Sabar, Pasti Bisa! Tuntunan Ibadah Anak 14 Desember 2025

1 December 2025

Tahun Gerejawi: Advent 3
Tema: Bersabar dalam Penantian
Judul: Sabar, Pasti Bisa!

Bacaan: Yakobus 5:7-11
Ayat Hafalan: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”( Roma 12:12)

Lagu Tema: Sabar Dalam Susah Sukarmu

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Yakobus menggunakan beberapa kiasan yang terkait dengan kehidupan petani untuk menggambarkan tantangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini. Petani sangat tekun dalam pekerjaannya di ladang karena ada harapan/impian tentang hasil yang berharga (bernilai) dari tanahnya. Namun dalam penantian akan terwujudnya harapan/impian itu, petani menghadapi ragam tantangan. Setidaknya petani harus sabar menunggu pertumbuhan benih yang ditanam. Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan. Di tengah penantian itu, terkadang petani menghadapi hama dan cuaca buruk. Ada ancaman terhadap pertumbuhan benih/tanaman yang mereka kerjakan. Misalnya ancaman turunnya hujan musim gugur yang dapat merontokkan daun, bunga, dan ranting. Meskipun begitu, mereka tetap mengupayakan yang terbaik sampai menanti masa panen tiba. Mereka tidak pasif dan pasrah pada keadaan, namun terus aktif mengerjakan apa yang menjadi bagian mereka. Petani memiliki mental bersabar dan bertekun dalam pengharapan.

Yakobus menekankan sikap tekun dan bersabar dalam menghadapi berbagai pencobaan sampai waktu kedatangan Tuhan, yang merupakan simbol pengharapan ketika semua penderitaan berakhir. Ini bukan proses yang sebentar dan mudah. Oleh sebab itu, Yakobus mengingatkan kita untuk tidak bersungut-sungut dan saling mempersalahkan saat menghadapi kesulitan/masalah. Belajar untuk melihat penderitaan dari sudut pandang Allah. Yakobus juga mengajak kita untuk belajar dari keteladanan tentang kesabaran dan ketekunan dalam pengharapan dari kehidupan nabi-nabi dan Ayub.

Dalam masa Advent 3 ini, firman Tuhan mengajak kita untuk mempersiapkan diri dalam menantikan kedatangan Tuhan kembali dengan sikap sabar dan tekun dalam pengharapan agar kita tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan. Sabar bukan tanda kelemahan melainkan kekuatan iman.

Refleksi Untuk Pamong
Banyak orang mudah mengeluh, bersungut-sungut dan putus asa saat menghadapi permasalahan atau kesulitan hidup. Sebab manusia cenderung sulit melihat berkat Tuhan di balik suatu permasalahan atau kesulitan tersebut. Padahal, Tuhan dapat menjadikan permasalahan atau kesulitan menjadi cara untuk pertumbuhan rohani dan mengajar kita tentang kehendak-Nya.

Tuhan memampukan para nabi dan Ayub dalam menghadapi penderitaan. Tuhan memampukan orang-orang di sekitar kita saat mereka menghadapi berbagai bentuk “badai kehidupan”. Tuhan juga pasti memampukan kita dalam menghadapi penderitaan sehingga kita tetap bertekun dalam iman, tidak goyah, bersabar, dan bertahan.


TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA

Tujuan:

  1. Anak memahami bahwa sabar berarti menunggu dengan tenang tanpa marah atau menangis.
  2. Anak dapat menunjukkan sikap sabar saat menunggu giliran bermain atau menerima makanan.

Alat Peraga

  1. Topi caping untuk digunakan pamong ketika menyampaikan Firman Tuhan.
  2. Beberapa polybag:
    1. Polybag kosong
    2. Polybag berisi tanah
    3. Polybag berisi tanaman
  3. Benih dalam plastik kecil (sebaiknya diberi tulisan “BENIH”)
  4. Tanah (media tanam)
  5. Sekop kecil untuk menuang tanah (media tanam) ke polybag kosong
  6. Sekeranjang kecil buah tomat ceri (tomat kecil) atau jeruk
  7. Botol atau karung kecil dengan tulisan “PUPUK”
  8. Alat penyiram tanaman

Pendahuluan
Pamong menggunakan topi caping sambil membawa dan menggunakan alat peraga nomor 2-4 saat menyampaikan Firman Tuhan.
Aku seorang petani. Apakah kalian tahu apa saja yang harus aku lakukan? Ya betul! Sebagai petani, aku harus menyiapkan lahan (tanah) untuk benih atau tanaman yang akan aku tanam (Tunjukkan tanah atau media tanam. Tuangkan tanah/media tanam ke polybag kosong dengan sekop kecil). Aku juga harus menanam benih (Ambil kantong plastik berisi benih, lalu taburkan di atas tanah dalam polybag). Apakah tugasku sebagai petani sudah selesai? Tentu belum! Aku juga harus merawat benih yang aku tanam ini dengan baik. Menyiramnya setiap hari dan memberinya pupuk (ambil alat penyiram tanaman dan botol/karung kecil dengan tulisan PUPUK). Tak lupa aku berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberkati kerja kerasku ini. “Tuhan Yesus, tolong berkati tanah dan benih yang aku tanam ini agar ia dapat tumbuh dengan baik. Amin”. Aku percaya Tuhan Yesus akan mendengarkan doaku. Tanamanku akan tumbuh dengan subur dan berbuah lebat. Kalian tolong doakan aku juga ya agar aku rajin merawat tanamanku ini. Aku menunggu kapan benih itu mengeluarkan daun dan mulai bertumbuh dengan baik. Sepuluh hari, duapuluh hari….wow….benih yang aku tanam, kini sudah bertumbuh dengan baik (Tunjukkan polybag berisi tanaman yang mulai ada daun dan tangkainya)…. Untung aku sabar menunggunya. Aku sangat senang. Apakah kalian juga senang melihat tanamanku mulai bertumbuh?

Kini aku menunggu tanamanku semakin tinggi dan berbuah lebat. Tak lupa aku menyiram dan memberinya pupuk. Lo…apa ini? Ada hewan kecil yang merusak daun-daun tanamanku. Uuuuu….uuuuu…(pamong sedih menangis). Apa yang harus aku lakukan? Ya betul, aku tak boleh lama-lama menangis. Aku harus membuang hewan-hewan pengganggu ini agar tanamanku bisa kembali tumbuh dengan baik. Bagaimana jika kalian memberi aku semangat dengan cara berteriak, “Semangat….Semangat…..Semangat!!” (Sembari anak Balita dan pamong Balita yang lain berteriak memberi semangat, pamong berpura-pura mengambil dan membuah hewan-hewan kecil di dalam polybag). Terima kasih anak-anak dan kakak-kakak pamong.

Apa ini? Ohhhh tidak…..tiba-tiba datang angin sangat kencang (pamong seolah-olah hampir oleng karena angin yang kencang). Angin ini bisa merusak tanamanku juga. Aku harus melakukan sesuatu (pamong melindungi tanamannya). Hufff, akhirnya angin kencang berhenti. Terima kasih Tuhan, tanamanku tidak rusak karena angin yang kencang. Aku pun menunggu panen tiba. Wow….puji Tuhan, tanamanku kini berbuah sangat lebat (pamong mengambil keranjang berisi buah hasil panen). Siapa yang mau merasakan panenku ini?

Jika memungkinkan sediakan potongan berukuran kecil dari buah tersebut untuk bisa dinikmati oleh balita yang mau mencobanya. Berikan kesempatan kepada mereka untuk memakan dan merasakan buah tersebut. Jika semuanya sudah selesai, pamong bisa melanjutkannya dengan menyampaikan pesan Firman Tuhan hari ini.

Inti Penyampaian
(Pamong melepaskan topi caping)

Hmmm nikmat sekali ya jika panen tiba. Petani itu bisa memanen hasil tanamannya. Apakah petani itu hanya berdoa tanpa bekerja keras? Tentu tidak! Petani itu bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia juga sangat sabar menghadapi masalah-masalah yang muncul. Apakah kamu ingat apa saja masalah yang dihadapai petani tadi? Ya, betul. Petani tadi harus sabar membuang hewan-hewan kecil yang merusak tanamannya. Juga saat angin kencang datang, petani tadi terus berusaha keras melindungi tanamannya. Jika petani tadi malas dan tidak mau sabar, maka ia tidak akan bisa panen dengan baik. Petani tadi tidak mudah mengeluh, bersungut-sungut (ngomel-ngomel) dan putus asa saat menghadapi permasalahan atau kesulitan. Ia tetap berdoa kepada Tuhan karena yakin bahwa Tuhan akan menolongnya. Sikap sabar membuat kita berhasil.

Yuk ikuti perkataan kakak pamong, ya.  Roma 12:12, ““Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa” (ulangi beberapa kali, jika memungkinkan dengan gerakan sederhana)

Penerapan
Tuhan ingin kita SABAR, tetap tenang, dan berdoa saat kita menghadapi kesulitan. Saat kamu kesulitan menyusun balok mainan atau menyusun potongan puzzle, katakan pada dirimu, “Aku bisa SABAR”. Saat kamu harus menunggu mama membuat botol susu atau mengambil makananmu, katakan pada dirimu, “Aku bisa SABAR”.  Saat kamu harus menunggu antrian atau giliran, katakan pada dirimu, “Aku bisa SABAR”.

Aktivitas
Mewarnai tulisan “saya sabar”


TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA

Tujuan:

  1. Anak dapat menyebutkan bahwa Tuhan mengajarkan kita untuk bersabar.
  2. Anak dapat membedakan antara orang yang sabar dan yang suka mengeluh.

Pendahuluan
Membuat cerita dari gambar-gambar yang ada tentang “Gara-gara Ruka Tidak Sabar”

  1. Arahkan anak Pratama membuat beberapa kelompok, jika memungkinkan 4-5 orang tiap kelompok.
  2. Bagikan gambar-gambar (terlampir), kertas HVS, dan alat tulis untuk tiap kelompok
  3. Arahkan anak Pratama untuk berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing agar mereka dapat mengarang dan menuliskan cerita tentang tema ““Gara-gara Ruka Tidak Sabar”
  4. Berikan kesempatan untuk tiap kelompok mempresentasikan cerita karangannya.

Inti Penyampaian
Ruka dalam cerita yang kita diskusikan tadi di kelompok masing-masing, hanyalah salah satu contoh tentang pentingnya memiliki sikap SABAR. Terkadang kita juga merasa sulit untuk SABAR ketika menunggu sesuatu. Karena tidak SABAR, kita melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri dan juga merugikan orang lain. Menyesal ketika akibat dari perbuatan kita telah terjadi, namun kita tidak bisa memutar ulang waktu yang sudah berlalu.

Hari ini Firman Tuhan mengingatkan kita melalui bacaan Yakobus 5:7-11. Yuk kita membacanya secara bergantian. Yakobus menekankan sikap tekun dan bersabar dalam menghadapi berbagai pencobaan (kesulitan/masalah) sampai waktu kedatangan Tuhan, yang merupakan simbol pengharapan ketika semua penderitaan berakhir. Ini bukan proses yang sebentar dan mudah.

Ketika kita tidak sabar, kita mudah untuk bersungut-sungut, mengeluh, dan saling mempersalahkan saat menghadapi kesulitan/masalah. Yakobus mengajak kita untuk belajar melihat bahwa kesulitan/masalah yang sedang kita alami, bisa dipakai Tuhan Allah untuk membuat kita menjadi anak yang lebih tangguh, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab.

Yakobus juga mengajak kita untuk belajar dari petani yang sabar saat bekerja sampai menanti panen tiba. Dalam penantian itu (mulai proses menanam sampai menunggu panen), petani menghadapi ragam tantangan. Setidaknya petani harus sabar menunggu pertumbuhan benih yang ditanam. Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan. Di tengah penantian itu, terkadang petani menghadapi hama dan cuaca buruk. Ada ancaman terhadap pertumbuhan benih/tanaman yang mereka kerjakan. Misalnya ancaman turunnya hujan musim gugur yang dapat merontokkan daun, bunga, dan ranting. Meskipun begitu, mereka tetap mengupayakan yang terbaik sampai menanti masa panen tiba. Mereka tidak pasif dan pasrah pada keadaan, namun terus aktif mengerjakan apa yang menjadi bagian mereka. Petani memiliki mental bersabar dan bertekun dalam pengharapan. Kesabaran yang dimiliki petani membuat mereka bisa menikmati hasil kerja kerasnya.

Penerapan
Apakah kamu punya pengalaman saat bersikap tidak sabar? Atau saat temanmu ada yang bersikap tidak sabar? Apa yang dapat kamu pelajari dari peristiwa itu? Ya tentu! Betapa pentingnya dalam kehidupan ini memiliki sikap SABAR. Masalah yang terjadi dapat kita atasi dengan baik ketika kita memiliki sikap sabar. Sabar membuat kita tidak mudah mengeluarkan kata-kata yang sifatnya mengeluh. Akhirnya kita menjadi anak yang tidak bersyukur. Sabar juga membuat kita menjadi anak yang tidak mudah mempersalahkan/menuduh orang lain atau keadaan.
“Ini semua gara-gara mama sehingga kita telat membeli tiket bioskop”.
“Mainan ini jelek, murahan. Rodanya tidak bisa dipasang lagi”


TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA

Tujuan:

  1. Anak dapat membedakan sikap sabar dan tidak sabar dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Anak dapat mengevaluasi apakah mereka lebih sering bersabar atau lebih sering mengeluh.

Pendahuluan
Membuat cerita dari gambar-gambar yang ada tentang “Gara-gara Ruka Tidak Sabar”

  1. Arahkan anak Madya membuat beberapa kelompok, jika memungkinkan 4-5 orang tiap kelompok.
  2. Bagikan gambar-gambar (terlampir), kertas HVS, dan alat tulis untuk tiap kelompok
  3. Arahkan anak Madya untuk berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing agar mereka dapat mengarang dan menuliskan cerita tentang tema ““Gara-gara Ruka Tidak Sabar”
  4. Berikan kesempatan untuk tiap kelompok mempresentasikan cerita karangannya.

Inti Penyampaian
Ruka dalam cerita yang kita diskusikan tadi di kelompok masing-masing, hanyalah salah satu contoh tentang pentingnya memiliki sikap SABAR. Terkadang kita juga merasa sulit untuk SABAR ketika menunggu sesuatu. Karena tidak SABAR, kita melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri dan juga merugikan orang lain. Menyesal ketika akibat dari perbuatan kita telah terjadi, namun kita tidak bisa memutar ulang waktu yang sudah berlalu.

Hari ini Firman Tuhan mengingatkan kita melalui bacaan Yakobus 5:7-11. Yuk kita membacanya secara bergantian. Yakobus menekankan sikap tekun dan bersabar dalam menghadapi berbagai pencobaan (kesulitan/masalah) sampai waktu kedatangan Tuhan, yang merupakan simbol pengharapan ketika semua penderitaan berakhir. Ini bukan proses yang sebentar dan mudah.

Ketika kita tidak sabar, kita mudah untuk bersungut-sungut, mengeluh, dan saling mempersalahkan saat menghadapi kesulitan/masalah. Yakobus mengajak kita untuk belajar melihat bahwa kesulitan/masalah yang sedang kita alami, bisa dipakai Tuhan Allah untuk membuat kita menjadi anak yang lebih tangguh, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab.

Yakobus juga mengajak kita untuk belajar dari petani yang sabar saat bekerja sampai menanti panen tiba. Dalam penantian itu (mulai proses menanam sampai menunggu panen), petani menghadapi ragam tantangan. Setidaknya petani harus sabar menunggu pertumbuhan benih yang ditanam. Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan. Di tengah penantian itu, terkadang petani menghadapi hama dan cuaca buruk. Ada ancaman terhadap pertumbuhan benih/tanaman yang mereka kerjakan. Misalnya ancaman turunnya hujan musim gugur yang dapat merontokkan daun, bunga, dan ranting. Meskipun begitu, mereka tetap mengupayakan yang terbaik sampai menanti masa panen tiba. Mereka tidak pasif dan pasrah pada keadaan, namun terus aktif mengerjakan apa yang menjadi bagian mereka. Petani memiliki mental bersabar dan bertekun dalam pengharapan. Kesabaran yang dimiliki petani membuat mereka bisa menikmati hasil kerja kerasnya.

Penerapan
Apakah kamu punya pengalaman saat bersikap tidak sabar? Atau saat temanmu ada yang bersikap tidak sabar? Apa yang dapat kamu pelajari dari peristiwa itu? Ya tentu! Betapa pentingnya dalam kehidupan ini memiliki sikap SABAR. Masalah yang terjadi dapat kita atasi dengan baik ketika kita memiliki sikap sabar. Sabar membuat kita tidak mudah mengeluarkan kata-kata yang sifatnya mengeluh. Akhirnya kita menjadi anak yang tidak bersyukur. Sabar juga membuat kita menjadi anak yang tidak mudah mempersalahkan/menuduh orang lain atau keadaan.

Aktivitas
Membuat refleksi pribadi tentang pengalaman saat menghadapi suatu peristiwa tidak menyenangkan/sulit:
“Apakah aku lebih sering bersikap tidak sabar atau bersikap sabar?”
“Apa yang harus aku perbaiki agar aku menjadi anak yang lebih sabar?”

Contoh pola

  1. Siapkan kertas origami atau kertas buffalo berwarna hitam. Juga kertas bergaris dan alat tulis untuk tiap anak.
  2. Sediakan lem atau double tape untuk menempel kertas bergaris pada kertas berwarna hitam
  3. Arahkan anak Madya untuk membuat refleksi diri secara pribadi lalu arahkan mereka untuk menempelkan kertas folio berwarna putih tersebut di atas kertas berwarna hitam.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak