Menyikapi Panggilan Tuhan yang Menerangi Hati. Khotbah Minggu 30 Juni 2019

Penutupan Bulan Kesaksian dan Pelayanan / Minggu Biasa II
Stola Hijau

 

Bacaan 1  : I Raja Raja 19 : 15 – 21
Bacaan 2  : Galatia 5:1, 13 – 26
Bacaan 3  : Lukas 9 : 51 – 62

Tema liturgis : Roh Kudus : Rahasia pengharapan dibalik panggilan yang menerangi hati
Tema khotbah : Menyikapi panggilan Tuhan yang menerangi hati.

KETERANGAN BACAAN
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Raja Raja 19 : 15 – 21

Kemarahan Elia yang dinyatakan secara tidak langsung kepada sikap Tuhan yang non aktif itu, dijawab oleh bunyi angin sepoi-sepoi basah dan oleh kejadian-kejadian yang dinubuatkannya teristimewa ayat 16 dan 17. Elia tidak mengurapi Hazael, maupun Yehu, perintah ini dilaksanakan oleh Elisa, dan itupun hanya secara kiasan, juga tidak mengurapi Elisa. Istilah “mengurapi” secara tidak langsung menyatakan panggilan bagi suatu maksud tertentu, baik hal itu disertai upacara pengurapan yang sebenarnya maupun tidak.

Elia melemparkan  jubahnya kepada Elisa, (sebagai ganti pengurapan) tatkala Elisa sedang membajak. Elia melakukan perbuatan simbolis ini. Dan Elisa mengartikan perbuatan Elia itu sebagai isyarat bahwa ia harus mengikuti Elia. Elisa meninggalkan lembu dan bajaknya dan berlari mengikuti Elia dengan  berpamitan dahulu kepada ayah dan ibunya. Elia mengijinkan dengan catatan jangan lupa apa yang telah diperbuatnya kepada Elisa. Elisa mengadakan pesta perpisahan, lalu menjadi pelayan Elia.

Galatia 5 : 1, 13 – 26

Yang dimaksud kemerdekaan disini adalah kemerdekaan berdasarkan penebusan karena anugerah, yang harus diperhadapkan dengan keadaan manusia , seperti orang Yahudi pada zamannya Paulus, yang terikat pada upacara-upacara agamaniah yang menjemukan. Kemerdekaan mencakup kemerdekaan dari peraturan-peraturan agamaniah yang secara legalistis dibebankan, tapi arti positipnya adalah kebebasan rohani yang hakiki dari orang Kristen, kebebasan mana merupakan tujuan Allah bagi manusia (Yoh 8:32, 36, Roma 8:2). Penggunaan kemerdekaan itu haruslah memenuhi syarat secara moral. Kemerdekaan yang benar mencakup pelayanan terhadap orang lain. Ini adalah pengabdian dengan gembira dan dilakukan dengan sukacita satu terhadap yang lain dalam kebebasan daripada Injil.

Kemerdekaan Kristen menuntut orang Kristen hidup dalam Roh, dipimpin oleh Roh (iman dan kasih), artinya tidak lagi tunduk kepada hukum Taurat, hidup dibawah hukum Taurat (kesetiaan legalistis). Dan tidak hidup menuruti kenginan daging. Roh dan daging berperang. Hidup oleh Roh menjamin bahwa kita tidak lagi berbuat sesuka hati kita (yaitu kejatuhan kepada kemerdekaan palsu daripa keinginan badaniah).Sebaliknya, kita hidup dalam kemerdekaan yang menang atas keinginan-keinginan daging. Perbuatan-perbuatan daging telah nyata ayat 19-21. Sedangkan buah-buah Roh juga sudah jeas pada ayat 22 dan 23.

Pada satu pihak, kemenangan atas dosa adalah karena hidup yang baru dalam Roh; tapi, pada pihak lain, kemenangan itu dikarenakan orang Kristen telah mati dalam kematian Kristus, yang menandakan kematian kuasa daging (Gal 2:20). Kenyataan telah hidup dalam Roh, haruslah juga membat hidup dipimpin oleh Roh. Pengalaman Kristen tidak hanya mulai dengan Roh, pengalaman itu berlangsung seterusnya dengan Roh. Karena itu kesombongan, hasutan terhadap yang lain dan dengki haruslah disisihkan.

Lukas 9 : 51 – 62

Ayat kita ini berada dalam konteks pasal 9:51 – 10:24 Kewajiban-kewajiban dan hak-hak istimewa seorang murid Yesus. Banyak orang mau mengikut Yesus, bahkan ke Yerusalem sebelum mereka mengetahui apa yang akan terjadi di dalamnya. Jawaban Yesus kepada calon murid yang pertama, ialah bicara tentang ketiadaan tempat bagi Anak Manusia dan murid-muridNya. Karena banyak sahabat menyediakan kebutuhan jasmani bagi Yesus, maka kalimat ini menunjuk secara metaforis kepda penolakan atas Dia oleh orang-orang (termasuk orang Samaria). Calon murid kedua diberi perintah supaya jangan mencari dalih apapun untuk menunda waktunya mengikuti Yesus. Kepada yang ketiga harus dikatakan bahwa tidak boleh mundur kembali dalam melayani Yesus, sama seperti seorang pembajak yang menoleh ke belakang tidak dapat mengharapkan akan menghasilkan suatu alur yang lurus.

Ketiga contoh sikap orang dalam menyikapi panggilan Tuhan, ini semuanya menekankan  perlunya penyerahan diri sepenuhnya kepada Yesus.

 

BENANG MERAH TIGA BACAAN

Penyikapan seseorang terhadap panggilan Tuhan, bisa dan dapat mempengaruhi pemahaman, sikap, perilaku dan tindakan mereka akan apa artinya mengikut Tuhan.


 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan. Sila dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan

Dalam kehidupan nyata, kita dapat melihat dan menyaksikan bagaimana seseorang menyikapi panggilan seseorang. Misal : anak dalam menyikapi panggilan ayah/ibu/orangtuanya :

  • Ada yang dipanggil langsung menjawab panggilan itu dan melaksanakan panggilan itu
  • Ada yang dipanggil diam saja, tetapi melaksanakan
  • Ada yang dipanggil diam saja dan tidak melakukan apa-apa
  • Ada yang dipanggil menjawab “nggih” tetapi tidak “kepanggih”
  • Ada yang dipanggil langsung menolak, dst…..

Semua sikap ini menunjukkan apa arti jawaban atau sikap mereka, terhadap yang memanggil.  Hal yang sama dapat juga berlaku bagi siapapun dalam menyikapi panggilan Tuhan atas dirinya, yang semuanya juga menunjukkan apa artinya mengikuti yang memanggil yaitu Tuhan.

Isi

Penolakan Yesus oleh orang-orang Samaria karena perjalananNya menuju Yerusalem, ini merupakan tanda-tanda dari apa yang akan terjadi: sekalipun Yesus adalah “populer” atau “disukai”juga di Galliles (9:43b), selaku Messias yang akan menderita Ia ditolak di Galilea dan Samaria dan pada akhirnya di Yerusalem. Kontak (hubungan) pertama dengan daerah Samaria ini mengingatkan kita kepada tugas yang diterima oleh rasul-rasul itu di kemudian hari, yaitu untuk bersaksi tentang Kristus “di Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ujung bumi (Kis Ras 1:8).

Orang-orang Samaria dengan terus terang menolak Yesus, tetapi justru kepada orang-orang yang menolak inilah para murid dipanggil untuk memberitakan Injil.

Selalu ada kemungkinan kita juga mengalami penolakan oleh dunia ini karena hidup dan kehidupan kita yang tidak seturut dengan dunia ini; tetapi justru kepada dunia yang seperti inilah kita diutus oleh Tuhan untuk memberitakan tatanan hidup baru yang penuh dengan damai dan sukacita, menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah.

Sesudah “pengakuan Petrus” Yesus telah berbicara tentang penderitaanNya (9:20-23); kemudian menyusullah dalam Injil Lukas  perkataan Yesus yang menjelaskan apa artinya “mengikut Dia” yakni bersedia ditolak orang-orang,  seperti Yesus sendiri ditolak (9:23-26). Di sini pada permulaan “perjalanan ke Yerusalem” (ayat 51), sekali lagi dijelaskan apa artinya kalau orang mau mengikut Yesus. Ada tiga sikap dalam menyikapi pangilan Yesus :

  1. Ayat 57 – 58 ditunjukkan orang yang dengan penuh semangat menyikapi panggilan Yesus : Aku akan ikut Engkau, kemana saja Engkau pergi”. Tetapi Yesus tidak bergirang hati mendengar perkataan itu. Yesus memperingatkan orang itu, seperti dulu Ia mengingatkan murid-muridNya (9:22). Yesus tidak membuat reklame (proganda) untuk diriNya sendiri. Ia tidak berusaha untuk meraih pengikut-pengikut. Sebaliknya, Ia memperingatkan orang-orang supaya mereka menginsyafi baik-baik apa yang mereka perbuat kalau mereka mau mengikut Dia !

Yesus menjawab seperti dalam ayat 58. Ini artinya, kepada kita sekalian harus jelas bahwa “mengikut Yesus” artinya melepaskan diri dari berbagai-bagai ikatan yang memberi keamanan dan ketentraman; bukan dipuji dan disambut dengan penghormatan oleh orang-orang, tetapi menjadi sebagai orang musafir yang dianggap orang-orang sebagai orang asing yang tidak disukai, karena ia tidak mau 100% menyesuaikan diri seperti yang dituntut oleh sekitarnya.

  1. Ayat 59 – 60 seseorang yang oleh Yesus diajak untuk mengikut Dia, tetapi orang ini meresponnya supaya keputusannya diundurkan karena keadaan kaum keluarganya (ayat 59). Siapa yang mau menjadi pengikut Yesus, haruslah bersikap radikal, malahan harus bersedia memutuskan ikatan yang paling akrab dengan sekitarnya, bila ikatan-ikatan itu berlawanan dengan tuntutan Yesus.

Jawaban Yesus dalam ayat 60, maksudnya : siapa yang lebih suka kepada adat terhadap orang mati daripada kepada pergaulan dengan Kristus yang hidup, ia sudah mati secara rohani dan sudah tergolong kepada dunia maut. Tetapi siapa yang telah menemukan hal Kerajaan Allah, ia telah menemukan hidup yang sejati dan tulen. Dibandingkan dengan hidup dalam Kerajaan Allah itu, segala kewajiban duniawi kehilangan coraknya/sifatnya yang mutlak, betatapun baik dan luhurnya barangkali kewajiban-kewajiban itu. Ketika mendengar seruan untuk memberitakan Injil (=kabar baik) tentang Kerajaan itu – seruan yang seperti perintah untuk mobilisasi, yakni untuk ikut serta dalam “tentara keselamatan” – tidak boleh kita meminta pengunduran sedikit waktu pun.

  1. Ayat 61 – 62 ini hanya terdapat dalam Injil Lukas (bandingkan pemanggilan Elisa oleh Elia dalam bacaan pertama). Ditinjau sepintas lalu soalnya sama dengan yang ke dua, dalam menyikapi panggilan Yesus orang ini minta waktu sebentar untuk berpamitan dengan keluarganya. Perbedaannya terdapat dalam jawab yang diberikan oleh Yesus. Dari jawab itu dapat disimpulkan bahwa hati orang itu masih melekat kepada masa dahulu dan bahwa ia ingin tetap menggabungkan dua hal : ia mau mengikut Yesus, tetapi mau tetap menyimpan dalam hatinya kenang-kenangan yang baik kepada kaum keluarganya sedemikian sehingga sewaktu-waktu ia dapat kembali kepada masa dan keadaan dahulu itu.

Jawab Yesus barangkali lebih keras daripada jawab Elia kepada Elisa. Kerajaan Allah adalah perkara masa kini dan masa depan. Siapa yang hidup dan bekerja dalam Kerajaan Allah, ia harus menunjukkan perhatianya kepada masa kini dan masa depan.

Ini suatu peringatan yang masih selalu aktual (up to date) bagi gereja dan anggota-anggotanya : jangan kita membuat gereja menjadi semacam museum penuh dengan benda-benda, ajaran-ajaran, aturan-aturan, adat-istiadat, kelakuan-kelakuan, metode-metode, dan lain-lain dari masa dahulu, tetapi kita harus berusaha untuk menjadi orang-orang Karisten dan Gereja Kristen yang sungguh hidup ditengah-tengah dunia dan masyarakat pada masa sekarang dan mengarahkan pandangan kepada masa depan !

Penutup

Bagaimana kita menyikapi panggilan Tuhan yang menerangi hati kita, semuanya berpulang kepada kita masing-masing. Apakah kita akan menolak ? Dan kalau kita sendiri mengalami penolakan, apakah kita akan “mogok” dan marah kepada Tuhan, seperti Elia ? Itu artinya kita masih hidup dalam daging padahal mestinya kita telah hidup dalam Roh, sehingga selalu mampu mengendalikan diri kita. Demikian halnya terkait dengan tiga tipe orang dalam menyikapi panggilan Tuhan, kita tergolong atau masuk tipe yang mana ? Tetapi berbahagialah kita kalau bersikap seperti Elisa : Ini aku… utuslah aku ! Amin (SS)

Menyanyi: KJ. 426 : 1, 2


 

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Ing kasunyataning gesang padintenan, kita saget ningali lan nyekseni kadospundi tiyang tiyang nalika dipun timbali. Umpaminipun :

  • Wonten ingkang dipun timbali langsung nyauri lan nindakaken timbalan menika
  • Wonten ingkang dipun timbali namung mendhel kemawon lan ugi mboten nindakaken menapa-menapa
  • Wonten ingkang dipun timbali namung mendhel kemawon, nanging nindakaken
  • Wonten ingkang dipun timbali atur wangsulan “nggih” ananging mboten “kepanggih”
  • Wonten ugi ingkang dipun timbali, langsung nolak…..lsp

Sedaya menika nedahaken menapa wosing mangsulan lan sikapipun tetiyang menika, dateng tiyang ingkang nimbali. Bab ingkang sami ugi saget kelampahan tumraping sinten kemawon ing salebeting atur wangsulan lan nyikapi timbalanipun Gusti dateng piyambakipun, ingkang sedaya wau ugi nedahaken menapa wosipun derek ingkang nimbali inggih menika Gusti.

Isi

Gusti Yesus katampik dening tiyang-tiyang Samaria karana bade tindak dateng Yerusalem, menika mujudaken pratandha menapa ingkang badhe kelampahan : senadyan Gusti Yesus menika priyantun ingkang “kondang” lan dipun “remeni”  ugi ing Galilea (9:43b), minangka Sang Mesih ingkang badhe nandang sangsara Panjenenganipun dipun tampik ing Galilea lan Samaria lan pungkasanipun ing Yerusalem. Bab menika ngengetaken kita dateng timbalan ingkang katampi dening para rasul ing tembe wingkingipun, inggih menika kangge nyekseni Sang Kristus “ing Yerusalem lan Yudea lan Samaria lan ngantos dumugi pungkasing bumi” (Par Ras 1:8)

Tiyang-tiyang Samaria kanthi terang-terangan nampik Gusti Yesus, ananging malah dateng tiyang-tiyang ingkang nampik menika, para murid katimbalan supados martosaken Injil.

Saged kemawon kita ugi ngalami katampik dening jagad menika karana gesang lan pigesangan kita ingkang mboten sami/malah mboten nucoki kaliyan jagad menika; ananging inggih dateng jagad ingkang kados mekaten menika kita kautus dening Gusti supados martosaken tatatan gesang enggal ingkang kebak katentreman lan kabingahan, datengaken pratandhataning Kratonipun Allah.

Sesampunipun Petrus nglahiraken pangaken kapitadosanipun (9:18-21), ing Injil Kukas 9:23-26 Gusti Yesus nglajengaken paring dawuh bab menapa ingkang dados wosipun “derek Gusti Yesus” inggih menika katampik dening tiyang-tiyang kadosdene Gusti Yesus piyambak ugi ngalami katampik. Ing waosan kita “nalika miwiti tindak dateng Yerusalem” (ayat 51), sepisan malih dipun terangaken dening Gusti Yesus menapa wosipun derek Panjenenganipun. Kita saget maos ing waosan kita dinten menika wonten tigang patrap tiyang anggenipun nyikapi timbalanipun Gusti :

  1. Ayat 57-58 wonten tiyang ingkang kanthi semangat sanget badhe derek Gusti Yesus : “kawula badhe ngetut wingking Paduka, dhatenga pundi kemawon tindak Paduka”. Ananging Gusti Yesus mboten bingah mireng menapa ingkang dipun aturaken dening tiyang menika. Gusti Yesus ngengetaken tiyang menika kados ngengetaken para sekabatipun nalika semanten (9:22). Gusti Yesus mboten nate lan mesthi mboten badhe nate damel reklame kagem Panjenenganipun piyambak. Panjenenganipun mboten mbudidaya angsal pendherek. Kosok wangsulipun, Panjengenipun ngengetaken tiyang-tiyang supados tansah ngrumaosi lan nyadari kanthi saestu menapa ingkang kedah katindakaken menawi tetiyang menika dherek Panjeneganipun.

Gusti Yesus paring wangsulan kados ing ayat 58. Menika ngemu teges, bilih tumraping kita sedaya kedah cetha bilih “derek Gusti Yesus” tegesipun ngrucat saking diri kita sedaya bab-bab ingkang maringi “kemanan” lan “kenyamanan” tuwin “katentreman”; mboten dipun puji, dipun ngurmati kaliyan tiyang-tiyang, ananging kadosdene musafir ingkang kaanggep dening tiyang-tiyang dados tiyang ingkang menjila ingkang mboten dipun remeni, mbokmenawi kasebrataken, karana mboten purun 100% kadosdene ingkang dipun pikajengaken dening tiyang-tiyang ing sakiwa tengenipun.

  1. Ayat 59-60 tiyang ingkang dipun timbali dening Gusti Yesus supados derek Panenganipun, ananging tiyang menika nyumenekaken karana kawontenaning brayatipun (ayat 59). Sinten ingkang kepengin dados pendherekipun Gusti Yesus, kedah nggadahii sikap radikal, malahan kedah purun lan wantun nilar/mungkasi sedaya sesambetan ingkang paling raket, menawi sesambetan menika lelawanan kaliyan karsanipun Gusti.

Ingkang dados karsanipun Gusti ing ayat 60, sinten ingkang langkung remen dateng adatipun tiyang pejah, katimbang seambetan kaliyan Sang Kristus ingkang gesang, piyambaipun sampun pejah tata rohani lan sampun kalebet ing jagading tiyang pejah. Ananging sok sintena ingkang sampun manggihaken bab Kratoning Allah, piyambakipun sampun manggihaken gesang ingkang sejatos lan tulen/murni. Katanding kaliyan gesang ing Kratonipun Allah menika, sedaya jejibahan kadonyan kecalan corakipun lan sifatipun ingkang mutlak, dikadopundi sae lan luhuripun.  Nalika kita mireng timbalan supados martosaken Injil (=pawartos kabingahan) bab Kratoning Allah – timbalan kadya pangajak lan pangajab mobilisasi, inggih menika supados derek  ing tentara keselamatan – mboten angsal lan mboten saget kita nyuwun supados kasumenekaken wekdalipun.

  1. Ayat 61-62 ayat menika namung wonten ing Injil Lukas (swawi kacundhukna kaliyan timbalanipun Elia dateng Elisa ing waosan kaping sepisan). Menawi kita wawas sabrebetan meh sami kaliyan ayat kita menika , nalika dipun timbali dening Gusti Yesus, tiyang menika nyuwun wekdal sawetawis kangge pamitan kaliyan keluarganipun. Ingkang bentenaken wangsulan ingkang kaparingaken dening Gusti Yesus. Kanthi wangsulan menika saget kita simpulaken bilih manahipun tiyang menika taksih awrat sanget nilaraken gesangipun ingkang lami. Piyambakipun kepengin tetep nggabungaken kalih bab : kepengin derek Gusti Yesus ananging ugi kepengin tetap nyimpen ing manahipun sedaya kenang-kenangan ingkang sae kaliyan keluarganipun, matemah sawekdal-wekdal piyambakipun saget wangsul dateng gesngipun ingkang lami, dateng wekdal lan kawontenan ingkang lami.

Paring wangsulanipun Gusti Yesus mbokmenawi langkung keras menawi katandhing kaliyan wangulanipun Elia  dateng Elisa. Kratonipun Gusti menika prekawis masa kini lan masa depan. Sinten kemawon ingkang gesang lan makarya ing Kratonipun Gusti, piyambakipun  kedah nujokaken kawigatosanipun dateng masa kini lan masa depan.

Menika salah satunggaling pepenget ingkang taksih lan tansah aktual (up to date) kangge greja dalasan warganipun : sampun ngantos kita ndadosaken greja dados kadosdene museum ingkang kebak kaliyan barang-barang, piwulang-piwulang, pranatan-pranatan, adat-istiadat, tumindak-tumindak, tata cara lan sakpanunggalanipun saking zaman rumiyin, ananging kita kedah mbudi daya dados tiyang Kristen lan greja Kristen ingkang estu-estu gesang ing satengahing jagad lan masyarakat wekdal samangke lan tansah mandeng dateng wekdal ingkang bade kelampahan (masa depan).

Panutup

Kados pundi anggen kita nyikapi timbalanipun Gusti ingkang madangi manah kita, sedaya menika wangsul dateng manah kita piyambak-piyambak. Menapa kita bade nampik ? Lan menawi kita piyambak ngalami  katampik, menapa kita badhe “mogok” lan nepsu dateng Gusti kadosdene Elia ? Menawi kados mekaten ateges kita taksih gesang tata kadagingan, kamangka mesthenipun kita sampun gesang ing salebeting Roh, matemah tansah lan saget ngemudeni diri kita.

Mekaten ugi gegayutan kaliyan tigang tipe tiyang ing salebeting nyikapi timbalanipun Gusti, kita kalebet ingkang pundi ? Saestu anama rahayu menawi ing salebeting nampeni timbalanipun Gusti kita nggadahi sikaping gesang kadosdene Elisa : “Sumangga, mugi karsaa ngutus kawula “. Amin (SS).

Pamuji : KPK. 66 : 2,3

 

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •