Menghargai Semua Anak-anak Tuhan Tuntunan Ibadah Remaja 9 Juli 2023

26 June 2023

Tahun Gerejawi: Bulan Keluarga
Tema: Karakter Kristiani
Judul: Menghargai Semua Anak-Anak Tuhan.

Bacaan: Lukas 18:15-17
Ayat Hafalan: “Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” (2 Korintus 6:18)

Lagu Tema: Yesus Sayang Semua.

Tujuan:

  1. Anak dapat menjelaskan sikap para murid pada orang tua yang membawa anak-anaknya kepada Yesus.
  2. Anak dapat memberikan penilaian terhadap orang tua yang membawa anak-anaknya yang ribut ketika di gereja
  3. Anak dapat membiasakan diri untuk mendengarkan firman Tuhan bersama keluarga.

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Pada saat itu Tuhan Yesus adalah sosok yang sangat dihormati oleh orang-orang yang telah melihat bahkan menerima mukjizatNya. Demikian juga, secara khusus kedua belas murid Tuhan Yesus sangat menghormati Dia sebagai sosok Guru dan juga Mesias. Sehingga ketika Tuhan Yesus para murid-murid pasti berupaya untuk membantu segala sesuatunya agar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ditengah kerumunan banyak orang yang ingin mendengarkan dan merasakan pelayanan Tuhan Yesus. Ada juga orang-orang yang membawa serta anak-anaknya baik yang masih bayi maupun yang sudah besar. Dalam kehidupan orang Yahudi yang bertugas mengasuh anak-anak adalah ibu-ibu. Ketika ibu-ibu itu terpesona dengan Kuasa Tuhan Yesus, mereka juga memiliki keinginan supaya anak-anaknya diberkati oleh Tuhan Yesus. Akan tetapi belum sampai diberkati oleh Tuhan Yesus, Para MuridNya justru segera memarahi tindakan ibu-ibu yang membawa anak-anak untuk mendekat kepada Tuhan. Para murid sepertinya tidak ingin pelayanan Tuhan Yesus terganggu oleh siapapun, terlebih oleh anak-anak yang bisa menyebabkan suasana menjadi semrawut. Sikap Para Murid itu justru ditegur oleh Tuhan Yesus dan Ia tidak membenarkan sikap tersebut sekalipun mereka adalah para Murid-Nya.

Alasannya sangat jelas, bahwa Tuhan Yesus sangat menghargai anak-anak dan menerima semua orang dari berbagai jenjang usia. Sikap Tuhan Yesus yang menyambut anak-anak gambaran bahwa bahwa anak-anak juga bagian dari Kerajaan Allah atau bagian dari umat yang akan diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus justru menghimbau kepada semua muridNya dan para pendengarNya untuk memiliki sikap seperti anak-anak dalam menyambut Kerajaan Allah yang ditawarkanNya. Oleh karena itu, kehadiran anak-anak pada saat itu justru dipakai sebagai contoh paling luhur untuk bersikap sebagai anggota Kerajaan Allah.

Pendahuluan

  1. Ajak remaja untuk membaca Lukas 18:15-17
  2. Ajak Remaja untuk mengenali dan menyebutkan sifat yang dimiliki anak-anak. Anak-anak yang dimaksud dalam rentan usia 1 tahun sampai 5 tahun.
  3. Ajak Remaja untuk memberikan penilaian terhadap orang tua yang membawa anak-anaknya yang ribut ketika di gereja.
  4. Kemudian berdasarkan bacaan, ajak remaja memberikan penilaian terhadap sikap Para Murid dan apa yang akan mereka lakukan jika mereka ada di tengah-tengah pelayanan Tuhan Yesus.

Cerita
Remaja yang dikasihi Tuhan, pernahkan teman-teman mendengar seseorang bicara demikian kepada seorang anak kecil “Nak kamu di luar aja, ini acaranya orang dewasa nanti kamu ganggu”, “buk anaknya dibawa keluar aja nanti di dalem berisik”, “ boleh di dalem tapi jangan berisik.” Atau pernahkan teman teman melihat ada orang dewasa memarahi anaknya yang masih kecil saat menangis di dalam ibadah? Pastinya kalian pernah mendengar atau jangan-jangan juga pernah kita lakukan sendiri kepada adik-adik kita. Remaja yang terkasih, perlu kita sadari bahwa sebenarnya sikap yang demikian justru menunjukkan kita sebagai orang dewasa yang sedang melakukan pembedaaan terhadap anak-anak. Tapi bukankah anak-anak dan orang dewasa itu memang berbeda? Iya secara fisik dan pola berfikir memang berbeda. Anak-anak itu secara fisik masih kecil, masih lemah, dan cenderung tidak bisa diam, suka lari kesana kemari, dan merepotkan. Anak kecil masih belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, anak kecil masih polos dan tidak pandai membedakan situasi. Sedangkan orang dewasa sudah bisa berfikir mana yang benar dan salah, sudah bisa membaca situasi dan kondisi, sudah bisa besikap benar.

Tetapi kenyataannya masih saja ada orang dewasa yang cenderung memberi penilaian negatif pada anak. Anak-anak terkadang hanya dianggap sebelah mata dan dianggap tidak terlalu penting kehadirannya. Terlebih pada saat ada pertemuan penting atau ibadah yang mayoritas di dalamnya adalah orang dewasa. Maka anak-anak hanya dipandang sebagai penganggu karena bisa memecah konsentrasi atau sumber keberisikan.

Penialian yang negatif terhadap anak-anak bisa menyebabkan orang tua bahkan anak itu sendiri merasa tidak berharga. Jika sikap seperti ini terus-menerus dilestarikan dalam kehidupan bergereja akan berdampak buruk bukan hanya bagi gereja namun juga bagi semua jemaatnya. Sikap demikian bisa membuat gereja menjadi lingkungan yang tidak ramah terhadap anak-anak.

Tuhan Yesus mengajarkan kepada semua muridnya dan semua pendengarnya yang pada saat itu rata-rata adalah orang dewasa untuk bisa bersikap ramah dalam menyambut anak-anak. Sikap Para Murid yang tidak ramah kepada anak-anak dipengaruhi oleh pemahaman Tradisi Yahudi sangat patriakal. Tradisi tersebut menganggap bahwa kaum laki-laki dewasa adalah kaum yang harus diprioritaskan dalam pertemuan-pertemuan, sedangkan perempuan dan anak haruslah dibelakang. Sehingga ketika ada anak-anak mendesak maju, maka selain dianggap menyalahi tradisi, anak-anak juga dianggap menambah semrawut suasana. Para murid menilai keberadaan anak-anak yang diajak mendekat pada Tuhan Yesus justru akan mengganggu, tidak penting, dan orang dewasalah yang lebih penting.

Padahal apabila diperhatikan lagi, sikap ibu-ibu yang membawa anak-anak mendekat kepada Tuhan Yesus adalah sikap yang mulia. Karena ibu-ibu pada saat itu memiliki kesadaran bahwa anak-anak mereka adalah bagian yang penting dalam pelayanan Tuhan Yesus, dan anak-anak pantas untuk mendapat berkat dari Tuhan Yesus. Di sisi lain, orang-orang saat itu percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias, Sang Penyelamat bagi mereka. Oleh karena itu, ibu-ibu juga sangat menginginkan anak-anak mereka juga diselamatkan oleh Tuhan Yesus melalui jamahan berkat Tuhan.

Tuhan Yesus adalah Tuhan yang baik, dan Ia bersikap sungguh ramah kepada semua golongan manusia, besar maupun kecil, tua maupun balita, anak-anak sampai lansia semuanya dicintai oleh Tuhan. Tuhan Yesus menghargai semua manusia dari berbagai kalangan usia, tidak merendahkan atau meremehkan siapapun juga. Kehadiran anak-anak juga berharga di dalam Kerajaan Allah, dan mereka pantas mendapatkan keselamatan yang sama seperti orang dewasa. Sekalipun anak-anak polos dan masih belum bisa menunjukkan sikap yang anteng seperti orang dewasa, namun mereka tetap menjadi anggota Keluarga Allah. Keajaan Allah yang diperkenalkan Tuhan Yesus dalam setiap pelayananNya tidak terbatas hanya untuk orang-orang dewasa yang telah memiliki pemahaman iman dan kedewasaan iman. Namun Kerajaan Allah adalah sebuah rumah yang ramah bagi semua orang dari yang masih kecil sampai dewasa.

Remaja yang dikasihi Tuhan, dari cerita ini kita bukan hanya diajak untuk menghargai adik-adik kita yang masih kecil. Tetapi kita juga tidak boleh meremehkan mereka, maupun memarahi mereka pada saat beribadah. Jika adik-adik kita ada yang ramai saat beribadah, kira-kira kita harus bersikap apa?? (beri waktu bagi remaja untuk menjawab). Mungkin saat ini yang bisa kita lakukan adalah mengingatkan, bukan memarahi, apalagi jangan sampai ada yang melarang mereka ikut beribadah. Mari kita belajar menjadi anak-anak Tuhan yang baik, yang memiliki karakter menghargai semua anak-anak Tuhan, dan tidak merendahkan satu sama lain.

Aktivitas

  1. Ajaklah remaja untuk bermain games menyusun Puzzle yang bergambar tentang Yesus menyayangi semua anak-anak.
  2. Contoh atau cetaklah gambar-gambar seperti gambar ini, gambar ini, atau gambar ini. Kemudian potonglah gambar secara acak seperti puzzle, lalu ajaklah remaja untuk menyusunnya.
  3. Pamong bisa menggunakan satu jenis gambar atau 2 sampai 3 jenis gambar. Lalu pamong juga bisa membentuk remaja menjadi beberapa kelompok untuk menyusun puzzlenya.
  4. Jika jumlah remaja cukup banyak Pamong bisa membentuk beberapa kelompok dan menyediakan beberapa gambar yang berbeda seperti di atas. Lalu setelah gambar dipotong-potong, berikanlah kepada kelompok-kelompok yang ada. Namun potongan puzzle tersebut harus diacak dan isinya berbeda-beda dari kelompok satu ke kelompok berikutnya. Tujuannya adalah, agar para remaja bisa menyusunnya dengan teliti dan mencari bagian puzzle lainnya dari kelompok yang lainnya.

 

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak