Terlibat dalam Karya Keselamatan Tuhan Khotbah Minggu Palmarum 28 Maret 2021

16 March 2021

Minggu Palmarum – Pekan Suci
Stola Merah

Bacaan 1: Yesaya 50 : 4 – 9
Bacaan 2:
Filipi 2 : 5 – 11
Bacaan 3:
Markus 14 : 1 – 9

Tema Liturgis: Kepatuhan dan Kerendahan Hati Menghasilkan Ketenangan dan Persatuan
Tema Khotbah: Terlibat dalam Karya Keselamatan Tuhan

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 50 : 4 – 9
Perikop ini sejatinya bagian utuh dari narasi Yesaya tentang pemulihan bangsa Israel. Sampai dengan pasal 50 pemulihan yang dimaksud adalah pemulihan relasi antara umat pilihan (Israel) dengan Tuhan Allah. Karena itulah ketika kita membaca Yesaya 50:1-3 di sana kita melihat gambaran relasi yang tercerai. Ketercerai-beraian relasi itu disebabkan oleh umat Israel sendiri yang meninggalkan Tuhan. Akibatnya, muncullah narasi yang menceritakan kekuatan dan kuasa Tuhan yang tidak terbatas yang mampu menjangkau semua umat pilihan. Ketercerai-beraiaan itu bukan karena terbatasan kekuatan dan kuasa Tuhan apalagi karena Tuhan yang berubah tetapi karena umat pilihan yang sengaja melepaskah relasi dengan Tuhan. Gambaran tentang relasi antara umat Israel dengan Tuhan tersebut segera beralih ketika kita membaca ayat 4 dimana umat Israel digambarkan sebagai hamba yang memiliki kedudukan sebagai murid dan Tuhan sebagai guru yang memberikan ajaran.

Gambaran seorang murid itu bukan semata hanya dalam kaitan antara pengajar dan siswa tetapi lebih dari itu gambaran relasi yang ditampilkan oleh Yesaya 50 adalah relasi mendalam dan keterlibatan seorang murid dalam karya pemulihan Allah. Hal ini kita dapat lihat dari pernyataan: supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu (Yes 50:4). Pelibatan murid dalam karya pemulihan tersebut dapat terwujud karena memang antara murid dengan guru terus terjalin relasi yang intim sebab setiap hari guru selalu memberikan pengajaran dan murid bersedia mendengarkan secara seksama. Tentu saja pengajaran itu akan semakin menguatkan relasi murid karena disertai oleh sikap taat dan tunduk kepada sang guru.

Ketaatan kepada sang guru tidak mudah dan memerlukan kerelaan hati untuk selalu bersedia rendah hati. Kerendahan hati itu nampak dari sikap yang dihidupi oleh murid dengan kesediaan menanggung dan menghadapi setiap tantangan yang ingin mengalihkan fokusnya dari sang guru. Kerelaan menanggung aniaya bahkan sebuah resiko yang ditanggung oleh murid demi kesetiaannya kepada gurunya. Dan murid yang digambarkan oleh Yesaya ini ditampilkan sebagai murid yang setia dalam menanggung deritanya. Sampai akhirnya, kita melihat kemampuan dan pembelaan yang dialami oleh murid dari gurunya. Gambaran murid dan guru ini menjadi gambaran relasi antara Tuhan Allah dan Israel. Artinya relasi antara Tuhan Allah dengan Israel akan terbangun kembali ketika Israel bersedia taat dan setia kepada kehendak dan karya Tuhan Allah. Bangsa Israel akan menjadi bangsa yang terlibat dalam karya Tuhan Allah ketika mampu taat dan bersedia sepenuhnya melakukan kehendak Allah. Dalam relasi yang utuh dengan Allah maka kejayaan dan kemenangan selalu ada dipihaknya (Yes. 50:9).

Filipi 2 : 5 – 11
Surat ini ditulis oleh Paulus dan Timotius (Filipi 1:1) kepada persekutuan orang percaya yaitu jemaat Filipi. Sebagai persekutuan, rupanya Filipi merupakan persekutuan yang sudah mapan dan tertata. Hal ini dapat dilihat dengan adanya penilik jemaat dan diaken yang melayani jemaat tersebut. Mengingat keberadaan jemaat yang sudah mapan dan dilayani oleh banyak orang itulah Paulus memberikan nasihat dan pengajaran kepada jemaat Filipi. Inti ajarannya adalah menjaga kesatuan dalam kehidupan bersama di jemaat. Bagaimana menjaga kesatuan jemaat?

Pertama-tama Paulus meneladan kehidupan Kristus yang bersedia merendahkan diri dan melayani. Itulah sebabnya pada Filipi 2:2-4 Paulus memberikan nasehat supaya tiap-tiap orang yaitu anggota jemaat senantiasa sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tidak mencari kepentingan diri sendiri, tidak mencari pujian. Lebih lanjut dari semua itu kesatuan jemaat hendaklah didasarkan kepada sikap saling memberi penghargaan karena orang lain dianggap penting kehadirannya dalam persekutuan. Budaya menghargai orang lain itulah yang kemudian juga dapat diwujudkan dengan cara memperhatikan kepentingan orang lain (ay 4).

Sikap dalam kehidupan bersama sebagaimana dimaksudkan oleh Paulus dalam ayat 2-4 tersebut haruslah berlandasan pemahaman teologis mendasar yaitu kepada diri Kristus. Itulah sebabnya dalam ayat 5, Paulus mengingatkan kembali bahwa menaruh pikiran dan perasaan kepada Kristus adalah kunci utama. Bagaimana kehidupan Kristus itu? Paulus menjelaskan kembali tentang hakekat diri Kristus yang adalah Allah sendiri tetapi bersedia meninggalkan kemuliaan ke-Allah-annya dan mengambil rupa sebagai hamba Allah yaitu manusia. Bahkan sikap merendahkan diri itu jauh lebih rendah dari manusia umumnya yaitu sampai bersedia mengalami kematian yang hina. Semua itu dilakukan oleh Kristus karena ketaatan-Nya kepada Bapa. Ketaatan-Nya tersebut menjadikan Kristus berkenan kepada-Nya dan menjadi milik Bapa yang selalu dimuliakan-Nya. Bagaimana Kristus dapat hidup dalam ketaatan-Nya itu? Tidak lain karena Kristus sebagai Allah berkenan mengosongkan diri sehingga hidup yang dijalani bukan sebagai beban yang memberatkan-Nya tetapi sebagai sebuah kesukacitaan dalam segala hal.

Markus 14 : 1 – 9
Kisah perempuan yang mengurapi Yesus adalah kisah yang sangat popular di kalangan umat Kristen. Sayangnya, popularitas itu selalu anonim karena memang yang diingat kisahnya bukan personalnya. Memang dalam Injil tidak disebutkan nama perempuan itu karena itulah memang nama perempuan itu tidak pernah dapat diketahui oleh pembaca Injil hari ini. Padahal melihat peristiwa itu tentu bukanlah kejadian yang biasa-biasa saja karena kisah perempuan yang mengurapi Tuhan Yesus ini di luar batas kebiasaan hidup orang pada zaman itu. Bagaimana sebuah perisitiwa penting yang luar biasa tidak disebutkan namanya? Ada banyak dugaan menjawab hal ini, salah satunya karena memang Injil ditulis dalam budaya patriakhi dimana perempuan tidak dianggap penting walaupun melakukan sebuah perisitiwa penting dalam kisah kehidupan Tuhan Yesus. Kedua, muncul juga penafsiran bahwa memang penulis Injil hanya ingin menonjolkan peristiwanya bukan personalnya. Apapun jawabannya, tentu saja yang sampai kepada kita saat ini memang peristiwa yang luar biasa. Ditambah lagi bahwa itu dilakukan oleh seorang perempuan yang pada zaman itu tidak dianggap penting. Jadi dari orang yang tidak dianggap penting tetapi justru melakukan suatu tindakan yang sangat penting.

Lebih dalam lagi ketika kita melihat narasi yang dibangun oleh Markus 14 ini maka kita juga akan melihat bahwa perempuan yang dianggap tidak penting itu ketika melakukan peristiwa penting ini penuh dengan tantangan yang besar dari orang-orang yang ada disekitar Tuhan Yesus waktu itu. Patut diduga bahwa orang-orang yang menentang sikap perempuan itu adalah para lelaki (Matius 26:8). Sampai di sini kita dapat melihat bahwa ketersudutan posisi perempuan dalam aksinya merupakan tantangan yang dialaminya. Apa gerangan yang menjadikan perempuan itu melakukan tindakan luar biasa tersebut? Teks kita memang tidak menjelaskan. Bahkan Markus dalam narasinya seolah ingin menampilkan kesan bahwa antara Tuhan Yesus dengan perempuan itu tidak terjalin relasi apapun dan terkesan tiba-tiba saja aksi itu dilakukan oleh perempuan tersebut.

Perempuan itu mendapatkan tuduhan dari orang-orang yang gusar melihat aksinya karena dianggap: pertama, aksi perempuan itu sebuah pemborosan (ay. 4). Kedua, tidak berempati kepada orang miskin yang memang perlu dibantu (ay. 5). Namun tindakan perempuan itu mendapatkan pembelaan dari Tuhan Yesus karena tindakan itu dianggap baik dan tepat waktunya. Lebih tajam lagi Tuhan Yesus mengingatkan bahwa jangan terlalu banyak alasan apalagi menjadikan orang miskin sebagai tameng untuk melakukan sesuatu yang baik bagi Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegaskan kembali bahwa kalau memang alasan demi orang miskin maka bukankah kapanpun bisa membantu orang miskin? Mengapa perbuatan perempuan itu dianggap tepat? Ayat 8 memberikan penjelasan bahwa memang tubuh Tuhan Yesus akan dikuburkan dan perlu diminyaki. Sampai di sini maka kita dapat menyimpulkan bahwa memuliakan Tuhan itu dibutuhkan tindakan luar biasa yang melampaui hitung-hitungan untung atau rugi. Semua kembali kepada niat karena itulah jangan menunggu apalagi menunda jika ingin melakukan sesuatu yang memuliakan Tuhan.

Benang Merah Tiga Bacaan
Keterbatasan menjadi batu ujian dalam memuliakan Tuhan. Karena itulah diperlukan kesediaan untuk mengosongkan diri sehingga mampu memberikan yang terbaik dari milik kepunyaan kita untuk memuliakan Tuhan dalam kehidupan kita.

 

Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan. Minggu hari ini kita bersama memasuki Minggu Pra Paskah VI. Minggu Pra Paskah VI ini disebut juga sebagai Minggu Palmarum yaitu Minggu mengenang Tuhan Yesus yang memasuki kota Yerusalem. Berbicara tentang Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem tentu menjadi sangat menarik sebab Ia disambut oleh masyarakat yang sedang memenuhi kota Yerusalem untuk merayakan Paskah. Yesus dielu-elukan dan diperlakukan istimewa layaknya seorang raja yang pulang dengan kemenangan dari peperangan. Tentu kita bersama mengetahui bahwa perayaan Paskah bagi orang Yahudi memiliki posisi penting sehingga setiap orang Yahudi dimanapun memiliki kewajiban untuk datang ke Yerusalem. Bisa dibayangkan pada hari-hari itu kota Yerusalem menjadi kota yang penuh sesak dengan kedatangan para pendatang.

Saat Yesus memasuki kota Yerusalem itulah ada sebuah seruan yang selalu dikenang dalam tradisi liturgi Gereja sepanjang zaman yaitu kata “Hosana.” Dalam konteks ibadah Yahudi kata ini lazimnya dipakai dalam liturgi ibadah di Bait Allah. Waktunyapun tidak sembarangan atau tidak setiap kali ibadah tetapi khusus dalam Ibadah Hosyana. Lebih khusus lagi ungkapan Hosana hanya diungkapkan pada doa pagi hari ketujuh perayaan Pondok Daun yang biasa disebut Hosyana Rabbah. Dari segi arti, hosana berarti pujian dan seruan permohonan umat meminta pertolongan Tuhan. Ketika kata pujian hosana ditujukan menyambut Tuhan Yesus yang memaskui kota Yerusalem maka sesungguhnya ada makna teologis mendalam yang ingin ditampilkan oleh penulis Injil yaitu: Yesus adalah Mesias yang dinantikan yang kedatangan-Nya membebaskan dan memberi pertolongan kepada umat yang lemah. Dari sinilah, makna Minggu Palmarum itu bersuara kepada Gereja dan sampai kepada kita hari ini bahwa pada Minggu hari ini kita diajak kembali mengungkapkan seru permohonan kepada Jurus Selamat yaitu Tuhan Yesus Sang Mesias karena kita ini lemah dan tidak berdaya. Dalam kacamata liturgis, Pra Paskah VI ini mengajak seluruh umat untuk mengarahkan hidupnya kepada karya keselamatan Sang Mesias sehingga setiap orang dapat menikmati dan mengalami keselamatan dalam kehidupannya.

Isi
Mengapa mengarahkan hati kepada karya keselamatan Tuhan Yesus Sang Mesias itu menjadi penting? Karena berpangkal dari penghayatan akan kasih karunia keselamatan itulah kita mewarnai kehidupan sehari-hari. Artinya, apakah dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita sungguh-sungguh menjadi cerminan orang-orang yang diselamatkan? Ataukah kita justru tidak ada bedanya dengan orang yang tidak percaya bahwa Tuhan Yesus itu Mesias? Apakah dalam menjalani kehidupan sehari-hari ini kita selalu mengandalkan pertolongan Tuhan ataukah kita justru mengandalkan kekuatan diri sendiri? Marilah kita mencoba menengok ke belakang, apakah selama menjadi murid Tuhan Yesus, kita hidup dijiwai oleh karya keselamatan ataukah justru kita sendiri tidak yakin mendapatkan karunia keselamatan sehingga hidup kita sering sekali menjadi hambar tanpa rasa dan hanya begitu-begitu saja?

Melihat bacaan Injil kita hari ini kita semakin belajar dan mengerti makna hidup yang diwarnai oleh keselamatan yaitu bersikap dan bertindak melebihi dari yang biasa. Bagaimana tidak melebihi dari yang biasa ketika ada seorang perempuan (yang tidak disebut namanya) tidak memiliki hubungan khusus dengan Tuhan Yesus tetapi bersedia mencurahkan barang berharga yang berupa minyak termahal di zamannya yaitu Narwastu. Secara ekonomis tentu saja ini pemborosan dan menghambur-hamburkan uang. Karena itulah ada orang yang menjadi gusar dan merasa bahwa perbuatan perempuan itu sia-sia (Mrk. 14:4) bahkan bisa juga dianggap sebagai tidak berempati kepada orang miskin yang perlu ditolong (Mrk. 14:5). Orang-orang yang gusar tersebut memarahi perempuan itu karena dianggap bertindak konyol dan tidak berguna. Tetapi kita tahu bahwa perempuan itu mendapatkan pembelaan dari Tuhan Yesus sendiri bahwa perbuatan perempuan itu adalah suatu perbuatan baik yang tidak perlu dipermasalahkan (Mrk. 14:6). Perbuatan perempuan itu tepat dan penting karena bagian dari keterlibatan perempuan itu dalam karya keselamatan Tuhan Yesus dalam kematian-Nya. Dengan menyebutkan apa yang diperbuat oleh perempuan itu adalah perbuatan baik maka tidak ada alasan lagi bagi siapapun untuk mempermasalahkan keberpihakannya kepada orang miskin. Dengan bahasa lugas Tuhan Yesus hendak menyampaikan bahwa janganlah orang miskin dijadikan alasan untuk tidak memuliakan Tuhan. Jika kita ingin terlibat dalam karya keselamatan Allah – sebagai wujud kita sudah menerima keselamatan – janganlah kita terhalang oleh alasan apapun. Oleh sebab itulah, keterlibatan kita dalam karya keselamatan Tuhan membutuhkan loncatan sikap yang melebihi halangan itu sendiri.

Sampai di sini kemudian kita dapat merenungkan kembali tentang makna hidup dalam bayang-bayang kasih karunia keselamatan. Sungguhkah kita dalam hidup yang menerima keselamatan dari Tuhan Yesus memuliakan Tuhan dengan tindakan kita? Ataukan kita sering sekali mencari alasan supaya tidak memuliakan Tuhan dalam hidup kita? Jika hari ini kita menyadari dan memiliki kerinduan memuliakan Tuhan maka yang perlu kita lakukan adalah jangan bertindak biasa-biasa saja tetapi lakukan sesuatu yang luar biasa. Loncatan luar biasa itulah undangan kita yaitu turut dalam karya keselamatan Tuhan Yesus. Bagaimana itu diwujudkan?

Pertama, terlibat dalam karya keselamatan Tuhan berarti mampu bertindak melampaui hambatan. Dalam bacaan Injil, para murid sedang mempertentangkan antara sikap terlibat dalam karya keselamatan Tuhan Yesus dengan pembelaan dan keberpihakan kepada orang misin. Orang miskin adalah biasa dan memang akan selalu ada sepanjang zaman dan dimanapun juga, mereka memang perlu kita bantu tetapi jika kemudian dengan dalih membantu orang miskin sampai kita tidak ikut dalam karya keselamatan Tuhan maka sungguh patut dipertanyakan motivasi kita dalam membela orang miskin. Tidak perlulah kita mempertentangkan kedermawanan dan keberpihakan kita kepada si miskin dengan perbuatan kita dalam memuliakan Tuhan. Justru ketika kita ikut terlibat dalam karya keselamatan Tuhan Yesus maka kita akan memiliki sikap yang benar dalam membantu dan membela si miskin. Artinya, keterlibatan kita dalam karya keselamatan Allah menjadikan kita berpihak dan bersedia membela kaum miskin dengan memberikan pengharapan dan kehidupan bagi si miskin. Sebab memang memberikan pengharapan dan kehidupan itulah inti dari karya keselamatan dalam diri Tuhan Yesus. Keselamatan dalam iman Kristen bukanlah keselamatan eksklusif hanya dinikmati sendiri tetapi justru inklusif karena diberlakukan bagi siapapun.

Kedua, keterlibatan kita dalam karya keselamatan Tuhan Yesus melampaui hukum untung-rugi. Jika kita memberikan persembahan baik materi maupun non materi tetapi masih sering menghitung untung atau ruginya, maka patut dipertanyakan juga motivasi kita dalam memberikan persembahan materi atau non materi itu. Memuliakan Tuhan dengan materi dan non materi kita bukanlah suap kepada Tuhan supaya kita mendapatkan balasan yang lebih besar dibandingkan apa yang pernah kita serahkan dalam karya keselamatan Tuhan. Pengorbanan kita apapun itu bentuknya sebagai wujud keterlibatan kita dalam karya keselamatan Tuhan adalah bagian dari seru permohonan pertolongan kepada Tuhan sebagaimana seruan HOSANA. Siapa orang yang bersedia meminta tolong?

Tentu saja adalah orang yang menyadari kelemahaman, ketidakberdayaan dan keterbatasannya. Jika ada orang meminta tolong tetapi merasa diri lebih kuat, lebih hebat, lebih mampu maka sesungguhnya itu bukanlah meminta tolong tetapi sedang mencobai dan mempebudak orang lain. Seruan kita meminta tolong kepada Tuhan haruslah benar-benar didasari oleh kesadaran akan ketiadaberdayaan kita. Mudahkah mengakui kelemahan kita? Jelas tidak mudah karena gengsi, ego dan idealisme diri sering menjadi penghambatnya. Karena itu belajarlah dari sikap hidup Tuhan Yesus yang bersedia mengosongkan diri dengan cara bersedia mengambil rupa seorang hamba dan meninggalkan kesetaraannya dengan Bapa (Fil 2:6-7) adalah hal utama yang harus kita lakukan. Apakah tidak malu jika kita hidup mengikut Yesus tetapi tidak bersedia meneladani perbuatan-Nya? Apakah kita tidak malu sudah menjadi hamba Tuhan bertahun-tahun tetapi masih belum bersedia mengosongkan diri tetapi justru semakin mengisi diri dengan keinginan dan ambisi?

Tentu saja semua butuh proses tetapi yang lebih penting dari proses itu adalah kesediaan diri untuk selalu belajar. Sebagai bagian belajar adalah kesediaan kita untuk menjadi murid yang melalui perkataannya memberikan semangat baru kepada orang yang letih lesu, yang selalu mendengarkan pengajaran Tuhan dan bersedia mengalah agar hanya kekuatan Tuhan saja yang membela dan menyelamatkannya (Yes. 50:4-6).

Penutup
Akhirnya, mari kembali kita memandang kepada Tuhan Yesus Sang Mesias yang telah memberikan keselamatan kepada kita dengan hidup layaknya orang-orang yang diselamatkan bukan sebagai orang yang masih dirundung petaka. Marilah dengan kesungguhan hati senantiasa dalam hidup ini kita berseru kepada Tuhan Yesus: “Hosana, Tuhan Tolonglah kami agar kita tidak menjadi jumawa saat mendapati berkat dan merasa rendah diri saat menerima pencobaan.” Mari merayakan Minggu Palmarum ini dengan yang kita wujudkan dengan laku hidup orang-orang yang merdeka, rendah hati, memuliakan Tuhan tanpa batas sebagaimana perempuan yang meminyaki Tuhan Yesus dengan terus bersedia mengosongkan diri selayaknya murid yang setia sambil menantikan penggenapan janji Tuhan akan keselamatan kita kelak. Hosana, Tuhan memberkati kita semua. Amin (to2k).

Nyanyian : Ku Tetap Setia (by Grecia)

Seperti wanita mengurapiMu
Menangis dibawah kakiMu
Demikian hidupku mau mengasihiMu
Yesus Engkau baik bagiku

 Reff :

Sampai akhir ku menutup mata
Ku tetap setia menanti janjiMu
Sampai kudapatkan mahkota kehidupanku
Ku tetap setia tuk melayaniMu

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Pasamuwan kinasihipun Gusti.Dinten Minggu punika kita sami lumebet ing pengetan Pra Paskah VI. Minggu Pra Paskah VI punika ugi dipun sebat Minggu Palmarum inggih punika Minggu anggen kita sami mengeti Gusti Yesus ingkang lumampah mlebet ing kitha Yerusalem sak derengipun nandang sangsara lan seda. Bilih kita ngemuti babagkan Gusti Yesus mlebet dhumateng kitha Yerusalem tamtu kita kemutan bilih Gusti Yesus saweg dipun puja-puji dening tiyang kathah ing sak uruting margi Yerusalem. Tamtu kita kemutan bilih kathah tiyang ingkang sami makempal ing Yerusalem awit badhe sami mahargya riyadi Paskah. Riyadi Paskah tumrap ing tiyang Yahudi ngemu teges ingkang penting sanget pramila sedaya tiyang Yahudi anggadahi kawijaban makempal ing kitha Yerusalem saben pengetan Paskah. Pramila kita saged mangertosi bilih nalika Gusti Yesus lumapah tumuju kitha Yerusalem saweg pinanggih kaliyan tiyang ingkang gunggungipun kathah sanget.

Nalika kita ngrembag babagan Gusti Yesus lumebet ing kitha Yerusalem, tamtu kita kemutan satunggal ukara ingkang fenomenal inggih punika: ”HOSANA.” Ukara punika langgeng wonten ing pahargyan Minggu Palmarum ing Gereja ngantos dinten punika. Estunipun HOSANA punika salah satunggalipun peranganipun pangibadah Yahudi ing Bait Allah. Malah kepara, HOSANA punika wanci mirunggan anggenipun ginakaken ing salebetipun pangibadah ing Padaleman Suci. Langkung mirunggan malih karana HOSANA punika anamung dipun ungelaken wonten ing pahargyan pangibadah HOSYANA inggih punika ing pandonga enjang ing dinten kaping pitu pahargyan Pondok Daun ingkang limrah dipun sebat Hosyana Rabbah. Hosana ngemu teges pandonga panyuwun tulung dhumateng Gusti Allah kanthi tumemen. Pramila nalika ukara punika dipun pujekaken kagem mulyakaken Gusti Yesus ingkang lumebet ing kitha Yerusalem estunipun ngemu teges teologis ingkang elok sanget inggih punika pengaken bilih Gusti Yesus punika Sang Mesih ingkang jumeneng dados Juru Wilujeng tumrap alam donya punika. Saking teges ingkang kados makaten estunipun Minggu Palmarum punika sami nagturi kita sami supados mandeng lan kanthi estu nyenyuwun pitulunganipun Gusti Yesus Sang Mesih awit kita punika ringkih lan winates. Pramila tata cara liturgis, Minggu Pra Paskah VI punika dadosaken sedaya umat sami mandeng pakaryanipun Gusti Yesus minangka Sang Mesih supados umat sansaya nglampahi gesang kebak ing kawilujengan.

Isi
Kenging punapa kita kedah tumemen mandeng pakaryanipun Gusti Yesus minangka juru wilujeng? Awit kita punika gesang ing salebetipun kawilujengan ingkang sampun kababar. Perkawis punika dadosaken gesang kita sansaya nuwuhaken tumindhak ingkang nedahaken kita punika umat kagunganipun Gusti ingkang paring kawilujengan. Pemanggih punika ngemu teges lan pitakenan : Punapa anggen kita nglampahi gesang sampun tumindhak miturut pengaken kita minangka tiyang ingkang sampun pikantuk kawilujengan? Punapa malah kita nglampahi gesang ingkang mboten wonten bentenipun kaliyan tiyang ingkang dereng nampi kawilujengan? Pramila sumangga kita niti-pirsa gesang kita ing salebetipun dados panderekipun Gusti Yesus. Punapa kita sampun nglampahi pigesangan minangka tiyang ingkang sampun nampi kawilujengan, punapa kita taksih asring gesang namung nindhakaken lelampahan ingkang nglaha?

Bilih kita ngaca saking waosan Injil dinten punika kita saged sinau babagkan pigesangan ingkang keroban kawilujengan. Inggih punika nglampahi gesang lan tumindhak nglangkungi gesang limrahipun. Awit tetela sanget bilih tiyang estri ing waosan kita kalawau nedahaken lelampahan ingkang mboten limrah. Sanajan mboten nate tepang kaliyan Gusti Yesus ananging piyambakipun sumadya masrahaken perangan kagunganipun ingkang awis sanget inggih punika Narwastu. Tata ekonomis estunipun tumindhak ingkang makaten punika boros sanget lan mboten wonten ginanipun. Pramila wonten perangan sekabatipun Gusti Yesus ingkang saweg mboten sarujuk lan duka (Mrk. 14:4) malah tiyang estri punika dipun tuduh tumindhak ingkang mboten prayogi awit nglirwakaken tiyang sekeng ingkang kedhahipun dipun paringi pitulungan (Mrk. 14:5). Punapa ingkang dipun tindhakaken tiyang estri punika dipun anggep muspra tanpa gina. Ananging Gusti Yesus nggadahi pemanggih ingkang benten kaliyan para sakabat, punapa ingkang dipun tindhakaken tiyang estri punika dipun pandeng sae lan mboten perlu dipun penggak (Mrk. 14:6). Punapa ingkang dipun tindhakaken tiyang estri punika perangan penting ing salebetipun pakaryanipun Gusti Yesus nembus dosa manungsa lantaran sedaNipun. Pramila Gusti Yesus nyuwun para sakabat mboten menggak punapa malih sekel manah dhumateng tiyang estri punika. Mboten wonten alasan menggak lelampahanipun tiyang estri punika, punapa malih alasan kangem dana tiyang sekeng. Kanthi gamblang Gusti Yesus paring pepeling bilih kita badhe ndherek ing salebetipun pakaryan kawilujenganiPun sampun ngantos kapenggak awit pepalang punapa kemawon. Bilih kita sumedya ndherek ing pakaryanipun Gusti Yesus anggen gelaraken kawilujengan estunipun kita kedah tumindhak ingkang nglangkungi pepalang ing reridu gesang kita punika.

Ngantos dumugi ngriki kita saged galih pemanggih kita babagkan gesang ing sak lebetipun kawilujengan saking Gusti Yesus. Punapa anggen kita nampi kawilujengan punika dadosaken lelampahan gesang kita ngluhuraken asmanipun Gusti Yesus? Punapa malah asring kita pados alasan supados gesang kita mboten ngluhuraken Gusti Yesus? Bilih kita ngrumaosi gesang kita punika sampun keroban kawilujengan saking Gusti, sumannga kita sami gesang kanthi ngluhuraken Gusti srana lelampahan ingkang prayogi. Lelampahan prayogi punika nedahaken bilih gesang kita punika mboten namung gesang tata limrah kemawon ananging kendel anggen nidhakaken pakaryan ingkang nglangkungi limrahipun. Tumindhak nglangkungi limrahipun punika timbalan kita ndherek ing salebetipuun pakaryan kawilujenganipun Gusti Yesus. Kados pundi punika saged dipun lampahi?

Sepisan, ndherek ing pakaryanipun Gusti Yesus kedah saged ngramtami sedaya pambengan ingkang reridu. Para sekabat saweg ningali bilih ndherek ing pakaryan kawilujenganipun Gusti Yesus punika benten kaliyan paring pitulungan dhumateng tiyang sekeng. Tiyang sekeng punika limrah awit wonten ing sak urutipun zaman lan ing pundi-pundi panggenan. Kita saged paring pambiyantu dhateng tiyang sekeng ananging kita nglirwakaken timbalan ndherek pakaryan kawilujenganipun Gusti Yesus, tamtunipun kita kedah niti pirsa motivasi kita anggenipun paring pambiyantu punika. Kita mboten kedah misahaken antawis ndherek pakaryan kawilujenganipun Gusti Yesus kaliyan mbiyantu tiyang sekeng. Bilih kita ndherek pakaryan kawilujengan tamtu kita ugi paring pitulungan ingkang estu dhateng tiyang sekeng. Kita tamtu paring pangajeng-ajeng lan gesang ingkang estu kagem tiyang ingkang sekeng punika. Nggih wanci makaten underanipun kawilujengan saking Gusti Yesus inggih punika gesang kebaging pangajeng-ajeng. Kawilujengan ing kapitadosan Kristen mboten eksklusif namung kangge diri pribadi ananging inklusif inggih punika kagem sedaya titah.

Kaping kalih, dherek ing salebetipun pakaryan kawilujenganipun Gusti Yesus punika nglangkungi etangan untung rugi. Bilih kita asung pisungsung sae ingkang awujud materi utawi non-materi ananging taksih asring ngetang-etang untung lan ruginipun tamtu kita kedhah nitipirsa, punapa tujuanipun kita sami atur pisungsung? Kita mulyakaken Gusti Allah lantaran materi lan non-materi punika sanes suap dhateng Gusti supados kita pikantuk piwales ingkang kathah. Sedaya pisungsung lan korban ingkang katur kagem Gusti punika nedahaken bilih kita sami tansah nyenyuwun pitulunganipun Gusti awit kita punika tiyang ingkang ringkih lan betahaken pitulunganipun Gusti kados dene ungelipun HOSANA. Sinten tiyang ingkang estu nyuwun tulung dhumateng Gusti?

Tamtu kemawon tiyang ingkang saweg mawas diri bilih gesangipun punika sekeng, ringkih lan daya kakiyatanipun winates. Bilih nyuwun tulung ananging taksih rumaos langkung kiyat, langkung gagah lan langkung sembada tamtu tiyang punika mboten estu-estu nyuwun tulung ananging saweg nyobi malah mrentah. Punapa mekaten kahanan kita ing ngarsanipun Gusti? Punapa kita punika saged ngakeni karingkihan lan kesekengan kita? Tamtu mboten gampil ngakeni karingkihan gesang kita awit ego, idealisme asring dados pambengan kita bilih badhe seleh ing ngarasanipun Gusti. Pramila sumangga sinau saking lelampahan gesangipun Gusti Yesus kados dene ingkang dipun cariosaken dening Paulus ing Filipi 2:6-7 inggih punika sanadyan Gusti Yesus punika Allah ingkang mulya ananging sumedya nilar kamulyanipun murih nunggil kaliyan manungsa lan nglampahi lelampahan ingkang nista nglangkungi lelampahanipun manungsa. Punapa kita sumadya nuladha lelampahanipun Gusti Yesus punika? Tamtu bilih kita sak estu ndherek Gusti tamtu kita kedah nuladha tindhakipun Gusti. Punapa mboten isin sampun dados abdinipun Gusti ananging taksih asring kumalungun lan gesangipun kaiisi ambisi kangge nguja pikajengipun piyambak.

Tamtu kita ndherek ing pakaryanipun Gusti Yesus punika mbetahaken proses. Proses punika kelampahan bilih kita sumadya sinau. Perangan penting pasinaon inggih punika nglatih diri lantaran lathi kita ingkang sumadya paring semangat lan kakiyatan dhumateng tiyang sanes kanthi underan setya midangetaken piwulangipun Gusti lantaran sabda suci lan sumadya namung ngegungaken kakiyatan lan pungawosipun Gusti Allah kemawon (Yes 50:4-6).

Panutup
Pungkasanipun, sumangga kita mandeng dhumateng Gusti Yesus Sang Mesih. Gusti ingkang sampun paring kawilujengan dhumateng kita. Mangga kita nata gesang supados gesang kita nedahaken bilih kita punika sampun nampi kawilujengan. Sumangga kanthi estu ing sak urutipun gesang tansah ngunel: HOSANA “Dhuh Gusti, mugi Paduka kersa paring pitulungan dhateng kawula supados nalika kawula nampi berkah, kawula mboten kumolungun lan nalika kawula nampi pacoban, kawula mboten semplah ing pengajeng-ajeng.” Sumangga kita tansah sumadya gesang andap asor kados dene para sakabat ingkang setya kanthi tan kendat ing panganjeng-ajeng ngantos purnaning gesang. Hosanna, Gusti berkahi kita sami. Amin (to2k)

Pamuji : Ku Tetap Setia

Renungan Harian

Renungan Harian Anak