Kasih Allah Memampukan Kita Untuk Melakukan KehendakNya Khotbah Rabu Abu 6 Maret 2019

20 February 2019

Rabu Abu
Stola Ungu

Bacaan 1  : Yoel 2: 1-2, 12-17
Bacaan 2  : 2 Korintus 5 : 20b-6:10
Bacaan 3  : Matius 6:1-6, 16-21

Tema Liturgis  : Melakukan kehendak Allah sambil Meyakini Kasih PemeliharaanNya
Tema Khotbah  : Kasih Allah memampukan kita untuk melakukan kehendakNya

 KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yoel 2: 1-2, 12-17

Kitab Yoel dibuka dengan menampilkan tulah belalang sebagai hukuman dari Allah. Kemudian dimunculkan sebuah seruan dengan meniup sangkakala. Hal ini menandai bahwa hari Tuhan sudah dekat yang merupakan sumber ketakutan umat Israel. Karena itu diberikan seruan untuk bertobat sehingga mereka mendapatkan pengampunan dari Allah.

2 Korintus 5 : 20b-6:10

Dalam ayat ini kita ditunjukkan tentang karya penyelamatan Allah melalui AnakNya yakni Tuhan Yesus Kristus. Melalui karya penyelamatan tersebut menjadi jalan pendamaian, baik antara manusia dengan Allah juga antara manusia dengan sesamanya. Paulus sebagai penulis kitab ini menggambarkan ketika manusia menerima kasih karunia Allah, secara bersamaan manusia juga menerima amanat dan tanggungjawab untuk memberi diri dan menjadi rekan sekerja Allah.

Matius 6:1-6, 16-21

Bagian Injil Matius ini menuliskan tentang banyak hal yang merupakan kehendak Allah bagi kehidupan manusia. Terkhusus pada bagian pasal 6 ini, di sini dituliskan tentang hal memberi sedekah, hal berdoa dan juga hal berpuasa. Ketiga hal itu merupakan ketentuan agama yang harus dilakukan oleh semua umat manusia. Akan tetapi yang perlu diingat bahwa yang menjadi point utama adalah apakah motivasi dalam melakukan kehendak Allah tersebut. Dalam hal sedekah, bagi bangsa Yahudi ketika banyak orang yang melihat mereka melakukan hal itu dan mereka mendapat pujian, maka mereka sudah mendapatkan upahnya. Demikian juga dalam hal berdoa, ketika mereka berdoa harus juga dilihat oleh banyak orang. Pun dalam hal berpuasa, mereka dilarang melakukan puasa bersama-sama dengan orang yang munafik. Hal memberi sedekah, berpuasa, dan berdoa merupakan pengajaran yang baik, akan tetapi menjadi tidak ketika melakukan semuanya itu dengan motivasi yang salah atau keliru (contoh: hanya untuk mendapatkan pujian dari sesama).

Benang Merah Tiga Bacaan

Ketiga bacaan di atas memuat perihal karya Allah yang terjadi dalam kehidupan jemaat. Salah satu karya Allah adalah pengampunan yang dianugerahkan kepada jemaatNya. Dengan demikian kita yang sudah menerima karya Allah hendaknya bisa menjalankan apa yang menjadi perintah Allah dan bersedia memberi diri untuk melayani dengan sepenuh hati sehingga dapat menjadi rekan sekerja Allah didunia ini.

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Setiap apapun yang dilakukan oleh manusia di dunia ini tentu memiliki maksud dan tujuan. Misalnya: manusia butuh makan agar badannya mendapat energi, minum obat agar dapat sembuh dari sakit penyakit yang diderita, butuh belajar agar dapat menyelesaikan study, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Dari beberapa contoh yang sudah disebutkan tadi semakin memperjelas bahwa memang benar apapun yang dilakukan oleh manusia memiliki tujuan. Apakah hanya cukup itu saja yang menjadi alasannya? Lebih dari itu ternyata ketika melakukan banyak hal, manusia juga memiliki motivasi tertentu, ketika manusia makan mereka dapat memperoleh energi untuk melakukan aktivitas, ketika minum obat maka dapat segera sembuh dari sakitnya dan dapat kembali melakukan apapun yang menjadi aktivitasnya sehari-hari, dan ketika belajar maka dapat menyelesaikan study dengan memperoleh hasil yang baik.

Isi

Ketika Allah menciptakan dunia ini, Allah tentu juga memiliki tujuan dan ketika Allah melakukan proses penciptaan pasti juga ada motivasi-motivasi di dalamnya. Tidak mungkin Allah melakukan sesuatu tanpa memiliki suatu alasan. Jadi mulai dari awal Allah menciptkana dunia ini, hingga saat sekarang ini Allah tetap terus berkarya bagi kehidupan semua umat ciptaanNya. Sekali-kali Allah tidak pernah meninggalkan umatNya dan tidak pernah tidak memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan umatNya. Semua yang menjadi kebutuhan umatNya, baik secara jasmani maupun rohani pasti dan tentu dapat dipenuhi oleh Allah. Salah satu karya Allah yang sudah dinyatakan pada semua umat ciptaanNya adalah menyerahkan Putra tunggalNya yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk menebus segala dosa dan pelanggaran yang telah dilakukan oleh manusia. Semua itu dilakukan oleh Allah karena Allah tidak ingin melihat umatNya semakin rusak dan hidup selalu dalam kuasa dosa. Lebih dari itu, ketika Allah melakukan penebusan bagi umatNya, Allah menginginkan setiap umat kepunyaanNya memperoleh anugrah yaitu hidup kekal bersama-sama dengan Dia di sorga kelak.

Karya penebusan dosa yang dilakukan oleh Allah terdapat pada bacaan kita yang pertama pada saat ini. Tulah yang dimunculkan pada bacaan ini merupakan gambaran hukuman yang diberikan oleh Allah dan sekaligus sebagai peringatan kepada umat agar umat segera bertobat. Melalui pertobatan inilah yang pada akhirnya membawa manusia untuk menerima anugrah pengampunan dari Tuhan.

Ketika semua umat sudah mendapatkan anugarah keselamatan dan pengampunan dari Allah, lalu apakah yang harus dilakukan??? Bacaan kedua mencatat bahwa penyelamatan yang diterima oleh manusia merupakan jalan pendamaian bagi sesama juga bagi Tuhan. Sebagai penerima anugrah keselamatan yang sudah diterima dari Tuhan maka juga sekaligus menerima amanat agung untuk menjadi rekan sekerja Allah menyatakan damai sejahtera di dunia.

Selain yang sudah disebutkan di atas, dalam bacaan yang ketiga ini penulis Kitab Matius memaparkan beberapa hal yang merupakan ajaran dan kehendak Allah yang harus dilakukan oleh setiap manusia yang hidup di dunia. Di situ Allah mengajarkan tentang hal memberi sedekah, hal berdoa dan hal berpuasa. Ketiganya murni sebagai ajaran Allah yang harus dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu ketika melakukan ketiga hal tersebut jangan sampai manusia memiliki motivasi yang keliru. Jangan mengerjakan ketiganya hanya karena ingin mendapatkan pujian dari manusia, karena upah yang demikian sesungguhnya adalah bentuk upah yang sia-sia. Akan tetapi kesemuanya itu harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh sebagai wujud rasa syukur atas segala berkat dan anugrah yang sudah diterima dari Tuhan.

Penutup

Semua yang baik telah Tuhan lakukan dan Tuhan sediakan bagi kita sejak dari awal mula penciptaan. Kita semua sebagai umat ciptaanNya pun juga sudah melihat dan merasakan sendiri betapa baiknya Tuhan kita dalam perjalanan hidup kita selama ini. Lalu apalagi yang kita cari dalam kehidupan ini? Apakah kita masih merasa kekurangan atas semua berkat yang sudah kita terima dari Tuhan? Ataukah kita sudah dapat bersyukur atas apa yang sudah kita terima dari Tuhan? Melalui ketiga bacaan kita pada saat ini, kita kembali diingatkan oleh Tuhan tentang karyaNya yang sungguh nyata dalam kehidupan kita dan tentang perintah-perintahNya. Untuk itu sebagai umat ciptaanNya, jangan sekali-kali kita melupakan apa yang sudah Tuhan berikan dan ajarakan kepada kita. Mari kita lakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita agar hidup dan kehidupan kita senantiasa berkenan kepadaNya. (SYN)

Nyanyian : KJ 363: 1,2,4


RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Sedaya perkawis ingkang katindakaken dening manungsa ing dunya punika nggadahi maksud lan tujuan. Tuladhanipun: manungsa mbetahaken dhahar kangge nuwuhaken kakiyatan ing raganipun, mbetahaken obat supados saras saking sedaya sakit penyakitipun, mbetahaken sinau supados saget ngrampungaken sedaya proses wonten ing bangku pasinaon lan tuladha sanes-sanesipun. Lumantar tuladha-tuladha punika kalawau nedhahaken langkung cetha malih bilih sedaya ingkang dipun tindhakaken dening manungsa punika estu-estu nggadahi maksud lan tujuan. Punapa cekap semanten kemawon? Kasunyatanipun, nalika nindakaken sedaya perkawis punika manungsa tamtu nggadahi motivasi, nalika manungsa dhahar nuwuhan kakiyatan kangge nindhakaken sedaya kegiatanipun, nalika ngunjuk obat lajeng saget saras saking penyakitipun lan saget nindakaken sedaya pedamelanipun saben dinten, lan nalika sinau saget ngrampungaken study kanthi ngangsalaken asil ingkang sae.

Isi

Nalika Gusti Allah nitahaken dunya punika, tamtu Panjenengane nggadahi tujuan lan nalika Allah nindhakaken pakaryanipun tamtu nggadahi motivasi-motivasi. Dados, wiwitan Gusti Allah nitahaken dunya punika ngantos ing samangke, Gusti Allah taksih lan tansah makarya ing salebeting gesang umat kagunganipun. Gusti Allah boten nate nilar umat kagunganipun lan tansah nggatosaken punapa ingkang dados kabetahan umatipun. Sedaya ingkang dipun betahaken umatipun Gusti, sae kajasmanen lan karohanen, tamtu dipun cekapi dening Gusti Allah. Salah satunggaling pakaryanipun Gusti Allah ingkang sampun nyata dhateng sedaya umat ciptaanipun inggih punika masrahaken ingkang Putra ontang-anting inggih punika Gusti Yesus kanggem nebus sedaya dosa tuwin kalepatan ingkang dipun lampahi dening manungsa. Sedaya punika katindakaken dening Gusti Allah awit Gusti Allah mirsani bilih gesangipun manungsa punika tansaya risak lan tansah wonten ing salebeting pangwasaning dosa. Langkung malih, nalika Gusti Allah nebus umat kagunganipun, Gusti Allah karsa bilih umat kagunganipun saget nampi kanugrahan inggih punika nampi gesang langgeng sesarengan Gusti Allah ing Kraton swarga.

Panebusan dosa ingkang katindhakaken dening Gusti Allah punika kados dene ingkang wonten ing waosan kita kaping pisan. Kasangsaran pagebluk utawi Tulah wonten ing waosan kita punika minangka wujuding paukuman utawi gambaran hukuman saking Gusti Allah lan ugi pepenget kangge sedaya umatipun Allah supados mratobat. Lumantar pamartobatan/pertobatan ingkang katindhakaken dening manungsa punika, selajengipun dadosaken manungsa saget nampi kanugrahan arupi pangapuntenan/pengampunan saking Gusti.

Nalika manungsa sampun nampi keslametan lan pangapuntenan/pengampunan saking Gusti Allah, saklajengipun punapa ingkang kedah dipun tindakaken dening manungsa??? Waosan ingkang kaping kalih nedhahaken bilih keslametaningkang sampun dipun tampi punika minangka margining karukunan (pendamaian) antawisipun manungsa kaliyan sesami ugi antawisipun manungsa kaliyan Gustinipun. Minangka tiyang pitados ingkang sampun nampi keslametan dening Gusti, punika inggih ateges bilih manungsa punika nampi tugas lan tanggel jawab kangge dados mitranipun Gusti, ingih punika martosaken tentrem rahayunipun Gusti ing saidrenging jagad punika.

Waosan kaping tiga wonten ing Injil Matius nedhahaken punapa ingkang dipun tindhakaken umat kagungane Gusti wonten ing dunya punika. Ing ngriku Gusti Allah paring piwucal bilih manungsa punika kedah purun weweh (memberi sedekah), siam lan bab ndedunga. Tigang perkawis punika murni piwucalingkang dipun paringaken dening Gusti Allah kangge sedaya umat kagunganipun. Pramila saking mekaten, menawi manungsa punika badhe nindhakaken sedaya perkawis ing gesang, kedah nggadahahi motivasi ingkang leres lan sae. Sampun ngantos nindhakaken tigang perkawis punika namung kangge pados pujian saking tiyang sanes, awit sedayanipun nglaha. Sedaya kedah dipun tindhakaken kanthi saestu minangka wujud raos saos sokur awit sampun nampi berkah lan kanugrahan saking Gusti Allah.

Panutup

Sedaya kasaenanipun Gusti Allah sampun kalampahan lan ugi punapa ingkang dados kabetahaning manungsa sampun cumawis wiwit Gusti Allah nitahaken langit kaliyan bumi. Kita sedaya minangka titahipun Gusti , tamtu sampun mangertosi lan ngraosaken piyambak kados pundi kasaenanipun Gusti ing sauruting lampah gesang kita. Samangke pitakenanipun kanggekita sedaya, punapa malih ingkang kedah kita upadi ing gesang kita padintenan??? Punapa kita taksih rumaos kirang sanadyan sampun nampi berkah ingkang kathah??? Utawi kita sampun saget saos sokur awit sampun nampi berkah dalah kanugrahan dening Gusti??? Lumantar waosan ing dinten punika, paring pepenget kangge kita sedaya bab pakaryanipun Gusti ingkang sampun katindhakaken ing gesangipun manungsa. Lumantar sabda pangandikanipun  Gusti punika ugi paring piwucal bab punapa ingkang dipun kersakaken dening Gusti ingkang kedah dipun lampahi dening sedaya manungsa. Pramila saking mekaten, minangka umat titahipun Gusti, sampun ngantos kesupen bab punapa ingkang sampun dipun tindakaken dening Gusti ing gesang kita lan punapa ingkang dados karsanipun Gusti. Sumangga kita nindhakaken karsanipun Gusti wonten pigesangan kita supados gesang kita condong kaliyan karsanipun Gusti.

Pamuji : KPJ 124: 1, 2, 3

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak