Bacaan 1: Keluaran 12 : 1 – 4, 11 – 14
Bacaan 2: 1 Korintus 11 : 23 – 26
Bacaan 3: Yohanes 13 : 1 – 17, 31b – 35
Tema Liturgis : Kepatuhan dan Kerendahan Hati Menghasilkan Ketenangan dan Persatuan
Tema Khotbah: Ngalah Andhap Asor, Luhur Wekasane
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Keluaran 12: 1 – 4, 11 – 14
Bagian ini menjelaskan tentang Paskah orang Yahudi. Memperingati hari-hari raya (salah satunya) adalah Paskah merupakan bagian dari perintah (mitsvot) dari TUHAN kepada orang Yahudi. Tentang Paskah, Kitab Keluaran pasal 12 membahas:
- Peristiwa sejarah Israel yang dilepaskan dari perbudakan di Mesir;
- Mengulang kembali perayaan Paskah itu setiap tahunnya.
- Larangan ragi, yang melambangkan sifat ketergesa-gesaan pada malam hari dari peristiwa keluaran yang tak terlupakan itu.
- Penyerahan anak sulung kepada Tuhan, kemudian korban-korban yang meminta bantuan Allah, rumah-rumah yang berlabur darah.
Hingga tahun 70 M orang Yahudi merayakan Paskah di Yerusalem di setiap rumah di wilayah kota. Dan Anak Domba Paskah disembelih dalam suatu upacara di pelataran Bait Suci. Sesudah Bait Suci hancur dan kebangsaan hilang karena peperangan, Paskah menjadi upacara rumah tangga saja.
Setelah menjadi budak di Mesir selama lebih dari empat ratus tahun, Allah memutuskan untuk membebaskan keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub dari perbudakan. Ia mendesak Musa dan menugaskannya untuk melaksanakan misi-Nya. Dalam ketaatannya kepada Allah, Musa menemui Firaun dengan mandat Allah, “Biarkanlah umat-Ku pergi.” Untuk meyakinkan kesungguhan amanat Tuhan ini kepada Firaun, maka Musa, dengan kuasa Allah, mendatangkan berbagai tulah di Mesir sebagai hukuman.
Ketika terjadi beberapa tulah, Firaun memutuskan untuk membebaskan umat Israel, tetapi ia menarik kembali keputusan itu setelah tulahnya hilang. Tibalah untuk tulah ke-10 dan terakhir, tulah yang ditujukan kepada orang Mesir, untuk melepaskan orang Israel. Allah mengutus malaikat kematian ke tanah Mesir untuk membunuh “semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang”.
Karena orang Israel juga tinggal di sana, bagaimana mereka bisa luput dari malaikat maut ini? Tuhan memberi perintah khusus kepada umat-Nya melalui Musa supaya setiap keluarga Israel mengambil daging anak domba jantan yang tanpa cacat untuk disembelih pada waktu senja, pada tanggal empat belas bulan Abib (Ibrani, אביב – ‘AVIV yang juga disebut dengan נִיסָן- NISAN – pasca pembuangan ).
Sebagian darah anak domba yang tersembelih itu harus dipercikkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas rumah mereka. Ketika malaikat maut melewati daerah itu, ia akan melewati rumah-rumah yang tiang pintunya telah diperciki darah. Demikianlah oleh darah anak domba yang tersembelih orang Israel luput dari hukuman yang menimpa semua anak sulung Mesir. Allah menerima tanda darah itu bukan karena Ia tidak bisa membedakan orang Israel dari orang Mesir, tetapi karena Ia ingin mengajarkan umat-Nya tentang pentingnya ketaatan dan penebusan dengan darah, dan dengan demikian menyiapkan untuk “Anak Domba Allah” yang menebus dosa dunia.
1 Korintus 11: 23 – 26
Setelah mengungkapkan secara jelas kebiasaan yang salah dalam perjamuan kasih mereka, yang digambarkannya “menghinakan Jemaat Allah” (I Korintus 11:22), Paulus mengingatkan mereka akan kata-kata yang diucapkan Yesus pada perjamuan makan-Nya yang terakhir dengan murid-murid-Nya (11:23-25). Dalam ucapan-Nya tersebut, yang secara simbolis digambarkan dengan roti yang dipecah-pecahkan dan anggur yang dituangkan, Yesus menjelaskan arti hidup dan kematian-Nya: yaitu untuk mereka (11:24); sebuah perjanjian yang baru telah dimeteraikan melalui pengorbanan darah-Nya (11:25). Mereka telah menjadi anggota dari masyarakat perjanjian yang baru, seperti yang sudah dikatakan Paulus sebelumnya (“Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh” 1 Korintus 10:17). Pada saat mereka makan dan minum, dan mendengar kata-kata Allah, mereka harus “mengingat”-Nya. Makanan dan minuman itu harus menjadi pernyataan dan pemberitaan pengorbanan Tuhan (11:26).
Beberapa komentator memahami penekanan pada ungkapan “mengingat Tuhan” dan “memberitakan” pelayanan-Nya yang penuh penderitaan bagi kita sebagai panggilan khusus untuk menjadi murid dan meneladani Yesus. Berdasarkan pengajaran Paulus dalam surat-suratnya yang lain (misalnya, “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih, dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita” Efesus 5:1), jelas inilah yang diinginkan Paulus dari orang beriman di Korintus. Sebaliknya, mereka makan roti Tuhan dan minum cawan Tuhan “dengan cara yang tidak layak” (I Korintus 11 :27). Jadi masalahnya bagi Paulus bukanlah “kelayakan” individu. Jika itu masalahnya, tidak seorang pun akan “layak.” Tetapi, mereka mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus dengan cara yang tidak layak, memalukan seluruh jemaat, dengan tindakan yang tidak dikendalikan oleh kasih untuk saudara-saudara seiman yang membutuhkan. Dengan tindakan ini, mereka “berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan” (I Korintus 11 :27).
Yohanes 13: 1 – 17, 31b – 35
Perintah untuk melakukan pembasuhan kaki ini hanya terdapat dalam Injil Yohanes (Yohanes 13) dan tidak terdapat dalam Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) lainnya. Dalam hal ritual cuci tangan dan kaki, orang-orang Israel, seperti semua orang-orang Timur lainnya, mereka memakai sandal, bukan sepatu tertutup. Bahkan kadang mereka biasa berjalan tanpa alas kaki di rumah. Maka kebiasaan mencuci kaki adalah keharusan. Oleh karena itu di antara orang Israel, adalah tugas pertama dari tuan rumah untuk memberikan air kepada tamu-tamu undangannya untuk mencuci kakinya (Kejadian 18:4, 19:2, 24:32; Hakim 19:21). Ketika si tuan rumah tidak menyediakan air cuci kaki, ini adalah pertanda tidak bersahabat.
Mencuci kaki juga merupakan kebiasaan sebelum makan dan sebelum tidur. Orang Israel yang sengaja untuk beberapa waktu yang lama tidak mencuci kaki mereka, itu adalah tanda dari duka yang mendalam (Band. 2 Samuel 19:24). Ada ketentuan mengenai hukum mencuci tangan dan kaki, yaitu “wudhu” dan di Kemah Suci, disediakan satu Bejana pembasuhan, yaitu “baskom tembaga portabel” (Keluaran 30:18-21). Pada Bait Suci yang dibangun Salomo, disediakan sebuah Bejana pembasuhan raksasa, yang disebut dengan “Laut Tuangan” (1 Raja-raja 7:23-26). Para imam harus mencuci tangan dan kaki mereka untuk memasuki Kemah Suci atau sebelum mendekati mezbah korban bakaran. Orang-orang Israel juga tidak diizinkan mendekati seorang raja atau pangeran tanpa persiapan yang matang, yang mencakup pencucian tangan dan kaki.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kemerdekaan menjadi hal yang hakiki dalam kehidupan manusia, baik kemerdekaan individu maupun kemerdekaan suatu bangsa. Karya Tuhan yang memberi kemerdekaan harus berhadapan dengan kekuatan/kekuasaan manusia (Firaun). Kemerdekaan secara individual juga mencerminkan seseorang memerdekakan sesamanya. Sikap memerdekakan sesama, tidak hanya dalam hal kata, tapi juga perlakuan kepada sesama yang membutuhkan. Bukan egoisme diri yang ditonjolkan, tetapi semangat untuk mengutamakan kepentingan liyan. Keteladanan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk mengambil sikap melayani. Dengan melayani, setiap pribadi menunjukkan jati dirinya bahwa, hidupnya dikasihi oleh Tuhan. Perintah Yesus untuk saling mengasihi, mengajarkan kepada kita bahwa kita telah menerima kasih dari Tuhan terlebih dahulu.
Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Pada masa pandemi Covid-19, kita dihimbau untuk sering-sering mencuci tangan menggunakan sabun setelah beraktifitas, kontak dengan sesuatu dan kontak antar manusia. Tujuannya agar virus-virus atau kuman sedapat mungkin bisa mati. Hal ini berguna untuk mencegah penyebaran Covid-19. Cuci tangan ini diharapkan dilakukan dengan kesadaran bukan keterpaksaan, apalagi di embel-embeli ancaman. Tidak! Tetapi diharapkan hal itu menjadi sebuah kebiasaan baru. Itulah fenomena perihal mencuci tangan pada masa kini menjadi sebuah perilaku yang diharapakan menjadi sebuah kebiasaan. Kalau tangan harus sering dicuci bagaimana dengan kaki? Tentu saja membasuh kaki juga sama pentingnya dengan tangan, hanya mungkin tidak sesering kita membasuh tangan. Kita membasuh kaki ketika kita tiba di rumah setelah beraktifitas dari luar rumah. Bagaimana jikalau kaki kita yang membasuh adalah orang lain? Kalau orang tua membasuh kaki atau bahkan memandikan anaknya, itu hal biasa. Kalau guru membasuh muridnya? Wow, tentu saja hal ini sebuah tindakan yang tidak biasa, radikal, ora umum. Mari kita cermati kisah Yesus, Sang Guru membasuh kaki murid-muridnya:
Isi
Kaki adalah bagian yang kotor dalam tubuh manusia. Kaki manusia menginjak debu tanah. Pembasuhan merupakan sebuah bentuk dari simbolisasi tata gerak. Kegiatan membasuh kaki adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh orang Yahudi pada zaman Yesus. Proses pembasuhan kaki itu biasanya dilakukan oleh bawahan terhadap atasan. Dalam dunia Yunani, pembasuhan kaki adalah hal yang hina, yang biasa dilakukan oleh budak.
Namun yang istimewa di sini, pembasuhan kaki ini dilakukan oleh Yesus yang adalah Guru kepada murid-murid-Nya. Yesus melakukan sebuah ritual yang biasa dilakukan dengan cara yang tidak berbeda, namun Yesus melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang Guru. Tata gerak membasuh kaki ini menyimbolkan suatu teladan untuk merendahkan diri dan melayani. Tindakan Yesus membasuh kaki merupakan tindakan simbolis yang menyimbolkan penyerahan diri, pembersihan, pengampunan, serta pembaharuan hidup. Penyerahan diri yang dimaksudkan adalah penyerahan diri Yesus dalam kematian untuk “menebus dosa”/ “membersihkan” orang lain. Pembasuhan kaki yang Yesus lakukan juga menyimbolkan kerendahan hati dan keinginan untuk menjadi “hamba” yang mau melayani orang yang hina sekalipun.
Kisah pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus adalah pengajaran yang maha indah. Membasuh kaki adalah memberi diri untuk melayani. Tidak mudah orang mau meemberi diri, mengambil posisi di bawah, menundukkan diri. Kita juga pernah mendengar seorang walikota Surabaya , Tri Risma Harini memberi diri mencium kaki dokter di saat covid-19 merajalela di wilayahnya, mencium kaki takmir masjid pasca terror bom Surabaya tahun 2018. Kita juga pernah mendengar kisah Paus pada 11 April 2019 yang mencium kaki presiden Sudan, Salva Kiir untuk memohon agar negara itu tidak kembali jatuh ke dalam perang saudara. Betul-betul radikal. Motif apa? Pencitraan? Akting? Kita bisa memberikan segudang penilaian, namun tentu tidak gampang melakukan sebuah pencitraan dengan cara yang radikal. Kalau pencitraan biasanya orang akan lebih menunjukkan prestasi, piagam, thropy, prasasti, bukan dengan cara yang hamba nan hina.
Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita:
- Dari bacaan pertama kita diingatkan akan pentingnya kemerdekaan bagi tiap-tiap orang. Tuhan mencintai kemerdekaan tiap-tiap orang juga bagi suatu bangsa yang ditentukan oleh Tuhan. Seberapapun kuat kekuasaan Firaun atas Israel yang ditindasnya, Tuhan tak akan membiarkan penindasan berkuasa. Ia campur tangan. Tangannya teracung bagi mereka yang tertindas. Begitu pula Israel, Tuhan siapkan untuk mengalami kelepasan serta pembebasan dari cengkeraman kekuasaan manusia. Sekalipun manusia begitu menggenggam kekuasaan atas yang lain, tetapi Tuhan tak akan tinggal diam. Firaun yang tidak mau seleh dengan keputusannya pada akhirnya harus berhadapan dengan kekuasaan Tuhan sendiri.
- Bacaan kedua menekankan tentang gaya hidup. Altruis (gemar memberi) atau egois , terutama soal makanan. Terkadang kita merasa puas, jika kita sudah kenyang (pokok e wareg). Tetapi apakah ketika kita yang kenyang ini juga mau hadir untuk yang lain. Manusia umumnya cenderung meminta berkat dan ingin diberkati. Tetapi apakah ia mau memberi dan memberkati ketika hidupnya telah menerima berkat dan kemurahan Tuhan?
Ketidaklayakan dari cara makan roti dan minum anggur yang menjadi masalah bagi Paulus bukanlah “kelayakan” individu. Jika itu masalahnya, tidak seorang pun akan “layak.” Tetapi, mereka mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus dengan cara yang tidak layak, memalukan seluruh jemaat, dengan tindakan yang tidak dikendalikan oleh kasih untuk saudara-saudara seiman yang membutuhkan. - Perintah saling mengasihi dalam bacaan ketiga menjadi perintah yang abadi sepanjang jaman. Orang bisa punya pengharapan, orang bisa punya iman, tetapi kasihlah yang lebih unggul dan relevan sepanjang jaman. Sebab kalaupun jaman sudah berkahir, kita sendiri juga masih membutuhkan kasih Tuhan. Maka Yesus, memberi teladan yang maha dahsyat pengaruhnya. Dia mengajarkan Bahasa kasih yang mau merendahkan diri (andhap asor). Dengan andhap asor, orang mau melakukan apa saja untuk kebaikan orang lain. Sebenarnya tindakan membasuh kaki bukanlah hal yang sulit, Yesus tidak ingin orang hanya fokus pada cara (kehinaannya), tapi bagaimana sebuah tindakan kecil dilakukan dengan cinta yang besar, akan membawa pengaruh yang besar. Tindakan Yesus berfokus pada cinta kasih. Bagaimana pada akhirnya, hal membasuh kaki berdampak pada tindakan saling mengasihi dan menempatkan orang lain berharga di dalam dirinya.
Penutup
Akhirnya, mari kita menghayati Pekan Suci Paskah ini dengan hati yang lapang, dengan semangat mau menunduk, rendah hati, memberi diri, dan itu bukan sikap kalah, tapi sikap orang yang bagi Tuhan siap dan pantas diberkati, diberi karunia. Karena berkat Tuhan itu dimulai dari ketertundukan (jengkeng), bersimpuh di hadapan Tuhan. Amin. (pong).
Nyanyian: KJ 246 – Ya Allah, Yang Maha Tinggi
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Ing mangsa pageblug Corona-19 punika, kita kaatag supados asring mijiki tangan kita sasampunipun kita lelungan, lan nindakaken pakaryan, supados virus-virus/kuman saged mati. Anggen kita sregep mijiki tangan ngginaaken sabun punika migunani sanget kangge ngandheg sebaran virus. Mijiki tangan punika pangajengipun sageda dados pakulinan anyar. Menawi tangan kita punika dipun atag supados asring dipun wijiki, kados pundi menawi suku kita? Tamtu kemawon mijiki suku inggih sami wigatipun kaliyan mijiki tangan. Kita mijiki suku nalika saking lelungan. Bab mijiki suku kados pundi menawi ingkang mijiki punika tiyang sanes, sanes kita piyambak. Menawi tiyang sepuh mijiki sukunipun yoga, punapa malih klebet ngedusi, punika bab ingkang limrah. Menawi guru mijiki sukunipun para siswa, wow,… punika bab ingkang boten limrah. Sumangga kita pirsani cariyos Gusti Yesus, ingkang mijiki sukunipun para sekabatipun.
Isi
Suku punika kahanan ingkang kaanggep reged ing perangan badanipun manungsa. Suku asring midek lemah. Bab mijiki punika paring pralambang simbol tata gerak. Bab mijiki suku punika sampun dados padatan ingkang limrah kanggenipun tiyang Yahudi ing jaman Yesus. Bab mijiki suku punika padatanipun dipun lampahi dening batur dhateng majikanipun, mekaten ugi kelampahan ing jagad Yunani.
Namung kemawon, ingkang mirunggan, mijiki suku punika dipun tindakaken dening Gusti Yesus minangka Sang Guru dhateng para sakabatipun. Gusti Yesus nglampahi tumindak ingkang mesthinipun boten limrah dipun tindakaken dening Sang Guru. Tata gerak punika paring tuldha supados para sakabatipun Gusti Yesus nggadhahi sikep andhap asor lan purun leladi. Tumindak punika minangka simbol masrahaken diri, nyucekaken, ngapurani, ngenggalaken. Masrahaken diri punika mujudaken bab Yesus ingkang masrahaken sariranipun, seda sinalib kangge nebus dosa/nyuceaken manungsa. Gusti ugi nuduhaken tuladha dados “abdi” ingkang karsa leladi tumrap ingkang sekeng saestu.
Cariyos bab mijiki suku punika cariyos ingkang endah sanget. Mijiki suku punika paring piwucal bab tiyang ingkang purun masrahaken diri leladi. Boten gampil tiyang punika masrahaken diri, nyuwun kalenggahan ingkang andhap, jengkeng, sowan sujud. Kita nate mireng, walikota Surabaya, Tri Risma Harini masrahaken diri, ngaras/ngambung sukunipun dokter nalika covid 19 punika ngambra-ambra ing wilayah kitha Surabaya, ngambung sukunipun takmir masjid sasampunipun prastawa terror bom Surabaya tahun 2018. Kita ugi nate mireng cariyosipun Paus nalika tanggal 11 April 2019 ingkang ngaras/ngambung sukunipun presiden Sudan, Salva Kiir kangge nyuwun supados negara Sudan punika sampun terus nglanggengaken perang sudara. Punika sawetawis tumindak ingkang sanget-sanget radikal, ora umum. Punapa motivasinipun? Punapa kangge pencitraan, acting? Kita saged paring panyacad, nanging tamtunipun boten gampil nindakaken – (menawi kaanggep pencitraan) kanthi cara ingkang radikal. Menawi pencitraan, umumipun tiyang badhe nuduhaken kaunggulan tinimbang bab ingkang ringkih.
Dhawuhipun Gusti dinten punika paring piwucal dhateng kita:
- Bab kamardikan saben-saben tiyang. Gusti ngersaaken saben-saben tiyang punika nggadhahi kamardikan ugi kamardikaning bangsa ingkang sampun pinesthi dening Gusti. Sepinten agunging kuwaosipun Firaun ingkang nindhes bangsa Israel, Gusti boten kèndel. Gusti Allah campur asta. Astanipun kaangkat kagem bangsa Israel ingkang katindhes. Gusti nyawisaken kamardikan saking kuwaosing manungsa (Firaun). Firaun ingkang botan purun seleh, ing tembenipun kedah aben ajeng kaliyan kuwaosing Gusti piyambak.
- Bab gaya hidup antawis altruis (dhemen aweweh) lawan sikap ingkang egois, mirunggan bab tedhan. Umumipun manungsa menawi rumaos wareg lajeng kesupen, nalika kita wareg napa kita inggih enget dhateng liyan ingkang kerapan (luwe)? Manungsa umumipun kepengin dipun berkahi, nanging nalika gesangipun binerkahan, punapa manungsa inggih remen aweweh?
Cara ingkang boten layak bab nedha roti lan ngunjuk anggur punika boten krana “kelayakan personal”, ananging bab tumindak ingkang boten dipun kendhaleni katresnan dhumateng para sedherek ingkang sami mbetahaken. - Bab gesang tresna-tinresnan. Ing waosan kaping tiga, bab katresnan punika sejatinipun dados piwucal ingkang kedah lestari. Tiyang saged nduweni iman, nduwuni pangarep-arep, nanging katresnan punika ingkang dados bab ingkang langgeng. Mila Gusti Yesus, paring tuladha ingkang adi sanget pengaruhipun. Yesus paring piwucal bab basa katresnan ingkang andhap asor. Srana andhap asor, tiyang purun nglampahi punapa kemawon dhateng liyan. Sejatinipun, bab tumindak mijiki suku punika, sacara gerak boten awrat, nanging tuladha punika paring pengaruh ingkang agung. Gusti kepengin mirsani para sakabatipun fokus dhateng bab ingkang dhatengaken katresnan, senajan tha kanthi cara ingkang prasaja. Kados pundi, ing pungkasanipun mapanaken tiyang punika aji ing pangarsanipun.
Panutup
Pungkasanipun, sumangga kita sami ngraos-raosaken pekan suci paskah punika srana manah ingkang tinarbuka, srana semangat ingkang purun jengkeng, masrahaken diri. Punika sanes sikap kawon, nanging sikap ingkang kagem Gusti tiyang punika cumadhang binerkahan, pinaringan kanugrahan, sih rahmat. Krana berkahipun Gusti punika kawiwitan saking batosipun manungsa ingkang purun jengkeng, asujud ing ngrasanipun Gusti. Amin. (pong).
Pamuji: KPJ. 136 Rahayu Wong Wedi Asih