Maafkan Aku Tuntunan Ibadah Anak 13 Maret 2022

28 February 2022

Tahun Gerejawi: Pra Paskah II.
Tema: Mengakui Kesalahan.

Bacaan: Lukas 15:11-24

Ayat Hafalan:Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Lagu: Kidung Ria 128 : Kasih Pasti Lemah Lembut

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15:11-24 mengambil dua peran sentral. Anak sulung dan anak bungsu. Anak bungsu mewakili anak yang ceroboh, bahkan meminta hak kekayaan lebih dulu, padahal ayah/bapak (dalam teks disebut bapa) masih hidup. Hal ini sama saja bahwa anak bungsu berharap ayahnya sudah tiada atau tidak menghiraukan/mengakui keberadaan bapa. Anak sulung mewakili anak yang memiliki segala sesuatu dan tinggal dalam lingkup bapa.

Anak bungsu meminta kekayaannya dan menghabiskan warisan bapanya. Setelah habis kekayaannya anak bungsu ini menyadari bahwa cara hidupnya dengan pergi dan tidak mengakui dan tinggal di dalam bapa adalah cara hidup yang salah. Anak bungsu pulang dan bertobat. Sang bapa menyambut kembali kepulangan anak bungsu. Sang bapa membuat pesta demi menyambut kedatangan anak bungsu. Anak sulung merasa cemburu, karena selama dia tinggal bersama bapa, sang bapa tidak pernah melakukan pesta untuk anak sulung. Anak sulung tidak menyadari bahwa segala sesuatu termasuk damai sejahtera sudah ia dapat yakni tinggal bersama sang bapa.

Mengakui kesalahan adalah merupakan kebaikan seperti yang dilakukan oleh anak bungsu. Terkadang masih ada orang yang tidak menghargai pengakuan kesalahan orang lain. Oleh karena itu sikap anak bungsu dan sikap anak sulung perlu dilihat dengan seksama. Mengakui kesalahan dan menghargai pengakuan kesalahan adalah keharusan. Percuma kita bisa mengakui kesalahan diri sendiri namun tidak bisa menghargai pengakuan kesalahan orang lain. Percuma juga kita bisa menghargai pengakuan kesalahan orang lain namun tidak bisa mengakui kesalahan diri sendiri.

Refleksi Pamong:
Ada 3 kata yang harus diketahui dan dilakukan oleh anak-anak yaitu MAAF, MINTA TOLONG dan TERIMAKASIH. Dengan ketiga kata itu anak-anak akan diingatkan untuk mengakui kesalahannya dan juga menghargai orang lain. Hal inilah yang bisa dipelajari dari cerita anak bungsu dan anak sulung hari ini. Saat pamong mengajarkan ketiga kata itu kepada anak-anak, terlebih dahulu pamong harus melakukannya karena anak-anak adalah peniru yang baik. Pamong tidak perlu merasa malu dan gengsi untuk mengucapkan kata MAAF, MINTA TOLONG dan TERIMAKASIH karena hal itu mengajarkan mengakui kesalahan diri sendiri dan juga menghargai orang lain.


TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA

Tujuan: Anak dapat menceritakan kembali kisah anak bungsu yang mengakui kesalahannya.

Alat Peraga
Siapkan gambar berikut ini (gambar sedih, senang, dan marah). Gambar berikut akan ditempel di stik es krim untuk bercerita.

 

😢 😆 😠

Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak,

Siapa yang pernah berbuat salah kepada papa dan mama? (tunggu jawaban anak-anak). Saat anak-anak berbuat salah apa yang dilakukan? Saat berbuat salah, anak-anak harus meminta maaf (pamong menunjukkan emoticon sedih). Saat anak-anak berbuat salah dan mau meminta maaf tentu papa dan mama merasa senang dan memaafkan anak-anak (pamong menunjukkan emoticon senang).

Inti Penyampaian
Anak-anak, ada lo cerita tentang seorang anak yang berbuat salah kepada bapanya. Siapa yang mau mendengarkan ceritanya? Ayo diperhatikan bersama-sama ya.

Ada seorang bapak yang memiliki 2 orang anak namanya Sulung dan Bungsu. Suatu ketika Bungsu datang kepada bapaknya, sambil merajuk dia berkata “Bapak, bapak yang baik. Aku mau meminta harta bapak yang menjadi bagianku. Boleh ya?”(pamong menunjukkan emoticon senang). Tentu bapaknya sangat kaget sekali mendengar permintaan Bungsu. Tetapi kemudian bapak membagi hartanya kepada Sulung dan Bungsu. Setelah mendapat harta yang banyak, Bungsu lalu pergi dari rumahnya dan menghambur-hamburkan uang yang dimilikinya “ah senang sekali ya punya uang banyak, aku bisa membeli apapun yang kumau, aku bisa mendapatkan apapun yang kumau, aku bisa bersenang-senang. Bahagia sekali rasanya” (pamong menunjukkan emoticon senang).

Anak-anak karena uang yang dimiliki Bungsu hanya dibuat bersenang-senang maka habislah uang itu. Sama seperti kalian kalau punya uang hanya dibuat beli jajan tidak ditabung, tentu habis uangnya, itu juga yang dialami Bungsu. Saat uangnya habis, teman-temannya meninggalkannya, lalu Bungsu bingung karena dia kelaparan. Akhirnya Bungsu berpikiran untuk mencari pekerjaan, dia mendapat pekerjaan menjaga babi. “ah senang sekali melihat babi ini bisa makan, sedang aku kelaparan. Siapa tahu majikanku mau memberi sedikit ampas babi untuk aku makan” (pamong menunjukkan emoticon sedih). Bungsu lalu menemui majikannya untuk meminta ampas babi untuk dimakan. “apa, kamu mau minta ampas babi? Tidak, tidak boleh kamu meminta ampas babi itu. Semua itu untuk makanan babiku, supaya babiku cepat gemuk” (pamong menunjukkan emoticon marah). Bungsu sangat sedih sekali, bahkan meminta ampas babi untuk meredakan laparnya pun tidak boleh. “hu…hu…hu…. disini aku sangat lapar sekali, aku tidak menemukan makanan apapun walaupun sudah bekerja keras. Andaikan aku masih di rumah bapak ku pasti aku tidak akan kelaparan seperti sekarang ini. Kalau aku pulang dan meminta pekerjaan kepada bapakku apakah bisa ya? (pamong menunjukkan emoticon sedih) pikir Bungsu.

Anak-anak, pada akhirnya Bungsu pulang ke rumah bapaknya untuk meminta pekerjaan. Dari jauh Bapak melihat Bungsu, sangat bersukacitalah hati Bapak. Bungsu sujud kepada Bapaknya“Bapak, Bapak, aku minta maaf. Aku telah bersalah, berdosa kepada Bapak. Sekarang aku minta maaf dan ijinkan aku bekerja kepada Bapak” (pamong menunjukkan emoticon sedih). Ternyata Bapaknya menyambut Bungsu dengan gembira bahkan menyiapkan pakaian yang terbaik, cincin dan mengadakan pesta. “Anakku, aku senang sekali kamu akhirnya pulang anakku. Aku memaafkanmu anakku. Mari sini peluklah Bapakmu. Kamu tidak perlu bekerja kepadaku, karena kamu anak yang aku kasihi” (pamong menunjukkan emoticon senang).

Senang sekali ya, akhirnya Bungsu bisa bertemu kembali kepada Bapaknya dan dimaafkan. Eh, tetapi tunggu dulu ada siapa dari jauh yang kelihatan marah itu? Oh ternyata Sulung datang dari ladang dan melihat adiknya datang lalu marah-marah. “Bapak tidak adil kepadaku, aku selalu patuh kepada Bapak, aku membantu Bapak di ladang. Tapi tidak pernah Bapak membuat pesta untuk aku. Sedangkan Bungsu yang sudah membuat Bapak susah malah disambut dan dibuatkan pesta” (pamong menunjukkan emoticon marah. Dengan penuh kesabaran Bapak berkata kepada Sulung “Sulung, anakku. Selama ini kamu selalu bersama Bapak. Apa yang Bapak punya itu juga bisa kamu nikmati. Tetapi adikmu telah menyesali perbuatannya dan sekarang meminta maaf, maka kita harus memaafkannya dan menerimanya kembali” (pamong menunjukkan emoticon senang).

Penerapan
Anak-anak, senang sekali ya akhirnya Bapak dan kedua anaknya bisa berkumpul kembali. Apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini? Saat anak-anak berbuat kesalahan kepada siapapun harus meminta maaf. Saat anak-anak meminta maaf, maka anak-anak akan dimaafkan dengan sukacita. Hubungan akan menjadi baik kembali, tidak ada marah-marahan, tidak ada musuh-musuhan.

Aktivitas
Ajak anak-anak untuk menempel emoticon sedih dan emoticon senang di stik es krim. Pamong bisa menjelaskan bahwa anak-anak dapat menggunakan emoticon sedih saat hendak meminta maaf kepada siapapun. Menggunakan emoticon senang saat memberikan maaf kepada siapapun.


TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA

Tujuan

  1. Anak dapat menceritakan kembali kisah anak bungsu yang mengakui kesalahannya.
  2. Anak dapat menyebutkan cara-cara mengakui kesalahan.
  3. Anak dapat menyebutkan cara-cara mengampuni kesalahan.

Alat Peraga: Alat Peraga sama dengan Jenjang BALITA

Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak,

Siapa yang pernah berbuat salah kepada papa dan mama? (tunggu jawaban anak-anak). Saat anak-anak berbuat salah apa yang dilakukan? Saat berbuat salah, anak-anak harus meminta maaf (pamong menunjukkan emoticon sedih). Saat anak-anak berbuat salah dan mau meminta maaf tentu papa dan mama merasa senang dan memaafkan anak-anak (pamong menunjukkan emoticon senang).

Inti Penyampaian
Anak-anak, ada lo cerita tentang seorang anak yang berbuat salah kepada bapanya. Siapa yang mau mendengarkan ceritanya? Ayo diperhatikan bersama-sama ya.

Ada seorang bapak yang memiliki 2 orang anak namanya Sulung dan Bungsu. Suatu ketika Bungsu datang kepada bapaknya, sambil merajuk dia berkata “Bapak, bapak yang baik. Aku mau meminta harta bapak yang menjadi bagianku. Boleh ya?”(pamong menunjukkan emoticon senang). Tentu bapaknya sangat kaget sekali mendengar permintaan Bungsu. Tetapi kemudian bapak membagi harta nya kepada Sulung dan Bungsu. Setelah mendapat harta yang banyak, Bungsu lalu pergi dari rumahnya dan menghambur-hamburkan uang yang dimilikinya “ah senang sekali ya punya uang banyak, aku bisa membeli apapun yang kumau, aku bisa mendapatkan apapun yang kumau, aku bisa bersenang-senang. Bahagia sekali rasanya” (pamong menunjukkan emoticon senang).

Anak-anak karena uang yang dimiliki Bungsu hanya dibuat bersenang-senang maka habislah uang itu. Sama seperti kalian kalau punya uang hanya dibuat beli jajan tidak ditabung, tentu habis uangnya, itu juga yang dialami Bungsu. Saat uangnya habis, teman-temannya meninggalkannya, lalu Bungsu bingung karena dia kelaparan. Akhirnya Bungsu berpikiran untuk mencari pekerjaan, dia mendapat pekerjaan menjaga babi. “ah senang sekali melihat babi ini bisa makan, sedang aku kelaparan. Siapa tahu majikanku mau memberi sedikit ampas babi untuk aku makan” (pamong menunjukkan emoticon sedih). Bungsu lalu menemui majikannya untuk meminta ampas babi untuk dimakan. “apa, kamu mau minta ampas babi? Tidak, tidak boleh kamu meminta ampas babi itu. Semua itu untuk makanan babiku, supaya babiku cepat gemuk” (pamong menunjukkan emoticon marah). Bungsu sangat sedih sekali, bahkan meminta ampas babi untuk meredakan laparnya pun tidak boleh. “hu…hu…hu…. disini aku sangat lapar sekali, aku tidak menemukan makanan apapun walaupun sudah bekerja keras. Andaikan aku masih di rumah bapak ku pasti aku tidak akan kelaparan seperti sekarang ini. Kalau aku pulang dan meminta pekerjaan kepada bapakku apakah bisa ya? (pamong menunjukkan emoticon sedih) pikir Bungsu.

Anak-anak, pada akhirnya Bungsu pulang ke rumah bapaknya untuk meminta pekerjaan. Dari jauh Bapak melihat Bungsu, sangat bersukacitalah hati Bapak. Bungsu sujud kepada Bapaknya“Bapak, Bapak, aku minta maaf. Aku telah bersalah, berdosa kepada Bapak. Sekarang aku minta maaf dan ijinkan aku bekerja kepada Bapak” (pamong menunjukkan emoticon sedih). Ternyata Bapaknya menyambut Bungsu dengan gembira bahkan menyiapkan pakaian yang terbaik, cincin dan mengadakan pesta. “Anakku, aku senang sekali kamu akhirnya pulang anakku. Aku memaafkanmu anakku. Mari sini peluklah Bapakmu. Kamu tidak perlu bekerja kepadaku, karena kamu anak yang aku kasihi” (pamong menunjukkan emoticon senang).

Senang sekali ya, akhirnya Bungsu bisa bertemu kembali kepada Bapaknya dan dimaafkan. Eh, tetapi tunggu dulu ada siapa dari jauh yang kelihatan marah itu? Oh ternyata Sulung datang dari ladang dan melihat adiknya datang lalu marah-marah. “Bapak tidak adil kepadaku, aku selalu patuh kepada Bapak, aku membantu Bapak di ladang. Tapi tidak pernah Bapak membuat pesta untuk aku. Sedangkan Bungsu yang sudah membuat Bapak susah malah disambut dan dibuatkan pesta” (pamong menunjukkan emoticon marah. Dengan penuh kesabaran Bapak berkata kepada Sulung “Sulung, anakku. Selama ini kamu selalu bersama Bapak. Apa yang Bapak punya itu juga bisa kamu nikmati. Tetapi adikmu telah menyesali perbuatannya dan sekarang meminta maaf, maka kita harus memaafkannya dan menerimanya kembali” (pamong menunjukkan emoticon senang).

Penerapan
Anak-anak, dari cerita ini anak-anak dapat belajar untuk tidak pernah malu mengakui kesalahan saat anak-anak melakukan kesalahan. Mengakui kesalahan dilakukan dengan sikap rendah hati, meminta maaf dan mengakui kesalahan yang diperbuat. Jika anak-anak sudah meminta maaf dan mengakui kesalahan tentu rasanya senang sekali. Demikian juga jika ada yang bersalah lalu meminta maaf dan mengakui kesalahan kepada anak-anak, maka anak-anak harus memaafkan dengan tulus tanpa ada syarat apapun.

Aktivitas: Anak-anak menghubungkan kata “maaf” dari berbagai bahasa daerah di Indonesia.

Suku:

  • Madura
  • Batak
  • Jawa
  • Papua
  • Dayak

Kata:

  • Nyuwun Pangapura
  • Mamayo
  • Santabi
  • Laku Maaf
  • Seporanah

TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA

Tujuan:

  1. Anak dapat menceritakan kembali kisah anak bungsu yang mengakui kesalahannya.
  2. Anak dapat menyebutkan hambatan-hambatan untuk mengakui kesalahan.
  3. Anak dapat membiasakan diri mengakui kesalahan dan menghargai pengakuan.

Alat Peraga

  1. Gambar Pohon
  2. Beberapa Kartu yang berisi kata-kata:
    • Malu
    • Egois
    • Senang
    • Harga Diri
    • Takut
    • Cinta
    • Kesadaran
    • Syukur
    • Hukuman
    • Berkat

Pendahuluan
Anak-anak siapa yang pernah berbuat salah? (tunggu jawaban dari anak-anak). Apa kesalahan yang pernah anak-anak lakukan? (pamong bisa bertanya kepada beberapa anak secara random). Tentu anak-anak tahu saat berbuat kesalahan harus segera meminta maaf dan mengakui kesalahan. Bagaimana cara anak-anak meminta maaf? Tetapi pernahkah anak-anak merasa malu untuk mengakui meminta maaf dan mengakui kesalahan? 

Inti Penyampaian
Anak-anak, hari ini kita membaca dari Lukas 15:11-24 yang menceritakan tentang kisah seorang bapa yang memiliki dua orang anak yaitu Sulung dan Bungsu. Suatu ketika Bungsu meminta bagian hartanya kepada Bapa nya dan kemudian digunakan untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Saat harta yang diberikan Bapa nya habis, si bungsu lalu menderita kelaparan. Dia pernah bekerja menjaga babi. Pada saat dia merasa lapar, dia ingin meminta ampas yang menjadi makanan babi yang dijaganya. Keinginannya itu ditolak oleh majikannya, dia harus menahan laparnya. Di tengah rasa lapar yang dideritanya, Bungsu teringat kepada orang-orang yang bekerja di rumah Bapanya. Bungsu ingin kembali ke rumah Bapanya untuk bekerja di sana dan mendapat makan. Akhirnya dia kembali ke rumah Bapanya, meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Dia meminta untuk dapat bekerja dirumah Bapanya. Tetapi di luar dugaan Sang Bapa memaafkannya, menyediakan pakaian terbaik dan kemudian mengadakan pesta untuknya. Melihat hal itu Sulung marah karena merasa Sang Bapa tidak adil kepadanya, dia merasa bahwa dia telah setia membantu Bapanya tetapi tidak pernah mendapatkan apa-apa dari Bapanya.

Anak-anak, saat di tengah kesusahan Bungsu menyadari kesalahannya lalu mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Bapanya. Mengakui kesalahan dan meminta maaf tentu membutuhkan proses yang tidak mudah. Kita lihat tadi saat Bungsu masih memiliki hartanya dan bisa berfoya-foya, dia tidak menyadari kesalahannya. Tetapi saat dia kesusahan, dia baru menyadari kesalahannya. Akan tetapi dia sangat malu untuk mengakui kesalahannya kepada Bapanya. Dia takut jika Bapanya akan marah kepadanya, seperti halnya kakaknya Sulung yang marah kepadanya. Sehingga saat dia nekad untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan, dia mengatakan tidak layak menjadi anak Sang Bapa dan meminta untuk bekerja kepada Bapanya.

Penerapan
Anak-anak, dari cerita tentang Bapa dan dua orang anaknya (Sulung dan Bungsu). Anak-anak dapat belajar bahwa saat berbuat suatu kesalahan tentunya harus menyadari kesalahan itu dan segera meminta maaf. Tetapi kadang juga ada beberapa perasaan yang menghambat untuk segera meminta maaf, bisa jadi karena malu, takut dimarahi dan takut dihukum. Orang bijak adalah orang yang menyadari kesalahannya, berani mengakuinya, mau memperbaikinya dan mau belajar darinya.

Aktivitas

  1. Bagi anak-anak dalam beberapa kelompok. Satu kelompok bisa terdiri 4-5 anak.
  2. Bagikan gambar pohon dan kartu-kartu yang ada di alat peraga.
  3. Mintalah anak-anak menempelkan di bawah pohon itu hambatan-hambatan apa saja yang seringkali muncul untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.
  4. Mintalah anak-anak berdiskusi dari kartu-kartu yang mereka tempel itu, mengapa hambatan itu bisa muncul dan bagaimana cara mengatasinya?
  5. Berilah waktu masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak