Bersama Menjadi Tubuh Kristus Tuntunan Ibadah Remaja 11 Agustus 2019

Tahun Gerejawi: Bulan Pembangunan GKJW
Tema: Gereja
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:12
Tujuan:

  1. Remaja  dapat  membuat  kesimpulan atas nasihat Paulus kepada jemaat di Korintus tentang kesatuan jemaat.
  2. Remaja  dapat  menjelaskan  bahwa mereka  juga  merupakan  kesatuan seperti anggota tubuh.
  3. Remaja  dapat  memberikan  contoh sikap yang menunjukkan kesatuan.
  4. Remaja dapat menyebutkan hambatan dalam membangun kesatuan.

Ayat Hafalan: Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu ituadalah Tuhan dari semua orangyang berseru kepada-Nya  – (Roma 10 : 12)

Lagu Tema: KJ 256 : 1,3 “ Kita Satu di dalam Tuhan “

Penjelasan Teks:

Orang-orang Korintus mengunggulkan karunia-karunia Roh dan tidak cukup menghargai tubuh. Sebagai bagian dari koreksinya, Paulus menggambarkan Roh sebagai kekuatan yang mempersatukan semua. Ia mempergunakan gambaran tubuh untuk mengemukakan ajaran tersebut. Paulus meminjam gambaran tubuh dari filsafat Stoa yang populer pada zaman itu. Stoa menggambarkan negara sebagai sebuah persemakmuran, tubuh dengan banyak anggota. Gambaran ini dengan kuat diterapkan oleh Paulus. Tubuh menggambarkan  keanekaragaman dari banyak anggota, seperti setiap anggota tergantung pada kerja sama dari anggota-anggota yang lain supaya berfungsi sebagai bagian dari tubuh. Relasi antar mereka adalah hidup.

Demikian juga dengan Kristus. Paulus tidak  pernah secara eksplisit  mengatakan bahwa Gereja adalah tubuh Kristus. Akan tetapi, ia menerapkan gambaran ini kepada jemaat-jemaat yang ia tuju, dengan kekuatan yang diterima dari Roh Kudus. Roh Kudus memampukan kita untuk mengatasi perbedaan-perbedaan rasial atau nasional (Yahudi atau Yunani) atau sosial (bebas atau budak). Pembicaraan 1 Kor 11:2-26 sudah mengatakan mengenai hubungan ini (lih. 7: 17- 40).

Tubuh tidak disamakan dengan salah satu anggota, tetapi membutuhkan  banyak anggota yang bekerja sama menjadi satu. Masing-masing kaum beriman adalah anggota dari tubuh Kristus; tubuh kaum beriman juga disebut kenisah Roh Kudus (lih. 1 Kor 6:19). Tubuh, Gereja, mengumpulkan para anggota dan semua menjadi satu. Semua bagian secara hakiki menyumbang untuk pembangunan tubuh. Perbedaan-perbedaan dari anggota menyumbang untuk persatuan mereka.  Yang satu  tidak  dapat menjadi  yang  lain, juga yang satu  tidak dapat menggantikan peranan yang Iain. Jika satu anggota menderita,  semua anggota  yang lain menderita,  dan semua anggota yang lain secara naluriah mendukung anggota yang sakit. Begitu juga, jika sebuah anggota mendapat kehormatan, semua anggota yang lain lebih bersemangat karena mengambil bagian dalam kehormatan itu.

Orang-orang Korintus tentu saja lebih menghargai hal-hal yang menyangkut  pikiran dan rohani daripada yang jasmani. Mereka menyadari bahwa pikiran mempunyai pengaruh kepada tubuh, dan sebaliknya. Mengenai seluruh pribadi, anggota yang “kurang penting” atau “tidak terhormat” menerima nilai dari anggota yang lebih terhormat. Dengan kata lain, seperti pikiran kita mengendalikan nafsu kita supaya tidak ada kontradiksi dalam diri kita, demikian juga Roh Kudus mempersatukan dalam suatu keharmonisan anggota yang lebih atau yang kurang terhormat dari tubuh. Demikian, misalnya, yang “kuat” dan yang “Iemah” dapat dirukunkan (lih. 1 Kor 8:7-13; 10:23-30).

Demikian juga dengan tubuh Kristus, Gereja, masing-masing orang Kristen menerima jati diri baru dalam hubungan dengan orang Kristen lain dari tubuh yang sama. Karunia-karunia Allah diberikan kepada Gereja meliputi dari menjadi rasul sampai dengan karunia bahasa Roh. Tidak jelas apakah bagi Paulus sudah ada hierarki yang nyata. Sebagai koreksi bagi orang Korintus, yang menganggap karunia bahasa Roh sebagai yang paling penting, Paulus menyebutnya terakhir. Ia menekankan bahwa banyak pelayanan yang harus dijalankan, maka hendaknya jangan ada persaingan. Karena setiap orang mempunyai karunia, tidak semua mempunyai karunia yang sama. Karunia yang besar tidak perlu yang paling mencolok. Karunia besar adalah yang paling baik melayani kebutuhan jemaat, Demikian, Paulus mengakhiri, arahkan hatimu kepada karunia yang besar, dan yang paling besar adalah kasih.

Pendahuluan:
(Pamong menyediakan beberapa buku untuk alat permainan) – Game “Tunjuk Satu Buku”

Permainan ini adalah permainan membawa satu buah buku dari satu meja lalu diletakkan di meja seberang dengan jarak antar meja menyesuaikan tempat. Semakin jauh semakin seru. Caranya remaja mengambil satu buku, lalu dibaringkan di jari telunjuk sebelah kanan, dengan posisi jari telunjuk berdiri dan diletakkan persis di ujung kuku. Lalu mereka diminta untuk bergerak menuju meja yang ada di seberang.

Cerita:

Diawali dengan sharing pengalaman melakukan permainan “Tunjuk Satu Buku”. Bagaimana rasanya memindah buku hanya dengan menggunakan satu jari saja? Apakah ada kesulitan atau hambatan yang dirasakan? Sharing terus berlanjut sampai para anak remaja menyadari bahwa ternyata itulah salah satu alasan kita diciptakan dengan jari yang tidak hanya satu, sehingga saling melengkapi dan membantu.
(Pamong lalu mengajak membaca bacaan Alkitab hari ini dari 1 Korintus 12: 12-31)

Bahwa setiap orang pasti membutuhkan orang lain. Kita adalah makhluk sosial yang memerlukan orang lain di sekitar kita. Bahkan dalam hidup berjemaat/ bergereja, kita juga memerlukan persekutuan dengan yang lain. Memang menyatukan banyak orang itu tidak mudah, karena semua memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Akan tetapi firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita semua bahwa apapun yang menjadi kelebihan kita, jangan sampai itu membuat kita sombong, lalu merendahkan orang lain, sehingga persekutuan kita kemudian menjadi pecah. Paulus mengingatkan bahwa kita ini adalah satu tubuh di dalam Kristus. Memang ada yang pandai bermain musik, ada yang pandai bernyanyi, ada yang pandai bercerita, ada yang pandai menggambar dan mendekor misalnya, tetapi bukan berarti kita saling merendahkan.

Dalam bacaan kita tadi Paulus mengingatkan, karena satu tubuh, maka tidak mungkin tangan melukai kaki, atau siku melukai mata, atau kepala melukai perut. Tidak mungkin kita melukai tubuh kita sendiri, betul atau tidak?

Maka dari itu, dalam hidup bersekutu di jemaat/gereja kita ini, mari kita saling mendukung dan

menghargai. Kalau mau ikut melayani, tidak saling iri, atau mengolok, atau bahkan merendahkan. Harus ada sinergi satu dengan yang lainnya. Itulah mengapa di gereja kita memiliki semboyan “Patunggilan Kang Nyawiji”. Sederhananya kita ini adalah persekutuan yang satu. Jadi kalau ada jemaat yang bahagia, maka yang lain ikut bahagia. Kalau ada jemaat yang berduka, maka yang lain juga berduka. Maka mestinya tidak mungkin ada yang saling melukai atau menjatuhkan. Setuju!?

Aktivitas:

Anak-anak remaja diajak untuk melakukan kegiatan yang menunjukkan kesatuan jemaat dengan segala perbedaannya, misalnya:

  1. Mereka  diberi  satu  ayat  bacaan  (bisa  ayat  hafalan  hari  ini).  Remaja  dibagi  menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3 anak. Dari ayat hafalan itu, masing-masing anggota kelompok diberi tugas:
    1. Membacakan ayat itu dengan nada (digubah menjadi nyanyian sederhana)
    2. Memperagakan gerakan dari teman yang bernyanyi dari ayat hafalan tadi dengan menggunakan tubuh kecuali mulut (jadi mulutnya tertutup)
    3. Memperagakan  pengucapan  dari  teman  yang  pertama  dengan  hanya menggunakan mulut.
  2. Bernyanyi accapela. Anak-anak remaja dibagi menjadi beberapa kelompok, masing- masing kelompok beranggotakan 3-5 orang. Lalu mereka disilakan memilih salah satu lagu sekolah minggu untuk dinyanyikan secara accapela. Mereka diberi waktu 5-10 menit untuk membagi tugas siapa yang menyanyikan melodi, siapa yang beatbox menirukan suara bass, gitar, drum dan lainnya. Lalu masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan accapelanya.

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •