Bacaan 1: Zefanya 3:14-20
Bacaan 2: Filipi 4:4-7
Bacaan 3: Lukas 3:7-18
Tema Liturgi: Terimalah Anugerah, Tuhan Segera Datang !
Tema Khotbah: Bersukacitalah Dan Berbuahlah Oleh Pertobatanmu.
KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca diatas mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Zefanya 3:14-20
Kitab Zafanya adalah kitab nubuatan. Adapun isi nubuatan itu adalah adanya pemulihan bangsa Israel. Pemulihan yang dimaksud adalah pemulihan politik dimana bangsa Israel akan kembali dikumpulkan dan menduduki tanah perjanjian dan juga pemulihan sosial dimana bangsa Israel akan mengalami masa keemasan dengan menjalani kehidupan penuh damai sejahtera jauh dari berbagai ancaman. Pada saat kapan hal itu terjadi ? Ayat 15 memberikan jawaban yaitu saat Tuhan Allah sendiri menjadi Raja atas umat Israel. Pemerintahan Theokrasi dimana Tuhan sendiri yang menjadi pemimpin mereka itulah masa pemulihan terjadi. Namun sayangnya masa itu harus diawali oleh masa sengsara dan penghukuman. Aniaya dan bahkan penindasan yang dialami oleh umat Israel oleh bangsa-bangsa lain dianggap sebagai bagian pemurnian dirinya dan setelah itulah baru pemerintahan baru akan terwujud.
Adanya pengharapan pemulihan itulah maka ayat 14 merupakan seruan kepada bangsa Israel untuk bersukacita dengan sepenuh hati. Israel diminta untuk tidak gentar dengan musuh, tidak lagi ketakutan menghadapi siapapun sebab Tuhan Allah sendiri yang menjadi pemimpin Israel. Tuhan yang selama ini dianggap jauh dan bahkan meninggalkan umat Israel sehingga sebagai umat pilihan mereka harus mengalami siksa dan aniaya, oleh Zefanya justru digambarkan dekat dan ada bersama-sama dengan mereka. Tuhan Allah ada ditengah-tengah bangsa Israel dan yang selalu siap membela bangsa Israel dari berbagai ancaman musuh. Malapetaka akan diangkat dari antara bangsa itu sehingga bangsa Israel tidak pernah tertimpa petaka dan cela lagi (ayat 18).
Lebih dari pembelaan yang begitu luar biasa kepada umat Israel, Tuhan juga akan memulihkan keadaan bangsa itu yaitu menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan membalikkan keadaan orang yang selama ini mendapat malu menjadi pujaan dan tersohor diantara bangsa-bangsa (ayat 19-20). Sungguh kondisi yang berbalik dari kondisi yang dialami oleh umat Israel saat ini. Sebuah tatanan hidup baru dan dunia baru adalah pengharapan yang selalu menyemangati umat Israel untuk terus menjalani kehidupan mereka dipembuangan. Dan Zefanya memperdengarkan pengharapan iman itu.
Filipi 4:4-7
Paulus memberikan seruan kepada jemaat Filipi untuk senantiasa bersukacita. Adapun sukacita itu dilakukan di dalam Tuhan. Apa maksudnya bersukacita di dalam Tuhan? Jikalau dibaca pada ayat 6 maka bersukacita dalam Tuhan berarti menaruh segala sesuatu di dalam Tuhan melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Inilah yang menjadi kekuatan dalam menghadapi segala kekuatiran yang senantiasa ada dalam hidup. Dengan menaruh segala kekuatiran itu di dalam Tuhan maka tidak ada yang dapat menghalangi sukacita. Bahkan damai sejahtera Allah saja yang akan memenuhi kehidupan kita karena damai sejahtera Allah itulah yang akan menguasai hati dan pikiran kita.
Tentulah penggayatan dasar supaya dapat menaruh segala sesuatu di dalam Tuhan berangkat dari adanya pengakuan bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Bahkan kuasa Tuhan itu mampu melakukan segala sesuatu yang melampaui akal. Inilah iman, inilah keteguhan hati yang mebawa setiap orang dapat menjalani hidup penuh dengan sukacita. Dan orang yang bersukacita akan senantiasa melakukan kabaikan-kebaikan karena memang hatinya dipenuhi oleh kebaikan-kebaikan itu. Dan supaya kebaikan itu dapat diwujudkan dan tidak ditahan maka perlu sebuah “tekanan” yaitu yang disebut dengan waktu dan kesempatan. Semakin berfikir bahwa hanya tersisa sedikit waktu dan sedikit kesempatan maka semua orang akan berupaya melakukan segala kebaikan itu.
Lukas 3:7-18
Lukas 3 menceritakan tentang Yohanes Pembaptis. Dari penampilan dan gayanya memang dia terlihat nyleneh. Demikian dari gaya pengajaran, Yohanes sangat vulgar dan cenderung kasar. Bagaimana tidak? Ketika dia menyerukan pertobatan dan mengundang orang-orang untuk dibaptis, Yohanes menyebutkan secara umum mereka keturunan ular beludak (ay 7). Tidak hanya itu saja, bahkan Yohanes juga menyebutkan bahwa Allah sanggup menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu (ay 8). Ini pernyataan yang sangat kasar sekali dan mungkin saja sangat menyinggung semua orang yang mendengarkan. Apa dan siapa yang dimaksud dengan “keturunan ular beludak” dan “menjadikan anak-anak bagi Abram dari batu-batu ?
Lukas 3:7 tidak memberikan penjelasan tentang siapa yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai “keturunan ular beludak” namun jika kita menyelidiki dari cerita paralelnya dalam Matius maka dalam Matius 3:7 nampak jelas bahwa yang dimaksud adalah golongan Farisi dan Saduki. Dua kelompok yang selama ini terlihat religius namun penuh kepura-puraan. Dua sekte Yahudi yang ada pada saat itu yang kehidupannya yang kelihatan lebih kudus tetapi sebenarnya kekudusan itu hanya sebagai topeng atas motif-motif jahat lainnya. Jadi bisa disimpulkan bahwa yag dimaksud dengan “keturunan ular beludak” adalah mereka yang hidup dalam kepura-puraan atau yang hidupnya penuh dengan kepalsuan iman. Untuk orang yang demikian ini sering menyebut dirinya sebagai keturunan Abraham yaitu Bapa Orang Percaya dimana Allah mengikat perjanjian. Klaim sebagai keturunan Abraham adalah klaim kesombongan diri orang Farisi dan Saduki yang menganggap lebih dari orang lain. Dan melihat kepalsuan dan kepura-puraan hidup iman mereka itulah maka Yohanes dengan tegas menyebut bahwa mereka tidak layak disebut sebagai keturunan Bapa Abraham. Bahkan jika Tuhan berkehendak bukan golongan orang yang munafik ini yang menjadi keturunan Bapa Abraham tetapi batu-batu yang merupakan benda mati pun dapat dijadikan anak-anak Bapa Abraham.
Dari luapan teguran penuh dengan kemarahan kepada Farisi dan Saduki itulah kemudian Yohanes meneruskan dengan sebuah peringatan keras bahwa akan segera tiba saatnya bahwa ada masa penghakiman. Ukuran penghakiman itu adalah dari buah apa yang dihasilkan oleh manusia. Jika sebuah pohon hidup tetapi tidak menghasilkan buah apapun yang baik maka kapak sudah siap memotong dan membinasakan pohon itu serta pohon itu segera dibakar (ay 9). Pernyataan ini bernada menakut-nakuti sehingga memunculkan reaksi dari setiap orang yang mendengarkannya. Adapun respons tersebut diwakili oleh tiga kelompok. Tiga kelompok ini sebenarnya juga menjelaskan tentang kriteria berbuah supaya tidak mengalami kebinasaan. Adapun kriteria buah itu adalah: pertama, kesediaan peduli dan berbagi dengan orang lain (ay 11). Kedua, tidak bersikap rakus dalam mencari ekonomi yaitu dengan tidak memeras orang lain dengan meminta “pajak” yang melebihi tanggungan yang seharusnya dibayar orang lain (ay 13). Ketiga, tidak bertindak korup dengan mencukupkan diri dengan gaji yang di dapatnya serta tidak merampas milik orang lain (ay 14). Sebuah berita yang luar biasa. Semua wujud buah pertobatan tersebut adalah tanda kesiapan diri menyambut kedatangan Mesias yang kuasanya lebih besar dari Yohanes (ay 16-17).
BENANG MERAH ANTAR BACAAN
Pengharapan akhir jaman adalah pengharapan umat beriman kepada hadirnya Mesias. Dalam kedatangan Mesias pemulihan tatanan hidup terjadi dimana keadilan, kedamaian dan ketenteraman akan terwujud. Pada masa penantian ini umat diajak untuk tetap beriman dan berbuah dalam iman itu yaitu melakukan perubahan sikap hidup yang sesuai dengan tatanan kehidupan dimana Tuhan akan memulihkan kondisi umat manusia.
RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan. Sila dikembangkan sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Menanti membutuhkan kesabaran, menanti sering menjadikan kita jenuh karena melelahkan. Karena kelelahan itulah sering kita tidak waspada dalam saat penantian.
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus,
Hari ini kita memasuki minggu Advent yang ke-3 yaitu minggu dimana kita diajak kembali menaruh harapan akan kedatangan Tuhan ke dunia. Seruan bahwa Tuhan segera datang, merupakan seruan dan iman umat percaya sepanjang jaman. Sejak dulu kala bahkan sebelum Tuhan Yesus terlahir ke dunia. Namun mengapa sampai sekarang masih saja Tuhan belum datang? Mungkinkah kemudian kita meragukan pengharapan kita itu ?
Isi
Sangatlah wajar jikalau kita bertanya demikian sebab memang dari jaman bahulah sampai sekarang Tuhan belum juga kunjung datang. Bahkan mungkin kita juga tergoda untuk meragukan pengharapan kita itu. Akhirnya pasti kita akan tergoda meminta kepastian kapan datangnya Tuhan itu ? Kedatangan Tuhan sering juga diartikan sebagai hadirnya Kerajaan Allah. Dan ketika orang Farisi bertanya kepada Tuhan Yesus tentang kapan saatnya Kerajaan Allah itu akan datang ? Tuhan Yesus memberikan jawaban bahwa Kerajaan Allah akan datang tanpa tanda-tanda lahiriah (Lukas 17:20). Oleh sebab itulah tidak ada seorangpun yang tau dimana atau kapan Kerajaan Allah itu datang. Lalu apakah berarti bahwa Kerajaan Allah itu tidak akan terjadi ? Lukas 17: 21b menyebutkan demikian: “Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”
Jemaat yang dikasih Tuhan Yesus,
Jikalau kita kehilangan harapan hadirnya Kerajaan Allah karena memang tidak kunjung datang maka sebenarnya suasana putus asa itulah juga yang dialami bangsa Israel pada jaman nabi Zefanya. Karena beratnya kondisi hidup yang harus mengalami pembuangan, menjadi budak di negeri orang serta tidak pernah merasakan keistimewaan sebagai bangsa terpilih maka Israel kehilangan harapan akan datangnya Kerajaan Allah. Oleh sebab itulah Zafanya mengingatkan kembali bahwa Kerajaan Allah akan terjadi sebab memang Tuhan menjanjikan itu bagi umatnya. Tuhan sendiri yang akan memimpin dan menjadi pembela umat pilihan. Tidak akan dibiarkan penindasan dan aniaya dialami oleh umat pilihan karena memang Tuhan sendiri yang akan membela kehidupan bangsa Israel. Karena itu umat Israel diingatkan kembali jangan sampai kehilangan harapan sebab masa pemulihan itu akan terjadi dan pada masa itulah maka kejayaan dan tatanan kehidupan baru akan nyata bagi umat Israel. Kenamaan dan kejayaan akan menjadi milik mereka sehingga keutamaan umat pilihan akan dinyatakan.
Tentulah sama dengan pengharapan umat Israel itu demikian juga pengharapan kita tentang datangnya Kerajaan Allah dimana Allah sendiri yang akan menjadi Raja atas kehidupan dunia ini. Lalu disanalah tentu kita diajak kembali untuk memperbaiki diri dan mewujudkan kepemimpinan Allah dalam kehidupan ini. Kembali kepada Lukas 17: 21b bahwa Kerajaan Allah itu ada diantara kita. Artinya bahwa Kerajaan Allah itu tidak nanti yang akan datang, atau jauh disana dan kita sedang berjalan menuju ke sana. Kerajaan Allah ada diantara kita artinya itu sangat dekat dengan kehidupan dan keberadaan kita. Sangat dekat dan bergantung dari sikap kehidupan kita. Lalu sikap yang seperti apa yang dapat menghadirkan Kerajaan Allah ?
Injil Lukas 3 memberikan kunci sikap yang dapat menghadirkan nilai Kerajaan Allah yaitu hidup dalam ketulusan iman bukan dalam kepalsuan iman. Yohanes Pembaptis menyebut orang yang hidupnya penuh kepalsuan dan kepura-puraan adalah keturunan ular beludak. Mereka tidak mencermainkan sikap sebagai bangsa terpilih. Terlihat soleh dan kudus tetapi semua hanya pura-pura jelas bukan sebuah sikap umat terpilih yang adalah keturunan bapa orang percaya yaitu Abraham. Jikapun ada orang yang menyebut sebagai keturunan Abraham yaitu mengaku sebagai umat pilihan maka sesungguhnya Tuhan tidak pernah memilih yang demikian. Bahkan Tuhan pun akan memilih batu-batu untuk menjadi anak-anak Abraham daripada orang yang hidupnya dalam kepalsuan iman (ay7).
Bagaimana sikap hidup kita dalam menantikan datangnya Kerajaan Allah ?
Dalam menantikan datangnya Kerajaan Allah kita musti hidup yang menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan (ay 8). Pohon yang lebat tanpa buah akan dipotong dan dibakar. Demikian juga pertobatan adalah menumbuhkan iman namun tidak cukup hanya bertumbuh iman kita karena musti menghasilkan buah. Dan buah pertobatan itulah yang membawa kita mampu menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Untuk dapat berbuah maka pasti membutuhkan kesungguhan dalam melakukan pertobatan. Jika pertobatan dilakukan dengan kesungguhan maka buahnya akan nampak dalam sikap hidupnya sehari hari. Adapun sikap yang menampakkan buah pertobatan adalah:
- Peduli dan bersedia berbagi kepada orang lain (ay 11). Barang siapa mempunyai dua helai baju maka bagikanlah kepada orang yang tidak punya. Barangsiapa memiliki makanan maka musti juga berbagi kepada yang lain. Kepedulian dan kesediaan berbagi dengan orang lain yang memperpendek jarak kesenjangan sehingga tatanan hidup akan lebih baik, penderitaan terkikiskan. Di sinilah nilai-nilai Kerajaan Allah dapat hadir.
- Berkeadilan dalam perekonomian (ay 13) yaitu dengan cara tidak menagih lebih banyak dari yang seharusnya. Artiya bersikap jujur dengan cara kalaupun mengambil keuntungan janganlah kiranya keuntungan itu menjadikan orang lain mengalami penderitaan apalagi menjadikan orang lain tidak berdaya dan akhirnya terpenjara dalam utangnya. Konteks ayat 13 adalah pemungiut cukai yang mengambil pajak sehingga yang dimaksudkan tidak mengambil lebih dari yang ditentukan berarti janganlah sampai pajak itu memenjara wajib pajak sampai kemudian mengalami utang yang memberatkan. Apakah boleh ngemplang pajak ? Tentu saja sikap ngemplang juga bukanlah sikap yang dihasilkan dari sebuah pertobatan.
- Tidak bertindak korup dengan cara mencukupkan diri dengan gaji yang di dapatnya serta tidak merampas milik orang lain (ay 14). Moralitas korup bermula dari ketidakpuasannya pada apa yang diterima dan dimiliki. Ketamakan dan kerakusan menguasai kehidupan sehingga tega mengambil bahkan merampas yang bukan jatahnya. Penderitaan dan kesengsaraan akibat sikap korup adalah bagi banyak orang sehingga ketika korupsi itu dilakukan maka sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Karena itulah jangan bersikap korup bukan karena takut hukuman tetapi bersikaplah tidak korup karena memang itulah buah pertobatan kita.
Penutup
Akhirnya, sebagaimana Paulus meminta kepada jemaat Filipi marilah kita dalam menantikan Tuhan senantiasa: Bersukacitalah dalam Tuhan ! Jika kita hendak merayakan Natal rayakanlah dengan sukacita, jika kita hendak berpelayanan sebagai penatua dan diaken daur baru hendaklah bersukacita. Dan bersukacitalah karena memang kebaikan hati kita bukan karena berpura-pura. Bersukacitalah karena memang sukacita adalah hidup kita bukan karena kepalsuan. Dan jika sampai saat ini masih juga kita tidak bisa bersukacita maka ingatlah firman Tuhan ini:
6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Flipii 4:6-7 ITB)
Selamat bersukacita menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Amin (to2k).
Nyanyian : KJ. 121
—
RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi
Pambuka
Nganti-anti punika perangan pandamelan ingkang betahaken sifat sareh, awit nganti-anti asring dadosaken kita punika jenuh lan lungkrah. Awit kesayahan punika asring kita mboten waspada nalika nganti-anti.
Pasamuwan Kinasihipun Gusti Yesus,
Dinten punika kita lumebet ing Minggu Advent kaping tiga inggih punika dinten Minggu ingakng saweg ngajak kita sedaya tansah nganthi-anti rawuhipun Gusti ing alam donya. Gusti ingkang bade rawuh estunipun pangajeng –ajeng lan pangandelipun tiyang pitados ing saurute jaman. Wiwit mula buka ngantos sak mangke kita tansah nganti-anti rawuhipun Gusti. Malah sak dereng miyosipun Gusti Yesus pangajeng-ajeng punika sampun kawiwitan. Ananging kenging punapa ngantos sak mangek Gusti dereng rawuh ? Lajeng punapa kita sak mangke mangu-mangu bilih Gusti bade rawuh ?
Isi
Estunipun limrah bilih kita anggadahi pitakenan kados mekaten awit wiwit jaman kuna ngantos sak mangke Gusti kasebut bade rawuh nananging ngantos sak mangke wanci dereng rawuh. Malah kepara sak mangke kita mangu-mangu bab rawuhipun Gusti Allah punika. Pungkasanipun kita tamtu nyuwun bukti-nyata tumrap rawuhipun Gusti Allah. Rawuhipun Gusti Allah asring ugi dipun wastani kagelaripun Kraton allah ing bumi. Nalika golongan Farisi nyuwun pirsa dumateng Gusti Yesus tumrap wekdal kagelaripun Kratonipun Allah, Gusti Yesus paring wangsulan bilih rawuhipun Kratoning Allah punika tanpa pratanda tata lair (Lukas 17:20). Pramila mboten wonten satunggal piyantun ingkang saged nyumurupi wekdal dalah panggenan Kratoning Allah. Lajeng punapa punika ateges bilih Kratonipun Allah punika mboten wonten ? Lukas 17:21b paring dawuh makaten: “Amarga satemene Kratoning Allah iku ana ing antaramu.” Ataeges bilih Kratoning Allah punika nunggil kaliyan kita.
Pasamuwan kinasihipun Gusti,
Menawi kita koncatan pangajeng-ajeng tumrap rawuhipun Kratoning Allah awit sakwetawis wekdal dereng saged kawujud inggih kados makaten kahananipun bangsa Isarel nalika jamanipun nabi Zafanya. Awit kataman kahanan ingkang awrat inggih punika kedah gesang wonten ing negari manca, dados batur wonten ing manca sarta mboten ngraosaken berkahipun minangka bangsa pinilih, bangsa Isarel lajeng koncatan pangajeng-ajeng tumrap rawuhipun Kratoning Allah. Pramila nabi Zefanya paring pepiling dumateng sedaya bangsa Israel bilih Kratoning Allah punika tamtu kelaksanan awit Gusti Allah piyambak ingkang paring prajanji. Gusti Allah piyambak ingkang badhe dados rajanipun bnagsa punika ingkang tansah lelabuh dumateng bangsa punika. Tamtu boten bade dipun tegakaken bangsa punika, bangasa Israel boten bade dipun tindes lan dipun tumpes dening bangsa sanes bilih Gusti Allah ingkang jumeneng raja. Pramila Zafanya sami nyuwun dumateng sedaya umat supados mboten koncatan pangajeng-ajeng awit sedaya kahanan ingkang awart sak mangke badhe dipun luwari. Ing titi-wanci punika bangsa Isarel badhe nampi kamulyan lan kawisesan.
Kados dene pangajeng-ajengipun bangsa Israel punika ugi makaten pangajeng-ajeng kita tumrap Kratoning Allah. Pramila kita dipun emutaken malih kaliyan Lukas 17:21b kala wau bilih Kratoning Allah punika dumunung wonten ing manah kita inggih punika nunggil kaliyan gesang kita sakmangke. Kratoning Allah sanes mangke utawi wonten panggenan ingkang tebih saking kita ananging kratoning Allah punika nunggil kaliyan gesangipun umat pinilih. Kados pundi gesang ingkang estu mujudaken kagelaripun Kratoning Allah ?
Injil Lukas 3 paring dawuh bilih gesang kita kedah nandukkan pratanda lairipun Kratoning Allah srana gesang kanti tulus ing pangandel. Yokanan Pambaptis nyebat bilih tiyang ingkang gesang kapitadosanipun mboten estu lan tulus kados dene tetesanipun ula bedhudak. Gesang ingkang kados punika sanes gesangipun para umat pinilih ingkang kawastanan trahipun Rama Abraham. Malah Gusti Allah langkung milih dadosaken sela-sela ingkang dados putranipun Rama Abraham tinimbang para manungsa ingkang gesang pangandelipun mboten setya tuhu lan tulus (ay 7).
Kados pundi anggen kita nganti-anti rawuhipun Gusti ?
Anggen kita nganti-anti rawuhipun Kratoning Allah, kita kedah nuwuhaken woh tumrap pamratobat kita (ay 8). Wit ingkang tuwuh gembruyung tanpa woh badhe dipun sedani lan dipun bong. Makaten ugi bilih pamratobating gesang kita anamung nuwuhaken iman ananging iman punika mboten saged ngedalaken woh tamtu iman kita punika mboten migunani. Wujudipun wohipun pamratobat punika ingkang nedahaken pratandaning kagelaring Kratonipun Allah. Pramila pamratobat kita punika kedah estu lan kanthi tulus mboten menda-menda kemawon. Lan geang ingkang medalaken woh pamratobat punika:
- Geang ingkang sumedya peduli lan kersa weweh dateng tiyang sanes. Tiyang ingkang kagungan rasukan kalih kedah kersa andum kaliyan tiyang ingkang mboten nggadah. Sinten ingkang kagungan daharan kedah kersa weweh dumateng tiyang keluwen. Raos peduli lan sumedya paweweh punika andadosaken tiyang ingkang sugih kalian ingkang mlarat saged rukun mboten sansaya nindes lan nyiksa. Bilih pigesangan sesrawungan saged makaten tamtu gesang sesrawungan punika saged kalampahan kanthi sae. Lan menawi gesang sesarengan kelampahan kanthi sae tamtu pratanda kagelaripun Kratoning Allah kelampahan wonten ing gesang kita.
- Perekoniman ingkang adil (ay 13) inggih punika kanthi tatacara mboten nindes tiyang sanes srana dana awit kita jujur. Tegesipun, menwi kita mundat untung ingkang nglangkungi sak mestinipun saking dana, kita kedah tansah adil mboten andadosaken dana punika sarana nindes tiyang sanes. Wanci ayat 13 punika gegayutan kaliyan pajak ingkang dipun pundut dening juru mupubeya pramila ayat punika ngemu teges bilih pajak punika kedah dipun lampahi kanthi jujur mboten dados momotan punapa malih nindes penduduk. Punapa pareng mboten mbayar pajek? Tamtu mboten mbayar kewajiban punika ugi sanes lelampahamipun gesang ingkang tuwuh saking pitobatan ingkang estu.
- Gesang kanti jujur mboten korupsi inggih punika srana narima kaliyan asil ingkang kita tampi lan mboten ngrampok kagunganipun liyan (ay 14). Geang ingkang korupsi punika awit mboten saged nglampahi gesang ingkang narima lanjeng kraos kurang lan ngrampas kagungan liyan. Korupsi punika dadosaken sengsaranipun liyan lan punika estu tebih kaliyan pratanda Kratining Allah. Pramila bilih kita boten korupsi sampun ngantos krana ajrih dipun ukum ananging bilih kita mboten korupsi awit kita sumedya muwujdaken who pitobatan ingkang estu.
Panutup
Pungkasanipun, kados dene Paulus ingkang tansah nyuwun dumateng pasamuwan Filipi supados tansah sukabingah ing dalem Gusti Allah maketen ugi kita ingkang nganthi-anti rawuhipun Gusti Allah sumangga kita anthi kanti suka-bingah. Bilih kita badhe mahargya riyadi wiyosipun Gusti Yesus, sumangga kita mahargya kanthi sukabingah. Menawi kita bade lelados minangka penatua daur enggal, sumangga kita lelados kanthi sukabingah. Sumangga sami bingah-bingah awit wanci gesang kita punika geang ingkang kebak ing sukabingah kanti estu-estu. Lan menawi kita taksih pambengan ingkang dadosaken koncatan sukabingah, sumannga emut dawuhipun rasul Paulus wonten ing Filipi 4:6-7 (dipun waos). Wilujeng bingah-bingan dugeng rawuhipun Kratoning Allah. Amin.
Pamuji: KPK. 172:1,4