Memilih untuk Mendengarkan Tuntunan Ibadah Anak 11 September 2022

Tahun Gerejawi: Bulan Kitab Suci
Tema: Sikap : Mendengar

Bacaan: Kisah Para Rasul 16 : 13 – 18
Ayat Hafalan:Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” (Matius 13 : 16)

Lagu: Firman Tuhan Kudengar

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Dalam perjalanan misionarisnya yang kedua, Rasul Paulus meninggalkan Asia dan menyeberang ke Eropa. Paulus pergi bersama Silas, Timotius dan mungkin juga Lukas (pengarang Kisah Para Rasul). Sampailah mereka di wilayah Makedonia. Perjalanan ditempuh melalui Samotrake, lalu keesokan harinya menuju Neapolis dan akhirnya tiba di kota Filipi. Filipi adalah koloni atau daerah jajahan Roma yang berada di Timur-laut Makedonia, sebagian besar dihuni oleh prajurit pensiunan Roma. Filipi adalah tempat pertama Paulus mengabarkan Injil di Eropa.

Paulus mendatangi tempat-tempat yang diduga menjadi tempat berkumpulnya orang Yahudi untuk sembahyang, lalu memberitakan Injil di sana. Rasul Paulus memberitakan Injil pada perkumpulan para wanita, di mana salah satunya ada yang bernama Lidia. Ia adalah seorang wanita penjual kain ungu. Kain ungu yang ia jual berasal dari Tiatira, kota asalnya. Lidia mendengarkan apa yang disampaikan Paulus dengan seksama, sampai akhirnya Tuhan membuka hatinya. Lidia dibaptis bersama orang-orang seisi rumahnya. Jika Lidia adalah seorang pengusaha kain yang kaya, maka seisi rumah yang dimaksud mungkin juga mencakup beberapa hamba yang bekerja padanya. Lidia sangat murah hati dalam memakai kekayaannya untuk mendukung pelayanan Paulus.

Di antara pilihan untuk menolak atau menerima ajaran Paulus, Lidia memilih untuk mendengar dan menerimanya. Berawal dari situ, selanjutnya jemaat di Filipi terus bertumbuh dan berkembang. Dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, tertulis bahwa jemaat Filipi adalah satu-satunya yang membantu pelayanan Paulus dalam hal keuangan meskipun Paulus sudah meninggalkan jemaat itu (Filipi 4 : 14 – 19).

Refleksi Untuk Pamong :
Mendengar adalah pekerjaan yang mudah, tapi nyatanya tidak semua orang suka melakukannya. Beberapa orang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan. Jika memang harus mendengar, mungkin orang lebih suka mendengar apa yang memang ingin di dengar saja. Umumnya, seorang Yahudi seperti Lidia akan menolak mendengarkan ajaran Kristus karena itu tidak sesuai dengan yang ia yakini saat itu. Tapi ternyata, Lidia memilih untuk duduk, diam dan mendengarkan dengan sungguh sehingga Roh Kudus leluasa untuk bekerja.

Di tengah kesibukan kita sehari-hari, sangat penting untuk sejenak duduk, diam dan mendengarkan apa yang menjadi kehendak Tuhan karena yang dikehendaki Tuhan adalah anak-anak-Nya mendengar dan memahami firman Tuhan, lalu berbuah dan menjadi lebat.


TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA

Tujuan:  Anak dapat menceritakan kembali kisah Lidia sebagai tokoh yang mau mendengarkan panggilan Tuhan.

Alat Peraga: Pamong menyiapkan alat peraga berupa kerudung dan/atau baju berwarna ungu.

Pendahuluan
(Seorang pamong perempuan bermain peran menjadi Lidia dengan memakai kerudung dan/atau baju berwarna ungu. Jika diperlukan, bisa ditambahkan aksesoris lain yang mendukung keberadaan Lidia sebagai seorang wanita kaya dan baik hati. Seorang pamong yang lain bertindak sebagai narator).

Lidia: Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus. Perkenalkan nama saya Lidia. Siapa? (Lidia). Iya, betul. Saya berasal dari kota Tiatira. Apa ada yang tahu, kota Tiatira terletak dimana? Kalau sekarang namanya menjadi kota Akhisar, yang terletak di negara Turki. Sehari-hari, saya berjualan kain ungu. Sebentar ya, saya mau mendengarkan Rasul Paulus berbicara tentang Firman Tuhan. Anak-anak juga duduk manis dan mendengarkan ya.

(Isi dialog dapat dikembangkan sesuai kreativitas pamong).

Narator:   (Lidia memperagakan apa yang dikatakan oleh narator). Lidia adalah wanita yang baik hati. Ia sangat senang mendengarkan ajaran Rasul Paulus tentang Injil. Ia selalu mendengarkan dengan duduk manis, diam dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Roh Kudus bekerja atas dia. Setelah itu ia menerima baptisan dari Rasul Paulus dan menjadi orang Kristen.

Inti Penyampaian
Wah…beri tepuk tangan dulu anak-anak, untuk siapa nama perempuan tadi? (Lidia). Iya tepuk tangan untuk Lidia. Lidia tadi asalnya dari kota mana ya? Lalu pekerjaannya apa ya? Tadi saat Rasul Paulus berbicara tentang Injil, bagaimana sikap Lidia? Lidia tidak mendengarkan ya? Atau berbicara sendiri? Oh… tidak begitu ya. Lidia duduk, diam dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

(Pamong memberi kesempatan anak-anak untuk bercerita dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pamong tersebut).

Setelah mendengarkan ajaran Paulus, akhirnya Lidia dan semua keluarganya dibaptis dan menjadi orang Kristen. Sikap Lidia itu tentu saja membuat Tuhan sangat senang.

Penerapan
Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus,

Hari ini, kita sudah belajar dari Lidia, yaitu belajar tentang bagaimana sikap kita seharusnya saat ada yang menyampaikan Firman Tuhan. Bagaimana sikap yang baik? Iya, duduk, diam dan mendengarkan. Jika kita mendengarkan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan menolong kita untuk bisa menjadi anak yang baik dan membuat Tuhan senang.

Aktivitas: Membuat anyaman dari kain ungu, untuk mengingat tentang Lidia yang menenun dan menjual kain ungu.

Alat dan bahan : kain flanel/kertas asturo, lem, gunting.

  1. Pamong menyiapkan dua buah kain flanel/kertas asturo berwarna gradasi ungu.
  2. Salah satu flanel/asturo dipotong berukuran 16×12 cm. Buat celah secara horisontal dengan jarak 2cm, dengan menyisakan bingkai di sekeliling flanel/asturo selebar 2cm. Masing-masing anak menerima satu potong.
  3. Potong flanel/asturo satunya lagi menjadi berukuran 2×12 cm. Masing-masing anak menerima enam potong.
  4. Oleskan lem pada ujung flanel/asturo. Atau, biarkan tanpa perekat supaya anak-anak dapat menganyam berulang-ulang.
  5. Ajak anak-anak untuk memasukkan satu per satu potongan flanel/kain (poin c) ke dalam celah potongan flanel/asturo yang besar (poin b) secara vertikal.

TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA

Tujuan:

  1. Anak dapat menceritakan kembali kisah Lidia sebagai tokoh yang mau mendengarkan panggilan Tuhan.
  2. Anak dapat menyebutkan sikap yang baik ketika mendengar Firman Tuhan.
  3. Anak dapat membiasakan diri bersikap baik ketika mendengar Firman Tuhan.

Alat Peraga: Pamong menyiapkan alat peraga berupa kerudung dan/atau baju berwarna ungu.

Pendahuluan
(Seorang pamong perempuan bermain peran menjadi Lidia dengan memakai kerudung atau baju berwarna ungu. Jika diperlukan, bisa ditambahkan aksesoris lain yang mendukung keberadaan Lidia sebagai seorang wanita kaya dan baik hati. Seorang pamong lagi bertindak sebagai narator).

Lidia: Ya, betul. Saya berasal dari kota Tiatira. Apa ada yang tahu, kota Tiatira terletak dimana? Kalau sekarang namanya menjadi kota Akhisar, yang terletak di negara Turki. Sehari-hari, saya berjualan kain ungu. Sebentar ya, saya mau mendengarkan Rasul Paulus berbicara. Anak-anak juga duduk manis dan mendengarkan ya.

(Isi dialog dapat dikembangkan sesuai kreativitas pamong).

Narator: (Lidia memperagakan apa yang dikatakan oleh narator). Lidia adalah wanita yang baik hati. Ia sangat senang mendengarkan ajaran Rasul Paulus tentang Injil. Ia selalu mendengarkan dengan duduk manis, diam dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Roh Kudus bekerja atas dia. Setelah itu ia menerima baptisan dari Rasul Paulus dan menjadi orang Kristen.

Inti Penyampaian
Wah…beri tepuk tangan dulu anak-anak, untuk siapa nama perempuan tadi? (Lidia). Iya tepuk tangan untuk Lidia. Lidia tadi asalnya dari kota mana ya? Lalu pekerjaannya apa ya? Tadi saat Rasul Paulus berbicara tentang Injil, bagaimana sikap Lidia? Lidia tidak mendengarkan ya? Atau berbicara sendiri? Oh… tidak begitu ya. Lidia duduk, diam dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

(Pamong memberi kesempatan anak-anak untuk bercerita dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pamong tersebut).

Setelah mendengarkan ajaran Paulus, akhirnya Lidia dan semua keluarganya dibaptis dan menjadi orang Kristen. Sikap Lidia itu tentu saja membuat Tuhan sangat senang.

Kisah ini selengkapnya bisa dibaca di Kisah Para Rasul 17 : 13 – 15 (khusus jenjang pratama hanya sampai ayat 15).

Penerapan
Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus,

Hari ini, kita sudah belajar dari Lidia, yaitu belajar tentang bagaimana sikap kita seharusnya saat ada yang menyampaikan Firman Tuhan. Bagaimana sikap yang baik? Iya, duduk, diam dan mendengarkan. Jika kita mendengarkan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan menolong kita untuk bisa menjadi anak yang baik dan membuat Tuhan senang.

Aktivitas
Membuat anyaman dari kain ungu, untuk mengingat tentang Lidia yang menenun dan menjual kain ungu.

Adapun alat dan bahan serta cara membuatnya dapat dilihat pada Aktivitas Balita


TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA

Tujuan:

  1. Anak dapat menunjukkan sikap Lidia ketika mendengar Firman Tuhan.
  2. Anak dapat menyebutkan sikap yang baik ketika mendengar Firman Tuhan.
  3. Anak dapat menyebutkan hambatan untuk bersikap baik dalam mendengar Firman Tuhan.
  4. Anak dapat membiasakan diri bersikap baik ketika mendengarkan firman Tuhan.

Alat Peraga: Pamong menyiapkan alat peraga berupa kerudung dan/atau baju berwarna ungu.

Pendahuluan
(Seorang pamong perempuan bermain peran menjadi Lidia dengan memakai kerudung atau baju berwarna ungu. Jika diperlukan, bisa ditambahkan aksesoris lain yang mendukung keberadaan Lidia sebagai seorang wanita kaya dan baik hati. Seorang pamong lagi bertindak sebagai narator).

Lidia: Selamat pagi anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus. Perkenalkan nama saya Lidia. Siapa? (Lidia). Iya, betul. Saya berasal dari kota Tiatira. Apa ada yang tahu, kota Tiatira terletak dimana? Kalau sekarang namanya menjadi kota Akhisar, yang terletak di negara Turki. Sehari-hari, saya berjualan kain ungu. Sebentar ya, saya mau mendengarkan Rasul Paulus berbicara. Anak-anak juga duduk manis dan mendengarkan ya.

(Isi dialog dapat dikembangkan sesuai kreativitas pamong).

Narator: (Lidia memperagakan apa yang dikatakan oleh narator). Lidia adalah wanita yang baik hati. Ia sangat senang mendengarkan ajaran Rasul Paulus tentang Injil. Ia selalu mendengarkan dengan duduk manis, diam dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Roh Kudus bekerja atas dia. Setelah itu ia menerima baptisan dari Rasul Paulus dan menjadi orang Kristen.

Inti Penyampaian
Wah…beri tepuk tangan dulu anak-anak, untuk siapa nama perempuan tadi? (Lidia). Iya tepuk tangan untuk Lidia. Lidia tadi asalnya dari kota mana ya? Lalu pekerjaannya apa ya? Tadi saat Rasul Paulus berbicara tentang Injil, bagaimana sikap Lidia? Lidia tidak mendengarkan ya? Atau berbicara sendiri? Oh… tidak begitu ya. Lidia duduk, diam dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

(Pamong memberi kesempatan anak-anak untuk bercerita dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pamong tersebut).

Setelah mendengarkan ajaran Paulus, akhirnya Lidia dan semua keluarganya dibaptis dan menjadi orang Kristen. Sikap Lidia itu tentu saja membuat Tuhan sangat senang.

Kisah ini selengkapnya bisa dibaca di Kisah Para Rasul 17 : 13 – 18. Ayo siapa yang bisa membacakannya?

Penerapan
Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus,

Hari ini, kita sudah belajar dari Lidia, yaitu belajar tentang bagaimana sikap kita seharusnya saat ada yang menyampaikan Firman Tuhan. Bagaimana sikap yang baikr? Iya, duduk, diam dan mendengarkan. Baik itu saat sekolah Minggu, katekisasi, dan lainnya. Bisa ya bersikap seperti itu saat mendengarkan Firman Tuhan? Mungkin akan banyak gangguan atau godaan yang kita temui. Misalnya teman-teman yang berisik sehingga susah mendengar Firman Tuhan atau keinginan untuk segera bermain dengan teman sehingga tidak bisa fokus mendengar. Jika kita mendengarkan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan menolong kita untuk bisa menjadi anak yang baik dan membuat Tuhan senang.

Aktivitas: Bermain “Bisikkan dan Teriakkan!”

  1. Anak-anak dibagi menjadi dua tim. Setiap tim memiliki jumlah anggota yang sama dan semuanya berdiri membentuk barisan.
  2. Pamong 1 dan 2 secara bersamaan membisikkan kalimat “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Matius 13 : 16) kepada orang pertama di tim 1 dan 2, dengan suara lembut/tidak boleh berteriak. Lalu orang pertama membisikkan pada orang kedua, orang kedua kepada orang ketiga, begitu seterusnya. Semua dilakukan dengan cara berbisik. Setiap pembisik berhak membisikkan sebanyak dua kali, tidak boleh lebih.
  3. Jika sudah selesai, maka orang terakhir dari masing-masing tim diminta berhadap-hadapan lalu bersama-sama mengucapkan kalimat yang didengarnya dengan cara berteriak.
  4. Pemenang permainan adalah kelompok yang bisa mengucapkan kalimat dengan benar atau mendekati benar.
  5. Kemudian pamong menanyakan kepada setiap kelompok tentang :
    • Apakah ada kesulitan atau hambatan saat mendengarkan bisikan? Jika ada, apa saja?
    • Bagaimana cara mengatasi kesulitan atau hambatan itu?

Pamong menutup permainan dengan menarik kesimpulan dari hasil jawaban anak-anak. Misalnya, agar bisa mendengar dengan baik maka kita harus bersikap tenang dan fokus.

 

Bagikan Entri Ini: