Minggu Biasa | Penutupan Bulan Budaya
Stola Hijau
Bacaan 1: Zefanya 1 : 7, 12 – 18
Mazmur: Mazmur 90 : 1 – 8, 12
Bacaan 2: 1 Tesalonika 5 : 1 – 11
Bacaan 3: Matius 25 : 14 – 30
Tema Liturgis: Mawas Diri
Tema Khotbah: Siap Sedia dan Setia dalam Tuhan
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Zefanya 1 : 7, 12 – 18
Zefanya, namanya berarti “Tuhan menyembunyikan” atau “yang dilindungi Tuhan”. Dia adalah putra dari buyut Raja Hizkia yang bernubuat selama masa pemerintahaan Yosia (639-609 SM), penguasa saleh Yehuda. Sebagai keturunan keluarga raja dan kerabat Raja Yosia berarti ia bisa dengan mudah keluar-masuk istana kerajaan. Zefanya tampil pada masa hidup keagamaan Yehuda yang jauh merosot. Yehuda telah meninggalkan Allah dan berpaling pada penyembahaan Baal. Bahkan para Khemarim, yaitu imam-imam Baal yang berjubah hitam diangkat untuk menjalankan praktik penyembahan di bukit-bukit pengorbanan. Dapat dipahami bahwa Zefanya banyak memberikan koreksi atas kemerosotan Yehuda langsung kepada Raja melalui nubuatannya. Nubuatannya tentang akan datangnya hari Tuhan menuntut pembaharuan kehidupan keagamaan Yehuda. Hal ini selaras dengan kebijakan Raja Yosia yang sedang melakukan pembaharuan agama di Kerajaan Yehuda.
Dalam ayat-ayat ini diberitahukan kepada orang Yehuda dan Yerusalem bahwa Allah sedang menghampiri mereka dan akan melawan mereka tidak lama lagi. Hadapan-Nya sebagai penuntut balas yang adil, hari Tuhan adalah hari penghakiman dan murka-Nya sudah dekat (Ay. 7). Barangsiapa tidak memanfaatkan hadirat Allah yang ada bersama mereka sebagai Bapa, malah menolak hadirat-Nya itu, maka hadirat-Nya akan berlaku sebagai Hakim yang akan mengadili mereka atas penistaan terhadap anugerah-Nya. Meski demikian, ada saja yang bersembunyi, menjauh dari Allah, mengira akan lolos dari hukuman yang dijatuhkan. Alih-alih bersembunyi dalam ketakutan, mereka malah hidup bersantai-santai dan menganggap hukum Allah tak mampu menyentuh mereka, dan berkata, “TUHAN tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat” (Ay. 12). Namun, Allah akan menggeledah, menemukan, dan menghukum mereka. Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor untuk mencari mereka, menyeret keluar, dan menghukum mereka. Tangan Tuhan akan menjangkau semua musuh-Nya, di mana pun mereka bersembunyi. Bukan hanya mereka yang diam-diam menyembah berhala, tetapi juga mereka yang diam-diam menjadi pelahap dan hidup cemar turut terjaring dalam operasi ini.
“Sudah dekat!”, Zefanya memperingatkan orang Yehuda bahwa hari Tuhan itu sedang bergerak cepat menuju mereka (Ay. 14). Tak usah repot bersembunyi, tak perlu juga merasa bahwa emas atau perak yang mereka miliki dapat menyelamatkan mereka, karena saat hari Tuhan tiba, mereka tidak akan luput dari kebinasaan karena hari itu adalah hari kemusnahan dan pemusnahan (Ay. 15-18). Hari Tuhan akan datang menggeledah – menyelidiki setiap manusia. Tak ada satu pun penghuni bumi yang dapat bertahan menghadapi murka Tuhan. Semua akan dibinasakan. Maka seruan, “Sudah dekat!” memperingatkan umat Tuhan untuk selalu waspada dan siaga, alih-alih sembunyi dan mengelak.
1 Tesalonika 5 : 1 – 11
Surat pertama Paulus kepada Jemaat Tesalonika ditulis sekitar tahun 50-51 M dari Korintus. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu surat terawal dari sekian surat yang tulis oleh Paulus. Jemaat ini tumbuh di kota Tesalonika, yakni ibu kota dan kota pelabuhan yang paling terkemuka dari Makedonia, sebuah propinsi Romawi. Jemaat Tesalonika merupakan buah rintisan Paulus dalam perjalanan misionarisnya yang kedua, namun ia harus meninggalkan kota itu karena perselisihan dengan orang-orang Yahudi yang juga jamak di kota pelabuhan itu. Tidak terbayang betapa banyaknya tekanan orang Yahudi pada jemaat pasca kepergian Paulus. Kemudian Timotius membawa kabar gembira bahwa masih ada warga jemaat yang setia dan bertahan, maka Paulus tergerak untuk mengirimkan surat penggembalaan. Sehingga dapat dipahami bahwa Paulus banyak memuji kesetiaan jemaat dan mengarahkan mereka untuk tetap bertahan menjelang hari kedatangan Tuhan yang kedua.
Rasul Paulus kembali menekankan tentang hari Kedatangan Tuhan yang kedua menjelang akhir suratnya. Di tengah pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua, Paulus mengingatkan bahwa waktunya memang tak terduga, seperti datangnya pencuri (Ay. 1-2). Kristus sudah pasti akan datang dan ada waktu tertentu yang sudah ditetapkan untuk kedatangan-Nya. Jika tidak siap sedia, orang akan menghadapi hari Tuhan dalam kengerian (Ay. 3) Namun, orang percaya tidak akan “kecolongan” karena telah diselamatkan dan dipersiapkan oleh Tuhan (Ay. 4-5). Sekalipun demikian, umat harus tetap waspada dengan memakai perlengkapan perang orang percaya (Ay. 6-8). Selain persiapan diri, ada satu hal yang harus dilakukan, yakni saling menasihati dan membangun (Ay. 11). Jadi, semua orang percaya akan bersama-sama dalam keadaan terjaga, bukan tertidur, apalagi mabuk.
Nasihat Rasul Paulus kali ini menegaskan bahwa keselamatan memanglah anugerah. Akan tetapi, keselamatan itu tentu perlu dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Bagai orang yang diberi sebuah pelita untuk berjalan di tengah kegelapan, ia harus waspada menjaga api pelita itu agar senantiasa menyala. Itulah yang disebut Paulus sebagai tetap terjaga dan sadar. Jemaat di Tesalonika dinasehati untuk selalu berjaga-jaga, sehingga mereka selalu siap sedia menerima hari Tuhan yang segera tiba. Tetapi kapan hari dan saat kita harus memberikan pertanggungjawaban, kita tidak tahu, tidak pula perlu kita ketahui. Ia akan datang dengan tiba-tiba, begitu tiba-tiba, dan mengejutkan kemunculan-Nya nanti. Mengetahui hal ini akan jauh lebih bermanfaat daripada mengetahui waktu persisnya, karena hal ini akan menggugah kita untuk berjaga-jaga, supaya kita siap sedia kapan saja Dia datang.
Matius 25 : 14 – 30
Injil Matius ditulis untuk orang percaya Yahudi. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan istilah yang khas Yahudi seperti “Kerajaan Surga” yang searti dengan “Kerajaan Allah”. Penggunaan kata Surga alih-alih kata Allah adalah ungkapan rasa hormat orang Yahudi sehingga mereka segan menyebut nama Allah secara langsung. Petunjuk lainnya adalah adanya berbagai kebiasaan Yahudi tanpa memberikan penjelasan apapun, berbeda dengan kitab Injil yang lain. Injil yang ditulis sekitar tahun 70 M ini berfokus pada tema kehidupan Yesus Sang Mesias dan kehadiran-Nya sebagai seorang Raja. Injil Matius secara khusus menyebutkan peristiwa dalam kehidupan Yesus sebagai penggenapan Perjanjian Lama dan Kerajaan Surga jauh lebih banyak daripada kitab lain di Perjanjian Baru. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam Injil ini kita bisa menemukan Yesus mengungkapkan berbagai perumpamaan tentang Kerajaan Surga untuk menasihati para pengikut-Nya.
Dalam perumpamaan ini, Tuan itu adalah Kristus, yakni Pemilik dan Penguasa mutlak dan sah atas semua orang dan harta benda, dan secara istimewa atas jemaat-Nya. Sedangkan hamba-hamba itu adalah orang-orang Kristen yang dilahirkan di rumah-Nya, dibeli dengan uang-Nya, disediakan untuk menjadi kemuliaan-Nya, dan dipekerjakan dalam pekerjaan-Nya. Kepercayaan yang diberikan kepada hamba-hamba ini. Tuan mereka mempercayakan hartanya kepada mereka. Ia meninggalkan sesuatu untuk mereka kerjakan, Ia memberikan talenta. Satu talenta perak itu sangatlah mahal dalam ukuran uang kita sekarang ini. Perhatikanlah, betapa besar dan berharganya karunia-karunia yang diberikan Kristus itu, harga yang dibeli dengan darah-Nya sungguh tak ternilai, dan tidak ada yang tidak berarti.
Sang Tuan memberikan lebih banyak kepada beberapa orang, dan lebih sedikit kepada yang lain. Yang seorang diberinya lima talenta, yang seorang lagi dua talenta dan yang seorang lain lagi satu talenta, masing-masing menurut kesanggupannya. Walaupun demikian, kemampuan itu tetap berasal dari Tuhan sendiri. Dua dari hamba-hamba itu bekerja dengan baik. Mereka rajin dan setia. Namun hamba yang ketiga melakukan kesalahan (Ay. 18). Setelah menerima satu talenta, ia pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
Akhirnya hari perhitungan itu datang juga, pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Para pelayan yang menerima anugerah Allah yang beraneka ragam itu harus memberikan pertanggungjawaban atas urusan mereka. Pertama, hamba-hamba Kristus yang setia mengakui dengan rasa syukur kesediaan-Nya memberikan sesuatu kepada mereka. Kedua, mereka menghasilkan keuntungan sebagai bukti kesetiaan mereka, yakni penerimaan, pujian, dan penghargaan dari sang tuan atas pertanggungjawaban mereka (Ay. 21, 23). Sebaliknya, hamba yang menerima satu talenta dan menguburnya menerima sebuah kecaman dan hukuman (Ay. 26, 30). Hamba itu sesungguhnya tahu maksud sang Tuan, namun tidak melakukannya. Ini bukan soal jumlah talenta, melainkan tentang bagaimana hamba itu bertanggung jawab atas telenta, kesempatan, dan anugerah yang diberikan. Dengan demikian, orang percaya haruslah mengupayakan untuk mengelola setiap pemberian anugerah Tuhan dengan baik, sehingga ketika datang hari perhitungan datang kelak, Tuhan dapat menjumpai kita sebagai hamba yang bertanggung jawab sehingga layak masuk dan turut dalam kebahagian-Nya.
Benang Merah Tiga Bacaan
Dari ketiga bacaan di atas, kita diajak untuk mengarahkan hidup kita pada sikap siap sedia dan setia dalam menyambut Tuhan. Nabi Zefanya memperingatkan bangsa Israel, bahwa Tuhan akan datang menyelidiki setiap umat-Nya, apakah kita sungguh-sungguh memiliki kesetiaan pada-Nya? Rasul Paulus pun mengingatkan bahwa hari Tuhan akan datang meski kita tidak tahu kapan persisnya waktu itu, maka kita harus selalu siap sedia kapan itu akan terjadi. Perumpamaan talenta disampaikan Tuhan Yesus untuk menggugah semangat kita dalam memafaatkan waktu, untuk bersiap menyambut Tuhan bahkan memanfaatkan anugerah pemberian Tuhan. Sehingga pada saat Tuhan datang kelak, kita ditemukan-Nya dalam kondisi siap sedia menanti-Nya dan setia kepada-Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
(Pelayan Firman dapat menyanyikan, atau memutarkan video lagu berikut: “Tetap Setia” Cipt. Sari Simorangkir dan Steve Tabalujan
Selidiki aku, lihat hatiku, apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus?
Kau yang Maha Tahu, dan menilai hidupku, tak ada yang tersembunyi bagi-Mu
(Chorus) T’lah kulihat kebaikan-Mu, yang tak pernah habis dihidupku
Kuberjuang sampai akhirnya, Kau dapati aku tetap setia
(Pelayan Firman dapat bertanya pada umat bagaimana respons mereka terhadap lagu tersebut, beri waktu umat untuk merespons. Akan sangat baik jika Pelayan Firman juga berbagi responnya ketika mendengar/menyanyikan lagu tersebut.)
Melalui lagu pujian “Tetap Setia” kita diajak berjuang untuk tetap setia di hadapan Tuhan. Bukan untuk dilihat orang melainkan untuk merespons kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Perilaku kita sungguh dilihat oleh Tuhan, tak ada yang tersembunyi. Mungkin kita sudah merasa rajin ke gereja atau aktif dalam pelayanan, bahkan tidak pernah absen dalam memberikan persembahan untuk merespon kebaikan Tuhan, namun belum tentu demikian di dalam hati kita. Tuhan yang Maha Tahu memahami betul bagaimana sikap hati kita pada-Nya. Apakah kita sungguh mengasihi-Nya? Apakah kita sungguh memperjuangkan iman dan pelayanan kita? Apakah kita benar-benar tulus merespons kebaikan kasih-Nya? Apakah kita akan terbukti setia apabila Hari Tuhan tiba?
Isi
Hari Tuhan akan datang! Pada saat itu, Tuhan akan menyelidiki manusia, bahkan dengan teliti menggeledah setiap celah kehidupan umat-Nya. Apakah umat sungguh-sungguh setia? Kita tak punya banyak waktu lagi. “Sudah dekat!” demikian Nabi Zefanya memperingatkan orang Yehuda bahwa hari Tuhan itu sedang bergerak cepat menuju mereka (Ay. 14). Sebab pada masa itu orang Yehuda merasa bahwa hari Tuhan masih jauh, tetapi kenyataanya hari Tuhan, hari penghakiman itu sudah dekat (Ay. 7). Siapa pun yang tidak memanfaatkan kesempatan hadirat-Nya dengan baik, Allah akan berlaku sebagai Hakim atas mereka dan akan mengadili mereka atas tuduhan penistaan terhadap anugerah-Nya. Meski demikian mengerikan, ada saja orang yang bersembunyi, menjauh dari Allah, dan mengira bisa lolos dari hukuman yang dijatuhkan. Lebih parah lagi ada orang yang bukannya bersembunyi dalam ketakutan, mereka malah hidup bersantai-santai, dan menganggap hukum Allah tak mampu mampu menyentuh mereka, dan berkata: “TUHAN tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat” (Ay. 12). Namun, Allah akan menggeledah, menemukan, dan menghukum mereka. “Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor untuk mencari mereka, menyeret keluar dan menghukum mereka.” Tangan Tuhan akan menjangkau semua musuh-Nya, di mana pun mereka bersembunyi. Bukan hanya mereka yang diam-diam menyembah berhala, tetapi juga mereka yang diam-diam menjadi pelahap dan hidup cemar turut terjaring dalam operasi hari penghakiman ini. Ada pula orang merasa bahwa emas atau perak yang mereka miliki dapat menyelamatkan mereka pada saat hari Tuhan tiba, sekali-kali tidak! Mereka tidak akan luput dari kebinasaan, karena hari itu adalah hari kemusnahan dan pemusnahan (Ay. 15-18). Hari Tuhan akan datang menggeledah dan menyelidiki setiap manusia. Tak ada satu pun penghuni bumi yang dapat bertahan menghadapi murka Tuhan. Semua akan dibinasakan. Maka seruan: “Sudah dekat!” memperingatkan umat Tuhan untuk selalu waspada dan siaga, alih-alih sembunyi dan mengelak.
Rasul Paulus pun merasa perlu menekankan tentang betapa berharganya hari Kedatangan Tuhan. Di tengah pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua, Paulus mengingatkan bahwa waktunya memang tak terduga, seperti datangnya pencuri (Ay. 1-2). Kristus sudah pasti akan datang untuk kedua kalinya dan kita tidak tahu kapan waktu yang sudah ditetapkan untuk kedatangan-Nya. Jika tidak siap sedia, orang akan menghadapi hari Tuhan dalam kengerian (Ay. 3). Namun, orang percaya tidak akan “kecolongan” karena telah diselamatkan dan dipersiapkan oleh Tuhan (Ay. 4-5). Sekalipun demikian, umat harus tetap harus waspada dengan tetap memakai perlengkapan perang orang percaya (Ay. 6-8). Selain persiapan diri, orang-orang percaya harus saling menasihati dan membangun sesama orang percaya (Ay. 11). Jadi, semua orang percaya akan bersama-sama dalam keadaan terjaga, bukan tertidur, apalagi mabuk. Keselamatan memanglah anugerah, tetapi keselamatan itu tetap perlu dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Bagai orang yang diberi sebuah pelita untuk berjalan di tengah kegelapan, ia tetap harus waspada menjaga nyala api pelitanya agar senantiasa berpijar. Itulah yang disebut Paulus sebagai tetap terjaga dan sadar. Jemaat di Tesalonika dinasehati untuk selalu berjaga-jaga, sehingga mereka selalu siap sedia menerima hari Tuhan yang segera tiba.
Untuk itu, marilah meneladan para hamba yang setia dan bertanggung jawab, seperti yang disebutkan Yesus dalam perumpamaan tentang talenta. Dalam perumpamaan itu, sang Tuan adalah Tuhan Allah Sang pemilik kehidupan, sedangkan para hamba adalah orang Kristen yang lahir dalam rumah-Nya, atau sudah dibeli dengan uang-Nya. Tugas hamba-hamba itu adalah melakukan pekerjaan demi kepentingan sang Tuan. Maka tak heran jika suatu saat, Sang Tuan memberikan tugas seperti mengembangkan Talenta ketika hendak pergi melakukan perjalanan jauh (Ay. 14). Para hamba yang menerima anugerah Allah yang beraneka ragam itu menerima sesuai kesanggupan masing-masing (Ay. 15) Para hamba yang baik telah siap sedia memberikan pertanggungjawaban atas tugas tersebut. Hamba-hamba Kristus yang setia mengakui dengan rasa syukur kesediaan-Nya memberikan sesuatu kepada mereka. Tak hanya itu, mereka menghasilkan keuntungan sebagai bukti kesetiaan mereka, yakni penerimaan, pujian, dan penghargaan dari sang tuan atas pertanggungjawaban mereka (Ay. 21, 23). Sebagai hamba Kristus yang setia dan bertanggung-jawab, orang Kristen haruslah mengupayakan diri untuk mengelola setiap pemberian anugerah Tuhan dengan baik, sehingga ketika hari perhitungan itu datang kelak, Tuhan dapat menemukan kita sebagai hamba yang bertanggungjawab sehingga kita layak masuk dan turut dalam kebahagiaan-Nya.
Penutup
Di penghujung bulan budaya ini, kita diajak untuk kembali menyadari bagaimana perilaku kita dalam merespons talenta dan anugerah yang Tuhan berikan dalam hidup kita? Bukan soal berapa banyak talenta dan anugerah yang kita terima, atau berapa banyak kita mengembangkan talenta dan anugerah itu, melainkan bagaimana kita memanfaatkan kesempatan tersebut demi kemuliaan Sang Empunya telenta dan anugerah itu, yakni Tuhan Allah. Sebab waktu semakin sempit dan hari Tuhan semakin dekat. “Sudah dekat!” demikian Zefanya memperingatkan kita untuk terus waspada dan berjaga-jaga menyongsong hari Tuhan. Di tengah semakin singkatnya waktu itu, kita diminta untuk mempersiapkan diri dengan aktif. Aktif dalam mengembangkan diri. Aktif dalam upaya memperjuangkan budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. Aktif dalam mengupayakan keadilan dan kebenaran. Mari kita bersiap sedia dan setia dalam menyambut hari Tuhan. Sembari terus bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus?” Amin. [jarwi].
Pujian: KJ. 340 Hai Bangkit Bagi Yesus
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
KPJ 342 “Karsaa Mirsani”
Karsa amirsani, klayan premati; punapa tresna kawula saestu, Gusti?
Paduka mamirsa, ndadar manah kawula, tapis tan ana kang kalangkung ana.
Kawula niteni katresnan Paduka ing gesang kawula;
sestu ngudi dugeng wekasan; wasana kawula ketitik setya
Kanthi lantaran lagu pepujen KPJ “Karsaan Mirsani” punika, kita sami kaajak ngupadi kasetyan ing ngarsanipun Gusti. Sanes supados dipun anggep lan dipun sawang tiyang kathah, nanging dados sarana kita mangsuli kasaenanipun Gusti ing pigesangan kita. Patrap gesang kita saestu dipun pirsani dening Gusti, pramila mboten wonten ingkang saged kasingidaken. Mbok bilih kita sami rumaos sampun sregep ngibadah ing greja, utawi sampun aktif ndherek peladosan, malah mboten nate absen anggen kita ngaturakan pisungsung minangka wangsulan kita awit berkahipun Gusti. Nanging dereng tamtu kita tulus ing manah. Gusti ingkang Maha Mirsa saestu mengertosi kados pundi kahanan batin kita ing ngarsan-Ipun. Punapa kita saestu tresna ing ngarsan-Ipun? Punapa kita saetu ngupadi lan mbudidaya iman lan peladosan kita? Punapa kita tumemen tulus mangsuli kasaenan sih katresnan-Ipun?
Isi
Dinten rawuhipun Gusti saestu kalampahan! Gusti badhe nlesik manungsa, malah kanthi tliti nggledhah saben papan pigesangan umat-Ipun. Punapa umat sampun tumemen setya? Kita sami mboten gadhah kathah wekdal malih. “Wus cedak” mekaten Nabi Zafanya paring pengenget tumrap tiyang Yehuda, bilih dinten rawuhipun Gusti nembe mlajeng murugi tiyang Yehuda (Ay. 14). Awit ing wekdal semanten, tiyang Yehuda rumaos bilih dinten rawuhipun Gusti taksih tebih. Nanging kasunyatanipun, dinten rawuhipun Gusti, dinten paukuman sampun celak (Ay. 7). Sinten kemawon ingkang mboten ngupadi wekdal ing ngarsanipun Gusti kanthi becik, Sang Yehuwah badhe madheg dados Hakim ingkang ngadili awit sampun nistha berkahipun Gusti. Sinaosa mekaten, wonten mawon ingkang malah ndhelik, nebih saking Gusti Allah, nganggep saged luwar saking paukuman. Ugi wonten ingkang malah ketingal santai-santai kemawon lan nggadahi pemanggih bilih Sang Yehuwah mboten badhe nggayuh paring paukuman, lan ngucap: “Pangeran Yehuwah ora damel becik lan ora damel ala.” (Ay. 12). Nanging, Sang Yehuwah tetap badhe nggledhah, manggihaken, lan ngukum tiyang ingkang mboten setya. “Ing wektu iku, Ingsun bakal nggledhah Yerusalem kalawan ngagem obor lan bakal ngukum marang wong kang wus padha ngenthel kaya anggur tumumpang ana ing endheg-endhege.” Astanipun Gusti badhe ngranggeh sadaya mengsah-Ipun, wonten pundia sami sesingidan. Mboten namung ingkang sesidheman nyembah brahala, nanging ugi sinten kemawon ingkang gesang ing margi karusakan, sami kenging dening operasi punika. Mboten usah sesingidan, mboten perlu sami nganggep bilih emas lan salaka ingkang dipun gadhahi saged maringi kawilujengan ing wekdal dinten rawuhipun Gusti. Mboten wonten ingkang saged uwal saking bebendu awit punika dinten rawuhipun Gusti ingkang ngasta kasusahan lan karubedan (Ay. 15-18). Dinten rawuhipun Gusti badhe rawuh nggledhah, nlithi saben manungsa. Mboten wonten satunggaling titah ingkang saged tahan adep ajeng ing kamurkanipun Gusti. Sadaya badhe dipun tumpes. Pramila wonten pepenget: “Wus cedak” ingkang ngemutaken umatipun Gusti supados sami waspada lan jumaga, sampun ngantos ndhelik lan selak.
Rasul Paulus ugi paring pepenget bilih dinten rawuhipun Gusti sampun celak. Ing satengehing pangajeng-ajeng bab rawuhipun Gusti Yesus ingkang kaping kalih, Rasul Paulus paring pangenget bilih wekdalipun pancen mboten saged dinyana, kados duginipun maling ing wayah bengi (Ay. 1-2). Sang Kristus sampun pesthi rawuh lan wektu rawuhipun sampun katamtokaken. Bilih mboten sami jumaga, badhe sami ngadhepin dintenipun Gusti ing salebeting raos ajrih (Ay. 3). Nanging tiyang pitados mboten badhe ‘kecolongan’ awit sampun kaparingan kawilujengan lan dipun cawisaken dening Gusti (Ay. 4-5). Sinaosa mekaten, umat tetap kedah waspada lan ngagem piranti perang tiyang pitados (Ay. 6-8). Kejawi cecawis dhiri, umat ugi kedhah sami eling-ingelingake lan bangun-binangun setunggal lan sanesipun (Ay. 11). Mila, sadaya tiyang pracaya badhe sami-sami ing kahanan melek, sanes tilem, punapa malih mendem. Kawilujengan pancen peparing, nanging kawilujengan ugi kedhah dipun uri-uri ing gesang padintenan. Kados dene tiyang ingkang sampun dipun paringi suluh ing satengahing pepeteng, piyambakipun kedah tetap waspada ngrimati geni suluh punika supados tetep murub. Inggih mekaten ingkang dipun karsakaken dening Rasul Paulus dados sarana ngupadi tetap jumaga lan sadhar. Pasamuwan ing Tesalonika dipun utus tansah jumaga, lajeng tansah siyap sedya mapag dinten rawuhipun Gusti ingkang enggal dumugi.
Sumangga sami nuladha para batur (abdi) ingkang setya lan tanggel jawab, kados ingkang dipun dhawuhaken dening Gusti Yesus ing salebeting pasemon bab dhuwit talenta. Ing pasemon wau, sang Bandara inggih punika Gusti Allah ingkang minangkani pigesanganipun manungsa, lajeng para batur punika nggambaraken para tiyang Kristen ingkang lair ing padaleman-Ipun, utawi sampun dipun tumbas mawi yatra-Nipun. Para batur sami pinaringan tugas ingkang ngrencang lan nyengkuyung kabetahan Sang Bendara. Mila mboten nggumunaken bilih wonten wekdal Sang Bendara paring tugas kados nglampahaken dhuwit talenta nalika piyambakipun badhe tindakan tebih (Ay. 14). Para batur ingkang nampi berkah saking sang Bendara ingkang maneka warni punika, sami nampi miturut kabisanipun piyambak-piyambak (Ay. 15). Para batur ingkang becik sampun sumadya ngaturaken asil saking nglampahaken dhuwit talenta. Inggih punika para abdinipun Gusti Yesus Kristus ingkang setya saged ngraosaken sokur awit Gusti sampun karsa mitayakaken prekawis wigati (dhuwit talentha) dhumateng para abdi. Mila para batur sami ngupadi nglampahaken dhuwit talenta lan pikantuk asil tikel kalih. Lajeng sami nampi berkah saking bendara arupi panampining bendara, nampi pamuji, lan ganjaran sae saking sang bendara (Ay. 21-23). Minangka abdining Sang Kristus ingkang setya lan tanggel jawab, tiyang Kristen kedhah ngupadi lan ngembangaken sadaya berkah peparinging Gusti kanthi becik. Satemah bilih sampun dumugi dinten pepetangan (dinten rawuhipun Gusti), Gusti saged manggihaken kita sami dados batur (abadi) ingkang tanggel jawab lan pantes mlebet padaleman-Ipun lan ngraosaken kabingahanipun Gusti.
Panutup
Ing pungkasaning sasi budaya punika, kita sami dipun ajak migatosaken malih kados pundi anggen kita nampi berkah dhuwit talenta lan berkah peparingipun Gusti ing gesang kita. Mboten namung prekawis sepinten kathahipun dhuwit talenta lan sepinten agenging berkah ingkang kita tampi, utawi ngetang sepinten kathahipun dhuwit talena wau kita kembangaken, nanging kados pundi anggen kita migunakaken wekdal ngagem dhuwit talenta lan berkah wau dados sarana kaluhuran asmanipun Gusti ingkang sampun paring berkah. Awit wekdal kita tansaya mepet lan dinten rawuhipun Gusti tansaya celak. “Wus cedhak!” mekaten Nabi Zefanya paring pangenget dhateng kita supados sami waspada lan jumaga mapak dinten rawuhipun Gusti. Ing satengahipun wekdal ingkang tansaya celak, kita sami kasuwun aktif nyawisaken dhiri. Aktif ngembangaken dhiri. Aktif mbudidaya kabudayan lan nilai kamanungsan. Aktif ngupadi kaadilan lan kayekten. Sumangga kita cecawis lan setya tuhu ing swasana mapag dintenipun Gusti. Sinarengan kita tansah mawas diri, tanglet dhateng dhiri kita piyambak, “Punapa kula sampun saestu tresna Gusti?” Amin. [jarwi].
Pamuji: KPJ. 342 Karsaa Mirsani