami dan mengingat firman Tuhan itu sehingga ia percaya bahwa Allah adalah Sang Sumber Hidup. Dalam perjalanan hidup selanjutnya, anak-anak Allah akan memiliki pengalaman hidup secara pribadi bersama Allah -baik itu suka maupun duka. Pengalaman itulah yang akan menyempurnakan perkenalannya dengan Allah. Bacaan kali ini mengajak kita untuk melihat diri sendiri, bagaimana respon kita setelah mendengar atau membaca firman Tuhan.
TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA
Tujuan: Anak dapat menceritakan kembali kisah pegawai istana yang mengingat ucapan Yesus bahwa anaknya akan hidup.
Alat Peraga
Pamong menyiapkan alat peraga berupa :
- Stetoskop dan kotak obat mainan
- Pamong menyiapkan gambar di bawah ini :
- Seorang anak yang terbaring lemah karena sakit dan ditunggui oleh ayahnya, yaitu pegawai istana
- Wajah pegawai istana yang sedih/murung
- Pegawai istana menemui dan berbicara dengan Yesus
- Wajah pegawai istana yang tersenyum senang
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus.
Siapa di sini yang pernah sakit? Coba tunjuk jari. Wah banyak ya. Sakit apa saja? (Pamong bertanya pada beberapa anak dengan memanggil namanya, misalnya : Tedi, pernah sakit apa? Theo, pernah sakit apa?). Pasti tidak enak ya rasanya kalau sakit? Kira-kira, ayah dan ibu sedih ndak kalau anak-anak sakit? Pasti sedih ya. Terus, supaya cepat sembuh, biasanya ayah dan ibu mengajak anak-anak periksa kemana? Ke dokter. Bagaimana, sih, biasanya cara dokter memeriksa orang sakit? Coba, siapa yang bisa menunjukkan caranya?
(pamong memberi kesempatan pada beberapa anak untuk pura-pura memeriksa menggunakan stetoskop dan obat mainan).
Inti Penyampaian
Tepuk tangan untuk yang sudah mau menjadi dokter. Nah, anak-anak, di dalam Alkitab juga ada cerita tentang anak yang sakit sangat parah. Seperti ini ceritanya,
(Pamong menunjukkan Gambar 1)
Nah, ini anak yang sakit itu. Anaknya sudah sangat lemah, tidak bisa bangun, berjalan, apalagi bermain. Kasihan ya? Lalu yang di sebelahnya itu adalah ayahnya. Ayahnya adalah seorang pegawai istana, jadi setiap hari dia bekerja di istana.
(Pamong menunjukkan Gambar 2)
Ini adalah wajah ayahnya dari dekat. Kira-kira ayahnya ini sedang apa ya? Sedang senang atau sedih? Iya betul, sangat sedih. Bagaimana wajahnya kalau sedang sedih? (meminta anak-anak untuk mengekspresikan perasaan sedih). Sang ayah ingin sekali anaknya sembuh, makanya ia ingin meminta tolong pada seseorang untuk menyembuhkannya. Tapi, sang ayah itu tidak ingin minta tolong ke dokter. Loh, terus minta tolong siapa? Siapa lagi, ya, yang bisa menyembuhkan orang sakit selain dokter?
(Pamong menunjukkan Gambar 3)
Ternyata ayahnya ingin minta tolong ke Yesus. Sang ayah berjalan kaki sangat jauh, dari rumahnya di Kapernaum menuju ke Kana untuk menemui Yesus. Anaknya yang sakit tetap ada di rumah. Gambar ini adalah saat ayah itu minta tolong pada Tuhan Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Yesus tidak memeriksa anaknya dan tidak memberi obat. Tuhan Yesus menyembuhkan anak itu dari jarak jauh dengan berkata, “Pergilah, anakmu hidup!”. Wah, Tuhan Yesus hebat banget ya?
(Pamong menunjukkan Gambar 4)
Sepanjang perjalanan pulang, ayah itu terus menerus mengingat apa yang dikatakan Yesus, “Pergilah, anakmu hidup!”. Dia merasa lega dan tidak bersedih lagi. Setelah sampai di rumah, ternyata anak itu benar telah sembuh dan tidak meninggal. Sang ayah tidak lagi sedih sekarang. Ia sangat senang karena Yesus telah menyembuhkan anaknya. Coba bagaimana wajahnya kalau sedang senang?
Penerapan
Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus,
Pegawai istana terus mengingat perkataan Yesus, “Pergilah, anakmu hidup!”. Itulah yang membuat hatinya lega dan tidak bersedih lagi. Ia percaya, jika Tuhan Yesus berkata anaknya hidup maka anaknya pasti akan hidup, tidak mati seperti yang ia takutkan. Itulah sebabnya, kita harus terus mengingat apa yang dikatakan Tuhan melalui Firman Tuhan. Mengingat Firman Tuhan menolong kita untuk bisa melakukan hal yang baik dan benar.
Aktivitas
Membuat Piring Kertas Ekspresi.
Alat dan bahan : piring kertas diameter 14-15 cm, cutter, penggaris, krayon, gunting, kertas asturo berwarna putih dan warna lainnya, lem, gunting.
Persiapan :
- Potong kertas asturo putih menjadi lembaran berukuran 8×20 cm.
- Sayat dua garis vertikal pada piring kertas, sepanjang 9 cm pada bagian bawah tengah. Beri jarak antar garis 3 cm.
- Gunting kertas asturo warna lain menjadi mata dan hidung.
Langkah-langkah :
- Masing-masing anak mendapatkan sebuah piring kertas yang sudah disayat, sepotong kertas putih, satu pola hidung dan sepasang mata.
- Minta/bantu anak-anak menggambar bentuk mulut saat tersenyum di kertas putih. Lalu bentuk mulut saat bersedih, di bawahnya.
- Anak-anak menempel mata dan hidung
- Memasukkan kertas putih pada sayatan. Tunjukkan pada anak-anak bagaimana caranya menarik kertas itu untuk mengganti ekspresi sedih ke senang.
- Jika sudah selesai, minta anak menceritakan apa yang dialami pegawai istana menggunakan ekspresi dari piring kertas itu.
TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA
Tujuan:
- Anak dapat menceritakan kembali kisah pegawai istana yang mengingat ucapan Yesus bahwa anaknya akan hidup.
- Anak dapat menyebutkan bacaan Alkitab mulai awal bulan ini.
- Anak dapat membiasakan diri mencatat firman Tuhan yang baru saja didengarnya.
Alat Peraga: Pamong menyiapkan alat peraga dan gambar seperti yang terdapat pada Jenjang Balita
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus.
Siapa di sini yang pernah sakit? Coba tunjuk jari. Wah banyak ya. Sakit apa saja? (Pamong bertanya pada beberapa anak dengan memanggil namanya, misalnya : Tedi, pernah sakit apa? Theo, pernah sakit apa?). Pasti tidak enak ya rasanya kalau sakit? Kira-kira, ayah dan ibu sedih ndak kalau anak-anak sakit? Pasti sedih ya. Terus, supaya cepat sembuh, biasanya ayah dan ibu mengajak anak-anak periksa kemana? Ke dokter. Bagaimana, sih, biasanya cara dokter memeriksa orang sakit? Coba, siapa yang bisa menunjukkan caranya? (pamong memberi kesempatan pada beberapa anak untuk pura-pura memeriksa menggunakan stetoskop mainan).
Inti Penyampaian
Tepuk tangan untuk yang sudah mau menjadi dokter. Nah, anak-anak, di dalam Alkitab juga ada cerita tentang anak yang sakit sangat parah. Seperti ini ceritanya,
(Pamong menunjukkan Gambar 1)
Nah, ini anak yang sakit itu. Anaknya sudah sangat lemah, tidak bisa bangun, berjalan, apalagi bermain. Kasihan ya? Lalu yang di sebelahnya itu adalah ayahnya. Ayahnya adalah seorang pegawai istana, jadi setiap hari dia bekerja di istana.
(Pamong menunjukkan Gambar 2)
Ini adalah wajah ayahnya dari dekat. Kira-kira ayahnya ini sedang apa ya? Sedang senang atau sedih? Iya betul, sangat sedih. Bagaimana wajahnya kalau sedang sedih? (meminta anak-anak untuk mengekspresikan perasaan sedih). Sang ayah ingin sekali anaknya sembuh, makanya ia ingin meminta tolong Seseorang untuk menyembuhkannya. Tapi, sang ayah itu tidak ingin minta tolong ke dokter. Loh, terus minta tolong siapa? Siapa lagi, ya, yang bisa menyembuhkan orang sakit selain dokter?
(Pamong menunjukkan Gambar 3)
Ternyata ayahnya ingin minta tolong ke Yesus. Sang ayah berjalan kaki sangat jauh, dari rumahnya di Kapernaum menuju ke Kana untuk menemui Yesus. Anaknya yang sakit tetap ada di rumah. Gambar ini adalah saat ayah itu minta tolong pada Tuhan Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Yesus tidak memeriksa anaknya dan tidak memberi obat. Tuhan Yesus menyembuhkan anak itu dari jarak jauh dengan berkata, “Pergilah, anakmu hidup!”. Wah, Tuhan Yesus hebat banget ya?
(Pamong menunjukkan Gambar 4)
Sepanjang perjalanan pulang, ayah itu terus menerus mengingat apa yang dikatakan Yesus, “Pergilah, anakmu hidup!”. Dia merasa lega dan tidak bersedih lagi. Setelah sampai di rumah, ternyata anak itu benar telah sembuh dan tidak meninggal. Sang ayah tidak lagi sedih sekarang. Ia sangat senang karena Yesus telah menyembuhkan anaknya. Coba bagaimana wajahnya kalau sedang senang?
Penerapan
Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus,
Pegawai istana terus mengingat perkataan Yesus, “Pergilah, anakmu hidup!”. Itulah yang membuat hatinya lega dan tidak bersedih lagi. Ia percaya, jika Tuhan Yesus berkata anaknya hidup maka anaknya pasti akan hidup, tidak mati seperti yang ia takutkan. Itulah sebabnya, kita harus terus mengingat apa yang dikatakan Tuhan melalui Firman Tuhan. Mengingat Firman Tuhan menolong kita untuk bisa melakukan hal yang baik dan benar.
Coba saya ingin tahu, minggu lalu cerita Alkitabnya tentang siapa? Hayo … siapa yang masih ingat. Terus, minggu lalunya lagi tentang apa? (jika anak-anak lupa, pamong bisa membantu mengingatkan). Jadi mulai sekarang, setiap kali mengikuti Ibadah Anak, kalian bisa membawa alat tulis dan buku ya, untuk mencatat cerita Alkitabnya. Siap, kan anak-anak?
Aktivitas: Membuat Piring Kertas Ekspresi.
Alat dan bahan : piring kertas diameter 14-15 cm, cutter, penggaris, krayon, gunting, kertas asturo berwarna putih dan warna lainnya, lem, gunting.
Untuk Persiapan dan Cara membuatnya, Pamong dapat melihat pada Aktivitas Balita
TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA
Tujuan:
- Anak dapat menceritakan kembali kisah pegawai istana yang mengingat ucapan Yesus bahwa anaknya akan hidup.
- Anak dapat menyebutkan bacaan Alkitab mulai awal bulan ini.
- Anak dapat membiasakan diri mencatat firman Tuhan yang baru saja didengarnya.
Alat Peraga: Pamong menyiapkan alat peraga gambar yang terdapat pada Peraga Balita
Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus.
Siapa di sini yang pernah sakit? Coba tunjuk jari. Sepertinya semua pernah sakit ya. Sakit apa saja yang pernah anak-anak alami? (Pamong bertanya pada beberapa anak dengan memanggil namanya, misalnya : Tedi, pernah sakit apa? Theo, pernah sakit apa?). Biasanya, apa yang dilakukan ayah dan ibu supaya anak-anak cepat sembuh? Iya, periksa ke dokter. Nah, di Alkitab ada juga kisah tentang anak yang sakit keras dan hampir meninggal.
Mari kita buka dan baca Yohanes 4 : 46 -54. (Minta anak-anak membaca satu per satu ayat bergantian).
Inti Penyampaian
Sekarang, kakak punya empat gambar yang menceritakan cerita Alkitab yang kita baca barusan.
(Pamong menunjukkan Gambar 1)
Siapa yang bisa menceritakan gambar ini? (pada setiap gambar, minta anak-anak bercerita terlebih dulu sebelum akhirnya pamong menjelaskan).
Ini adalah anak yang sakit itu. Anaknya sudah sangat lemah, tidak bisa bangun, berjalan, apalagi bermain. Kasihan ya? Lalu yang di sebelahnya itu adalah ayahnya. Ayahnya adalah seorang pegawai istana, jadi setiap hari dia bekerja di istana.
(Pamong menunjukkan Gambar 2)
Ini adalah wajah ayahnya dari dekat. Kira-kira ayahnya ini sedang apa ya? Sedang senang atau sedih? Iya betul, sangat sedih. Sang ayah ingin sekali anaknya sembuh, makanya ia ingin meminta tolong Seseorang untuk menyembuhkannya. Tapi, sang ayah itu tidak ingin minta tolong ke dokter. Loh, terus minta tolong siapa? Siapa lagi, ya, yang bisa menyembuhkan orang sakit selain dokter?
(Pamong menunjukkan Gambar 3)
Ternyata ayahnya ingin minta tolong ke Yesus. Sang ayah berjalan kaki sangat jauh, dari rumahnya di Kapernaum menuju ke Kana untuk menemui Yesus. Jaraknya sekitar 25 km. Wah, itu seperti jarak dari gereja kita ke mana ya? Anaknya yang sakit tetap ada di rumah. Gambar ini adalah saat ayah itu minta tolong pada Tuhan Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Yesus tidak memeriksa anaknya dan tidak memberi obat. Tuhan Yesus menyembuhkan anak itu dari jarak jauh dengan berkata, “Pergilah, anakmu hidup!”. Wah, Tuhan Yesus hebat banget ya?
(Pamong menunjukkan Gambar 4)
Sepanjang perjalanan pulang, ayah itu terus menerus mengingat apa yang dikatakan Yesus, “Pergilah, anakmu hidup!”. Dia merasa lega dan tidak bersedih lagi. Setelah sampai di rumah, ternyata anak itu benar telah sembuh dan tidak meninggal. Sejak saat itu, pegawai istana dan seluruh keluarganya menjadi percaya pada Yesus.
Penerapan
Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus,
Pegawai istana terus mengingat perkataan Yesus, “Pergilah, anakmu hidup!”. Itulah yang membuat hatinya lega dan tidak bersedih lagi. Ia percaya, jika Tuhan Yesus berkata anaknya hidup maka anaknya pasti akan hidup, tidak mati seperti yang ia takutkan. Itulah sebabnya, kita harus terus mengingat apa yang dikatakan Tuhan melalui Firman Tuhan. Mengingat Firman Tuhan menolong kita untuk bisa melakukan hal yang baik dan benar.
Coba saya ingin tahu, minggu lalu cerita Alkitabnya tentang siapa? Hayo … siapa yang masih ingat. Terus, minggu lalunya lagi tentang apa? (jika anak-anak lupa, pamong bisa membantu mengingatkan). Jadi mulai sekarang, setiap kali ikut Ibadah Anak, kalian membawa alat tulis dan buku ya, untuk mencatat cerita Alkitabnya. Siap, kan anak-anak?
Aktiivitas: Permainan Kentang Panas
Peralatan: bola isi atau bola kain yang lembut.
Persiapan : beri anak-anak waktu untuk menghafalkan firman Tuhan, “Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.” (Yudas 1 : 17).
Cara Bermain :
Mintalah anak-anak untuk duduk membentuk lingkaran. Berikan bola plastik (kentang panas) kepada seorang anak untuk mulai mengopernya mengelilingi lingkaran. Setiap kali bola diterima oleh anak, semua anak mengucapkan satu kata dari ayat hafalan.
Mulailah dengan perlahan untuk latihan (pamong dapat mengatakan bahwa kentang belum panas). Jika anak-anak sudah mulai menghafal, maka artinya kentang sudah panas. Permainan oper bola menjadi semakin cepat dan ayat yang diucapkan juga harus cepat dan benar.
Pelajaran: Kita akan menghafal Alkitab dengan mudah jika sering membaca dan mengulangnya.