Minggu Adven 2
Stola Ungu
Bacaan 1: Maleakhi 3:1-5.
Bacaan 2: Filipi 1:3-11.
Bacaan 3: Lukas 3:1-6.
Tema Liturgis: Terimalah Anugerah, Tuhan Segera Datang!.
Tema Khotbah: Hendaklah Kita Tetap Bertumbuh.
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah).
Maleakhi 3:1-5.
Ada dua utusan di ayat ini (1). Utusan yang pertama dipahami sebagai Yohanes Pembaptis (Mat.11:10; Luk.7:27) dan utusan yang kedua adalah Yesus, Sang Mesias. Kedua utusan tsb menurut Maleakhi bertugas menyiapkan jalan bagi Tuhan.
Proses memurnikan logam adalah dengan memanaskan logam kasar (bahan mentah) dengan api sampai meleleh (2-3). Kotoran (yang tidak murni) dipisahkan darinya, disaring, dan kemudian tinggal logam murni. Tanpa pemanasan dan pelelehan ini, tidak akan ada pemurnian. Logam murni akan mengeluarkan pancaran (reflektor). Demikian juga kita dimurnikan oleh Allah, pancaran-Nya dalam hidup kita akan menjadi lebih jelas bagi mereka yang berada di sekitar kita. Allah berfirman bahwa para pemimpin (disini para imam) seharusnya lebih membuka diri bagi proses pemurnian dalam hidup mereka. Sabun dan pemutih pakaian tukang penatu (laundry) juga digunakan sebagai simbol proses pemurnian.
Filipi 1:3-11.
Untuk pertama kali Paulus menggunakan kata sukacita dalam suratnya (4). Orang Filipi selalu diingat dengan sukacita dan syukur oleh Paulus, setiap kali ia berdoa. Dengan membantu Paulus, mereka terlibat dalam pekerjaan Kristus. Orang Filipi rela digunakan oleh Allah untuk apa saja yang Ia inginkan.
Ketika Paulus mengatakan bahwa orang Filipi berpartisipasi dalam memberitakan Injil, ia menunjuk kontribusi berharga mereka dalam meluaskan berita Injil (5). Mereka berkontribusi melalui bantuan praktis untuk Paulus ketika ia ada di Filipi, dan melalui dukungan finansial mereka ketika Paulus ada di penjara. Apabila kita berkontribusi atau mendukung para pendeta, guru Injil, pentau, dan diaken melalui doa, keramahan, dan finansial, maka kita menjadi mitra atau partner pelayanan mereka.
Allah telah mengawali karya yang baik di dalam diri kita dan di sekitar kita, Ia konsisten akan meneruskan/melanjutkannya di sepanjang umur hidup kita, dan akan berakhir ketika kita berjumpa dengan-Nya muka dengan muka, yakni pada hari kedatangan kembali Kristus Yesus (6). Karya Allah bagi kita mulai ketika Kristus mati di atas salib sebagai ganti kita. Karya-Nya di dalam diri kita mulai ketika kita pertama kali percaya. Sekarang Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, dan memungkinkan kita menjadi seperti Kristus setiap hari. Demikianlah Paulus menggambarkan proses pertumbuhan dan kedewasaan orang Kristen.
Mungkin kita, kadang-kadang, merasa seperti tidak ada progres/kemajuan dalam hidup spiritual kita! (6). Ketika Allah memulai suatu karya agung-Nya, Ia konsekwen dan konsisten untuk melengkapinya serta menyempurnakannya! Seperti halnya dengan orang Filipi, Allah akan menolong kita bertumbuh dalam anugerah sampai Ia menyempurnakan karya-Nya dalam hidup kita. Jangan kecil hati, sebab Allah tak ingin melepaskan apalagi mengorbankan kita. Ia berjanji untuk menyelesaikan karya yang telah Ia mulai. Jika kita merasa tak mampu, tak bisa merampungkan, atau kita dalam keadaan sulit dan bahaya, ingat janji dan ketetapan Allah. Jangan biarkan kondisi kekinian kita merampas kita dari sukacita mengenal Kristus atau teguhkan diri kita tetap bertumbuh semakin dekat pada-Nya.
Dimana pun Paulus berada, sekalipun di penjara, dengan kekuatan iman ia berkhotbah tentang Kabar Baik. Marilah kita mengingat teladan dari Paulus, yang memberikan semangat ketika rintangan-rintangan, baik kecil maupun besar, memperlambat karya kita bagi Allah.
Paulus rindu berjumpa dengan para orang Kristen di Filipi (7-8). Kasih dan sayang di antara mereka bukan hanya berdasarkan pengalaman masa lalu, tetapi juga pada semangat merasa ada kesatuan yang timbul ketika para orang percaya di Filipi membangkitkan kasih Kristus. Semua orang Kristen adalah bagian dari keluarga Allah, untuk itu berbagi merupakan bentuk transformasi kuasa kasih-Nya. Biarkan kasih Kristus memotivasi kita untuk mengasihi sesama dan mengekspresikan kasih itu dalam aksi-aksi nyata.
Seringkali cara terbaik untuk mendukung seseorang adalah dengan berdoa baginya (9). Doa Paulus bagi orang Filipi adalah agar mereka disatukan dalam kasih, dan agar kasih mereka dapat menghasilkan pengenalan yang lebih luas dan dalam tentang Kristus, dan agar mereka memiliki wawasan yang lebih dalam (ketajaman moral). Kasih mereka tidak didasarkan pada perasaan tetapi pada apa yang telah Kristus lakukan bagi mereka. Sebagaimana kita bertumbuh dalam kasih Kristus, maka hati dan pikiran kita harus bertumbuh bersama kasih Kristus itu. Apakah kasih dan wawasan kita bertumbuh?
Paulus berdoa agar para orang percaya di Filipi memiliki kemampuan ‘dapat memilih apa yang baik’; mampu membedakan apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang penting dan apa yang sepele (10). Kita harus berdoa bagi ketajaman moral agar kita dapat memelihara moral dan nilai ke-Kristenan kita (Baca Ibrani 5:14).
‘Hari Kristus’ menunjuk pada waktu ketika Allah akan mengadili dunia melalui Yesus Kristus (10). Kita sebaiknya hidup setiap hari dengan pikiran bahwa Ia dapat datang kembali di setiap saat.
‘Buah kebenaran’ merupakan ciri/karakter seseorang karena memiliki hubungan baik dengan Allah (11; Galatia 5:22-23).
Lukas 3:1-6.
Tiberius adalah Kaisar Romawi dan Pontius Pilatus adalah gubernur/wali negeri Romawi yang bertanggungjawab di provinsi Yudea. Herodes (Antipas) dan Filipus adalah anak-anak Herodes Agung yang lalim. Antipas, Filipus, Pilatus, dan Lisanias rupanya memiliki kekuatan yang sama dalam memerintah wilayah mereka masing-masing (1). Semua bertanggungjawab menjaga perdamaian di masing-masing daerah mereka.
Dibawah hukum Yahudi hanya ada satu Imam Besar. Ia ditunjuk dari keturunan Harun dan memegang posisinya seumur hidup. Waktu itu, sistem keagamaan adalah buruk/jahat dan pemerintah Romawi menunjuk para pemimpin agama untuk mengontrol bangsa Yahudi. Rupanya, penguasa Romawi memecat pilihan orang Yahudi yakni Hanas, dan menggantikannya dengan anak menantu Hanas, yakni Kayafas. Namun, Hanas mempertahankan status/posisinya (KPR 4:6) karena ada hak-hak istimewa yang dimilikinya. Karena orang Yahudi percaya bahwa jabatan sebagai Imam Besar itu untuk seumur hidup, maka mereka terus memanggil Hanas sebagai Imam Besar mereka (2).
Pilatus, Herodes, dan Kayafas adalah para pemimpin yang paling berkuasa/kuat di Palestina, tetapi mereka dikalahkan oleh seorang nabi padang gurun dari daerah pertanian Yudea. Allah memilih berbicara melalui seorang penyendiri, yaitu Yohanes Pembaptis, yang dalam sejarah tercatat sebagai lebih besar daripada para penguasa di zamannya. Kita sering menilai seseorang berdasarkan/menurut ukuran budaya kita, kekuatan, kemakmuran, ketampanan; namun kemudian kita kehilangan orang berkualitas, yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah untuk berkarya! Kebesaran tidak diukur oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh iman kita di dalam Allah. Seperti Yohanes, berikan diri kita menyatu dengan Allah supaya kuasa Allah dapat bekerja melalui kita.
Pertobatan memiliki dua sisi, yakni berbalik dari dosa dan kembali kepada Allah (3). Jika mau menjadi petobat sejati, kita harus melakukan keduanya. Kita jangan hanya berkata: saya percaya dan kemudian hidup bebas semau kita (3:7-8). Kita tak dapat hidup dengan moral benar tanpa memiliki hubungan/relasi secara pribadi dengan Allah. Pastikan diri, membersihkan hidup kita dari dosa, wujudkan, dan percayakan diri kita tetap dalam bimbingan-Nya.
Di zaman Yohanes, sebelum raja melakukan perjalanan, para utusan akan mengumumkan kepada rakyat bahwa raja berencana mengunjungi mereka, dan untuk itu mereka perlu menyiapkan jalan baginya (4-5). Sama, ketika Yohanes memberitahu para pendengarnya untuk membuat hidup mereka siap, agar Tuhan dapat datang kepada mereka. Menyiapkan kedatangan Tuhan Yesus berarti bahwa kita harus fokus pada-Nya, mendengarkan firman-Nya, dan merespon dengan patuh pada petunjuk-Nya.
Injil ini ditulis untuk orang bukan Yahudi (6). Lukas mengutip dari Yesaya untuk menunjukkan bahwa keselamatan adalah bagi semua orang/bangsa, tidak hanya bagi bangsa Yahudi saja (Yes.40:3-5; 52:10). Yohanes Pembaptis memanggil semua umat manusia untuk bersiap bertemu dengan Tuhan Yesus, termasuk kita. Jangan biarkan perasaan sebagai orang luar menghantui diri kita, supaya kita tidak selalu tertinggal. Tak seorangpun yang ingin mengikut Tuhan Yesus menjadi orang luar (outsider) di kerajaan Allah.
Benang Merah Tiga Bacaan
Para utusan Tuhan bertugas menyiapkan jalan bagi Tuhan Allah. Setiap orang percaya kepada Tuhan Yesus adalah para utusan-Nya. Agar fungsi sebagai utusan dapat berjalan dengan baik, maka dibutuhkan proses pemurnian diri. Mungkin proses tersebut menyakitkan (dipanaskan, dilelehkan, dst) agar diperoleh pancaran pribadi yang berkualitas baik untuk mengemban tugas mulia.
Pancaran tersebut nampak dalam kesediaan menjadi mitra atau partner, melalui kerelaan membantu, berkontribusi, dan berpartisipasi bagi pekerjaan Kristus yang didasari oleh sikap hidup yang penuh dengan sukacita dan syukur. Allah yang memulai pekerjaan yang baik di dalam diri kita, Ia melanjutkannya di sepanjang umur hidup kita, dan akan berakhir ketika kita berjumpa dengan-Nya muka dengan muka, yakni pada hari datangnya kembali Kristus Yesus.
Ada banyak orang memiliki kuasa, pengaruh, dan populer di zamannya, misalnya: Tiberius, Pontius Pilatus, Herodes (Antipas), Filipus, yang cukup efektif untuk mendukung karya Allah. Namun Allah memilih berbicara melalui seorang penyendiri, yaitu Yohanes Pembaptis, yang dalam sejarah tercatat sebagai lebih besar daripada para penguasa di zamannya.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silakan dikembangkan sesuai konteks jemaat).
Pendahuluan
Di Greja Kristen Jawi Wetan, khususnya di Jemaat-Jemaat dan di Majelis Daerah-Majelis Daerah kini ada Komisi Pembinaan Peranan Warga Adiyuswa dan disingkat menjadi KPPWAY. Jauh sebelum Komisi ini diadakan secara resmi oleh Majelis Agung GKJW, di Jemaat- Jemaat tertentu ada wadah pelayanan untuk warga adiyuswa dengan berbagai nama/sebutan, antara lain Kelompok Kerja Adiyuswa yang bernaung dibawah Komisi Pembinaan Pelayanan (KPP); ada Komisi Pelayanan Adiyuswa (bukan Komisi Pembinaan Adiyuswa). Mengapa menggunakan kata pelayanan dan tidak menggunakan kata pembinaan? Karena, sebagian warga adiyuswa di jemaat tersebut merasa bahwa dirinya sudah adiyuswa, tidak muda lagi, sehingga tidak perlu dibina! Mungkin maksudnya, mereka sudah punya banyak pengalaman, untuk apa dibina lagi?
Seorang ahli pendidikan mengatakan bahwa berapa pun usia seseorang (anak, remaja, pemuda, dewasa, dan bahkan yang sudah adiyuswa) membutuhkan tambahan pengetahuan (bisa melalui pembinaan) untuk dapat meng-up date dirinya, sehingga dapat hadir lebih kekinian (tidak ketinggalan zaman), dengan demikian kehadirannya membawa manfaat.
Ketiga bacaan kita membantu kita untuk dapat tetap bertumbuh, walaupun usia kita sudah tidak muda lagi.
Isi
‘Utusan Tuhan Allah’.
Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus adalah utusan-utusan-Nya, dengan tugas mempersiapkan jalan bagi Tuhan Allah. Setiap orang percaya kepada Tuhan Yesus adalah para utusan-Nya di zaman sekarang. Agar fungsi sebagai utusan dapat berjalan dengan baik dan agar semakin Nampak kemurnian visi serta motivasinya, maka dibutuhkan proses pemurnian diri, seperti halnya proses pemurnian logam. Mungkin proses tersebut menyakitkan (dipanaskan, dilelehkan, dst), namun hal itu bertujuan agar diperoleh pancaran pribadi yang berkualitas baik untuk mengemban tugas mulia.
Demikian juga kita dimurnikan oleh Allah, agar pancaran-Nya di dalam hidup kita akan menjadi lebih jelas/terang bagi mereka yang berada di sekitar kita. Allah berfirman bahwa para pemimpin (para imam) sebaiknya secara khusus membuka diri bagi proses pemurniannya dalam hidup mereka.
‘Sebagai mitra atau partner Tuhan Allah’.
Pancaran hidup orang percaya nampak dalam kesediaannya menjadi mitra atau partner Tuhan Allah, melalui kerelaannya membantu, berkontribusi, dan berpartisipasi bagi pekerjaan Kristus yang didasari oleh sikap hidup yang penuh dengan sukacita dan syukur. Seperti halnya orang percaya di Filipi, yang selalu diingat dengan sukacita dan syukur oleh Paulus, setiap kali ia berdoa, karena mereka membantu Paulus, dan mereka terlibat dalam pekerjaan Kristus, yakni memberitakan Injil (Kabar Baik). Orang Filipi rela digunakan oleh Tuhan Allah untuk apa saja yang Ia inginkan; mereka berkontribusi melalui bantuan praktis dan dukungan financial untuk Paulus, ketika ia ada di Filipi bahkan ketika Paulus ada di penjara. Apabila kita berkontribusi atau mendukung kegiatan dan pelayanan di gereja/jemaat melalui doa, keramahan, dan donasi finansial, maka kita telah menjadi mitra atau partner pelayanan yang Tuhan Allah kehendaki.
Allah yang memulai pekerjaan yang baik di dalam diri kita, Ia melanjutkannya di sepanjang umur hidup kita, dan akan berakhir ketika kita berjumpa dengan-Nya muka dengan muka, yakni pada hari datangnya kembali Kristus Yesus. Karya Tuhan Allah bagi kita dimulai ketika Kristus mati di atas salib sebagai ganti kita. Karya-Nya di dalam diri kita mulai ketika kita pertama kali percaya. Sekarang, Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, yang mendorong dan memungkinkan kita menjadi seperti Kristus setiap saat. Paulus menggambarkan bahwa proses pertumbuhan dan kedewasaan orang Kristen yang dimulai ketika kita menerima Tuhan Yesus dan berlangsung terus sampai Kristus datang kembali.
Kadang-kadang kita merasa seperti tidak ada progres atau kemajuan dalam hidup spiritual kita. Ingat, ketika Tuhan Allah memulai suatu proyek dalam hidup ini, Ia konsekwen dan konsisten untuk melengkapinya serta menyempurnakannya! Tuhan Allah akan menolong kita bertumbuh dalam anugerah sampai Ia menyempurnakan karya-Nya dalam hidup kita. Di saat kita lemah dan putus asa, Tuhan Allah tidak ingin melepaskan apalagi mengorbankan kita. Ia berjanji untuk menyelesaikan karya yang telah Ia mulai. Jika kita merasa tak mampu, tak bisa merampungkan, atau kita dalam keadaan sulit dan bahaya, ingat janji dan keteguhan Tuhan Allah memegang janji-Nya. Jangan biarkan kondisi semacam itu merampas kita dari sukacita mengenal Kristus dan teguhkan diri kita untuk tetap bertumbuh semakin dekat dengan-Nya. Di mana pun Paulus berada, sekalipun di penjara, dengan kekuatan iman ia tetap berkhotbah tentang Kabar Baik. Marilah kita mengingat teladan dari Paulus, yang memberi semangat kepada kita, ketika rintangan-rintangan, baik kecil maupun besar, mengganggu kegiatan pelayanan kita bagi Allah.
Semua orang Kristen adalah bagian dari keluarga Allah, untuk itu berbagi pengalaman iman merupakan bentuk transformasi kuasa kasih-Nya. Biarkan kasih Kristus memotivasi kita untuk mengasihi sesama dan mengekspresikan kasih itu dalam aksi-aksi nyata. Seringkali cara terbaik untuk mendukung seseorang adalah dengan berdoa baginya. Doa Paulus bagi orang Filipi adalah agar mereka disatukan dalam kasih, dan agar kasih mereka dapat menghasilkan pengenalan yang lebih luas dan dalam tentang Kristus, dan agar mereka memiliki wawasan yang lebih dalam (ketajaman moral). Kasih mereka tidak didasarkan pada perasaan tetapi pada apa yang telah Kristus lakukan bagi mereka. Sebagaimana kita bertumbuh dalam kasih Kristus, hati dan pikiran kita harus bertumbuh bersama kasih Kristus itu.
Paulus berdoa agar para orang percaya di Filipi akan ‘dapat memilih apa yang baik’; dengan kata lain bahwa mereka akan memiliki kemampuan untuk membedakan apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang penting dan apa yang sepele. Kita harus berdoa bagi ketajaman moral agar kita dapat memelihara moral dan nilai ke-Kristenan kita (Baca Ibrani 5:14).
‘Apakah kita dipilih-Nya?’.
Ada banyak orang memiliki kuasa, pengaruh, dan populer di zamannya, misalnya: Tiberius, Pontius Pilatus, Herodes (Antipas), dan Filipus. Sebenarnya, posisi mereka cukup efektif untuk mendukung karya Tuhan Allah.
Menurut tradisi dan hukum Yahudi hanya ada satu Imam Besar, yang ditunjuk dari keturunan Harun dan memegang posisinya sepanjang hidup. Waktu itu, sistem keagamaan adalah buruk/jahat dan pemerintah Romawi menunjuk para pemimpin agama untuk mengontrol/mengawasi bangsa Yahudi.
Pilatus, Herodes, dan Kayafas adalah para pemimpin yang paling berkuasa/kuat di Palestina, tapi mereka dikalahkan oleh seorang nabi padang gurun dari daerah pertanian Yudea. Allah memilih berbicara melalui seorang penyendiri, yaitu Yohanes Pembaptis, yang dalam sejarah tercatat sebagai lebih besar daripada para penguasa di zamannya. Kita sering menilai seseorang berdasarkan/menurut ukuran budaya kita, kekuatan, kemakmuran, ketampanan; namun hasilnya kita malah kehilangan orang berkualitas, yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah untuk berkarya! Kebesaran tidak diukur oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh iman kita di dalam Allah. Seperti Yohanes, beri diri kita menyatu dengan Allah supaya kuasa Allah dapat bekerja melalui kita.
Syarat untuk dapat memenuhi panggilan-Nya adalah dengan kesediaan meninggalkan dosa dan kembali kepada Allah. Pastikan diri kita hidup dengan moral benar dengan tetap memiliki hubungan/relasi secara pribadi dengan Allah, membersihkan hidup kita dari dosa, wujudkan, dan percayakan diri kita tetap dalam bimbingan-Nya.
Di zaman Yohanes, sebelum raja melakukan perjalanan, para utusan akan mengumumkan kepada rakyat bahwa raja berencana mengunjungi mereka, dan untuk itu mereka perlu menyiapkan jalan baginya. Dengan cara yang sama, ketika Yohanes memberitahu para pendengarnya untuk membuat hidup mereka siap, agar Tuhan Yesus dapat datang kepada mereka. Menyiapkan kedatangan Tuhan Yesus berarti bahwa kita harus fokus pada-Nya, mendengarkan Firman-Nya, dan merespon dengan patuh pada petunjuk-Nya. Tak seorangpun yang ingin mengikut Tuhan Yesus menjadi orang luar (outsider) di kerajaan Allah.
Penutup
Kita, para anak, remaja, pemuda, mahasiswa, dewasa, dan adiyuswa harus tetap bertumbuh! Untuk itulah kita membutuhkan hubungan yang semakin dekat dan akrab dengan Sang Sumber kehidupan, yaitu Allah. Amin.
Nyanyian : KJ. 309:1,2,3,4.
—
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Ing Greja Kristen Jawi Wetan, khususipun ing Pasamuwan-Pasamuwan lan ing Majelis Daerah-Majelis Daerah, ing samangke wonten Komisi Pembinaan Peranan Warga Adiyuswa lan dipun singkat dados KPPWAY. Tebih sakderengipun Komisi menika dipun bentuk sacara resmi dening Majelis Agung GKJW, ing Pasamuwan-Pasamuwan tartamtu wonten wadhah peladosan kangge warga adiyuswa kanthi maneka warni nami/sebutan, ing antawisipun ‘Kelompok Kerja Adiyuswa’ ingkang kabawah wonten Komisi Pembinaan Pelayanan (KPP); wonten ‘Komisi Pelayanan Adiyuswa’ (sanes Komisi Pembinaan Adiyuswa). Kenging menapa ngginakaken tembung pelayanan lan mboten ngginakaken tembung pembinaan? Sebab, sebageyan warga adiyuswa ing pasamuwan kasebat rumaos bilih dhirinipun sampun adiyuswa, mboten enem malih, pramila mboten perlu dipun bina! Mbok menawi maksudipun, sampun sami gadhah kathah pengalaman, lajeng kangge menapa dipun bina malih?
Satunggiling ahli pendidikan paring wawasan bilih umur pinten kemawon (anak, remaja, pemuda, diwasa, lan malah sampun adiyuswa pisan) mbetahaken tambahan seserepan/pengetahuan (saged lumantar pembinaan) kangge meng-up date dhirinipun, supados saged mapanaken dhirinipun langkung cocok (mboten ketinggalan zaman), kanthi mekaten dhirinipun saged dados pribadhi ingkang mbekta manfaat. Sabdanipun Gusti ing Kitab Suci menika mbantu kita supados saged tetep tuwuh ngrembaka, senadyan umur kita mboten enem malih.
Isi
‘Utusanipun Gusti Allah’.
Yokanan Pembaptis lan Gusti Yesus menika para utusanipun Gusti Allah, kanthi tugas nyawisaken margi kagem Panjenenganipun. Saben tiyang pitados dhumateng Gusti Yesus dados para utusanipun ing zaman samangke. Supados fungsi minangka utusan saged lumampah kanthi sae lan supados langkung ketingal kemurnian visi sarta motivasi-nipun, pramila dipun betahaken proses pemurnian dhiri, kados upaminipun proses pemurnian logam. Mungkin kemawon, proses kasebat ndadosaken raos sakit (dipanaskan, dilelehkan, lsp), ananging bab menika gadhah tujuwan supados angsal pancaran pribadi yang berkualitas baik untuk mengemban tugas mulia.
Mekaten ugi kita dipun proses kadadosaken murni dening Gusti Allah, supados pancaranipun Gusti Allah ing gesang kita badhe dados langkung cetha/terang kangge sok sintena ing sakiwa tengen kita. Gusti Allah dhawuh bilih para pemimpin (para imam) sacara khusus perlu mbikak dhiri kangge proses pemurnian ing salebeting gesangipun.
‘Dados mitra utawi partner-ipun Gusti Allah’.
Sunaring gesang tiyang pitados ketingal ing salebeting sami cumadhang dados mitra utawi partner-ipun Gusti Allah, lumantar raos rila mbantu, berkontribusi, lan berpartisipasi kangge pakaryanipun Sang Kristus ingkang dipun dhasari kanthi sikap gesang ingkang kebak raos bingah lan saos sokur. Kadosdene para tiyang pitados ing Filipi, ingkang tansah dipun engeti kanthi raos bingah lan saos sokur dening Paulus, ing saben wekdal piyambakipun ndedonga, sebab para tiyang Filipi sami atur pambiyantu kangge Paulus, lan sami tumut tandang damel ing pakaryanipun Sang Kristus, inggih menika martosaken Injil (Pawartos Rahayu). Para tiyang Filipi sami rila dipun agem dening Gusti Allah kangge menapa kemawon ingkang dipun kersakaken dening Panjenenganipun; sami berkontribusi lumantar bantuan praktis lan dukungan finansial kangge Paulus, rikala wonten ing Filipi malah rikala Paulus kakunjara. Menawi kita berkontribusi utawi mendukung kegiyatan lan peladosan ing greja/pasamuwan lumantar pandonga, grapyak-sumanak, lan donasi finansial, ing ngriku kita sampun dados mitra utawi partner peladosan ingkang dipun kersakaken dening Gusti Allah.
Gusti Allah sampun miwiti pakaryan adi ing dhiri kita, Panjenenganipun makarya terus lan nglajengaken ing sadanguning umur kita, lan badhe dipun pungkasi rikala kita pepanggihan kaliyan Panjenenganipun, muka dengan muka, inggih menika ing dinten rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih. Pakaryanipun Gusti Allah kangge kita kawiwitan rikala Sang Kristus seda ing kajeng salib minangka gantos kita. Pakaryanipun wonten ing dhiri kita kawiwitan rikala kita ing wiwitan manjing pitados. Samangke, Sang Roh Suci adedalem ing dhiri kita, ingkang ndhorong lan ndadosaken kita saged kados Gusti Yesus Kristus saben wekdal. Paulus nggambarkan bilih proses pertumbuhan lan kadiwasaan tiyang Kristen ingkang kawiwitan rikala kita nampi (manjing pitados) Gusti Yesus lan badhe terus kelampahan ngantos Sang Kristus rawuh malih.
Kadang-kadang kita rumaos kados mboten wonten progres utawi kemajengan ing babagan gesang rohani/spiritual kita. Enget, rikala Gusti Allah miwiti makarya ing pigesangan menika, Panjenenganipun konsekwen lan konsisten kangge njangkepi sarta nyampurnakaken! Gusti Allah badhe mitulungi kita bertumbuh dalam anugerah sampai Ia menyempurnakan karya-Nya dalam hidup kita. Ing wekdal kita lemah/ringkih lan putus asa, Gusti Allah mboten kepengin ngeculaken menapa malih ngorbanaken kita. Panjenenganipun aprajanji kangge ngrampungaken pakaryan ingkang sampun dipun wiwiti kalawau. Menawi kita rumaos mboten sanggup, mboten saged ngrampungaken, utawi kita ing salebeting kawontenan ewet/sulit lan ngadhepi bebaya, enget janji lan kemantebaning Gusti Allah netepi janjinipun. Sampun ngantos kawontenan mekaten menika malah ngrampas kita saking kabingahan tepang kaliyan Sang Kristus lan neguhaken dhiri kita kangge tetep tuwuh langkung raket kaliyan Panjenenganipun. Ing pundi kemawon, senadyan ing pakunjaran, kanthi kekiyatan imanipun Paulus tetep memucal/kotbah bab Pawartos Rahayu. Sumangga kita tansah enget dhateng tuladhanipun Paulus, ingkang maringi semangat kangge kita, ing wekdal maneka warni pakewet utawi alangan, sae ingkang alit dadosa ingkang ageng, ngganggu kegiyatan peladosan kita kagem Gusti Allah.
Sedaya tiyang Kristen dados bageyan brayatipun Gusti Allah, pramila mbagi pengalaman iman dados wujud transformasi pangwaos katresnanipun Gusti Allah. Kita aturi papan cekap supados katresnanipun Sang Kristus memotivasi kita kangge saged nresnani sesami lan wujudaken/mengekspresikan katresnan menika ing pakaryan nyoto. Asring, cara ingkang paling sae kangge nyengkuyung para sadherek/sesami inggih menika kanthi ndedonga. Pandonganipun Paulus kangge para sadherek Filipi inggih menika supados sami saged katunggilaken ing salebeting katresnan, lan supados katresnanipun saged ngasilaken pitepunganipun ingkang langkung jembar lan lebet bab Sang Kristus, lan supados sami nggadhahi wawasan ingkang langkung lebet (ketajaman moral). Katresnanipun para sadherek Filipi mboten adhedhasar perasaan ananging adhedhasar ing atase menapa ingkang sampun katindakaken dening Sang Kristus kangge para tiyang pitados ing Filipi. Kadosdene kita tuwuh wonten ing katresnanipun Sang Kristus, manah lan pikiran kita kedah tuwuh sesarengan kaliyan katresnanipun Sang Kristus menika.
Paulus ndedonga supados para tiyang pitados ing Filipi badhe ‘saged milih menapa ingkang sae’; ngangge tembung sanes bilih para tiyang pitados menika badhe nggadhahi kesagedan kangge mbedakaken menapa ingkang leres lan menapa ingkang lepat, menapa ingkang sae lan menapa ingkang awon, menapa ingkang penting lan menapa ingkang sepele. Kita kedah ndedonga kangge lantiping (ketajaman) moral supados kita saged njagi moral lan nilai ke-Kristenan kita (Maos Ibrani 5:14).
‘Menapa kita dipun pilih?’.
Kathah tiyang nggadhahi kuwaos, pengaruh, lan populer ing jamanipun, upaminipun: Tiberius, Pontius Pilatus, Herodes (Antipas), lan Filipus. Estunipun, posisinipun tiyang-tiyang menika cekap efektif kangge nyengkuyung pakaryanipun Gusti Allah.
Miturut tradhisi lan hukum Yahudi namung wonten setunggal Imam Agung, ingkang dipun pilih saking keturunanipun Harun lan nglenggahi posisinipun seumur hidup. Wekdal semanten, sistem keagamaan-ipun awon/jahat lan pemerintah Romawi milih/netepaken para pemimpin agami kangge ngontrol/ngawasi bangsa Yahudi.
Pilatus, Herodes, lan Kayafas menika para pemimpin ingkang paling kuwaos/kiyat ing Palestina, ananging para panguwaos menika dipun kawonaken dening satunggiling nabi ara-ara samun saking dhaerah pertanian Yudea. Gusti Allah milih paring dhawuh lantaran tiyang ingkang nyepi, inggih menika Yokanan Pembaptis, ingkang ing sejarah kacathet langkung pinunjul katandhing para panguwaos ing jamanipun. Kita asring mbiji tiyang adhedasar/miturut ukuran kabudayan kita, kekiyatan, kemakmuran, ketampanan; namung asilipun malah kita kecalan tiyang ingkang berkualitas, ingkang estunipun dipun kersakaken dening Gusti Allah kangge makarya! Kamulyan lan kaluhuran mboten dipun ukur dening menapa ingkang kita gadhahi, ananging karana iman kita dhumateng Gusti Allah. Kados Yokanan, kita perlu ngaturaken jiwa-raga kita nunggil kaliyan Gusti Allah supados pangwaosipun Gusti Allah saged makarya lumantar kita.
Syarat kangge saged ngestokaken timbalanipun Gusti Allah inggih menika klayan cumadhang/sumadya nilaraken dosa lan wangsul dhumateng Gusti Allah. Tetepa gesang kanthi moral ingkang leres/sae klayan tetep mbangun sesambetan sacara pribadi kaliyan Gusti Allah, ngresiki gesang kita saking dosa, mujudaken tekad kita, lan masrahaken dhiri kita tetep ing salebeting tuntunanipun.
Ing jamanipun Yokanan, saderengipun sang raja nindakaken patuwenan, para utusan langkung rumiyin ngumumaken dhateng rakyat bilih sang raja gadhah rencana nuweni rakyatipun, lan kangge menika rakyat perlu nyawisaken margi kangge sang raja. Kanthi cara ingkang sami, rikala Yokanan martosaken dhateng para tiyang kathah supados ugi sami tata-tata/ngawontenaken pacawisan, supados Gusti Yesus saged rawuh nuweni. Nyawisaken rawuhipun Gusti Yesus ateges bilih kita kedah fokus dhumateng Panjenenganipun, mirengaken Sabdanipun, lan merespon klayan patuh dhateng pitedahipun. Mboten wonten tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus dados tiyang njawi (outsider) ing Kratonipun Allah.
Panutup
Kita, para anak, remaja, pemuda, mahasiswa, diwasa, lan adiyuswa kedah tetep tuwuh ngrembaka! Kangge menika kita mbetahaken sesambetan ingkang langkung raket lan akrab kaliyan Sang Sumbering pigesangan, inggih menika Gusti Allah. Amin.
Pamuji: KPK. 174:1,2,3.