Keluhuran Memimpin Karena Sikap Melayani Khotbah Minggu 5 November 2017

Bulan Budaya
Stola  PUTIH

 

Bacaan 1         : Mikha 3:5-12
Bacaan 2         : 1 Tesalonika 2:9-13
Bacaan 3         : Matius 23:1-12

Tema Liturgis  : “Budaya Luhur Sarana Melakukan Panggilan Tuhan”
Tema Khotbah : “Keluhuran Memimpin Karena Sikap Melayani”

 

Keterangan Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Mikha 3:5-12

Pemimpin bangsa seharusnya berpikir dan berkarya bagi kesejahteraan rakyat yang dipimpin. Pemimpin umat seharusnya mengarahkan umat di jalan yang benar. Namun tidak demikian dengan para pemimpin Yehuda. Mereka memutar balikkan kebenaran (ayat 9b) dengan mengabaikan keadilan dan melakukan kejahatan (ayat 1-3).

Tindakan ini membingungkan rakyat, karena tidak jelas lagi mana yang benar dan mana yang salah. Mereka juga tidak melindungi rakyat, melainkan menyiksa rakyat (ayat 2-3, 10). Semua itu terjadi karena ketamakan mereka. Para pemimpin politik maupun pemimpin rohani bekerja atas motivasi cari duit (ayat 5, 11). Seolah telah berbuat benar, dengan pongah mereka berkata bahwa Tuhan pun tidak akan menghukum mereka (ayat 11). Ini benar-benar munafik! Di satu sisi, mereka menolak keadilan Allah, tetapi di sisi lain mereka mengharapkan perlindungan-Nya. Namun Tuhan selalu berdiri di atas kebenaran. Semua pemimpin bangsa yang korup akan dihukum Allah (ayat 4, 6-7, 12)!

 

1 Tesalonika 2:9-13

Paulus menunjukkan dirinya layak dengan melayani jemaat Tesalonika sungguh-sungguh. Ia benar-benar menyampaikan firman Tuhan bukan untuk menyukakan mereka, melainkan Allah (ayat 4-6). Ia menyampaikannya dengan ramah bagaikan seorang ibu yang membagi hidupnya untuk anak-anaknya (ayat 7-8). Ia menjaga hidupnya sedemikian sehingga menjadi saksi Injil yang tiada bercacat (ayat 9-10). Dengan sikap seorang bapa ia menasihati mereka untuk setia hidup sesuai dengan kehendak Allah (ayat 11-12). Sungguh hidup Paulus menunjukkan kelayakannya untuk menjadi saksi Kristus.

 

Matius 23:1-12

Banyak kelebihan orang Farisi dan ahli Taurat. Tuhan Yesus tak segan mengakui bahwa ajaran mereka tentang Taurat harus didengar oleh para pengikut-Nya. Ketekunan dan kesetiaan mereka mengajarkan hukum-hukum Tuhan itu sedemikian cermat sampai dijuluki menduduki kursi Musa. Sayangnya mereka sendiri tidak melakukan yang mereka ajarkan. Mereka tepat disebut sebagai aktor rohani (ayat 5-10). Mereka tidak patut disebut rabbi sebab tidak memberlakukan kebenaran yang mereka ketahui dan ajarkan kepada orang lain lebih dulu pada diri sendiri.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Ketiga bacaan kita pada kali ini berbicara mengenai kepemimpinan yang melayani. Kepemimpinan yang melayani dilakukan dengan penuh ketekunan juga kesetiaan dengan motivasi dari dalam hati.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan…bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan 

Sering orang beranggapan ataupun menganggap budaya berarti adat istiadat. Ketika ngomong tentang istiadat itu berarti kuno, sudah jadul (jaman dulu). Sekarang jaman modern, terlalu memegang budaya atau adat istiadat identik dengan kurang pergaulan (kuper), yang ‘gaul’ itu yang keren, trendy, mengikuti jaman. Apakah benar demikian? Apakah memang kalaupun disebut kuno atau sudah jadul itu lalu menjadi tidak berarti atau tidak bisa mengikuti jaman, sehingga budaya sering kali dibenturkan dengan jaman/ era yang sudah dan sedang berubah. Oh jangan salah, sekarang ini yang kuno itu bernilai tinggi, yang jadul itu mahal sebab semakin terbatas, semakin langka, dan perlu usaha keras untuk bisa melanggengkan dan melestarikannya.

Tetapi dari pada kita salah menilai tentang budaya mari kita cermati kata budaya. Tema Liturgi kita hari ini adalah “Budaya Luhur Sarana Melakukan Panggilan Tuhan”. Ada kata kunci ‘Budaya’ dan ‘Luhur’.

 

Isi

Apa itu budaya?

Budaya berarti à 1 pikiran; akal budi; 2 adat istiadat: ; 3 sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju); 4  sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah; sedangkan luhur berarti à tinggi; mulia: terhormat,  penuh keagungan, megah sekali. Maka, Budaya Luhur dapat kita artikan: pikiran, akal budi, adat istiadat, peradaban, kebiasaan yang mulia, terhormat penuh keagungan dan kemegahan.

Salah satu fungsi keluhuran budaya atau budaya yang luhur sangat berguna untuk fungsi kepemimpinan.

 

Siapa yang disebut pemimpin?

Anda adalah seorang pemimpin. Ya, Anda! Anda mungkin bukan presiden atau manajer suatu organisasi, namun Anda diminta memimpin orang lain. Apakah Anda mengajar di Sekolah Minggu? Jika ya, berarti Anda seorang pemimpin. Apakah Anda punya anak? Berarti Anda seorang pemimpin. Apakah Anda punya pekerjaan? Berarti Anda seorang pemimpin. Apakah Anda punya teman-teman? Berarti Anda seorang pemimpin.

Siapa pun Anda, yang jelas orang-orang sedang memperhatikan Anda dan dipengaruhi oleh teladan Anda. Saat memikirkan tanggung jawab yang menakjubkan ini, apakah yang sebaiknya Anda lakukan? Ki Hajar Dewantara menegaskan: “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” artinya ”Di Depan Menjadi Panutan atau Contoh, Di Tengah menjadi Penjalar atau Penyeimbang sepantara, dan di Belakang melakukan Dorongan.

 

Firman Tuhan hari ini berbicara mengenai kepemimpinan.

Bacaan pertama menununjukkan kepemimpinan bangsa dan umat. Pemimpin bangsa seharusnya berpikir dan berkarya bagi kesejahteraan rakyat yang dipimpin. Pemimpin umat seharusnya mengarahkan umat di jalan yang benar. Namun tidak demikian dengan para pemimpin Yehuda. Mereka memutar balikkan kebenaran (ayat 9b) dengan mengabaikan keadilan dan melakukan kejahatan (ayat 1-3).

Tindakan ini membingungkan rakyat, karena tidak jelas lagi mana yang benar dan mana yang salah. Mereka juga tidak melindungi rakyat, melainkan menyiksa rakyat (ayat 2-3, 10). Semua itu terjadi karena ketamakan mereka. Para pemimpin politik maupun pemimpin rohani bekerja atas motivasi cari duit (ayat 5, 11). Seolah telah berbuat benar, dengan pongah mereka berkata bahwa Tuhan pun tidak akan menghukum mereka (ayat 11). Inilah kepemimpinan yang “sak karepe dhewe, sak penak udele dhewe”. Kebenaran disederhanakan menjadi pembenaran atas dirinya (truth claim). Pusat kepemimpinan adalah dirinya sendiri, bukan Tuhan.

Berbeda dengan kepemimpinan Yehuda, dalam bacaan kedua, Paulus meneladankan sebuah sikap kepemimpinan yang tidak berpusat pada dirinya sendiri tetapi kepemimpinan yang berpusat pada Tuhan, pemimpin, guru sejati, yang diimaninya. Kepemimpinan yang berpusat pada Tuhan membutuhkan ketekunan dan kesetiaan pada tugas dan tanggungjawab. Sebab kepemimpinan yang berpusat pada Tuhan pada dasarnya orang yang memimpin tersebut juga tetap punya kesediaan diri/ kerendahan hati untuk dipimpin oleh Tuhan sendiri.

Seperti halnya Paulus, ketekunan dan kesetiaan rupanya juga dimiliki oleh ahli Taurat dan orang Farisi. Hanya saja, mereka mengajarkan dan menafsirkan hukum-hukum Tuhan itu sedemikian cermat sampai dijuluki menduduki kursi Musa, seolah kehormatan dan kebenaran hanya milik mereka sendiri. Sayangnya mereka sendiri tidak melakukan yang mereka ajarkan. Mereka tepat disebut sebagai aktor rohani (ayat 5-10). Mereka tidak patut disebut rabbi sebab tidak memberlakukan kebenaran yang mereka ketahui dan ajarkan kepada orang lain lebih dulu pada diri sendiri. Mereka lebih tepat disebut gajah diblangkoni, isa kojah (kotbah) ora isa nglakoni. Lalu model kepemimpinan yang mana yang ideal?

Sabda Tuhan hari ini, Yesus menawarkan sebuah kepemimpinan alternatif. Kepemimpinan yang barangkali tidak tebersit dalam pikiran orang/pemimpin pada umumnya. Kepemimpinan yang melayani. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Matius 23:11-12).

Kepemimpinan menurut teladan Kristus berarti lebih mempedulikan kebutuhan sesama daripada kebutuhannya sendiri, menyenangkan mereka, menyemangati pertumbuhan rohani dan kedekatan mereka dengan Allah. Itu artinya, memperlakukan sesama sama seperti Allah memperlakukan kita. Ia tidak mendikte atau menuntut, tetapi sadar dengan penuh kerendahan hati bahwa di hadapan Allah ia hanyalah pelayan yang melaksanakan tugas.

 

Penutup

Bagaimanapun indahnya bahasa kepemimpinan, ternyata kepemimpinan pun bisa menjadi bumerang bagi kita, sebab kepemimpinan ternyata dapat disalahgunakan. Mereka yang berlomba-lomba mengejar martabat, kekuasaan, dan keangkuhan, suatu hari nanti harus memberi pertanggungjawaban kepada Allah.

Yesus menawarkan sikap luhur dan mulia, bukan karena duduk di ‘kursi Musa’ tetapi justru kesediaan diri menjadi pelayan. Bukan dengan meninggikan diri, tetapi rendah hati. Entah apa pun posisi kepemimpinan kita, kita tidak akan kehilangan harga diri kita apabila kita memberi diri kepada orang lain. Pelayanan yang lebih mementingkan orang lain adalah dasar dari kebesaran sejati, seperti tembang di bawah ini:

MIJIL

Dedalane guna lawan sekti
kudu andhap asor
wani ngalah luhur wekasane
tumungkula yen dipun dukani
bapang den simpangi
ana catur mungkur

 

Keterangan:

Dedalane guna lawan sekti.
Sesuai posisinya sebagai kalimat pertama, kalimat ini merupakan pembuka dan memberi tahu kita bahwa ini adalah tentang jalan (dalan) kita untuk (guna) menuju kemuliaan (sekti).

Kudu andhap asor.
Bahwasanya kita harus (kudu) menempatkan diri kita di bawah (asor). Bukan berarti kita merendahkan diri sendiri, namun maknanya adalah menempatkan orang lain lebih tinggi dari kita, sehingga kita harus selalu menghormati dan menghargai orang lain.

Wani ngalah luhur wekasane.
Kurang lebih artinya mengalah untuk menang. Mengalah di sini sebagai ajaran untuk sabar dan tidak egois. Sedangkan untuk menang di sini menang atas musuh terbesar manusia, yakni dirinya sendiri.

Tumungkula yen dipun dukani.
Menunduklah (tumungkula) jika dimarahi (dipun dukani). Bahwa kita harus mau menerima setiap masukan kepada kita. Tidak peduli apa isi masukannya dan dari siapa. Semakin kita banyak masukan, logikanya akan semakin baik pula kita dalam mengendalikan diri.

Bapang den simpangi.
Bapang (Blabag Jepapang). Jauhilah hal buruk yang mengancam.

Ana catur mungkur.
Tidak perlu mengikuti perkataan (negatif) orang lain. Amin (pong)

 

Nyanyian: KJ. 246

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pembuka

Asring tiyang nggadhahi panganggep bilih ingkang kasebut budaya punika inggih adat-istiadat. Nalika ngrembug bab adat istiadat punika kaangep kuno, jaman biyen. Samangke jaman modern, menawi sanget anggenipun nggondheli adat punika asring kasebut kurang pergaulan (kuper), ingkang keren lan beken punika ingkang ndherek owah-owahaning jaman. Punapa leres mekaten? Punapa menawi sampun kasebut kuno punika lajeng boten saged ndherek owah-owahaning jaman, satemah budaya asring karudhapeksa benthik kaliyan jaman ingkang sarwa kathah ewah-ewahanipun. Sumangga kita titi priksa tembung budaya. Awit tema Liturgi kita dinten punika: “Budaya adiluhung sarana nindakaken timbalanipun Gusti.”

 

Isi

Tegesipun budaya?

Budaya ateges budi, nalar, panemu, angen-angen; babaring nalar pambudining manungsa maujud kagunan, kapinteran, kawruh, lsp. Adiluhung: luhur, linuwih, becik. Mila Budaya adiluhung wosipun:  budi, nalar, panemu, angen-angen; babaring nalar pambudining manungsa maujud kagunan, kapinteran, kawruh  ingkang luhur, linuwih, becik. Satunggiling kaluhuran budaya utawi budaya ingkang adi luhung migunani kangge kepemimpinan.

 

Sinten ingkang kasebut pemimpin?

Panjenengan pemimpin! Panjenengan mbokbilih sanes presiden, sanes manajer organisasi, nanging panjenengan kasuwun mimpin liyan. Panjenengan mbokbilih pamong anak remaja? Punapa panjenengan gadhah putra? Gadhah pedamelan? Menawi inggih, wosipun panjenengan punika minangka pemimpin.

Sintena kita, ingkang cetha tiyang sanes ing sakiwa tengen panjenengan dipun pengaruhi dening patuladhan kita. Nalika menggalih tanggeljawab ingkang adi punika, kados pundi saenipun kita nglampahi? Ki Hajar Dewantara negesaken: “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”

 

Dhawuhipun Gusti dinten punika nuduhaken bab kepemimpinan.

Waosan sepisan nedahaken kepemimpinanipun bangsa lan umat. Pemimpin bangsa ingkang kedahipun menggalih lan makarya kangge rahuyunipun bangsa ingkang kapimpin lan pemimpin umat ingkang kedahipun nedahaken umat dhateng margining kayekten. Ananging boten kados mekaten tumraping para pemimpin ing Yehuda. Malah, para pemimpin Yehuda punika ngenggokaken kayekten (ayat 9b) srana nyingkur kaadilan lan nindakaken kadurakan. (ayat 1-3).

Tumindak punika ndadosaken kawula bingung, krana boten cetha malih pundi ingkang leres lan klintu. Para pemimpin punika boten ngayomi kawula, nanging malah nyiksa kawula (ayat 2-3,10). Sedaya punika kelampahan karana srakah lan lobanipun para pemimpin punika. Para pemimpin politik ugi pemimpin rohani tumindak srana motivasi arta (ayat 5,11). Kados-kados sampun nindakaken kayekten, kanthi gumunggung para pemimpin punika celathu bilih Gusti boten badhe paring paukuman (ayat 11). Punika para pemimpin ingkang “sak karepe dhewe, sak penak udele dhewe”. Kayekten dados mlenceng. Pancering kepemimpinanipun sanes Gusti, nanging dhiri pribadi.

Benten kaliyan kepemimpinan Yehuda, ing waosan kalih, Paulus paring tuladha sikep kepemimpinan ingkang panceripun sanes dhiri pribadi, ananging Gusti, minangka Guru sejati. Kepemimpinan ingkang panceripun dhateng Gusti mbetahaken katekunan lan kasetyan tumraping jejibahan lan tanggel jawab, awit kepemimpinan ingkang ndadosaken Gusti minangka panceripun/ Kristus kedah nggadhahi sedyaning dhiri kapimpin dening Gusti.

Kados dene Paulus, ketekunan lan kasetyan ugi dipun lampahi dening para ahli Toret lan Farisi. Emanipun ingkang dipun wucalaken punika pranatanipun Gusti kanthi kaku, kados-kados kayekten lan kaurmatan punika dados kagunganipun piyambak ngantos-ngantos kasebut nglenggahi kursinipun Musa. Emanipun para Farisi lan ahli Toret punika boten nindakaken punapa ingkang dados piwucalipun. Kados unen-unen: gajah diblangkoni, isa kojah (kotbah) ora isa nglakoni.” Lajeng model kepemimpinan ingkang pundi ingkang sae sanget?

Sabdanipun Gusti dinten punika, Gusti Yesus nedahaken kepemimpinan alternatif. “Sing sapa gedhé dhéwé ana ing satengahmu iku dadia paladènmu. Lan sing sapa ngluhuraké awaké dhéwé, bakal kaasoraké, déné kang ngasoraké awaké dhéwé bakal kaluhuraké.” (Matius 23:11-12). Nulad Sang Kristus, kepemimpinan miturut Sang Kristus langkung migatosaken kabetahanipun sesami nglangkungi kabetahanipun piyambak, nentremaken ingkang kapimpin, paring semangat sarta tuwuhing karohanen saha sesambetan kaliyan Gusti Allah. Kepemimpinan ingkang dipun lampahi sarana tulus ing batos, andhap asor bilih ing ngarsanipun Gusti ngrumaosi bilih kita punika kadhapuk abdi.

 

Panutup

Kadosa pundi endahipun tembung kepemimpinan, pranyata bilih kepemimpinan saged dados boomerang kangge kita, awit kepemimpinan saged dipun salah ginakaken. Para pemimpin ingkang nguja hawa nguber drajat, pangkat lan kwasa kanthi cara ingkang boten prayoga. Gusti inggih nyuwun tanggeljawabipun.

Gusti Yesus nedahaken sikep ing luru minulya, boten krana nglenggahi ‘kursi Musa’, nanging sarana sumadya dados abdi. Boten nggunggungaken diri, nanging andhap asor. Punapa kemawon pangkat kwaos kita, kita boten kecalan ajining diri menawi kita maringaken diri dhateng liyan. Peladosan ingkang nengenaken liyan inggih wujuding peladosan sejati, kaluhuran sejati, kados tembang macapat ing ngandhap punika:

MIJIL

Dedalane guna lawan sekti
kudu andhap asor
wani ngalah luhur wekasane
tumungkula yen dipun dukani
bapang den simpangi
ana catur mungkur

 

Pamuji: KPK 175

 

Bagikan Entri Ini: