70 x 7 Tuntunan Ibadah Remaja 13 September 2026

31 August 2026

Tahun Liturgi: Bulan Kitab Suci
Tema: Cara Mengampuni Teman (Saudara) yang Sesuai dengan Firman Tuhan (Kitab Suci)
Judul: 70 x 7

Bacaan: Matius 18:21–35
Ayat Hafalan: Matius 18:22b – “Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Lagu: Melayani Mengampuni Lebih Sungguh

Tujuan: Melalui sesi refleksi hening, remaja dapat menghayati bahwa kegagalan mengampuni akan menjadi penjara bagi diri sendiri, lalu berkomitmen melepaskan pengampunan kepada seseorang yang sulit dimaafkan secara konkret.

Penjelasan Teks
Setelah bertanya jawab mengenai hal menegur saudara yang berbuat dosa, pada perikop selanjutnya yaitu Matius 18:21–35, seorang murid Yesus, Petrus, bertanya kepada Yesus tentang hal mengampuni—tentang berapa banyak harus mengampuni. Pertanyaan Petrus langsung menyebutkan sebuah angka, yaitu apakah pengampunan bisa diberikan sampai tujuh kali? Lalu, Yesus menjawab bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh (Matius 18:22). Hal menarik yang disampaikan Yesus selanjutnya bukan tentang perkara angka atau jumlah pengampunan tadi, melainkan Yesus justru memberikan perumpamaan tentang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

Kisah perhitungan itu dimulai dengan hamba yang memiliki utang sepuluh ribu talenta kepada raja. Sebagai informasi, 1 talenta = seberat 3.000 syikal = kurang lebih 34 kilogram = 6.000 dinar. Maka, 10.000 talenta = 60.000.000 dinar, yang berarti sama dengan 240.000.000 gram perak atau 240 kilogram perak. Ini merupakan jumlah yang sangat besar bagi seorang hamba yang berutang kepada raja. Saat hamba tidak bisa membayar utangnya, hamba itu memohon belas kasih dengan bersujud dan meminta agar raja sabar menunggunya melunasi utang. Karena belas kasih raja, hamba tidak hanya diberi kesempatan waktu untuk melunasi utang, tetapi justru dibebaskan dari utangnya. Akan tetapi, setelah peristiwa itu, hamba yang dibebaskan dari utang tadi justru membuat raja marah. Hamba yang sudah diampuni dan dibebaskan utangnya justru menghukum hamba lain yang tidak bisa membayar utang kepadanya.

Inilah gambaran atau perumpamaan dari Yesus tentang betapa tidak bersyukurnya seorang hamba yang beroleh penebusan. Seorang hamba yang beroleh penebusan seharusnya juga melakukan penebusan atau pengampunan yang sama kepada sesama orang yang berutang atau berdosa, bukan malah menghakimi sesamanya.

Pendahuluan

  • Ajak remaja membaca Matius 18:21–35, dengan pembagian tugas: ada yang membaca sebagai narator dan ada yang membaca sebagai tokoh.
  • Tanyakan kepada remaja apa yang mereka pahami dari cerita yang baru saja mereka baca.
  • Ajak remaja untuk sharing tentang pengalaman mengakui kesalahan yang mereka lakukan dan juga pengalaman mereka tentang mengampuni:
    • Apakah kalian pernah melakukan sebuah kesalahan (kepada saudara, orang tua, teman, atau seseorang lainnya) lalu meminta maaf tetapi tidak dimaafkan? Apa yang kalian rasakan dalam situasi itu?
    • Apakah kalian pernah tidak memberi pengampunan atau maaf kepada orang yang meminta maaf kepada kalian? Jika kalian memberi maaf, bagaimana perasaan kalian? Jika kalian tidak memberi maaf, apa alasan kalian tidak memaafkan dan apa yang kalian rasakan?

Cerita
Teman-teman, ada seseorang yang sedang berjalan membawa tas ransel berisi batu-batu berat. Pada awalnya, ia merasa biasa saja dengan ransel yang dibawanya itu. Namun, karena perjalanannya jauh, lama-kelamaan ia merasa keberatan dengan ransel berisi batu di punggungnya itu. Jadi, perlahan ia mulai membuang satu per satu batu di ranselnya. Satu batu dibuang, tetapi masih terasa berat, jadi ia membuang batu kedua, dan seterusnya sampai semua batu di dalam ransel habis terbuang dan isi ranselnya kosong. Ketika ranselnya kosong, akhirnya ia dapat berjalan dengan sangat cepat dan tidak merasakan sakit pada punggungnya. Ya, batu dalam ransel itu ibarat beban, dendam, atau kesalahan orang lain yang kita bawa ke mana-mana. Hal ini sangat mengganggu perjalanan kita, membuat punggung sakit, dan menjadikan perjalanan kita terasa sangat berat.

Begitulah teman-teman, gambaran akibat jikalau kita tidak bisa mengampuni kesalahan orang lain. Sebenarnya, tidak ada alasan yang membenarkan kita untuk tidak memaafkan atau mengampuni kesalahan orang lain. Tuhan sendiri sudah memberikan contoh nyata bahwa pengampunan itu bisa diberikan. Kematian Yesus untuk umat manusia adalah bukti paling nyata dan sangat besar betapa Ia mengampuni kesalahan kita sebagai manusia. (Ayat 33: “Bukankah engkau pun harus mengasihi kawanmu seperti Aku telah mengasihi engkau?”). Lalu, “Berapa kali aku harus mengampuni saudara yang berbuat dosa? Apakah sampai tujuh kali? Bukan, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Ayat 21–22).

Aktivitas

  • Ajak remaja melakukan refleksi hening bersama-sama dengan diawali bernyanyi bersama pujian “Mengampuni, Mengampuni Lebih Sungguh” sebanyak 5 kali.
  • Pandu remaja dengan pertanyaan-pertanyaan refleksi untuk mereka jawab di dalam hati masing-masing:
    • Apa yang kalian rasakan dan hayati dari pengorbanan Yesus untuk kita melalui peristiwa kematian-Nya di kayu salib?
    • Apa yang sudah kita lakukan untuk membalas kebaikan Tuhan itu?
    • Bayangkan jika Tuhan tidak memberikan pengampunan kepada kita?
    • Bayangkan jika kita berbuat salah kepada orang lain, tetapi orang lain tidak mau memaafkan atau mengampuni kita?
    • Bayangkan jika kita juga terus-menerus tidak mengampuni kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap kita.
  • Setelah sesi tanya dan jawab dalam hati, ajak remaja menuliskan hal yang masih mereka simpan dalam hati yang membuat hati mereka tidak bisa sepenuhnya bersukacita. Atau, jika mereka sedang tidak bisa mengampuni kesalahan seseorang, minta mereka untuk menuliskan langkah komitmen pengampunan mereka.
  • Sebelum mengakhiri kebaktian, tutup sesi ini dengan doa bersama-sama.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak