Bacaan: 2 Timotius 1 : 1-5
Nats: “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” (2 Timotius 1 : 5 )
Dito mengunyah martabak kesukaannya sambil cemberut.
Ibu bertanya, “Kok tidak semangat makan martabaknya ? Tidak enak ya ? Maaf ya, ibu tadi masaknya agak terburu-buru karena harus jemput mbah uti di stasiun.”
“Enak kok bu martabaknya. Tapi aku males aja bu, kalau ada mbah Uti, pasti banyak sekali ceritanya. Apalagi mbah Uti gak gaul bu ,” jawab Dito.
Sambil tersenyum, ibu menjelaskan ,” mbah Uti memang tidak pandai main game, tidak pintar memakai Hp seperti Dito. Tidak mengenal sosmed, Karena jaman mbah Uti muda dulu belum ada Hp. Tetapi pengalaman Uti banyak sekali. Makanya uti senang sekali bercerita. Uti ingin kita mencontoh hal-hal yang baik dari cerita dan pengalaman Uti. Bukankah kamu juga selalu bilang kalau ibu ini adalah ibu terhebat. Nah mbah Uti juga yang sudah merawat dan mendidik ibu, sehingga ibu bisa jadi hebat buat kamu.”
Mau kemana Dito ,” tanya ibu heran
Minta maaf ke uti, bu,” jawab Dito sambil berlari ke kamar.
Ternyata dari nenekpun kita bisa belajar ya. Seperti Timotius yang menjadi salah satu rekan kerja Paulus yang baik dalam mengabarkan Injil. Timotius meneladani iman kepada Kristus, dari neneknya.
Apakah cerita dari nenekmu yang paling kamu ingat ? …
Doa: “Terimakasih Tuhan, untuk nenek dan kakek yang baik, yang sudah Tuhan berikan untukku. Amin.“