Tahun Liturgi: Bulan Kitab Suci
Tema: Cara Menegur Teman (Saudara) yang Sesuai dengan Firman Tuhan (Kitab Suci)
Judul: Menegur ≠ Membuat Malu
Bacaan: Matius 18:15–20
Ayat Hafalan: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)
Lagu: PKJ 265 “Bukan Karena Upahmu”
Tujuan: Secara berkelompok, remaja dapat merancang sebuah “Panduan Komunikasi Damai” dalam bentuk infografis digital yang berisi etika menegur di media sosial sesuai prinsip Alkitab secara kreatif.
Penjelasan Teks
Matius 18:15–20 bisa dikatakan sebagai langkah-langkah untuk menegur atau menasihati seseorang yang bersalah. Pada awalnya, jika ada yang bersalah, ia perlu ditegur secara empat mata. Jika yang bersalah tidak mendengarkan, kita bisa membawa dua orang lagi untuk diajak menjadi saksi. Jika hal demikian sudah dilakukan tetapi orang tersebut masih tidak mendengarkan, kita bisa membawa masalah tersebut ke hadapan jemaat. Tidak berhenti sampai di situ saja, jika sudah dibawa ke hadapan jemaat tetapi yang bersalah tetap tidak mendengarkan, ia bisa dianggap sebagai seseorang yang tidak mengenal Allah (Matius 18:17b).
Dari langkah-langkah menegur tersebut, dapat dilihat bahwa: pertama, orang yang bersalah tidak boleh dibiarkan begitu saja. Seseorang yang bersalah tidak bisa diabaikan, sebab mendiamkannya berarti membiarkan seseorang jatuh tanpa tahu kesalahan yang ia perbuat. Kedua, teguran harus disampaikan dengan cara yang baik—teguran dengan kasih, tidak menghakimi, dan tidak dengan kekerasan.
Pendahuluan
Tanyakan kepada remaja:
- Apakah kalian pernah melihat atau mengetahui seseorang yang melakukan kesalahan?
- Apa yang kalian lakukan jika mengetahui seseorang melakukan sebuah kesalahan?Setelah remaja menjawab dan bercerita tentang pengalamannya terkait dua pertanyaan di atas, ajak mereka untuk melihat bagaimana firman Tuhan mengajarkan kepada kita ketika mendapati saudara, keluarga, atau teman yang melakukan kesalahan.
- Ajak remaja membuka firman Tuhan dari Matius 18:15–20.
Cerita
Teman-teman, ada sebuah cerita tentang seseorang yang sedang makan di sebuah tempat makan dan melihat temannya memiliki noda bekas makanan di wajahnya. Menurut kalian, bagaimana sikap yang tepat yang harus dimiliki teman yang melihatnya tadi?
- Temannya diam saja karena segan, sungkan, atau tidak enak hati untuk menegur atau memberi tahu. Akibat pembiaran ini, teman yang memiliki noda tadi menanggung malu di depan banyak orang yang melihatnya. (Sikap tidak peduli)
- “Wajahmu kotor sekali, jorok sekali kamu!” teriak teman yang tahu tadi. Akibatnya, selain malu, teman yang punya noda tadi menjadi sakit hati. (Sikap menghakimi)
- “Maaf ya, aku harus mengatakan ini. Aku melihat ada sedikit noda kotoran di wajahmu, ini ada tisu yang bisa kamu pakai untuk membersihkan,” ucap si teman dengan baik. (Sikap menegur dengan kasih)
Menurut teman-teman, manakah sikap yang sesuai dengan firman Tuhan hari ini? Ya, benar. Sikap yang ketiga. Sikap yang tidak melakukan pembiaran, tetapi justru memberi tahu dengan cara yang baik. Nah, pernahkah teman-teman melakukan tindakan yang demikian? Jika belum pernah, mari mulai saat ini. Jika ada teman atau saudara yang melakukan tindakan yang kurang baik, kita wajib memberi tahu atau menegur dengan sikap dan cara yang baik.
Aktivitas
- Bagi remaja menjadi beberapa kelompok.
- Secara berkelompok, ajak remaja membuat sebuah “Panduan Komunikasi Damai” dalam bentuk infografis digital yang berisi etika menegur di media sosial sesuai prinsip Alkitab secara kreatif. Panduan Komunikasi Damai dibuat sesuai dengan berita atau situasi yang terjadi di sekitar kehidupan remaja.
- Setelah membuat Panduan Komunikasi Damai, unggah di platform digital gereja atau milik masing-masing remaja.