Bacaan: Hakim-hakim 14 : 1 – 20 | Pujian: KJ. 61
Nats: “Seketika itu Roh TUHAN menguasai Simson, sehingga singa itu dicabiknya seperti mencabik anak kambing, dengan tangan kosong. Tetapi, ia tidak menceriterakan kepada ayah atau ibunya apa yang sudah dilakukannya.” (Ayat 6)
“Yang wajib dari hujan adalah basah, yang wajib dari basah adalah tanah, yang wajib dari tanah adalah hutan, yang wajib dari hutan adalah tanam.“ Ini adalah sepenggal lirik lagu dari Sisir Tanah. Dimana sepenggal lirik itu merupakan kondisi yang seharusnya terjadi dalam kehidupan alam ini. Tetapi realitas saat ini, hujan memang basah tetapi yang basah bukan tanah melainkan gedung, rumah, aspal, dan cor beton. Hutan alami dibabat habis, digantikan dengan komoditas tanaman pangan sehingga fungsi hutan sebagai resapan air tiada. Hal ini menunjukkan bahwa manusia seringkali memandang alam sebagai ancaman dan komoditas yang harus ditaklukkan.
Bacaan kita saat ini mengajak kita melihat bagaimana Simson melakukan kesalahan dalam kacamata ekologis. Simson yang mengalahkan Singa dan Simson yang mengambil madu. Singa yang mengaum (Ay. 5) menjadi pertanda bahwa ia sedang memberikan informasi tentang teritorialnya atau pertanda ada ancaman bagi dirinya. Dalam teks tidak disebutkan bahwa singa muda menyerang Simson, hanya sebatas mengaum. Namun respons Simson adalah mencabik-cabik singa tersebut, maka jelas bahwa singa dipandang sebagai objek yang harus ditaklukkan. Perlu dipertegas bahwa “berkuasalah Roh Tuhan atas dia” tidak bisa kita baca sebagai pembenaran untuk melakukan suatu tindakan destruktif. Secara tidak langsung teks ini dalam kacamata ekologis sedang berbicara tentang kegagalan manusia dalam berelasi dengan alam. Memang di sisi lain teks ini berbicara tentang rencana Allah yang berupaya membebaskan Israel dari cengkraman bangsa Filistin melalui Simson.
Bencana banjir di Aceh pada November 2025 lalu adalah dampak dari cara kita melihat alam yang salah. Seringkali kita jatuh pada sikap antroposentrisme, yaitu manusia sebagai pusat ciptaan, dan alam dipandang sebagai objek yang harus ditaklukkan, dipandang sebagai komoditas belaka, dan sebuah ancaman masalah yang harus diatasi. Bacaan kita saat ini menampilkan dampak dari sikap Simson, yaitu relasi Simson dengan sesama ciptaan yang rusak, yang berdampak pada relasinya dengan istrinya dan masyarakat juga hancur. Maka hal yang harus kita lakukan adalah pertobatan ekologis, dengan cara berbalik arah untuk menjaga, merawat, dan melestarikan alam sebagai wujud tanggung jawab kita atas kedaulatan Allah yang diberikan kepada kita terhadap alam semesta. Amin. [Dya].
“Alam, bangun relasi bukan ditaklukkan.”