Khotbah Minggu 9 Juli 2017

BULAN KELUARGA
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         : Zakharia 9:9-12
Bacaan 2         : Roma 7:15-25
Bacaan 3         : Matius 11:16-19,25-30

Tema Liturgis  : Hidup Berkeluarga yang Menyatakan Karya Allah
Tema Khotbah : Sumber cinta (Tuhan) jadikan pusat kehidupan

 

Keterangan Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Zakharia 9:9-12
Psl. 9-14 disebut sebagai bagian kedua dalam Kitab Zakharia. Bagian ini didominasi oleh tema penghakiman TUHAN sebagai bagian dari restorasi bagi Israel. Diawali dengan gambaran kekalahan kota-kota musuh Israel (9:1-8) dengan cara mengerikan. Kebijaksanaan Tirus dan Sidon tidak ada gunanya dihadapan murka TUHAN, kota-kota lain seperti Askelon dan Gaza juga hanya dapat gemetar. Akhirnya, bahkan kebanggaan orang Filistin akan sekedar menjadi sisa-sisa. Segera setelah berita kehancuran musuh, Zakharia lalu mengabarkan nubuat tentang Mesias (ay.9-10) yang datang memasuki Yerusalem dengan keledai muda, namun akan menebarkan damai sampai ke ujung bumi. Subyek dan obyek kalimat dalam ay.11-12 berubah menjadi Aku (TUHAN) dan engkau (Israel). Ini menunjukkan keterlibatan TUHAN sendiri dalam pemulihan Israel, berdasar pada darah perjanjian yang telah diikat TUHAN dengan Israel.

 

Roma 7:15-25
Dalam bagian ini, Paulus menggambarkan kondisi umum dirinya dan kebanyakan manusia lainnya. Seringkali manusia tahu apa yang baik dan ingin melakukannya, namun lalu mendapati dirinya sendiri justru melakukan apa yang diketahuinya jahat. Ini menunjukkan bagaimana manusia seringkali “terbelah” dalam dirinya sendiri, kita sering tak mampu jadi pribadi yang utuh. Secara alamiah, kita memiliki ketidakmampuan untuk berintegritas. Namun, “syukur kepada Allah!” seru Paulus. Karena kita yang secara naluriah tak mampu menyelamatkan diri sendiri ini justru dilepaskan oleh kuasa Kristus sendiri.

 

Matius 11:16-19, 25-30
Ay.16-19, menarasikan bagaimana Yesus menyindir keras para pendengarNya saat itu. Mereka diumpamakannya sebagai sekolompok anak yang selalu memiliki alasan untuk menolak dan jadi oposisi. Yesus memberikan gambaran tentang sekelompok anak di pasar yang mengajak kelompok lainnya untuk menari gembira dengan meniup seruling, mereka menolak. Saat diajak untuk menyanyikan kidung duka, mereka pun menolak. Pokoknya…diumbah ora teles, diobong ora kobong. Bebal!

Bagian bacaan selanjutnya menggambarkan bagaimana Yesus bersyukur karena karya BapaNya dimengerti para orang kecil dan tersembunyi dari orang bijak dan pandai (ay.25). Tentu ini tidak berarti bahwa Yesus menolak kebijaksanaan atau kepandaian, namun Ia menolak kesombongan intelektual. Lalu, di ay.27 Ia menjelaskan bagaimana hubunganNya dengan Sang Bapa: “tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”. Jelas, bahwa melalui Kristus ktia akan dapat sampai kepada pengenalan akan Bapa. Ay.28 memuat ajakan terkenal Yesus yang mengajak semua orang yang letih lesu untuk datang, namun menariknya setelah undangan itu Ia menyataka bahwa akan memasang kuk yag enak pada tiap orang (ay.29-30). Bahwa kuk adalah beban yang harus dipikul itu jelas, namun Yesus menekankan bahwa kukNya enak dan beban dariNya ringan. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi pengikut Kristus bukan berarti hidup tanpa tanggung jawab atau tanpa tuntutan. Sebaliknya, hidup sebagai pengikut Kristus harus tetap setia memikul kuk dengan kepercayaan penuh bahwa kuk itu tak akan melukai kita.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN
Pada dasarnya, manusia adalah adalah mahluk terbatas. Apa yang diketahuinya baik tak tentu mampu dilakukannya. Israel adalah salah satu contoh nyata, bagaimana manusia tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka yang adalah bangsa terpilih, namun masih bolak-balik jatuh dan bolak-balik dosa. Yesus pun menghardik para pendengarNya karena kebebalannya dan mengingatkan para pendengarNya yang letih lesu untuk datang padaNya karena kuk yang diberikan enak dan bebanNya pun ringan. Jelas, bahwa sekeras apapun manusia berusaha ia tak akan mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu, “syukur kepada Allah” karena Yesus sendiri yang membebaskan kita dari keterbatasan ini.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. . . bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Alasannya Sederhana: Cinta

Pendahuluan

Cinta, selalu mampu menjadi sumber inspirasi bagi banyak hal. Salah satunya adalah lagu, kita tahu betapa banyaknya lagu yang bertema cinta. Salah satunya adalah lagu ini:  (Jika memungkinkan, silahkan pengkhotbah menyanyikan bagian Reff lagunya)

Oh Tuhan, ku cinta dia.
Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia.
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku.
Hanya padanya, untuk dia.

(Judul lagu: Dia, Penyanyi: Anji)
Bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=tL94s1dJTdQ

Lagu cinta ini menjadi menarik bukan hanya karena easy listening, namun juga menunjukkan gambaran cinta yang sedang menggebu. Cinta yang penuh dengan rasa sayang dan rindu. Bukan cinta yang diam-diam atau malu-malu, namun cinta yang disampaikan dengan terus terang dan cinta yang ingin memiliki. Lagu ini juga menunjukkan bahwa cintalah yang menjadikan seseorang (atau sesuatu) menjadi pusat hidup kita.

Lagu ini mengawali perenungan kita karena membawa kita pada sebuah pertanyaan dasar, siapakah (atau apakah) yang selama ini kita cintai dan yang menjadi pusat hidup kita?

 

Isi

Cinta dari TUHAN telah diterima oleh Bangsa Israel. Sebenarnya, tak ada alasan yang cukup baik bagi TUHAN untuk memilih Israel, karena pada awalnya mereka hanyalah bangsa budak yang tak memiliki harapan apa-apa. Jelas, Israel terpilih bukan karena kekuatan mereka namun semata-mata hanya karena kasih karunia TUHAN, karena cinta TUHAN. Sebagai umat pilihan, mereka telah melihat dan merasakan penyertaan dan mujizat TUHAN. Namun, ternyata itu semua tidak menjadikan mereka sebagai umat milik TUHAN yang sempurna. Dalam sejarahnya, kita bisa melihat ketidakmampuan Israel untuk hidup dengan benar. Mereka bolak balik salah, bolak balik dosa da bolak balik melanggar hukum TUHAN. Karenanya, TUHAN pun berkali-kali memberikan peringatan dan bahkan penghukuman. Namun seberapa pun dalamnya Israel jatuh dalam dosa dan penghukuman, toh TUHAN tak pernah benar-benar meninggalkan mereka. Dalam bacaan pertama hari ini, kita bisa melihat bagaimana TUHAN sedang merestorasi Israel dengan cara menunjukkan kekalahan musuh Israel. Segera setelahnya, lalu dinubuatkanlah Mesias yang datang untuk menebarkan damai sampai seluruh bumi. Akhirnya, cinta lah yang akan menang.

CintaNya kepada tiap kita juga digemakan kembali oleh Kristus dalam bacaan Injil kita. Setelah menghardik pendengarNya yang selama ini berlaku bebal, Dia membuat undangan bagi tiap orang yang letih lesu untuk datang. Banyak penafsir yang menafsirkan keletihan dan kelesuan ini akibat lelahnya orang Yahudi untuk menaati Hukum Taurat. Jika pun demikian, menarik jika Yesus menyatakan tetap akan memberikan kuk, namun kuknya enak dan ringan. Kuk adalah sebuah kayu berbentuk unik yang dipasang di punggung ternak, agar si ternak bisa menarik atau mengangkat beban (bisa berupa kereta, mata bajak atau beban lainnya). Bagaimana mungkin ya ada kuk (beban) yang enak atau ringan? Sebagai orang yang tumbuh di keluarga tukang kayu, pastilah Dia tahu betul bahwa ada kuk yang melukai punggung ternak karena kuknya tidak pas dengan bentuk tubuhnya. Karena itulah, jadi masuk akal mengapa Yesus menyampaikan ini. MaksudNya ialah bahwa tiap orang yang datang padaNya, yang mengikutNya tak berarti lepas dari tanggung jawab. Tanggung jawabnya tetap, beban yang harus dipikul tetap. Namun yang membedakan adalah kuk itu telah dirancangNya dengan mempertimbangkan kekuatan masing-masing kita. Yang membedakan adalah kukNya tidak bermaksud untuk melukai kita. CintaNya juga ada dalam bentuk kuk!

Nah jika telah jelas cinta TUHAN untuk kita, pertanyaannya sekarang: apa respon kita pada pernyataan cintaNya? Paulus menyatakan, “syukur kepada Allah!” Meski pada dasarnya kita adalah manusia serba terbatas dan serba berdosa, cintaNya tak berubah. Dia tetap mengasihi kita, Dia tetap membebaskan kita dari kuasa dosa. Karena itu, respon yang paling tepat adalah tidak membiarkan cintaNya bertepuk sebelah tangan. Mari membalas cintaNya dengan segenap keberadaan diri yang utuh alias tak setengah-setengah.

 

Penutup

Cinta Tuhan kepada kita semata hanyalah karena anugerah. Karena itu, mari merespon cintaNya dengan menjadikan TUHAN sebagai pusat kehidupan kita. Mencintai TUHAN berarti juga mencintai sesama ciptaan. Selamat merespon cintaNya. Amin. (Rhe)

 

Nyanyian: KJ 353

 —

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Cinta (dhemen), tansah saged dados sumber inspirasi (pangatag) tumrap kathah prekawis. Salah satunggalipun nggih punika ngripta lelagon. Buktinipun kathah sanget lelagon ingkang isi cinta, salah satunggalipun lelagon punika (menawi saged prayogi juru khotbah mujekaken Ref lagu punika):

Oh Tuhan, ku cinta dia.
Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia.
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku.
Hanya padanya, untuk dia.

(Judul lagu: Dia, Penyanyi: Anji)
Saged kapirsanan ing https://www.youtube.com/watch?v=tL94s1dJTdQ

Lagu punika dados menarik boten namung karana gampil dipun nyanyekaken, nanging ugi nggambaraken cinta ingkang ngebet sanget. Cinta ingkang kebak raos sayang lan kangen. Sanes cinta ingkang sesidheman utawi isin-isin, nanging cinta ingkang kalairaken kanthi blaka suta, lan cinta ingkang ingkang milik. Lagu punika ugi nedahaken bilih cinta ndadosaken tetiyang dados punjering gesangipun.

Lelagon punika miwiti reraosan (khotbah) kita karana mbekta dhateng satunggaling pitakenan: sinten ingkang kita cintai lan dados punjering gesang kita?

 

Isi

Cinta (sih katresnan) saking Gusti sampun dipun tampeni dening bangsa Israel. Sejatosipun, boten wonten alesan ingkang sae menggahing Gusti supados milih Israel, karana wiwitanipun bangsa punika namung bangsa budhak ingkang boten nggadhahi pangajeng-ajeng punapa-punapa. Cetha, Israel kapilih boten karana kakiyatanipun, nanging namung karana sih kanugrahanipun Gusti, karana sih katresnanipun Gusti. Minangka bangsa pilihan, bangsa punika sampun ningali lan ngraosaken panganthi lan mukjijatipun Gusti. Ewasamanten, punika ndamel bangsa punika dados bangsa utawi umat kagunganipun Gusti ingkang sampurna. Saking sejarahipun, kita nyumurupi bilih Israel boten kwagang (saged) gesang kanthi leres. Bangsa punika wongsal-wangsul lepat, wongsal-wangsul damel dosa lan nerak pepakenipun Gusti. Pramila, wongsal-wangsul Gusti paring piweleh lan paukuman. Nadyan sepinten lebetinging Israel dhawah ing dosa lan ngalami paukuman, nanging Gusti boten negakaken bangsa punika. Ing waosan sepisan dinten punika, kita saged ningali kados pundi Gusti saweg merestorasi (ngewahi dados enggal) Israel kanthi nedahaken kalahing mengsahipun Israel. Lajeng tumunten, kaweca rawuhipun Sang Mesih ingkang nyebar tentrem rahayu ing salumahing bumi. Wusananipun, cinta ingkang badhe mimpang.

Sih katresnanipun Gusti Allah dhateng kita sadaya dipun kumandhangaken malih dening Sang Kristus ing waosan Injil kita. Bakda nundhung para pamiyarsa ingkang “ndableg”, Gusti ngundang para tiyang ingkang kesayahan lan kamomotan kinen sami sowan. Kathah juru tafsir Kitab Suci ingkang mastani kesayahan lan kamomotan punika jalaran anggenipun tiyang Yahudi kedah netepi hukum Toret. Menawi pancen makaten, estu elok dene Gusti Yesus taksih paring kuk (“pasangan” = momotan), nanging momotanipun punika sekeca lan entheng. “Pasangan” punika satunggaling kajeng ingkang kapasangaken ing pundhaking lembu utawi maesa supados saged mbateg (menarik) momotan (brujul, garu, utawi cikar). Kados pundi wonten “pasangan” (momotan) ingkang sekeca lan entheng? Minangka tiyang ingkang ageng ing kulawarga tukang kayu, Gusti Yesus mesthi pirsa wonten “pasangan” natoni pundhak karana boten pas kaliyan kawontenaning pundhakipun. Pramila limrah kenging punapa Gusti Yesus paring dhawuh makaten. Karsanipun, saben tiyang ingkang sowan dhumateng Panjenenganipun, ingkang ndherek Panjenenganipun boten ateges uwal saking tanggel jawab. Tanggel jawabipun panggah, momotan tetep kedah dipun pikul. Nanging ingkang benten, “pasangan” utawi momotan punika sampun karancang manut kekiyatan kita piyambak-piyambak. Ingkang mbentenaken nggih punika bilih “pasangan” utawi momotanipun sampun ngantos natoni kita. Sih katresnanipun ugi wonten ing wujuding “pasangan” utawi momotan punika.

Menawi sampun cetha bilih sih katresnanipun kagem kita, samangke pitakenanipun: kados pundi wangsulan kita dhateng kalairing sih katresnanipun Gusti? Rasul Paulus nglairaken “sokur konjuk Allah”. Nadyan dhasaripun kita punika manungsa ingkang sarwi winates lan sarwi dosa, sih katresnanipun Gusti boten ewah gingsir. Panjenenganipun tetep tresna dhateng kita, Panjenenganipun tetep nguwalaken kita saking rehing dosa. Pramila saking punika, wangsulan ingkang trep nggih punika sampun ngantos sih katresnanipun punika bertepuk sebelah tangan. Sumangga kita males sih katresnanipun kanthi sawetahing kawontenan kita, boten setengah-setengah.

 

Panutup

Sih katresnanipun Gusti dhateng kita namung karana kanugrahan. Pramila, sumangga kita wangsuli sih katresnanipun Gusti srana mapanaken Gusti minangka punjering gesang kita. Nresnani Gusti ateges ugi nresnani sasamining titah. Sugeng mangsuli sih katresnanipun Gusti. Amin. [terj. st]

 

Pamuji: KPK 250:1,3.

 

Bagikan Entri Ini: