Dekat Karena Berkat Tuntunan Ibadah Remaja 14 April 2019

4 April 2019

Bacaan Alkitab : Lukas 19 : 28-40
Tahun Gerajawi  : Minggu Palmarum
Tema  : Palmarum
Ayat Hafalan  :Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari  dan mengikut Aku”. (Lukas 9 : 23)

Tujuan

  1. Remaja dapat menjelaskan kisah Yesus dielu-elukkan di Yerualem.
  2. Remaja dapat menunjukkan reaksi beberapa orang Farisi terhadap sikap orang-orang di Yerusalem.
  3. Remaja dapat menunjukkan sikap hormat dalam menyambut kematian dan kebangkitanYesus.

Penjelasan Teks

Markus 11:1-11Matius 21:1-11Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19 mencatat cerita yang serupa. Keempat catatan dalam Injil inilah yang menjadi rujukan sebagai peringatan Minggu Palmarum. Di dalam Minggu Palmarum, umat memperingati peristiwa masuknya Yesus  ke kota Yerusalem sebelum penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya .Minggu Palmarum dirayakan pada hari Minggu sebelum Paskah dan disebut sebagai pembukaan pekan suci. Dalam pekan suci, umat berfokus pada pekan terakhir Yesus di Yerusalem.

Simbol yang dipakai dalam peringatan minggu Palmarum ini adalah daun palem (lih Yohanes 12:13) yang berwarna hijau. Warna hijau mengingatkan warna dari tumbuh-tumbuhan dan musim semi. Warna hijau merupakan simbol kemenangan dari musim semi atas musim salju. Sehingga daun palem (hijau) dapat dilihat sebagai simbolkehidupan atas kematian. Demikian daun palem dipakai sebagai simbol kemenangan. Dan di dalam tradisi Kristen, daun palem juga berkembang sebagai simbol kemenangan atas dosa dan kematian.

Pada Minggu Palmarum, umat Kristen tidak hanya mengenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem saja, melainkan juga mengenang akan kesengsaraan Yesus. Oleh karena itu, Minggu Palmarum juga disebut sebagai Minggu Sengsara. Sehingga pemaknaan kemuliaan bersanding dengan peringatan kesengsaraan Yesus. Oleh sebab itu, iman Kristen mengakui bahwa kemuliaan Yesus tidak hanya terletak pada kebangkitan-Nya, tetapi juga di dalam kesengsaraan dan kematian-Nya. Seluruh proses itu yang harus diterima secara utuh di dalam penghayatan iman Kristen.

Walaupun cerita ini ditulis dalam ke empat Injil, namun penulisan dalam kitab Lukas berbeda dari ketiga Injil yang lain. Jika diperhatikan, dalam pencatatan Injil Lukas, tidak terdapat kata Hosiana/Hosana. Sedangkan dalam ketiga Injil lain, ekspresi orang banyak yang menyambut Yesus memakai kata Hosiana/Hosana. Hal ini tentulah menarik untuk diperhatikan dalam rangka penafsiran mengenai penyambutan orang banyak tersebut.

Hosiana berasal dari bahasa Ibrani. Terdiri dari dua suku kata ‘hosha’ yang artinya tolong, dan ‘ana’ yang artinya saya. Maka secara sederhana Hosiana diartikan sebagai tolonglah saya / tolonglah kami. Sehingga, cerita tentang Yesus dielu-elukan oleh orang banyak dalam Injil Markus, Matius dan Yohanes sering ditafsirkan bahwa orang-orang ini meminta tolong kepada Yesus. Dan dalam konteks itu dikaitkan dengan pembebasan secara politis dari bangsa Romawi.

Namun, berbeda dengan Injil Lukas. Di dalam Lukas tidak ada seruan Hosiana. Sehingga, dalam narasi cerita Lukas, orang banyak itu digambarkan dalam keadaan sungguh-sungguh hanya mengelu-elukan dan memuji-muji Yesus saja. Puji-pujian orang banyak kepada Yesus tentu saja dengan mudah dikaitkan dengan pelayanan-Nya di dunia selama ini. Pada saat itu, Yesus telah menjadi tokoh yang disukai banyak orang. Mujizat yang dilakukan-Nya serta pengajaran-pengajaran yang diberikan-Nya itulah yang membuat orang berbondong-bondong datang untuk mendekat dan memuji-Nya.

Popularitas Yesus inilah yang mengganggu orang-orang Farisi (dan imam-imam besar) pada saat itu. Para pemimpin agama Yahudi ini kehilangan pamor dan ketenaran mereka. Rakyat lebih memilih kepada sosok Yesus. Kepercayaan dan penghormatan umat bergeser kepada Yesus. Tentu hal tersebut yang membuat para ahli Taurat dan imam kepala, merasa iri lalu mencari cara untuk menyingkirkan Yesus. Demi mendapatkan kedudukannya kembali di tengah masyarakat. Demi mendapatkan penghormatan dan kepercayaan umat.

Pendahuluan

Langkah-langkah Penyampaian

  1. Pamong mengajak remaja untuk membaca perikop
  2. Pamong mengajak remaja untuk melakukan aktivitas 1 : bermain peran
  3. Pamong menjelaskan pesan teks (cerita) kepada remaja
  4. Pamong mengajak remaja untuk melakukan aktivitas 2 : berefleksi dan berkomitmen.

Cerita :

Hari ini, umat Kristen di seluruh dunia memasuki sebuah peringatan yang disebut Minggu Palmarum. Apa yang kalian tahu dari Minggu Palmarum? (galilah pengetahuan remaja tentang hal ini).

Minggu Palmarum adalah Minggu sebelum Paskah. Yang dijadikan penanda adalah peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem, sebelum penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya, seperti yang kita baca di dalam perikop tadi. Selain dalam Lukas, cerita yang senada juga dicatat dalam keempat Injil lain. Yaitu di Markus 11:1-11Matius 21:1-11, dan Yohanes 12:12-19.

Dalam perikop yang kita baca ini, diceritakan bahwa Yesus memasuki kota Yerusalem dengan menaiki seekor keledai muda. Dia disambut dengan begitu meriah oleh orang banyak yang mengikutinya. Bisa dibayangkan Yesus dengan segala mujizat dan pengajarannya selama ini. Kalau jaman sekarang, Yesus ini sedang viral. Dia sangatlah populer. Menurut kalian, kira-kira kenapa banyak orang ingin dekat dengan Yesus? (ingatkan tentang bermain peran yang telah dilakukan). Dugaan terkuat kita, tentu karena orang-orang ingin mendapatkan sesuatu dari Yesus. Entah berkat, mujizat, pengajaran, dll.

Di sisi lain, para ahli farisi sangat terganggu dengan viralnya Yesus di tengah-tengah masyarakat. Sebab, penghormatan yang selama ini diberikan umat kepada mereka (sebagai pemimpin agama dan yang dianggap pandai dalam hal penafsiran kitab) bergeser kepada Yesus. Orang banyak lebih suka mendengar dan bersama dengan Yesus. Bagaimana kira-kira perasaan mereka? (ingatkan kembali tentang bermain peran). Tentu saja sangat iri. Dan ketika iri, orang bisa terdorong untuk melakukan apa saja. Bisa sangat berbahaya.

Menurut kalian, apakah salah bahwa orang banyak itu memuji-muji Yesus karena hal-hal baik yang dapat diberikan Yesus? Tentu tidak salah, namun kurang pas di dalam penghayatan iman Kristen.

Adakah yang tahu sebutan lain peringatan hari ini selain Minggu Palmarum? Minggu Sengsara!

Selain memperingati Yesus yang masuk ke dalam kota Yerusalem, umat Kristen juga mengenang bagaimana Yesus menyambut penderitaannya layaknya seorang ksatria. Dengan gagah berani dan tetap rendah hati (dalam simbol keledai), Ia menghadapinya. Ia tidak lari dan bersembunyi. Ia tahu harus menjalani seluruh proses yang menyakitkan itu demi menyatakan kehendak Bapa dan menunjukkan cinta-Nya kepada dunia.

Jadi, iman Kristen bukanlah iman yang hanya memperingati dan merayakan hal-hal yang mudah dan menyenangkan. Bukan saja karena berkat dan mujizat yang bisa diberikan Yesus. Namun juga harus siap untuk meneladani Yesus yang mau berjalan menuju jalan penderitaan yang harus dilalui, untuk menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Bapa.

Aktivitas

  1. Bermain Peran : Bagilah remaja menjadi kelompok yang terdiri dari dua orang. Mintalah para remaja untuk memilih secara spontan, masing-masing salah satu untuk menjadi A dan B. Selanjutnya, berikanlah konteks dan situasi kepada masing-masing remaja dan minta mereka untuk menghayati peran yang akan mereka mainkan. Setelah diberi waktu 5 menit untuk membaca dan meresapi peran, ajaklah remaja untuk bermain peran. Masing-masing memerankan sesuai dengan peran mereka masing-masing dalam satu kelompok.

Konteks yang diberikan kepada remaja :

Catatan : pamong dapat mengubah A dan B dengan nama yang lain. Yang membaca konteks A hanya yang memerankan A. Yang membaca konteks B hanya yang memerankan B. Mereka tidak boleh saling mendengar satu dengan yang lain.

A : Kamu adalah anak dari keluarga yang terpandang. Orang tuamu adalah orang yang kaya dan terkenal karena kesuksesan bisnis mereka. Kamu adalah anak ke dua dari dua bersaudara. Kakakmu dulu juga bersekolah di tempat yang sama denganmu sekarang. Dia menjadi siswa teladan kala itu. Dan sekarang, banyak orang mengharapkan hal yang sama kepadamu. Paling tidak, kamu dibandingkan dengan kakakmu.

Kamu  dan B berteman dekat. Kamu senang berteman dengan B karena selama ini B selalu baik kepadamu. Dia sangat sering membantumu dalam ujian. Dia sering menolongmu untuk mendapatkan nilai yang bagus di kelas. Kamu merasa perlu berteman dekat dengan B karena kamu membutuhkannya. Karena jika bukan B, siapa lagi yang akan memberimu contekan? Jika kamu tidak diberi contekan, bisa-bisa pelajaran fisika dan matematika yang membuatku pusing itu nanti nilainya jeblok. Kalau jeblok, kamu pasti dimarahi orang tuamu. Lagipula, kamu harus menjaga nama baik orang tua dan keluargamu, kan? Dan itu bisa terjadi jika kamu menerima bantuan B. Oleh sebab itu, selama ini kamu berteman baik dengan B. Kamu sering mentraktirnya makan, membelikannya barang-barang dan mengajaknya jalan.

Suatu hari, ada anak baru yang masuk ke kelas kalian. Anaknya pandai dan ramah. Dia sering membantu teman-teman yang tidak paham mengenai pelajaran dengan sabar. Banyak anak di kelasmu yang kemudian bertanya mengenai pelajaran yang tidak dimengerti kepadanya, termasuk kamu. Dan ternyata, dia bisa menjelaskan pelajaran dengan baik. Pelan-pelan kamu mulai mengerti matematika dan fisika yang selama ini kamu anggap sulit.

Karena sering menghabiskan waktu untuk belajar bersama anak baru ini, kamu dan B menjadi jarang pergi bersama. Sebab ternyata bagimu sekarang, lebih menarik memecahkan soal sendiri daripada hanya diberi kunci jawaban. Lagipula kamu mulai berpikir, jangan-jangan selama ini B tidak membantumu dengan tulus?

B : Kamu berteman baik dengan A. Kamu senang berteman dengannya, sebab dia suka memanjakanmu. Dia sering sekali membelikanmu barang-barang yang bagus, mentraktir makan dan mengajak jalan. Jika bukan karena A, kamu tidak mungkin bisa punya barang-barang bagus dan makan makanan mahal. Sebab, gaji orang tuamu tidak seberapa. Keluargamu hidup dengan sangat sederhana.

Kamu tahu bahwa A kesulitan dalam pelajaran fisika dan matematika. Kebetulan kamu sangat pandai dalam pelajaran tersebut. Maka, supaya A semakin dekat denganmu, kamu sering membantunya di dalam ujian. Memberikan contekan yang membuat nilainya lebih baik dari kemampuannya sendiri. Kamu rasa itu adil. Tidak mengapa. Kamu memberikan contekan, dia memberimu kesempatan untuk merasakan kemewahan. Kapan lagi, kan?

Namun, sejak ada anak baru datang, A jarang mengajakmu jajan dan jalan seperti dahulu. Nampaknya dia sekarang lebih suka belajar dengan anak baru daripada bersamamu. Kamu sebal. Kamu merasa dia meninggalkanmu begitu saja. Habis manis sepah dibuang?

 

Catatan : setelah bermain peran, mulailah mendiskusikan kedua peran tersebut bersama para remaja. Ajak mereka menggali peran yang mereka mainkan. Tanyakan kepada mereka, mengapa tadi melakukan hal itu? Misalnya : kenapa tadi membentak? Apa yang membuat kalian bertengkar? Bagaimana perasaanmu terhadap anak baru? (dan pertanyaan-pertanyaan lain sehubungan dengan bermain peran yang telah mereka lakukan)

  1. Berefleksi dan Berkomitmen : Tanyakan kepada remaja, pertanyaan reflektif seperti : Apakah kalian selama ini, dekat dengan Tuhan hanya untuk meminta berkat? Ketika Tuhan meminta pembuktian kesetiaan dalam perjuangan dan penderitaan, bagaimana respon kalian?

 

Berilah waktu kepada remaja untuk merefleksikan pertanyaan tersebut dan membuat komitmen untuk meneladani Yesus. Bebaskan mereka untuk mencari tempat yang nyaman untuk berefleksi dan membuat komitmen.

Pamong bisa memakai sarana untuk membantu anak-anak berefleksi. Bisa memberikan selembar kertas dengan spidol warna-warni, cat air, krayon, dan hiasan lain, yang dapat mereka kreasikan sendiri.

Tutuplah sesi ini dengan kembali berkumpul bersama. Menunjukkan masing-masing karya dengan singkat dan berdoa untuk komitmen bersama-sama.

Lagu Tema
KJ 430 “Haruskah Hanya Penebus”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak