Setia dalam Penderitaan Khotbah Minggu 28 Februari 2021

Minggu Pra Paskah II
Stola Ungu

Bacaan 1 :  Kejadian 17 : 1 – 7, 15 – 16
Bacaan 2 :  
Roma 4 : 13 – 25
Bacaan 3 :  
Markus 8 : 31 – 38

Tema Liturgis :  Ketergantungan Mutlak kepada Kasih Karunia Kristus
Tema Khotbah: 
Setia dalam Penderitaan

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 17 : 1 – 7, 15 – 16
Perjanjian yang diberikan Allah kepada Abram diikuti dengan perubahan nama yang diberikan Allah kepada Abram dan Sarai. Nama Abram berubah menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sara. Perubahan nama ini  sepertinya hendak menandai perjanjian yang terjadi antara Allah dan Abram. Dalam kitab suci ada banyak perubahan nama yang diberikan untuk menandai hubungan yang baru dengan Allah. Perubahan nama ini hendak menegaskan hubungan yang baru antara Allah dengan tokoh tersebut .

Dengan perubahan nama Abram menjadi Abraham, Abram diikat dalam perjanjian dan perubahan pada masa depannya. Dari seorang yang tidak punya keturunan menjadi Bapa banyak bangsa. Sara dari yang sudah mati kandungannya menjadi seorang ibu yang akan melahirkan anak dan akan menjadi ibu bagi bangsa yang besar. Perjanjian dengan Allah ini memberikan harapan baru dan perubahan hidup tidak hanya bagi Abram tetapi juga bagi banyak bangsa lainnya  (Kej. 18:18, 22:18, 26:4). Perubahan nama Abram dan Sarai ini menjadi penanda janji Allah dan ketaatan Abraham dan Sara kepada Allah. Demikian juga pada diri Yakub yang menjadi Israel (Kej. 32:28). Tentu saja perjanjian ini adalah perjanjian kesetiaan pada kedua belah pihak. Dari pihak Allah telah menyatakan janji-Nya dan dari pihak Abraham tentu saja ini akan terjadi jika Abraham setia kepada Allah. Dalam perjanjian baru juga kita melihat perubahan nama yang membawa perubahan hidup dan membentuk relasi yang kuat antara Allah dan orang tersebut. Simon yang diberi Yesus nama Petrus (Mat. 16:16-18) dan Saulus yang diberi nama Paulus.

Roma 4 : 13 – 25
Paulus ingin menegaskan bahwa bukan karena hukum Taurat, Abraham akan menerima janji memiliki dunia tetapi karena iman yang dipegang oleh Abraham dan Sara. Iman itulah yang membuat Abraham dan Sara menikmati berkat sebagai Bapa semua bangsa. Dalam perikop ini Paulus ingin menegaskan bahwa Abraham tidak hanya sebagai Bapa bagi banyak bangsa tetapi Bapa orang beriman. Abraham adalah contoh dari mengimani sesuatu, menjaganya dan menikmati iman itu memberikan buahnya.

Perspektif Paulus tentang kebenaran karena iman ini menujukkan bahwa jauh sebelum Taurat ditegakkan, iman Abraham telah menjadi penanda relasi antara Allah dan manusia. Hukum Taurat bukan satu-satunya penanda relasi antara Allah dan manusia (Ay. 17). Iman itu yang diperhitungkan Allah atas diri Abraham sebagai kebenaran (Ay. 22). Jemaat Paulus (pembaca Paulus)  tidak hanya terdiri Kristen Yahudi saja, tetapi ada anggota jemaat yang berasal dari Non Yahudi yang tidak mengenal hukum Taurat. Jika hukum Taurat dihitung sebagai satu-satunya penanda relasi antara Allah dan umat-Nya maka anggota jemaat di luar Yahudi tidak akan mendapat bagian keselamatan. Maka dari itu Paulus ingin mengajak seluruh jemaat untuk meninjau relasi yang lebih tua dalam perjanjian Allah dan manusia pada diri Abraham, dan Allah berkenan pada iman Abraham. Paulus ingin membawa relasi Allah dan Abraham itu dalam relasi jemaat dan Allah karena percaya kepada Yesus Kristus. Ay. 24 dan 25 tertulis demikian : tetapi ditulis juga untuk kita;  sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran  kita dan dibangkitkan karena pembenaran  kita.” Disinilah relasi kasih karunia Allah kepada  umat-Nya dapat  dipahami.

Markus 8 : 31 – 38
Dua tema besar dalam Injil Markus adalah tentang kerahasiaan Yesus sebagai Mesias dan kelambanan murid-murid-Nya untuk memahami-Nya. Dalam Injil ini, Yesus sering dikutip memerintahkan murid-murid-Nya untuk tidak memberitahukan kepada siapapun identitasnya (sebagai Mesias). Yesus menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan pesan-pesannya. Seringkali, murid-murid-Nya kesulitan menangkap maksud dari perumpamaan – perumpamaan tersebut, dan Yesus menjelaskannya kepada mereka secara pribadi. (https://www.wikiwand.com/id/Injil_Markus)

Demikian juga dengan Markus 8:31-38 sedang menceritakan bagaimana sudut pandang para murid tentang Yesus dan bagaimana Tuhan Yesus meluruskan sudut pandang itu. Dan bahkan menegaskan bagaimana ukuran yang harus dipakai sebagai pengikut Yesus. Ukuran yang dibuat Allah dan ukuran yang dibuat manusia berbeda. Dibutuhkan kesetiaan dan kesabaran di tengah penderitaan yang dialami oleh pembaca asli Injil Markus di tahun 60-an Masehi. Pada tahun 60-an M, orang percaya diperlakukan secara kejam oleh masyarakat dan banyak di antaranya disiksa bahkan dibunuh di bawah pemerintahan kaisar Nero. Penulis Markus menulis Injil ini sebagai suatu antisipasi yang bersifat nubuat atau tanggapan penggembalaan terhadap masa penganiayaan ini. Tujuannya ialah memperkuat dasar iman dalam orang percaya di Roma, dan mendorong mereka untuk tetap setia  di tengah penderitaan yang mereka alami.

(http://yesuskristustuhan.blogspot.com/2016/02/latar-belakang-isi-injil-markus.html)

Oleh penulis Markus kekuatan itu digambarkan sebagai memikul salib yang disetarakan dengan penderitaan Kristus sendiri ketika memikul salib. Yesus telah begitu sabar dalam penderitaan-Nya demikian juga para pengikut-Nya dipanggil untuk meneladani kesabaran-Nya. Kesabaran para pengikut ini, tentu saja berbuah manis. Dengan janji buah dari kesetiaan. Yang tidak sabar dan tidak setia juga akan tidak diakui ketika Yesus datang yang kedua kalinya    (Ay. 38) dan tentu saja berlaku bagi yang sebaliknya.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kesetiaan dan ketaatan kepada Allah di tengah penderitaan hidup akan membuahkan berkat.

 

Rancangan Khotbah :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Ada 2 orang anak diberi warisan kebun oleh sang ayah. Ukuran kebun itu sama besarnya. Sayangnya kedua kebun itu berada di tempat yang berbatu-batu. Ketika 2 orang saudara itu mulai mengerjakan kebunnya, A sebagai kakak mengeluh sebab kebunnya banyak batunya. Setiap ia menyangkul, cangkulnya selalu membentur batu. Ia selalu memakai-maki kebun itu karena membuatnya susah. Lalu akhirnya ia menjual kebun itu dengan harga sangat murah. Dengan uang hasil penjualan kebun yang sedikit itu ia merantau ke kota dan menjadi  pekerja di suatu pabrik.

Adiknya yang bernama B dengan sabar mengambil batu-batu dari kebunnya dan menyusunnya sebagai pagar dari kebunnya. Kakaknya sering menertawakan adiknya yang masih mengurusi kebun berbatu itu. Setelah 3 tahun kakaknya pulang ke kampung dan terkejut melihat rumah adiknya menjadi sangat bagus dan memiliki mobil. Ternyata kebun berbatu yang sudah diolah dengan baik itu ditanami melon oleh adiknya dan ia juga membeli kebun milik sang kakak kembali dengan harga murah dan ditanami melon juga. Hasilnya ketika panen ia bisa meraup keuntungan puluhan juta. Setelah 3 tahun maka keadaan sang adik menjadi sangat makmur. Sedangkan sang kakak tetap menjadi pegawai pabrik dengan bayaran UMR. Kakaknya sangat menyesal telah menjual kebun berbatu itu andai saja ia mau lebih bersabar hasilnya pasti akan berbeda.

Isi
Ilustrasi di atas memberikan penjelasan kepada kita betapa pentingnya kesetiaan dalam sebuah relasi bahkan antara manusia dan kebun sekalipun. Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Usaha yang serius dan sungguh-sungguh juga akan menghasilkan hasil yang baik. Demikian juga dalam relasi kita dengan Allah. Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dan berjanji akan memberikan keturunan kepada Abraham dan Sara yang sudah tua. Janji itu ditetapi bahkan di tengah kemustahilan asalkan Abraham setia kepada Allah. Sepertinya mustahil bukan jika tanah berbatu akan menghasilkan hasil yang baik tetapi ketika diusahakan dengan baik dan sungguh-sungguh maka akan memberikan hasil yang baik dan melimpah.

Dalam relasi antara Tuhan Yesus dan manusia juga dibutuhkan kesetiaan. Di tengah penderitaan sekalipun, kesetiaan ini harus dijaga.  Adakalanya penderitaan bisa membuat seseorang “suda-suda imanne”. Iman bisa luntur karena diperhadapkan dengan berbagai kemudahan di tengah kesulitan. Sebagai contohnya kenaikan pangkat yang diimingi-imingi pindah ke suatu agama tertentu. Atau penghapusan hutang yang diiming-imingi  perselingkuhan. Lalu apa arti penderitaan bagi kita? Mengapa kita diijinkan menderita? Apa fungsi penderitaan itu bagi kita?

Penderitaan itu sebenarnya hanyalah sudut pandang. Uang Rp. 500.000, – bisa menjadi penderitaan bagi orang yang terbiasa sekali makan Rp. 250.000, – dan di dompetnya tinggal Rp. 500.000, – sedangkan ini masih pertengahan bulan. Tetapi Rp. 500.000, – bisa menjadi berkat yang luar biasa bagi seseorang yang terbiasa makan dengan oseng tahu tempe. Bisa jadi dari Rp. 500.000, – itu ia masih bisa menabung. Kita akan sangat menderita jika menjalani relasi dengan Yesus tanpa cinta. Tapi dengan cinta dan iman yang kuat maka penderitaan itu akan hilang kuasanya. Seperti seorang pemuda yang sedang dimabuk cinta kepada seorang gadis, hujan badai pun ditempuh dengan sukacita demi bertemu gadis yang dicintainya.

Inilah yang ingin dijelaskan oleh penulis Markus dalam bacaan kita. Menjaga iman kepada Yesus Kristus sampai akhir hayat bahkan di tengah penderitaan adalah syarat mutlak dalam relasi ini. Penulis Markus mensejajarkan perjuangan iman ini sebagai memikul salib sama dengan kesabaran Yesus memikul salib. Memikul salib ini seringkali disalahartikan sebagai sembarang penderitaan yang dialami dan tidak dikaitkan dengan perjuangan dalam menjaga kesetiaan kepada Kristus. Sebagai contohnya jika ada salah satu anak dalam keluarga yang membebani pikiran orang tua lalu mengatakan, ”Ya inilah salib yang harus saya pikul.” Atau “Dialah salib saya”. Tentu saja bukan yang demikian itu yang dimaksud dengan salib yang harus dipikul ini. Ini adalah pergulatan menjaga iman sampai akhir hayat dan pemenangnya akan bersama Kristus sedangkan yang kalah dalam pergulatan iman itu dan menyangkal Yesus maka Yesus juga akan menyangkal dia ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya.

Paulus menyatakan bahwa Abraham dibenarkan dalam pandangan Allah karena imannya. Dan Paulus mensejajarkan pembenaran ini dalam percaya kita kepada Yesus Kristus, inilah tonggak kasih karunia itu. Dalam percaya kita kepada Yesus, kita menerima pembenaran. Maka yang harus kita lakukan adalah menjaga supaya kita tetap dalam keadaan percaya kepada Yesus baik atau tidak baik situasinya. Kita diminta tidak mudah menyerah dalam menjaga iman kita. Penderitaan boleh saja datang silih berganti tetapi kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus Kristus tidak boleh bergeser. Tuhan juga menjanjikan kesetiaan kepada kita seperti janji-Nya yang telah ditepati kepada Abraham.

Di Minggu Pra paskah yang kedua ini kita dipanggil untuk menghayati kasih Allah ditengah penderitaan yang kita alami dan menjaga iman kita sampai akhir hayat sebab Ia yang memberkati kita itu setia.

Penutup
Seandainya B sebagai adik menyerah kepada kebun yang berbatu dan tidak mengolah tanah itu dengan baik tentu nasibnya tidak akan berubah. Kebun yang sudah diolahnya dengan baik itu memberikan hasil yang setimpal kepadanya. Demikian juga kita sebagai pribadi atau sebagai gereja, kita perlu menjaga relasi kita dengan Tuhan Yesus dalam relasi penuh kesetiaan. Kesetiaan itu menuntut ketaatan, ini harus lahir dari cinta kepada Yesus. Tanpa rasa cinta yang mendalam mustahil kita mempunyai kekuatan untuk bertahan dalam relasi dengan Tuhan Yesus. Maka dari itu gereja dan orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan cinta yang kuat di hati anak-anak GKJW. Cinta yang ditanamkan sejak dini itu akan mengakar dan menemukan jalannya untuk berbuah di masa depan. Program-program gereja kita bisa digerakkan untuk menumbuhkan rasa cinta yang tulus kepada Kristus sejak dini contohnya adalah PAH Junior (PAH anak) yang dibaca dengan orang tua. Dimulai dari cinta dalam keluarga. Bahasa cinta keluarga adalah bahasa cinta yang konkrit agar anak-anak memahami kasih Allah kepada dirinya dan mengembangkan kasih itu menjadi kesetiaan dan ketaatan sampai akhir hidupnya. (AM).

Nyanyian :  KJ. 370  Ku Mau Berjalan dengan Juruslamatku


Rancangan Khotbah :  Basa Jawi

Pambuka
Wonten 2 anak ingkang dipun paringi warisan kebon kalian tiyang sepuhipun. Ukuran kebon punika wiyar sanget, ananging kebon punika kathah selanipun. Nalika A, anak ingkang sepuh nggarap kebonipun, piyambakipun rumaos awrat awit kathah selanipun lajeng nyade kebonipun punika kanthi regi ingkang mirah. Lajeng artanipun dipun damel bidhal dhateng kitha pados pendamelan dados pegawai pabrik. Rayinipun B, kanthi telaten nggarap kebon punika. Selanipun dipun pendheti, dipun tata lan dipun dadosaken pager.  Saksampunipun 3 taun, putra mbarep wangsul lan kaget awit griya rayinipun dados sae lan nggadah mobil. Rayinipun saged sugih awit kebon punika dipun tanemi Melon lan gadahi hasil puluhan juta rupiah. Piyambakipun ugi saged numbas malih kebonipun kangmasipun. Saksampunipun 3 tahun, kahanan B punika sansaya makmur. Kang masipun tetep dados pegawai pabrik kanthi bayaran UMR. Sak umpami Kang mas punika purun sabar nggarap kebon punika tamtu kawontenanipun saged benten.

Isi
Ilustrasi kalawau nyariosaken bilih kasetyan lan kasabaran punika perkawis ingkang wigati. Hasil punika cocok kalian upaya ingkang dipun lampahi. Upaya ingkang temenan tamtu ngedalaken hasil ingkang sae. Makaten ugi ing sesambetan kita kalian Gusti Allah. Kadosdene Gusti Allah maringi prasetyan dhumateng Abraham, badhe maringi turunan dhumateng Abraham lan Sara ingkang sampun sepuh. Ananging Abraham kedah netepi prasetyan dhumateng Gusti Allah. Kadosipun mokal bilih siti ingkang kathah selanipun badhe maringi hasil ingkang sae. Ananging nalika dipun garap kanthi temenan lan sabar saged maringi hasil ingkang sae, mekaten ugi sesambetan kita kalian Gusti Allah.

Ing sesambetan kita kalian Gusti Yesus mbetahaken kasetyan. Ing satengahipun kasangsaran, kasetyan punika kedah dipun jagi. Kala-kala kasangsaran punika saged ndadosaken kita suda-suda imanipun. Iman punika saged luntur bilih kita dipun godha utawi nandhang kasangsaran. Contonipun  kita dipun iming-imingi mindak pangkat ananging kedah pindah agama, utawi utang kita dipun lunasi ananging dipun iming-iming selingkuh. Lajeng punapa sejatosipun kasangsaran punika? Kenging punapa kasangsaran punika dipun keparengaken wonten ing gesang kita?

Kasangsaran punika sejatosipun namung sudut pandang kita kemawon. Contonipun arta Rp. 500.000, – kangge tiyang ingkang remen jajan sakjajanan Rp. 250.000, – tamtu awrat sanget bilih ing dompetipun namung wonten arta Rp. 500.000, – kamangka taksih tengah sasi. Ananging Rp. 500.000, – punika saged dados berkah kangge tiyang ingkang sakben dintenipun dahar lawuh tahu tempe. Saged ugi arta Rp. 500.000 punika wonten ingkang dipun tabung. Kita tamtu badhe sangsara bilih nglampahi sesambetan kalian Gusti Yesus tanpa katresnan. Awit katresnan lan iman ingkang kiyat punika dadosaken kasangsaran ical panguaosipun. Kadosdene lare jaler ingkang nandang kangen  dhateng pacanganipun, senaosa jawah lan badai tamtu dipun lampahi kanthi bingah supados saged kepanggih kalian pacangan ingkang dipun tresnani.

Punika ingkang badhe dipun jelasaken dening penulis Markus ing waosan kita. Njagi kapitadosan dhumateng Gusti Yesus sak dangunipun gesang senaosa ing salebeting kasangsaran punika syarat mutlak ing sesambetan punika. Gegambaran punika dipun jelasaken kanthi manggul salibing Gusti. Ananging manggul salib punika kala-kala lepat anggenipun nampi kanthi dipun jejeraken kalian sembarang kasangsaran. Sedaya kasangsaran dipun wastani manggul salibipun Gusti. Bilih putranipun mboten mranani ing penggalih lajeng tiyang sepuh ngandika bilih punika salib ingkang kedah dipun pikul. Manggul salibing Gusti punika perjuangan iman kita njagi supados tansah setya tuhu dhumateng Gusti Yesus. Sampun ngantos kita nampik Gusti Yesus. Awit bilih kita nampik Gusti Yesus, kita ugi badhe dipun tampik Gusti Yesus nalika rawuh ing kaping kalihipun.

Paulus mratelakaken bilih Abraham punika dipun leresaken awit imanipun lan punika sami kalian imanipun tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus. Punika ingkang dados talesing sih rahmat saking Gusti. Pramila ingkang kedah kita lampahi inggih punika njagi supados kita tansah pitados dhumateng Gusti Yesus sae punapa mboten sae kawontenanipun. Kita mboten pareng nglokro, kasangsaran saged kemawon dugi ing gesang kita ananging kapitadosan kita mboten pareng luntur. Gusti sampun prasetya lan bakal jagi prasetyanipun dhumateng kita.

Ing Minggu Pra Paskah 2 mangga kita ngayati katresnanipun Gusti Allah ing satengahipun kasangsaran kita awit Gusti Allah ingkang mberkahi kita punika tresna dumateng kita lan mokal mlejani prasetyanipun.

Panutup
Sak umpami B punika ugi nglokro lan nyade kebonipun ingkang kathah selanipun lan mboten purun ngrimati kebonipun tamtu nasibipun mboten berubah. Kebon ingkang sampun dipun olah punika sampun maringi hasil ingkang sae. Makaten ugi pribadi kita lan greja kedah njagi sesambetan kalian Gusti Yesus kanthi setya tuhu. Kasetyan punika mbetahakaen kasetyanan. Lan kasetyan punika mbetahaken katresnan. Tanpa katresnan mokal kita nggadahi kakiyatan kangge bertahan ing satengahing katresnan. Pramila greja lan tiyang sepuh nggadahi tanggel jawab nyebar sih katresnaning Gusti Yesus ing manahipun para putra. Katresnan ingkang dipun tandur wiwit alit tamtu badhe  ngoyot lan ngedalakaen woh ing masa depan. Program gereja saged dipun gerakaken kangge nuwuhaken katresnan sejak dini. Contonipun PAH anak-anak ingkang dipun waos sareng tiyang sepuh lan anak. Tresna dhumateng Gusti saged dipun wiwiti saking katresnan ing satengahing brayat.  Bahasa katresnan ing brayat punika katresnan ingkang nyata supados para putra mangertosi katresnanipun Gusti lan dadosaken kasetyan lan kataatan sak dangunipun gesang. Amin. (AM)

Pamuji  :  KPJ.  115  Iba Rahjeng Tyang kang Sami Sumendhe

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •