Minggu Pra Paskah IV
Stola Ungu
Bacaan 1 : Bilangan 21 : 4 – 9
Bacaan 2 : Efesus 2 : 1 – 10
Bacaan 3 : Yohanes 3 : 14 – 21
Tema Liturgis : Ketergantungan Mutlak kepada Kasih Karunia Kristus
Tema Khotbah : Memandang Kristus Sang Juruselamat
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Bilangan 21 : 4 – 9
Nama Kitab ‘Bilangan’ di dalam Bahasa Ibrani diambil dari kata-kata pertama dalam kitabnya, yaitu במדבר, (Bəmidbar), yang berarti “di padang gurun”. Sedangkan dari bahasa Yunani: Αριθμοί, (Arithmoi); bahasa Inggris: Book of Numbers, dari bahasa Latin: Numeri. Kedua makna tersebut menunjukkan isi kitab ini. Selain memuat banyak daftar kelompok dan jumlah orang, kitab ini juga menceritakan perjalanan orang Israel di padang gurun. Perikop bacaan ini menunjukkan betapa bangsa Israel adalah bangsa yang mudah marah dan bersungut-sungut. Perjalanan yang jauh dan melelahkan itu membuat mereka menyesal telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Mereka lebih memilih mati dalam perbudakan daripada harus berjuang dalam kebebasan.
Dalam ayat 6 diceritakan bagaimana Tuhan menghukum bangsa Israel dengan ular tedung. Ular tedung adalah salah satu jenis ular berbisa yang mematikan. Banyak di antara orang Israel yang mati karena dipagut ular-ular tersebut. Barulah kemudian mereka sadar dan meminta kepada Musa supaya Allah mengampuni mereka (ayat 7). Sesuai perintah Allah, Musa lalu membuat ular dari tembaga dan menaruhnya pada sebuah ‘tiang’ dan setiap orang yang dipagut ular namun memandang kepada ular tembaga itu, ia akan tetap hidup.
Efesus 2 : 1 – 10
Efesus pernah menjadi kota penting di Asia Kecil bagian barat (sekarang Turki) sebab Efesus dikenal sebagai kota Pelabuhan di Laut Aegea. Meskipun pada jaman Paulus, pelabuhan itu telah dipenuhi oleh lumpur laut. Namun demikian, Efesus masih saja ramai sebab berada di persimpangan rute perdagangan dunia. Selain sektor ekonomi yang berkembang pesat, sebagaimana seperti pada kota-kota perdagangan yang lain, kebudayaan dan kepercayaan juga berkembang pesat dalam kota Efesus. Dalam kota Efesus terdapat kuil-kuil besar, demikian juga gereja-gereja pun berkembang pesat dalam beberapa waktu. Namun di kemudian waktu, disiratkan oleh penulis kitab Wahyu bahwa orang-orang Kristen Efesus kehilangan kasihnya kepada Kristus (Wahyu 2:1-7).
Dalam perikop ini, penulis berbicara tentang keselamatan para penerima surat karena kasih karunia Allah dengan menjelaskan keadaan mereka pada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Penulis mengungkapkan kehidupan masa lalu para penerima surat ini sebagai orang-orang yang ‘mati’ (ayat 1), sebab penulis memakai pemahaman kematian yang disebabkan oleh pelanggaran dan dosa (bdk. Roma 5:12, 6:23). Serta kehidupan masa lalu yang mengikuti jalan ‘dunia’ (ayat 2), yang menunjuk pada semua kekuatan yang melawan Allah. Pada intinya, itu semua membuat mereka pantas untuk menerima penghukuman (ayat 3). Namun kasih dan rahmat pengampunan dari Allahlah yang menyelamatkan dan menghidupkan mereka, baik dalam masa sekarang, juga di masa depan. Kasih dan rahmat Tuhan itulah yang menyelamatkan manusia itu, yang membimbing manusia untuk menyadari dan melakukan pekerjaan baik yang dikehendaki Tuhan di dalam hidupnya (ayat 10).
Yohanes 3 : 14 – 21
Injil Yohanes adalah Injil yang paling akhir penulisannya dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya. Sangatlah mungkin ditulis setelah tentara Romawi menghancurkan Bait Allah dan mengakhiri pemberontakan Yahudi pada tahun 70 M. Pada masa itu, orang-orang Kristen mengalami masa yang sulit. Selain tidak diterima oleh pemerintahan Romawi, mereka juga dikucilkan oleh orang Yahudi.
Dalam penulisan Injil Yohanes, penulis sering memakai kiasan mengenai terang dan gelap, termasuk dalam perikop ini. Allah dan firman-Nya adalah terang dan dunia berada di dalam kegelapan. Perlawanan kata terang dan gelap juga dipakai untuk membedakan mereka yang menerima Kristus dan mereka yang tidak percaya kepada-Nya (bdk. Yoh. 1:19-21, 8:12-20). Maka bagi penulis Injil Yohanes, meskipun mengalami berbagai-bagai kesulitan dan penderitaan di dunia, hal yang paling penting dipertahankan adalah percaya dan mengikut Kristus Sang Terang Dunia.
Dalam bagian percakapan Yesus dengan Nikodemus ini juga kembali berbicara tentang cerita pada bacaan pertama : bangsa Israel yang selamat dari kematian dengan memandang ular tembaga pada tiang. Cerita itu kemudian dipararelkan dengan kisah Yesus yang juga akan ‘ditinggikan’ untuk menyelamatkan dunia. Itu semua terjadi karena besarnya kasih Allah kepada dunia.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Manusia pada dasarnya berdosa dan oleh karena itu layak menerima hukuman serta kematian, namun kasih karunia Allah yang besar membuat manusia menerima keselamatan. Keselamatan itu diperoleh dengan memandang Kristus yang disalib. Keselamatan itu diperoleh dengan percaya kepada Kristus Sang Juruselamat.
Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Ketika SMA, saya memiliki seorang teman yang penakut. Suatu hari, kelas kami memutuskan untuk berwisata bersama-sama ke Jatim Park, sebuah tempat wisata yang ada di Batu-Malang. Kami sadar bahwa teman kami amatlah penakut, tetapi itu yang justru membuat kami ingin berbuat usil kepadanya. Kami lalu memaksa dia untuk ikut bersama-sama kami masuk ke wahana ‘rumah hantu’ dan sengaja menempatkannya di belakang. Betul saja, saat di dalam wahana yang amat gelap dan menyeramkan itu, dia berteriak-teriak amat keras, sampai terisak. Kami sebenarnya khawatir dia akan tertinggal dan berhenti di dalam karena ketakutan. Namun untunglah dia terus berjalan di belakang kami dan bisa keluar bersama-sama.
Saya yang merasa bersalah sekaligus penasaran lalu berkata kepadanya : “Wah keren ya kamu, walaupun takut kamu tetap bisa mengikuti kami dan keluar bersama-sama.” Ia menjawab : “Iya, aku takut sekali, tapi untung tadi ada hiasan di bagian belakang jaketmu yang bisa menyala dalam gelap. Jadi selama di dalam aku sama sekali tidak lihat ke arah yang lain, aku hanya lihat ke arah jaketmu saja dan berusaha mengikutinya. Aku tahu kalian akan menemukan jalan keluar”.
Isi
Bapak Ibu dan Saudara terkasih, pengalaman teman saya tadi nampaknya bisa menjadi gambaran tentang apa yang akan kita pelajari bersama hari ini : Memandang Kristus Sang Juruselamat. Untuk kita yang dikaruniai mata normal, memandang adalah kegiatan biasa, yang setiap saat kita lakukan. Namun, memandang yang seperti apa yang akan kita pelajari bersama hari ini?
Pada bacaan kita yang pertama dan bacaan yang ketiga, ada cerita yang sama yang diulang penulisannya, yaitu cerita tentang bangsa Israel ketika berada di padang gurun. Orang Israel kembali bersungut-sungut kepada Tuhan, lalu mereka diserang ular tedung yang mematikan namun akhirnya mereka selamat karena memandang ular tembaga buatan Musa yang ditaruh pada sebuah tiang, sesuai perintah Tuhan. Pada bacaan ketiga, cerita ini dipararelkan dengan bagaimana manusia harus percaya kepada Kristus yang disalib untuk mendapat keselamatan.
Bacaan kedua dan ketiga kita hari ini memberi gambaran tentang hidup manusia tanpa Kristus. Hidup tanpa Kristus adalah hidup di bawah bayang-bayang hukuman dan kematian. Sebab pada dasarnya manusia telah dikuasai oleh dosa (Ef. 2:1-3). Dosa itu digambarkan membuat manusia hidup di dalam kegelapan, sehingga melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat (Yoh. 3:19). Berada di dalam kegelapan berarti kehilangan kemampuan pandang. Tidak mampu melihat, apalagi memandang. Lalu apa yang dirasakan dalam keadaan ini? Seperti teman saya tadi tentunya : sedih, takut dan bingung. Maka orang yang hidup di dalam kegelapan adalah orang yang sedih berlarut-larut ketika kehilangan entah jabatan, materi atau apapun yang dicintai. Mereka yang terlalu takut untuk memperjuangkan kasih dan kebaikan. Mereka yang bingung akan makna hidup dan panggilan Tuhan dalam dirinya.
Di dalam kegelapan dunia ini, kita mesti melakukan seperti yang teman saya lakukan. Memandang sesuatu yang mampu menuntun kita keluar dari kegelapan. Siapa? Sang Sumber Terang! Kristus yang tersalib itulah yang harus kita pandang. Kristus Sang Sumber Terang itulah yang akan menerangi kita dan menolong kita keluar dari kegelapan yang menyiksa, jika kita mau memandangnya terus tanpa putus.
Memandang berarti melihat dan memperhatikan dengan tetap dan sungguh-sungguh. Jika demikian, bukankah memandang Kristus yang disalib membuat kita sadar betapa besar kasih Allah kepada kita, orang-orang hukuman ini? “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Kita yang seharusnya menerima hukuman, justru menerima kasih yang teramat besar.
Memandang Kristus berarti juga mampu melihat kasih dan karya-Nya dengan jelas, sehingga mau mengikuti-Nya tanpa terlalu banyak cemas. Mau melakukan pekerjaan Tuhan walaupun tidak dimengerti dunia. Mau menebar kasih walaupun tidak diperlakukan sama. Mau hidup seperti Kristus, yang menjadi berkat dan jalan selamat bagi dunia.
Penutup
Bapak Ibu dan Saudara yang dikasihi Tuhan, momen Pra Paskah ini adalah kesempatan bagi diri kita untuk bercermin, berefleksi dan melihat diri kita sendiri. Dunia yang gelap ini memang terkadang menyulitkan dan menyesatkan. Apakah kita terhanyut dalam gelapnya dunia? Apakah kita tersesat?
Hari ini kita kembali diingatkan untuk selalu melekatkan pandangan kita kepada Kristus Sang Sumber Terang, supaya hidup kita tidak dikuasai kegelapan yang mencekam, supaya kita tetap hidup di dalam kasih dan terang Tuhan dan supaya kita mampu membagi keselamatan. Amin. (DW)
Nyanyian : KJ. 169 Memandang Salib Rajaku
—
Rancangan Khotbah : Basa Jawi
Pambuka
Nalika SMA, kula gadhah kanca ingkang jireh sanget. Ing setunggaling dinten, kanca-kanca sak kelas ngawontenaken wisata dhateng Jatim Park, Batu-Malang. Kula dalasan kanca-kanca sejatosipun mangertos yen wonten kanca ingkang jireh, nanging malah murugaken raos usil, sengaja pingin nggodha srana meksa piyambakipun lumebet ing wahana ‘rumah hantu’. Kula dalasan kanca-kanca njarag dhateng kanca ingkang jireh, sengaja dipun panggenaken dhateng wingking piyambak.
Saestu kedadosan ing papan ingkang peteng dedet lan serem punika (“rumah Hantu”), piyambakipun bengok-bengok kanthi sora sanget ngantos nangis mingsep-mingsep. Kula sak kanca ngrumaosi kasil nggodha piyambakipun, ananging ugi kuwatos menawi piyambakipun mboten saget medal saking wahana rumah hantu awit ajrihipun nunten mandeg jegreg.
Bakda medal saking wahana “Rumah Hantu”, kula dalasan kanca-kanca sami ngelem piyambakipun : “Wah, hebat yo kowe, masio wedi nanging kowe isih tetep iso ngetutne aku nganti metu.” Kanca kula mangsuli : “Iya, aku wedi banget. Nanging aku ketulung saka hiasane jaketmu sing murup. Iku sing tak deleng lan tak tutne. Aku ora nolah-noleh blas wis pokoke. Sebab aku percaya yen kowe isa metu saka kono”
Isi
Bapak Ibu dalasan para sedherek kinasih, pengalaman kula dalasan kanca-kanca wau minangka gambaran bab irah-irahan kita ing dinten punika: Mandeng Sang Kristus Juruwilujeng. Kangge kita ingkang dipunparingi paningal normal, mandeng (nyawang) punika setunggiling kegiatan ingkang lumrah tumraping saben tiyang. Mandeng ingkang kados pundi ingkang badhe kita sinaoni cunduk kaliyan waosan kita dinten punika?
Ing waosan ingkang wiwitan dalasan ingkang kaping tiga, wonten cariyos ingkang sami. Inggih punika cariyos bab Bangsa Israel nalika wonten ing ara-ara samun. Tiyang Israel sami nggrundel (ngresula) dhumateng Gusti, nunten dipun cokot ula mandi (ular tedung ) ingkang saged mejahi. Tumrap tiyang ingkang purun mandeng ula rerekan ingkang dipun panjer sami manggih wilujeng, selaras kaliyan dhawuhipun Gusti. Ing waosan kaping tiga, cariyos punika selaras kaliyan manungsa kedah pitados dhumateng Kristus ingkang sinalib murih angsal kawilujengan.
Waosan ingkang kaping kalih dalasan kaping tiga, maringi gambaran bab gesanging manungsa tanpa Kristus. Gesang tanpa Kristus inggih punika gesang ingkang wonten ing saklebeting paukumaning pejah. Awit, dasaring manungsa sampun dipun kuwasani dening dosa (Ef. 2:1-3). Dosa punika ingkang murugaken manungsa gesang ing saklebeting pepeteng, ingkang nuwuhaken tumindak piawon (Yok. 3:19). Ing saklebeting pepeteng punika tiyang kecalan pepadhang, mboten saged ningali, langkung-langkung mandeng. Menawi sampun mekaten, punapa ingkang karaosaken? Tamtunipun kadosdene cariyosipun kanca kula kalawau, inggih punika : sisah, ajrih, saha bingung. Pramila, gambaranipun tiyang ingkang gesang wonten ing pepeteng inggih punika tiyang ingkang sisahipun kedlarung-dlarung nalika kecalan jabatan, materi utawi punapa kemawon ingkang dipunugemi; tiyang ingkang nggadhahi raos ajrih anggenipun mujudaken katresnan saha kasaenan, tiyang ingkang bingung nggenipun mujudaken paedahing gesang, menggah timbalanipun Gusti.
Ing saklebeting jagad ingkang peteng punika, kita mestinipun kadosdene kanca kula kalawau. Tetep mandeng dhumateng ingkang mumpuni nuntun kita medal saking pepeteng. Lha sinten punika? Inggih namung Sang Kristus minangka Sang Sumber Terang! Kristus ingkang sinalib punika ingkang tetep kita pandeng. Kristus punika ingkang madhangi kita saha mitulungi kita mentas (uwal) saking pepeteng ingkang nggegirisi.
Mandeng ateges ningali klayan temen-temen (fokus). Inggih mekaten ugi yen kita mandeng Kristus ingkang sinalib saestu nuwuhaken panyuraos iba agenging sih-Ipun Allah dhumateng kita, para tiyang dosa ingkang pantesipun nampeni paukuman. “Awit dene Gusti Allah anggone ngasihi marang jagad iku nganti masrahake Kang Putra ontang-anting, supaya saben wong kang pracaya marang Panjenengane aja nganti nemu karusakan, nanging nduwenana urip langgeng” (Yok. 3:16). Kita ingkang sakmestinipun nampeni paukuman, malah nampeni sih-Ipun Gusti ingkang ageng sanget.
Mandeng Sang Kristus ugi ateges saged ningali Sih lan pakaryan-Ipun kanthi cetha, saengga purun tut wingking Panjenenganipun tanpa was sumelang. Purun kanthi ikhlas nindakaken pakaryanipun Gusti senadyan mboten dimangertosi dening jagad. Purun nyebar Sih-Ipun Gusti sanadyan tanpa pamrih. Lila gesang kadosdene Kristus ingkang dados berkah lan margining kawilujenganipun jagad.
Panutup
Bapak, Ibu tuwin para sedherek ingkang dipun tresnani Gusti, momen prapaskah minangka kesempatan kangge kita sami ninggali kawontenan diri kita piyambak-piyambak. Gesang ingkang wonten donya ingkang sampun wonten ing saklebeting pepeteng awit sampun kasasapan dosa punika, pancen nuwuhaken kathah pakewed lan saget nyasaraken. Punapa kita kintir kaliyan ombaking jagad punika? Punapa kita sampun sami kesasar?
Dinten punika kita sami kaengetaken supados tansah mandeng Kristus minangka sumbering terang, supados kita mboten dipunkuwasani dening pepeteng, ananging kita tansah gesang wonten ing saklebeting Sih lan Padhang-Ipun Gusti, murih kita dados jalaranipun kawilujenganing jagad. Amin. (DW)
Pamuji : KPJ. 275 Srana Mandeng Ing Salib