Minggu Pra Paskah V
Stola Ungu
Bacaan 1 : Yeremia 31 : 31 – 34
Bacaan 2 : Ibrani 5 : 5 – 10
Bacaan 3 : Yohanes 12 : 20 – 33
Tema Liturgis : Ketergantungan Mutlak kepada Kasih Karunia Kristus
Tema Khotbah: Kasih Karunia Kristus yang Mengubahkan Hidup
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yeremia 31: 31 – 34
Tuhan Allah tidak pernah memutuskan perjanjian-Nya dengan bangsa Israel meskipun seringkali bangsa Israel memberontak kepada-Nya. Disini Allah melakukan inisiatif dengan memperbarui perjanjian Sinai yang telah dilanggar oleh bangsa Israel dengan suatu perjanjian baru. Isi perjanjian itu tetap sama, yaitu Allah tetap menjadi Allah bagi umat Israel (Ay. 33b). Pembaruan itu terletak pada media penulisan perjanjian itu sendiri. Jika pada perjanjian Sinai, janji Allah ditulis pada dua loh batu yang kemudian dikembangkan menjadi hukum tertulis (Ay. 32) yaitu Taurat. Pada perjanjian yang baru, Allah menuliskannya langsung pada hati dan batin umat-Nya (Ay. 33a). Allah mengetahui bahwa hati adalah sumber segala perbuatan dosa dan kenajisan (Mat. 15:18-19). Jika hati seseorang tidak diubahkan maka sepanjang hidupnya orang tersebut akan berkubang dengan dosa dan terus melawan Allah.
Dahulu perjanjian dimateraikan melalui Taurat tertulis yang ternyata terus menerus dilanggar oleh bangsa Israel. Kini Taurat itu dituliskan dalam hati. Ini adalah benih hidup baru yang Tuhan taruh dalam hati setiap orang yang bertobat. Pertobatan membawa keselamatan dan pengenalan akan Allah Israel yang maha kuasa. Dengan pembaharuan perjanjian ini bangsa Israel diharapkan melaksanakan Taurat dengan setia dan benar karena mereka semakin mengenal Allah secara benar.
Ibrani 5: 5 – 10
Seorang Imam Besar mewakili umat manusia yang lemah dan berdosa untuk mendapatkan pendamaian dari Allah (Ay. 1-2). Seorang Iman besar harus mendamaikan dirinya terlebih dahulu dengan Allah sebelum ia menjadi pengantara bagi umat Allah (Ay. 2-3). Meski memiliki kelemahan, seorang Imam Besar berperan memberikan andil yang besar bagi umat Israel agar mereka tetap setia kepada Allah.
Penulis Ibrani memperkenalkan Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung yang melebihi para imam besar yang pernah memimpin kehidupan iman bangsa Israel. Yesus Kristus jauh melebihi Harun dan keturunannya yang ditetapkan Allah sebagai iman besar Israel. Ia dipilih Allah untuk menjadi pengantara umat manusia dengan Allah. Dalam segala hal, Ia mampu menyelami dan mengerti penuh pergumulan umat Israel dan kelemahan mereka, bahkan Ia ikut menangis dan berdoa syafaat kepada Allah dalam penderitaan mereka (Ay. 7). Keutamaan Kristus adalah Ia tidak berbuat dosa, Ia taat melakukan kehendak Allah Bapa (Ay. 8), sehingga permohonan-Nya didengar dan dijawab oleh Allah (Ay. 7 – 10).
Yohanes 12: 20 – 33
Kehadiran orang-orang Yunani yang semula menolak Yesus ternyata tidak mengganggu sukacita dan kegirangan yang telah tercipta. Bahkan para murid yang biasanya emosional, kali ini bersikap wajar. Kedatangan mereka untuk melihat Yesus dan bergabung bersama-sama orang Yahudi yang percaya kepada Kristus dipandang oleh Tuhan Yesus sebagai saat yang tepat untuk memberitakan kabar kematian-Nya. Saat semua orang telah berkumpul, mereka mendengarkan berita penggenapan rencana Allah di dalam diri Yesus. Tuhan Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai Anak Manusia yang telah ditentukan jalan hidup-Nya, mati bagi orang banyak. Ia juga berbicara tentang kemuliaan yang akan diterima-Nya dari Allah saat Ia mengurbankan diri-Nya bagi orang banyak. Ia menggunakan ilustrasi satu biji yang harus mati supaya menghasilkan banyak buah. Ia mengumpamakan kematian-Nya seumpama biji itu, kematian-Nya akan menghasilkan banyak kehidupan.
Waktunya sudah dekat dan Yesus tidak gentar menghadapi kematian-Nya walaupun Ia tahu waktunya sudah dekat. Hal ini oleh karena Yesus mempercayakan diri dan hidupnya kepada Allah. Ia sungguh-sungguh menyadari bahwa tujuan kematian-Nya adalah untuk menebus dosa dan menyelamatkan umat manusia (Ay. 27). Kedua, melalui kematian-Nya, hubungan manusia dan Allah dipulihkan. Peristiwa inilah yang menjadi puncak perwujudan rencana agung Allah.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kesediaan Yesus Kristus untuk mati demi menebus dosa dan menyelamatkan manusia adalah kasih karunia Allah yang terbesar dalam hidup manusia. Allah selalu berinisiatif untuk bersekutu dengan manusia menghendaki umat-Nya setia dan terus menerus memperbarui hidupnya. Janji keselamatan Allah yang nyata di dalam Kristus meneguhkan iman percaya kita untuk selalu mengandalkan Allah di dalam setiap langkah hidup kita.
Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Bapak, ibu dan saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Saat kita memiliki barang yang berharga bisa berupa perhiasan, uang, mobil atau motor, tentunya kita akan berusaha menyimpan atau merawatnya dengan baik. Misalnya kita mempunyai emas, bisa jadi kita menyimpannya di bank, karena kita merasa aman jika emas tersebut disimpan di bank. Atau kita mempunyai mobil/motor, pasti akan kita service dengan baik, agar mobil/ motor kita tidak cepat rusak dan dapat dipergunakan dengan baik.
Pun demikian di dalam kehidupan persekutuan di dalam jemaat. Untuk mendapatkan persekutuan yang erat, indah dan harmonis, perlu dibangun semangat kebersamaan dan kerjasama yang baik. Hidup sebagai persekutuan jemaat harus memiliki pondasi yang kuat yaitu Kristus Yesus. Mengapa Yesus Kristus harus menjadi pondasi dalam persekutuan kita? Mari kita pergumulkan bersama.
Isi
Firman Tuhan pada saat ini mengajarkan kepada kita tentang kasih karunia Allah di dalam hidup manusia. Pada bacaan pertama, nabi Yeremia menggambarkan kasih karunia Allah itu dengan kesediaan Allah memperbarui janji keselamatan bagi Israel. Israel yang menjadi umat pilihan Allah sudah seharusnya mereka hidup di dalam hukum Allah (Taurat), tetapi pada kenyataannya umat Israel seringkali mengingkari bahkan menentang hukum Allah ini dalam hidup mereka. Oleh karena itulah Yeremia diutus Allah untuk memberitakan kasih karunia Allah kepada umat Israel dalam bentuk janji keselamatan yang baru. Janji keselamatan Allah ini tidak ditulis pada dua loh batu melainkan ditulis di dalam hati setiap umat Israel. Artinya Allah menghendaki agar Israel senantiasa mau bertobat dan memperbaharui hidup mereka dihadapan Tuhan Allah. Sebab ketika umat Israel bertobat itu menjadi tanda bahwa janji keselamatan dinyatakan dalam kehidupan umat Israel. Mereka tidak hanya menaati hukum Taurat yang tertulis saja, tetapi mereka benar-benar melakukan hukum Allah yang termaterai dalam hati mereka.
Demikian pula penulis Ibrani menyebutkan kasih karunia Allah yang dinyatakan dalam pribadi Yesus Kristus yang menjadi Iman Besar yang sejati. Yesus menjadi perantara manusia dan Allah. Melalui Yesus Kristus, hubungan manusia yang rusak oleh kerena dosa, kini dipulihkan. Yesus ikut merasakan apa yang dirasakan oleh manusia. Bahkan sebagai Imam Besar, Ia telah mengorbankan diri-Nya melalui kematian-Nya disalib. Tujuannya agar setiap orang percaya bahwa Yesus adalah Sang Juruselamat, di dalam Dia, kita yang percaya boleh mendapatkan kasih karunia dan keselamatan daripada Allah.
Bagian bacaan ketiga, penulis Injil Yohanes mengisahkan Yesus yang memberitakan kabar kematian-Nya dihadapan orang-orang Yahudi dan para murid-Nya pada waktu itu. Kesaksian Yesus ini hendak menyatakan bahwa melalui kematian-Nya akan ada kehidupan. Ibarat sebuah biji yang mati ditanam akan tumbuh dan berbuah lebat, pun demikian Yesus, melalui kematian-Nya sekali untuk memberi kehidupan bagi setiap orang yang percaya. Inilah bentuk kasih karunia Allah yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus, bahwa kematian-Nya membawa keselamatan. Apa yang akan dilakukan Yesus ini, disadari sungguh oleh-Nya, Ia mampu menceritakan perihal kematian-Nya dan menjalani “jalan salib” semua Dia lalukan di dalam ketaatan kepada Allah Bapa. Oleh karena itu Ia taat dan setia hingga mati dalam melakukan karya keselamatan-Nya pada manusia. Manusia beroleh kasih karunia Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus.
Bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan Yesus. Minggu ini kita telah memasuki Minggu Pra- Paskah 5 dan sebentar lagi kita memasuki pekan suci. Jikalau Allah sudah menyatakan kasih karunia-Nya pada kita melalui pengorbanan Yesus Kristus, lantas apakah yang hendak kita perbuat untuk menanggapi kasih karunia Allah ini?
Melalui bacaan Firman Tuhan pada Minggu ini setidaknya ada 3 hal yang dapat kita perbuat di Minggu Pra Paskah 5 ini, yaitu :
- Memperbarui hidup kita dengan bertobat.
Kasih karunia Allah telah dimateraikan di dalam hati kita yang percaya kepada Kristus. Namun bukan tidak mungkin kita berlaku seperti umat Israel yang seringkali tidak mengindahkan hukum atau Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sekalipun kita mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, namun hati dan hidup kita masih ada dalam kegelapan. Inilah saatnya bagi kita untuk memperbarui hidup kita dengan bertobat. Tanpa bertobat maka kita tidak akan merasakan kasih karunia dan damai sejahtera Allah. Masa pra-paskah ini menjadi saat yang tepat untuk kita bertobat, kembali taat dan setia kepada Allah. Tuhan Allah senantiasa menunggu kita untuk bertobat, datang mengakui dosa dan kesalahan kita dihadapan-Nya. Dengan memperbarui hidup, kita bersedia meninggalkan kebiasaan-kebiasaan hidup yang tidak berkenan di hati Allah. Kita bersedia merubah sikap, perilaku, perkataan kita dari yang buruk menjadi baik, dari yang kasar menjadi lembut, dari yang merusak menjadi yang membangun dan menguatkan. Kesemuanya itu membutuhkan kesungguhan dan kesediaan kita. Berdoalah memohon kekuatan dan kemampuan agar kita sungguh-sungguh bertobat dan hidup di dalam kasih karunia Allah. - Semakin Mengenal Yesus Kristus.
Setelah kita bertobat, tindakan selanjutnya adalah kita semakin mengenal Yesus Kristus. Alkitab menyebutkan banyak tentang jati diri Yesus Kristus, seperti Mesias, Anak Manusia, Anak Allah, Gembala yang baik, Terang Hidup dll. Seperti pada bacaan Firman Tuhan pada saat ini, penulis Ibrani menyatakan jati diri Yesus Kristus sebagai seorang Imam Besar yang sejati. Seorang Imam Besar yang melebihi para Imam Besar Israel. Seorang perantara yang menghubungkan kita dengan Allah, yang oleh-Nya kita diampuni dan diselamatkan. Untuk dapat semakin mengenal Yesus Kristus, maka hubungan kita dengan Tuhan Yesus harus baik. Kita membangun komunikasi iman melalui doa yang tak putus-putus. Kita rindu untuk mendengarkan Firman-Nya melalui pembacaan dan perenungan firman Tuhan dalam Alkitab. Kita mau meneladani Yesus Kristus di dalam keseharian kita. Menjadikan Yesus sebagai pokok hidup kita, terlebih Yesus senantiasa ada di hati dan laku kita. Maka pengenalan kita yang semakin intim akan memmampukan kita merasakan penyertaan dan berkat-berkat-Nya di dalam hidup kita. - Berani Bersaksi Mewartakan Kasih Karunia Allah.
Seperti Yesus Kristus yang mewartakan karya Allah melalui berita kematian-Nya yang membawa kehidupan bagi banyak orang, maka tugas kita adalah berani bersaksi mewartakan kasih karunia Allah dalam hidup kita. Ada banyak kasih karunia Allah yang dapat kita saksikan dan wartakan kepada orang lain. Semakin kita dekat dan mengenal Yesus Kristus maka semakin banyak kasih karunia Allah yang dapat kita saksikan dan wartakan. Misalnya kita diberikan kesehatan, kecukupan, kekuatan untuk melakukan tugas dan tanggungjawab kita. Kita mampu bertahan dan bersyukur dalam penderitaan. Kita mendapat keselamatan atau pertolongan Allah. Kita tidak perlu merasa takut atau salah dalam mewartakan kasih karunia Allah, sebab Roh Kuduslah yang akan menolong dan memampukan kita. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati agar bukan diri kita pribadi yang mendapatkan pujian atau penghargaan, tetapi hanya nama Tuhanlah yang dipermuliakan.
Penutup
Bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan. Marilah saat ini, kita sungguh-sungguh menyadari akan kasih karunia Allah di dalam hidup kita. Kita rasakan bahwa kasih karunia Allah tersebut tidak pernah berkesudahan. Bahkan dengan kasih karunia-Nya, Allah mengubahkan hidup kita. Teruslah memperbarui hidup dan semakin mengenal Allah. Teruslah mewartakan kasih karunia Allah itu di dalam hidup kita, maka kita akan selalu merasakan damai sejahtera-Nya. Amin. (AR).
Nyanyian : KJ. 389 : 1, 3 Besarlah Kasih Bapaku
—
Rancangan Khotbah : Basa Jawi
Pambuka
Bapak, ibu lan para sederek ingkang dipun tresnani Gusti Yesus. Nalika kita gadhah barang ingkang aji kados perhiasan, arto, montor, tamtunipun kita badhe nyimpen lan ngrimati barang punika kanthi sae. Contonipun kita kagungan emas, saged ugi badhe kita simpen wonten bank, karana kita rumaos aman bilih emas punika kasimpen wonten bank. Conto sanesipun kita kagungan montor, supados boten risak lan saged dipun damel kanthi sae, tamtu badhe kita rimati lan service sacara rutin.
Mekaten ugi kaliyan gesang patunggilan ing pasamuwan. Kangge nuwuhaken patunggilan ingkang raket, endah lan harmonis perlu kabangun semangat patunggilan lan makarya sesarengan kanthi tumindak sae. Minangka patunggilan, ing satengah-tengahing pasamuan kedah wonten pondasi ingkang kiat inggih punika Gusti Yesus Kristus. Kenging punapa Gusti Yesus kedah dados pondasi ing patunggilan kita? Mangga sami kita gatosaken sesarengan.
Isi
Pangandikanipun Gusti wekdal punika paring piwucal bab sih rahmating Gusti Allah salebeting gesang manungsa. Ing waosan kaping pisan, Nabi Yeremia maringi gegambaran bab sih rahmating Gusti punika kaliyan prajanji enggal kagem bangsa Israel. Israel ingkang piniji dados umat kagunganipun Gusti Allah kedahipun tansah netepi lan gesang ing salebeting pranantaning Gusti (Torah), ananging ing kasunyatanipun asring bangsa Israel bjenjani janjinipun lan nglawan pranataning Gusti. Awit saking punika, nabi Yeremia dipun utus Gusti Allah kangge martosaken sih rahmating Gusti dhateng bangsa Israel sarana prajanji kawilujengan enggal. Prajanjinipun Gusti boten kaserat ing kalih loh watu malih ananging kaserat ing manahipun bangsa Israel. Artosipun Gusti Allah ngersaaken supados bangsa Israel purun mratobat lan gesang enggal ing ngarsaning Gusti Allah. Nalika bangsa Israel mratobat, punika dados tandha bilih prajanjinipun Gusti Allah dumunung ing gesanging Israel. Tiyang Israel boten namung manut Torah kemawon, ananging bangsa Israel ugi temen-temen anggenipun nindakaken pranataning Gusti Allah ingkang kaecap ing manahipun umat.
Mekaten juru tulis kitab Ibrani nyebataken bilih sih rahmatipun Gusti Allah nyata ing Gusti Yesus ingkang dados Imam Agung ingkang Sejati. Gusti Yesus dados perantara antawisipun manungsa kaliyan Gusti Allah. Lumantar Gusti Yesus, hubungan manungsa ingkang risak karana dosa dipun pulihaken malih. Gusti Yesus ngraosaken punapa ingkang dipun raosaken manungsa. Langkung-langkung senaosa dados Imam Agung, Gusti Yesus kersa ngorbanaken Sariranipun seda sinalib. Tujuanipun supados saben tiyang pitados bilih Gusti Yesus punika Juru Wilujeng. Ing dalem Asmanipun ingkang suci, kita ingkang pitados dhumateng Panjenenganipun pinaringan sih rahmat saha kawilujengan saking Gusti Allah.
Selajengipun ing waosan katiga, juru tulis Injil Yokanan nyariosaken Gusti Yesus ingkang medhar sabda bab seda-Nipun dhateng para tiyang Yahudi lan para sakabatipun. Ing kesaksianipun Gusti Yesus martosaken bilih lumantar seda-Nipun punika badhe wonten gesang. Saumpami winih ingkang katanem badhe tuwuh lan ngedalaken woh ingkang kathah. Mekaten ugi Gusti Yesus, Panjenenganipun seda sepisan kangge maringi gesang dhateng para tiyang pitados. Punika wujuding sih rahmating Gusti Allah ing Gusti Yesus Kristus, sedanipun nuwuhaken kawilujengan. Punapa ingkang dipun tindakaken Gusti Yesus punika, saestu dipun sadari, Panjenenganipun saged nyariosaken bab sedanipun lan nindakaken “margi salib” punika, sedayanipun katindakaken minangka kasetyanIpun dhumateng Gusti Allah. Karana kasetyanipun dumugi ing pati kangge kawilujenganing manungsa, manungsa pinaringan sih rahmat lumantar kasangsaraning Gusti Yesus Kristus.
Bapak, ibu lan para sederek ingkang kinasih ing Gusti Yesus. Dinten Minggu punika kita lumebet ing Minggu Pra Paskah 5 lan sekedap malih kita sami lumebet ing pekan suci. Bilih Gusti Allah sampun nedhahaken sih rahmatipun dhateng kita lumantar kasangsaranipun Gusti Yesus Kristus, lajeng punapa ingkang badhe kita tindakaken kangge nanggapi sih rahmating Gusti Allah punika?
Lumantar waosan Sabdaning Gusti dinten Minggu punika, wonten 3 prekawis ingkang saged kita tindakaken ing Minggu Pra Paskah 5 punika, inggih punika :
- Gesang Enggal sarana Mratobat.
Sih rahmating Gusti Allah sampun kaparingaken dhateng kita para pitados. Ananging asring kita tumindak kados tiyang Israel ingkang asring nglirwakaken pranata lan Sabdaning Gusti Allah ing salebeting gesang sadinten-dinten. Kadangkala senajan kita sampun tepang kaliyan Gusti Yesus minangka Juru Wilujeng, nanging manah lan gesang kita taksih wonten pepeteng. Sak punika wekdalipun kangge kita nindakaken gesang enggal sarana mratobat. Tanpa mratobat, kita boten saged ngraosaken sih rahmat lan tentrem rahayu saking Gusti Allah. Gusti Allah tansah nganti-anti kita mratobat, purun ngakeni dosa lan kalepatan kita ing ngasanipun. Sarana gesang enggal, kita sumadya nilar tumindak-tumindak gesang ingkang tebih saking Gusti. Kita purun ngrubah sikap, tumindak, pitutur, ingkang waunipun awon dados sae, ingkang waunipun kasar dados lembut, ingkang waunipun ngrisak dados sikap, tumindak lan pitutur ingkang mbangun lan ngiyataken tiyang sanes. Sedaya punika mbetahaken niat lan kasagahan kita. Pramila kita kedah dedonga nyuwun kakiyatan lan kasagedan dhateng Gusti Allah supados kita temen-temen mratobat lan saged gesang ing sih rahmating Gusti. - Langkung Tepang kalian Gusti Yesus.
Sak sampunipun mratobat, tumindak selajengipun inggih punika kita langkung tepang kalian Gusti Yesus. Kitab Suci nyebataken jatidirinipun Gusti Yesus kados Mesias, Putraning Manungsa, Putraning Allah, Juru Pangon ingkang sejati, Pepadhanging Gesang lsp. Ing waosan kita, juru tulis kitab Ibrani nyebataken jati dirinipun Gusti Yesus minangka Imam Agung ingkang Sejati ingkang nglangkungi para Iman Agung bani Israel. Tugasipun Iman punika dados perantara antawisipun manungsa kaliyan Gusti Allah, ing pundi kita nampi pangapunten lan kawilujengan saking Gusti Allah. Supados kita langkung tepang kaliyan Gusti Yesus Kristus, hubungan kita kaliyan Gusti Yesus kedah sae. Kita mbangun komunikasi iman lumantar pandonga ingkang tanpa winates. Kita tansah mirengaken Sabdanipun lumantar pamaosing kitab suci lan ngraosaken Sabda punika. Mekaten ugi kita purun nuladha Gusti Yesus ing salebeting gesang kita sedinten-dinten. Kita dadosaken Gusti Yesus dados punjering gesang kita, langkung-alngkung Gusti Yesus tansah wonten salebeting manah lan tumindak kita. Pitepangan kita kaliyan Gusti Yesus ingkang raket dadosaken kita sansaya ngraosaken panganthi lan berkah-berkahipun ing salebeting gesang kita. - Wantun dados Saksi Martosaken Sih Rahmating Allah.
Kados Gusti Yesus Kristus ingkang martosaken pakaryaning Gusti Allah lumantar pawartos sedanipun, mila dados tugas kita dados saksinipun Gusti Yesus kagem martosaken sih rahmating Gusti Allah salebeting gesang kita. Wonten kathah sih rahmating Gusti ingkang saged kita wartosaken dhumateng tiyang sanes. Nalika kita raket lan tepang kaliyan Gusti Yesus sangsaya kathah sih rahmating Gusti Allah ingkang saged kita wartosaken. Contonipun kita dipun paring kasarasan, kacekapan, kakiyatan kangge nindakaken tugas lan tanggeljawab kita. Kita saged tahan lan tansah saos sukur salebeting kasangsaran. Kita nampi kawilujengan utawi pitulungan saking Gusti Allah. Kita boten sisah rumaos ajrih utawi lepat anggenipun martosaken sih rahmating Gusti Allah, awit Sang Roh Suci badhe paring pitulungan lan kasagedan dhateng kita. Ingkang dipun betahaken inggih punika manah ingkang andhap asor supados sanes diri kita pribadi ingkang nampi pamuji, ananging namung Asmanipun Gusti Allah kemawon ingkang kaluhuraken.
Panutup
Bapak, ibu lan para sederek ingkang kinasih. Mangga sapunika, kita sami nyadari lan ngraosaken sih rahmating Gusti Allah ing gesang kita. Kita raosaken bilih sih rahmating Gusti Allah tanpa winates. Sih rahmating Gusti Allah punika ngrubah gesang kita. Mangga sami nindakaken gesang enggal, gesang ingkang sangsaya rumaket dhumateng Gusti Allah. Mangga sami martosaken sih rahmating Gusti Allah ing salebeting gesang kita, awit kita pitados tentrem rahayu tansah wonten gesang kita. Amin. (AR).
Pamuji : KPJ. 292 : 1, 2 Sang Roh Suci, Rohing Katresnan