Menyadari Kehadiran Tuhan Tuntunan Ibadah Remaja 19 April 2026

6 April 2026

Tahun Liturgi: Paskah III
Tema: Kehadiran dan pertolongan Tuhan
Judul: Menyadari Kehadiran Tuhan

Lagu Tema:

  1. Allah Peduli
  2. Allah Sumber Kuatku

Tujuan:
Remaja dapat mengerti, merenungkan, dan menghayati pentingnya kehadiran Tuhan yang tidak selalu tampak secara fisik tetapi dapat dirasakan melalui firman-Nya di dalam kitab suci dan tindakan kasih yang secara nyata kita lakukan untuk sesama.

Bacaan: Lukas 24:13-35
Ayat Hafalan: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13)

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul perikop dari Injil Lukas 24:13 – 35, yaitu “Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus”. Mari kita perhatikan mulai dari ayat 13-18:

Melalui bacaan Lukas 24:13-18, dikisahkan tentang dua murid Yesus, yang seorang bernama Kleopas dan seorang lagi tidak disebutkan namanya. Kedua murid Yesus tersebut sedang melakukan perjalanan dari Yerusalem menuju ke Emaus. Di saat melakukan perjalanan, kedua murid Yesus sedang berbincang dan membahas mengenai berita yang sedang hangat beredar di Yerusalem, yaitu tentang kubur Yesus yang kosong. Berita ini telah tersebar di segala penjuru. Di tengah perbincangan kedua murid, Yesus bergabung ikut berjalan dan berbincang bersama-sama dengan mereka. Namun kedua murid itu tidak sadar dan tidak mengenali kehadiran Yesus ditengah-tengah mereka. Lukas 24:16 mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, dan membuat kedua murid Yesus tidak dapat mengenali keberadaan Yesus dengan baik.

Apakah yang menghalangi mata kedua murid-murid, sehingga mereka tidak mengenali Yesus?. Penyebabnya bukan karena sesuatu yang berasal dari luar diri mereka misalnya mengantuk, penglihatan mereka terhalang oleh kotoran mata, serangga ataupun kebutaan. Melainkan penyebabnya berasal dari dalam diri mereka sendiri, yakni penderitaan, kesedihan dan kedukaan yang sedang mereka alami. Hal itu membuat para murid bermuka muram (ayat 17).

Selanjutnya dalam ayat 19-35 mereka mengisahkan bahwa kematian Yesus yang membuat muka mereka muram melenyapkan pengharapan mereka untuk pembebasan Israel. “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi”(ayat 21).

Kedua murid Yesus mempunyai pengharapan yang salah atas misi Yesus. Walaupun mereka telah mendengar kesaksian perempuan-perempuan yang menyatakan Yesus telah bangkit. Tetapi seperti murid lainnya mereka sulit mempercayai hal itu (ayat 22-24). Kemudian di dalam ayat 25, kedua murid bercerita tentang kerinduan serta harapan mereka dan Yesus meresponnya dengan teguran keras. Yesus menegur mereka karena ketidakpercayaan akan Yesus dan menyebut mereka “hai kamu orang bodoh.” Ini bukanlah tentang perkara intelektual mereka, akan tetapi tentang iman dan pengenalan mereka yang sempit sekaligus keliru tentang Yesus. Dalam ayat 25-26 : “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?.” Yesus melihat para murid hanya mengarahkan diri pada penderitaan, kekecewaan, dan kedukaan sehingga lupa bahwa Yesus yang mati juga bangkit dalam kemulian-Nya.

Selanjutnya di ayat ke-27, Yesus menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang diri-Nya di dalam Kitab suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Secara perlahan Yesus membawa mereka kepada pengenalan akan diri-Nya. Yesus menjelaskan bahwa apa yang sedang terjadi di Yerusalem merupakan penggenapan terhadap isi Kitab Suci. Dengan demikian semua peristiwa yang sedang terjadi harus dipahami dari sudut pandang Kristus. Ringkasnya, Yesus membimbing mereka ke dalam pengenalan sejati tentang sosok Yesus yang sesungguhnya, bahwa Yesus lebih daripada sekadar nabi.

Pada saat kedua murid Yesus (Kleopas dan temannya) sudah hampir sampai di Emaus, Yesus berjalan di depan, seolah-olah Ia akan melanjutkan perjalanan. Mereka masih belum tahu bahwa yang berjalan bersama mereka adalah Yesus sendiri, tetapi mereka mendesak Yesus dengan kuat: ” Tinggallah bersama kami, karena hari telah hampir malam dan matahari hampir terbenam” (ayat 29). Lalu dalam ayat 30-35, dikisahkan bahwa Yesus duduk dalam perjamuan dengan kedua murid tersebut. Ketika Yesus mengambil roti dan memberkatinya, seketika terbukalah mata rohani kedua murid tersebut dan salah seorang dari kedua murid itu melihat Yesus dengan jelas.

Sekarang mari kita perhatikan pada ayat 30-32: “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”. Yesus mengingatkan akan pelayanan masa lalu, dan kenangan-kenangan di masa lalu yang bisa membuat “hati kita berkobar-kobar”.

Saat Yesus membukakan Kitab Suci kepada para murid dan hati mereka berkobar-kobar. Hati para murid berkobar-kobar dengan sukacita yang meluap-luap saat Yesus melakukan hal tersebut. Mengapa? Ya karena Yesus telah membantu para murid untuk melihat kisah mereka yang terbungkus dalam kisah Allah. Dan Yesus membantu mereka memahami bahwa salib itu perlu. Bahwa segala sesuatu yang Yesus lakukan dalam hidup-Nya dan dalam penderitaan-Nya dilakukan karena kasih kepada kita. Dan bahwa semua itu perlu untuk membawa pengampunan, penyembuhan, dan harapan bagi dunia kita yang sedih, hancur dan penuh dengan dosa.

Refleksi Untuk Pamong
Melalui Injil Lukas 24:13 – 35, Yesus mengajarkan kita bahwa semuanya dimulai dengan menemani kedua murid-Nya saat dalam perjalanan ke Emaus. Beberapa langkah yang telah Yesus lakukan yaitu: Yesus berjalan bersama mereka, berbicara dengan mereka dan mendengarkan mereka. Langkah yang Yesus lakukan ini berarti membuka diri terhadap penderitaan orang lain, karena hal tersebut merupakan bagian dari mendampingi orang lain dan merawat seperti yang Yesus ajarkan. Terkadang kita ingin melewatkan langkah ini. Namun, Yesus menunjukkan kepada kita dalam kisah ini betapa pentingnya berjalan bersama mereka yang mengalami kekecewaan, kesedihan dan dukacita. Betapa pentingnya menjadi pendengar dan berbagi rasa sakit serta duka sesama. Betapa pentingnya hadir bagi mereka. Ini adalah langkah pertama untuk melayani orang lain. Sebelum kita membagikan iman kita, kita mendengarkan, sama seperti yang Yesus lakukan. Maka, kiranya setiap kita dimampukan untuk melakukan seperti yang telah Yesus lakukan. Selamat melayani Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pendahuluan
Sebagai pendahuluan, ajaklah anak jenjang remaja untuk sharing singkat tentang kehadiran Tuhan dapat mereka sadari dan rasakan di saat peristiwa apa sajakah? Selanjutnya beri waktu untuk membaca kembali secara bersama-sama bacaan Injil Lukas 24:13-18.

Bila dikaitkan dengan bacaan tersebut, ternyata kedua murid tidak menyadari bahwa Yesus sedang berjalan bersama mereka. Kehadiran Yesus tidak mereka sadari dan rasakan, oleh karena mereka sedang merasa kecewa, sedih dan bingung. Kedua murid Yesus merasa kecewa karena harus menghadapi kenyataan yang ternyata tidak sesuai dengan harapan. Karena Yesus yang menjadi harapan mereka satu-satunya, kini telah mati. Yesus sudah mati dan dikuburkan sehingga Yesus sudah tidak bisa bersama-sama dengan mereka kembali.

Perasaan sedih yang mereka rasakan disebabkan oleh karena harapan mereka yaitu Yesus telah mati di kayu salib dan dikuburkan. Namun, mereka juga bingung karena mendengar laporan bahwa makam itu ditemukan kosong oleh para perempuan yang pergi ke sana, dan ada malaikat yang memberi tahu mereka bahwa Yesus hidup. Meskipun belum ada yang melihat-Nya.

Inti Penyampaian
Kisah dalam Injil Lukas 24:13-35 dimulai dengan dua murid yang sedang dalam perjalanan pulang dari Yerusalem ke Emaus. Dua murid Yesus, yang seorang bernama Kleopas dan seorang lagi tidak disebutkan namanya. Pada saat melakukan perjalanan, kedua murid Yesus sedang berbincang dan membahas mengenai berita yang sedang hangat beredar di Yerusalem, yaitu tentang kubur Yesus yang kosong telah tersebar disegala penjuru.

Dan sementara mereka berbicara tentang semua hal ini, Yesus sendiri bergabung dengan mereka, tetapi mata mereka terhalang untuk mengenalinya. Dan apa yang Yesus lakukan ketika dia bergabung dengan mereka dalam perjalanan mereka? Pertama, dia mendengarkan mereka. Dia mengajukan pertanyaan terbuka yang sederhana kepada mereka, dan kemudian dia mendengarkan jawaban mereka.  “Apa yang kamu bicarakan satu sama lain sementara kamu berjalan?” Tentu saja, Yesus tahu apa yang mereka bicarakan. Tetapi Dia masih ingin mendengarkan mereka. Demikian pula dengan keberadaan kita, Yesus ingin tahu apa yang terjadi dengan kita semua. Lantas Kleopas dan temannya berbagi apa yang ada di hati mereka.

Ketika Yesus berbincang-bincang dengan mereka kedua murid tersebut tidak sadar dan tidak mengenali kehadiran Yesus. Baru setelah Yesus memecah roti dan memberkati mereka, mata mereka terbuka dan pada akhirnya mereka mengenali Yesus. Ini adalah momen di mana mereka menemukan kembali harapan dan kebahagiaan dalam kebangkitan Yesus. Pelajaran utama yang dapat kita pelajari adalah bahwa kekecewaan dan kesedihan dapat menghalangi mata kita untuk melihat Yesus, padahal Tuhan sering kali hadir melalui sesama dan Kitab Suci, bahkan saat kita tidak menyadarinya. Sehingga kunci untuk mengenali-Nya adalah keterbukaan hati, mendengarkan firman Tuhan, dan terus berharap meskipun dalam kesulitan. Sesudah Yesus mengambil roti, memberkatinya, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. Dan kemudian, mata Kleopas dan kawannya pun terbuka, dan mereka mengenali-Nya. Namun kisahnya tidak berakhir di situ. Ketika mata mereka terbuka dan mereka mengenali Yesus, Ia langsung lenyap dari pandangan mereka. Begitu para murid menyadari bahwa selama ini mereka telah bersama Yesus yang telah bangkit, mereka pun bergegas kembali ke Yerusalem untuk membagikan kabar tersebut. Bayangkan: Perjalanan sejauh tujuh mil, di malam hari, saat hari hampir berakhir. Namun mereka pergi dengan penuh semangat untuk membagikan sukacita mereka. Nah, kita pun seharusnya juga melakukan hal yang sama. Setelah mengenali Yesus di tengah-tengah kita, mari pergi membagikan iman kita, mewartakan kabar sukacita, mengasihi sesama, dan melakukan segala sesuatu yang Yesus perintahkan untuk kita lakukan.

Jadi, hikmat apakah yang bis akita dapatkan untuk pelayanan dan kehidupan umat beriman? Bacaan mengajarkan kita tentang pentingnya apa yang harus kita lakukan setelah berjumpa, mengalami, dan menyembah Yesus. Setelah kita berdoa, mendengarkan firman Tuhan, dan mengalami perjumpaan dengan-Nya; maka kita pun harus pergi melayani Tuhan kita, dengan cara mengasihi, melayani, dan mewartakan kasih karunia Allah kepada semua orang.

Mereka merasa sedih dan bingung karena peristiwa kematian Yesus. Namun, saat Yesus datang berjalan bersama mereka, mereka tidak mengenali-Nya. Baru setelah Yesus memecah roti dan memberkati mereka, mata mereka terbuka dan mereka mengenali-Nya. Ini adalah momen di mana mereka menemukan kembali harapan dan kebahagiaan dalam kebangkitan Yesus.

Penerapan
Kita belajar bahwa kadang-kadang, dalam perjalanan hidup yang penuh kesulitan dan kebingungan, kita mungkin tidak langsung mengenali Tuhan yang berjalan bersama kita. Kita seringkali lebih fokus pada masalah kita daripada menyadari bahwa Tuhan selalu ada bersama kita dalam segala situasi. Kita juga bisa merasa cemas atau bingung, tetapi percayalah bahwa Tuhan hadir dalam setiap langkah kita. Mengapa ini hal penting? Karena kita sering kali butuh waktu untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Dalam pergaulan sosial kita, terutama dengan teman-teman yang sedang kesulitan, kita dapat menjadi saluran kasih Tuhan dan membantu mereka mengenali-Nya melalui tindakan serta dukungan kita. Mari membantu teman-teman kita untuk merasakan kasih Tuhan melalui kebaikan hati kita.

Yesus mengajarkan kita bahwa semuanya dimulai dengan menemani seseorang dalam perjalanan, hadir dan berjalan bersama. Berbicara dengan mereka. Mendengarkan mereka. Semuanya dimulai dari situ. Hal ini berarti membuka diri terhadap penderitaan orang lain sebagai bagian dari upaya mendampingi orang lain dan merawat mereka seperti yang Yesus ajarkan.

Terkadang bisa jadi kita ingin skip/melewatkan langkah semacam ini. Namun, Yesus menunjukkan kepada kita dalam kisah ini betapa pentingnya langkah pendampingan semacam ini. Yesus mengajarkan betapa pentingnya mendengarkan seseorang berbagi rasa sakit dan duka mereka. Hadir bagi mereka. Bagian ini merupakan langkah pertama untuk melayani orang lain.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Aktivitas

  • Mintalah setiap anak untuk menuliskan doa permohonan agar dimampukan untuk menyadari, mengenali serta merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa yang dialami.
  • Lalu diakhiri dengan bersama-sama mengucapkan doa berikut ini:“ Tuhan Yesus, bukalah mata hati kami agar kami dapat mengenali kehadiran-Mu dalam setiap langkah hidup kami. Ajarilah kami untuk berbagi kasih-Mu dengan sesama dan menjadi saksi kebangkitan-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Kami juga memohon hikmat dari Tuhan, kiranya kami para remaja senantiasa dimampukan untuk merenungkan betapa pentingnya kehadiran Tuhan yang tidak selalu tampak secara fisik tetapi dapat dirasakan melalui firman dan tindakan nyata. Di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus. Haleluya.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak