Peduli  Persoalan  Anak – Anak  Khotbah Minggu 7 Juli 2019

Minggu Biasa III / Pekan Anak
Stola Hijau

Bacaan 1 :  Yesaya 66 : 10 – 14
Bacaan 2 :  Galatia 6 : (1 – 6), 7 – 16
Bacaan 3 :  Lukas 10 : 1 – 12, 17 – 20

Tema Liturgis  :  Kehadiran  Kristus  di  Tengah  Keluarga  yang  Membawa Keselamatan
Tema Khotbah :  Peduli  Persoalan  Anak – Anak  (Markus 10 : 14)

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 66 : 10 – 14

Penderitaan umat Tuhan pada saat itu akan segera diubah menjadi sukacita yang berlimpah-limpah (ay. 10-11). Semua orang yang mengasihi Allah akan mengasihi Yerusalem. Bersukacitalah bersamanya. Hal ini menunjukkan bahwa Yerusalem akan memiliki alasan untuk bersukacita. Hari-hari berkabungnya akan berakhir dan ia akan dihiburkan sesuai dengan masa ia telah dibiarkan menderita. Dia yang memanggil mereka untuk bersukacita. Ia akan memberikan alasan kepada mereka untuk melakukannya, yaitu (1) Mereka akan menikmati masa kemakmuran yang berlangsung lama dan tidak terputus-putus, Aku akan mengalirkan, atau Aku sedang mengalirkan keselamatan kepadanya, yakni semua yang baik kepadanya, seperti sungai yang mengalir dalam aliran yang tetap, terus bertambah sampai aliran itu ditelan dalam lautan. (2) Di sana akan ada penambahan jumlah besar dan menguntungkan yang dibuat bagi mereka, kekayaan bangsa-bangsa lain akan datang kepada mereka seperti batang air yang membanjir. (3) Allah akan dimuliakan di dalam segalanya, dan hal ini sepatutnya menjadi pokok sukacita kita melebihi hal-hal lain, maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya (ay. 14), tangan-Nya yang Mahakuasa yang melindungi dan mendukung, tangan-Nya yang Maha mencukupi yang memperkaya dengan kebaikan-Nya yang tidak habis-habisnya.

Allah tidak saja akan memberikan alasan untuk bersukacita, tetapi akan menyampaikan kata-kata penghiburan kepada mereka, mengatakannya ke dalam hati mereka, dan hanya Dia saja yang dapat mengatakannnya, dan membuatnya menetap di hati mereka. Negeri mereka akan menjadi perawat mereka yang penuh kasih sayang. Mereka akan digendong, oleh lengannya, seperti layaknya anak-anak kecil, dan akan dibelai-belai di pangkuannya. Seperti layaknya seorang kekasih, terutama ketika sedang letih lesuh, dan harus ditidurkan. Allah sendiri akan menjadi penghibur mereka. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, ketika ia sakit dan merasa nyeri, atau dalam keadaan susah. Ungkapan “demikianlah Aku ini akan menghibur kamu”, tidak saja dengan menggunakan alasan-alasan yang masuk akal sebagaimana dilakukan oleh seorang ayah yang bijaksana, tetapi juga dengan kasih sayang dan belas kasihan seorang ibu pengasih, yang meratapi anaknya yang kesakitan karena jatuh, supaya anak itu merasa tenang dan nyaman, atau berusaha menenangkan hati anak itu sesudah ia menegur dan memarahinya. Mereka akan merasakan akibat-akibat membahagiakan dari penghiburan ini di dalam jiwa mereka.

Galatia 6 : (1 – 6), 7 – 16

Orang percaya yang menjadi pengikut Kristus adalah mereka yang sudah dilahirkan kembali dan dipenuhi Roh (ayat Gal 6:3). Orang percaya memiliki hukum yang harus ditaati, yakni hukum Kristus. Mereka hanya dapat menaatinya dengan kuasa Roh, pada saat mereka saling melayani di dalam persekutuan. Kewajiban semua orang yang diajarkan Firman Allah ialah membantu materi bagi mereka yang mengajar. Menolak memberikan dukungan, jikalau mampu, berarti menabur dalam daging serta menuai kehancuran (Gal. 6:7-9). Memberi kepada mereka yang melayani Firman termasuk perbuatan baik terhadap mereka yang menjadi anggota keluarga orang beriman (Gal. 6:10); “apabila sudah datang waktunya kita akan menuai” (Gal. 6:9), baik berkat maupun “hidup yang kekal” (Gal. 6:8). Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Kata dipermainkan berarti mengejek. Tidak seorang pun dapat mengelak ketetapan-Nya bahwa “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya”

Lukas 10 : 1 – 12, 17 – 20

Prinsip pengutusan para pekerja berdua-dua itu sangat penting dalam pekerjaan Tuhan, karena dengan demikian tersedialah iman dan hikmat dua kali lipat untuk masing-masing pekerja; tambahan pula, seorang kawan memberi dukungan keberanian. Tuhan Yesus mengutus mereka secara berpasangan memperkuat kesaksian mereka dan membuat perjalanan lebih menyenangkan. Tujuh puluh murid ini bertugas mempersiapkan orang untuk menerima tawaran terakhir Yesus kepada mereka. Mereka yang diutus tidak lepas dari bahaya. Mereka akan menjadi seperti anak domba yang tak berdaya di tengah-tengah serigala. Perjalanan itu hanya akan memakan waktu singkat saja, dan urgensinya menuntut tindakan cepat. Mereka dilarang untuk memberatkan dirinya dengan membawa pakaian berlebihan. Mereka dilarang memberi salam kepada siapa pun. Tuhan tidak bermaksud agar mereka menjadi orang yang tidak ramah, tetapi salam orang Timur itu demikian bertele-tele sampai mereka sangat mungkin membuang waktu hanya berbasa-basi. Tuhan Yesus menginginkan para murid-Nya menjadi utusan, bukan pengemis. Mereka tidak boleh berkeliling dari rumah ke rumah, mencari tempat berteduh yang paling enak dan sahabat yang paling menyenangkan. Misi mereka tampaknya berhasil dengan baik. Ketujuh puluh murid ini melaporkan bahwa setan-setan pun lari pada saat nama Yesus disebutkan. Mereka diberi kuasa yakni otoritas hak untuk memerintahkan. “Ular dan kalajengking” adalah istilah yang menggambarkan kekuatan yang paling berbahaya.

BENANG MERAH TIGA BACAAN :

Tuhan mengutus kita untuk mengabarkan dan mewujudkan sukacita bagi semua orang. Kehadiran pekerja diharapkan mampu mengubah keadaan dari situasi susah menjadi sukacita. Seperti seorang ibu yang merawat anaknya. Itu adalah perwujudan kasih, yang adalah hukum Tuhan. Namun itu bukan hal yang mudah dilakukan, karena ada banyak tantangan. Tetapi Tuhan memberikan kuasa kepada orang yang diutusnya.


 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Apa yang saudara pikirkan jika berbicara tentang anak-anak? Anak-anak tetap menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan dalam berbagai pertemuan, demikian juga materi kotbah saat ini. Selain anak-anak itu menggemaskan, lucu dan lugu, ternyata berbagai permasalahan anak-anak mewarnai kehidupan mereka. Tahun lalu, ketika peringatan  Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati tiap tanggal 23 Juli 2018, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengangkat tema ‘Anak Indonesia, Anak GENIUS (Gesit-Empati-Berani-Unggul-Sehat). Menurut Koalisi Perempuan Indonesia, untuk mewujudkan hal tersebut butuh komitmen negara dan orang tua. Ada empat masalah anak yang menjadi sorotan Koalisi Perempuan Indonesia, di antaranya rendahnya akses anak melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP), rendahnya status gizi anak, masih terjadinya praktik perkawinan anak, serta maraknya kekerasan terhadap anak. Keempat masalah itulah yang harus diselesaikan bersama guna mewujudkan Anak GENIUS. Sumber: https://kumparan.com

Isi

Jika kita memperhatikan permasalahan anak-anak tersebut di atas, kepedulian terhadap mereka tentunya harus diberikan. Tidak hanya negara dan orang tua, gereja juga harus hadir untuk dapat memberikan dukungan bagi mereka. Berdasar pada firman Tuhan hari ini, kita menemukan semangat kepedulian, yang dapat kita terapkan untuk peduli terhadap persoalan yang dialami oleh anak-anak kita. Kesediaan kita untuk mau diutus melayani anak-anak adalah wujud kepedulian kita terhadap mereka. Kita menyadari bahwa bukan hal yang mudah untuk melayani mereka. Kesediaan itu seperti tujuh puluh orang murid yang bersedia diutus untuk mengabarkan dan mewujudkan sukacita. Tantangan yang mereka hadapi juga tidaklah mudah. Mereka yang yang diutus tidak lepas dari bahaya. Mereka akan menjadi seperti anak domba yang tak berdaya di tengah-tengah serigala. Bukankah demikian juga yang kita hadapi ketika kita melayani anak-anak? Selain empat masalah yang disampaikan oleh Koalisi Perempuan Indonesia di atas, anak-anak kita juga diperhadapakan pada kecanduan “gadged”dan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Masalah-masalalah ini seperti serigala yang siap menerkam dan mencabik-cabik. Untuk mengatasi hal ini seorang pelayan tidak dapat sendirian, tetapi perlu rekan sekerja. Seperti tujuh puluh murid, berdua-dua mereka diutus. Dengan demikian tersedialah iman dan hikmat dua kali lipat untuk masing-masing pekerja; tambahan pula, seorang kawan memberi dukungan keberanian. Dukungan dari semua pihak sangat diperlukan.

Upaya lain yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan kepedulian terhadap anak-anak adalah dukungan bagi para pelayanan anak. Dukungan itu kita berikan dengan cara memberikan sarana untuk menunjang kegiatan yang dilakukan pelayan anak-anak. Bukan untuk keperluan pribadi pelayan, tetapi sarana pelayanan, agar pelayanan yang diberikan betul-betul dapat dirasakan oleh anak-anak. Mari kita renungkan pertanyaan-pertanyaan ini. Dari seluruh anggaran jemaat, berapa persenkah anggaran untuk kegiatan anak-anak? Apakah kita juga sudah menyediakan sarana pendukung, seperti ruangan, alat peraga dan sarana lain bagi anak-anak, serta pembinaan bagi para pelayannya? Namun demikian dalam melayani anak-anak, kita tidak boleh tergantung pada tersedianya sarana. Kalaupun semua yang dibutuhkan belum lengkap, kita tidak boleh menunda-nunda dalam melayani mereka, diperlukan langkah cepat. Seperti tujuh puluh murid yang diutus. Perjalanan itu hanya akan memakan waktu singkat saja, dan urgensinya menuntut tindakan cepat.

Mereka dilarang untuk memberatkan dirinya dengan membawa pakaian berlebihan. Mereka dilarang memberi salam kepada siapa pun. Tuhan tidak bermaksud agar mereka menjadi orang yang tidak ramah, tetapi salam orang Timur itu demikian bertele-tele sampai mereka sangat mungkin membuang waktu hanya berbasa-basi. Tuhan Yesus menginginkan para murid-Nya menjadi utusan, bukan pengemis. Mereka tidak boleh berkeliling dari rumah ke rumah, mencari tempat berteduh yang paling enak dan sahabat yang paling menyenangkan. Hal lain yang menyemangati kita dalam melayani anak adalah adanya kuasa yang diberikan Tuhan bagi kita.

Pelayanan terhadap anak-anak diharapkan menjadi sukacita dalam kehidupan mereka. Keberadaan pelayan diharapkan akan menjadi perawat yang penuh kasih sayang. Seperti gambaran Yesaya, mereka akan digendong oleh lengannya, seperti layaknya anak-anak kecil yang dibelai-belai di pangakuannya, seperti layaknya seorang kekasih, terutama ketika sedang letih lesuh, dan harus ditidurkan. Seperti seseorang ibu yang menghibur anaknya, ketika ia sakit dan merasa nyeri, atau dalam keadaan susah. Kasih sayang dan belas kasihan seorang ibu pengasih, yang meratapi anaknya yang kesakitan karena jatuh, supaya anak itu merasa tenang dan nyaman, atau berusaha menenangkan hati anak itu sesudah ia menegur dan memarahinya.

Penutup

Koalisi Perempuan Indonesia pun memberikan masukan kepada pemerintah dalam menyikapi situasi anak Indonesia, yaitu: 1) Melakukan terobosan kebijakan dan tindakan administratif untuk secepatnya menambah jumlah sekolah jenjang SMP, dan menambah jumlah tenaga pengajar. Agar seluruh anak yang lulus SD dapat melanjutkan pendidikannya.                            2) Menyelenggarakan program untuk percepatan penanganan masalah gizi di Indonesia. 3) Membuat kebijakan dan program untuk menghentikan perkawinan anak. 4). Memperkuat kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia serta fasilitas/sarana dan penegakan hukum untuk penanggulangan kekerasan terhadap anak.

Bagaimana dengan gereja? Sebagai gereja kita juga perlu melakukan tindakan nyata. Kepedulian gereja terhadap anak-anak melalui pelayanan terhadap mereka tentunya sudah kita lakukan, melalui program kegiatan yang dilakukan KPAR dan P2A. Namun demikian kepedulian kepada mereka masih perlu ditumbuh kembangkan. Perlu untuk memberikan dukungan semangat untuk pelayanan terhadap anak-anak. Perlu dukungan kita semua untuk peningkatan jumlah anggaran kegiatan anak-anak. Peningkatan sumber daya pelayan dengan berbagai pembinaan dan penyediaan sarana untuk menunjang kegiatan mereka.  Mari kita tingkatkan kepedulian kita terhadap anak-anak. Jangan sampai ditunda. Meski tantangan yang dihadapi berat, kita harus bersemnagat. Tuhan menolong kita. Amin. (SWT).

Pujian  :  KJ. 360


 

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Punapa ingkang panjenengan galih menawi ngrembag bab anak-anak? Anak-anak tetep dados perkawis ingkang wigatos kangge dipunrembag ing salebeting pepanggihan, mekaten ugi dados isining khotbah dinten punika. Salintunipun, anak-anak punika nggemesaken, lucu lan lugu, nyatanipun anak-anak ugi ngadepi mawarni-warni masalah ing gesangipun. Tahun kepengker, rikala mengeti Hari Anak Nasional (HAN, ingkang dipunpengeti tanggal 23 Juli 2018, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) ngangkat tema ‘Anak Indonesia, Anak GENIUS (Gesit-Empati-Berani-Unggul-Sehat). Miturut Koalisi Perempuan Indonesia, kangge mujudaken perkawis punika, dipun betahaken krenteg saking negari lan tiyang sepuh. Wonten sekawan masalah anak ingkang dados sorotan Koalisi Perempuan Indonesia, ing antawisipun: (1) upaya kangge nglajengaken pendidikan dhateng  tingkat sekolah menengah pertama (SMP), (2) status gizi anak ingkang awon, (3) wontenipun kedadosan praktik perkawinan anak, lan          (4) tumindak kekerasan dhateng anak. Sekawan masalah punika kedah dipun rampungaken sareng-sareng, kangge mujudaken anak GENIUS. Sumber: https://kumparan.com

Isi

Menawi kita gatosaken masalah anak-anak ingkang kasebataken ing nginggil, kita kedah nggadahi raos peduli dhateng anak-anak. Mboten namung negari lan tiyang sepuh, gereja kedah maringi dukungan kangge anak-anak. Adedhasar pangandikanipun Gusti dinten punika, kita manggihi semangat kepedulian, ingkang saged kita trepaken kangge peduli dhateng masalah ingkang dipun alami dening anak-anak. Sagah kautus lelados dhateng anak-anak menika wujuding raos peduli kita dhateng anak-anak. Kita sadar bilih, sanes perkawis ingkang gampil kangge ngladosi anak-anak. Kados pitung dasa sakabatipun Gusti ingkang sumadya kautus ngabaraken lan mujudaken kabingahan. Pambengan ingkang dipun adepi mboten gampil. Para murid ingkang kautus mboten uwal saking bebaya. Para murid kados dene cempe ingkang tanpa daya ing satengah-tengahing asu ajag. Punapa mboten mekaten menawi kita ngladosi anak-anak? Salintunipun sekawan masalah ingkang dipun aturaken Koalisi Perempuan Indonesia ing nginggil, anak-anak kita ugi dipun adepaken dhateng kecanduan “gadged” lan anak-anak ingkang mbetahaken panggulawentah khusus. Perkawis punika kados asu ajag ingkang badhe mangsa lan ngoyak-oyak. Kangge ngrampungaken perkawis punika, pelados mboten saged piyambakan, nanging mbetahaken rencang damel. Kados pitung dasa sakabat, dipun utus kalih-kalih. Menawi mekaten, badhe wonten iman lan pangertosan/kawicaksanan tikel kalih, kangge saben tiyang ingkang nyambut damel. Tambahanipun rencang ugi badhe paring dukungan, ndadosaken sangsaya kendel. Dukungan saking sedayaipun sanget dipun betahaken.

Perkawis lintunipun ingkang saged kita lampahi kangge mujudaken raos peduli dhateng anak-anak, inggih punika dukungan kangge para peladosing anak. Dukungan punika kita tindakaken kanthi cara maringi sarana kangge nyengkuyung kegiatan peladosaning anak-anak. Mboten kangge kabetahaning pribadi pelados, nanging sarana peladosan, supados peladosan ingkang kaparingaken estu dipun raosaken dening anak-anak. Sumangga kita raosaken pitakenan-pitakenan punika: Saking sedaya anggaraning pasamuwan, pinten persen ingkang kangge kegiatanipun anak-anak? Punapa kita sampun nyawisaken sarana, kados ruangan, alat peraga lan sarana lintunipun kangge anak-anak, sarta pembinaan kangge para peladosipun?

Kangge ngladosi anak-anak, mboten gumantung kaliyan cumawisipun sarana. Menawi sedaya sarana ingkang dipun betahaken dereng jangkep, kita mboten pikantuk semaya kangge ngladosi anak-anak, enggal-enggal mlampah lelados.  Kados pitung dasa sakabat ingkang dipun utus, anggenipun mlampah namung mbetahaken wegdal ingkang singkat lan kedah dipun lampahi kanthi rikat. Para sakabat mboten pikantuk ngasta rasukan ingkang katah. Mboten pikantuk paring uluk salam dhateng sinten kemawon. Punika mboten ateges bilih para murid kedah dados tiyang ingkang sombong, nanging salamipun tiyang brang wetan punika dawa, ngatos mbucal wegdal. Gusti Yesus ngresakaken para sakabatipun dados utusan, sanes tiyang ngemis. Para sakabat mboten angsal keliling dateng griya-griya, pados papan panggenan ingkang sekeca lan rencang damel ingkang ngemenaken. Perkawis lintunipun ingkang ndadosaken kita gumregah semangat ngladosi anak-anak inggih punika Gusti Yesus paring panguwaos kangge kita makarya lan lelados.

Pengajeng-ajengipun peladosan dhateng anak-anak saged dados kabingahan ing pigesanganipun. Pelados saged dados juru rawat ingkang kebak katresnan. Kados gambaranipun nabi Yesaya, umat dipun bopong klayan astanipun, kados para lare alit ingkang dipun kudang, kados tiyang ingkang dipun tresnani ingkang saweg sayah lan lajeng dipun ajak ngaso. Kados sang ibu ingkang nglipur ingkang putra, rikala sakit lan perih, utawi saweg nandang kasisahan. Katresnan lan kawelasan sang ibu ingkang nangisi putranipun ingkang sakit awit dhawah, supados anak ngraosaken ayem tentrem, utawi mbudidaya nglipur ingkang putra sasampunipun sang ibu melehaken lan ndukani.

Panutup

Koalisi Perempuan Indonesia paring usul dateng pemerintah kangge ngadepi kawontenaipun anak Indonesia, inggih punika: 1) Nglampahi terobosan kebijakan lan tindakan administratif supados enggal nambah sekolah jenjang SMP lan tenaga gurunipun. Supados sedaya anak ingkang lulus SD saged nglajengaken sinaunipun.   2) Ngawontenaken program kangge ngrampungaken masalah gizi ing Indonesia.  3) Ndamel kebijakan lan program kangge ngendeg perkawinan anak. 4). Ngiyataken kelembagaan lan kapasitas sumber daya manusia serta fasilitas/sarana lan negakan hukum kangge nyegah kekerasan dhateng anak.

Kados pundhi kaliyan greja? Greja ugi perlu mujudaken kanthi nyata. Tamtunipun greja ugi sampun mujudaken kepedulian, ing selebeting peladosan, inggih punika ing program kegiatan KPAR lan P2A. Senaosa mekaten raos peduli dhateng anak-anak kedah dipun tuwuhaken malih.  Perlu sanget paring semangat kangge sedaya peladosing anak-anak. Kita sedaya perlu ndukung kangge ningkataken anggaran kegiatan anak-anak. Sumber daya pelados ugi kedah dipun tingkataken, kanthi pembinaan. Sarta nyawisaken sarana kangge nunjang kegiatan anak-anak. Mangga kita tingkataken raos peduli kita dhateng anak-anak. Sampun semaya. Senaosa pambengan awrat, kita kedah semangat. Gusti paring pitulungan dhateng kita. Amin. (SWT).

Pamuji : KPJ.  297

 

 

Bagikan Entri Ini:

  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •