Ndherek Gusti (Bagusing Ati), Setiap Hari Khotbah Malam Natal 24 Desember 2023

11 December 2023

Ibadah Malam Natal
Stola Putih

Bacaan 1: Yesaya 9 : 1 – 6
Bacaan 2: Titus 2 : 11 – 14
Bacaan 3: Lukas 2 : 1 – 14

Tema Liturgis: GKJW Merayakan Keseharian Bersama Yesus Saat Ini Di Sini
Tema Khotbah: Ndherek Gusti (Bagusing Ati), Setiap Hari”

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 9 : 1 – 6
Yesaya berbicara tentang datangnya seorang pelepas yang pada suatu hari akan menuntun umat Allah kepada sukacita, damai sejahtera, kebenaran, dan keadilan. Pribadi itu adalah Mesias, Yesus Kristus, Anak Allah. Nubuat ini menyatakan beberapa hal penting tentang Mesias yang akan datang:

  1. Sebagian besar pelayanan-Nya adalah di Galilea, tanah Zebulon dan tanah Naftali (Yes. 8:23). Tanah Zebulon diam di tepi pantai laut (Kej. 49:13) berdampingan dengan Isakhar mendiami batas Selatan pegunungan Gallilea di sekitar daerah yang di kemudian hari disebut Nazaret. Sedangkan tanah Naftali tinggal di batas Timur pegunungan Galilea, sebelah Barat danau Tiberias dan lembah hulu Yordan. Tapi kemudian tanah Naftali mencakup daerah yang lebih luas ke arah Barat dan Selatan, yang disebut Gelil Haggoyim (Wilayah bangsa-bangsa lain).
  2. Ia akan membawa terang keselamatan dan pengharapan (Yes. 9:1).
  3. Ia akan membawa damai sejahtera dengan membebaskan umat-Nya dari kuk penindasan (Yes. 9:3-4).
  4. Mesias akan datang dan Ia akan dinamakan Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yes. 9:5).
  5. Ia akan memerintah umat Allah untuk selama-lamanya (Yes. 9:6).

Titus 2 : 11 – 14
Terdapat 2 bagian penting dalam Titus 2, yaitu: Pertama, ayat 1-10 adalah terkait kebajikan kehidupan orang percaya. Kedua, ayat 11-15 adalah dampak dari anugerah keselamatan. Bagian pertama adalah tentang kehidupan, bagian kedua adalah tentang dasar teologis, mengenai relasi antara kehidupan orang Kristen dengan keselamatan dari Allah. Saat kita membaca dengan teliti, kita dapat menemukan ayat 11 memakai sebuah kata sambung ‘karena’, ini menjelaskan prinsip yang hendak dikejar orang percaya, menegakkan, dan melatih kebajikan kehidupan adalah karena kasih karunia penebusan dari Tuhan. Paulus dalam ayat 11-14 menjelaskan dasar teologis bagi kehidupan orang Kristen: Karya keselamatan Yesus dan penebusan-Nya membawakan pengharapan dan mendorong umat percaya untuk menegakkan kebajikan, maka setiap orang percaya harus melakukan kebajikan dalam hidupnya.

Lukas 2 : 1 – 14
Terdapat struktur laporan yang khas dalam Injil Lukas, yaitu kelahiran Kristus dikaitkan dengan empat hal, antara lain:

Pertama, sejarah dunia (Ay. 1-4). Lukas menghubungkan kelahiran Yesus dengan Kaisar Agustus (memerintah 27 SM.-14 M.). Dia adalah seorang kaisar yang keras. Sehingga, sensus pada waktu itu dilakukan untuk menaikkan pajak. Sensus itu pulalah yang memaksa Maria dan Yusuf pergi ke Yerusalem (minimal, ditempuh dalam lima hari perjalanan). Maka pada malam Natal yang pertama, yang terjadi adalah kekacauan. Ini menunjukkan bahwa keadaan dunia di luar kontrol manusia. Demikian pula pandemi, bencana alam, dan semua yang terjadi pada tahun ini.

Kedua, diletakkan dalam palungan (Ay. 7). Ini menunjukkan bahwa Yesus lahir dalam kondisi yang paling tidak ideal. Allah yang menjelma menjadi manusia memilih terlahir dalam kondisi seperti itu untuk memberi harapan bagi kita. Dalam cobaan hidup yang berat, Maria dan Yusuf tetap taat untuk menjalankan panggilan Tuhan.

Ketiga, isi pengumuman malaikat (Ay. 11-12, 14). Kaisar Agustus merupakan pemimpin yang membawa kekaisaran Roma ke dalam masa keemasan. Pada masa itu, dunia mengenal Pax Romana (perdamaian Roma) dan Pax Agusta (Perdamaian Agustus). Namun bagi Lukas, kehebatan Kaisar tidak ada apa-apanya dengan Yesus karena malaikat memberitakan “damai di bumi” (Ay. 14).

Keempat, kunjungan para gembala (Ay. 15-16, 20). Allah memilih para gembala lokal, yang status sosialnya sangat rendah, sebagai kalangan yang pertama menerima tanda kelahiran Yesus dari malaikat. Ini menunjukkan adanya pengharapan bagi semua manusia.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Setiap orang mempunyai harapan yang ingin digenapi. Dunia menantikan kehadiran Sang Juru Selamat untuk menghapuskan kegelapan karena dosa. Penantian itu pasti berakhir oleh karena pertolongan Tuhan (Yes. 9:1-6).  Penantian itu digenapi oleh karya kasih Allah. Kasih karunia Allah nyata dengan kelahiran sang bayi Yesus melalui orang-orang yang sederhana, dan diwartakan kepada orang-orang yang dianggap remeh. Dari ketiga bacaan, kita mendapatkan satu benang merahnya: Kasih karunia Allah yang dinantikan beratus-ratus tahun menjadi nyata. Harapan itu telah digenapi melalui kehadiran Sang Juru Selamat di kota Betlehem.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang jika bertemu dengan anda, orang itu akan memberikan sapaan, “Selamat Natal”. Salam itu diucapkannya baik di waktu pagi, siang, sore atau malam. Ucapannya khas, “Selamat Natal”. Dengan ucapan tersebut serasa bahwa setiap hari kita diajak natalan. Secara ritual atau ibadah (kebaktian), tidak mungkin setiap hari kita menghadiri perayaan Natal karena Hari Raya Natal ditetapkan dalam kalender tanggal 25 Desember setiap tahunnya, dan gereja-gereja diberi kesempatan untuk merayakan Hari Natal di sekitar Bulan Desember dan Januari.

Ya! Mungkin sekedar salam, namun kalau kita hayati, menghayati Kristus yang lahir dalam hidup kita, mestinya memang setiap hari. Setiap hari Ia hadir, Ia lahir, dalam hidup kita dalam hati kita, dan kita merayakan keseharian kita bersama Yesus yang lahir dan hadir di tengah dunia, yang lahir dan hadir dalam hati dan hidup kita sehari-hari.

Isi
Bacaan kita hari ini berbicara kepada kita bagaimana Allah campur tangan dan turun tangan dalam pemulihan dan kelepasan hidup manusia dalam berbagai macam pergumulan dan deritanya. Cara Allah membawa kelepasan dan pemulihan dalam hidup manusia itu ditunjukkan dengan menghadirkan terang dalam hidup.

Pada bacaan yang pertama, melalui nabi Yesaya, Allah berbicara tentang datangnya seorang pelepas yang pada suatu hari akan menuntun umat Allah kepada sukacita, damai sejahtera, kebenaran, dan keadilan. Pribadi itu adalah Mesias, Yesus Kristus, Anak Allah. Nubuat ini menyatakan beberapa hal penting tentang Mesias yang akan datang, misalnya:

  1. Ia akan membawa terang keselamatan dan pengharapan (Yes. 9:1).
  2. Ia akan membawa damai sejahtera dengan membebaskan umat-Nya dari kuk penindasan (Yes. 9:3-4).
  3. Mesias akan datang dan Ia akan dinamakan Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yes. 9:5).
  4. Ia akan memerintah umat Allah untuk selama-lamanya (Yes. 9:6).

Dalam bacaan yang kedua, diterangkan bahwa nubuatan akan kelepasan kehidupan itu, semata-mata adalah kasih karunia atau perkenan Allah sendiri. Kasih Karunia itu dinyatakan di dalam dan melaui Yesus Kristus itu telah menjadi nyata, menjadi kongkrit, tidak dalam angan-angan dan imajinasi lagi, tetapi telah mengejawantah. Maka dapat kita hayati Surat kepada Titus ini hendak menjelaskan kepada pembacanya, bagaimana fondasi teologis bagi kehidupan orang Kristen. Kasih karunia secara sederhana dapat dipahami yang memberi tidak berkewajiban, yang menerima tidak berhak. Kasih Karunia bekerja atas perkenan Allah itu:

  1. Mendidik kita untuk meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, artinya meninggalkan perilaku yang menjauhkan diri dari pengajaran Tuhan. Kasih karunia Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus mengajak diri kita untuk hidup bijaksana, adil, dan beribadah dalam keseharian di masa sekarang, kini dan di dunia sekarang ini dengan segala tantangannya. Tidak banyak orang mau dididik, karena mengandalkan pengertiannya sendiri (bdk. Amsal 3:5).
  2. Mengajak kita untuk berpengharapan di dalam cinta kasih Tuhan yang sudah menyerahkan diri-Nya bagi kita, yang membebaskan kita dari segala kejahatan, yang menguduskan kita, sehingga mengajak kita dengan penuh syukur hidup di dalam dan melalui kebaikan kasih karunia Allah itu sendiri. Hal ini bukan berarti kasih Allah itu membutuhkan timbal balik kita, tetapi semangat Natal, Kristus yang telah lahir, yang kita kenal adalah Kristus yang menjadikan hidup kita dalam kerahiman kasih Allah Bapa, yang adalah upaya sorga mencapai dunia yang telah nyata di dalam dan melalui Kristus.

Bacaan ketiga hari ini menyuguhkan kepada kita: Pertama, kasih karunia dan perkenan Allah itu telah nyata bukan hadir pada saat situasi baik-baik saja. Pada malam Natal yang pertama, yang terjadi adalah kekacauan. Injil Lukas menghubungkan kelahiran Yesus dengan Kaisar Agustus (memerintah 27 S.M.-14 M.). Dia adalah seorang kaisar yang keras. Sehingga, sensus pada waktu itu dilakukan untuk menaikkan pajak. Sensus itu pulalah yang memaksa Maria dan Yusuf pergi ke Yerusalem (minimal, ditempuh dalam lima hari perjalanan). Maria yang hamil harus berjalan sedemikian jauh. Sungguh suatu kondisi yang tidak ideal. Bagaimana keadaan kita mengikut Yesus, seringkali kita dapati keadaan hidup yang tidak ideal. Namun  dalam segala pergumulan dan kekacauan itu, Kristus mau lahir dan hadir bagi dunia ini, Kristus yang sama tentunya juga mau lahir dan hadir dalam hidup kita.

Kedua, bayi Yesus Kristus diletakkan dalam palungan (Ay. 7). Ini menunjukkan bahwa Yesus lahir dalam kondisi yang paling tidak ideal. Allah yang menjelma menjadi manusia memilih terlahir dalam kondisi seperti itu untuk memberi harapan bagi kita. Dalam cobaan hidup yang berat, Maria dan Yusuf tetap taat untuk menjalankan panggilan Tuhan.

Ketiga, isi pengumuman malaikat (Ay. 11-12, 14). Kaisar Agustus merupakan pemimpin yang membawa kekaisaran Roma ke dalam masa keemasan. Pada masa itu, dunia mengenal Pax Romana (perdamaian Roma) dan Pax Agusta (Perdamaian Agustus). Namun warta Injil Lukas, kehebatan Kaisar tidak ada apa-apanya dengan Yesus karena malaikat memberitakan “damai di bumi” (Ay. 14).

Keempat, kunjungan para gembala (Ay. 15-16, 20). Allah memilih para gembala lokal, yang status sosialnya sangat rendah, sebagai kalangan yang pertama menerima berita kelahiran Yesus dari malaikat. Ini menunjukkan adanya pengharapan bagi semua manusia.

Penutup
Lalu apa kaitannya berita Natal dengan hidup kita, kini dan di sini? Baiklah kita merenungkannya. Salah satu pengajaran kearifan luhur mengatakan, “Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mula iku diarani Gusti iku bagusing ati.” (Tuhan berada di dalam hati manusia yang baik, oleh sebab itu disebut Gusti (bagusing ati). Pertanyaannya: Apakah Gusti Yesus bertahta dalam hidup kita sehari-hari? Apakah Gusti Yesus menjadi semangat hidup kita untuk menjalani kehidupan sehari-hari? Apakah hati kita siap diubahkan oleh kelahiran serta kehadiran Tuhan? Saat kita kemrungsung (kacau balau), maukah kita diubahkan untuk menjadi taat dan rendah hati menghayati kehendak-Nya? Selamat Natal. Sumangga ndherek Gusti (bagusing ati) saben ari. Amin. [pong].

 

Pujian: KJ. 123 S’lamat-s’lamat Datang

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Punapa panjenengan nate kepanggih kaliyan sedherek ingkang menawi pepanggihan lajeng mesthi matur, “Sugeng Natal”. Salam punika dipun lairaken ing sadhengah wayah (enjing, siang, sonten lan dalu). Srana salam punika, raosipun kita kaajak natalan saben dinten. Sacara pengetan ateges ibadah utawi kebaktian, bok bilih boten mungkin kelampahan saben dinten ibadah utawi kebaktian Natal, krana wancinipun riyadin Natal punika, padatanipun ing sasi Desember. Ananging menawi kita penggalih, ngraosaken Gusti Yesus Kristus miyos ing gesang kita, mesthinipun inggih saben dinten. Saben dinten Gusti miyos, ing sajroning manah kita, ing sajroning gesang kita saben ari.

Isi
Waosan kita dinten punika paring piwucal dhateng kita kados pundi Gusti Allah campur asta lan lelabuh ing salebeting gesangipun manungsa, ngasta pemulihan saha kamardikan ing sajroning prekawisipun manungsa. Caranipun Gusti Allah lelabuh lan ngasta kamardikan dhateng gesangipun jagad punika dipun ejawantahaken kanthi mletheaken pepadhang ing sajroning gesang.

Ing waosan sepisan, lumantar Nabi Yesaya, Gusti Allah dhawuh bab rawuhipun Sang Pelepas ingkang ing tembenipun bakal nuntun umatipun Gusti Allah ing sajroning kasukan, tentrem rahayu, kayekten, lan kaadilan. Pribadi punika inggih Sang Mesih, Gusti Yesus Kristus, Putranipun Allah. Pameca punika negesaken bab ingkang wigati bab Sang Mesih ingkah badhe rawuh, kados ta:

  1. Panjenenganipun ingkang badhe ngasta pepadhang lan pangajeng-ajeng (Yes. 9:1).
  2. Panjenenganipun ingkang badhe ngasta tentrem rahayu sarta mbebasaken umati-Pun saking momotan panindhes (Yes. 9:3-4).
  3. Sang Mesih badhe rawuh lan kasebut Penasehat Elok, Gusti Allah Kang Prakosa, Rama Kang Langgeng, Ratuning Katentreman (Yes. 9:5).
  4. Panjenenganipun ingkang badhe mrintah ing salawas-lawase (Yes. 9:6).

Ing waosan kaping kalih, dipun terangaken bilih pameca bab luwaripun gesang punika inggih estu krana sih rahmatipun Gusti Allah piyambak. Sih rahmat lumantar lan ing dalem Gusti Yesus Kristus punika sampun mawujud, sampun nyata.

Mila saged kita mangertosi bilih surat kagem Titus punika badhe nuduhaken kagem pamaos, kados pundi landesan teologis kagem para tiyang Kristen. Sih rahmat punika sacara prasaja saged dipun mangertosi bilih ingkang maringi boten wajib, ingkang nampi boten berhak. Sih rahmat punika tumindak krana Gusti Allah karenan:

  1. Paring panggulawenthah supados kita nilar pamblasar lan kamelikan kadonyan, ateges nilar tumindak ingkang ndadosaken kita nebih saking pamerdinipun Gusti Allah. Sih rahmat lumantar lan ing dalem Sang Kristus ngatag kita supados gesang kanthi wicaksana, adil, lan ngibadah ing mangsa samangke ing gesang saben ari. Boten kathah tiyang ingkang purun kaperdi krana ngandelaken lan sumendhe marang pangertosanipun piyambak. (Bdk. Wulang Bebasan 3:5).
  2. Ngajak kita nggadhahi pangarep-arep ing sajroning sih tresnanipun Gusti ingkang sampun masrahaken sariranipun kangge kita, ingkang ngluwaraken kita saking sakehing kanajisan, ingkang nyucekaken kita, lan ngatag kita gesang kanthi kebak raos sokur srana sih rahmatipun Gusti Allah piyambak. Bab punika boten ateges sih tresnanipun Gusti Allah punika lajeng mbetahaken timbal balik kita, ananging semangat Natal Kristus ingkang sampun miyos, ingkang kita tepangi, inggih Sang Kristus ingkang ndadosaken gesang kita lumebet ing prasetya lan tresnanipun Gusti, ingkang minangka wujuding pakaryanipun swarga nuweni jagad ingkang nyata lumantar lan ing dalem Sang Kristus Yesus.

Waosan kaping tiga dinten punika paring piwucal dhateng kita, bilih sih rahmat saha karenanipun Gusti Allah punika sampun nyata, botening salebeting swasana ingkang sae kemawon. Ananging menawi kita gatosaken, malam Natal Gusti Yesus ingkang pisanan, ingkang kelampahan punika, kawontenan ingkang taksih kebak ruwet renteng. Injil Lukas nggandhengaken prastawa wiyosanipun Gusti Yesus kaliyan Kaisar Agustus (mrentah 27 sM – 14 M). Piyambakipun kacatet dados Kaisar ingkang keras. Saengga, sensus punika ugi nggadhahi tujuan kangge ngindakaken pajek. Sensus punika ingkang lajeng ndadosaken Maria lan Yusuf tumuju dhateng Yerusalem (paling boten katempuh, saged 5 dinten lelampahan). Maria ingkang bobot kedah nglampahi jarak ingkang tebih. Saestu, punika sanes kondisi ingkang ideal. Nanging ing sajroning prekawis ingkang boten ideal punika, Gusti Yesus miyos lan prapta ing donya punika. Sang Kristus tamtunipun ugi karsa lair ing manah lan gesang kita.

Kaping kalih, Bayi suci Sang Kristus kapapanaken ing palungan (Ay. 7). Punika nuduhaken bilih Gusti Yesus kersa lair ing salebeting kondisi ingkang boten ideal ugi. Gusti Allah ingkang manjalma dados manungsa milih miyos ing sajroning kahanan kados punika kangge maringaken pangarep-arep dhateng kita. Ing sajroning pacoben ingkang awrat, Maria lan Yusup tetap setya tuhu nglampahi karsanipun Gusti.

Kaping tiga, isi pawarta saking malaikat (Ay. 11,12,14). Kaisar Agustus punika minangka pemimpin ingkang ngasta Roma ing jaman emas. Nalika semanten, donya sanget kasuwur istilah Pax Romana (Perdamaian Roma) lan Pax Agusta (Perdamaian Agustus). Nanging warta Injil Lukas, misuwuring kaisar boten sebanding kaliyan Sang Kristus Yesus, krana malaikat martosaken “tentrem rahayu ing bumi” (Ay. 14).

Kaping sekawan, tetuwinipun para pangen (Ay. 15-16, 20). Gusti Allah miji para pangen lokal, ingkang status sosialipun sanget andhap, minangka kalangan ingkang wiwitan nampeni pawartos wiyosipun Gusti Yesus. Punika nuduhaken ing salebeting gesangipun manungsa wonten pangajeng-ajeng kangge sadaya manungsa.

Panutup
Lajeng punapa gandhengipun kaliyan pawartos Natal kaliyan gesang kita samangke. Sumangga kita gegilut. Salah satunggiling piwulang luhur nuduhaken: “Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mula iku diarani Gusti iku bagusing ati.” Pitakenanipun: Punapa Gusti Yesus ndedalem ing sajroning gesang kita sadinten-dinten? Punapa Gusti Yesus, dados semangat lan kekiyatan kangge kita nglampahi gesang saben ari? Punapa manah kita siap dipun ewahi srana rawuhipun Gusti? Nalika manah kita kemrungsung, punapa kita purun dipun ewahi supados langkung setya tuhu, andhap asor ndherek karsanipun Gusti? Sugeng Natal. Sumangga ndherek Gusti (bagusing ati) saben ari. Amin. [pong].

 

Pamuji: KPJ. 229 Kabingahan Kang Sejati

Renungan Harian

Renungan Harian Anak