Masa Natal
Ibadah Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 52 : 7 – 10
Bacaan 2: Ibrani 1 : 1 – 4
Bacaan 3: Yohanes 1 : 1 – 14
Tema Liturgis: GKJW Merayakan Keseharian Bersama Yesus Saat Ini di Sini
Tema Khotbah: Allah Hadir Merengkuh Segenap Ciptaan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 52 : 7 – 10
Dalam pembagian struktur Kitab Yesaya oleh pada ahli Perjanjian Lama, Yesaya 52 masuk dalam bagian kedua atau biasa disebut dengan Deutero Yesaya. Tema pokok yang muncul dalam Deutero Yesaya (pasal 40-55) adalah tentang nubuatan-nubuatan keselamatan bagi Sion. Deutero Yesaya sebenarnya dibingkai dengan bagian prolog yang terdapat dalam Yesaya 40:1-5 dan diakhiri dengan epilog dalam Yesaya 52:7-10. Dengan demikian jika kita membaca Yesaya 52:7-10 kita perlu membacanya dalam hubungan paralel prolog-epilog dengan Yesaya 40:1-5.
| Prolog: Yesaya 40:1-5
Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya. Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya. |
Epilog: Yesaya 52:7-10
Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!” Dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: mereka bersama-sama bersorak-sorai. Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion. Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem. TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.
|
Dengan menyandingkan antara prolog dan epilog seperti tersebut di atas, maka menjadi jelas bahwa Yesaya 52:7-10 adalah penggenapan dari prolog Deutero Yesaya. Janji keselamatan atas Sion akan digenapi, dan seluruh bumi akan melihat keselamatan yang dari Dia.
Ibrani 1 : 1 – 4
Di antara semua bagian di dalam surat Ibrani, Ibrani 1:1-4 merupakan bagian yang paling indah gaya penulisannya. Perikop ini ditulis dalam bahasa Yunani. Ada permainan kata-kata yang diterjemahkan dengan berulang kali (polumeras) dan dalam pelbagai cara (polutropos). Pikiran pokok dalam bagian ini adalah bahwa Yesus Kristus sajalah yang menyampaikan wahyu Ilahi kepada manusia, dan bahwa hanya Dia sajalah yang berkuasa menghantar manusia menghampiri tahta Allah. Penulis membandingkan antara Yesus dengan nabi-nabi terdahulu dan mengatakan bahwa Yesus akan datang pada akhir zaman. Bangsa Yahudi membagi waktu dalam dua zaman, yakni zaman kini dan zaman yang akan datang. Di antara dua zaman itu terdapatlah Hari Tuhan. Zaman sekarang adalah sangat jahat dan zaman yang akan datang adalah zaman keemasan Alah. Kehadiran Yesus adalah wujud dari zaman yang akan datang, cahaya kemuliaan Allah diwujudnyatakan.
Nabi telah menyatakan kehendak Allah dengan berbagai macam cara, namun menurut penulis surat Ibrani apa yang disampaikan oleh para nabi tersebut bersifat sebagian saja. Sebaliknya wahyu dalam diri Yesus sempurna dan diwujudkan sepenuhnya dalam diri Yesus Kristus. Para nabi disebut sebagai “perantara Allah”, sedangkan Yesus adalah “Anak Allah.” Yesus adalah apaugasma (kemuliaan Allah). Apaugasma dapat berarti sinar, yaitu cahaya yang memancar atau pantulan, yaitu terang yang dipantulkan. Yesus adalah pancaran sinar kemuliaan Allah di antara manusia.
Yohanes 1 : 1 – 14
Prolog Yohanes mempunyai banyak makna teologis yang mendalam. Salah satu hal yang penting adalah Yesus sebagai Firman (logos) Allah. Ada beberapa aliran yang membentuk konsep tentang firman dalam alam pikir Yahudi. Yang pertama, bagi orang Yahudi sebuah firman mempunyai arti yang jauh lebih luas dari sebuah suara. Bagi orang Yahudi firman merupakan sesuatu yang berdiri sendiri dan bisa melakukan banyak hal. Karena kuasa itulah, maka orang Ibrani sangat hemat dalam hal kata-kata. Kata dalam bahasa Ibrani tidak lebih dari 10.000 buah, sedangkan kata dalam bahasa Yunani ada 200.000 buah. Kedua, Kitab Suci Perjanjian Lama juga penuh dengan ide kekuatan kata-kata atau firman. Dalam Kejadian 27 misalnya, pada saat Yakub mengambil hak kesulungan dari Esau melalui kata-kata berkat Ishak, Esau tidak kuasa mengambil kembali kata-kata atau berkat itu. Ketiga, dalam kehidupan agamiah Ibrani terdapat suatu hal yang sangat menekankan perkembangan ide tentang firman Allah.
Dengan berbagai latar belakang makna logos tersebut, Yohanes mengkorelasikan Yesus dengan Firman Allah. Dalam ayat 14 disebutkan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Kemuliaan Allah mewujud dalam diri Yesus. Melalui Yesus Allah menyatakan karya keselamatan bagi dunia.
Inkarnasi Allah dalam Yesus adalah jalan yang baru dan paling penuh bagi Allah untuk mengungkapkan diri-Nya. Inkarnasi berasal dari bahasa Latin, in carne, yang berarti ‘menjadi daging’. Yohanes menuliskan, “Firman itu telah menjadi manusia…” (Yohanes 1:14). Dalam teks bahasa aslinya tertulis “kai ho logos sarz egneto” yang lebih tepat diterjemahkan “dan Firman itu telah menjadi daging.”
Salah seorang Teolog Feminis Katolik, Elizabeth Johnson, menyatakan bahwa manusia, Yesus adalah mahkluk hidup dan semua kehidupan berasal dari satu sel yang hidup dan berkembang. Satu sel hidup itu muncul dari partikel-partikel bumi yang tersusun dari debu-debu kosmis yang juga menyusun semua benda-benda angkasa, bintang, planet bahkan tata surya dan galaksi yang berkembang sejak miliaran tahun lalu. Dengan demikian kemanusiaan Yesus tidak terpisah dari seluruh alam semesta ini. Tubuh manusia Yesus adalah unit yang kompleks dari mineral, cairan, karbon, oksigen serta komponen-komponen biologis yang lain. Sebagai manusia, Yesus pun terhubung dengan semua makhluk hidup lainnya, tumbuhan dan hewan bahkan mikroorganisme. Yesus terhubung dengan semua materi yang menyusun alam semesta ini, oleh karena itulah inkarnasi Allah tidak lagi dipahami sebagai Allah yang menjadi manusia saja, melainkan Allah yang menjadi bagian dari seluruh alam semesta ini.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Dari ketiga bacaan, Yesus adalah penggenapan tentang berita pembebasan, berita keselamatan bagi dunia. Melalui Yesus kemuliaan Allah dinyatakan. Melalui Yesus kehendak Allah digenapi. Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah, yang melalui-Nya kehendak Allah diwujudnyatakan. Inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus membuka harapan baru bagi kehidupan. Ketika Ia berbicara tentang kasih dan pengampunan, itu semua diperagakan melalui keseluruhan kehidupan-Nya sehingga orang mengerti apa itu pengampunan. Ia melakukannya demi merengkuh kerapuhan ciptaan. Sehingga orang percaya dipanggil untuk hadir dan merengkuh seluruh ciptaan dengan membuahkan kebaikan dalam kehidupan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Suatu hari terjadi hujan salju sehingga cuaca hari itu begitu dingin. Seorang pria melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.
Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tetapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu. “Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan,” kata pria itu pada dirinya sendiri, “dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman.” Pria tersebut berpikir untuk menjadi sama dengan burung, sehingga dapat membawa burung masuk ke dalam kandang.[1]
Isi
Kisah natal sesungguhnya adalah kisah tentang kehadiran Allah yang menjadi dekat dengan manusia dalam diri Yesus Kristus. Injil Yohanes memakai gambaran mengenai ho logos (Firman). Pada ayat 1 dikatakan demikian “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Firman Allah dihubungan dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian 1. Pada Yohanes 1:3 disebutkan demikian “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Firman (ho logos) yang semula bersama-sama Allah, mewujud dalam diri Tuhan Yesus.
Pada ayat 14 dikatakan demikian “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Dalam Bahasa Yunani, ἐσκήνωσεν ἐν ἡμῖν (èskénosen èn hemin). Firman itu berdiam di antara kita.” Kata kerja “berdiam” secara harafiah berkemah, mendirikan tenda. Dulu umat Israel merasakan pengalaman kehadiran Allah dalam “Kemah Suci”. Dalam kemah itu bersemayam Tabut Perjanjian Allah. Bangsa Israel mengalami dan menyaksikan pengalaman penyertaan Allah itu. Melewati padang gurun dan berhadapan dengan pelbagai musuh juga tantangan dapat mereka atasi karena kehadiran Allah bersama mereka. Rupanya Allah tidak pernah lelah dalam membangun komunikasi dengan manusia. Firman itu tidak menjauhi manusia melainkan masuk ke dalam kehidupan manusia. Di dalam Yesus, firman yang semula bersama-sama dengan Allah dan yang merupakan kesatuan utuh dengan Allah itu kini hadir dalam diri manusia Yesus. Yesus sebagai Firman Allah dan shekinah (kehadiran) Allah, kemuliaan dan kasih setia Allah menjadi tampak dan terungkap di dunia.
Hal ini terungkap pula dalam bacaan kedua, Yesus juga disebut sebagai kemuliaan Allah. Dalam Ibrani 1:3 dikatakan demikian “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan segala firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Sang Firman yang penuh dengan kekuasaan itu telah mewujud dalam diri Tuhan Yesus. Dalam diri Yesus kita dapat melihat kemuliaan Allah. Dalam diri Yesus tindakan penyelamatan Allah dikerjakan. Yesus sebagai Firman Allah yang menjadi manusia adalah jalan yang baru dan paling penuh bagi Allah untuk mengungkapkan diri-Nya kepada manusia.
Firman itu merasuk dan menembus rasa, logika, bahasa dan budaya manusia. Ia sungguh nyata, karena sesungguhnya tutur-Nya menjadi hidup di dalam diri-Nya. Bukan hanya sebatas teori, dogma. Namun diperagakan dan dipentaskan secara nyata dalam keseluruhan hidup-Nya. Kehadiran Yesus adalah wujud nyata dari penggenapan keselamatan yang dijanjikan oleh Allah. Dalam janji Allah pada Yesaya 52:10 dikatakan demikian “TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.” Melalui Yesus maka seluruh ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah. Keselamatan yang Allah kerjakan melalui Yesus tidak hanya bagi manusia namun bagi seluruh alam, seluruh ciptaan. Salah seorang Teolog Feminis Katolik, Elizabeth Johnson, menyatakan bahwa manusia, Yesus adalah mahkluk hidup dan semua kehidupan berasal dari satu sel yang hidup dan berkembang. Yesus terhubung dengan semua materi yang menyusun alam semesta ini, oleh karena itulah inkarnasi Allah tidak lagi dipahami sebagai Allah yang menjadi manusia saja, melainkan Allah yang menjadi bagian dari seluruh alam semesta ini. Keselamatan tidak hanya bagi golongan tertentu, namun bagi semua orang yang bersedia menerima keselamatan yang dikerjakan melalui-Nya.
Penutup
Saudaraku, tak jarang realitas hidup yang terjadi membuat kita meratapi kehidupan. Keputusasaan, kesedihan, kedukaan, kekerasan menjadi bahasa yang semakin sering kita jumpai. Realita hidup ini juga semakin menyadarkan kita akan kemelekatan kerapuhan kita sebagai ciptaan. Melalui peristiwa Natal Allah yang Mahamulia mau hadir di dunia yang rapuh. Bergumul, menderita, merasakan pahit getirnya kehidupan akibat dosa dan mengangkat manusia dari dosa supaya mengenal hidup yang sesungguhnya. Pada saat yang sama dalam kehadiran-Nya, Ia menginginkan manusia yang telah mengecap kasih karunia-Nya dapat mengerjakan apa yang telah dikerjakan-Nya.
Natal adalah merengkuh seluruh ciptaan. Kehadiran Allah di tengah seluruh ciptaan. Natal patut kita rayakan sebagai wujud dari cinta kasih Allah yang mau masuk ke dalam kerapuhan manusia agar manusia mengerti bahasa cinta kasih-Nya. Melalui Yesus, manusia dapat melihat jalan keselamatan. Seperti halnya ilustrasi pada bagian pembuka, melalui Yesus manusia dapat mengerti dengan lebih jelas karya dan kehendak Allah bagi dunia. Hanna Arendt pernah menyampaikan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki kemampuan kreatif untuk melahirkan sesuatu yang baik bagi lingkungan masyarakat. Kemampuan kreatif ini merupakan cerminan dari Allah yang selalu melakukan tindakan-tindakan kreatif dalam mengupayakan keselamatan ciptaan. Melalui hal inilah akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan yang senantiasa memperbarui dunia. Allah yang tak terbatas dan terjangkau oleh ciptaan itu menjadikan diri-Nya terbatas untuk menjangkau dan merengkuh seluruh ciptaan dalam persekutuan cinta kasih-Nya yang kekal. Amin. [ANS].
Pujian: KJ. 121: 1 – 2 Dunia Kedinginan
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Satunggaling dinten lumebet wonten ing musim salju, pramila cuaca dinten punika asrep sanget. Satunggaling pria ningali wonten ing sajawining cendela lan nyawang salju ingkang dhumawah saking akasa. Pria punika lajeng lenggah malih wonten ing kursinipun sacelakipun gegenen lajeng maos koran. Sawetawis wekdal salajengipun, piyambakipun kaget awit wontenipun suwanten kados dene wonten ingkang thothok-thothok lawang. Piyambakipun mbatos, mbok menawi wonten ingkang nguncalaken salju dhateng tembok griyanipun. Nalika dipun tingali, wonten peksi-peksi ingkang sami kadhemen karana asrepipun salju. Peksi-peksi kasebat kajebak wonten ing salju lan nabrak kaca cendela badhe pados papan kangge ngiyup.
Pria kasebat lajeng mikir kados pundi anggenipun piyambakipun badhe nulungi, supados peksi-peksi punika boten mati kasrepen. Piyambakipun kemutan bilih wonten kandhang jaran wonten ing sawingkingipun griya. Kandang punika saged nulungi peksi-peksi punika karana kahananipun anget. Kanthi rikat pria punika mendhet jaket lajeng tumuju dhateng kandhang jaran. Piyambakipun mbikak lawanging kandhang jaran lajeng nggesangaken lampu. Nanging peksi-peksi punika boten purun mlebet wonten ing kandhang jaran punika. Piyambakipun lajeng pados pakan manuk, dipun kepyur-kepyuraken wonten ing lebetipun kandhang, nanging peksi-peksi kalawau tetep boten purun lumebet ing kandhang.
Pria punika lajeng nyobi nggiring peksi-peksi kados dene nggiring menda, nanging peksi-peksi kalawau malah pating bleber mabur kanthi boten teratur. Pria kasebat lajeng mikir “Coba yen aku dadi manuk, sedhela wae. Mesti manuk-manuk iku banjur ngerti apa sing tak karepke, isa tak slametke, mlebu neng kandhang.” Pria kasebat mikir bilih kepengin dados sami kados dene peksi, supados saget ngajak lan nulungi peksi kalawau.
Isi
Natal estunipun ugi prastawa nalika Gusti Allah nunggil klayan manungsa, kanthi celak, manjalma ing sariranipun Sang Kristus. Injil Yokanan ngginakaken gambaran ho logos (Sang Sabda). Wonten ing ayat 1 kapratelakaken mekaten ”Ing kala purwa Sang Sabda iku ana, dene Sang Sabda iku nunggil karo Gusti Allah sarta Sang Sabda iku Gusti Allah.” Sang Sabda punika kahubungaken kaliyan prastawa Gusti yasa jagad, wonten ing Kitab Purwaning Dumadi 1. Wonten ing Yokanan 1:3 kasebataken mekaten “Samubarang kabeh dumadine dening Sang Sabda, lan samubarang kang dumadi ora ana sawiji-wijia kang ora didadekake dening Sang Sabda.” Sang Sabda (ho logos) ingkang sewaunipun nunggil kaliyan Gusti Allah, mawujud wonten ing sariranipun Sang Kristus.
Wonten ing ayat 14 kapratela mekaten “Anadene Sang Sabda wus dadi daging sarta makuwon ana ing antara kita, lan aku wus padha nyawang kamulyane, iya iku kamulyan kang kaparingake marang Panjenengane kang jumeneng Putrane ontang-anting Sang Rama, kang kapenuhan ing sih-rahmat lan kayekten.” Tembung ἐσκήνωσεν ἐν ἡμῖν (èskénosen èn hemin), ngemu teges Sabda iku dedalem ana ing antara kita…”. Tembung kriya “dedalem” sacara harafiah (miturut aksaranipun) pasang kemah, ngedegaken tarub. Rumiyin, umat Israel ngraosaken pengalaman karawuhanipun Gusti Allah wonten ing “Tarub Suci”. Ing salebeding tarub punika, kadunungan pethining prasetyanipun Sang Yehuwah. Umat Israel nyekseni saiba nggegirisi pengalaman ngraosaken panganthinipun Gusti Allah punika. Nglangkungi pasamunan (segara wedhi), adhep-adhepan kaliyan warni-warni mengsah tuwin reribed, umat Israel saged ngrampungi, amargi saking rawuhipun Gusti Allah sesarengan kaliyan umat. Pengalaman rumpil, niba-tangi anggenipun umat Israel ngraosaken sesarengan kaliyan Gusti Allah ingkang ngrawuhi. Sajakipun Gusti Allah boten nate sayah nglampahi tumindak kreatif (tindak-tindak kang duwe daya cipta) ing salebetipun mbangun sesrawungan kaliyan manungsa. Samangke, Sang Sabda wus dadi ‘daging’. Sang Sabda punika boten nebihi jagading manungsa, ananging mlebet dhateng gesangipun manungsa. Ing Gusti Yesus, Sabda ingkang sekawit sesarengan kaliyan Gusti Allah, sarta ingkang mujudaken tetunggalan wetah kaliyan Gusti Allah, punika samangke rawuh ing salebeting manungsa Yesus. Gusti Yesus minangka Sabdanipun Allah tuwin shekinah (rawuhipun) Gusti Allah, kamulyan tuwin sih kasetyanipun Gusti Allah dados katingal lan kabikak ing jagad punika. Gusti Yésus minangka Sabdanipun Allah ingkang manjalma manungsa punika margi ingkang enggal sarta ingkang jangkep piyambak tumrap Gusti Allah kangge nglairaken Sariranipun dhumateng manungsa.
Kasunyatan kados mekaten katingal wonten ing waosan kaping kalih, inggih punika Gusti Yesus ugi kasebat minangka cahya kamulyanipun Gusti Allah. Wonten ing Ibrani 1:3 kaserat mekaten “Panjenengane dadi cahya kamulyane Gusti Allah sarta gambar wujuding Allah lan nyanggi samubarang kabeh sarana sabdane kang kebak panguwasa. Lan sawise rampung anggone ngresiki dosa, Panjenengane lenggah ing satengene Kang Mahaagung ana ing ngaluhur.” Sang Sabda ingkang kebak ing kamulyan mawujud wonten ing Sang Kristus. Wonten ing sariranipun Sang Kristus kita saged ningali kamulyanipun Gusti Allah. Wonten ing Sariranipun Sang Kristus pakaryan kawilujenganipun Gusti Allah katindakaken. Gusti Yesus minangka Sabdanipun Allah ingkang manjalma manungsa punika margi ingkang énggal sarta ingkang jangkep piyambak tumrap Gusti Allah kangge nglairaken Sariranipun dhumateng manungsa.
Sabda punika mlebet nembus raos, nalar, basa, lan budayanipun manungsa. Sabda punika nyata sanget: kadeleng, karaosaken; amargi saking Pangandikanipun, punapa ingkang dipun ngandikakaken punika gesang wonten ing Sariranipun. Nalika Sang Sabda punika ngandika bab katresnan. Punika sanes teori, ananging sawetahing Sugengipun mameraken katresnan. Nalika Panjenenganipun ngandika bab pangapunten, punika ugi sanes satunggaling dogma (piwulang) ananging punapa ingkang dipun ketingalaken lumantar Sugengipun; ngantos tiyang enggal mangertos punapa punika pangapunten. Karawuhanipun Gusti Yesus minangka wujud jangkepipun prasetyanipun Gusti Allah bab kawilujengan. Wonten ing prasetyanipun Gusti Allah ing Yesaya 52:10 kaserat mekaten “Pangeran Yehuwah wus ngatingalake astane kang suci ana ing ngarepe mripate sakehing bangsa; poncot-poncoting bumi kabeh banjur sumurup karahayon kang pinangkane saka ing Allah kita.” Lumantar Gusti Yesus sadaya titah ningali kawilujengan saking Gusti Allah. Kawilujengan ingkang katindakaken lumantar Gusti Yesus boten namung kangge manungsa ananging kangge sadaya titah. Salah satunggaling Teolog Teolog Feminis Katolik, Elizabeth Johnson, negesaken bilih manungsa Yesus, inggih punika mahkluk ingkang gesang ingkang dados sumbering gesang sadaya titah lan sadaya pigesangan ing jagad punika asalipun saking setunggal sel ingkang gesang lan tansah ngrembaka. Gusti Yesus tansah sesambetan kaliyan sadaya unsur ing jagad punika. Milanipun inkarnasi Allah punika boten namung dipun mangertosi Allah ingkang dados manungsa nanging Allah ingkang dados perangan saking sadaya kawontenan ingkang lumampah ing jagad punika. Pramila kawilujengan punika boten namung kangge satunggaling golongan, nanging kangge sadaya tiyang ingkang purun nampi Penjenenganipun.
Panutup
Para sedherek ingkang kinasih, kasunyataning gesang ingkang kelampahan, ndamel kita nangisi gesang ingkang sayektosipun nyedhihaken sanget. Kecalan pangajeng-ajeng, kasekengan, kasedhihan, kasungkawan lan sanes-sanesipun dados tetembungan ingkang asring kita prangguli. Kasunyataning gesang punika ugi saya ngengetaken kita dhateng anggen kita raket ing karingkihan kita minangka titah. Rawuhipun Gusti Yesus minangka Sabda ingkang dados daging punika wujud nyata rawuhipun Gusti ning prastawa Natal. Gusti Yesus punika Allah ingkang Mahamulya, karsa rawuh ing jagad ingkang ringkih. Panjenenganipun geguletan, nandhang sangsara, ngraosaken pait-getiring gesang margi saking dosa, sarta mbudidaya ngentasaken manungsa saking lendhuting dosa punika, supados manungsa wanuh gesang ingkang sayektosipun. Ing wekdal ingkang sami, Panjenenganipun ngersakaken, tiyang-tiyang ingkang sampun necep sih-rahmat-Ipun, saged nindakaken punapa ingkang sampun katindakaken Gusti Yesus. Natal dados prastawa ngrengkuh sadaya tumitah. Rawuhipun Gusti ing salebeting titah. Natal pantes kita pahargya minangka wujud saking katresnanipun Gusti Allah ingkang karsa mlebet dhateng karingkihaning manungsa, supados manungsa mangertos basa katresnanipun Gusti Allah. Sang Sabda sampun mawujud ing sariranipun Gusti Yesus. Kawilujengan kapratelakaken lumantar Panjenenganipun. Lumantar Gusti Yesus manungsa ningali margining kawilujengan. Kados dene carios wonten ing pambuka, lumantar Gusti Yesus manungsa saged mangertos langkung trawaca bab pakaryan lan kawilujenganipun Gusti Allah tumraping jagad.
Hanna Arendt nate nyariosaken bilih saben manungsa anggadhahi kasagedan kreatif kangge nglairaken kasaenan kangge lingkungan ing satengah-tengahing gesang. Kasagedan kreatif punika dados cerminan saking Gusti Allah ingkang tansah nindakaken tumindak kreatif kangge milujengaken jagad. Saking bab punika tansah mbikak kemungkinan-kemungkinan enggal kangge kawontenan jagad ingkang sansaya sae. Gusti Allah ingkang datan winates lan datan saged karengkuh dening tumitah, karsa dados winates lan saged karengkuh dening tumitah, satemah saged ngrengkuh sadaya tumitah wonten ing salebeting katresnanipun Gusti ingkang langgeng. Amin. [ANS].
Pamuji: KPJ. 248: 1 – 2 Tan Ana Cahya Mulya
[1] Cerita tersebut diambil dari inspirasi kisah natal