Jadilah Penolong! Tuntunan Ibadah Remaja 12 April 2026

30 March 2026

Tahun Liturgi: Paskah II
Tema: Tuhan mengutus kita menjadi penolong
Judul: Jadilah Penolong!

Bacaan: Yohanes 20:19-31
Ayat Hafalan“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,” (Yohanes 14:16)

Lagu Tema:

  1. Kidung Jemaat 424 “Yesus Menginginkan Daku”
  2. Kidung Ria 1 “Aku Anak GKJW”

Tujuan:

  1. Remaja dapat belajar membuka hati bagi Sang Roh Kudus yang menganugerahkan damai sejahtera yang Tuhan Yesus anugerahkan.
  2. Remaja dapat merencanakan sebuah kegiatan sederhana untuk membantu teman yang sedang merasa ragu atau kesepian.

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul tiga perikop secara terpisah dari Injil Yohanes 20:19-31, yaitu:

  1. “Yesus menampakan diri kepada murid-murid-Nya” dalam ayat 19-23.
  2. ” Yesus menampakan diri kepada Tomas” dalam ayat 24-29
  3. “Maksud Injil dicatat” dalam ayat 30-31: “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”

Hubungan antara Yohanes 20:19-31 dengan konsep “pertolongan” sangat erat, terutama melalui peran Roh Kudus yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada para murid. Dalam perikop ini, Yesus yang telah bangkit menampakkan diri-Nya kepada murid-murid yang tengah dilanda ketakutan dan bersembunyi dengan pintu-pintu yang terkunci.

Agaknya para murid kuatir dengan keselamatan mereka. Pasca penyaliban Yesus Kristus, mereka limbung dan kehilangan pegangan. Bak layangan putus, mereka galau, insecure/tidak aman, dan dilanda rasa takut serta kecurigaan yang sangat besar.

Tetapi Tuhan Yesus merespons perasan takut yang dialami murid dengan hadir secara real untuk kemudian menghembuskan nafas-Nya yang merepresentasikan Roh Kudus. Di ayat ke- 21 Tuhan Yesus yang telah diutus oleh Bapa lantas meneruskan pengutusan-Nya dan mewariskan Roh Kudus yang Ia terima saat pembaptisan-Nya (ayat 22) kepada para murid.

Delapan hari setelah Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, para murid kembali berkumpul. Mereka tetap menutup dan mengunci pintu. Kendati telah menerima Roh Kudus, tetapi agaknya para murid masih tetap merasa tidak aman dan belum sepenuhnya mengalami damai sejahtera. Namun, kehadiran Sang Kristus Yesus yang menembus pintu tertutup dan memberikan Roh Kudus seketika mengubah mereka, dari yang semula dilanda oleh keadaan takut berubah menjadi berani dan mengalami damai Sejahtera (ayat 26).

Kepada Tomas yang menuntut bukti empiris, Tuhan Yesus memperlihatkan  bekas paku dan bekas luka di lambung-Nya, sebagai penanda akan kebangkitan-Nya yang bersifat holistik atau menyeluruh; jadi bukan hanya Roh-Nya saja yang bangkit, melainkan juga tubuh kedagingan-Nya. Ketika akhirnya Tomas percaya, Yesus memberi tahu mereka bahwa berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya (ayat 29), sebagaimana kita yang tidak melihat secara langsung tetapi percaya. Menariknya, Di ayat 19, 21, dan 26, kita bisa memerhatikan bahwa sebanyak tiga kali Tuhan Yesus mengucapkan salam “damai sejahtera bagi kamu!.” Ungkapan ini menegaskan berita Paskah yang erat kaitannya dengan kuasa kebangkitan yang meneteramkan dan mendamaikan jiwa yang resah.

Refleksi untuk pamong
Bayangkan jika para pamonng berada dalam kondisi seperti yang dikisahkan di dalam ayat 19. Tentu berbagai macam perasaan yang bercampur aduk seperti apa yang dirasakan oleh para murid akan kita alami ya?!

Tanpa kita sadari ternyata masa Paskah memberi ruang bagi keraguan, ketakutan, dan kepedihan kita. Kita cenderung lupa bahwa semula, para murid lebih dulu mengalami keprihatinan mendalam yang dibalut dengan ketakutan, keraguan, kepedihan, dan kebingungan, sebelum kemudian berubah menjadi tenteram, damai sejahtera, dan mengalami sukacita. Ketika para murid mengetahui Yesus Kristus yang hadir dan bangkit, damai sejahtera pasti tercipta dan hati menjadi lega, penuh sukacita. Apalagi manakala kebangkitan Yesus mengartikan pengampunan dosa, tentu perasaan damai Sejahtera akan semakin utuh melingkupi kita.

Jika Tuhan Yesus yang bangkit menghembusi para murid dengan Roh-Nya, maka karya Roh Kudus yang serupa masih terjadi pada saat ini. Mari membuka hati untuk menerima embusan damai sejahtera-Nya. Dengan membuka hati, kita akan beroleh daya untuk bergerak dari perasaan insecure, takut, gelisah, dan kehilangan pengharapan menjadi beroleh keutuhan damai Sejahtera!

Pendahuluan
Sebagai pembuka, ajaklah remaja untuk saling berbagi pengalaman terkait “mengunci pintu.” Galilah alasan di balik tindakan tersebut dan perasaan apa yang menyertainya, misalnya rasa takut, khawatir, atau keinginan merasa aman. Setelah itu, hubungkan pengalaman tersebut dengan kisah para murid Yesus yang juga berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu tertutup, sebagaimana digambarkan dalam bacaan Alkitab.

Inti Penyampaian
Perikop yang kita bahas kali ini menceritakan pengalaman para murid Yesus yang berjumpa kembali dengan Sang Guru setelah mengalami dukacita akibat kehilangan dan kematian Yesus Kristus di kayu salib. Pertemuan ini sungguh tak terduga karena para murid sedang berada dalam situasi putus asa dan penuh ketakutan. Apa yang dilakukan para murid sangatlah manusiawi. Para murid menutup diri karena diliputi ketakutan, kesedihan, keraguan, dan kebingungan. Mereka masih dibayangi rasa takut karena mengira apa yang menimpa Yesus bisa terjadi juga pada mereka. Walau mereka sudah mendengar tentang kebangkitan Yesus, tetapi bayangan peristiwa penyaliban yang mengerikan dan traumatis masih menekan mereka. Ketika merasa cemas atau berada dalam bahaya, secara naluriah kita cenderung mengurung diri dan mengunci pintu demi menjaga keselamatan diri sendiri bukan?!

Namun, di tengah kegelisahan mereka, kabar sukacita datang. Yesus Kristus hadir untuk membawa damai sejahtera dan menghembuskan Roh Kudus ke dalam hidup mereka, serta mengubah kecemasan menjadi ketenangan.Yesus yang telah bangkit datang menghampiri murid-murid yang sedang ketakutan. “Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka.” (ayat 19). Tindakan Yesus berdiri di tengah-tengah murid-murid-Nya merupakan simbol kekuatan dan kepastian. Ketika Yesus hadir, murid-murid yang semula ketakutan digerakkan untuk bangkit menuju sukacita, berdiri dari kelemahan menuju kekuatan.

Dalam ayat 24, diceritakan bahwa Tomas, salah satu murid-Nya, yang semula tidak hadir saat Yesus menampakkan diri kini mendapat kabar dari kawan-kawannya. Agaknya, Tomas masih trauma oleh kematian Yesus dan memilih untuk sejenak menjauh dari komunitas murid. Terkadang, seperti Tomas, bukankah kita pun terkadang pernah sejenak menjauh dari komunitas iman karena berbagai alasan.

Tomas ternyata memilih menjaga jarak, bahkan ketika para murid yang lain telah mengalami perjumpaan dengan Yesus yang bangkit. Tomas membutuhkan bukti nyata. Tomas tidak mau sekadar percaya dengan apa yang diungkapkan oleh orang lain. Dia ingin mengalami sendiri secara langsung. Tentu kejujurannya dalam bergumul dengan iman patut dihargai. Walau sering dijuluki sebagai “Tomas si peragu” sebenarnya Tomas tidak meminta lebih dari yang diterima murid lain. Ia hanya ingin melihat secara langsung Yesus beserta luka-luka penyaliban-Nya.

Yesus pun datang kembali, seminggu kemudian, untuk berjumpa dengan Tomas dan para murid-Nya. Selanjutnya, respons Tomas sangat luar biasa. Ia percaya dan berkata, “Tuhanku dan Allahku!.” Ungkapan ini merupakan sebuah pengakuan iman yang mendalam. Pada ayat 29, Yesus tidak menegur Tomas, melainkan memberikan berkat bagi semua. Pesan ini menjadi tujuan utama penulisan Injil, yakni agar setiap orang yang percaya kepada Yesus memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yohanes 20:30-31).

Melalui kisah dalam Yohanes 20:19-31, kita diajak merenungkan bagaimana Yesus yang bangkit datang di saat murid-murid-Nya ketakutan, memberikan damai, menguatkan iman, dan mengutus mereka untuk melayani. Kehadiran Yesus membuktikan bahwa Ia adalah penolong setia, bahkan ketika kita hanya bisa percaya tanpa secara langsung melihat bukti nyata.

Penerapan
Tindakan Yesus terhadap Tomas menunjukkan kasih dan pengertian-Nya yang mendalam. Ia hadir secara pribadi dan memberikan kesempatan bagi Tomas untuk menyentuh bekas luka-Nya. Dengan demikian Tuhan menghargai proses perjalanan iman setiap orang yang unik. Tuhan mengerti dan menghampiri kita sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing.

Pengalaman Tomas juga menyadarkan kita bahwa kecepatan setiap orang dalam memahami dan mempercayai karya Tuhan bisa berbeda-beda satu sama lain. Namun, Tuhan selalu siap menemui setiap orang dalam proses imannya.

Akhirnya, melalui Firman Tuhan hari ini, kita diingatkan bahwa Yesus datang kepada setiap kita, baik di tengah keraguan, ketakutan, atau bahkan di tengah rasa dosa dan rasa bersalah. Yesus Kristus datang untuk menawarkan kasih, pengampunan, dan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Dan kepada kita yang percaya tanpa melihat, Yesus Kristus bersabda, “berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.Semoga damai sejahtera Kristus sungguh kita rasakan, menguatkan, membarui hidup, dan meneguhkan iman kita untuk terus percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Aktivitas
Sebagai aktivitas di akhir ibadah, ajaklah anak jenjang remaja untuk melakukan sebuah kegiatan dengan mengingat bahwa untuk melayani Tuhan kita yang bangkit salah satu wujud nyata yang dapat kita lakukan yaitu Tuhan Yesus mengutus kita menjadi penolong bagi teman-teman kita!.

Bagaimana caranya?

  • Ajak remaja meneladani para murid Yesus yang setia menemani Tomas dalam keraguannya.
  • Secara konkrit ajak remaja merencanakan sebuah kegiatan sederhana untuk membantu teman yang seiman (misalnya yang berada di lingkungan sekolah ataupun gereja) yang tengah merasa ragu dengan imannya atau sedang merasa kesepian, dengan rutin mengunjunginya sembari mengajak berdoa bersama dan membaca Alkitab secara rutin.

Janganlah takut dan kuatir untuk melakukannya sebab sebagaimana ayat hafalan kita: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,” (Yohanes 14:16) maka percayalah bahwa Roh Kudus akan menolongmu!.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak