Membangun Relasi yang Benar dengan Tuhan dan Sesama Khotbah Minggu 14 Juli 2019

Bacaan 1           :  Ulangan 30 : 9 – 14
Bacaan 2           :  Kolose 1 : 1 – 14
Bacaan 3
           :  Lukas 10 : 25 – 37

Tema Liturgis   :  Kehadiran Kristus di Tengah Keluarga yang Membawa Keselamatan
Tema Khotbah
:  Membangun Relasi yang Benar dengan Tuhan dan Sesama

 

KETERANGAN BACAAN  :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 30 : 9 – 14

Allah akan melimpahi umat dengan berkat  dan sekaligus memberikan perintah agar umat  mendengarkan suara Tuhan (ay. 9)  dan berpegang pada perintah dan ketetapan Allah (ay. 10). Yang menarik adalah bahwa Allah tidak hanya menghendaki perintah dan ketetapan-Nya dilakukan saja tetapi tindakkan melakukan ketetapan dan perintah Allah ini harus melibatkan  hati dan jiwa.  Relasi yang ingin dibangun Allah dengan umat-Nya bukanlah relasi basa-basi dan ketaatan buta, tetapi relasi yang melibatkan hati dan jiwa. Seperti sepasang mempelai yang menikah bukan  karena tradisi tetapi karena memang mereka saling mencintai. Maka dari itu perumpamaan antara Israel dan Allah sering digambarkan sebagai sepasang kekasih.

Jika perintah dari Allah dilakukan dengan basa-basi dan ketaatan buta tanpa cinta yang melibatkan hati dan jiwa maka perintah itu akan menjadi sangat sulit dilakukan. Tetapi jika dilakukan dengan relasi mendalam karena cinta kepada Allah akan sangat mudah dilakukan. Energi dari relasi yang melibatkan hati dan jiwa akan mendorong ketaatan tanpa beban (ay. 11-14). perintah itu menjadi mudah dilakukan sebab tidak jauh tapi sangat dekat  dalam kehidupan umat.

Kolose 1 : 1 – 14

Melalui suratnya ini Paulus memberikan apresiasi dan semangat kepada jemaat di Kolose. Sebuah kalimat pendorong semangat agar seseorang bisa mengalami perubahan hidup tanpa merasa digurui atau diperintah seseorang. Paulus memberi gambaran kehidupan ideal seseorang yang taat kepada Tuhan didahului dengan berhikmad dan memiliki pengertian yang benar supaya mengetahui kehendak Tuhan yang sempurna (ay. 9).

Pengertian yang benar akan Firman Tuhan dan hikmat sangat diperlukan dalam relasi antara Allah dan manusia. Agar manusia juga bisa memisahkan dirinya dari cara pandangnya dan cara pandang Allah.  Cara seseorang memahami suatu kalimat itu sangat ditentukan oleh keinginanya. Maka dari itu sebuah penafsiran terhadap sebuah aturan bisa ditentukan oleh persepsi pembacanya sesuai kepentingan dan keinginanya. Maka dari itu tidak berlebihan jika Paulus menginginkan dalam doanya agar jemaat diberi hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Allah. Hanya dengan cara yang demikian sajalah maka dalam iman mereka akan menghasilkan buah yang baik ( ay. 10).

Cara yang benar dalam memahami kehendak Allah yang dilepaskan dari persepsi dan kepentingan pribadi akan mendorong seseorang menjadi sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari sebab ia membangun relasi yang benar dengan Allah. Muara dari semua itu tentu saja adalah keselamatan dari Allah akan menjadi milik jemaat yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tanpa relasi yang benar dengan Allah maka mustahil keselamatan yang dari Allah akan datang kepada umat-Nya (ay. 13-14). Relasi yang benar dengan Allah hanya akan terjadi jika umat memiliki hikmat dan pengertian yang benar dalam memahami Allah.

Lukas 10 : 25 – 37

Kisah tentang orang Samaria yang baik hati ini adalah sebuah jawaban atas pertanyaan bagaimana seseorang bisa mendapatkan hidup kekal. Sekaligus perumpamaan ini sebagai sindiran/cambuk bagi ahli taurat yang munafik. Mengetahui isi hukum taurat dan hapal isi Kitab Suci bisa saja dengan mudah dilakukan. Tetapi itu sama sekali tidak mempengaruhi apapun jika tidak diikuti dengan tindakan yang tepat untuk melakukan Firman Tuhan itu dan menjadi berkat bagi banyak kehidupan.

Isi perumpamaan ini tentunya sangat menyakitkan bagi ahli Taurat karena melakukan hukum taurat yang disejajarkan dengan perilaku orang Samaria itu sangat tidak pantas. Orang Samaria di mata orang Yahudi sangat rendah sebab orang Samaria dianggap bukan keturunan murni Israel tetapi campuran dnegan bangsa-bangsa lain. Orang Samaria adalah penduduk Israel Utara, yang pada tahun 722 SM ditaklukan oleh bangsa Asyur. Untuk mencegah pemberontakan orang Israel kepada bangsa Asyur maka mereka membuang sebagian penduduk Israel Utara ke tempat lain dan memasukkan penduduk bangsa-bangsa lain ke daerah Israel Utara. Pada saat orang-orang Yahudi yang berasal dari Kerajaan Israel Selatan (Yehuda)  kembali dari pembuangan, mereka menekankan kemurnian darah Yahudi, sejak saat itu mereka memandang negatif kepada orang-orang Samaria. Dari sisi orang Samaria juga semakin menilai negatif  orang Yahudi sejak tahun 128 M, ketika  Yohanes Hirkanus pemimpin orang Yahudi menghancurkan bait suci orang Samaria di bukit Gerizim dalam rangka memperluas daerah Yudea. (Sumber Wikipedia)

Alasan imam dan orang Lewi tidak menolong orang yang terluka itu adalah hukum kesucian bagi para imam dan orang Lewi  ketika menjalankan tugas melayani di bait suci. Hukum ini tertulis dalam Imamat 21:6, Kel 30:29; Bil 18:9.  Menyentuh mayat memang menajiskan, Bil 6:9; 19:11-13; 31:19; Hag. 2:14,  Yeh 44:25-27 . Aturan bagi imam besar lebih ketat, ini nampak jelas dalam  Imamat  21:11 juga. Jika hukum kesucian ini dilangar akan membuat mereka tidak bisa melayani di bait suci.

Dalam perumpamaan ini hukum kesucian dibenturkan dengan hukum cara membangun relasi dengan sesama manusia. Di mata Tuhan Yesus kesalehan pribadi terhadap ritual keagamaan tidak menjadi tempat yang penting. Yang penting adalah pada ketaatan itu juga harus ditambahkan perilaku. Penekanan Tuhan Yesus pada tindakan yang benar dalam memenuhi hukum Tuhan bukan hanya pada ritual keagamaan tetapi pada cara manusia memperlakukan manusia yang lainnya. Dengan perumpamaan ini, Yesus hendak mengatakan bahwa keselamatan dari Allah itu berlaku untuk semua umat manusia bukan bangsa Yahudi yang menentukannya.

 Benang Merah Ketiga Bacaan :

Keselamatan dari Allah itu datangnya dari cara membangun relasi yang benar dengan Allah yang dinyatakan dalam tindakan mengasihi semua ciptaan bukan dari melakukan ritual ibadah.

 

RANCANGAN KOTBAH  :  Bahasa Indonesia

Pendahuluan :

Pernahkah Saudara melihat seseorang mengemudi kendaraan sedang menerobos lampu merah di perempatan jalan? (Tanyakan kepada jemaat  seperti ini : Bagi Saudara jika lampu kuning menyala menurut  Saudara kalimat yang tepat itu  yang mana :

  1. Sudah lampu kuning
  2. Masih lampu kuning

Dari dua pernyataan di atas mana yang Saudara pilih? (Biarkan beberapa warga menjawab dan minta mereka menjelaskan alasan pilihan mereka.)

Isi

Jawaban warga terhadap pertanyaan di atas akan mempengaruhi responnya terhadap aturannya lampu lalu lintas. Jika dijawab yang no. 1, sudah lampu kuning maka mereka akan berhati dan bersiap untuk menghentikan kendaraannya karena sebentar lagi akan berganti warna merah. Pilihan ini memiliki aspek menyayangkan nyawa sendiri dan nyawa orang lain. Jika dijawab no. 2  maka mereka memikirkan peluang  bahwa masih ada kesempatan sampai sebelum lampu warna merah menyala sehingga akan menambah laju kendaraan meskipun dengan resiko bisa saja ketika nekad ternyata lampu tiba-tiba menjadi berwarna merah. Pilihan ini akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Pilihan no. 2, cenderung didorong oleh karakter egois yang menafsirkan peraturan untuk kepentingan diri sendiri.

Kesadaran seperti jawaban no. 1  yang harus dibangun dalam alam sadar orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Sebab Tuhan Yesus menempatkan ketaaatan kepada Allah melampaui aturan. Melalui perumpamaan Orang Samaria yang murah hati, Tuhan Yesus memberikan sudut pandang baru dalam membangun relasi dengan Allah. Ketaatan kepada Firman Tuhan tidak dilakukan dalam relasi yang kaku dan buta  tetapi dalam relasi yang hidup dan menghidupkan. Itulah sebabnya Allah menginginkan agar umat Israel  melalukan perintah Tuhan dengan segenap hati dan jiwa     (Ul. 30:9-14). Melakukannya dengan segenap hati dan jiwa saja tanpa hikmat untuk membedakan mana yang paling benar di antara kebenaran yang sudah diyakini benar juga sangat diperlukan (Kol 1:1-14). Bagi Paulus hikmat dan pengertian yang benar akan Firman Tuhan sangat mutlak diperlukan dalam mentaati Firman Tuhan dengan segenap hati dan jiwa. Maka Firman Tuhan akan dilakukan dengan baik dan benar.

Perumpamaan Orang Samaria yang murah hati ini diajukan oleh Yesus agar konteks pendengarnya tahu melakukan Fiman Tuhan dengan baik dan benar. Di mata Tuhan Yesus, apa yang dilakukan oleh imam dan orang Lewi itu baik, karena mereka mentaati hukum kesucian dalam melayani di bait Allah. Tetapi apa yang mereka lakukan itu belum sampai pada tahap benar karena telah mengabaikan kehidupan manusia yang sedang menderita. Sedangkan orang Samaria yang dalam pandangan umum tidak baik karena melanggar hukum kesucian dengan  komunitas yang telah kawin campur tetapi dalam pandangan Yesus adalah benar karena hatinya digerakkan oleh belas kasihan agar kehidupan manusia yang menderita diselamatkan dipulihkan.

Perumpamaan ini mewakili citra diri Allah yang penuh belas kasihan, maka puncak dari karakter orang Kristen yang percaya pada Yesus Kristus adalah memilki belas kasihan. Karena belas kasihan Allah kita diselamatkan oleh Allah maka oleh belas kasihan pula kita harus mengasihi sesama kita. Ketaatan kita pada Firman Tuhan diletakkan pada dasar belas kasihan kepada sesama. Sehingga kasih tidak hanya konsep, dalam belas kasihan hukum kasih menjadi tindakan.

Keluarga Kristen juga dipanggil untuk mendidik anak-anak mentaati Allah dengan cara yang benar. Ini bisa diawali dengan menanamkan apa tujuan kebaktian Minggu, kebaktian dalam keluarga, kebaktian KRW dan bentuk kebaktian lainnya. Agar anggota keluarga tahu bahwa itu bukan hanya ritual ibadah saja tetapi itu adalah cara membangun relasi dengan Allah dan sesama. Sehingga yang penting adalah bukan kedatangan tubuh saja tetapi bagaimana kita dapat berjumpa dengan Allah dan sesama dalam kehangatan kasih sayang yang saling terasa. Penting menjelaskan kepada anak-anak dan seluruh anggota keluarga kita apa dasar dan alasan yang jelas dari sebuah tindakan keagamaan mereka agar iman mereka bukan iman yang buta tetapi digerakkan oleh kasih Allah yang membuahkan belas kasih dalam tindakan yang memberi kehidupan kepada orang lain.

Penutup

Keselamatan yang datangnya dari Allah karena percaya kepada Tuhan Yesus bisa dirasakan oleh keluarga ketika kita benar-benar melakukan ajaran Tuhan Yesus dengan hati yang mengasihi Allah dan umat-Nya dengan hikmat dan pengertian yang benar itu akan menghasilkan buah yang memberi kehidupan kepada ciptaan yang lain. Bukan dengan ketaatan dan iman yang buta yang bisa membiarkan orang lain mati dan bahkan menderita.

Jika lampu sudah menyala kuning anda ngebut dan anda bersiap berhenti kedua-duanya sama-sama benar, tetapi bagaimana yang baik? Lampu kuning bisa ditafsirkan masih ada kesempatan dan mengebutlah maka orang lain dan diri kita bisa mati. Bukankah lebih baik jika ditafsirkan, ini adalah saatnya mengurangi kecepatan sebab akan berhenti agar kehidupan kita dan orang lain bisa terpelihara dengan baik. (AM).

 

Pujian :  KJ. 282 : 1,2,4

 

RANCANGAN KHOTBAH  : Basa Jawi

Pambuka

Punapa panjenengan sedaya nate mirsani tiyang ingkang nyetir mobil utawi motor nrobos lampu abrit ing prapatan? (dipun takenaken dateng pasamuwan :  bilih lampu kuning sampun gesang punika manut pamanggih panjenengan kadospundi ? Pundi ingkang leres dipun lampahi ?

  1. Sampun lampu kuning
  2. Taksih lampu kuning.

Pundi ingkang panjenengan pilih ? (Pasamuwan diparingi wekdal paring wangsulan lan njelasaken alasanipun)

Isi

Wangsulanipun warga dumateng pitakenan punika wigati sanget dumateng caranipun nanggepi aturan lampu lalu lintas ing margi. Bilih wangsulanipun no.1 sampun lampu kuning mila lajeng sami ngendegaken kendaraanipun awit sekedap malih lampu badhe abrit. Bilih milih punika tegesipun ngeman dumateng gesangipun piyambak lan gesangipun tiyang sanes. Bilih wangsulanipun no.2 lajeng nggalih bilih taksih wonten kesempatan  ngantos sakderengipun lampu gantos abrit lajeng sami ngebut lan saged nyilakakaken gesangipun piyambak lan gesangipun tiyang sanes. Pilihan no.2 punika nedahaken bilih kita nggadahi karakter ingkang egois, nafsiraken peraturan kangge kepentingan kita piyambak.

Tiyang pitados kedah nggadahi pamanggih kadosdene wangsulan no 1. Awit Gusti Yesus saestu anggenipun manut dumateng Gusti Allah nglangkungi aturan ingkang sampun kaserat. Kanthi pasemon tiyang Samaria ingkang sae punika Gusti Yesus maringi pamanggih ingkang enggal anggenipun sesambetan kalian Gusti Allah. Nindakaken Dawuh Pangandikanipun Gusti mboten kanthi kaku ananging kanthi semangat kangge njagi gesangipun titahipun Gusti. Pramila Gusti Allah ngersakaken supados umat Israel nindakaken Dawuh Pangandikanipun Gusti kanthi tulusing manah (PT. 30:9-14). Ananging kangge Paulus punika ugi kedah dipuntindakaken kanthi pangerten ingkang leres lan  sae. ( Kol 1:1-14).

Pasemon bab tiyang Samaria ingkang sae punika dipun ginakaken dening Gusti Yesus kagem mucal tiyang kathah supados saged nindakaken dawuh pangandikanipun Gusti kanthi leres lan sae. Punapa ingkang dipun tindakaken dening Imam dan tiyang Lewi ingkang mboten paring pitulungan dumateng tiyang ingkang sekarat punika sampun sae amargi nindakaken angger-angger kasucen. Ananging punapa ingkang dipun tindakaken dening imam lan tiyang Lewi punika dereng murugkaken tumindak ingkang leres amargi mboten nggadahi welas asih dumateng tiyang ingkang sangsara lan mbetahaken pitulungan. Kosokwangsulipun tiyang Samaria ingkang dipun wastani dening Tiyang Yahudi kirang leres justru ing ngarsanipun Gusti Yesus ketingal leres amargi nggadahi welas asih dumatheng tiyang ingkang nandang sangsara lan sekarat.

Pasemon punika nggambaraken citra diri Gusti Allah ingkang kebak welas asih dumatheng titahipun mila puncak saking tindak tandukipun tiyang Kristen ingkang pitados Gusti Yesus inggih punika nggadahi welas asih. Krana welas asihipun Gusti, kita nampi karahayon pramila kita kedah dados marginipun pitulungan kangge tiyang sanes. Dawuh pangandikanipun Gusti dipuntalesi kanthi manah ingkang kebak welas asih, srana makaten katresnan mboten namung pamanggih kemawon ananging saged gesang ing tumindak padintenan.

Brayat Kristen ugi dipuntimbali supados ngulawentah para putra lan wayahipun supados taat dumateng Gusti Allah kanthi cara ingkang leres. Tiyang sepuh saged miwiti kanthi paring penjelasan bab wigatinipun pangabekti Minggu, pangabekti pribadi, pangabekti ing tengah brayat, pangabekti KRW lan sanes-sanesipun. Supados sedaya anggota brayat mangertosi bilih ing satengahipun mangabekti mboten namung dugi ingkang wigati ananging manah ingkang tresna dumateng Gusti lan sesami ingkang langkung wigati. Supados tindak tandukipun para putra lan wayah mboten namung iman ingkang ngawur anganing mangertosi punapa tujuanipun. Lan katindakaken krana tresna dumateng Allah ingkang ngasilaken woh tresna dumateng sesami.

Panutup

Karahayon saking Gusti amargi pitados saged dipun tampeni dening brayat kita bilih kita saestu pitados dumatheng Gusti Yesus lan nindakaken piwucalipun Gusti Yesus. Inggih punika nalika saged nresnani Gusti Allah lan sesami titah kanthi pangerten ingkang leres lan katindakaken ing gesang padintenan. Sanes kanthi ketaatan lan iman ingkang ngawur lan saged ndadosaken tiyang sanes sangsara.

Bilih lampu sampun kuning panjenengan ngebut  utawi panjenengan cumawis badhe kendel kalih-kalihipun panci sae amargi dereng ngglanggar lampu abrit. Ananging pundi ingkang leres? Bilih lampu kuning dipun tafsiraken taksih wonten kesempatan kangge ngebut mila tiyang sanes lan kita piyambak saged dados cilaka utawi pejah. Langkung prayogi bilih dipuntafsirakean sampun wancinipun kendel lan kedah ngirangi kecepatan. Supados gesanging kita lan tiyang sanes saged dipun jagi. (AM)

Pamuji  :  KPJ. 196

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •