Minggu Biasa | Bulan Budaya
Stola Hijau
Bacaan 1: Amos 5 : 18 – 24
Mazmur: Mazmur 70
Bacaan 2: 1 Tesalonika 4 : 13 – 18
Bacaan 3: Matius 25 : 1 – 13
Tema Liturgis: Mawas Diri
Tema Khotbah: Menanti Kedatangan Tuhan
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Amos 5 : 18 – 24
Pemahaman bangsa Israel di zaman nabi Amos, Hari Tuhan adalah hari yang dinanti-nantikan dan mendatangkan kelegaan. Mengapa demikian? Karena di hari itulah Tuhan Allah akan menyatakan kekuasaan-Nya dan membela Israel dari semua musuh mereka. Karena itulah mereka menginginkan agar hari Tuhan segera datang (Ay. 18). Keinginan mereka ini didasarkan pada pemahaman yang mereka miliki karena mereka merasa rajin dan setia melakukan berbagai ritus atau tata cara keagaaman dalam peribadahan. Mereka menyangka bahwa dengan apa yang mereka lakukan menjadikan Tuhan Allah berpihak kepada mereka. Namun, Amos memberitakan bahwa Tuhan Allah justru membenci ibadah mereka (Ay. 21-23), yang disertai dengan aksi penindasan terhadap orang-orang yang lemah. Walaupun Israel beribadah kepada Allah, namun mereka tidak ingin meninggalkan patung-patung dewa yang mereka sembah (Ay. 26). Padahal, Tuhan Allah lebih menghendaki supaya keadilan ditegakkan (Ay. 24), kehidupan umat menunjukkan kebenaran dan keadilan. Oleh karena itulah, hari Tuhan takkan sama dengan yang disangka Israel, karena justru akan mendatangkan celaka dan penghukuman (Ay. 18, 27).
1 Tesalonika 4 : 13 – 18
Perikop ini berbicara tentang pergumulan jemaat di Tesalonika berkaitan dengan berita tentang kedatangan Tuhan Yesus. Bagi orang-orang yang masih hidup, mereka bisa menyambut kedatangan Tuhan Yesus dan bisa merasakan persekutuan dengan Tuhan Yesus. Namun, bagaimana dengan keberadaan orang-orang yang sudah meninggal sebelum kedatangan Tuhan Yesus. Apakah mereka juga akan merasakan persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus? Situasi ini mendatangkan kesedihan bagi orang-orang yang mengingat mereka yang terlebih dahulu meninggal. Hal ini menunjukkan kepada kita betapa dekat dan akrabnya persekutuan di antara setiap orang yang mengaku beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Sehingga menjadikan setiap orang menghayati bahwa mereka akan selalu hidup bersama dalam persekutuan. Bahkan kematian tidak akan memisahkan mereka.
Dalam situasi yang demikian Rasul Paulus memberikan pengertian bahwa mereka yang telah meninggal dalam imannya kepada Tuhan Yesus Kristus akan bangkit (Ay. 16) dan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia (Ay. 14). Meski demikian bagaimana wujudnya persekutuan yang terjadi sesudah kematian tidak dijelaskan oleh Paulus. Paulus berharap penjelasannya ini bukan hanya menjadi penghiburan, melainkan juga bisa menjadikan orang beriman di Tesalonika tetap semangat dalam menghayati dan mewujudkan persekutuannya sebagai sesama orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Sehingga di antara mereka itu, mereka bisa saling menghibur, saling tolong menolong, dan saling menguatkan.
Matius 25 : 1 – 13
Manantikan kedatangan Tuhan kembali adalah salah satu hal yang tidak mudah untuk dijalani karena waktu kedatangan Tuhan kembali adalah sebuah misteri. Tidak seorang pun dapat mengetahui dengan pasti waktu kedatangan-Nya. Ketidakpastian tersebut tidak jarang membuat setiap orang terlena dan tidak siap menyambut kedatangan-Nya kembali. Hal ini diajarkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan mengenai gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh (Mat. 25:1-13).
Kesepuluh gadis tersebut diceritakan sedang menunggu kedatangan mempelai. Mereka diharapkan dapat menyongsong kedatangan mempelai pria dengan pelita mereka. Sayangnya, mempelai pria tidak kunjung datang. Kondisi yang tidak dapat diprediksi ini kemudian menjadikan kesepuluh gadis itu harus menunggu dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Hingga pada akhirnya di antara sepuluh gadis tersebut terbagi menjadi dua kelompok. Hal yang membedakan di antara kedua kelompok gadis itu adalah gadis-gadis yang bijaksana mempersiapkan diri mereka dengan baik. Mereka mempersiapkan minyak untuk pelita mereka. Sedangkan gadis-gadis yang bodoh tidak mempersiapkan minyak untuk pelita mereka. Pada akhirnya, gadis-gadis yang bijaksanalah yang dapat masuk ke ruang perjamuan kawin. Sedangkan gadis-gadis yang bodoh ditolak untuk memasuki ruang perjamuan kawin. Perumpamaan ini mengajak orang-orang yang beriman kepada Tuhan Yesus tetap fokus menyambut kedatangan Tuhan dengan setia berjaga-jaga dan aktif melakukan sesuatu agar bisa menikmati kegembiraan dalam persekutuan dengan Tuhan.
Perumpamaan ini mengajarkan bahwa dalam menanti kedatangan Tuhan semua orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus harus selalu memelihara imannya. Bentuk pemeliharaan iman itu dilakukan dengan mengusahakan diri tetap tekun, setia dalam iman kepada Tuhan Yesus, dan menanti kedatangan-Nya. Jadi bukan beriman secara pasif, tidak melakukan apa-apa, melainkan iman yang aktif, iman yang disertai dengan kesediaan untuk saling mengingatkan dan bertanggungjawab dalam setiap keputusan yang diambil, dengan melakukan apa yang terbaik bagi Tuhan.
Benang Merah Tiga Bacaan
Kedatangan Tuhan Yesus Kristus diyakini oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada-Nya. Meski demikian hal kedatangan-Nya tidak bisa diketahui secara pasti oleh setiap orang. Oleh karena itu, diperlukan kesetiaan dalam menanti kedatangan-Nya. Kesetiaan tersebut dinyatakan dengan tetap beriman kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Kesetiaan tersebut menjadi bagian dari sikap berjaga-jaga. Sehingga ketika Tuhan Yesus datang, kita siap menyambut-Nya dengan hati yang gembira, bukan dengan kecemasan dan ketakutan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Menanti atau menunggu merupakan hal yang tidak mudah dilakukan. Dalam kenyataannya tidak semua orang bisa sabar dan setia menunggu. Menunggu sering kali dimengerti sebagai hal yang membosankan. Bahkan, ada yang menganggap menunggu merupakan hal yang sia-sia dan membuang-buang waktu saja, apalagi jika yang ditunggu tidak segera terwujud. Setiap orang bisa menjadi kecewa, putus asa, dan marah. Lalu, bagaimana jika yang ditunggu adalah kedatangan Tuhan?
Isi
Berita tentang kedatangan Tuhan sudah didengar oleh umat Tuhan sejak masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bahkan, sampai sekarang berita tentang kedatangan Tuhan juga kita dengar. Lalu, bagaimana kita memahami kedatangan Tuhan berkaitan dengan bacaan Alkitab hari ini?
Alkitab tidak menyebutkan dengan pasti kapan kedatangan Tuhan akan terjadi. Meski demikian, kedatangan Tuhan Yesus diyakini pasti akan terjadi. Berita kedatangan Tuhan sudah mulai dipercakapkan pada jaman nabi Amos. Meski demikian Amos juga tidak menyampaikan kapan waktu kedatangan Tuhan akan terjadi. Pada perumpamaan yang disampaikan, Tuhan Yesus juga tidak menyampaikan kapan kedatangan Tuhan akan terjadi. Namun, hal kedatangan Tuhan pasti terjadi. Demikian juga dengan apa yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Meskipun Paulus menyinggung tentang kedatangan Tuhan, namun ia tidak menyampaikan waktu kedatangan Tuhan. Kenyataan ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada seorangpun mengetahui dengan pasti kapan waktu kedatangan Tuhan terjadi. Namun, umat tetap dikuatkan imannya. Selain itu, umat dingatkan agar tetap setia menanti kedatangan-Nya, sebab kedatangan-Nya adalah suatu kepastian.
Bangsa Israel pada zaman nabi Amos memiliki pemahaman bahwa Hari Tuhan adalah hari yang dinanti-nantikan dan mendatangkan kelegaan, sebab pada saat itu Tuhan Allah akan menyatakan kekuasaan-Nya dan membela bangsa Israel dari semua musuh mereka. Oleh karena itu, mereka menginginkan agar hari Tuhan segera datang (Am. 5:18). Keinginan mereka ini didasarkan pada pemahaman bahwa mereka merasa rajin dan setia melakukan berbagai ritus atau tata cara keagamaan dalam peribadahan. Mereka menyangka dengan apa yang mereka lakukan, menjadikan Tuhan Allah berpihak kepada mereka. Namun, Amos memberitakan bahwa Tuhan Allah justru tidak berkenan dengan ibadah yang mereka lakukan. Hal tersebut tampak dalam ungkapan: “Aku membenci, Aku menghina, Aku tidak suka, tidak akan Kupandang dan jauhkanlah dari-Ku, dan tidak akan Kudengar.” (Ay. 21-23). Selanjutnya, Amos mengingatkan bahwa Tuhan Allah menghendaki agar bangsa Israel menunjukkan sikap dan tindakan yang mencerminkan kebenaran dan keadilan (Am. 5:24). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bangsa Israel beribadah kepada Allah, namun mereka melakukan penindasan terhadap orang yang lemah. Oleh karena itu, Amos mengingatkan bangsa Isarel bahwa hari Tuhan tidak sama dengan yang apa yang dimengerti oleh mereka, sebab hari Tuhan justru akan mendatangkan celaka dan penghukuman (Ay. 18, 27). Pesan yang disampaikan Amos adalah menanti sekaligus menyambut kedatangan Tuhan bukan sekadar dilakukan dengan rajin dan setia beribadah, namun juga harus disertai dengan sikap dan tindakan konkrit, yakni melakukan kebenaran dan keadilan sesuai dengan kehendak Tuhan Allah. Memperhatikan, membela, dan menolong orang yang lemah agar kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Rasul Paulus dalam tulisannya kepada jemaat di Tesalonika memberikan pengertian tentang keberadaan orang-orang yang sudah meninggal sebelum kedatangan Tuhan. Apakah mereka juga merasakan persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus? Situasi ini mendatangkan kesedihan bagi orang-orang yang mengingat mereka yang terlebih dahulu meninggal. Hal ini menunjukkan kepada kita betapa dekat dan akrabnya persekutuan di antara setiap orang yang beriman kepada Tuhan Yesus. Sehingga menjadikan setiap orang menghayati bahwa mereka akan selalu hidup bersama. Bahkan kematian tidak akan memisahkan mereka. Dalam situasi yang demikian Rasul Paulus memberikan pengertian bahwa mereka yang telah meninggal dalam imannya kepada Tuhan Yesus Kristus akan bangkit (1 Tes. 4:16) dan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia (1 Tes. 4:14). Meski demikian bagaimana wujudnya persekutuan yang terjadi sesudah kematian tidak dijelaskan oleh Paulus. Ia berharap penjelasannya ini bukan hanya menjadi penghiburan, melainkan juga menjadikan orang beriman di Tesalonika tetap semangat dalam menghayati dan mewujudkan persekutuannya sebagai sesama orang yang beriman kepada Tuhan Yesus. Sehingga di antara mereka bisa saling menghibur, saling tolong menolong, dan saling menguatkan.
Tuhan Yesus melalui perumpamaan yang disampaikan kepada para murid-Nya mengajarkan bahwa meskipun saat hari kedatangan Tuhan tidak diketahui namun kedatangan-Nya pasti akan terjadi. Oleh karena itu, semua orang yang beriman kepada-Nya harus selalu memelihara imannya. Bentuk pemeliharaan iman itu dilakukan dengan tetap tekun dan setia kepada Tuhan Yesus dan menanti kedatangan-Nya. Bukan beriman secara pasif, artinya tidak melakukan apa-apa, melainkan beriman secara aktif disertai dengan kesediaan untuk saling mengingatkan dan bertanggung jawab dalam setiap sikap dan perbuatan yang terbaik bagi Tuhan.
Penutup
Kedatangan Tuhan adalah suatu kepastian. Keyakinan inilah yang harus kita pelihara dengan baik, meskipun tidak seorang mengetahui kapan peristiwa tersebut akan terjadi. Selain itu, kita juga harus siap menyambut kedatangan-Nya. Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus tetaplah setia beriman kepada-Nya dan menanti kedatangan-Nya.
Menanti kedatangan Tuhan itu memang tidak mudah, membutuhkan kesabaran, dan kesetiaan yang luar biasa. Jika sudah memutuskan untuk beriman kepada Tuhan Yesus, tetaplah setia beriman kepada-Nya dan lakukanlah apa yang menjadi kehendak-Nya, meskipun tantangan yang kita hadapi sangatlah berat. Pada akhirnya kelegaan dan sukacita pasti akan kita alami. Amin. [HSW].
Pujian: KJ. 400 Kudaki Jalan Mulia
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Nengga, punika mboten gampil dipun lampahi. Ing kasunyatanipun mboten sadaya tiyang saged nengga kanthi sabar lan setya. Nengga punika asring dipun mangertosi minangka prekawis ingkang mbosenaken. Malah wonten ingkang nggadhahi panganggep bilih nengga punika prekawis ingkang muspra lan mbucal wekdal kemawon. Langkung-langkung menawi ingkang dipun tengga punika mboten enggal kawujud. Saben tiyang saged kemawon getun, semplah, lan nesu. Lajeng kados pundi menawi ingkang dipun tengga punika rawuhipun Gusti?
Isi
Pawartos bab rawuhipun Gusti sampun kapireng dening umat kagunganipun Gusti nalika jaman Prajanjian Lami lan Prajanjian Enggal. Malah, ngantos samangke pawartos bab rawuhipun Gusti ugi kita mirengaken. Lajeng, kados pundi kita mangertosi bab rawuhipun Gusti gegayutan kaliyan waosan Kitab Suci dinten punika?
Kitab suci mboten nyebataken wekdal ingkang pasti bab rawuhipun Gusti. Nadyan mekaten rawuhipun Gusti dipun aken mesthi kalampahan. Pawartos rawuhipun Gusti sampun dados pirembagan nalika jaman nabi Amos. Nadyan mekaten Amos ugi mboten nyebataken wekdalipun Gusti rawuh. Ing pasemon ingkang dipun wucalaken Gusti Yesus, ugi mboten kasebataken wekdal rawuhipun Gusti. Nanging, rawuhipun Gusti mesthi kalampahan. Mekaten ugi ingkang dipun wucalaken Rasul Paulus dhateng pasamuwan ing ing Tesalonika. Nadyan Paulus nyebataken bab rawuhipun Gusti, nanging Paulus mboten paring pawartos wekdal rawuhipun Gusti kalampahan. Prekawis punika nedhaken bilih mboten wonten tiyang ingkang mengertos wekdalipun Gusti rawuh. Nanging, kapitadosanipun para umat dhumateng Gusti Yesus tetep dipun antepaken. Kejawi punika, kita ugi dipun engetaken supados setya nengga rawuhipun Gusti, awit Gusti Yesus mesthi rawuh.
Bangsa Israel nalika jamanipun nabi Amos nggadahi pemanggih bilih “Dinane Sang Yehuwah” (Hari Tuhan) punika dinten ingkang dipun tengga lan dhatengaken raos ayem (basa Indonesia: lega), awit ing wekdal punika Gusti Allah mujudaken kuwasan-Ipun lan mbelani bangsa Israel saking para mengsahipun. Pramila, bangsa Israel nggadhahi pangajeng-ajeng supados dintenipun Sang Yehuwah enggal rawuh (Am. 5:18). Pangajeng-ajeng punika adedasar pamanggih, bilih bangsa Israel rumaos sregep lan setya nindakaken laku pangibadahipun. Bangsa Israel rumaos kanthi nindakaken prekawis punika Gusti Allah mbelani bangsa Israel. Nanging Amos martosaken bilih Gusti Allah mboten karenan dhateng pangibadah ingkang katindaklaken dening bangsa Isarel. Prekawis punika nyata ing ukara: “Sunsengiti, Sunremehake…, Ingsung ora rena…, … ora ndadekake keparenge galihingSun, … ora Sunpursani, … edohna saka ing ngarsaningSun, … Ingsun ora karsa midhangetake” (Am. 5:21-23). Salajengipun, Amos ngengetaken bilih Gusti Allah ngersakaken supados bangsa Israel ngetingalaken sikep lan tumindaak ingkang nyondhongi kaliyan kaadilan lan kabeneran (Am. 5:24). Prekawis punika nedhahaken nadyan bangsa Israel ngabekti dhumateng Gusti Allah, nanging bangsa Israel ugi nindhes tumrap tiyang ringkih. Pramila Amos ngengetaken bangsa Israel, bilih “Dinane Sang Yehuwah” mboten sami kaliyan punapa ingkang dipun mangertosi bangsa Israel, awit “Dinane Sang Yehuwah” malah badhe dhatengaken bilai lan paukuman (Am. 5:18, 27). Pawartos ingkang kawucalaken dening Amos, inggih punika nengga lan mapak rawuhipun Gusti punika mboten namung katindakaken kanthi sregep lan setya ngibadah, nanging ugi kedah dipun sarengi sikep lan tumindak nyata, inggih punika nindakaken kaadilan lan kabeneran nyondhongi kaliyan karsanipun Gusti Allah. Migatosaken, mbelani, lan mitulungi tiyang ingkang ringkih supados kiyat lan saged ngadhpepi mawerni pakewet ing gesangipun.
Rasul Paulus ing seratipun dhateng pasamuwan ing Tesalonika paring pangertosan gegayutan kaliyan kawontenan tiyang-tiyang ingkang sampun tilar sakderengipun rawuhipun Gusti. Punapa tiyang-tiyang punika ugi ngraosaken tetunggilanipun kaliyan Gusti Yesus Kristus? Situasi punika dhatengaken kasedhihan tumrap tiyang-tiyang ingkang sami kengetan dhateng tiyang ingkang sampun tilar donya langkung rumiyin. Prekawis punika nedhahaken dhateng kita mendah celak lan raketipun tetunggilan ing antawisipun saben tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus. Satemah ndadosaken saben tiyang sami nggadahi pamanggih, bilih tiyang-tiyang punika tansah gesang sesarengan. Pati mboten saged misahaken tiyang-tiyang punika. Ing suasana ingkang mekaten punika Paulus paring pangertosan, bilih tiyang-tiyang ingkang sampun tilar donya ing kapitadosanipun dhumateng Gusti Yesus badhe tangi (1 Tes. 4:16) lan sami dipun kempalaken Gusti Allah sesarengan kaliyan Panjeneganipun (1 Tes. 4:14). Nadyan mekaten kados pundi wujud tetunggilan saksampunipun pati punika mboten dipun jelasaken kaliyan Paulus. Paulus namung nggadhahi pangajeng-ajeng supados piwucalipun mboten namung dados panglipur, nanging ugi dados semangat anggenipun ngraos-ngraosaken tetunggilanipun minangka tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus. Satemah ing antawisipun saben tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus saged sami paring pangipur, tulung tinulung, lan kiyat kiniyataken.
Gusti Yesus paring piwucal dhateng para sakabat-Ipun lumantar pasemon. Sanadyan wekdal rawuhipun Gusti mboten dipun mangertosi, nanging rawuhipun Gusti punika mesthi kalampahan. Pramila, saben tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus kedah ngrimat kapitadosanipun. Wujuding pangrimatan kapitadosan punika katindakaken kanthi ngupadi tumemen lan setya ing kapitadosan dhumateng Gusti Yesus lan ngrantos rawuh-Ipun. Mboten pitados sacara pasif, tegesipun mboten nindakaken punapa-punapa. Nanging pitados sacara aktif, ingkang dipun sarengi srana sedya eling-ingelingaken lan tanggel jawab ing sikep lan tumindak ingkang saestu sae kagem Gusti.
Panutup
Rawuhipun Gusti mesthi kalampahan. Kapitadosan punika ingkang kedah kita rimat kanthi sae, nadyan mboten wonten tiyang ingkang mangertos wekdalipun. Kejawi punika kita ugi kedah siap mapag rawuhipun Gusti. Pramila minangka tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus, sumangga kita tansah setya ing kapitadosan kita lan nengga rawuh-Ipun kanthi mujudaken gesang ingkang cundhuk kaliyan karsanipun Gusti.
Nengga rawuhipun Gusti punika pancen mboten gampil, mbetahaken kasabaran lan kasetyan ingkang ageng. Menawi sampun netepaken keputusan pitados dhumateng Gusti Yesus, mangga kita tansah setya dhumateng Panjenenganipun, sarta nindakaken punapa ingkang dados karsan-Ipun, sanadyan kita ngadhepi pakewet ingkang awrat ing gesang punika. Ing wancinipun kita badhe ngalami ayeming manah lan kabingahan. Amin. [HSW].
Pamuji: KPJ. 416 Saprakara Kang Pantes