Tahun Liturgi: Paskah IV
Tema: Tuhan Yesus sebagai satu-satunya penolong
Judul: Tuhan Yesus Penolongku!
Lagu Tema:
- Kidung Jemaat No. 407 “Tuhan, Kau Gembala Kami”
- Kidung Jemaat No. 415 “Gembala Baik Bersuling nan Merdu”
Bacaan: Yohanes 10:1-10
Ayat Hafalan: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;”(Yohanes 10:11)
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul perikop dari Injil Yohanes 10 : 1–10, yaitu “Gembala yang baik”
Melalui ayat 1-5 Yesus hendak menggambarkan tentang sebuah perumpamaan tentang seorang gembala yang baik. Tuhan adalah gembala yang baik, yang mengenal dan dikenal oleh domba-domba-Nya. Dan kedatangan-Nya juga digambarkan dengan cara yang benar, yakni dengan cara memanggil setiap domba-Nya sesuai dengan namanya, dan memimpin domba-domba-Nya dengan baik.
Dalam ayat 1-3, digambarkan pula tentang seorang pencuri dan perampok yang datang dengan cara buruk yaitu dengan memanjat tembok. Sementara sang gembala datang melalui pintu dan penjaga-penjaga membukakan pintu dan domba-domba mendengarkan suara-Nya. Ia memanggil domba-domba-Nya dengan benar, yaitu sesuai dengan nama masing-masing domba-Nya. Ia memiliki banyak domba, tetapi setiap domba dikenal oleh-Nya, karena Ia mengasihi dan memperhatikan domba-domba-Nya satu persatu. Artinya Yesus mengenal dan mengetahui kekurangan dan kelebihan domba-domba-Nya.
Dengan demikian, Yesus Sang Gembala memahami dengan baik keberadaan kita selaku domba-domba-Nya yang memiliki kekuatan dan kerapuhan. Yesus paham apa yang membuat hati kita bahagia dan apa yang membuat hati kita sedih. Yesus mengerti semua tentang kita bahkan lebih dari kita mengerti diri sendiri. Sesudah memanggil domba-domba-Nya, sang Gembala berjalan di depan dan domba-domba-Nya secara naluri mengikuti-Nya, karena mereka mengenal suara-Nya. Ia tidak perlu mendorong-dorong atau menarik-narik domba-domba-Nya, seperti yang biasa terjadi pada kambing-kambing. Ia hanya memimpin mereka keluar dan mereka mengikuti dari dekat, di belakang-Nya. Yesus menjaga domba-domba-Nya dengan menuntun keluar dan berjalan di depan, maka itu artinya Yesus menyertai hidup kita. Yesus menunjukkan jalan untuk dilalui. Dia membenahi langkah kaki kita apabila kita tersesat.
Ayat 6-10 : Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Tuhan adalah Gembala yang baik, yang menjamin keselamatan domba-domba-Nya. Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai “Pintu”, untuk meyakinkan domba-domba akan jaminan keselamatan mereka. Ada dua pengertian terkait pintu. Pertama, syarat utama untuk menjadi domba-domba yang diselamatkan, yang menemukan padang rumput yang merupakan sumber kehidupan bagi domba adalah masuk melalui pintu, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” Tuhan Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Dia adalah pintu bagi domba-domba-Nya dan barangsiapa masuk melalui Dia, domba-domba-Nya akan selamat dan akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Untuk masuk ke dalam kawanan domba harus melalui diri-Nya. Hal ini membuat kawanan domba dapat tetap aman dan selamat, karena pencuri tidak dapat masuk untuk mencuri domba. Setiap domba dijaga-Nya dengan baik, sehingga tidak ada satu pun yang dapat direbut oleh Si Jahat dan mengalami kebinasaan. Tuhan adalah Gembala yang baik, yang memberikan hidup yang berkelimpahan kepada domba-domba-Nya. Janji yang Tuhan Yesus berikan bukan hanya untuk masa kekekalan, tetapi juga menyangkut masa kini. Ia menyatakan bahwa melalui diri-Nya, domba-domba akan masuk dan keluar, dan menemukan padang rumput. Ia datang kepada domba-domba-Nya supaya mereka ”mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.
Yang kedua sebagai pintu bagi gembala. Domba-domba selalu berkumpul, membentuk sebuah kawanan. Tapi biasanya mereka tak berjalan sendirian, ada seorang gembala yang berjalan di depan mereka, yang memanggil nama mereka agar mereka mengikutinya, mencari mereka ketika mereka tersesat, menggendong mereka jika mereka membutuhkan dan menuntun mereka ke padang rumput yang hijau.
Domba-domba membutuhkan gembala yang baik. Perlu kita ingat kembali bahwa kita semua juga merupakan murid-murid Yesus yang telah dibaptis dan diutus untuk memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah kepada seluruh dunia. Dengan demikian, setiap kita yang adalah murid Yesus. Sebagai murid kita harus selalu ingat tujuan pewartaan kita, sebab misi yang kita emban adalah misi Tuhan. Bukan misi diri kita sendiri. Demikianlah kita adalah gembala-gembala-Nya yang menggembalakan domba-domba milik-Nya.
Untuk dapat menjadi gembala atau pewarta Injil Tuhan yang baik, kita pun diminta untuk masuk ke kandang domba melalui pintu yang adalah Yesus sendiri. Bukan dengan memanjat tembok. Memanjat tembok, bisa berarti kita berbuat tidak benar, memaksakan keinginan kita sendiri, cara kita sendiri, dan tidak mengikuti jalan yang telah ditunjukkan Yesus. Maka mari meneladani Yesus Sang gembala baik.
Refleksi untuk pamong
Para pamong yang dikasihi dan mengasihi Tuhan. Marilah kita senantiasa mengarahkan iman, kasih dan pengharapan kita kepada Tuhan, Gembala kita yang baik. Dalam masa senang atau susah, miskin atau kaya, sehat atau sakit, Ia tidak pernah meninggalkan kita. Gembala yang baik memanggil nama kita satu persatu, karena Ia mengenal, mengasihi dan memperhatikan setiap domba-Nya. Ia telah menyelamatkan kita dan memberikan jaminan keselamatan bagi kita, yaitu setiap orang yang percaya kepada-Nya dan berjalan mengikuti Dia. Ia telah memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan kita, serta memberikan hidup yang kekal dan hidup yang berkelimpahan. Sebagai pertanyaan refleksi untuk para pamong yang akan melayani jenjang remaja di minggu ini:
- Di dalam hidupmu, siapa yang selama ini Anda anggap sebagai “Gembala” (panutan, pelindung, penolong)?
- Dalam situasi apa Anda bisa meneladani sikap Yesus yang rela berkorban bagi orang lain minggu ini?
Mari kita renungkan kasih Yesus yang luar biasa ini. Yesus Kristus bukan sekadar pekerja yang dibayar, Dia adalah Gembala Sejati yang mengasihi kita sampai akhir. Kiranya Firman Kebenaran Tuhan melalui perumpamaan yang TuhanYesus sampaikan yaitu tentang “Gembala yang baik” mengingatkan kita selaku domba-domba-Nya untuk mensyukuri bahwa Tuhan adalah gembala yang setia menjaga bahkan rela mati untuk domba-domba-Nya.
Tujuan:
- Remaja memahami pentingnya sikap Yesus yang rela mati untuk domba-domba-Nya.
- Remaja meneladani kualitas dari Yesus Kristus Sang Gembala Sejati dan mengerti upaya penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
Pendahuluan
Sebagai pendahuluan, Pamong silahkan mencari beberapa gambar tentang “Yesus gembala yang baik” (misalnya bisa mencetak beberapa gambar yang ada di sini ). Perlihatkan gambar-gambar tersebut kepada anak jenjang remaja, lalu diakhir ibadah (saat membuat aktivitas) ajaklah mereka untuk dapat membuat narasi/puisi/gambar yang menceritakan betapa bahagianya domba yang berada di bawah perlindungan Yesus gembala yang baik.
Gembala adalah seorang penjaga sekaligus pemelihara suatu kawanan ternak. Dalam menggembalakan kawanan ternaknya, setiap gembala tentunya memiliki cara penggembalaannya, sehingga kawanan ternak yang dimilikinya merasa nyaman, aman, bahagia, penurut, mengerti, maupun mengenal siapa gembalanya dan apa yang dimaksud dari seorang gembala. Seorang gembala yang baik pastilah bertanggung jawab atas segala dombanya, tahu berapa jumlahnya, dan melindungi mereka dari segala ancaman luar, terutama ancaman para serigala.
Inti Penyampaian
Firman Tuhan dari Injil Yohanes 10:1-10 Yesus menggunakan perumpamaan di dalam menjelaskan diri-Nya. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai “Gembala yang Baik” dan pintu bagi domba. Yesus menggunakan gambaran tentang gembala dan domba, karena di daerah Palestina pada masa Yesus itu sungguh banyak orang yang bekerja sebagai gembala domba. Dan ketika Yesus memakai perumpamaan tentang gembala dan domba, maka para pendengarnya bisa tahu betapa susahnya menjadi seorang gembala dan betapa berbahayanya domba-domba di padang yang luas tersebut.
Dalam ayat 1-6, Yesus memberikan penekanan pada kandang, pintu, dan perbedaaan antara seorang gembala dengan perampok-pencuri. Kemudian dalam ayat 7-10, Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah pintu bagi domba. Setiap domba yang masuk melalui Yesus akan tinggal di padang rumput hijau dan selamat. Yesus menunjukkan bahwa gembala yang baik ‘harus’ melalui pintu ketika ia masuk ke dalam kandang para domba, sebab seseorang yang masuk tidak melalui pintu dan memanjat tembok, maka para penjaga pintu yang senantiasa berjaga tidak akan membukakan pintu baginya. Bahkan, para domba tidak akan mau mendengarkan apalagi dipanggil oleh karena ia adalah seorang pencuri dan perampok. Gembala adalah pribadi yang harus datang dan mengenali domba-dombanya, umatnya yang dipercayakan kepadanya. Dia mengenal dan menghimpun umat beriman menjadi satu kawanan dengan satu gembala, yakni diri-Nya sendiri.
Gembala yang baik berjalan di bagian depan diikuti para dombanya, karena mereka telah mengenalnya. Tanpa bimbingan dan pertolongan gembala yang baik-berpengalaman, domba tidak mungkin dapat menemukan padang rumput hijau dan sumber air untuk kebutuhan hidup mereka. Domba akan selalu mengikuti gembala yang baik, sekalipun ada berbagai suara orang lain yang memanggil mereka. Gambaran bagaimana relasi para murid dengan Yesus yang mengantar mereka menuju kepenuhan hidup, apabila para murid setia mengikuti-Nya. Pemahaman yang menunjukkan bahwa para murid tidak mengikuti orang asing terlihat dari domba-domba yang lari dari orang yang tidak mereka kenal.
Jika melanjutkan ke ayat 11-13, disana dikisahkan tentang gembala upahan. Gembala yang baik lain artinya dengan gembala upahan. Dimana seorang gembala upahan itu tidak sepenuh hati bekerja dia hanya mengejar upah namun dengan mudah melupakan tanggung jawabnya. Ketika bahaya datang dengan mudahnya dia lari tanpa peduli keselamatan dombanya, berbanding terbalik dengan gembala baik yang siap mati untuk menjaga domba-Nya.
Jika kita melihat konteks gembala pada jaman Yesus, seringkali penggembala adalah seorang upahan yang dibayar untuk menjaga dan membawa domba-domba ke padang rumput. Karena hanya seorang upahan maka rasa memiliki para gembala itu tidak ada bahkan cenderung bekerja sekenanya tidak memelihara dengan sepenuh hati.
Berhadapan dengan fenomena yang demikian Yesus mengajar para murid dengan menggunakan perumpamaan gembala yang baik. Melalui bacaan kita bisa melihat bagaimana Yesus memberikan standard bagi gembala yang baik untuk bekerja atau menjalankan tugas-tugasnya. Menjadi gembala yang baik bukan hanya soal menjalankan tugas, tetapi tentang memiliki hati, kepedulian, dan tanggung jawab. Gembala yang baik akan menjaga kawanan ternaknya, melindungi mereka dari serigala. Sebaliknya, gembala upahan yang tidak memiliki rasa memiliki atau kepedulian, akan meninggalkan ternak saat bahaya mengancam.
Penerapan
Dalam Injil Yohanes pasal 10, Yesus berbicara tentang dua jenis gembala, yakni gembala baik dan gembala upahan. Perbedaan utama di antara keduanya bukan hanya perkara gelar saja, melainkan juga soal tindakan, terutama saat bahaya datang.
Lantas apa artinya ini buat kita sebagai remaja Kristen?
Pengorbanan Yesus menunjukkan betapa berharganya kita di mata-Nya. Dia melihat kita sebagai domba-dombaNya yang berada dalam bahaya nyata dosa yang mengakibatkan maut dan memilih untuk menyelamatkan kita, bahkan dengan harga yang sangat mahal yakni nyawa-Nya sendiri. Kita dibuat makin mengerti bahwa kematian Yesus di kayu salib, menunjukkan bahwa sesungguhnya Dia lah Gembala yang Baik yang telah menolong/menebus dosa kita dengan cara menyerahkan nyawa-Nya bagi kita selaku domba-domba-Nya. Yesus mati untuk melindungi domba-domba-Nya (baca: orang percaya) dari para pemangsa: dosa, kematian dan penghakiman. Yesus mati menunjukkan kasih-Nya dan juga karena manusia berada dalam bahaya nyata.
Di dunia ini, banyak “gembala upahan” di sekitar kita, misalnya teman yang meninggalkan kita saat kita kesulitan, influencer yang hanya peduli endorsement, atau janji-janji palsu menggiurkan yang disampaikan sesama untuk mengelabui kita. Nah, di tengah konteks yang semacam itu, Yesus Kristus menawarkan keamanan sejati. Dia menjanjikan hidup kekal dan tidak ada yang bisa merebut kita dari tangan-Nya.
Sikap Yesus menantang kita untuk hidup dengan tidak egois. Kita dipanggil untuk menunjukkan kasih dan pengorbanan diri kepada orang lain, bukan hanya mencari keuntungan atau kenyamanan pribadi. Sehingga pertanyaan refleksinya adalah bagaimana dengan diriku? apakah aku bekerja dengan sikap hati seperti gembala yang baik atau gembala upahan?
Seseorang yang menjadi pengikut Yesus Kristus Gembala baik akan sungguh-sungguh menolong serta memperjuangkan hidupnya maupun hidup orang lain yang dipercayakan kepadanya, sekalipun menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan.
Aktivitas
Sebagai aktivitas, ajaklah anak jenjang remaja untuk dapat membuat narasi/puisi/gambar yang menceritakan betapa bahagianya domba yang berada di bawah perlindungan Yesus gembala yang baik (sembari memperlihatkan kembali gambar “Yesus gembala yang baik” saat di pendahuluan tadi).
BAHASA JAWA
Gembala iku sawijining penjaga lan pangreksa klompok kewan ternak. Nalika nggembalake ternake, saben gembala mesthi nduweni cara dhewe-dhewe, supaya ternake kroso nyaman, aman, seneng, manut, ngerti, lan kenal karo gembalane lan ngerti apa tegese dadi gembala. Gembala sing apik tur becik mesthi tanggung jawab marang kabeh dombane, ngerti sepira jumlahé, lan nglindhungi saka bebaya, utamane saka serigala.
Ing ayat 1-6, Yesus negesake kandang, lawang, lan bedane antarané gembala karo maling lan rampok. Ing ayat 7-10, Yesus anggone nerangake yèn Panjenengané yaiku lawang kanggo domba. Saben domba sing mlebu liwat Yesus bakal manggon ing padhang ijo lan slamet. Gembala sing becik kudu mlebu liwat lawang kandang domba, merga sing mlebu ora liwat lawang nanging mendaki tembok, para penjaga ora bakal mbukak lawange lan domba ora gelem ngrungokké.
Gembala yaiku wong sing kudu teka lan ngenali dombane, yakuwi umat sing dipercayakake dening Gusti. Gembala sejati yokuwi Gusti pribadi kang nglumpukaké umat dadi sak klompok sing dipimpin déning Panjenengané dhéwé. Gembala sing becik lumaku nang ngarep, dadi dombané mèlu, ngetut wingking, merga wis kenal. Tanpa pituduh lan tulung saka gembala sing berpengalaman, domba ora bakal bisa nemokake padhang ijo lan sumber banyu kanggo uripé.
Ing ayat 11-13, ana crita ngenani gembala upahan. Nah, gembala sejati sing apik tur becik kuwi beda banget karo gembala upahan sing mung isone nyambut gawe kanggo golek upah thok lan gampang nglirwakake tanggung jawab. Nalika ana bebaya, gembala upahan cepet mlayu ninggalake domba, beda karo gembala sejati sing apik tur becik sing siap mati, toh nyawa, kanggo njaga dombane.
Yen ndeleng konteks jaman Yesus, asring gembala iku wong upahan sing digaji kanggo ngreksa lan nggawa domba menyang padhang ijo. Minangka upahan, rasa duwe dadi ora ana lan asring kerja setengah ati.
Pramila Yesus ngajari murid-murid nganggo perumpamaan gembala sing apik tur becik. Gembala sing apik tur becik ora mung ngayahi tugase, ananging kudu duwe ati, kepedulian, gathi, lan tanggung jawab. Gembala sing apik tur becik kudu sigap njaga kawanan ternake lan nglindhungi saka serigala lan bebaya. Kosok wangsulanipun, nek gembala upahan sing ora duwe rasa peduli, yo mestine bakal ninggalake ternake nalika bebaya.
Nek ngono, apa maknane iki kanggo kita minangka remaja Kristèn?
Sepisan, pengorbanan Yesus nduduhaké nilai kita ing ngarsané Panjenengané. Gusti mirsani kita minangka domba sing ana ing bebaya dosa sing nggawa pati lan milih nylametake kita kanthi rega sing larang tur gedhé banget yaiku mawi nyawa Panjenengané. Kita diwulang supaya luwih mangertos yèn sedane Gusti Yesus ing kayu salib nuduhake yèn Panjenengané iku Gembala Sejati sing apik tur becik lan wis nylametake kita saka dosa kanthi nyerahaké nyawane.
Yesus mati kanggo nglindhungi dombane saka pemangsa: dosa, pati, lan pangadilan. Patine Gusti Yesus nuduhake katresnané lan kahanan manungsa sing ana ing bebaya nyata.
Ananging, payo podho nyadhari bilih ing donya saiki akeh “gembala upahan” kaya misale: kanca sing ninggal ing kala kita ngadepi perkara angel, influencer sing mung peduli marang endorsement, utawa priyantun sing isone mung menehi janji palsu kanggo ngapusi kadya serigala berbulu domba. Nah, ing tengah kondisi kuwi, Yesus Kristus nawakake kawilujengan sejati lan janji urip langgeng. Ora ana sing bisa njupuk kita saka tangane.
Tuladha Gusti Yesus minangka pangon sejati uga ngajak kita kangge urip sing ora egois. Kita diparingi tugas kanggo nuduhake katresnan lan pengorbanan kanggo liyan, ora mung golek keuntungan utawa kenyamanan piyambak.
Lajeng, pitakon reflektifé yaiku, kadospundi sikap kula? Punapa kula makarya kanthi ati kaya gembala sing becik utawa gembala upahan?
Estu, wong kang dadi pandherekipun Yesus Kristus, Gembala Sejati sing apik tur becik, mesthi bakal ditulungi Gusti. Gusti tamtu tansah setya memperjuangake urip sedaya titah sing dipercayakake marang dhèwèké, senadyan kudu ngadhepi kasusahan lan sangsara.