Minggu Biasa | Pembukaan Bulan Budaya
Stola Hijau
Bacaan 1: Mikha 3 : 5 – 12
Mazmur: Mazmur 43
Bacaan 2: 1 Tesalonika 2 : 9 – 13
Bacaan 3: Matius 23 : 1 – 12
Tema Liturgis: Mawas Diri
Tema Khotbah: Antara Citra dan Karakter
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Mikha 3 : 5 – 12
Mikha 3:5–12 adalah bagian dari nubuat nabi Mikha yang hidup pada abad ke-8 SM, pada masa pemerintahan Yotam, Ahas, dan Hizkia. Saat itu Yehuda sedang berada di bawah tekanan besar dari Kekaisaran Asyur. Situasi politik yang tidak stabil membuat beban ekonomi rakyat semakin berat. Dalam keadaan seperti itu, para pemimpin dan tokoh agama justru tidak melindungi rakyatnya, melainkan memanfaatkan keadaan itu untuk keuntungan sendiri.
Dalam pasal 3, Mikha berbicara seperti seorang jaksa yang membacakan dakwaan. Pada ayat 1–4, ia menegur para pemimpin yang menindas rakyat. Lalu pada ayat 5–8, ia beralih kepada para nabi palsu. Mereka hanya menyampaikan pesan yang menyenangkan jika diberi imbalan, tetapi mengancam jika tidak diberi apa-apa. Nubuat telah berubah menjadi alat mencari uang. Oleh karena itu, Tuhan menyatakan bahwa mereka akan kehilangan terang dan tidak lagi menerima wahyu. Kemudian pada ayat 9–12, Mikha kembali menegur para pemimpin, imam, dan nabi sebagai satu kesatuan sistem yang rusak. Para pemimpin menerima suap, imam mengajar demi bayaran, dan nabi bernubuat demi uang. Agama dan kekuasaan saling menopang, tetapi bukan untuk keadilan. Mereka bahkan merasa aman karena percaya Tuhan ada di tengah-tengah mereka, seolah-olah keberadaan Bait Allah otomatis menjamin perlindungan. Mikha menolak pemikiran itu. Ia menegaskan bahwa Tuhan Allah tidak memihak pada kota atau institusi yang korup.
Puncaknya ialah Sion akan dibajak seperti ladang, dan Yerusalem akan menjadi reruntuhan. Ini pernyataan yang sangat mengejutkan, karena Yerusalem dianggap kota pilihan Tuhan. Namun Mikha menunjukkan bahwa status religius tidak membebaskan siapa pun dari tanggung jawab moral. Jadi, secara keseluruhan Mikha 3:5–12 mengajarkan ketika pemimpin politik dan pemimpin agama mencari keuntungan pribadi, masyarakat akan rusak. Tuhan menentang penyalahgunaan kekuasaan, dan Ia tidak dapat dimanipulasi oleh simbol-simbol keagamaan. Keadilan dan kebenaranlah yang menjadi ukuran, bukan jabatan atau status suci.
1 Tesalonika 2 : 9 – 13
Dalam 1 Tesalonika 2:9–13, Paulus sedang mengingatkan jemaat Tesalonika tentang bagaimana ia melayani mereka ketika pertama kali ia datang. Surat ini ditulis setelah ia harus meninggalkan kota itu karena tekanan dan kerusuhan yang juga dicatat dalam Kisah Para Rasul 17. Pelayanannya sempat dituduh tidak murni dan punya motif tertentu, oleh karena itulah, Paulus merasa perlu menjelaskan kembali sikap dan cara hidupnya di tengah mereka. Ia mengingatkan bahwa selama berada di Tesalonika, ia bekerja siang dan malam supaya tidak menjadi beban bagi jemaat. Ia tidak ingin bergantung secara finansial kepada mereka. Pada masa itu, banyak pengajar hidup dari dukungan orang kaya. Namun Paulus memilih bekerja dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, ia menunjukkan bahwa ia tidak memberitakan Injil demi uang atau keuntungan pribadi.
Paulus juga menekankan bahwa hidupnya di tengah mereka dijalani dengan sungguh-sungguh, yaitu dengan kudus, adil, dan tidak bercacat. Ia tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga memberi teladan. Ia menggambarkan dirinya seperti seorang ayah yang menasihati dan menguatkan anak-anaknya, mendorong mereka untuk hidup sesuai dengan panggilan Allah. Panggilan itu adalah hidup dalam Kerajaan dan Kemuliaan-Nya, artinya hidup yang mencerminkan nilai-nilai Allah di tengah dunia.
Paulus bersyukur karena jemaat menerima berita yang ia sampaikan bukan sebagai perkataan manusia biasa, tetapi sebagai Firman Allah. Firman itu tidak berhenti sebagai informasi. Firman itu bekerja di dalam hidup mereka, membentuk iman dan ketekunan mereka, bahkan ketika mereka harus menghadapi tekanan dan penderitaan.
Matius 23 : 1 – 12
Dalam Matius 23:1–12, Yesus sedang berbicara kepada orang banyak dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Yesus berbicara tentang ahli Taurat dan orang Farisi, yaitu kelompok pemimpin agama Yahudi yang dikenal sebagai pengajar hukum Taurat. Ia mengakui bahwa mereka memiliki posisi resmi sebagai pengajar hukum Musa. Apa yang mereka ajarkan tentang Taurat tetap perlu didengar. Namun masalahnya, mereka tidak melakukan apa yang mereka ajarkan. Mereka pandai menuntut orang lain, tetapi tidak mau menjalankan tuntutan itu sendiri.
Di samping itu, Yesus juga menyoroti bagaimana mereka membebani orang dengan aturan-aturan yang berat. Dalam kehidupan masyarakat waktu itu, ketaatan pada hukum agama sangat mempengaruhi status sosial seseorang. Jika dianggap tidak taat, seseorang bisa dipandang rendah atau dikucilkan. Oleh karena itu, tuntutan yang terlalu berat menjadi tekanan yang serius bagi banyak orang.
Yesus juga mengkritik sikap mereka yang suka pamer kesalehan. Mereka memperbesar tanda-tanda keagamaan, seperti tali sembahyang dan rumbai jubah supaya terlihat lebih rohani. Mereka juga senang duduk di tempat terhormat dan dipanggil dengan gelar-gelar kehormatan. Dalam budaya saat itu, kehormatan publik sangat penting, sehingga agama bisa menjadi sarana untuk mencari status.
Yesus kemudian mengajarkan prinsip yang berbeda bagi murid-murid-Nya. Para murid Yesus tidak boleh ada perlombaan mencari gelar atau kedudukan rohani. Mereka semua bersaudara, dan Allah adalah satu-satunya Bapa yang sejati. Kebesaran dalam Kerajaan Allah tidak diukur dari jabatan atau pengakuan, tetapi dari kesediaan untuk melayani. Bagian ini diakhiri dengan prinsip penting, yaitu siapa yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Dengan demikian, Matius 23:1–12 bukanlah penolakan terhadap hukum Taurat, melainkan peringatan terhadap kemunafikan dan penyalahgunaan otoritas rohani. Yesus menegaskan bahwa iman sejati terlihat dari kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, serta dari kerendahan hati dalam melayani orang lain.
Benang Merah Tiga Bacaan
Allah tidak berkenan terhadap otoritas rohani yang dipakai untuk mencari kekuasaan dan keuntungan. Allah berkenan memakai dan membangun umat-Nya, ketika pelayanan dijalani dengan kerendahan hati dan integritas. Dengan demikian, dalam tiga bacaan dari tiga zaman yang berbeda di atas, terdapat satu pesan jelas bahwa kehidupan di hadapan Allah dikehendaki dilakukan secara selaras antara kata dan perbuatan, serta dari hati yang mau melayani, bukan ditinggikan dan mendapat keuntungan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Hari ini kita hidup di zaman pencitraan. Satu foto bisa diedit dalam hitungan detik. Satu kalimat bisa dirangkai agar terdengar bijak. Satu jabatan bisa ditampilkan agar tampak mengesankan. Kita bisa melihat di layar, semuanya rapi, tetapi di balik layar, belum tentu baik-baik saja. Ada istilah yang sering kita dengar, yaitu personal branding. Orang belajar membangun citra diri. Tentu itu bukan hal yang salah. Tetapi masalah muncul ketika citra menjadi lebih penting daripada isi. Tampilannya dipoles sedemikian rupa demi mendapatkan pengakuan namun karakter dirinya tidak ikut berubah menjadi lebih baik.
Kita bisa terlihat peduli, tanpa benar-benar peduli. Kita bisa terdengar rohani, tanpa sungguh-sungguh taat menghidupi iman. Kita bisa memegang jabatan, tetapi tidak memegang tanggung jawab dengan setia. Lalu pertanyaannya sekarang, “Jika semua gelar dilepas, jika semua panggung diturunkan, jika semua kamera dimatikan, siapakah kita sebenarnya?”
Di situlah firman Tuhan hari ini membawa kita bukan untuk menilai orang lain, tetapi untuk mawas diri. Bukan untuk membongkar tampilan orang, tetapi untuk memeriksa karakter kita, karena iman bukan soal bagaimana kita terlihat, melainkan siapa kita ketika tidak ada yang melihat.
Isi
Dalam Mikha 3:5–12, nabi Mikha berbicara kepada para pemimpin, imam, dan nabi di Yerusalem. Mereka sebagai orang yang memiliki jabatan religius yang sah, memiliki tanggung jawab untuk mengajar, memimpin, dan bernubuat. Sayangnya, mereka tidak melakukan tanggung jawab mereka dengan benar. Nabi justru menenung untuk mendapatkan bayaran. Pemimpin memutuskan perkara karena suap, dan Imam mengajar karena upah. Mereka melakukannya dengan yakin bahwa Tuhan ada di tengah mereka dan merasa aman karena simbol religius, yaitu Bait Suci berdiri megah di Yerusalem. Tetapi Mikha menyatakan jika cara hidup mereka tidak adil, maka kota suci pun bisa runtuh. Ini bukan hal yang mustahil, karena gelar religius tidak kebal terhadap penilaian Allah. Mereka tetap harus berintegritas dalam mengajar dan memimpin.
Begitu pula Yesus, dalam Matius 23:1–12, Ia berbicara kepada para murid-Nya dan orang banyak tentang ahli Taurat dan orang Farisi. Ahli Taurat dan orang Farisi digambarkan duduk di “kursi Musa”, artinya mereka memiliki otoritas resmi mengajar hukum Taurat. Yesus tidak menolak hukum Taurat, tetapi Ia menunjukkan jurang antara apa yang mereka ajarkan dan tindakan mereka. Mereka mengajarkan hukum Taurat, tetapi tidak melakukannya.
Mereka memperbesar simbol kesalehan, tetapi perbuatannya tidak mencerminkan kesalehan mereka. Mereka menyukai salam kehormatan di pasar atau tempat umum, tetapi kurang menghormati orang lain.
Pada masa itu, mendapatkan kehormatan publik adalah segalanya. Namun Yesus justru membalikkan pemahaman tersebut. Yesus menyatakan bahwa yang terbesar adalah mereka yang mau melayani. Di sini Yesus menentang sistem yang memuja gelar. Ia menegaskan bahwa dalam Kerajaan Allah, relasi bukan soal hierarki kemegahan status sosial tertentu, tetapi tentang persaudaraan dan pelayanan.
Sedangkan Paulus, dalam 1 Tesalonika 2:9–13, memberikan teladan hidup sebagaimana semestinya kehidupan orang yang beriman pada Tuhan. Paulus bekerja dengan tangannya sendiri. Ia tidak ingin membebani jemaat. Ia hidup kudus, adil, dan tak bercacat di tengah mereka. Ia tidak menuntut penghormatan, tetapi memberi teladan di tengah hidup jemaat. Kemudian jemaat menerima perkataannya bukan sebagai kata-kata manusia, melainkan sebagai Firman Allah yang bekerja dalam hidup mereka. Dengan demikian, jelaslah bahwa bukan gelar atau jabatan rohani yang menguatkan Injil. Namun, karakter dan integritaslah yang membuktikan bahwa Firman Tuhan itu tumbuh dan berakar.
Tiga bacaan di atas menyuarakan satu pesan yang sama:
- Mikha memperingatkan: jabatan tanpa keadilan membawa kehancuran.
- Yesus menegaskan: kehormatan tanpa pelayanan adalah kemunafikan.
- Paulus menunjukkan: pelayanan yang rendah hati melahirkan iman yang hidup.
Semua berbicara tentang mawas diri, yaitu kesadaran untuk terus menerus mengupayakan hidup berintegritas, bukan hanya sekadar memiliki jabatan, gelar kehormatan, atau pengakuan.
Penutup
Kita hidup di zaman pencitraan. Orang bisa terlihat bijak di layar, tetapi berbeda di ruang rapat. Bisa terdengar rohani di mimbar, tetapi mementingkan diri sendiri ketika di rumah. Bisa tampak peduli di media sosial, tetapi acuh dalam kenyataan. Oleh karena itu, dalam bulan budaya kali ini, firman Tuhan mengajak kita merenungkan lebih dalam tentang identitas, warisan, dan kehormatan. Firman Tuhan mengajak kita menyadari bahwa budaya yang sehat itu membentuk karakter yang mawas diri. Mawas diri bukanlah sikap curiga pada orang lain, melainkan keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri. Kita punya kesadaran untuk terus menerus mengupayakan hidup berintegritas, bukan hanya sekadar memiliki jabatan, gelar kehormatan, atau pengakuan. Dengan begitu, kita mempunyai kemampuan dan keberanian untuk mengkritisi hidup yang kita jalani. Kita berani menyelami:
- Apakah kehidupan kita sejalan dengan pengakuan iman kita?
- Apakah pelayanan kita lahir dari kerendahan hati atau dari kebutuhan akan pengakuan?
- Apakah keluarga kita melihat karakter yang sama dengan yang orang lain lihat di gereja?
Mawas diri membuat kita tidak cepat puas dengan gelar, jabatan, atau pujian. Ia menuntun kita pada komitmen yang sederhana tetapi nyata. Jika kita memimpin, mari kita memimpin dengan adil. Jika kita melayani, mari kita melayani tanpa mencari pujian. Jika kita mengaku percaya, mari kita hidup sesuai iman itu. Dengan demikian, kesaksian yang sejati itu telah terjadi, tanpa “gelar”, tanpa panggung, tanpa pencitraan. Amin. [fani]
Pujian: KJ. 372 Inginkah Kau Ikut Tuhan
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Ing jaman samangke kita gesang ing zaman pencitraan. Setunggal detik kemawon kita saged ngowahi utawi ngedit foto kados ingkang kita kajengaken. Kita ugi saged damel tembung ingkang ketingal endah lan wicaksana. Malah kepara jabatan saged dipun poles supados ketingal sae lan ngedab-edabi. Menawi kita ningali ing layar sadaya ketingalipun sae, kamangka ing gesang sejatosipun dereng tamtu kados mekaten. Mbok menawi kita asring ngertos istilah ingkang kasebat personal branding utawi citra diri. Asring tiyang sibuk mbangun citra diri. Punika sanes bab ingkang klentu ananging saged dados prekawis menawi ingkang dados kawigatosan namung citranipun kemawon. Gesang ingkang sejati mboten kados ingkang dipun tampilaken. Tiyang ingkang kepengin ketingal sae lajeng mbangun citra diri punika lan nglirwakaken karakter ingkang langkung wigati.
Kita saged ketingal peduli, sanadyan kita mboten saestu peduli. Kita saged ketingal rohani sanadyan mboten saestu taat. Kita saged ketingal mangku jabatan kanthi setya sanadyan kita kirang tanggel jawab. Menawi kados mekaten, kita kedah mangsuli setunggal pitakenan, “Sinten ta sejatosipun dhiri kita punika bilih kita tilaraken sadaya citra dhiri kita?”
Waosan ing dinten punika paring pitedah tumrap kita, mboten kangge ningali gesangipun tiyang sanes, ananging lumebet ing gesang kita piyambak-piyambak. Mboten kangge mbiji gesanging liyan ananging kangge mawas diri, mulat sarira minangka sejatining manungsa bilih mboten dipun tingali dening tiyang sanes.
Isi
Ing Mikha 3:5-12, nabi Mikha martosaken dhumateng para pemimpin, imam, lan nabi ing Yerusalem. Tigang jabatan kalawau saestu wigati awit dipun pitados kangge mucal, mimpin, lan paring nubuatan. Ananging ingkang kalampahan mboten mekaten. Waosan kita ing Mikha kanthi cetha nyebataken bilih umat sampun dipun sasaraken dening tigang jabatan kalawau. Nabi ingkang pados artha kanthi ngramal bab ingkang sae kangge sok sinten kemawon ingkang bayar, lan ngancam dhumateng para tiyang ingkang mboten maringi artha. Para pejabat kalawau saged nindakaken bab punika wau awit pitados bilih selawasing taksih wonten Padaleman Suci ing Yerusalem mesthi Gusti ugi tansah nunggil ing satengahing bangsa Israel. Nabi Mikha ngandharaken bilih mboten mekaten ing ngarsanipun Gusti. Kutha Suci saged risak amargi para pemimpinipun punika kecalan integritasipun.
Mekaten ugi ing Mateus 23:1-12, Gusti Yesus ngendika tumrap para sakabat-Ipun lan tiyang kathah bab ahli Toret lan para Farisi ingkang sampun lenggah ing palenggahanipun Nabi Musa. Lan dhawuh dhateng para tiyang kathah kalawau supados manut punapa ingkang dipun dhawuhaken para Farisi lan ahli Toret ananging sampun ngantos nulad tindak tandukipun. Wonten jurang ingkang menga antawisipun punapa ingkang dipun wulangaken ahli Toret lan para Farisi kaliyan punapa ingkang dipun tindakaken. Para tiyang punika namung ngegungaken simbol kasalehan, ananging tindak-tandukipun mboten nedahaken kasalehan punika. Para Farisi lan ahli Toret ugi remen bilih dipun ajeni ing pasar utawi ing papan rame sanesipun, ananging kirang anggenipun ngajeni tiyang sanes.
Ing jaman kala semanten, tiyang ingkang dipun ajeni ing papan umum punika nedahaken inggil drajadipun. Ananging Gusti Yesus mucalaken bab ingkang benten. Kagem Gusti Yesus ingkang paling ageng inggih punika tiyang ingkang nindakaken peladosan. Gusti Yesus saestu ngandharaken bilih gelar ingkang dipun tuju dening para Farisi lan Ahli Toret punika namung nglaha bilih tindak-tandukipun mboten laras kaliyan punapa ingkang dados piwulangipun. Ing salebeting Kratoning Allah, ingkang wigati mboten drajad lan pangkat, ananging paseduluran lan peladosan.
Rasul Paulus ing 1 Tesalonika 2:9-13 nedahaken tuladhaning gesang tumrap tiyang pitados, kados pundi gesangipun tiyang pitados dhumateng Gusti. Paulus nyambut damel kanthi tanganipun piyambak. Paulus mboten kepengin dados momotan tumrap pasamuwan ingkang dipun ladosi. Gesang ingkang adil, tanpa cacad ing satengahing para tiyang ingkang pitados. Mboten nuju ing pangaji ananging paring tuladha. Kanthi gesang ingkang mekaten, punapa ingkang dipun dhawuhaken rasul Paulus saestu katampi minangka sabdanipun Gusti ing satengahing pasamuwan. Kanthi mekaten, sampun cetha bilih drajad, pangkat, lan pangaji punika mboten wonten ginanipun ing ngarsaning Gusti Allah, ananging karakter lan integritas ingkang saged nuwuhaken imanipun pasamuwan.
Waosan ingkang sampun kita gatosaken kalawau mbabar cariyos ingkang sami:
- Mikha ngemutaken: Jabatan ingkang nilar kaadilan nuntun ing karisakan.
- Gusti Yesus ngendika: pangaji ingkang nilar peladosan nyebabaken gesang ingkang munafik.
- Rasul Paulus nedahaken: peladosan lan tuladha ingkang andhap asor nuwuhaken iman ingkang ngrembaka.
Panutup
Kados ingkang sampun kita gatosaken ing inggil, samangke kita gesang ing jaman ingkang kebak pencitraan. Tiyang saged kemawon ketingal wicaksana ing layar, ananging saged benten nalika rapat. Saged kados-kados rohani sanget menawi wonten ing mimbar, nanging egois nalika wonten griya. Saged ketingal peduli ing media sosial, nanging kosok wangsulipun ing gesang padintenan. Mila ing Wulan Budaya punika, pangandikanipun Gusti tansah nimbali kita bilih budaya ingkang sehat tansah mbekta kita ing kahanan ingkang mawas dhiri. Mawas dhiri mboten kebak ing prasangka tumrap tiyang sanes, nanging mulat sariraning dhiri. Kanthi sadaya ingkang sampun kita gatosaken kalawau sumangga kita mboten namung nggadhahi drajad lan pangkat, nanging ngupadi gesang ingkang nggadhah integritas. Kanthi mekaten kita saged waspada anggenipun nglampahi gesang padintenan. Malah kita saged atur pitaken:
- Punapa gesang kita sampun laras kaliyan pangaken pitados kita?
- Punapa peladosan kita sampun lair saking andhap asoring manah, punapa malah dumados saking raos pengen dipun ajeni?
- Punapa brayat kita ningali karakter ingkang sami kaliyan ingkang dipun tingali dening kadang sapatunggilan?
Mawas dhiri nuntun dhiri kita, mboten cekap namung pikantuk drajad, pangkat, lan pangaji, nanging nuntun kita dhumateng gesang prasaja ananging nyata. Menawi kita kapiji dados pemimpin, mangga kita saged mimpin kanthi adil. Menawi kita ngladosi, mangga kita ngladosi kanthi tulus tanpa raos pengin dipun ajeni. Menawi kita ngaken pitados, mangga kita saged gesang jumbuh kaliyan pangaken kita kalawau. Kanthi mekaten, gesang ingkang dados seksi saged kalampahan, mboten kagodha dening pangaji lan pencitraan. Amin. [fani]
Pamuji: KPJ. 346A Ndedonga Lan Makarya