Fokus Hanya pada Kristus Khotbah Minggu 10 Maret 2019

26 February 2019

Minggu Pra – Paskah I
Stola Ungu

Bacaan 1 : Ulangan 26:1-11
Bacaan 2 : Roma 10:8b-13
Bacaan 3 : Lukas 4:1-13

Tema Liturgis  : Kedaulatan, Cinta dan Keadilan Allah Berjalan Seiring dan Indah pada Waktunya
Tema Khotbah : Fokus Hanya pada Kristus

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 26:1-11

Teks Ulangan ini berisi tentang peraturan ritual liturgis yang harus dilakukan oleh Bangsa Israel, terutama yang berkaitan dengan persembahan. Dalam pasal 26 ini ada dua jenis persembahan yang dibahas: persembahan hasil pertama (ay.1-11) dan persembahan persepuluhan (ay.12-15). Keterangan di ay.1, “apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu,…” menunjukkan bahwa peraturan ini memiliki konteks waktu future (masa depan/belum benar-benar terjadi).Jadi, penulis Ulangan mengandaikan bahwa saat kitab ini ditulis, Israel masih belum memasuki tanah Kanaan yang dijanjikan TUHAN. Menurut Miller, penggunaan konteks future ini menunjukkan dua hal: (1)Peraturan ini baru akan berlaku, jika Bangsa Israel memasuki tanah perjanjian -ada temporal setting dari teks. (2) Kata “diberikan” menempatkan TUHAN sebagai subyek, tanah sebagai obyek dan Israel sebagai obyek tidak langsung (penerima pemberian TUHAN). Penekanan yang ada dalam liturgi persembahan hasil pertama ini adalah pengakuan yang harus disampaikan dua kali. Deklarasi iman harus disampaikan pada Imam saat seseorang membawa bakul persembahan pertamanya, bahwa TUHANlah yang memberikan tanah itu pada nenek moyangnya. Setelah menyatakan di hadapan Imam, ia masih harus menyatakan imannya sekali lagi di hadapan TUHAN sendiri dengan mengutip sejarah perjalanan Israel yang kemudian diakhiri dengan pernyataan bahwa persembahan pertama itu dapat diberikan pada TUHAN karena itu tanah itu adalah pemberian dari TUHAN.

Jika dibandingkan dengan tradisi dan kebiasaan-kebiasaan bangsa lain yang sejaman, tradisi Ulangan ini agak berbeda. Biasanya bangsa lain akan melakukan ritual untuk mengikat dirinya dengan tanah yang baru dikuasainya, bisa dengan cara mencium tanah atau ritual lain, namun inti ritualnya selalu berpusat pada tanah yang menjadi miliknya. Namun, Ulangan berbeda. Dalam liturgi ini, pengakuan bahwa TUHAN-lah yang memberikan tanah dan segala yang dihasilkannya diulang sebanyak enam kali! (ay.1,2,3,9,10 dan 11). Hal ini berarti bahwa menurut Ulangan, ritual dan liturgi yang harus dilakukan bertujuan untuk senantiasa mengingatkan Israel dari generasi ke generasi bahwa TUHANlah yang memberikan tanah dan menyediakan kehidupan bagi mereka. Karena itu, sudah selayaknya mereka memberikan persembahan-persembahan dengan sukacita dan penuh ucapan syukur, karena apa yang Israel miliki pada dasarnya adalah pemberian TUHAN. Bahkan orang asing dan orang Lewi yang tidak memiliki akses langsung pada tanah dan segala yang dihasilkannya pun harus turut dalam bersukaria.

Roma 10:8b-13

Jemaat Roma memang belum pernah dikunjungi Paulus, karena itu ia tak mengenal Jemaat Roma secara pribadi. Oleh sebab itu, surat ini berisi paparan teologi yang sangat sistematis dan bersifat lebih umum jika dibanding dengan surat-surat Paulus lain yang biasanya merupakan respon dari permasalahan yang sangat spesifik. Dalam bagian ini, Paulus menyoroti ketaatan ritual agamis para kaum Yahudi yang hampir mutlak terhadap hukum, bahkan menempatkan hukum di atas segalanya. Orang yang sakit di hari Sabat memang boleh diberi pertolongan agar ia tak semakin buruk, namun pertolongan yang membuatnya semakin baik dilarang. Ketaatan ini memang tak mudah dilakukan, banyak narasi yang menceritakan bagaimana orang-orang Yahudi (terutama di masa-masa perang) bahkan sampai kehilangan nyawa hanya untuk tetap menaati Hukum Taurat. Namun menurut Paulus, orang-orang Yahudi ini salah fokus. Mereka bukannya berfokus pada kebenaran Allah, tapi justru pada kebenaran sendiri (ay.3).

Oleh sebab itu, Paulus memberikan dasar pengakuan iman Kristen tentang Yesus dan karya penyelamatan yang telah dilakukan-Nya. Bahwa Yesus adalah Tuhan (Kurios)dan Ia telah dibangkitkan dari kematian (ay.9). Kurios (yun.) memang bukan pertama-tama merujuk pada keilahian, karena kata itu adalah kata yang umum dipakai untuk menghormati seseorang. Namun, dalam perkembangannya, kataKurios jamak dipakai untuk menghargai Kaisar dan secara umum dipakai untuk menerjemahkan Tetragramaton (YHWH) dalam septuaginta (Kitab Suci Ibrani yang diterjemahkan dalam Bahasa Yunani). Sehingga jika Paulus menggunakan kata Kurios untuk merujuk pada pribadi Yesus, itu berarti ia menempatkan Yesus sebagai yang dihargai,yang diutamakan dan tentu yang ilahi. Lalu, Paulus melanjutkan paparannya pada tema tentang keselamatan, bahwa keselamatan adalah kombinasi dari kepercayaan dalam hati dan pengakuan dengan mulut (ay.10). Ini berarti bahwa kritik Paulus pada kehidupan agamaniah orang Yahudi yang berpusat pada ritual, mestinya disertai pula dengan sikap spiritual yang penuh integritas.

Lukas 4:1-13

Narasi tentang pencobaan ini adalah narasi terakhir sebelum Yesus memulai karya-Nya. Lukas menempatkan pencobaan ini segera setelah Yesus menerima baptisan yang disertai dengan kejadian alam luar biasa (3:21-22) sebagai pernyataan Sang Bapa. Yesus tak diberi kesempatan untuk menerima decak kagum para saksi mata yang melihat kejadian alam di luar nalar, Ia tak punya waktu untuk menikmati kepopuleran setelah dinyatakan sebagai Anak Yang Dikasihi. Tujuan baptisan-Nya ternyata memang bukan itu, namun agar Ia “penuh dengan Roh Kudus (ay.1). Roh Kudus itulah yang membawa-Nya (yun. Agoo, memimpin) ke padang gurun untuk tinggal empat puluh hari di sana dan dicobai iblis (ay.1-2). Keterangan yang disediakan oleh Lukas ini menarik, karena pencobaan yang dialami Yesus ini justeru diprakarsai oleh Roh Kudus, bukannya oleh iblis. Jadi Lukas menyiratkan bahwa pencobaan ini adalah desain yang telah disiapkan untuk jadi bagian hidup dan pelayan Yesus di dunia. Bagi para pembaca asli Lukas, 40 hari yang disebutkan pastilah membawa ingatan mereka pada perjalanan Bangsa Israel yang  muter-muter di padang gurun selama 40 tahun (keterangan ini nampaknya adalah “gema” dari Bil 14:34). Namun, berbeda dengan pengalaman padang gurun Israel yang melambangkan ketidaksetiaan dan ketidaktaatan, padang gurun yang dialami Yesus adalah lambang kemenangan gilang gemilangatas kuasa jahat.

Narasi tiga pencobaan ini berasal dari tradisi pra-Lukas, Lukas menukar tata urutan yang disajikan Matius di pencobaan kedua dan ketiga untuk memberikan titik berat pada pencobaan di Bait Allah. Pencobaan-pencobaan ini sebenarnya memiliki dampak individual dan komunal. Pencobaan untuk mengubah batu menjadi roti saat Dia kelaparan, adalah pencobaan untuk menyalahgunakan kuasa keilahian yang dimiliki Yesus (Ay.3-4). Jawaban Yesus pada pencobaan ini adalah kutipan dari Ulangan 8:3, namun tidak seperti Matius yang mengutip secara lengkap, Lukas hanya menyajikan kalimat: “manusia hidup bukan dari roti saja” (ay.4). Kalimat ini nampaknya sengaja dipotong untuk membuat pembaca bertanya: “Lalu manusia hidup dari apalagi selain roti?”. Pertanyaan pembaca inilah yang akan dijawab Lukas di 22:19 yang menyatakan bahwa tubuh Yesus-lah yang diserahkan bagai roti yang terpecah sebagai tebusan. Pencobaan selanjutnya (ay.5-8) menunjukkan konsep mengenai Kerajaan Allah. Iblis menunjukkan kerajaan-kerajaan besar di dunia dan menawarkannya pada Yesus jika Ia bersedia menyembahnya. Di sini Lukas menyiratkan bahwa Iblis memiliki kuasa atas kerajaan-kerajaan besar itu (pemahanan jamak yang dimiliki oleh orang Yahudi yang sedang terjajah bangsa lain). Namun, jawaban Yesus yang menyatakan bahwa hanya Allah saja yang patut disembah dan menerima bakti menunjukkan bahwa Yesus mengambil alih kuasa Iblis atas kerajaan-kerajaan itu, karena Dia lebih berkuasa dari Iblis. Pencobaan terakhir (ay.9-12) inilah yang menjadi penekanan narasi Lukas. Dengan membawa Yesus ke bubungan Bait Allah dan meminta-Nya menjatuhkan Diri dari sana, Iblis menawarkan jalan pintas (shorcut) bagi Yesus untuk mendapatkan pengakuan atas kemesiasanNya secara instan. Iblis menggoda Yesus untuk melewatkan penderitaan dan kematian. Bayangkan, jika Yesus benar-benar menjatuhkan Diri di Bait Allah yang selalu penuh sesak dengan umat Yahudi dari seluruh penjuru bumi dan mereka melihatNya diselamatkan oleh para malaikat, dengan segera Yesus dipercaya sebagai Mesias dan jelas tak perlu mati di kayu salib. Namun, itu bukan jalan-Nya, itu bukan pilihan-Nya. Ia tetap memilih jalan derita, jalan salib untuk menyatakan cinta-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan

TUHAN adalah pusat hidup Israel, karena itulah mereka harus terus menerus mengingatkan diri dan anak-cucu bahwa TUHAN-lah Sang Pemberi tanah perjanjian itu. Tanah memang menjadi sumber hidup dan sumber eksistensi Israel, namun Ulangan menekankan bahwa TUHAN Sang Pemberi tanah-lah yang menjamin hidup mereka. Ritual persembahan Israel seharusnya berpusat pada spiritualitas ucapan syukur. Di jaman Perjanjian Baru, ritual justru menjadi pusat dan fokus hidup orang Yahudi. Bahkan mereka bersedia mengorbankan sesama dan nyawa sendiri demi untuk ritual. Inilah yang dikiritik Paulus: pelaksanaan ritual membabi buta tanpa disertai spiritualitas. Ketaatan pada ritual memang baik dan tak salah, namun tidak cukup untuk menjadi pusat hidup. Yesus menetapkan pusat hidupNya secara jelas. Ia tak bersedia menyerah demi jalan pintas, namun tetap memilih jalan salib sebagai bukti cinta-Nya pada manusia.

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

Fokus Hanya pada Kristus

Pendahuluan

Beberapa saat lalu, ada sebuah lagu yang hampir tiap hari kita dengar selama perhelatan akbar Asian Games karena lagu ini adalah Theme Song resmi Asian Games. Nah, jika saya sudah mengatakan tentang theme song dan Asian Games, pastilah saudara bisa menebak lagu apa yang saya maksud. Ya…lagu berjudul “Meraih Bintang”, yang dinyanyikan oleh penyanyi asal Jawa Timur, Via Vallen. Memang bagian yang paling mudah diingat dari lagu ini adalah bagian Reff-nya: Yo…yo ayo. Yo ayo…yo yo ayo….(dst). Namun, menurut saya ada bagian yang paling inspiratif di bridge-nya: (jika memungkinkan silahkan pengkhotbah menyanyikannya)

Tetap fokus, satu titik, hanya itu titik itu.
Tetap fokus kita kejar, lampaui batas.
Tetap fokus, satu titik, hanya itu titik itu.
Tetap fokus kita kejar dan raih bintang.

Bagian lagu ini menjadi sangat menarik dan inspiratif karena ajakan untuk fokus ke satu titik bisa berlaku dalam tiap bidang kehidupan kita (bukan hanya di bidang olah raga). Selama kita fokus, entah dalam pekerjaan, pendidikan, pelayanan dan keluarga, kita pasti akan bisa sukses, meraih bintang.

Namun masalahnya, seringkali dalam kehidupan ini kita justru kita gagal fokus dan salah fokus (salfok). Kita justru menempatkan hal-hal yang tak penting, perkara-perkara yang tak seharusnya menjadi fokus hidup kita.

Isi:

Fokus yang ditekankan Ulangan dalam liturgi pengucapan syukur Israel adalah untuk terus mengingat karya TUHAN yang membawa mereka keluar dari perbudakan, memimpin mereka dalam perjalanan di tengah padang gurun dan memberikan tanah perjanjian itu. Jadi, Israel harus sadar benar bahwa sumber hidup mereka bukanlah semata tanah namun terutama TUHAN sendiri. Ulangan memberikan aturan ritual liturgis yang sangat detil tentang bagaimana seorang Israel harus membawa persembahan pertamanya pada TUHAN. Deklarasi iman harus disampaikan pada Imam saat seseorang membawa bakul persembahan pertamanya, bahwa TUHANlah yang memberikan tanah itu pada nenek moyangnya. Setelah menyatakan di hadapan Imam, ia masih harus menyatakan imannya sekali lagi di hadapan TUHAN sendiri dengan mengutip sejarah perjalanan Israel yang kemudian diakhiri dengan pernyataan bahwa persembahan pertama itu dapat diberikan pada TUHAN karena itu tanah itu adalah pemberian dari TUHAN. Persembahan pertama yang dibawa adalah sarana untuk melatih Israel untuk senantiasa memprioritaskan TUHAN dalam hidupnya. Jadi, jelas bahwa pusat ritual ini adalah kondisi batin Israel yang harus senantiasa tertuju dan teringat pada TUHAN.

Namun dalam perkembangannya, orang Yahudi di jaman Perjanjian Baru menjadi sangat legalistis dan berpusat kepada tata ritual dan mengabaikan sikap spiritual dan tindakan moral. Hukum di atas segalanya, bahkan di atas kemanusiaan sekalipun. Kondisi ini membuat Paulus menyampaikan kritiknya dalam eksposisi teologisnya di Surat Roma. Paulus menyatakan bahwa apa yang pada umumnya dilakukan orang (Kristen) Yahudi adalah tindakan yang berpegang pada kebenaran sendiri dan bukan kebenaran Allah. Karena itu Paulus memberikan dasar pengakuan iman Kristen tentang Yesus dan karya penyelamatan yang telah dilakukan-Nya. Bahwa Yesus adalah Tuhan (Kurios) dan Ia telah dibangkitkan dari kematian (ay.9). Kurios (yun.) memang bukan pertama-tama merujuk pada keilahian, karena kata itu adalah kata yang umum dipakai untuk menghormati seseorang. Namun, dalam perkembangannya, kataKurios jamak dipakai untuk menghargai Kaisar dan secara umum dipakai untuk menerjemahkan Tetragramaton (YHWH) dalam septuaginta (Kitab Suci Ibrani yang diterjemahkan dalam Bahasa Yunani). Sehingga jika Paulus menggunakan kata Kurios untuk merujuk pada pribadi Yesus, itu berarti ia menempatkan Yesus sebagai yang dihargai, yang diutamakan dan tentu yang ilahi. Lalu, Paulus melanjutkan paparannya pada tema tentang keselamatan, bahwa keselamatan adalah kombinasi dari kepercayaan dalam hati dan pengakuan dengan mulut (ay.10). Ini berarti bahwa kritik Paulus pada kehidupan agamaniah orang Yahudi yang berpusat pada ritual, mestinya disertai pula dengan sikap spiritual yang penuh integritas.

Pusat hidup penuh integritas juga telah diteladankan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Segera setelah menerima baptisan dan pernyataan Sang Bapa, Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk menguji sikap sprititual dan pilihan moralNya. Ketiga pencobaan ini benar-benar menguji kemanusiaan Yesus. Pencobaan pertama menggoda-Nya untuk menyalahgunakan kuasa Ilahi yang dimiliki saat Yesus kelaparan. Namun, Dia menjawab bahwa manusia tidak hanya hidup dari roti saja. Bahkan kemudian di 22:19, Yesus menyatakan bahwa tubuh-Nyalah yang menjadi roti yang terpecah sebagai tebusan. Pencobaan kedua menunjukkan kenyataan bahwa kerajaan-kerajaan di dunia yang ada di bawah kuasa si jahat, namun Kristus yang lebih berkuasa atasnya datang dan mengambil alih kekuasaan itu. Pencobaan ketiga adalah bagian yang digarisbawahi oleh Lukas, dimana Iblis menawarkan jalan pintas bagi Yesus untuk membuktikan kemesiasan-Nya. Dengan menjatuhkan Diri dari bubungan Bait Allah dan diselamatkan oleh para malaikat, pastilah semua orang takjub dan akan percaya pada-Nya sebagai Anak Allah. Jadi, Yesus tak perlu menjalani jalan penderitaan, Salib dan kematian. Namun, Yesus telah menetapkan pilihan-Nya, telah menetapkan pusat hidup-Nya. Yaitu untuk menaati kehendak Bapa-Nya, meski kehendak Sang Bapa berarti jalan salib.

Penutup:

Saudara-saudara yang terkasih, apa yang selama ini menjadi pusat dan fokus hidup kita? Apa fokus hidup yang selama ini kita ajarkan pada anak-anak kita? Kesuksesan? Uang? Atau nama baik? Perkara-perkara itu hanyalah perkara fana, yang dengan sekejab bisa hilang tanpa sisa. Saat ini, mari belajar untuk menempatkan yang paling penting dan yang kekal, sebagai fokus hidup kita. Dialah…Kristus.

Menjadikan Kristus sebagai fokus hidup memang tak berarti bahwa hidup kita akan  selalu sehat, berhasil dan berkecukupan. Tapi menempatkan Kristus sebagai fokus berarti meski dalam hidup ktia mengalami kesakitan, kegagalan dan kekurangan, namun kita tak pernah dibiarkan sendirian. Selama berfokus pada Kristus, sedalam apapun luka kita dan sejauh apapun kita tersesat, Dia tetap setia, Dia tetap bersama. Karena itu, mari belajar untuk tetap fokus pada satu titik, hanya itu, titik itu. Ya….mari fokus hanya pada Kristus. Amin. (Rhe)

Nyanyian: KJ: 396


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

 Fokus Namung Dhumateng Gusti Yesus

Pembuka

Tahun kepengker wonten lagu ingkang saben dinten kita pirengaken, utaminipun wekdal Asian Games krana dados lagu resmi Asian Games. Nah,menawi kula sampun matur bab lagu tema Asian Games,  panjenengan mesthi sampun saged nitik lagu ingkang kula maksud, inggih menika lagunipun Via Vallen, Meraih Bintang. Perangan ingkang paling gampil ing Reff-ipun. Nanging miturut kula, wonten perangan ingkang langkung nengsemaken lan inspiratif. (Menawi saged, pelados kasumanggakaken nyanyi)

Tetap fokus, satu titik, hanya itu titik itu.
Tetap fokus kita kejar, lampaui batas.
Tetap fokus, satu titik, hanya itu titik itu.
Tetap fokus kita kejar dan raih bintang.

Perangan menika nengsemaken lan inspiratif awit ajakanipun kangge mandeng satunggal titik saged kita ugemi kangge sedaya bab ing pigesangan kita (boten namung ing babagan olah raga). Menawi kita mandeng ing satunggal titik (fokus), sae ing padamelan, pasinaon, paladosan lan brayat, kita badhe saged sukses, ngranggeh lintang.

Namung emanipun, kita asring gagal fokus lan salah fokus (salfok) lan malah nengenaken perkawis-perkawis ingkang boten wigati, ingkang mesthinipun boten dados fokus gesang kita.

Isi

Kitab Ulangan ing liturgi pangucap syukur Israel mbereg umat supados tansah enget pakaryanipun Gusti ingkang ngiring bangsa Israel medal saking panindhes, mimpin ing margi nalika ing ara-ara samun lan paring tanah prajanjian. Israel kedah nyadhari kanthi tumemen dene sumber gesang sanes namung tanah nanging Gusti piyambak. Ulangan paring pranatan liturgis kangge manembah ingkang rinci bab kados pundi umat mbeta pisungsung wiwitan dhumateng Gusti. Umat kedah nglairaken pangaken pitados ing ngajengipun para imam nalika mbeta pisungsung wiwitan, dene Gusti ingkang paring siti menika dhumateng leluhur. Sasampunipun ngakeni ing ngajengipun para imam, umat kedah nglairaken pangaken sepisan malih ing ngarsanipun Gusti kanthi ngaturaken cariyos sejarah lampahipun bangsa Israel ingkang dipunpungkasi kanthi pangaken bilih pisungsung wiwitan menika saged kaaturaken ing ngarsanipun Gusti krana siti ingkang dipunparingi dening Gusti. Pisungsung wiwitan ingkang dipunbeta menika srana kangge nggladhi Israel supados nengenaken Gusti ing gesangipun. Dados terwaca bilih punjering ritual menika kondisi batosipun Israel ingkang tansag tumuju lan eling dhumateng Gusti.

Nanging ing salajengipun, tiyang Yahudi ing zaman Prajanjian Enggal dados legalistis lan nengenaken dhateng tata ritual lan ngiwaaken patrap spiritual lan tumindak ingkang adhedhasar moral. Hukum dados ingkang paling inggil, malah dipunanggep ing ngingilipun kamanungsan. Perkawis menika dados kritikipun Rasul Paulus ing katrangen teologis serat Rum. Rasul Paulus dhawuh dene menapa ingkang dipuntindakaken tiyang-tiyang Kristen Yahudi menika patrap ingkang nengenaken kaleresanipun piyambak lan sanes Gusti. Mila rasul Paulus paring dhasar pangaken kapitadosan kristen bab Gusti Yesus lan pakaryan kawilujengan ingkang sampun katindakaken. Dene Gusti Yesus menika Gusti (Kurios) lan sampun wungu saking antawisipun tiyang pejah (ay. 9). Kurios (basa Yunani) menika pancen boten  nedahaken bab ilahi amargi tembung menika limrah dipunagem kangge ngurmati tiyang. Nanging ing salajengipun, tembung Kurios  dipunagem kangge ngurmati Kaisar lan sacara limrah dipunagem  kangge nyebataken Tetragramaton (YHWH) ing Septuaginta (Kitab Suci basa Ibrani ingkang dipun sulih basaaken ing basa Yunani). Mila menawi Paulus ngginakaken tembung Kurios menika ingkang dipunmaksud Gusti Yesus ingkang kinurmat, dipuntengenaken lan ilahi. Lajeng rasul Paulus wicanten bab kawilujengan. Kawilujengan menika kapitadosan ing batos lan pangaken ing lathi ingkang dipungathukaken (ayat 10). Menika artosipun rasul Paulus paring kritik dhateng gesang manembahipun tiyang Yahudi ingkang punjeripun namung ritual, kamangka ritual menika kedah dipunsarengi patrap spiritual ingkang kebak integritas.

Punjering gesang kebak integritas sampun dipunwucalaken dening Gusti Yesus ing waosan Injil dinten menika. Nalika nampi baptisan lan pangaken saking Keng Rama, Gusti Yesus kabeta dhateng ara-ara samun kangge nguji patrap spiritual lan pilihan moralipun. Tiga pacoben menika temen-temen nguji kamanungsanipun Gusti Yesus. Pacoben sepisan nggodha supados Gusti nginaaken kuwaos ilahi kanthi salah nalika madharanipun kraos ngelih. Nanging, Gusti Yesus paring jawab dene manungsa boten namung mbetahaken roti ing gesangipun. Malah ing pasal 22 ayat 19, Gusti Yesus paring dhawuh bilih sariranipun menika ingkang badhe kacuwil-cuwil kangge tebusan. Pacoben kaping kalih nelakaken kanyatan dene kraton-kraton ing donya wonten ing kuwaosipun setan, nanging Sang Kristus ingkang rawuh ngungkuli sedaya kuwaos kalawau lan dados panguwaos tunggal. Pacoben kaping tiga menika perangan ingkang dipuntegesaken dening Lukas, dene Iblis nggodha Gusti Yesus supados Gusti Yesus mbuktekaken ke-mesihan-ipun. Menawi Gusti Yesus kersa anjlog saking wuwungipun padaleman suci lan dipuntadhahi dening para malaekat, mila sedaya tiyang badhe eram lan pitados bilih Gusti Yesus menika putraning Allah. Mila Gusti Yesus boten perlu nglampahi kasangsaran, Salib lan seda. Nanging, Gusti Yesus netepaken pilihan, dene punjering gesangipun sumuyud dhumateng karsanipun Sang Rama sanadyan karsanipun Sang Rama ateges margining salib.

Panutup 

Para sadherek kinasih, menapa ingkang dados punjer lan fokus gesang kita? Menapa punjering gesang ingkang kitawucalaken dhumateng para putra putri? Kamulyan? Arta? Utawi nama? Perkawis-perkawis kadagingan ingkang gampil ical tanpa sisa. Samangke, sumangga sinau netepaken bab paling penting lan langgeng ingkang dados punjering gesang kita. Inggih menika…Sang Kristus.

Ndadosaken Sang Kristus dados punjering gesang boten ateges dene gesang kita badhe tansah sehat, kasil lan kacekapan. Ndadosaken Sang Kristus punjering gesang tegesipun sanadyan nandhang sakit, boten kasil lan kacingkrangan, nanging tetep pitados bilih kita boten piyambakan. Salaminipun kita mandeng dhumateng Gusti, salebet napa tatu ingkang kita alami lan satebih menapa anggen kita kesasar, Gusti tetep setya, Gusti tetep nyarengi. Mila mangga sinau fokus ing setunggal titik, namung niku, titik niku. Inggih…sumangga mandeng namung dhateng Sang Kristus. Amin. ( terjemahan dn)

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak