Minggu Transfigurasi / Hari Doa Sedunia
Stola Putih
Bacaan 1 : Keluaran 34:29-35
Bacaan 2 : 2 Korintus 3:12-4:2
Bacaan 3 : Lukas 9:28-36, (37-43a)
Tema Liturgis : Kasih Allah Hadir Secara Nyata di Dunia
Tema Khotbah : Kemuliaan Allah Memberi Semangat Bersaksi
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Keluaran 34:29-35
Konteks Gunung Sinai saat Musa menghadap Allah untuk menerima perintahNya pada dua loh batu. Saat Musa turun dari Gunung Sinai, terlihat kulit mukanya bercahaya dan bangsa Isreal menjadi takut. Maka Musa menyelubungi mukanya dengan kain, dan sesudah itu bangsa Isreal mendekat kepada Musa dan menerima perintah yang berasal dari Allah (ay.35). Kulit muka Musa yang bercahaya dapat dipahami karena perjumpaan Musa dengan Allah. Musa membawa kemuliaan Allah. Bangsa Israel gentar saat melihat kemuliaan Allah melalui wajah Musa, sehingga hanya mampu saat kemuliaan itu terselubung.
2 Korintus 3:12-4:2
Paulus mengingatkan Jemaat Korintus, bahwa orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus telah menerima kasih karunia untuk menerima kemuliaanNya. Paulus membandingkan dengan kisah Musa di Gunung Sinai yang menutup mukanya karena bangsa Israel tidak mampu melihat kemuliaan Allah. Selain itu, juga terkait orang Yahudi yang membaca Taurat masih diselubungi ketakutan. Maka, orang yang percaya Kristus, percaya bahwa dirinyanyalah yang harus mencerminkan kemuliaan Kristus (ay.18). Bukan dengan ketakutan, tapi dengan kebenaran karena kemuliaanNya.
Lukas 9:28-36, (37-43a)
Peristiwa transfigurasi atau disebut pemuliaan. Kisah dari Lukas ini bisa dipahami sebagai narasi tentang pengalaman spiritual tentang pencerahan. Seperti dikisahkan tentang kehadiran Musa dan Elia, yang mewakili Taurat dan Para Nabi yang memberi kesaksian tentang Yesus. Awan adalah symbol dari kehadiran Ilahi (lih.Kel.33:7-11). Lukas menuliskan bahwa Yesus membawa serta ketiga muridNya ke atas gunung, dan waktunya adalah delapan hari sesudahnya. Hal ini secara Teologis bisa bermakna bahwa peristiwa transfigurasi itu adalah bayangan awal dari kemuliaan kebangkitan Kristus – karena delapan menunjuk ke hari Minggu, hari pertama atau kedelapan dari sepekan. Dikisahkan bahwa Petrus merasa tepat untuk membangun tiga tempat kediaman (tenda/pondok) untuk Yesus, Musa dan Elia. Hal ini tentu terkait dengan hari raya Pondok Daun, pada waktu orang tinggal di dalam pondok-pondok seperti yang dilakukan orang Israel di Padang Gurun dan sekrang dilakukan lagi pada masa mesianik. Tetapi, Petrus ditolak karena mau menempatkan Yesus setingkat dengan Musa dan Elia, dengan penegasan “Inilah anakKu yang Ku pilih, dengarkanlah Dia”(ay.35). Kisah Transfigurasi ini harus dimengerti pada latar belakang PL, terutama mengenai Musa, yang mukanya pernah bersinar oleh pantulan kemuliaan Allah (Kel.34:29). Di atas gunung, rupa wajah Yesus berubah dan pakaianNya menjadi berkilau-kilauan.
Benang Merah Tiga Bacaan
Kemuliaan Allah telah hadir secara nyata di tengah kehidupan manusia di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Maka, manusia yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, telah menerima kemuliaan kasihNya dan menerima tugas panggilan dan pengutusanNya untuk bersaksi.
RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan; bisa dikembangkan sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Bapak, ibu, dan Saudara/I yang terkasih dalam Tuhan Yesus,
Adakah yang ingat sebuah lagu anak-anak : ku kasihi kau dengan kasih Tuhan. Ku kasihi kau dengan kasih Tuhan. Kulihat di wajahmu, kemuliaan raja. Ku kasihi kau dengan kasih Tuhan. Melalui pujian tersebut digambarkan, bahwa ada sikap hidup mengasihi dan melihat orang lain yang memiliki kemuliaan Allah. Artinya, kemuliaan Allah dapat terwujud nyata dalam kehidupan kita masing-masing. Pertanyaannya, apa sikap hidup dan panggilan Allah yang telah dan akan kita lakukan?
Isi
Hidup dalam kemuliaan tentu menjadi kesenangan dan harapan setiap orang. Hidup terhormat, nyaman, penuh sukacita, mempunyai pengaruh yang besar, dls. Itulah sepertinya yang dirasakan oleh Yakobus, Petrus, dan Yohanes saat melihat kehadiran Musa dan Elia, juga Yesus dalam kemuliaanNya. Mereka merasa nyaman dan senang. Namun, ungkapan “dengarkanlah Dia” menjadi titik tolak supaya para murid dan kita tidak terlena dengan kenyamanan kemuliaan. Ada tugas, panggilan, dan tanggung jawab panggilan kita bersama :
1. Taat Kepada Yesus
Nilai ketaatan bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Untuk taat, diperlukan pengorbanan dan kesetiaan seperti yang Tuhan Yesus ajarkan-peristiwa transfigurasi saat Yesus akan menuju Yerusalem (alami penderitaan). Dalam hidup, sering kita diperhadapkan pada peristiwa yang membuat kita menyerah dan bahkan putus asa. Taat dan setia dengan panggilan hidup kita masing-masing kiranya makin menguatkan kita di dalam mengikut Tuhan. Saat langkah menjadi berat karena tantangan yang dihadapi, maka merasakan persekutuan dan kehadiran Sang Ilahi menjadi penguat asa dan semangat. Tentu, tidak boleh lama-lama apalagi terlena. Masih ada tugas menanti. Selamat hidup penuh ketaatan seperti yang Tuhan Yesus teladankan.
2. Perubahan Diri Sendiri
Pemuliaan Yesus membri pengharapan kepada kita akan perubahan diri kita sendiri, terutama di saat kita berada di dalam kekelaman kehidupan kita. Saat kita berdoa, kita melihat kepada cahaya dari Kristus yang telah diubahkan dan sedikit demi sedikit hal ini menjadi hal yang nyata dalam batin kita. Misteri Kristus menjadi misteri kehidupan kita. Kitapun adalah anak-anak terkasih Allah. Setiap dari kita dikasihi Allah dengan sebuah kasih yang kekal. Sehingga kemudian segenap kelemahan dan ketidaksempurnaan kita menjadi pintu bagi Allah untuk memasuki kehidupan kita. Segenap onak duri yang menghalangi derap langkah kita mengobarkan nyala api yang dapat menerangi jalan kehidupan kita. Segenap pertentangan batin dan ketakutan-ketakutan kita tetap ada. Namun bagaimanapun juga melalui Roh Kudus, Kristus masuk ke dalam apa yang membuat kita kuatir akan diri kita sendiri, agar supaya seberkas cahaya dapat menerangi kegelapan. Kemanusiaan kita tidak terampas. Allah menggenggamnya dan di dalam Allah, kemanusiaan dapat menemukan kepenuhannya. Dengan demikian kita akan menjadi bebas, bebas hingga kita dapat menuju pada titik penyerahan diri bagi mereka yang Allah percayakan kepada kita. Itulah keberanian kita karena kasih kemuliaan Allah telah nyata seperti 2 Kor.3 :18, kita telah diubahkan karena kasih Kristus.
Berangkat dari kedua hal tersebut di atas, peristiwa Transfigurasi dapat kita hayati sebagai penguatan panggilan hidup kita, seperti Tuhan Yesus. Kemauan untuk mempercayakan diri sepenuhnya dan mau setia dengan perubahan diri, merupakan wujud kemuliaan Allah yang terpancar dalam kehidupan orang percaya.
Penutup
Hendaknya setiap kita mengingat :
- Allah hadir dalam kemuliaan, melingkupi Musa dan adanya peneguhan terhadap Yesus sebagai yang dikasihi dan dengarkanlah dia. Merupakan kehadiran Allah yang nyata di dunia
- Peristiwa Transfigurasi atau pemuliaan, mengingatkan kita kembali akan peneguhan Allah kepada umatNya untuk mewujudkan tugas dan panggilannya untuk kemuliaan Allah
- Kesaksian Paulus meneguhkan, supaya kita tidak takut karena kemuliaan Allah telah dicurahkan ke dalam setiap diri manusia. Tidak terselubung, tapi sudah terbuka. Pertanyaannya, maukah kita merespon panggilanNya?
Nyanyian: K.J 222b/ NKB 17 / PKJ 179
RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi
Pambuka
Bapa, Ibu, lan para sadherek ingkang kinasih ing Gusti Yesus,
Wonten lagu anak-anak : ku kasihi kau dengan kasih Tuhan. Ku kasihi kau dengan kasih Tuhan. Kulihat di wajahmu, kemuliaan raja. Ku kasihi kau dengan kasih Tuhan. Saking pepujian punika dipun gambaraken, bilih wonten sikap gesang ingkang wujudaken sih katresnan dhumateng tiyang sanes kanthi artos sedaya tiyang kagungan kamulyanipun Gusti Allah. Artosipun, kamulyanipun Gusti Allah saget maujud nyata wonten ing gesang kita piyambak-piyambak. Pitakenanipun, punapa sikap gesang lan timbalanipun Gusti Allah ingkang sampun lan badhe kita lampahi ?
Isi
Gesang ing kamulyan temtu dados kabingahan lan pangajeng-ajeng saben tiyang. Gesang ingkang kraos nyaman, kebak kabingahan, kagungan pengaruh ingkang ageng, lsp. Punika sedaya ingkang dipun raosaken Yakobus, Petrus, lan Yokanan wekdal mirsani rawuhipun Musa lan Elia, ugi Gusti Yesus wonten ing Kamulyanipun. Para sekabat punika ngraosaken nyaman lan bingah. Nanging, dhawuh “padha estokna dhawuhe” dados printah supados para sakabat lan kita mboten lena wonten ing katentreman amargi kamulyan. Wonten tugas, timbalan, dan tanggel jawab timbalan kita sesarengan, inggih punika :
1. Sumuyud dhumateng Gusti Yesus
Nilai patuh punika sanes bab ingkang gampil lan sederhana. Kangge sumuyud punika, dipun betahaken pangurbanan lan kasetyan kados ingkang dipun lampahi Gusti Yesus -ing Transfigurasi nalika Gusti Yesus badhe tumuju dhateng Yerusalem (ngalami kasangsaran). Wonten ing gesang, asring kita ngadhepi perkawis ingkang ndadosaken kita semplah lan ngraosaken semplah. Kasetyan lan sumuyud wonten ing timbalanipun gesang kita piyambak-piyambak mugi saged ngiyataken kita anggen kita ndherek tut wingking Gusti Yesus. Bilih lampah kita awrat amargi tantangan ingkang kita adhepi, ngraosaken bilih Gusti nunggil kaliyan kita lan rawuhipun saged dados kakiyatan lan semangat. Temtu, kita mboten pareng lami-lami lena. Taksih wonten tugas ingkang badhe kita lampahi. Mugi gesang ingkang kebak kasetyan lan sumuyud kados tuladha saking Gusti Yesus saged maujud wonten ing gesang kita.
2. Ewah-ewahan dhiri kita
Gusti Yesus ingkang dipunmulyakaken paring pangajeng-ajeng dhumateng kita lan ugi paring ewah-ewahan ing dhiri kita piyambak, mliginipun wonten ing pergumulan pigesangan. Bilih kita dedonga, kita saged mangertosi lan mandeng cahya saking Gusti Yesus ingkang sampun brubah, ingkang nyata kraos wonten ing batos kita. Misterinipun Gusti Yesus dados misteri gesang kita. Kita punika putra-putranipun Gusti Allah ingkang kinasihan. Saben tiyang ingkang dipun tresnani Gusti Allah temtu dipun tresnani kanthi sih katresnan ingkang langgeng. Saking mekaten sedaya kalemahan lan kakirangan kita dados margining Gusti Allah kangge mlebet ing pigesangan kita. Sedaya eri ingkang dados alangan wonten ing lampah ngobaraken semangat ingkang saged madhangi lampah pigesangan kita. Sedaya pertentangan ing batos lan raos ajrih punika tetep wonten. Nanging, Roh Suci, Sang Kristus mlebet ing manah ingkang ajrih, supados wonten cahyo ingkang madhangi pepeteng. Kamanungsan kita mboten kerampas. Gusti Allah ngrengkuh lan ing kamanungsanipun kita saged nampi kayekten. Saking punika, kita saged bebas lan saged pasrah sawetah wonten ing ngarsanipun Gusti Allah lan ugi dhumateng ingkang dipun pitadosaken dhumateng kita. Kita kraos wantun amargi sih kamulyanipun Gusti Allah tetep nyata kados punapa ingkang kaserat wonten ing 2 Kor.3:18, kita sampun dipun ubah dening sih katresnan Gusti Yesus Kristus.
Wangsul dhateng kalih perkawis punika, bab Transfigurasi sageda kita raosaken dados kakiyatan wonten ing timbalanipun gesang kita, kados Gusti Yesus. Timbalan supados saget mitadosaken gesang diri sawetah lan tetep setya kanthi ewah-ewahan dhiri kita, temtu punika wujud kamulyan Gusti Allah ingkang kapencar wonten ing pigesangan tiyang ingkang pitados.
Penutup
Sumangga kita sami enget :
- Gusti Allah rawuh wonten ing kamulyanipun, kados Musa lan wonten paneguhan dhumateng Gusti Yesus ingkang dipun tresnani lan supados kita mirengaken panjenenganipun. Punika dados wujud karawuhanipun Gusti Allah ingkang nyata wonten ing ndonya.
- Transfigurasi utawi pemulihaan, ngengetaken kita malih wonten ing paneguhan Gusti Allah dhateng para umatipun kangge wujudaken tugas lan timbalanipun kangge kaluhuranipun Gusti Allah.
- Paseksinipun Paulus paring peneguhan, supados kita mboten ajrih amargi kamulyan Gusti Allah dipun paringaken wonten ing saklebeting diri manungsa. Mboten malih katutup, nangging sampun terbuka. Pitakenanipun, punapa kita purun ngrespon timbalanipun Gusti Allah?
Pamuji: KPJ. 136