Beribadah adalah Memelihara Kehidupan, Bukan Mengancam Kehidupan Khotbah Minggu 7 Maret 2021

Minggu Paskah III
Stola Ungu

Bacaan 1: Keluaran 20 : 1 – 17
Bacaan 2 :
1 Korintus 1 : 18 – 25
Bacaan 3 :
Yohanes 2 : 13 – 22

Tema Liturgis : Ketergantungan Mutlak Kepada Kasih karunia Kristus
Tema Khotbah:
Beribadah adalah Memelihara Kehidupan, Bukan Mengancam Kehidupan

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 20 : 1 – 17
Dari bacaan tersebut esensi Sepuluh Perintah Allah terlihat di bagian pembukaannya saat Allah berfirman, “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel. 20:22). Dengan penyataan diri Allah bahwa Dialah Tuhan yang telah membawa keluar atau membebaskan umat-Nya dari kuasa perbudakan, hakikat keselamatan sama sekali bukan hasil prestasi rohaniah atau amal ibadah manusia. Keselamatan adalah semata-mata anugerah Allah dan Dia sendiri yang berinisiatif dan bertindak untuk membebaskan manusia dari kuasa dan belenggu perbudakan. Allah yang telah membebaskan umat Israel, pada akhirnya menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia.

Bagian pendahuluan ini menegaskan tentang siapakah Allah yang harus disembah. Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang telah bertindak untuk mengeluarkan bangsa Israel dari tanah perbudakan. Mereka bukan lagi bangsa budak tetapi mereka telah menjadi bangsa yang merdeka. Karena itu Sepuluh Perintah ini diberikan kepada bangsa Israel yang telah dimerdekakan agar mereka dapat bertindak dengan benar sebagai orang yang merdeka. Pada hakikatnya hanya merupakan gambaran dari hukum kerajaan Allah atau hukum Kasih Kristus. Umat diharapkan sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah ini berdasarkan kasih Allah yang telah berkorban dan bukan karena mereka memiliki motivasi untuk meraih keselamatan dengan upayanya sendiri. Tuhan memberikan Sepuluh Perintah ini bukan sebagai sarana untuk mencapai keselamatan tetapi untuk menolong umat menjalani kehidupan yang benar sebagai orang yang telah dimerdekakan. Hal ini semestinya dinampakkan ketika umat menunjukkan cinta mereka yang total kepada Tuhan. Kesepuluh perintah itu seharusnya dilakukan dalam kehidupan sebagai tanda dari orang yang telah dibenarkan dan diampuni dosanya oleh Kristus.

 1 Korintus 1 : 18 – 25
Kota Korintus memiliki dua pelabuhan yang cukup besar. Melalui pelabuhan itu relasi antar bangsa terjalin, sehingga terjadilah silang bahasa dan budaya. Dengan adanya dua pelabuhan, Korintus juga menjadi pusat perdagangan. Melalui perdagangan mendatangkan kesejahteraan bagi warga kota Korintus. Di sisi yang lain, tumbuh pula praktik-praktik “premanisme”, praktik korupsi. Nampak adanya kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin, orang Yahudi dan Yunani, antara orang merdeka dan budak.

Dalam konteks masyarakat seperti itulah Rasul Paulus mewartakan pembebasan. Ia menyatakan bahwa Kristus telah menghimpun orang percaya baik itu laki-laki dan perempuan, orang kaya dan miskin, orang Yahudi dan Yunani, orang merdeka dan budak. Mereka bersatu hati dalam satu Roh untuk menyembah Tuhan Yesus secara merdeka. Namun sayang, ketika Rasul Paulus meninggalkan Korintus untuk perjalanan menuju Efesus, beberapa jemaat mulai meninggalkan kehidupan sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam tubuh jemaat mulai muncul kesalahpahaman dan perselisihan. Masing-masing menggunakan ukuran kebenarannya sendiri. Kesatuan jemaat terancam. Dalam perjamuan meja, mereka tidak mau duduk bersama.

Bagi orang Yahudi dan Yunani, kebenaran Kristus yang diwartakan oleh Rasul Paulus sulit mereka mengerti. Orang Yahudi berpendapat bahwa pemberitaan Kristus adalah kebodohan. Orang Yahudi menghendaki suatu tanda ajaib yang hebat dan luar biasa, tetapi mengapa justru Tuhan Yesus menyatakan kematian-Nya di atas kayu salib sebagai tanda otoritas-Nya sebagai Anak Allah. Masakan Anak Allah mati di atas tiang gantungan? Hukum Taurat menyatakan dalam Ulangan 21:23, “Sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu”. Dengan demikian tiap orang yang disalibkan atau digantung di atas tiang gantungan merupakan tanda bahwa orang itu dikutuk Allah.

Demikian juga bagi orang Yunani, mereka mengatakan bahwa ajaran tentang Allah yang menjelma menjadi manusia dan disalibkan dianggap tidak masuk akal. Salib bukanlah sesuatu yang mengesankan bagi mereka untuk memperoleh hikmat (Sophia, Yun.) dan pengertian secara filosofis. Masakan tokoh yang dianggap ilahi harus mengalami kematian yang hina? Bagaimana mungkin tubuh yang dianggap “hina” oleh filsafat Yunani dan telah mati dapat bangkit dari kematian dengan tubuh kemuliaan? Tepatlah jika salib dipahami sebagai suatu batu sandungan bagi orang Yahudi dan suatu kebodohan bagi orang Yunani (1 Kor. 1:23b).

Atas pandangan itu Rasul Paulus mengatakan bahwa apa yang dianggap sebagai kebodohan dan sebagai batu sandungan justru dilihat sebagai hal yang sangat berharga bagi kerajaan Allah. Kristus yang disalib adalah sumber hikmat Allah (1 Kor. 1:21). Tepatnya, hanya orang yang telah dipanggil dan dipilih Allah saja yang mampu memahami salib Kristus sebagai kekuatan yang menyelamatkan.

Yohanes 2 : 13 – 22
Menarik bahwa kisah Tuhan Yesus membersihkan atau menguduskan Bait Allah disaksikan oleh keempat Injil. Tentulah hal ini menyampaikan pesan bahwa kisah Kristus membersihkan Bait Allah diyakini sebagai suatu peristiwa penting. Kisah yang ditulis dalam perikop ini memiliki latar belakang hari raya Paskah. Sebuah perayaan besar-besaran yang akan diikuti oleh orang Yahudi. Mereka yang tinggal di tempat-tempat jauh pun menyempatkan diri untuk merayakan Paskah di Bait Allah yang terletak di Yerusalem. Dalam tradisi bangsa Israel, Bait Allah memiliki nilai penting. Bait Allah dipahami sebagai tempat kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya. Bait Allah merupakan sebuah institusi yang kompleks. Di satu sisi untuk menjaga upacara keagamaan, para imam memastikan bahwa persembahan yang dibawa umat memang persembahan yang tak bercacat. Jadi harus diteliti betul kelayakan binatang yang akan dipersembahkan.

Demikian juga uang yang akan digunakan untuk transaksi adalah uang yang diakui oleh pemerintah Romawi, sehingga untuk “memudahkan” para pengunjung, di halaman Bait Allah digelar tempat jual beli hewan korban dan tukar menukar mata uang. Di sisi lain, sebenarnya para imam tidak memiliki kuasa penuh karena penguasa Romawi memiliki otoritas lebih tinggi dari para imam. Penguasa Romawi ini mengambil keuntungan dari kegiatan yang terjadi di Bait Allah. Merekalah yang mengontrol berbagai kegiatan di Bait Allah. Bait Allah yang semestinya menjadi tempat dimana kebenaran dan kehendak Tuhan dilaksanakan menjadi tempat jual beli yang menguntungkan kelompok tertentu tetapi merugikan bagi masyarakat umum. Situasi ini dipandang tidak benar oleh Tuhan Yesus. Karenanya ketika Dia memasuki Bait Allah, dia membuat cambuk tali. Para pedagang, Dia usir, meja untuk menukarkan uang dijungkirbalikkan, dengan lantang Dia mengatakan: ”Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”. Orang-orang Yahudi yang ada di situ tidak menerima perlakuan Yesus itu. Mereka meminta kepada Yesus “surat kuasa” atas tindakan-Nya itu. Namun Yesus menentang mereka dengan mengatakan, ”Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Mendengar pernyataan Yesus itu, orang Yahudi tidak bisa memahami, bahkan pernyataan Yesus itu dinilai sangat mustahil. Mereka sangat tahu bahwa Bait Allah dibangun dalam waktu lama, kurang lebih 40 tahun. Ketika mereka mendengar bahwa Yesus akan mendirikan kembali Bait Allah dalam waktu tiga hari, mereka tidak paham bahwa yang dimaksudkan-Nya adalah tubuh-Nya sendiri. Ia akan mati, namun pada hari ketiga Ia akan bangkit.

Di sisi lain, Injil Yohanes menyaksikan bahwa Tuhan Yesus sesungguhnya adalah Sang Firman Allah yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). Dengan demikian, makna teologis yang didapatkan bahwa “Nama llah” yang menunjuk kepada diri Yahweh sendiri berkenan hadir di tengah umat-Nya melalui media Bait Allah. Di sisi lain, kini dalam diri Yesus Kristus, Allah hadir melalui firman-Nya secara riil sebagai seorang manusia ditengah umat-Nya secara khusus ketika Yesus disalibkan dan wafat. Pada saat itulah Allah menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya dengan cara membangkitkan Dia dari antara orang mati.

Jadi makna penyucian Bait Allah yang Tuhan Yesus lakukan menurut Injil Yohanes berkaitan dengan karya keselamatan Allah yang telah dinyatakan dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Pertama, Penyucian Bait Allah sebagai lambang karya pengudusan dan keselamatan Allah kepada umat-Nya dinyatakan melalui peristiwa salib, yakni melalui kematian Kristus di Bukit Golgota. Oleh sebab itu, subjek membersihkan atau menyucikan bait Allah adalah Tuhan Yesus sendiri. Meskipun untuk itu, Kristus harus menerima resiko yakni tubuh-Nya mengalami siksa salib dan kematian. Kedua, penyucian Bait Allah pada hakikatnya hendak menyatakan bahwa manusia tidak mungkin dapat memperoleh keselamatan dari Allah melalui persembahan yang dikurbankan. Manusia tidak dapat menerima keselamatan Allah dengan mempersembahkan hewan kurban atau harta benda mereka. Seluruh upaya amal ibadah dan perbuatan baik yang manusia lakukan tidak dapat dipakai untuk menebus dosa yang telah membelenggu kehidupan mereka. Itulah sebabnya, Kristus ditentukan Allah untuk mengalami kematian agar dengan tubuh-Nya yang telah dihancurkan oleh kuasa kegelapan, Allah dapat memulihkan seluruh keberdosaan manusia. Kepenuhan pemulihan itu diteguhkan dengan peristiwa kebangkitan Yesus dari antara orang mati, yang semakin meneguhkan iman para murid dan kehidupan gereja mula-mula (Yoh 2:22). Dengan demikian iman kepada Yesus Kristus menjadi prasyarat utama untuk menerima keselamatan Allah. Sehingga salib Kristus diimani sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Yesus mengingatkan bahwa sesungguhnya Bait Allah itu fana. Semegah dan sekuat apapun Bait Allah dibangun suatu saat akan hancur. Karena sesungguhnya yang tidak hancur adalah Dia, Yesus, yang mampu mendirikan “Bait Allah” melalui kebangkitan-Nya. Dalam Minggu Pra Paskah 3 kita diajak untuk melihat akan laku peribadatan kita. Yesus tidak alergi dengan ritual peribadatan. Yesus menghendaki setiap peribadatan yang kita jalani dilakukan dengan penuh cinta, pembebasan dan kesatuan. Dengan demikian, ritual peribadatan yang dijalani mengarahkan kita untuk bersyukur dengan sepenuh cinta dihadapan Allah. Karena sesungguhnya beribadah itu soal memelihara dan merawat kehidupan, bukan mengancam kehidupan.

Rancangan Khotbah :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Waspadalah, ritual itu kapital. Demikianlah bunyi sebuah mural di dinding tembok. Mural tersebut mengajak kita untuk merenungkan secara mendalam tentang laku ritual keagamaan. Mewaspadai ritual keagamaan yang mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Di balik upacara keagamaan bisa jadi ada oknum yang siap mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri, memperkaya diri sendiri, serta mengeruk kekuasaan dari ritual keagamaan yang dilakukan. Komersialisasi ritual merupakan hal yang mudah untuk mendapatkan keuntungan melalui pemanfaatan hal-hal rohani untuk kepentingan duniawi lebih menarik ketimbang pemanfaatan hal-hal rohani bagi hidup sesehari. Firman Allah yang merupakan sarana bagi umat Allah untuk merefleksikan cinta kasih Allah, justru disalahgunakan sebagai alat untuk menyebar kebencian, ketakutan, ancaman bagi orang lain. Atau juga terjadi Firman Allah dipakai untuk upaya memenuhi ambisi dan kepentingan pribadi dan haus akan kekuasaan.

Isi
Saudara yang terkasih, melalui perikop Yohanes 2:13-22, dengan latar belakang hari raya besar Yahudi, hari raya Paskah. Yesus memberikan teguran keras terhadap praktik keagamaan yang dilakukan di Bait Allah. Penguasa Romawi mengambil keuntungan dari kegiatan yang terjadi di bait Allah, termasuk mengontrol kegiatan di bait Allah. Seperti halnya uang yang dipakai untuk transaksi adalah uang yang diakui oleh pemerintah Romawi. Demikian juga dengan para imam menerapkan aturan-aturan untuk menjaga upacara keagamaan. Para imam memastikan bahwa persembahan yang dibawa harus melewati uji kelayakan yang dibuat oleh para imam. Sehingga untuk memudahkan pengunjung di halaman bait Allah disediakan tempat jual beli hewan kurban dan tukar menukar mata uang.

Bait Allah semestinya menjadi tempat di mana kebenaran dan kehendak Tuhan dilaksanakan, justru menjadi tempat jual beli yang menguntungkan kelompok tertentu namun merugikan bagi masyarakat umum. Bait Allah yang dipahami sebagai tempat kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya justru berubah menjadi tempat mencari keuntungan dengan mengatas-namakan agama. Tempat persekongkolan antara para agamawan dan pemilik modal membuat label-label agamawi untuk mendapatkan keuntungan. Orang-orang yang ingin datang ke bait Allah untuk mendengarkan kebenaran Firman Allah justru dihambat oleh ritual kegamaan yang mahal harganya. Bait Allah berubah menjadi tempat “wisata rohani”.

Karenanya ketika Yesus datang ke Bait Allah, Ia menegaskan bahwa sesungguhnya bait Allah itu fana. Semegah apapun akan hancur. Dengan lantang Yesus mengatakan, “… jangan kamu membuat Rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Yesus melakukan tindakan simbolik untuk menegaskan tentang apa yang sesungguhnya ingin Dia sampaikan. Yesus menunjukkan bahwa mereka menerima begitu saja terjungkir baliknya kehidupan bait Allah. Orang sibuk dengan kurban yang mulus ataukah tidak. Mana uang yang lebih cocok. Dari tindakan Yesus dan perkataan-Nya menegaskan supaya orang mencari bait Allah, yang membuat orang menikmati hadirnya Allah, yang membuat batin lega, yang bisa memberikan kehidupan. Dan sesungguhnya, itu adalah diri Yesus sendiri. Oleh sebab itulah Yesus mengatakan, “Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” yang dimaksudkan adalah tubuh-Nya sendiri. Ia akan mati, namun pada hari ketiga Ia akan bangkit. Kematian-Nya adalah wujud cinta-Nya kepada bait Allah.

Yesus tidak alergi dengan ritual peribadatan. Ia menghendaki setiap peribadatan yang kita lakukan dijalani dengan semangat penuh cinta, pembebasan dan kesatuan. Dalam peribadatan yang penuh cinta umat dapat mendengarkan firman Allah. Melalui firman Allah (Keluaran 20:1-17) tersebut memberikan daya kepada umat untuk memberikan pembebasan. Dan bukankan semangat itulah yang mendasari Allah untuk memberikan sepuluh perintah? Hukum-hukumnya berdasarkan kasih Allah yang telah berkurban.

Seperti halnya dengan kekuatan cinta melalui derita salib, yang dianggap bodoh dan batu sandungan oleh dunia justru merupakan jalan bagi Allah untuk hadir secara riil di tengah kehidupan umat-Nya (1 Korintus 1:18). Dengan demikian salib merupakan kesaksian yang sangat kontras dengan manusia yang seringkali mengandalkan hikmat atau pengertian dan kepandaiannya sendiri. Di hadapan peristiwa salib, umat manusia tidak boleh sekedar memahami kehidupan melalui hikmat dan pengertiannya sendiri, tetapi perlu memahami secara personal suara hati Allah dan kasih-Nya. Dengan demikian setiap hukum Allah perlu kita pahami sebagai ungkapan hati dan kasih-Nya sehingga perlu direspon dengan sikap kasih pula.

Penutup
Saudaraku, kekuatan dan rengkuhan cinta Yesus akan menumbuhkan persekutuan yang akrab, bebas dari rasa takut, yang semestinya nampak dalam peribadatan kita. Cinta membuat Yesus menyatakan pengampunan, mampu menghadapi penderitaan tanpa jatuh dalam kebencian dan berani merengkuh kematian di kayu salib. Dalam cinta, Ia turun ke dalam kerajaan maut dan dengan cinta pula Ia bangkit dari kematian pada hari ketiga. Kebangkitan-Nya merengkuh manusia agar saling mencintai satu sama lain. Sebagaimana Yesus bangkit karena cinta-Nya, manusia benar-benar mengalami hidup bila merasakan hidupnya dicintai dan bersedia mencintai.

Demikianlah sesungguhnya yang Yesus inginkan dalam peribadatan. Ritus peribadatan semestinya mengundang setiap orang untuk mengalami cinta Yesus di dalam kehidupan sehari-hari dan melalui itu semua akan menghadirkan cinta dan kehidupan bagi sesama. Dalam cinta, penghargaan dan penghormatan terwujud seiring sejalan. Karena sesungguhnya beribadah adalah untuk memelihara kehidupan bukan mengancam kehidupan. Sehingga kehadiran hidup kita sebagai bait Allah mendatangkan berkah bagi kehidupan ini. Amin. (ANS)

Pujian  : Kid. Kontekstual 38  Hiduplah dalam Firman-Nya

Rancangan Khotbah :  Basa Jawi

Pambuka
“Waspadalah, Ritual Itu Kapital”, mekaten seratan wonten ing satunggaling tembok. Seratan punika ngajak dhateng kita sami nenimbang kanthi temen kados pundi anggen kita nindakaken ritual pangabekti. Kita kedah waspada bilih wonten ritual agami ingkang namung kangge pados kauntungan dhiri pribadi, ing pundi wonten tiyang-tiyang ingkang pados kauntungan murih tansaya sugih sarta saged dados panguwosa saking ritual agami punika.  Pramila perkawis ingkang gampil, katah tiyang ingkang asring  migunakaken bab-bab rohani kangge kabetahan duniawinipun piyambak.

Sabdanipun Gusti  ingkang kedahipun dados sarana umat ngraosaken katresnanipun Gusti Allah, malah dipun ginakaken dados sarana kangge nyebar pasulayan, raos ajrih, kepara malah kangge ngancam tiyang sanes. Utawi saged ugi Sabdanipun Gusti kaginakaken kangge kepentingan pribadi anggenipun kepengin anggadahi panguwaos.

Isi
Para saderek ingkang kinasih, Injil Yokanan 2:13-22, nyerat gambaran swasana panghargyan Paskah Yahudi. Nalika semanten, Gusti Yesus ngemutaken para tiyang Yahudi awit kalepatanipun anggenipun nindakaken ritual agami ing Padaleman Suci. Panguwaos Romawi mendhet kauntungan saking panghargyan Paskah punika. Pamarintah Romawi kuwaos ngontrol sedaya kegiatan wonten ing Padaleman Suci, kadosdene arta ingkang kaginakaken wonten ing Padaleman Suci, kedah arta ingkang dipun akeni dening pamarintah Romawi. Mekaten ugi para imam damel sakatahing pranatan kangge njagi ritual agami. Para imam punika damel pepesthen bilih pisungsung ingkang kabekta kedah dipun uji rumiyin. Pramila supados para tiyang Yahudi ingkang badhe ngaturaken pisungsung kurban wonten ing Padaleman Suci saged lancer, kacawisaken papan sadean sato kewan kurban lan papan kanggé préyalan (tukang nglintoni arta).

Padaleman Suci ingkang kedahipun dados papan mbabar kabeneran lan dhawuhipun Gusti, wekdal punika malah dados papan sadean sato kewan korban, ingkang damel kauntungan kangge kelompok tertamtu, ananging damel kapitunan tumrap masyarakat sanes. Padaleman Suci ingkang minangka papan karawuhipun Gusti ing satengahing umat, malah karibah dados papan kangge pados kauntungan kanthi ngginakaken tameng agami. Ing antawisipun para imam lan para panguwaos ingkang gadah modal sami golong-gilig ngginakaken ritual agami kangge pados kauntungan. Para tiyang Yahudi ingkang tindak ing Padaleman Suci malah kapalang kanthi ritual agami ingkang awis reginipun. Padaleman Suci sampun ribah dados papan “wisata rohani.”

Nalika Gusti Yesus rawuh ing Padaleman Suci, Gusti Yesus nedahaken bilih estunipun Padaleman Suci punika mboten langgeng. Badhea magrong-magrong kados punapa, badhe sirna saknalika. Gusti Yesus ngendika “…Padaleman Rama-Ku aja kokgawe omah padagangan!” Gusti Yesus  negesaken bilih Padaleman Suci sampun nalisir saking punapa ingkang kedahipun katindakaken. Tiyang namung sibuk kaliyan ritual fisik, lan boten ningali ritual rohani. Tiyang sibuk pados sato kewan ingkang sae punapa boten. Pundi arta ingkang cocok lan pundi ingkang boten cocok. Saking punapa ingkang katindakaken dening Gusti Yesus lan pangandikanipun, negesaken bilih manungsa kedahipun pados Padaleman Suci, ingkang ndasosaken piyambakipun pinanggih kalihan Gusti Allah, ingkang ndadosaken manah lajeng ayem, nuju dhateng kawilujengan. Estunipun punika inggih Gusti Yesus pribadi. Pramila Gusti Yesus ngendika, “Padaleman Suci iki bubrahen, sajroning telung dina bakal Dakdegagek maneh.” Pangandika punika estunipun Gusti Yesus pribadi, ingkang badhe nglampahi seda lan  wungu ing dinten kaping tiga. Sedanipun Sang Kristus mujudaken katresnanipun dhateng manungsa.

Gusti Yesus boten anti dhateng ritual agami. Panjenenganipun ngersakaken saben kita nindakaken ritual agami kanthi linandesan katresnan ingkang tulus. Wonten ing pangibadah ingkang kadhasaran katresnan, umat saged mirengaken sabdanipun Gusti Allah. Lumantar pangandikanipun Gusti kasebat (Pangentasan 20:1-17) dados daya kangge umat mbebasaken tiyang sanes. Daya punika ingkang dados sumber anggenipun Gusti Allah paring dhawuh lumantar angger-angger sedasa perkawis? Pranatan-pranatan kadamel linandhesan katresnanipun Gusti Allah ingkang sampun ngurbanaken dhiri.

Kados dene kasangsaran salib ingkang kaanggep minangka kabodhoan lan dados sandhungan dening jagad malah dipun damel minangka margi rawuhipun Gusti Allah sacara nyata ing satengahing umat (1 Kor 1:18). Kanthi mekaten, salib punika paseksi ingkang benten kaliyan pemanggih manungsa ingkang asring ngunggulaken pangertosanipun pribadi lan kapinteranipun pribadi. Wonten sangajenging salib, umat boten saged namung ngandelaken gesang lumantar hikmat lan pangertosan pribadi, ananging kedah mangertos sacara pribadi kados pundi katresanipun Gusti Allah. Kanthi mekaten, saben pranatan saking Gusti Allah punika, kita mangertosi minangka pratelaning manah lan katresnanipun Gusti Allah, temahan kedah dipun tanggepi kanthi katresnan ugi.

Panutup
Para sederek ingkang kinasih, kakiyatan lan katresnanipun Gusti Yesus nuwuhaken patunggilan ingkang celak kaliyan Gusti. Katresnanipun Gusti Yesus nuwuhaken pangapunten kangge kita. Kita saged ngadepi kasangsaran tanpa dumawah wonten ing raos sengit. Kita wantun mapag sedanipun Sang Kristus wonten ing kajeng salib. Ing salebeting salib, Panjenenganipun mandhap wonten ing kratoning pati lan kanthi katresnan, Panjenenganipun wungu saking antawisipun tiyang pejah wonten ing dinten kaping tiga.

Wungunipun Sang Kristus nggigah dhateng manungsa temahan sami nresnani. Kadosdene Gusti Yesus ingkang sampun wungu awit katresnanipun, manungsa estu ngalami gesang menawi ngraosaken gesangipun dipun tresnani lan purun nresnani sesami. Mekaten estunipun ingkang kakersakaken dening Gusti Yesus ing salebeting pangibadah. Ritual pangibadah kedahipun ngajak dhateng kita ngraosaken katresnanipun Gusti Yesus ing salebeting gesang padintenan lan lumantar punika badhe nuwuhaken katresnan lan gesang tumraping sesami. Wonten ing katresnan, raos urmat lan pitados lumampah sesarengan. Awit estunipun ngibadah inggih punika ndayani gesang, sanes ngrisak gesang. Pramila kawontenan kita minangka Padaleman Suci kedahipun nuwuhaken berkah tumrap gesang punika. Amin. (ANS).

 Pamuji : KPJ. 250  Aneng Salib Paduka

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •