Hari Natal
Stola Putih
Bacaan 1 : Yesaya 52 : 7 – 10
Bacaan 2 : Ibrani 1 : 1 – 4, 5 – 12
Bacaan 3 : Yohanes 1 : 1 – 14
Tema Liturgis : Kehadiran Yesus Kristus Membawa Damai bagi Dunia
Tema Khotbah : Menjadi Pembawa Kabar Baik di Tengah Dunia
KETERANGAN BACAAN:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 52 : 7 – 10
Bagian kitab ini merupakan bagian kitab Deutero Yesaya, yang kisahnya ketika Israel berada di pembuangan. Dalam pasal 52 menunjukkan seruan kepada Sion untuk tetap kuat (seperti tangan Tuhan dalam 51:9) dan seruan janji penebusan. Pada konteks tahun 537 SM, umat sudah memiliki pemahaman Allah sebagai Raja, bahkan bisa dikatakan Raja kekekalan, namun dengan seruan “Allahmu itu Raja!” tentunya mengacu pada kejatuhan Babel dan pengumuman kerajaan untuk membangun kembali bait di Yerusalem dan memulihkan ibadah murni disana. Kembalinya ke Yerusalem mempunyai sifat perarakan keagamaan dari tempat profan Babel ke tempat suci Yerusalem. Di sana Allah diumumkan sebagai Raja, seperti dalam mazmur dari ibadah Yerusalem kuno.
Terkait dengan pembawa kabar baik, pada zaman Yesaya memang tidak secara eksplisit disebutkan siapa orang atau kelompok itu. Dalam kekristenan dewasa ini, yang jelas gambaran kabar baik dan keselamatan yang diberitakan itu kemudian merujuk pada keluarnya bangsa Israel dari Babel, lalu secara eskatologis juga dipahami kedatangan Mesias (Kristus Yesus) sebagai representasi kabar baik itu. Yang pasti ketika rasul Paulus mengutip tentang pembawa kabar baik ini (Roma 10: 14,15), iya memaknai pembawa kabar baik ini sebagai umat (bentuk majemuk). Yang artinya dengan meniru Yesus Kristus, semua orang Kristen adalah utusan/pembawa kabar baik perdamaian.
Ibrani 1 : 1 – 4, 5 – 12
Ibrani mirip dengan Injil Yohanes dan Surat Pertama Yohanes yang dimulai dengan sebuah prolog yang berpusat pada gagasan firman (Yoh 1:1-18; 1 Yoh 1:1-4). Gagasan dari masing-masing tentunya sedikit banyak berbeda. Semua sepakat bahwa “firman” merupakan pewahyuan Allah kepada manusia. Namun penekanannya adalah, dalam Injil Yohanes, “Firman” adalah personifikasi Yesus sendiri, dalam Surat Pertama Yohanes, firman adalah pesan Injil yang diwartakan dalam jemaat pengarang. Di Ibrani, hal itu mengisyaratkan adanya pengertian yang lebih luas dari semua tindakan Allah berhubungan dengan manusia. Mulai dengan Alkitab dan meluas sampai makna dari Putra Allah. Sejak dulu, Allah telah berbicara melalui berbagai cara dalam Alkitab; Sekarang, “pada zaman akhir”, Ia telah memberi pesan baru dalam PutraNya, Yesus. Tetapi, Allah yang samalah yang berfirman.
Selanjutnya hubungan antara Yesus dengan malaikat. Pertama disampaikan bahwa malaikat dalam arti tertentu dipikirkan sebagai pengantara Firman Allah dalam hukum Israel, yang kemudian digantikan oleh Injil. Kedua yaitu tentang pentahtaan ilahi dari Putra di sisi Allah di surga, yang mengingatkan pemahaman mengenai Allah dalam Perjanjian Lama. Ia yang ditahtakan jelas lebih tinggi daripada para malaikat yang melayani di depan tahta itu. Berbagai kutipan yang diambil ini jelas sebuah gambaran yang mengisyaratkan bahwa para malaikat direndahkan dan tidak abadi, sementara Putra ditinggikan dan abadi.
Yohanes 1 : 1 – 14
Bagian pengantar Injil Yohanes yang secara lengkap terdiri dari 18 ayat ini merupakan sebuah rangkuman dari seluruh Injil yang terdiri dari 20 pasal. Isinya berbicara mengenai pewahyuan Allah, mengenai bagaimana Ia menjelaskan diriNya kepada kita. Itulah sebabnya penulis memberi judul “Firman”. Hal ini sangat serupa dengan pewahyuan. Sebagai manusia, kita menyatakan diri melalui apa yang kita katakan dan lebih lagi melalui apa yang kita buat (bahasa tubuh). Demikian juga Allah, dari abad ke abad, telah menawarkan pewahyuan diri melalui tindakan dan perkataan. Dalam pengantar ini, pewahyuan diri Allah tersebut digambarkan secara terperinci. Allah menyatakan diri melalui penciptaan (ay. 2-5), juga melalui kata-kata dalam Perjanjian Lama (ay. 10-13), melalui perjanjianNya, tulisan-tulisan Musa, para nabi dan sastra kebijaksanaan. Mereka yang membuka mata dan percaya pada pewahyuan lama ini menjadi anak-anak Allah (ay. 12-13). Akhirnya Allah mewahyukan diri paling utama melalui inkarnasi Firman, di mana kemuliaan Allah, kehadiranNya, diwahyukan sebagai suatu tanda kasih yang terus-menerus (ay. 14).
Terhadap Firman yang menjadi manusia ini, Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian, suatu kesaksian yang memulai pernyataan Yesus secara historis, di mana Bapa diwahyukan secara penuh dalam diri Yesus Kristus dan dalam kepenuhanNya, jemaat kristiani telah mengambil bagian. Jadi jelas madah yang sangat artistik ini menjadi ringkasan dari teologi Yohanes tentang Yesus Kristus sebagai penggenapan kabar baik bagi manusia.
Benang Merah Tiga Bacaan :
Kabar baik yang adalah berita pembebasan dan keselamatan hendaknya terus menerus disampaikan kepada dunia. Allah telah mengirimkan para utusanNya untuk menyampaikan dan menunjukkan kepada umat, melalui pemberitaan FirmanNya, para nabi, rasul-rasul dan utusan-utusan yang lain. Bahkan telah digenapi melalui Tuhan Yesus Kristus Sang Kabar Baik itu sendiri. Kini dalam pengharapan eskatologis kita akan kedatangan Tuhan yang sama dalam akhir zaman, maka tugas menjadi pembawa kabar baik untuk dunia itu ada pada kita.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
Pendahuluan
Hoax atau berita bohong dewasa ini sangat populer menjadi perbincangan publik di negara kita. Masyarakat harus pintar-pintar memilih dan memilah mana berita yang sesuai fakta, mana berita yang memuat kebohongan/hoax. Apalagi di zaman yang serba digital saat ini, yang mana berita apapun dapat dengan mudah dan cepat ada dalam genggaman kita dan dapat dengan mudah dan cepat pula disebarkan. Yang membahayakan adalah ketika kelompok-kelompok tertentu akhirnya memanfaatkan kemudahan ini untuk menyebarkan hoax demi kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Masyarakat sendiri, dengan banyaknya hoax yang beredar, akhirnya tidak mudah mempercayai sebuah berita, namun pada ekstrim tertentu bahkan fakta aktual pun tidak diterima, karena pada akhirnya muncul sikap apatis atas berita-berita yang beredar. Ini yang kemudian menjadi persoalan. Mengutip dari detik.com, berikut beberapa cara untuk melihat apakah sebuah berita itu benar atau hanya sebuah hoax, antara lain:
- Cermati judul dan hati-hati dengan judul yang provokatif
- Cermati alamat situs yang didapat, apakah sebuah situs resmi atau tidak
- Cek keaslian foto atau video yang ada
- Bandingkan dengan berita serupa yang sedang beredar
Dengan memperhatikan hal-hal di atas, maka kita dapat meminimalisir penyebaran berita bohong dan dapat mempercayai berita yang memang terbukti kebenarannya. Menariknya adalah, kita dapat menguji keaslian sebuah berita berdasarkan fakta-fakta yang ada. Lalu bagaimana kita dapat mempercayai sebuah berita yang mengabarkan sesuatu yang belum terjadi?
Isi
Ketika penulis kitab Yesaya menyampaikan nubuatan tentang pembawa berita damai bagi Israel, berita pembebasan mereka dari perbudakan untuk kembali ke Yerusalem, maka respon yang bisa saja terjadi adalah dua hal. Yang pertama percaya kepada berita itu, yang kedua menganggap berita itu hanya sebuah omong kosong. Tentunya berita yang disampaikan tidak dapat diuji kebenarannya pada saat itu karena memang belum terjadi. Akan tetapi yang menarik adalah bagaimana kualitas berita yang disampaikan. Ada sebuah kepercayaan iman yang dipakai di sini, yaitu tentang Allah Israel sebagai Raja (Yes 52:7). Ini menegaskan bahwa berita yang disampaikan bukanlah sebuah bualan kebohongan belaka, bahwa Allah yang sama, yang membebaskan mereka dari Mesir, yang akan kembali membawa mereka ke Yerusalem. Jadi di sini pembawa berita menyampaikan sebuah kebenaran Allah kepada umatnya, bahwa Allah yang meraja, Allah yang kuasa itulah yang akan menyelamatkan mereka.
Pada akhirnya nubuatan itu terpenuhi dengan pembebasan bangsa Israel dari belenggu perbudakan di Babel. Lalu sekitar lima ratus tahun lebih setelah peristiwa itu, nubuatan yang digaungkan Yesaya kembali digenapi dengan lahirnya Tuhan Yesus Kristus Sang Mesias yang membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan dosa. Pola yang sama adalah ketika peristiwa pembebasan itu diawali dengan pembawa berita damai terlebih dahulu, yang dalam kisah ini mewujud dalam diri Yohanes Pembaptis (Yoh 1:7, 15). Dalam Injil Yohanes, umat diajak untuk mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang menjadi manusia, Dialah Allah yang sama, yang dulu menciptakan dunia, bahkan membebaskan nenek moyang mereka dari perbudakan, Dia ada sejak mulanya (Yoh 1:3).
Sampai di sini menjadi jelas bahwa selama ini dalam menyelamatkan umatNya, Tuhan memakai perantaraan utusannya, yaitu nabi, rasul, malaikat dan yang lainnya termasuk melalui Kitab Suci (kesaksian Firman), untuk menyampaikan berita dan kehendakNya. Namun kali ini berbeda dalam diri Tuhan Yesus. Dialah keselamatan itu, karena Yesus Kristus adalah Tuhan itu sendiri. Bahkan surat Ibrani menyampaikan bahwa kedudukan Kristus adalah tinggi dan mulia. Dia tak dapat dibandingkan dengan malaikat atau pun makhluk sorgawi lainnya, karena sejatinya Kristus adalah Tuhan Allah sendiri.
Untuk itu berita keselamatan yang selama ini diterima dan dialami sendiri oleh umat Israel sampai pada jemaat mula-mula bukanlah sebuah kebohongan atau hoax belaka. Ini adalah sebuah nubuatan yang telah digenapi, bahwa keselamatan adalah sebuah berita damai yang sudah disampaikan oleh para nabi, rasul, kitab suci dan lainnya sampai penggenapan oleh Kristus Yesus Tuhan kita. Berita itu tentunya harus terus digaungkan kepada dunia, supaya banyak orang semakin percaya kepada kebenaran yang telah dinyatakan.
Penutup
Di masa sekarang, sebagai panggilan hidup bergereja, kita diajak juga untuk dengan bijak selalu menyuarakan dan mengabarkan damai dan sukacita di tengah-tengah dunia, khususnya dalam peringatan Natal saat ini. Kelahiran Kristus di dunia adalah sebagai awal dari pemenuhan nubuat keselamatan dan damai sejahtera bagi dunia. Artinya yang menjadi fokus kita adalah bagaimana pada saat ini di era yang serba digital, kita tetap bisa mengabarkan damai sejahtera bagi dunia sekitar kita.
Salah satu yang bisa kita lakukan untuk menjadi pembawa kabar baik atau kabar damai adalah dengan kita lebih bijak dalam berinteraksi dengan orang lain, baik di dunia nyata atau pun dunia maya. Lebih bijak bermedsos supaya kita tidak menjadi penyebar hoax yang dapat merugikan dan membahayakan orang lain, tetapi justru menjadi pejuang pemberantas hoax. Natal bukan hanya tentang sukacita dan damai sejahtera, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk mewujudkan dan mempertahankan sukacita dan damai sejahtera tersebut. Selamat Hari Natal, selamat menjadi pembawa damai tanpa hoax. Tuhan memberkati. (DP)
Pujian : KJ 426: 1,3 / KJ 427: 1,2 / PKJ 281: 1,3
—
RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi
Pambuka
Hoax utawi pawartos dora/bohong sakpunika dados perkawis ingkang populer ing nagari kita. Para warganing masyarakat kedhah wicaksana anggenipun milih lan milah pawartos pundi ingkang nyata, lan pawartos pundi ingkang namung dora (goroh/hoax). Punapa malih ing zaman ingkang sarwa digital punika, pawartos punapa kemawon saged kanthi gampil lan enggal kita tampi lan kita sebaraken lumantar smartphone kita. Ingkang nguwatosaken inggih punika manawi wonten golongan-golongan ingkang ngginakaken kawontenan punika kangge nyebaraken hoax. Punapa malih, karana kathah sanget pawartos-pawartos hoax kalawau, punika dadosaken para warganing masyarakat boten gampil nampi lan pitados kaliyan sadaya pawartos ingkang kasebar. Langkung-langkung kathah ingkang ekstrim sanget, lajeng boten pitados babar pisan sadaya pawartos ingkang dipun tampi, sinaosa pawartos punika leres. Punika ingkang kasebat apatis, lan punika pungkasanipun dados perkawis ingkang enggal malih. Mirsani saking detik.com, punika wonten bab-bab ingkang saged kita lampahi kangge nguji pawartos pundi ingkang nyata lan leres, lan pawartos pundi ingkang namung hoax, inggih punika:
- Irah-irahan ageng ingkang kaserat punika ngginakaken basa ingkang netral punapa provokatif
- alamat situs punika resmi punapa boten
- gambar lan video saged dipun tingali kaleresanipun lumantar pawartos-pawartos lintunipun ingkang jejeripun sami
- Maos lan nggatosaken pawartos-pawartos ingkang jejeripun sami.
Kanthi nggatosaken bab-bab ing inggil punika, kita saged nyegah supados pawartos hoax kalawau boten kasebar. Kaping kalihipun, kita saged ngugemi pawartos-pawartos ingkang sampun kabukten kaleresanipun. Saklajengipun ingkang kedhah dados kawigatosan kita, inggih punika pawartos-pawartos ingkang dereng kalampahan. Manawi pawartos ingkang sampun kalampahan, kita saged nguji asli lan botenipun. Ananging kados pundi manawi pawartos punika dereng kalampahan?
Isi
Nalika nabi Yesaya ngaturaken pangandika bab pangasta pawartos katentreman lan kabingahan kangge Israel, inggih punika pawartos pangluwaran saking Babel kangge lumebet dhateng Yerusalem, wonten kalih macem kasanggemanipun bangsa Israel. Ingkang sepisan, pitadosi punapa ingkang dados dhawuhipun, ingkang kaping kalih saged kemawon dipun wastani pawartos dora (hoax). Tamtunipun pawartos ingkang dipun aturaken boten saged kapiji kaleresanipun kala semanten punika, amargi dereng kalampahan. Ananging ingkang saged katingal inggih punika bobot pawartos ingkang sampun kaaturaken, bilih sadaya pawartos punika pinangkanipun namung saking Gusti Allah ingkang jumeneng ratuning Israel (Yes 52:7). Kawontenan punika negesaken bilih pawartos ingkang sampun kababar kalawau estu-estu dhawuhipun Gusti, inggih punika Gusti ingkang sami, ingkang sampun paring pangluwaran saking Mesir, lan ingkang badhe ngirid lan ngluwari kagunganipun saking Babel ngantos dumugi Yerusalem malih. Pramila ing ngriki, pangasta pawartos kanthi saestu ngandikakaken dhawuhipun Gusti, bilih Panjenenganipun ingkang jumeneng Ratu, ingkang badhe paring pangluwaran malih.
Pungkasanipun pangandikanipun Gusti saestu kalampahan, inggih punika pangluwaranipun bangsa Israel saking Babel. Lajeng antawis gangsal atus taun langkung saksampunipun punika, pangandikanipun Gusti ingkang kababar lumantar Yesaya punika kalampahan malih, inggih punika Gusti Yesus Kristus Sang Mesih, ingkang ngluwari sadaya umatipun saking pangwasaning dosa. Ing ngriki wonten kawontenan ingkang sami, bilih pangluwaran punika mesthi dipun wiwiti kaliyan pangasta pawartos sih rahmat langkung rumiyin, lan ing cariyos bab Gusti Yesus, ingkang dados pangasta pawartos kalawau inggih punika Yokanan Pambaptis (Yok. 1:7,15). Ing Injil Yokanan, umat kaajak supados tansah ngimani bilih Gusti Yesus punika sabda ingkang dados manungsa, inggih punika Gusti Allah ingkang sami, ingkang sampun nitahaken langit kaliyan bumi, ingkang ngluwari bapa leluhuripun saking panindhes, ingkang sampun jumeneng ratu wiwit ing wiwitaning gesang (Yok. 1:3).
Cetha sanget bilih ing kawontenan kangge ngluwari umatipun, Gusti Allah makarya lumantar utusanipun, inggih punika para nabi, rasul, malaekat lan sapanunggalanipun ingkang kaserat dhateng Kitab Suci, kangge martosaken pawartos lan karsanipun Gusti. Ananging kawontenan punika benten kaliyan ingkang dipun tindakaken dening Gusti Yesus. Panjenenganipun punika dados wujuding kawilujengan ingkang sejatos, pawartos kabingahan saking Allah ingkang manjalma manungsa, inggih punika Gusti Allah piyambak. Langkung-langkung ing kitab Ibrani kalawau kaserat bilih jumenenging Gusti Yesus Kristus punika inggil lan mulya, nglangkungi sadaya malaekat lan sapiturutipun, karana Gusti Yesus punika inggih Gusti Allah piyambak.
Pramila, pawartos kawilujengan ingkang sampun dipun tampi lan dipun raosaken dening para umat, wiwit umat Israel ngantos dumugi pasamuwan-pasamuwan enggal wekdal semanten punika sanes pawartos dora/goroh (hoax). Pawartos punika dados wujuding dhawuh pangandikanipun Gusti ingkang sampun kalampahan, inggih punika pawartos kawilujengan ingkang sampun kababar lumantar para nabi, rasul, ugi lumantar Kitab Suci lan sanesipun ngantos kalaksanan nganti lulus ing Sang Kristus Yesus, Gusti kita. Pawartos kawilujengan punika tamtunipun kedhah tansah kababar, supados langkung kathah malih tiyang ingkang nampi pawartos kawilujengan punika lan nuwuhaken iman kapitadosan.
Panutup
Ing kawontenan kita sakpunika, ingkang dados timbalaning gesang pasamuwan, inggih punika gesang kanthi wicaksana lan tansah mbabaraken tentrem rahayu ing satengahing donya. Khususipun ing dinten natal punika, wiyosipun Gusti Yesus punika dados wiwitan kababaring kawilujengan lan tentrem rahayu. Pramila timbalan ingkang utami inggih punika kados pundi anggenipun kita mujudaken tentrem rahayu ing zaman modern ingkang sarwa digital punika.
Salah satunggaling bab ingkang saged kita lampahi sesarengan minangka pangasta pawartos kawilujengan inggih punika kawicaksanan kita nalika gesang pasedherekan, tumindhak kita dhateng tiyang sanes, inggih punika ing gesang nyata padintenan, ugi tumindhak ing dunia maya. Kita kaajak supados sageda tansah wicaksana anggenipun ngginakaken medsos (media sosial) supados pawartos-pawartos dora/goroh (hoax) punika boten kasebar lan ngrugekaken tiyang kathah. Langkung-langkung kita saged mbudidaya gesang dados pemberantas hoax. Natal punika boten namung bab sukabingah lan tentrem rahayu ing kanyatan padintenan kemawon, ananging ugi nedahaken tanggel jawab kangge nuwuhaken sukabingah lan tentrem rahayu ing dunia maya. Sugeng riyadi Natal, sugeng makarya dados pangasta pawartos kaslametan tanpa hoax. Gusti mberkahi. (DP)
Pamuji: KPJ 441 / KPK 139