Khotbah Minggu 8 Oktober 2017

MINGGU BIASA
STOLA  PUTIH

 

Bacaan 1         : Yesaya 5:1-7
Bacaan 2         : Filipi 3:4-14
Bacaan 3         : Matius 21:33-46

Tema Liturgis  : “Ketaatan Membangun Persekutuan”
Tema Khotbah : “Saling Belajar Dalam Persekutuan”

 

Keterangan Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 5:1-7

Yesaya menggambarkan bagaimana pemilik kebun anggur ini benar-benar melakukan persiapan yang cermat supaya kebun anggur itu dapat menghasilkan buah-buah yang baik. Ia memagar kebun anggurnya dan membangun menara jaga serta lobang tempat memeras anggur di dalamnya, menunjukkan bahwa dia ingin mendapatkan hasilnya untuk waktu yang lama, dia ingin memuaskan dirinya dengan hasil usahanya terhadap kebun anggurnya itu. Namun sayang sekali, semua karyanya itu sia-sia; anggur yang dianggap terbaik itu justru mengecewakan Dia. Disebutkan bahwa kebun itu ternyata menghasilkan buah anggur yang asam. Buah anggur yang asam seperti ini biasanya terdapat di hutan belantara, tidak terurus, tidak terawat, atau dengan kata lain anggur liar. Di ayat 7 ditegaskan bahwa kebun anggur TUHAN yang dimaksud dalam teks ini adalah kaum Israel, dan tanaman-tanaman kegemaran-Nya adalah orang Yehuda, sedangkan pemilik kebun anggur itu adalah TUHAN. Nyanyian perumpamaan ini hendak menggambarkan bagaimana bangsa Israel dan Yehuda telah dipelihara oleh TUHAN Allah, bahkan sejak zaman leluhur mereka, sayang sekali mereka justru menghasilkan buah-buah yang mengecewakan Allah. Ibarat pepatah “air susu dibalas dengan air tuba”, atau “ibarat kacang lupa akan kulitnya”. Hal ini jelas terlihat misalnya di Yesaya 1:3 “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.”

Apakah anggur yang mengecewakan ini dibiarkan begitu saja dalam keasamannya? Tidak! Dijelaskan kemudian apa yang akan dilakukan oleh sang pemilik bagi kebun anggurnya yang mengecewakan itu. Dia akan berhenti melindunginya dan membiarkannya serta menyerahkannya kepada musuh-musuhnya. Dia tidak akan menempatkan lagi pekerja di dalamnya dan bahkan dia akan berhenti menyediakan kebutuhan kebun itu sehingga tidak bisa lagi berkembang. Dia malah akan mendorongnya jatuh ke dalam kehancuran. Hal ini sejajar dengan pengamatan nabi Yehezkiel, yaitu bahwa jika pohon anggur tidak menghasilkan buah, maka lebih baik ia dibuang karena tidak ada artinya lagi (Yeh 15: 2-5; bnd. Yohanes 15:6). Itulah yang terjadi dengan bangsa Israel dan Yehuda beberapa tahun kemudian, mereka dibiarkan oleh Allah jatuh ke tangan musuh-musuhnya, hidup dalam ketidaktenteraman, kehancuran dan perpecahan di mana-mana (3:25), sampai kejatuhan Samaria pada hingga mereka dibuang ke Babel.

Walaupun mungkin terdengar mengejutkan bagi para pendengarnya (yaitu bangsa Israel), namun ayat ini dengan secara terang benderang menyebutkan apa dan siapa yang dimaksud oleh Yesaya dalam nyanyian perumpamaannya tersebut. Kekasihnya dan pemilik kebun anggur itu adalah TUHAN semesta alam; kebun anggur itu Israel, dan Yehuda adalah tanaman-tanaman kegemarannya.

Buah yang baik yang dicari Tuhan adalah keadilan (meluruskan yang salah; Ibr: mishpat) dan kebenaran (relasi yang benar; Ibr: tsedaqah), tetapi buah yang dihasilkan justru buah yang tidak baik, yaitu kelaliman atau penindasan (mengakibatkan kesalahan, Ibr: mispakh) dan keonaran atau kekerasan (hubungan yang salah, Ibr: Tse’aqah, lih. Yes. 60:21; 61:3). Yesaya dengan sengaja mengkontraskan ini dengan kuat, supaya umat TUHAN langsung membandingkannya.

Filipi 3:4-14

Paulus memberikan sebuah kesaksian tentang siapa dirinya sebelum dan sesudah mengenal Kristus. Banyak hal yang bisa dia banggakan jika menilik latar belakang dirinya dan itu semua didaftarnya pada ayat 4b-6. Namun setelah perkenalan atau perjumpaannya dengan Kristus, semua yang dapat dibanggakannya dianggapnya sebagai hal yang lalu, hal yang tidak ada artinya. Dan cukup menarik jika kita simak, Paulus tidak merasa diri cukup bahkan puas atas “capaiannya” dalam hal pengenalan akan Kristus. Dia merasa perlu untuk terus berjuang mengupayakan pengenalan yang mendalam akan Kristus yang diimaninya.

Matius 21:33-46

Bacaan ini merupakan bagian dari pengajaran Yesus dimana diantara pendengarnya ada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Melalui perumpamaan yang disampaikanNya,  Yesus mengajak para pendengarnya untuk berefleksi bahwa:

  1. Seringkali mereka menjadi orang-orang yang tak tahu terima kasih, sama seperti para penggarap kebun anggur itu.
  2. Seringkali mereka menjadi orang-orang yang tidak mau memberikan apa yang menjadi hak dari Allah, sama seperti para penggarap kebun anggur itu tak mau memberikan apa yang menjadi hak dari pemilik kebun anggur.

Hal yang lebih ironis juga digambarkan oleh Yesus:

  1. Para penggarap kebun itu menyiksa dan membunuh hamba-hamba dari pemilik kebun; ini menggambarkan orang-orang Yahudi yang membunuh nabi-nabi atau hamba-hamba Tuhan (ay 35-36 bdk. Kis 7:51-52).
  2. Para penggarap membunuh anak pemilik kebun; ini menggambarkan orang-orang Yahudi akan membunuh Yesus (ay 37-38). Ay 40-41 sekaligus memberikan peringatan kepada mereka yang akan membunuh Yesus.

Hal yang cukup menarik dari bagian ini adalah sebuah kenyataan bahwa kesabaran dari pemilik kebun anggur itu menggambarkan kesabaran Tuhan! Tetapi bagaimanapun perlu diingat bahwa kesabaran itu ada batasnya (ay 40-41 bdk. Ro 2:4-5).

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Tuhan senantiasa mengusahakan yang terbaik bagi umatNya. Akan tetapi seringkali umat Tuhan jauh dari apa yang dikehendakiNya. Sikap merasa diri baik, sempurna, terpilih adalah sikap yang menghambat terwujudnya kehendak Tuhan dalam hidup umatNya. Sebaliknya sikap yang rendah hati, tidak cepat berpuas diri atas pengenalan kepada Tuhan serta kemauan untuk terus belajar dari sesama akan membuka jalan terwujudnya kehendak Tuhan dalam hidup umatNya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan…bisa dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Teringat sebuah ilustrasi tentang orang kaya baru karena mendapat hadiah sebuah kuis. Hal itu mengubah dirinya yang dahulu lugu menjadi belagu (sok). Sikapnya yang belagu menjadikan dia dipermalukan saat dia berada di sebuah restoran besar karena salah memesan makanan dari daftar menu yang semuanya mencantumkan istilah asing. Dia salah memesan makanan karena enggan bertanya, enggan dianggap ndeso. Akibatnya yang dia pesan dari buku menu itu hanyalah acar dan sambal.

Isi

Dalam kehidupan ini seringkali kita menganggap diri baik dan benar. Anggapan seperti itu seringkali membuat kita menjadi orang yang akhirnya hanya “bermain-main” dengan cara pandang dan cara pikir kita sendiri. Perumpamaan yang disampaikan Yesus sangat jelas memberikan gambaran bahwa penggarap-penggarap kebun anggur itu hanya memikirkan diri sendiri dan berpikir tentang bagaimana mencari untung besar dengan cara mereka sendiri.

Akibat dari cara pandang dan cara pikir yang hanya pada diri sendiri itu membuat segala perilaku atau perbuatan orang menjadi jauh dari kehendak Tuhan. Kehidupan orang percaya yang sedianya diharapkan membuahkan hal-hal baik justru sebaliknya membuahkan hal-hal yang tidak baik. Ironisnya, ketika Tuhan mengingatkan melalui berbagai peristiwa kehidupan sikap yang timbul justru keras hati sebagaimana sikap imam-imam kepala dan orang-orang Farisi yang mendengar  pengajaran Yesus (Mat 21:45-46).

Lantas seperti apakah sikap yang seharusnya kita kembangkan? Bacaan kita yang kedua memberikan contoh sikap yang baik bagi kita. Paulus sebenarnya sangat bisa berbangga dengan kehidupannya yang dulu. Tetapi sejak pengenalannya akan Kristus, apa yang dulu bisa dibanggakan dianggapnya bukan apa-apa lagi. Bahkan kini, setelah mengenal Kristus, Paulus menjadi orang yang tidak mudah berbangga dan berpuas diri. Dia menjadi orang yang merasa perlu untuk terus belajar dan mendalami apa yang telah diketahuinya, terutama tentang Kristus.

Penutup

Bagi kita yang sedang dalam bulan ekumene, firman Tuhan kali ini mengingatkan kepada kita semua untuk taat membangun persekutuan. Melalui persekutuan yang kita bangun, kita bisa belajar dari sesama kita. Belajar dalam hal pengenalan akan Tuhan dan belajar dalam hal mewujudkan kehendakNya. Marilah kita mengembangkan sikap kebersamaan dan saling belajar. Sehingga kerinduan Tuhan bahwa umatNya dapat menghasilkan buah-buah yang baik dalam kehidupan yang memprihatinkan ini akan terwujud dalam kehidupan beriman, bergereja dan berekumene kita. [Abed]

Nyanyian: KJ 400:1-4


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Enget satunggaling cariyos bab tiyang sugih dadakan karana pikantuk hadiah kuis. Punika ngewahi lagak lagunipun tiyang punika. Swaunipun namung lugu, samangke dados belagu (ketingal sombong). Patrapipun ingkang belagu njalari piyambakipun kisinan nalika saweg wonten ing satunggaling resoran ageng karana klintu mesen dhaharan ingkang wonten ing buku daftar menu ingkang sedayanipun mawi basa Inggris. Piyambakipun boten purun pitaken -supados boten ketingal ndesa- nanging tundhonipun klintu ingkang dipun pesen. Temahan ingkang dipun pesen saking daftar menu namung acar kaliyan sambel.

Isi

Ing pigesangan punika kita asring nganggep dhiri kita punika sae lan leres. Panganggep kados makaten punika asring njalari kita dados tiyang ingkang namung “dolanan” srana pamawas lan penggalih kita piyambak. Pasemon ingkang dipun wulangaken dening Gusti Yesus cetha maringi gegambaran bilih para penggarap kebon anggur punika namung mikiraken dhiri pribadinipun lan mikir kados pundi caranipun pados kauntungan ageng srana caranipun piyambak.

Pamawas lan penggalih ingkang namung tumuju dhateng dhiri pribadi punika njalari patrap lan tumindak ingkang tebih saking karsanipun Gusti. Pigesanganipun tiyang pitados ingkang dipun kersakaken ngedalaken woh ingkang sae, malah kosokwangsulipun nuwuhaken woh ingkang boten sae. Elokipun, sareng Gusti ngengetaken lumantar warni-warnining lelampahan, sikepipun malah mangkotaken manah kados dene para imam lan tiyang-tiyang Farisi ingkang mirengaken piwulangipun Gusti Yesus (Mat. 21: 45-46).

Lajeng sikep utawi sipat kados pundi ingkang kedahipun dipun tuwuhaken? Waosan 2 paring conto sikep ingkang sae kangge kita. Paulus sejatosipun saged rumaos bangga kaliyan gesangipun rumiyin. Nanging sareng tepang kaliyan Sang Kristus, punapa ingkang rumiyin dipun andelaken samangke boten wonten ajinipun malih. Malah samangke dados tiyang ingkang boten gampil berbangga dan berpuas diri. Piyambakipun dados tiyang ingkang rumaos prelu terus sinau lan nggegilut punapa ingkang sampun dipun sumurupi, mliginipun bab Sang Kristus.

Panutup

Tumrap kita ingkang saweg wonten ing wulan ekumene punika, sabdanipun Gusti dinten punika ngengetaken kita sedaya supados kanthi pambangun turut mbangun patunggilan. Lumantar patunggilan ingkang kita bangun, kita saged sinau saking sesami kita. Sinau saya tepang kaliyan Gusti lan sinau mujudaken karsanipun Gusti. Sumangga kita nuwuhaken sikep lan patrap patunggilan lan sami sinau satunggal lan satunggalipun. Kanthi makaten, idham-idhamanipun Gusti bilih umatipun saged ngedalaken woh ingkang sae wonten pigesangan ingkang mrihatosaken punika badhe kasembadan ing pigesangan anggen kita pitados, masamuwan lan ekumene. Amin. [terj. st]

Pamuji: KPK 318: 1,3.

 

Bagikan Entri Ini: