Penggunaan Tradisi Budaya Lokal Khotbah Minggu 12 November 2017

Bulan Budaya GKJW
Stola Putih

Bacaan 1 : Amos 5:18-24
Bacaan 2 : 1 Tesalonika 4:13-18
Bacaan 3 :  Matius 25:1-13

Tema Liturgis  : Budaya Luhur Sarana Melakukan Panggilan Tuhan
Tema Khotbah : Penggunaan tradisi budaya lokal

 

Keterangan Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Amos 5:18-24

Pidato “celaka” yang kedua mengulangi lagi gagasan religius yang tradisional, yakni janji-janji Allah bagi masa depan sebagai inti keluaran zaman Musa dari Mesir, dan kemudian membalikkan apa yang biasa diharapkan orang dari itu. Sementara jawaban yang biasa adalah kegembiraan, Amos menjelaskan bahwa “hari Tuhan” berarti “kegelapan dan bukan terang” (ay. 18). Ungkapan “hari Tuhan” mempunyai sejarah yang panjang dalam karya-karya di luar Alkitab. Dalam sastra Akkad, selatan Mesopotamia (Irak modern) ratusan tahun sebelum Amos, “hari dewa” adalah pesta istimewa untuk menghormati dewa dengan upacara ibadah yang meriah. Bagi Israel pada zaman Amos, “hari Yahwe” ditandai dengan perayaan yang meriah akan kehadiran Tuhan sewaktu tindakan penyelamatan di masa lalu diperbarui secara liturgis (ay. 23-25).

Namun Amos mewartakan yang sebaliknya. Sesudah zamannya, “hari Tuhan” berarti hari kemurkaan Tuhan melawan Israel, atau kelak -selama pembuangan- melawan musuh-musuh Israel; kemudian kembali kepada ide yang lama, hari keselamatan bagi Israel, dan kadang-kadang juga hari penghakiman terakhir. Amos memberikan tempatnya yang tetap dari pengertian ini. Ia berdasar pada tradisi yang sangat tua, yang secara kreatif menantang salah tafsir dari orang-orang sezamannya, dan mencoba mengembalikan kepercayaan Israel yang asli, pembebasan orang tertindas dan penghakiman bagi para penindas.

 

1 Tesalonika 4:13-18

Pada tempat ini Paulus memperkenalkan sebuah unsur yang tidak ditemukan dalam surat kafir pada zaman itu, yaitu ajaran mengenai akhir zaman. Dalam menghadapi kematian, dunia kafir sama sekali tidak mempunyai pengharapan. Dalam bagian ini dia menjelaskan apa yang akan terjadi bagi anggota yang kematiannya terjadi sebelum kedatangan Tuhan. Paulus meyakinkan pembacanya bahwa orang Kristen yang meninggal ini tidak kehilangan penebusan yang diperoleh pada saat kedatangan Tuhan. Karena itu, kedukaan orang Kristen atau seseorang yang meninggal dalam iman, tidak sama dengan kedukaan mereka yang tidak mempunyai pengharapan.

Untuk menunjukkan mengapa orang Kristen berpengharapan, juga sekalipun dalam keadaan berduka, Paulus mengutip sebuah sahadat yang telah dikenal oleh jemaatnya: “kita percaya juga bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit”. Kepercayaan ini penting, karena apa yang terjadi pada Yesus, juga akan terjadi pada mereka yang meninggal dalam iman kepada Yesus. Allah akan mengambil mereka sama seperti Dia membangkitkan Yesus. Paulus bernubuat bahwa mereka yang masih hidup saat kedatangan Tuhan, tidak akan menjadi lebih baik keadaannya dari orang beriman yang telah meninggal. Dengan suara yang mengagumkan dan dengan kemuliaan, Tuhan akan turun dari sorga, dan mereka yang sudah meninggal akan bangkit sebagai kelompok pertama yang menyongsong Dia; kemudian yang hidup akan diangkat dan semua kaum beriman akan menyongsong Tuhan di tengah-tengah awan untuk memulai keberadaan eksternal dalam kemuliaan bersamaNya.

 

Matius 25:1-13

Perumpamaan sepuluh gadis berisikan banyak gambaran yang sudah diketahui dari perumpamaan sebelumnya. Gadis-gadis bodoh dan gadis-gadis bijak ini mangandaikan kebiasaan di Palestina mengenai kepergian pengantin pria ke rumah pengantin wanita untuk melakukan perjanjian perkawinan dengan ayah mertuanya. Ketika pengantin pria kembali dengan pengantin wanita ke rumahnya sendiri, pesta perkawinan segera dimulai. Para pengiring diharapkan menyongsong pengantin pria dan pengantin wanita ketika mereka mendekati rumah. Pengiring yang bodoh yakin bahwa pengantin pria tidak akan datang pada waktu malam. Tetapi pengiring yang bijak yakin bahwa dia dapat datang sewaktu-waktu (ay 2-4). Pengantin pria terlambat (ay. 5), tetapi akhirnya dia datang pada waktu yang sama sekali tidak diharapkan (ay. 60). Pengiring yang bodoh sangat terkejut dan tidak mampu mendapat minyak pada waktunya untuk memulai pesta perkawinan (ay. 7-10). Pintu tertutup, dan mereka ditolak untuk masuk. Sekali lagi pesan dari perumpamaan ini merupakan ajaran untuk selalu berjaga-jaga setiap saat (ay. 13).

 

Benang Merah Ketiga Bacaan

Bacaan 1 dan 3 berdasar pada tradisi yang berlaku di luar tradisi umat Tuhan. Tetapi Paulus dalam suratnya memperkenalkan sesuatu yang baru yang tidak ada di tradisi kafir tentang hari akhir.

 

RANCANGAN KHOTBAH:  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan…bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Manusia berbudaya. Artinya, manusia membuat suatu karya atau tatanan yang diberlakukan -dipegangi dan dilakukan/ digunakan- secara terus-menerus sehingga menjadi suatu tradisi. Setiap budaya atau tradisi mempunyai estetika (keindahan), makna dan ajaran. Manusia berbudaya menurut suku atau bangsanya masing-masing. Sehingga, di mana suku atau bangsa itu tinggal tentu mempunyai budaya dan tradisinya yang khas dan berbeda dengan suku atau bangsa di tempat yang berbeda. Dari situ muncullah tradisi budaya lokal. Dari ajaran atau pesan tradisi budaya lokal itu dikenallah yang disebut local wisdom atau kearifan lokal.

 

Isi

Tuhan Yesus dalam menyampaikan ajaran-ajaranNya juga menggunakan tradisi budaya lokal. Dalam menyampaikan ajaran supaya umatNya selalu berjaga-jaga, Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan tentang “Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh”.

Gadis-gadis yang menyongsong mempelai pria yang diceritakan dalam perumpamaan ini adalah tradisi perkawinan di tanah Palestina. Menurut tradisi di sana: di awal rangkaian pesta perkawinan ini adalah mempelai pria pergi ke rumah mertuanya untuk mengambil mempelai wanitanya. Kepergiannya ke rumah mempelai wanita, dia diuntapake (dilepas kepergiannya) oleh gadis-gadis. Ketika di rumah mempelai wanita, dia beserta rombongannya melakukan percakapan dengan pihak mertuanya. Setelah selesai percakapan itu, kemudian mempelai pria kembali ke rumahnya sendiri bersama mempelai wanitanya. Kedatangannya kembali ke rumahnya, dia disambut oleh gadis-gadis tadi. Kedatangannya kembali ke rumah tidak bisa diprediksi dan tidak diketahui oleh gadis-gadis itu. Kedatangannya kembali bisa terjadi sewaktu-waktu.

Dalam perumpamaan ini, diceritakan oleh Tuhan Yesus bahwa mempelai pria itu rupanya datang pada hari sudah larut malam. Gadis-gadis itu sudah cukup lama menanti-nantikan kedatangan mempelai itu, sehingga pelita mereka hampir kehabisan minyak. Gadis-gadis yang bodoh tidak membawa persediaan minyak, lalu meminta minyak kepada gadis-gadis bijaksana yang membawa persediaan minyak. Karena permintaan mereka ditolak, mereka pergi membeli minyak. Ketika mereka ini pergi, mempelai pria dan rombongannya tiba, dan segera masuk ke rumah dan menutup pintunya untuk memulai pesta. Ketika mereka kembali, mereka tidak bisa masuk rumah pesta itu.

Berita tentang “hari Tuhan” dalam bacaan 1 hari ini, Kitab Amos, tadi pun ternyata -menurut penilitian para ahli- juga berasal dari tradisi yang sudah ada di Mesopotamia ratusan tahun sebelum Amos, yaitu tentang “hari dewa”. Makna “hari dewa” diubah sedikit oleh Amos dalam pemahaman tentang “hari Tuhan”. “Hari dewa” adalah pesta istimewa untuk menghormati dewa dengan upacara ibadah yang meriah. Bagi Israel pada zaman Amos, “hari Tuhan” ditandai dengan perayaan yang meriah akan kehadiran Tuhan sewaktu tindakan penyelamatan di masa lalu diperbarui secara liturgis (ay. 23-25). Tetapi Amos memberitakan bahwa “hari Tuhan” berarti hari kemurkaan Tuhan melawan Israel karena dosa-dosa dan kejahatannya. Tetapi pada masa pembuangan “hari Tuhan” adalah kemenangan Tuhan melawan musuh-musuh Israel. Jadi, makna “hari Tuhan” kembali kepada ide yang lama, taitu keselamatan bagi Israel.

Di sisi lain, Paulus -dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika- memperkenalkan sesuatu yang baru yang tidak terdapat dalam tradisi dunia kafir. Dalam menghadapi kematian, dunia kafir sama sekali tidak mempunyai pengharapan; tidak ada sesuatupun yang dapat diharapkan setelah kematian. Dalam bagian suratnya ini, bacaan kita yang ke 2, Paulus menuliskan tentang orang yang sudah meninggal dan yang masih hidup di saat akhir zaman, saat kedatangan Tuhan Yesus kembali. Dengan suratnya ini Paulus meneguhkan iman orang-orang Tesalonika bahwa orang-orang yang meninggal dan yang hidup dalam iman, mempunyai pengharapan hidup yang kekal bersama Tuhan di sorga. Semuanya akan mengalaminya saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.

Tuhan Yesus menceritakan tradisi lokal untuk mengajar para pengikutNya supaya berjaga-jaga menghadapi akhir zaman. Dia tidak menghendaki pengikutNya bertindak bodoh. Dia menghendaki kita semua bijaksana dan selalu waspada supaya kita bisa menyambut kedatanganNya yang kedua kali.

Nabi Amos juga menggunakan tradisi yang sudah berlaku bertahun-tahun untuk mengingatkan umat Tuhan supaya bertobat dari kemunafikan dan segala macam dosa, supaya mereka tidak tertimpa hukuman. Mereka dikehendaki untuk setia melakukan keadilan dan kebenaran. Dengan bertindak begitu, mereka akan mendapat keselamatan pada “hari Tuhan”.

Gereja kita, GKJW, hidup di tengah masyarakat yang kaya dengan kebudayaan dan tradisi. Ada budaya dan tradisi Jawa, Madura dan Osing (Banyuwangi). Ada seni budaya lokal: seni musik (karawitan, kendang kempul Banyuwangi, Srunen Madura, dsb), seni tari, seni drama (wayang, ludruk, janger), ada juga tradisi kepercayaan (slametan, pethik, bersih desa, dsb). Budaya dan tradisi itu indah, walaupun tentu tidak semua maknanya sesuai dengan ajaran Tuhan kita. Karena itu, kita boleh bahkan baik menggunakan budaya dan tradisi lokal itu untuk melakukan dan memberitakan karya Tuhan. Namun demikian, kita juga harus kritis terhadapnya. Semua budaya dan tradisi lokal yang kita pakai, praktek dan maknanya harus sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Semua budaya dan tradisi lokal yang kita pakai harus dalam rangka melakukan dan memberitakan kasih, karya, kuasa dan kehendak Tuhan. Semua budaya dan tradisi lokal yang kita pakai tidak boleh menyesatkan, tetapi sebaliknya harus justru menguatkan iman dan spiritualitas (kerohanian) kita. Dengan begitu, semua umat Tuhan diingatkan untuk selalu berjaga-jaga, bertindak bijaksana dan selalu layak menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.

 

Penutup

Mari kita mantapkan iman dan spiritualitas kita bersama dengan menggunakan juga budaya dan tradisi lokal kita. Mari kita beritakan keagungan Tuhan: keagungan kasih, karya, kuasa dan kehendakNya, dengan menggunakan budaya dan tradisi lokal kita, dengan membubuhkan makna kristiani dalam budaya dan tradisi lokal yang kita pakai. Dimasyhurkan dan dimuliakanlah nama Tuhan! Amin. [st]

 

Nyanyian: KJ 14:1(2x); 14:292x)/ 23:1(2x); 50a:1,4; 244:1-3; 433:1-/ KK 46:1-

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Manungsa menika nggadhahi kabudayan. Tegesipun, manungsa nindakaken utawi ngripta pakaryan utawi pranatan ingkang dipun ugemi lan dipun tindakaken/ ginakaken kanthi ajeg wongsal-wangsul temah dados tradisi (adat). Saben kabudayan nggadhahi kaendahan, pangaji lan piwulang/ pitutur. Manungsa nggadhahi kabudayan manut golongan utawi suku lan bangsanipun piyambak-piyambak. Temahan, ing pundi suku utawi bangsa menika mapan mesthi nggadhahi kabudayan ingkang mirunggan lan adatipun benten kaliyan suku utawi bangsa sanes ing papan sanesipun. Saking ngriku lajeng tuwuh kabudayan lokal. Saking piwulang utawi pitutur kabudayan lokal menika lajeng wonten sebatan local wisdom utawi kearifan lokal.

 

Isi

Gusti Yesus anggenipun paring piwulang ugi migunakaken kabudayan lokal. Anggenipun paring piwulang supados umatipun tansah jumaga-jaga, Gusti Yesus ngginakaken pasemon bab “prawan sedasa ingkang wicaksana lan ingkang bodho”.

Para prawan ingkang methuk pangantyan kakung ingkang kacariyosaken ing pasemon menika satunggaling kabudayan bab neningkahan ing tanah Palestina. Ing wiwitaning pesta neningkahan menika, pangantyan kakung tindak dhateng dalemipun marasepuh saperlu mundhut pangantyan putri. Anggenipun tindak dhateng dalemipun marasepuh, piyambakipun dipun untapaken dening para prawan. Nalika wonten ing dalemipun marasepuh, pangantyan kakung lan rombonganipun nindakaken wawan pangandikan kaliyan marasepuhipun. Sareng sampun rampung pirembaganipun, pangantyan kakung tumunten kondur dhateng dalemipun piyambak sesarengan kaliyan pangantyan putri. Rawuhipun pangantyan sarimbit dhateng dalemipun dipun pethuk dening para prawan kalawau. Konduripun pangantyan dhateng dalemipun piyambak menika boten saged dipun titeni wancinipun dening para prawan menika. Konduripun saged sawanci-wanci.

Ing pasemon menika dipun cariyosaken dening Gusti Yesus bilih rawuhipun pangantyan kakung ketingalipun sampun dalu sanget. Para prawan menika sampun dangu anggenipun ngrantos rawuhipun, ngantos lisah oncoripun sampun meh telas. Para prawan ingkang bodho boten cecawis lisah, lajeng nyuwun dhateng para prawan wicaksana ingkang mbekta lisah linangkung. Karana panyuwunipun dipun tampik, lajeng para prawan menika sami kesah saperlu tumbas lisah. Nalika sami kesah menika, pangantyan kakung lan rombonganipun sami rawuh lan tumunten lumebet ing griya sarta nginep korinipun nunten miwiti pesta. Sareng para prawan bodho kalawau wangsul, sami boten saged mlebet griya pesta menika. Menika kabudayan lokal tanah Palestina.

Tembung “dinane Pangeran” ing waosan 1, Kitab Amos, swaunipun -miturut penilitan para ahli- jebul ugi kabudayan saking Mesopotamia ingkang sampun wonten atusan taun saderengipun Nabi Amos, nggih menika ingkang kasebat “dinane dewa”. Maknaning “dinane dewa” menika dipun owahi sekedhik dening nabi Amos ing pemanggihipun bab “dinane Pangeran”. “Dinane dewa” menika pesta ageng kangge ngurmati dewa klayan upacara pangibadah ingkang gumebyar. Menggahing bangsa Israel ing jamanipun nabi Amos, “dinane Pangeran” dipun tandhani mawi pahargyan ageng tumrap rawuhipun Gusti nalika nindakaken pakaryan karahayon ing waktu ingkang sampun kawuri. Nanging Nabi Amos mawartosaken bilih “dinane Pangeran” menika ateges dinten pageblug saking Gusti ingkang nempuh bangsa Israel awit dosa-dosa lan piawonipun. Nanging ing mangsa pambucalan ing Babil “dinane Pangeran” menika ateges dinten kaunggulanipun Gusti lumawan mengsah-mengsahipun bangsa Israel. Dados, maknaning “dinane Pangeran” wangsul dhateng pemanggih ingkang sampun kawuri, nggih menika bab karahayon kagem bangsa Israel.

Ing sisih sanesipun, Rasul Paulus -ing seratipun dhateng pasamuwan Tesalonika- nepangaken wawasan enggal ingkang boten wonten ing kabudayan kapir. Salebeting ngadhepi pepejah, kabudayan kapir boten nggadhahi pangajeng-ajeng babar pisan; boten wonten prekawis satunggal menapa ingkang saged dipun ajeng-ajeng sasampunipun pejah. Ing peranganing seratipun menika, waosan 2, Paulus nyerat bab nasibipun tiyang ingkang sampun seda lan ingkang gesang ing iman ing jaman wekasan, nalika Gusti Yesus rawuh malih. Klayan seratipun menika Paulus ngukuhaken kapitadosanipun tiyang-tiyang Tesalonika bilih tiyang-tiyang ingkang seda lan gesang ing salebeting kapitadosan dhumateng Gusti Yesus, nggadhahi pangajeng-ajeng gesang langgeng tetunggilan kaliyan Gusti ing swarga.

Gusti Yesus nyariyosaken kabudayan lokal kangge mulang para pendherekipun supados tansah jumaga-jaga ngadhepi pungkasaning jaman. Panjenenganipun boten ngersakaken para pendherekipun tumindak lena. Panjenenganipun ngersakaken kita sedaya wicaksana lan tansah waspada supados kita saged lan pantes methuk rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih.

Bani Amos ugi migunakaken kabudayan ingkang sampun lami sanget kangge ngengetaken umatipun Gusti supados mratobat saking tumindakipun ingkang lelamisan lan kebak dosa, supados sampun ngantos katempuh ing pageblug. Umatipun Gusti dipun kersakaken kanthi setya tuhu nindakaken kaadilan lan kayekten. Kanthi mekaten, para umat menika pikantuk karahayon ing “dinane Pangeran”.

Greja kita, GKJW, gesang ing tengahing masyarakat ingkang sugih kabudayan. Wonten kabudayan Jawi, Medunten (Madura) lan Osing (Banyuwangi). Wonten seni kabudayan lokal: seni musik (karawitan, kendang kempul Banyuwangi, Srunen Medura, lsp), wonten seni tari, seni drama (wayang, ludruk, kethoprak, janger), wonten ugi kabudayan bab kapitadosan (slametan, pethik, bersih desa, lsp). Kabudayan menika endah, nadyan boten sedaya maknanipun condhong kaliyan piwulangipun Gusti kita. Pramila saking menika, kita pareng lan malah prayogi migunakaken kabudayan lokal kagem nindakaken lan mawartosaken pakaryanipun Gusti. Ewasamanten, kita kedah kritis (taliti). Sedaya kabudayan lokal ingkang kita agem, cak-cakan lan maknanipun kedah selaras kaliyan pepaken lan karsanipun Gusti. Sedaya kabudayan lokal ingkang kita agem kedah kanthi pangangkah nindakaken lan mawartosaken sih katresnan, pakaryan, pangwasa lan karsanipun Gusti. Kabudayan lokal ingkang kita agem boten pareng nasaraken, nanging kosokwangsulipun malah kedah nyantosakaken iman kapitadosan lan karohanen kita. Klayan makaten, sedaya umatipun Gusti dipun engetaken supados tansah jumaga-jaga, tumindak wicaksana temah pantes methuk rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih.

 

Panutup

Mangga kita antepaken iman kapitadosan lan karohanen kita sesarengan srana migunakaken ugi kabudayan lokal kita. Mangga kita undhangaken kaagunganipun Gusti: kaagunganing katresnan, pakaryan, pangwasa lan karsanipun Gusti, srana migunakaken kabudayan lokal kita, srana muwuhaken maknaning kekristenan ing kabudayan lokal ingkang kita agem. Kasuwurna lan kamulyakna asmanipun Gusti. Amin. [st]

 

Pamuji: Kid. Kontekstual 2:1,2; 20:1-3; 47:1-; KPK 195:1,2,3.; 343:1.

 

 

Bagikan Entri Ini: